Anda di halaman 1dari 23

Kegawatdaruratan Psikiatri

___________________________________________________
Pendahuluan
Kata suicide berasal dari bahasa latin yang berarti membunuh diri sendiri
jika berhasil tindakan ini merupakan tindakan fatal yang menunjukan keinginan orang
tersebut untuk mati. Setiap tahun 30.000 orang mati karena bunuh diri di Amerika
Serikat.Angka percoaan bunuh diri kira-kira 650.000.
Bunuh diri merupakan kematian yang diperbuat oleh sang pelaku sendiri
secara sengaja. Pikiran bunuh diri dan usaha percobaan bunuh diri merupakan kasus
yang sering menampilakn diri di UGD. Tema umum yang menyebabkan bunuh diri
termasuk krisis yag membuat penderitaan yang amat sangat dan rasa putus asa dan tak
berdaya, konflik antara hidup dan stress yang tak tertahankan, penyempitan dari
pilihan jalan keluar yang dilihat pasien serta keinginan untuk melarikan diri dari hal
itu. Pikiran bunuh diri terjadi pada orang yang rentan dalam reaksi terhadap beraneka
sressor pada tiap umur dan terus merupakan gagasan untuk jangka waktu lama tanpa
suatu usaha percobaan bunuh diri.
Sekitar 90% orang yang melakukan bunuh diri menderita gangguan psikiatri
saat itu termasuk depresi, ketergantungan alkohol, penggunaan obat terlarang,
gangguan kepribadian, neurosis kronik, dan skizofrenia.Setelah upaya bunuh diri
risiko bunuh diri di tahun berikutnya adalah sekitar 100 kali lipat diandingkan
masyarakat umum. Jika terdapat bunuh diri serius pasien harus ditangani secara rawat
inap dna tindakan pencegahan harus dilakukan untuk mencegah bunuh diri di umah
sakit. Upaya bunuh diri lebih sering pada perempuan, berusia kurang dari 5 tahun
(terutama natara 15 sampai 25 tahun), golongan social rendah dan tidak bekerja juga
lebih sering pada mereka yang bercerai atau membujang dan istri-istri berusia remaja.

Pembahasan
a) Definisi Bunuh Diri

Bunuh diri merupakan kematian yang ditimbulkan oleh diri sendiri dan
disengaja dimana bukan tindakan yang acak dan tidak bertujuan. Sebaliknya, bunuh
diri merupakan jalan keluar dari masalah atau krisis yang hampir selalu menyebabkan
penderitaan yang kuat.1
Bunuh diri adalah pengambilan tindakan untuk melukai diri sendiri yang
secara sengaja dilakukan oleh seseorang. Orang yang melakukan tindakan bunuh diri
mempunyai pikiran dan perilaku yang merupakan perwakilan (representing) dari
kesungguhan untuk mati dan juga merupakan manifestasi kebingungan (ambivalence)
pikiran tentang kematian (Hoeksema, 2001).1
b) Perawatan Medis
Penanganan Pertolongan Pertama
Pemeriksaan fisik yang cepat harus dilakukan dengan penekanan pada daerahdaerah yang paling mungkin memberikan petunjuk ke arah diagnosis toksikologi.

Status Kesadaran
Penilaian keadaan klinis yang paling awal adalah status kesadaran.alat ukur
kesadaran yang paling sering digunakan adalah GCS (Glasgow Coma Scale).2
Tabel 1. Skala Koma Glasgow

Mata

Respon
motorik

Respon
verbal

TOTAL

Terbuka

Spontan
Perintah
rangsang nyeri

4
3
2
Tertutup
1
Terhadap perintah Mematuhi
6
Nyeri lokal
5
verbal
Menarik lengan dengan flexi
4
Terhadap rangsang
Fleksi deserebrasi
3
nyeri
Eksrensi deserebrasi
2
Tidak ada respon
1
Terorientasi sepenuhnya
5
Disorienrasi dan bercakap- 4
cakap
Perkataan tidak sesuai
Suara tidak dimengerti
Tidak ada respon
Compos Mentis
Apatis
Somnolen
Delirium

3
2
1
14-15
12-13
10-11
7-9
4-6
3

Sporo coma
Coma

Dalam toksikologi derajat kesadaran dibagi dalam 4 tingkat:3


-

Tingkat 1
Tingkat II

:Penderita mengantuk tapi mudah diajak bicara.


:Penderita dalam keadaan sopor, dapat dibangunkan dan rangsang

minimal seperti bicara kears atau digoyang lengannya.


Tingkat III
:Penderita dalam keadaan soporkoma, hanya dapat bereaksi terhadap

rangsangan maksimal yaitu dengan menggosok sternum dengan kepalan tangan.


Tingkat IV
:Penderita dalam keadaan koma, tidak ada reaksi sedikitpun terhadap

rangsangan maksimal diatas.


Tanda-tanda vital
Evaluasi tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan suhu tubuh sangatlah
penting.Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital dapat menggambarkan obat-obat tertentu
yang memungkinkan terjadinya keracunan pada pasien.Hipertensi dan takikardia khas
pada obat-obat seperti amfetamin, kokain, fenisiklidin, nikotin, fensilidin, nikotin, dan
amtiimuskarinik.Takikardia dan hipotensi khas pada antideperesan trisiklik,
fenotiazin, dan teofilin. Pernapasan yang cepat sering terjadi pada amfetamin dan
siptomimetik lainnya, salisilat, karbon monoksida, dan toksin lain menghasilkan
asidosis metabolik. Hipertermia pada obat-obat simpatomimetik antimuskarinik,
salisilat, dan obat-obat lain yang menimbulkan kejang atau kekauan otot. Hipotermia
dapat disebabkan oleh obat narkotik, fenotiazin, dan obat-obat sedatif.4

Mata
Miosis pupil khas untuk keracunan narkotika, klonidin, fenotiazin, insektisida
organofosfat, dan penghambat kolinesterase lainnya, serta koma yang dalam akibat
obat sedatif. Midriasis umumnya terdapat pada amfetamin, kokain, atropin, LSD, dan
obat antimuskarinik lain.4

Mulut
Bau

khas

dari

bahan-bahan

atau

obat-obatan

tertentu

juga

dapat

dikenali.Keracunan arsen dan organofosfat dapat dilaporkan tercium bau seperti


bawang putih.4

Kulit
Keringat yang berlebihan ditemukan pada keracunan dengan organofosfat,
nikoton, dan obat-obatan sipatomimetik.4

Abdomen
Bunyi usus yang hiperaktif , kram perut, dan diare adalah umum terjadi pada
keracunan dengan organofosfat, besi, aresen, teofilin, dan Amanita phalloides.4

