Anda di halaman 1dari 30

BAB 4

PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini akan dijelaskan tentang kesesuain antara teori dan
kenyataan yang terjadi pada kasus yang diambil.

4.1 Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil Trimester III


Pembahasan yang pertama adalah tentang pemeriksaan pada Antenatal
Care. Berikut akan disajikan data-data yang mendukung untuk dibahas dalam
pembahasan tentang Antenatal Care. Dalam pembahasan yang berkaitan
dengan Antenatal Care maka, dapat diperoleh data pada tabel berikut ini:

Tanggal
ANC

Riwayat
6 Sept
2013

19 Sept
2013

8 Okt
2013

UK

6-7 mgg

8-9 mgg

10-11 mgg

Anamnesa

Mual,
muntah,
dan
nafsu
makan
menurun
100/60
mmHg
55 kg
Belum
teraba

Mual,
muntah, dan
nafsu makan
menurun.

Mual,
pusing,
dan nyeri
tekan

100/60
mmHg
54 kg
Belum
teraba

110/70
mmHg
54,5 kg
3 jari ats
symp

Tekanan
Darah
BB
WHO
T
F
U Mc.
Donald

189

19 Nov
2013

24 Des
2013

24 Jan
2014

11 Mar
2014

16-17
mgg
Mual
dan
pusing

21-22
mgg
Pusing
dan flu

26-27
mgg
Mual
kadangkadang

120/80
mmHg
57 kg
2 jari
bwh pst

100/70
mmHg
60 kg
sepusat

110/70
mmHg
63 kg
sepusat

110/80
mmHg
61,5 kg
Pert px
dan pst

20 cm

21 cm

28 cm

32-33 mg

Tidak ada
keluhan

Suplemen/
terapi

Multivita
min,
asam
folat

inf RL drip
piralen 1
ampul
20tpm, vit
B6 4x1

Kalk, B6,
asam folat,
multivitam
in

Penyuluhan

Nutrisi,
personal
hygiene

Perawatan
Nutrisi,
Hiperemesis istirahat
Gravidarum

Melanj
utkan
obat
dan
vitamin

Multivita
min, kalk

Multivita Melanjutk
min, kalk an obat
dan
vitamin

190

Baca
Nutrisi,
Personal Persiapan
buku
istirahat
hygiene, persalinan
KIA
istirahat
P4K
hal. 1-5
ttg kes
Tabel 4.1 Distribusi Data Subyektif dan Obyektif dari Variabel ANC Ny. T di ibu
Puskesmas Simomulyo, Surabaya
hamil

Dari fakta diatas dapat diperoleh analisa sebagai berikut:


1. Data Subyektif
1) Umur
Umur Ny.T 22 tahun, hal ini sesuai dengan pendapat Manuaba (2007),
usia reproduksi yang baik yaitu usia 20-35 tahun. Berdasarkan hal
tersebut, tidak ada kesenjangan antara fakta dan teori.
2) Jarak kontrol ANC :
TM I 3 kali, TM II 2 kali, TM III 4 kali. Kontrol ANC Ny.T lebih dari
standar kontrol ANC, hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono (2006),
standar minimal kontrol ANC, meliputi : TM I minimal 1 kali, TM II
minimal 1 kali, TM III minimal 2 kali.
Berdasarkan hal diatas, kontrol ANC Ny T lebih dari standar yang
telah ditentukan, karena ada keluhan selama kehamilan.
3) Keluhan Selama Trimester III
Kenceng-kenceng
Pada usia kehamilan 34-35 minggu, Ny.T mengeluh kencengkenceng, hal ini fisiologis dialami pada ibu hamil trimester III, sesuai

