Anda di halaman 1dari 2

Hiperemesis gravidarum dan resiko dari disfungsi

plasenta
Pre-eklamsi, abruptio plasenta, lahir mati dan kelahiran kecil untuk usia gestasi
dihubungkan dengan disfungsi plasenta. Gangguan tersebut meliputi : migrasi trofoblast ke
uterus dan arteri spiralis yang mulai dari awal kehamilan dan berlanjut sampai usia kehamilan
20 minggu. Yang berperan penting dalam proses itu adalah hCG.
Hyperglycosylated hCG (hCG-H) merupakan hormon utama dalam awal kehamilan
berperan penting dalam stimulasi migrasi trofoblas. Jika peningkatan hCG pada trimester ke2
bisa jadi hasil dari insufisiensi dari migrasi trofoblast ke arteri spiralis dan diikuti hipoksia
placenta menstimulasi sekresi variasi hCG yang lain. Kondisi ini kemudian berkembang
menjadi pre-eklamsia dan SGA.
Komplikasi lain dari hCG yang meningkat adalah hiperemesis gravidarum ditandai
dengan mual muntah yang berlebihan dan penyebab rawat inap di RS paling sering. Karena
hCG eruakan penyebab dan efek dari placenta, onset dari hiperemesis gravidarum bisa
mempengaruhi resiko dari kelainan plasenta.
Dalam studi penelitian yang dilakukan terlihat peningkatan resiko pre-eklamsia,
abruptio plasenta dan kelahiran SGA pada wanita dengan hiperemesis gravidarum. Dari
penelitian ditemukan adanya hubungan antara plasenta abnormal dan hiperemesis gravidarum
yang bermanifestasi di timester kedua.
Pre-eklamsi yang onsetnya pada awal kehamilan diduga mempunyai hubungan yang
lebih kuat dibandngkan late-onset pre-eklamsia dengan pembentukan arteri spiralis yang
inadekuat dan inkomplit. Penelitian mengenai hubungan antara hiperemesis gravidarum pada
kehamilan trimeser ke2 dan preterm pre-eklamsia menyimpulkan bahwa hiperemesis
gravidarum bisa dihubungkan dengan plasenta abnormal.
Pada penelitian ini tidak ditemukan hasil yang signifikan antara hiperemeis
gravidarum dan lahir mati, tetapi ada hubungan antara hiperemesis gravidarum dengan
abrupsi plasenta.
Tingginya kadar hCG pada kehamilan trimester ke2 mungkin bisa disebabkan karena
migrasi trofoblas yang insufisiensi dan invasi dari arteri spiralis, karena itu plasenta abnormal

bisa menyebabkan kadar hCG yang meninggi pada trimester ke2 yang akhirnya menimbulkan
hiperemesis gravidarum late onset.