Sistem Saraf
Kejang sering disebabkan oleh takar lajak antideperesan trisiklikm teofilin,
isoniazid, dan fenotiazin. Koma ringan tanpa refleks dan bahkan EKG esoelektrik
mungkin terlihat pada koma akibat narkotika dan sedatif hipnotik, dan mungkin
menyerupai kelainan otak.4
Penanganan Kegawatdaruratan
Gejala keracunan sangat bervariasi tergantung penyebabnya masing-masing
jenis peptisida mempunyai efek yang berbeda dan akan menimbulkan gejala
keracunan yang berbeda juga. Misalnya golongan organoklorin, organofosfat dan
karbamat menyebabkan kerusakan organ target otak dan susunan saraf sedangkan
golongan lain sangat bervariasi.Gejala keracunan peptisida disamping tergantung
golongan peptisida juga tergantung jumlah bahan dan dari mana bahan tersebut
masuk.Peptisida dapat masuk kedalam tubuh dengan berbagai cara, melalui makanan
atau tertelan menimbulkan gejala muntah, sakit perut atau mencret. Keracunan akut
merupakan keadaan gawat darurat yang harus mendapatkan penanganan segera, baik
ditempat kejadian maupun disarana kesehatan.5
Penanganan keracunan akut secara lengkap dapat meliputi penanganan umum,
dan khusus penanganan umum meliputi tindakan ABCDE (Airway, Breathing,
Circulation, Decontamination, dan Elimination), pemberian antidotum dan tindakan
suportif.1

Tindakan ABCDE
i.
Airway (jalan nafas)6
Bebaskan jalan nafas dari sumbatan.Apabila perlu pasang pipa endotrakeal.
ii.

Breathing (pernapasan)6
Jaga agar pasien dapat bernafas dengan baik.Apabila perlu diberikan bantuan
pernafasan.

iii.

Circulation (peredaran darah)6


Tekanan darah dan nadi dipertahankan dalam batas normal.Berikut infus
cairan dengan normal salin, dekstrosa atau ringe laktat.

iv.

Decontamination (pembersihan)6
4

Guna mengurangi absorbs bahan racun dilakukan pembersihan racun


(decontamination) tergantung cara masuk bahan racun. Bahan racun yang masuk
melalui kulit dapat dilakukan pelepasan seluruh pakaian, memandikan dan mencuci
dengan sabun atau keramas. Bahan racun yang tertelan atau melalui saluran cerna
dapat dilakukan pengosongan lambung dan usus dengan:
-

Emesis
Dapat dilakukan secara mekanik dengan merangsang daerah orofaring bagian
belakang. Dengan obat-obtan dapat diberikan larutan ipekak 10-20cc dalam satu gelas
air hangat dan dapat diulang setelah 30 menit atau dapat diberikan Apomorfin 0,6
mg/kgBB i.m. atau 0,01 mg/kgBB/iv. Tindakan emesis tidak dilakukan pada
keracunan bahan korosif, mislanya air aku, penderita dengan kesadaran menurun atau
kejang-kejang dan keracunan minyak tanah.6

Kumbah Lambung
Bertujuan mencuci sebersih mungkin bahan racun dari lambung namun kurang
bermanfaat apabila dilakukan 4 jam setelah bahan tertelan, karena bahan telah
melewati lambungdan telah diabsorbsi oleh usus. Dengan memakai pipa nasogastric
yang besar dimasukan air, apabila mungkin air hangat 200 sampai 300cc setiap
kumbah lambung sampai bersih. Indikasi konra sama dengan indikasi emesis dan
adanya gangguan elektrolit.6

Katarsis (usus)
Dilakukan apabila bahan racun diperkirakan telah mencapai usus, yang
berguna membersihkan usus halus sampai kolon, dengan dengan memakai 30g Mg
Sulfat. Tidak dilakukan katarsis pada penderita kejang atau pada keracunan bahan
korosif.6

v.

Elimination
Adalah melakukan pembersihan racun dimana diperkirakan racun telah
beredar dalam darah, dengan cara diuresis paksa, hemodialysis, dan hemoperfusi.6

Diuresis Paksa
Berguna pada keracunan yang dapat dikeluarkan melalui ginjal.Tidak boleh
dikerjakan pada keadaan syok, dekompensasi jantung, gagal jantung, edema paru dan
keracunan akibat bahan yang tidak dapat diekskresi melalui ginjal. Jenisnya adalah
DP Netral, DP Alkali, dan DP Asam.6

Dialysis

Dapat dilakukan hemodialysis maupun dialysis peritoneal.Dilakukan pada


keracunan dnegan koma yang dalam, hipotensi berat, kelainan asam basa dan
elektrolit, penyakit ginjal berat, penyakit jantung, penyakit paru, penyakit hati dan
pada kehamilan. Umumnya dilakukan pada keracunan pada dosis letal dari bahan
alcohol barbiturate, karbamat, asetaminofen, apirin, fenasetin, amfetamin, logam berat
dan striknin.6
Pemberian antidotum
Antidote (bahan penawar) berguna untuk melawa efek racun yang telah masuk
pada organ target.Tidak semua racun mempunyai antidote yang spesifik. Contohnya
jenis bahan racun dalam kasus scenario 1 adalah Organofosfat memakai antidote yang
spesifik yaitu atropine dan pralidoksin ; atropine dan obidoksin.6
Tindakan suportif
Guna mempertahankan fungsi vital, perlu perawatan menyeluruh, termasuk
perawatan temperature, koreksi keseimbangan asam basa atau elektrolit, pengobatan
infeksi dan lain-lain.6
c) Konseling Psikiatri
Pendekatan Pasien Keluarga
Untuk membantu penegakan diagnosis yang tepat maka diperlukan
autoanamesis dan aloanamesis yang cukup cermat.Kita biasanya melakukan
aloanamesis karena pasien dalam keadaan tidak sadar. Alloanamesis dilakukan kepada
keluarga/kerabat yang membawa pasien sehingga kita dapat mendapatkan data yang
tepat.8
1. Identitas Pasien
Menanyakan kepada pasien:Nama lengkap pasien, umur, tanggal lahir, jenis
kelamin, alamat, pendidikan,agama, pekerjaan,suku bangsa.
2. Keluhan Utama:
Keluhan utama: Nona AN dibawah ke IGD karena kondisi koma dan kejangkejang dan dari mulutnya keluar busa yang berbau insektisida
Keterangan tambahan: keluarga pasien mengatakan bahwa pasien melakukan
tentamen suicidium dengan meminum insektisida setelah bertengkar dengan suaminya
yang berselingkuh dan tidak mau mengaku .
3. Riwayat Penyakit Sekarang :

Anamnesis dimulai dengan mengajukan pertanyaan tentang sifat dan beratnya


keluhan pasien kepada dokter, dan harus ditanyakan sejelas mungkin agar dapat
menentukan diagnosa dengan tepat :
-

Menanyakan sejak kapan pasien meminum insektisida tersebut? dan sejak


kapan gejala mulai terlihat? menanyakan jenis insektisida yang diminum?
untuk membantu dalam menentukan diagnosis dan penatalaksanaan yang

tepat.
Menanyakan kemungkinan pasien mengalami trauma kepala?
Menanyakan bagaimana perjalanan gejala yang terjadi?
Menanyakan apakah ada gejala klinis lain yang menyertai?
Menanyakan apakah masih ada sisa insektisida yang diminum oleh
pasien? jika ada sebaiknya kita meminta keluarga untuk mengambilnya

untuk diuji di laboratorium


Menanyakan bau dan warna dari insektisida yang diminum oleh pasien?

hanya untuk sebagai identifikasi untuk memperjelas informasi.


Menanyakan kira-kira berapa banyak insektisida yang diminum oleh

pasien?
Pentingnya menanyakan riwayat kesehatan jiwa pasien kepada keluarga
Apakah pasien punya riwayat penyakit gangguan kejiwaan?
Apakah akhir-akhir ini pasien terlihat tertekan atau mengatakan
mempunyai masalah yang berat?

4. Riwayat Penyakit dahulu


-

Apakah pasien pernah pernah melakukan percobaan bunuh diri


sebelumnya? karena ada risiko jika pasien sebelumnya pernah melakukan
percobaan bunuh diri, maka pasien akan mencoba untuk melakukannya

lagi.
Apakah pasien memiliki riwayat penyakit kronis lainnya seperti kanker,
HIV-AIDS, dan lain-lain?apakah pernah operasi, mengalami kecelekaan,

atau mungkin pernah masuk rumah sakit?


Apakah pasien punya riwayat penyakit epilepsi?

5. Riwayat Perkawinan/Pernikahan
-

Perlu kita tanyakan tanggal perkawinan, usia ketika menikah, kesehatan


dan kepribadian pasanagan, lama pacaran, hubungan dalam perkawinan

(Tanyakan pada keluarga dan pada pasien ketida sudah stabil/ sadar).
Kita tanyakan juga apakah pasien pernah mengalami abortus? dapat
memicu tekanan emosional dan stress.

6. Riwayat Keluarga

Menanyakan apakah ada riwayat dalam keluarga yang melakukan


tindakan bunuh diri? karena riwayat keluarga bunuh diri dapat

dihubungkan dengan teori genetik yang meningkatkan risiko bunuh diri.


Menanyakan hubungan dalam keluarga, apakah akhir-akhir ini pasien

mengalami masalah dalam keluarganya?


Menanyakan jumlah anak pasien, usianya anak-anaknya? bagaimana
kondisi kepribadian dan kesehatan anaknya?

7. Riwayat Psikososial
-

Menanyakan apakah pasien peminum alkohol atau sedang menggunakan

menggunakan obat-obat golongan narkotika?


Menanyakan kebiasaan makan, minum, dan segala aktivitas pasien yang

mungkin mengalami perubahan?


Menanyakan hubungan pasien dengan teman-temannya, tetangga, keluarga

yang lainnya?
Menanyakan kondisi ekonomi pasien? untuk mengetahui apakah ada
masalah pada kondisi ekonomi keluarga yang dapat memicu bunuh diri.

8. Riwayat Pengobatan
-

Menanyakan tentang riwayat penggunaan obat-obat tertentu yang sering

digunakan oleh pasien


Menanyakan riwayat alergi obat atau syok anafilatik yang mungkin pernah

dialami oleh pasien?


Menanyakan apakah pasien pernah menerima terapi kejiwaan?

Pada waktu wawancara, pasien mungkin secara spontan menjelaskan adanya

ide bunuh diri. Bila tidak, tanyakan langsung:8


Mulailah dengan menanyakan:
Apakah anda pernah merasa ingin menyerah saja?
Apakah anda pernah merasa bahwa lebih baik kalau anda mati saja?
Tanyakan isi pikiran pasien:
Berapa sering pikiran ini muncul?
Apakah pikiran tentang bunuh diri ini meningkat?
Selidiki :
Apakah pasien bisa mendapatkan alat dan cara untuk melaukan rencana bunuh

dirinya?
Apakah mereka sudah mengambilkah aktif, misalnya mengumpulkan obat?
Seberapa pesimiskah mereka?
Apakah mereka bisa memikirkan bahwa kehidupannya akan membaik?

Sebab Biopsikososial
Factor Biologis9

Berkurangnya serotonin sentral memainkan peranan di dalam perilaku bunuh


diri. Suatu kelompok di Institut Karolinka di Swedia adalah yang pertama kali
memperhatikan bahwa konsentrasi metabolit serotonin 5-hydroxyin-doleacetic acid
(5-HIAA) yang rendah di cairan serebrospinal (CSS) lumbal terkait dengan perilaku
bunuh diri. Temuan ini telah dikemukakan sama beberapa kali di dalam kelompok
diagnostik yang berbeda. Studi neurokimia postmortem melaporkan adanya sedikit
penurunan serotonin itu sendiri atau 5-HIAA di batang oak atau korteks frontalis
korban bunuh diri.Studi reseptor postmortem melaporkan perubahan bermakna
ditempat pengikatan serotonin prasinaps dan pascasinaps pada korban bunuh diri.Jika
dipertimbangkan bersama, studi CSS, neurokimia, dan reseptor menyokong hipotesis
bahwa berkurangnya serotonin sentral terkait bunuh diri. Studi terkini juga
melaporkan beberapa perubahan system noradrenergic pada korban bunuh diri.9
Rendahnya konsentrasi 5-HIAA di CSS juga memprediksikan perilaku bunuh
diri dimasa mendatang.Contohnya kelompok Karolinska memeriksa bunuh diri yang
berhasil dengan 92 sampel pasien depresi yang melakuakan percobaan bunuh
diri.Mereka menemukan 8 dari 11 pasien yang melakuakna bunuh diri dalam satu
tahun berada didalam subkelompok dengan konsentrasi 5-HIAA yang lebih
rendah.Kelompok Karolinska menyimpulkan bahwa konsentrasi 5-HIAA yang rendah
di dalam CSS memprediksikan risiko bunuh diri dengan kisaran pendek didalam
kelompok risiko tinggi pasien diidalam kelompok tinggi risiko tinggi pasien depresi
yang mencoba bunuh diri. Rendahnya konsentrasi 5-HIAA di CSS juga ditunjukan
pada remaja yang melakuakn bunuh diri.9
Faktor Psikologis
Teori Freud
Sigmund Freud mengajukan tilikan psikologis pertama mengenai bunuh diri.
Ia menggambarkan hanya satu pasien yang melakukan percobaan bunuh diri, tetapi ia
melihat banyak pasien depresi. Di dalam tulisannya mourning and melancholia,
freud menyatakan keyakinannya bahwa bunuh diri menunjukan agresi yang diarahkan
untuk melawan objek cinta yang diintrojeksikan serta cathected secara ambivalen.
Freud meragukan orang lain yang ditekan sebelumnya.9
Teori Meninger
Dibangun atas gagasan Freud, Karl Meninger, didalam Men Again Himself,
berpendapat bahwa bunuh diri sebagai pembunuhan yang dibalik ked alma diri sendiri

karena kemarahan pasien pada orang lain. Pembunuhan yang diretroflesikan ini antara
dibalik kedalam diri ata digunakan sebagai alasan atas hukuman. Ia juga
menggambarkan insting kematian yang diarahkan pada diri sendiri ditambah ketiga
komponen permusuhan didalam bunuh diri: keinginan untuk membunuh, keinginan
untuk dibunuh, dan keinginan untuk mati.9
Teori Terkini
Ahli bunuh diri kontemporer tidak menganjurkan bahwa struktur kepribadian
atau psikodinamik tertentu terkait dengan bunuh diri. Mereka yakin bahwa banyak
yang dapat dipelajari mengenai psikodinamik pasien bunuh diri dari khayalan untuk
balas dendam, kekuatan, kendali, atau hukuman: penebusan kesalahan, pengorbanan,
atau ganti rugi: kabur atau tidur, penyelamatan, kelahiran kembali, penyatuan kembali
dengan kematian atau suatu kehidupan baru. Pasien bunuh diri yang cenderung
melakukan khayalan bunuh diri mungkin telah kehilangan objek cinta atau menerima
cedera narsistik, dapat mengalami afek berlebihan seperti kemarahan dan rasa
bersalah atau dpaat menganggap dirinya sama dengan korban bunuh diri. Dinamika
kelompok mendasari bunuh diri massal seperti masada, Jones-town dan pemujaan
Heavens Gate. Orang yang depresi dapat mencoba melakukan bunuh diri tepat saat
mereka tampaknya pulih dari depresi. Percobaan bunuh diri dapat menghilangkan
depresi yang lama, terutama jika memenuhi kebutuhan pasien akan penghukuman.
Dengan relevansi yang sama, banyak pasien bunuh diri menggunakan preokupasi
dengan bunuh diri menggunakan preokupasi dengan bunuh diri sebagai cara untuk
melawan depresi yang tidak dapat ditoleransi dan rasa putus asa. Kenyataannya, suatu
studi oleh Aaron Beck menunjukan bahwa keputusasaan adalah salah satu indicator
yang paling akurat untuk risiko bunuh diri jangka panjang.9
Factor Sosial
Teori Durkheim
Kontribusi besar pertama pada studi pengaruh social budaya pada bunuh diri
dilakukan di akhir abad ke-19 oleh sosiologis Perancis Emile Durkheim. Didalam
upaya untuk menjelaskan pola statitik, Durkheim membagi bunuh diri menjadi tiga
kategori social: egoistic, altruistic, dan anomik. Bunuh diri egoistic berlaku bagi
mereka yang tidak terintegrasi kuat kedalam kelompok social manapun.Tidak
adanyaintegrasi keluarga menjelaskan mengapa orang yang tidak menikah lebih
rentan bunuh diri dibandingkan orang yang menikah serta mengapa pasangan yang

10

memiliki anak adalah kelompok yang paling baik terlindungi.Komunitas pedesaan


lebih memiliki integrasi social dibandingkan daerah perkotaan sehingga bunuh diri
lebih sedikit. Protestan merupakan agama yang kurang kohesif dibandingkan dnegan
katolik roma, sehingga protestan memiliki angka bunuh diri yang lebih tinggi
daripada katolik.9,10
Bunuh diri alturisktik berlaku untuk mereka yang rentan terhadap bunuh diri
karena integrasi mereka yang berlebihan kedalam kelompok, dengan bunuh diri
merupakan perkembangan integrasi contohnya, serdadu Jepang yang mengorbankan
hidupnya di dalam peperangan. Bunuh diri anomik berlaku bagi orang yang
integrasinya kedalam masyarakat terganggu sehingga mereka tidak dapat mengikuti
norma perilaku yang lazim. Anomik menjelaskan mengapa perubahan drastic situasi
ekonomi membuat orang lebih rentan daripada mereka sebelum terjadi perubahan
kekayaan. Didalam teori Durkheim, anomik juga mengacu pada ketidakstabilan social
dan pecahnya standar dan nilai masyarakat.9,10

Evaluasi Pasien
1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik:
a. Sapa pasien dengan nama baik verbal maupun non verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai pasien
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima pasien apa adanya
g. Berikan perhatian kepada pasien dan perhatikan kebutuhan dasar
2. Bila mengevaluasi pasien yang baru saja mencoba bunuh diri, nilailah apakah usaha
itu telah direncanakan atau hanya impulsif saja sambil menentukan derajat
letalitasnya, kemungkinan pasien pulih kembali (contoh; apakah pasien hidup sendiri
di rumah, apakah pasien memberitahu orang lain?), reaksi pasien saat ditolong orang
(apakah pasien kecewa atau justru lega hatinya?), apakah ada perubahan faktor yang
mengarahkan bunuh diri itu?11
3. Pengelolaan bergantung sebagian besar pada diagnosis. Pasien dengan depresi berat
dapat diobat sebagai pasien berobat jalan bila keluarganya dapat mengawasi mereka
dengan seksama dan terapi dapat dimulai dengan segera. Bila tidak, perawatan inap di
rumah sakit diperlukan.11

11

4. Gagasan bunuh diri dari pasien alkoholik biasanya akan membaik dalam beberapa
hari dengan abstinensi. Kebanyakan tidak ada terapi spesifik yang diperlukan.Bila
depresi tetap bertahan setelah gejala abstinensi mereda, dugaan besar adalah
gangguan depresi berat. Semua pasien yang cenderung bunuh diri yang mengalami
intoksikasi alkohol atau obat harus dinilai ulang saat mereka lepas alkoholnya.11
5. Gagasan bunuh diri pada pasien skizofrenik harus diperhatikan secara serius karena
mereka cenderung mempergunakan cara yang keras dan aneh dengan derajat letalitas
tinggi.11
6. Pasien dengan gangguan kepribadian akan mengambil manfaat dari bantuan dan
konfrontasi empatik, dan perlu dilanjutkan pendekatan secara rasional, bertanggung
jawab

pada

masalah

yang

mencetuskan

dan

menyebabkan

krisis

tersebut.Keikutsertaan keluarga atau teman dan manipulasi lingkungan dapat


membantu untuk menyelesaikan krisis dan membawa pasien untuk bunuh diri.11
Perawatan inap di rumah sakit jangka panjang dianjurkan bagi kasus dengan
kecenderungan mutilasi diri, namun perawatan inap jangka pendek tidak akan
mempengaruhi secara berarti perilaku berulang ini.11

Penyulit Pendekatan
Sikap,perilaku dan keadaan mental pasien yang terkadang sulit dipahami dan
dimengerti mungkin terkait dengan pihak keluarga yang kurang hangat, kurang
dukungan, kurang komunikasi, kurang respon emosional, terdapat tindak kekerasan

pd keluarga, disiplin keras, penganiayaan, dan penuh konflik dalam rumah tangga.12
Perasaan tertutup pasien, sehingga menyulitkan untuk mencari tau perasaan-perasaan
yang berkaitan dengan tindak kekerasan atau pikiran untuk bunuh diri yang ada pada

diri pasien sebenarnya.


Kurangnya dukungan keluarga, teman dan lingkungan sekitar terhadap permasalahan
yang dialami pasien. Orang yang melakukan bunuh diri biasanya kurang mendapat
dukungan dari teman dan saudara, pekerjaan yang bermakna serta dukungan spiritual

keagaamaan.13
Pasien menolak terhadap suatu tindakan atau pemberian yang diberikan padanya.
Perawat harus meyakinkan bahwa tindakan treatment yang dilakukan ke pasien

tidaklah berbahaya dan bermanfaat bagi pasien.


Untuk pasien yang benar-benar menolak minum obat walaupun sudah dilakukan
pendekatan dapatdiberikan melalui injeksi sesuai dengan instruktur dokter dengan
memperhatikan aspek legal dan hak pasien untuk menolak pengobatan dalam keadaan
darurat.
12

Pada pasien bunuh diri masalah yang sering timbul adalah penolakan pasien untuk
minum obat dengan maksud pasien untuk merusak dirinya. Perawat harus bersikap
tegas dalam pengawasan pasien untuk minum obat karena pasien pada tahap ini
berada dalam fase ambivalen antara keinginan hidup dan mati.

Mengidentifikasi dan mengamankan benda-benda yang dapat membahayakan pasien


misalnya: pisau, gunting, tas plastic, kabel listrik, sabuk, hanger dan barang berbahaya
lainnya.12,13

Membuat kontrak baik lisan maupun tertulis dengan perawat untuk tidak melakukan
tindakan yang mencederai diri. Misalnya: Saya tidak akan mencederai diri saya
selama di RS dan apabila muncul ide untuk mencederai diri akan bercerita terhadap
perawat.

a. Factor Resiko Bunuh Diri


- Jenis Kelamin
Laki-laki tiga kali lebih sering melakukan bunuh diri dibandingkan wanita.
Akan tetapi wanita adalah empat kali lebih mungkin berusaha bunuh diri
dibandingkan laki-laki.14
-

Metode
Lebih tingginya angka bunuh diri yang berhasil pada laki-laki adalah
berhubungan dengan metode yang digunakan dimana laki-laki menggunakan pistol,
menggantung diri, atau lompat dari tempat yang tinggi. Sedangkan wanita lebih
mungkin menggunakan zat psikoaktif secara overdosis atau memotong pergelangan
tangannya.15

Usia
Angka bunuh diri meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Pada laki-laki,
puncak bunuh diri adalah usia 45 tahun; pada wanita, jumlah terbesar bunuh diri yang
berhasil adalah diatas 55 tahun. Orang lanjut usia kurang sering melakukan usaha
bunuh diri dibandingkan orang muda tetapi lebih sering berhasil. Angka untuk mereka
yang berusia 75 tahun atau lebih adalah lebih dari tiga kali dibandingkan angka untuk
orang muda.15

Ras
Angka bunuh diri diantara kulit putih hampir dua kali lipat dari semua
kelompok lainnya; meskipun demikian, angka ini sekarang dipertanyakan, karena

angka bunuh diri pada kulit hitam meningkat.15


Agama

13

Secara historis, angka bunuh diri diantara populasi katolik roma lebih rendah
dibandingkan dengan angka diantara populasi protestan dan yahudi.
-

Status perkawinan
Perkawinan yang diperkuat oleh anak tampaknya secara bermakna
menurunkan risiko bunuh diri.Orang yang hidup sendirian dan tidak pernah menikah
memiliki angka hampir dua kali lipat angka untuk orang yang menikah.Tetapi, orang
yang sebelumnya pernah menikah menunjukan angka yang jelas lebih tinggi
dibandingkan orang yang tidak pernah menikah. Bunuh diri lebih sering pada orang
yang memiliki riwayat bunuh diri dalam keluarganya dan yang terisolasi secara
sosial.15

Pekerjaan
Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin besar resiko bunuh diri, tetapi
penurunan status sosial juga meningkatkan risiko.Pada umumnya, pekerjaan
menghalangi bunuh diri.Bunuh diri lebih tinggi pada orang yang pengangguran
dibandingkan orang yang bekerja.Selama resesi ekonomi dan depresi, angka bunuh
diri menjadi meningkat.Selama waktu tingginya pekerjaan dan selama perang, angka
bunuh diri menurun.Dokter secara tradisional dianggap memiliki risiko terbesar untuk
bunuh diri.Dokter psikiatri dianggap memiliki risiko yang paling tinggi. Populasi
yang berada dalam risiko khusus adalah musisi, dokter gigi, petugas hukum,
pengacara dan agen asuransi.15

Kesehatan Fisik
Hubungan antara kesehatan fisik dan bunuh diri sangat bermakna.Penelitian
postmortem menunjukan bahwa suatu penyakit fisik ditemukan pada 25 sampai 75%
dari semua korban bunuh diri.50% orang dengan kanker yang melakukan bunuh diri
melakukannya dalam satu tahun setelah mendapatkan diagnosis. Tujuh penyakit
sistem saraf pusat yang meningkatkan risiko bunuh diri: epilepsi, sklerosis multipel,
cedera kepala, penyakit kardiovaskular, penyakit Huntington, demensia, dan AIDS.
Semua adalah penyakit dimana diketahui terjadi gangguan mood yang menyertai.16

Kesehatan Mental
Faktor psikiatrik yang sangat penting dalam bunuh diri adalah penyalahgunaan
zat, gangguan depresif, skizofrenia, dan gangguan mental lainnya.Hampir 95 persen
dari semua pasien yang melakukan bunuh diri atau berusaha bunuh diri memiliki
gangguan mental yang terdiagnosis.Pasien yang menderita depresi delusional berada
pada resiko tertinggi untuk bunuh diri sebesar 80%.25% dari semua pasien yang
14

memiliki riwayat perilaki impulsif atau tindakan kekerasan juga berada dalam resiko
untuk bunuh diri. Perawatan psikiatrik sebelumnya untuk alasan apapun
meningkatkan resiko bunuh diri.15,16
-

Pasien Psikiatrik
Resiko pasien psikiatrik untuk melakukan bunuh diri adalah 3 sampai 12 kali
lebih besar dibandingkan bukan pasien psikiatrik. Derajat resikonya adalah bervariasi
tergantung usia, jenis kelamin, diagnosis, dan status rawat inap atau rawat jalan.
Diagnosis psikiatrik yang memiliki resiko tertinggi untuk bunuh diri pada kedua jenis
kelamin adalah gangguan mood.15,16

Pengawasan
1. Seorang perawat atau anggota keluarga harus menemani pasien (bila dirawat)
sepanjang waktu, termasuk di malam hari (karena pasien dapat berpura-pura tidur dan
mencoba bunuh diri dengan gantung diri) dan dikamar mandi (tempat usaha
menenggelamkan diri).10,17
2. Tim yang mengobati harus memeriksa secara berulang atau terus menerus serta
mengawasi pasien secara langsung.17
3. Berikanlah obat dalam bentuk dan kemasan yang sama setiap memberi obat agar
pasien tidak bingung, cemas dan curiga. Jika ada perubahan dosis diskusikan terlebih
dahulu keadaan pasien sebelum meminta pasien untuk meminumnya.17
3. Yakinkan obat benar-benar diminum dan ditelan dengan cara meminta pasien
membuka mulut dan gunakan spatel untuk melihat adakah obat disembunyikan. Hal
ini terutama pada pasien yang mempunyai riwayat menyembunyikan obat di bawah
lidah dan membuangnya.
4. Perlu diawasi barang-barang pasien dan orang yang datang untuk berkunjung. Hal
ini bertujuan untuk mencari benda-benda yang dapat digunakan untuk bunuh diri dan
secara berulang mencari eksaserbasi gagasan bunuh diri.17
5. Batasi orang dalam ruangan pasien.17
6.Tempatkan pasien dalam ruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat atau
petugas kesehatan dan awasi pasien secara ketat setiap saat.17

b. Penatalaksanaan
Medika Mentosa
15

Pemberian Antidotum18
Tabel 2. Antidotum Organofosfat, sumber Buku Farmako Terapi

Organofosfat

Mual, muntah, nyeri perut,

Penolong

harus

(Malathion, Parathion , hipersalivasi, nyeri kepala,

berhati-hati, jangan

DDVP Diazino, TEPP miosis, kekacauan mental,

sampai

LD 20 mg Parathion, bronkokonstriksi,
1000mg malathion)

hipotensi,
pernapasan, kejang

depresi

terkontaminasi,
Atropin sulfat 2 mg
sc/im tiap 15 menit
sampai
atropinisasi;
gejala

bila

kembali

dapat diulang
Pralidoksim
(Protopam 1g iv
lambat, anak 0,25
mg
diulang

iv

dapat
tiap

12

jam)
Jangan berikan morfin atau
aminofilin
Terapi gejala penyerta atau penyulit
Kejang
Diberikan pada pasien untuk mengkontrol kejang yaitu diazepam 0,2-0,3
mg/kgBB IV.11,18
Gangguan cairan, elektrolit dan asam basa
Kebutuhan dasar cairan harian 30-35 ml/kgbb/hari, natrium (Na+) 1-1,5
mmol/kgbb/hari, kalium(K+) 1 mmol/kgbb/hari. Apabila ada gangguan elektrolit dan
asam-basa harus dikoreksi sesuai derajat berat ringannya bila keracunan atau depresi
nafas.18
Gangguan irama jantung

16

Sinus bradikardia yang disertai hipotensi dapat diberikan atropin 0,6 mg iv


sedangkan pada sinus takikardi tidak diberikan terapi spesifik dan penghambat beta
jangan diberikan karena dapat menyebabkan dekompresi.18
Terapi Kejiwaan Pasien jika keadaan umum sudah stabil18
a. Antidepresan : misalnya amitriptilin dengan dosis 75-150 mg/hari
b. Konsultasikan ke dokter psikiatri untuk tindakan psikiatri lanjut.

Non Medika Mentosa


Tidak semua pasien memerlukan perawatan di rumah sakit, beberapa dapat
diobati dengan rawat jalan. Untuk menentukan apakah dimungkinkan terapi rawat
jalan, klinisi harus menggunakan pendekatan klinis yang langsung meminta pasien
yang diduga bermaksud bunuh diri untuk setuju menelepon segera jika mencapai titik
dimana mereka tidak yakin akan kemampuan mereka untuk mengendalikan impuls
bunuh dirinya. Pasien yang dapat membuat persetujuan tersebut memperkuat
keyakinan bahwa mereka memiliki kekuatan yang cukup untuk mengendalikan
impuls tersebut dan berusaha mencari bantuan. Jika pasien tidak dapat memenuhi
komitmen ini, maka perawatan di rumah sakit menjadi indikasi yang harus diambil.19
Menurut Schnedman, klinisi memiliki beberapa tindakan preventif praktis

untuk menghadapi orang yang ingin bunuh diri seperti:


1. Menurunkan penderitaan psikologi dengan memodifikasi lingkungan pasien yang
penuh dengan stress, menuliskan bantuan dari pasangan, perusahaan atau teman.
2. Membangun dukungan yang realistik dengan menyadari bahwa pasien mungkin
memiliki keluhan yang masuk akal.
3. Menawarkan alternatif terhadap bunuh diri.
Keputusan untuk merawat pasien di rumah sakit tergantung pada diagnosis,
keparahan depresi dan gagasan bunuh diri, kemampuan pasien dan keluarga untuk
mengatasi masalah, situasi hidup pasien, tersedianya dukungan sosial dan ada atau
tidaknya faktor resiko untuk bunuh diri.
Dalam rumah sakit pasien mungkin menerima medikasi antidepresan atau
antipsikotik sesuai dengan indikasi, terapi individual, terapi kelompok dan pasien
mendapatkan dukungan sosial rumah sakit dan rasa aman. Tindakan terapeutik lain
tergantung pada diagnosis dasar pasien. Sebagai contohnya, jika ketergantungan
alkohol adalah masalah yang berhubungan, terapi harus diarahkan untuk
menghilangkan kondisi tersebut.19
Tindakan yang berguna untuk terapi pasien rawat inap yang mencoba bunuh
diri dan mengalami depresi adalah memeriksa barang-barang pasien dan orang yang
berkunjung.Hal ini bertujuan untuk mencari benda-benda yang dapat digunakan untuk

17

bunuh diri dan secara berulang mencari eksaserbasi gagasan bunuh diri.Idealnya,
pasien rawat inap yang mencoba bunuh diri dan mengalami depresi harus diobati
dalam bangsal yang terkunci dimana jendela dipasang terali dan ruangan pasien harus
berlokasi dekat dengan tempat perawat untuk memaksimalkan pengamatan oleh staf
perawat.Tim yang mengobati harus memeriksa secara berulang atau terus menerus
mengawasi secara langsung.Terapi yang efektif dengan medikasi antidepresan harus
dimulai.Terapi elektrokonvulsif (ECT) mungkin diperlukan untuk beberapa pasien
yang terdepresi parah yang mungkin memerlukan beberapa kali pengobatan.
Pasien yang sedang pulih dari depresi bunuh diri berada pada resiko
khusus.Saat depresi menghilang, pasien menjadi memiliki energi dan mampu untuk
melakukan rencana bunuh dirinya.kadang-kadang pasien depresi dengan atau tanpa
terapi secara tiba-tiba tampak damai dengan dirinya sendiri karena mereka telah
mengambil keputusan rahasia untuk melakukan bunuh diri. Klinisi harus secara
khusus mencurigai perubahan klinis yang dramatis tersebut, yang mungkin
meramalkan usaha bunuh diri.
Sebelum memulangkan pasien, harus dipertimbangkan apakah pasien mampu
merawat

dirinya

sendiri,

mampu

menjalankan

saran

yang

dianjurkan.Ketidakmampuan pasien dan atau keluarganya untuk merawat pasien di


rumah merupakan salah satu indikasi rawat inap.
-

Indikasi rawat inap adalah:


Bila pasien membahayakan diri sendiri atau orang lain,
Bila perawatan di rumah tidak memadai,
Perlu observasi lebih lanjut.

c. Pencegahan
Tidak mungkin untuk dapat mencegah semua tindakan bunuh diri ataupun
secara total mampu melindungi pasien dari perilaku bunuh diri. Oleh karena hal
tersebut, sampai saat ini masih belum ada cara yang terbukti dapat mencegah tindakan
bunuh diri secara total dan tepat. Strategi pencegahan bunuh diri sering terfokus pada
adanya faktor-faktor risiko.Idealnya strategi-strategi ini harus menargetkan pada
faktor risiko yang telah terbukti baik kausal dan dimodifikasi. Ada beberapa langkah
yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya perilaku bunuh diri, yakni
pencegahan primer, sekunder, dan tersier.14
Pencegahan Primer

18

Pencegahan primer merupakan metode pencegahan yang ideal untuk melawan


keinginan bunuh diri dan dapat memproteksi masyarakat dari hal tersebut. Hal ini
penting untuk dapat menurunkan faktor risiko dari bunuh diri, seperti depresi,
substance abuse, isolasi dari lingkungan sosial, dan kekerasan dalam keluarga.
Langkah utama dalam menangani perilaku bunuh diri adalah dimana mencegah pasien
tersebut mencapai titik dalam kehidupan mereka, dimana bunuh diri tampaknya
menjadi satu-satunya pilihan untuk menangani segala masalah yang membebani hidup
mereka. Kunci pencegahan ini adalah dengan mengevaluasi secara reguler pasien
tersebut, dimana dapat ditanyakan tentang berbagai isu dalam kehidupan mereka,
termasuk depresi, pikiran untuk bunuh diri, konflik di sekolah, konflik di rumah,
persoalan asmara, dan masalah lainnya. Selain itu, memodifikasi kondisi sosial,
ekonomi dan biologis, seperti menurunkan angka kemiskinan, kekerasan, perceraian,
dan promosi pola hidup yang sehat dapat secara signifikan berkontribusi terhadap
pencegahan primer.
Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder merupakan suatu tindakan pencegahan dimana merujuk
pada deteksi dini dan penatalaksanaan kepada individu yang melakukan tindakan
bunuh diri tersebut.Menyediakan bantuan bagi pasien dan membantu mereka keluar
dari pemikiran bahwa bunuh diri merupakan satu-satunya jalan keluar dalam
mengatasi masalah dapat dilakukan untuk mecegah terjadinya bunuh diri. Tujuan dari
pencegahan sekunder ini adalah dapat menurunkan serta meminimalisir kemungkinan
percobaan bunuh diri pada pasien dengan faktor risiko tinggi.Faktor resiko utama dari
tindakan bunuh diri adalah adanya riwayat percobaan bunuh diri dan masih ada
pikiran untuk melakukannya lagi.Dokter sebaiknya mampu secara reguler dan
kontinyu dalam meminta keterangan pada pasien yang mengalami depresi menetap,
kehilangan harapan, dan memiliki ide untuk melakukan bunuh diri kembali.Dimana
untuk dapat memprediksi suatu tindakan bunuh diri tersebut sangat sulit untuk
menentukan pasien dengan risiko tinggi manakah yang akan benar-benar mewujudkan
keinginan bunuh diri tersebut, kecuali pasien mengaku bahwa dirinya memiliki
rencana untuk bunuh diri.14
Penanganan terhadap remaja yang melakukan percobaan bunuh diri antara lain
meliputi diagnosis dan penanganan terhadap gangguan kejiwaan yang sedang
dideritanya, menilai risiko untuk melakukan bunuh diri, dan mengurangi akses
terhadap hal-hal yang dapat membahayakan untuk terlaksananya bunuh diri tersebut,
19

seperti misalnya tersedianya pistol, kaca, pisau, tali, dan sebagainya yang berada di
lingkungan sekitar remaja tersebut.
Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier dilakukan untuk dapat mengurangi konsekuensi dari
percobaan bunuh diri. Dimana dapat dilakukan dengan cara meningkatkan edukasi
tenaga kesehatan profesional mengenai tata cara dalam menilai dan menangani pasien
dengan risiko bunuh diri yang mana hal ini akan dapat membantu deteksi secara cepat
dan membatasi kerusakan yang ditimbulkan akibat bunuh diri tersebut. Mengingat,
penurunan angka kejadian bunuh diri dapat terjadi apabila pasien mendapatkan
intervensi dari dokter umum dan perawat yang telah diberikan pendidikan manajemen
depresi sebelumnya.Intervensi yang dapat dilakukan pada tahap ini adalah menilai
anggota keluarga yang mungkin terpengaruh tindakan bunuh diri tersebut sehingga
memiliki keinginan untuk membunuh dirinya sendiri.
Cara pencegahan lainnya adalah hospitalization atau rawat inap di rumah
sakit.Pasien yang mengalami depresi dan pernah melakukan percobaan bunuh diri
membutuhkan evaluasi secara luas di rumah sakit untuk menyediakan perlindungan
maksimal untuk melawan tindakan dari pasien melakukan bunuh diri.Terdapat
beberapa indikasi untuk dapat merawat inap yang melakukan percobaan bunuh diri
dimana dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 3. Indikasi rawat inap pasien dengan keinginan bunuh diri

Sumber : Suicide in Adolescents: A Worldwide Preventable Tragedy.


Greydanus DE, 2009.

20

Rawat inap tidak hanya dapat melindungi pasien tetapi juga menyediakan
waktu aman untuk memulai penanganan, menurunkan risiko, mobilisasi dukungan,
dan merencanakan keamanan pasien setelah perawatan di rumah sakit.Meski
demikian, rawat inap tersebut bukanlah tindakan yang benar-benar mampu untuk
dapat mencegah perilaku bunuh diri, kecuali masalah yang mendasari bunuh diri
tersebut dapat diselesaikan kemungkinan percobaan bunuh diri mampu diatasi. Bunuh
diri bukanlah merupakan suatu diagnosis tetapi mencerminkan dasar konflik yang
harus dikoreksi untuk dapat menghilangkan keinginan bunuh diri pada orang
tersebut.17

Penutup
Kesimpulan:
Keracunan akut perlu mendapatkan penanganan secara dini, mengingat kasus
ini merupakan kasus gawat darurat.Penanganan keracunan akut terutama ditujukan
pada penanganan umum yang terdiri dari ABCDE (airway, breathing, circulation,
decontamination, dan elimination).Bunuh diri merupakan masalah yang cukup banyak
ditemukan di negara maju tetapi belakangan ini juga marak ditemukan di negara
berkembang seperti Indonesia.
Bunuh diri secara umum adalah perilaku membunuh diri sendiri dengan
intensi mati sebagai penyelesaian atas suatu masalah.Tidak ada faktor tunggal pada
kasus bunuh diri, setiap faktor yang ada saling berinteraksi.Dalam upaya pencegahan
tindakan bunuh diri, kita harus mengenali gejala-gejala yang umum ditampakkan oleh
seseorang yang berniat untuk bunuh diri. Tindakan pencegahan ini tidak hanya
dilakukan oleh individu, tapi juga keluarga, masyarakat dan instansi terkait, media
massa, tenaga kesehatan, guru, dan sebagainya.
Saran:
Saran dari penulis yang dapat disampaikan adalah agar masyarakat dan
pemerintah dapat bekerjasama dalam meningkatkan taraf hidup warga negara
Indonesia agar dapat menghindari segala persepsi yang mengarah ke Bunuh diri.
Peran aktif dari masyarakat dan diri pribadi sangat penting untuk
menyeimbangkan antara pikiran dan tindakan yang dilakukan sehingga segala
kegiatan yang dilakukan dapat menghasilkan segala sesuatu yang baik pula. Dan bila

21

ada yang menemukan tanda-tanda akan tindakan bunuh diri, diharapkan agar segera
diantisipasi baik dibawa ke rumah sakit maupun kantor polisi.

Daftar Pustaka
1. Utama H, Elvira SD, Hadisukanto G. Buku ajar psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit
FKUI ; 2010.
2. Welsby PD. Pasien terlalu sakit untuk memberi keterangan penilaian awal.
Pemeriksaan fisik dan anamnesis klinis.Jakarta : EGC ; 2002. h.217-9.
3. Darmansjah I. Dasar toksikologi. Farmakologi dan terapi.Edisi ke-3. Jakarta : Pusat
Penerbitan FKUI ; 2007. h.820-42 .
4. Katzung, Bertram G. Farmakologi dasar dan klinis. Edisi ke-6. Jakarta: EGC ; 1998.
h.937-47.
5. Mubin HA. Panduan praktis kedaruratan penyakit dalam: diagnosis dan terapi. Jakarta
: EGC ; 2009. h.329-32.
6. Bakta IM, Suastika IK. Gawat darurat di bidang penyakit dalam. Cetakan ke-1.
Jakarta : EGC ; 1999. h.193-7.
7. Tomb DA. Buku Saku Psikiatri. Ed ke-6. Jakarta: EGC ;2004.
8. LS Petrin Redayani. Wawancara dan pemeriksaan psikiatrik. Buku ajar psikiatri.
Jakarta:Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010.h.45-58.
9. Sadock BJ, Sadock VA, et al. Kaplan & sadock's synopsis of psychiatry : Behavioral
sciences and clinical psychiatry.10th Ed. New York : Lippincott Williams & Wilkins ;
2004.p.430-31.
10. Puri BK, Laking PJ, Treasaden IH. Buku ajar psikiatri. Ed ke-2. Jakarta : EGC ; 2011.
h.176-9.
11. Kaplan, Harold I. Ilmu kedokteran jiwa darurat. Jakarta : Widya Medika ; 1998.
h.435-6.
12. Hibbert Allison, Godwin Alice, Frances D. Rujukan cepat psikiatri. Jakarta:EGC;
2008.h.114-5.
13. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis psikiatri. Ed ke-7. Jilid I. Jakarta,
Binarupa Aksara ; 1997.h.353-67.
14. Hawari D. Psikopatologi bunuh diri.Jakarta : Balai penerbit FKUI ; 2010.
15. Prayitno A. Percobaan bunuh diri dalam hubungannya dengan diagnosis psikiatri dan
faktor sosiokultural. Jakarta :Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia ; 1984.
16. I Saacs, Ann. Panduan belajar. Keperawatan kesehatan jiwa dan psikiatrik. Jakarta :
EGC ; 2004.
17. Niven N. Psikologi kesehatan. Jakarta : EGC ; 2000.

22

18. Gunawan SG, Setiabudy R, Nafialdi. Farmakologi dan terapi. Ed ke-5. Jakarta :Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ; 2008. h.169-73.
19. Maslim, Rusdi. Diagnosis gangguan jiwa. Jakarta :Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia ; 2001. h.84-85.

23