Keterangan : Pada usia kehamilan 6-33 minggu adalah riwayat


Pada usia kehamilan 34-37 minggu adalah yang dilaksanakan

dengan pendapat Wahyuningsih (2009) kontraksi uterus sebagai persiapan


persalinan (Braxton-Hicks). Karena ketidaknyamanan TM III yang
disebabkan oleh perubahan titik pusat gaya akibat berat uterus yang
bertambah besar dan berat membuat wanita mengambil sikap yang dapat
menekan saraf ulnar, median, dan skiat terjadi hiperventilasi.
Berdasarkan hal tersebut diatas, dijumpai tidak dijumpai adanya
penyimpangan antara fakta dan teori.
Tangan kesemutan
Pada usia kehamilan 34-35 minggu, Ny.T mengeluh tangan
kesemutan, hal ini fisiologis sesuai dialami pada ibu hamil trimester III,
sesuai dengan pendapat Wahyuningsih (2009) tangan kesemutan terjadi
pada trimester III, karena tekanan pada saraf ekstremitas bagian bawah
oleh uterus yang membesar, akibat kekurangan daya serap kalsium. Faktor
yang mengakibatkan kecapaian, sirkulasi perifer berkurang.
Berdasarkan hal tersebut diatas, tidak ada kesenjangan antara fakta dan
teori.
Nyeri perut bagian bawah
Pada usia kehamilan 35-36 minggu, Ny.T mengeluh nyeri perut
bagian bawah, hal ini fisiologis dialami pada ibu hamil trimester III, sesuai
dengan pendapat Wahyuningsih (2009) keluhan nyeri perut bagian bawah
fisiologis pada trimester III, dapat disebabkan karena posisi kepala janin
ketika memutar timbul tekanan pada perut, sehingga menimbulkan rasa
sakit atau tidak nyaman. Keadaan ini tidak berlangsung lama dan janin

akan memutar hingga posisi kepala dibawah, tepat diatas pelvik untuk
persiapan kelahiran.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, tidak ditemui kesenjangan
antara fakta dan teori.

4) Gerak janin
Ny.T multigravida merasakan gerakan janin pada usia kehamilan 16
minggu, hal ini fisiologis sesuai dengan pendapat Indrayani (2011)
gerakan janin pertama kali dirasakan oleh multigravida sekitar usia 16
minggu. Berdasarkan hal tersebut, tidak ada kesenjangan antara fakta dan
teori.
5) Terapi
Terapi yang didapat Ny. T pada tiap trimester, adalah:
TM I : caviplex (multivitamin), asam folat, infuse RL drip piralen 1 ampul,
vitamin B6, dan kalk.
TM II : caviplex (multivitamin), DHA, dan SF.
TM III : caviplex (multivitamin), DHA, supra livron, kalk, dan SF.
Hal ini sesuai dengan pendapat Fraser (2011), terapi yang didapat ibu
pada trimester III adalah tablet Fe dan multi vitamin.
Berdasarkan hal tersebut, suplemen yang diberikan pada Ny.T
sesuai antara fakta dan teori.
6) Penyuluhan/ anjuran
Penyuluhan yang telah didapat Ny.T, antara lain:
6-7 mgg : Nutrisi, personal hygiene
8-9 mgg : Perawatan Hiperemesis Gravidarum
10-11 mgg : Nutrisi, istirahat
16-17 mgg : Baca buku KIA hal. 1-5 ttg kes ibu hamil
21-22 mgg : Nutrisi, istirahat
26-27 mgg : Personal hygiene, istirahat
32-33 mgg : Persiapan persalinan, P4K

34-35 mgg : Tanda bahaya kehamilan, latihan,

istirahat, hubungan

seksual, dan perawatan payudara


35-36 mgg : Istirahat, P4K, tanda bahaya kehamilan
36.37mgg : P4K, tanda bahaya kehamilan, tanda-tanda persalinan
Hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono (2010), penyuluhan yang
didapat oleh ibu hamil antara lain : Gizi tinggi protein dan kalori,
perawatan payudara, personal hygiene, senam hamil, persiapan persalinan
dan keadaan darurat (P4K), istirahat cukup dan mengurangi kerja fisik
yang berat, perlunya pemeriksaan kehamilan secara berkala, pola
hubungan seksual, tanda bahaya kehamilan
Berdasarkan hal diatas, penyuluhan yang didapat Ny. T sesuai
dengan teori tentang penyuluhan yang didapatkan pada ibu hamil.
7) Imunisasi Tetanus Toxoid (TT)
Ny.T mendapatkan imunisasi TT yang ke 5 pada usia kehamilan 2122 minggu, hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono (2010) ibu hamil
multigravida sudah mendapatkan imunisasi tenatus toxoid sebanyak 5x.
Berdasarkan hal diatas, tidak ada kesenjangan antara fakta dan teori.

2. Data Obyektif
1) Pemeriksaan umum
Tekanan darah
Tekanan darah Ny.T sedikit naik pada usia kehamilan 34-35 minggu,
tapi masih dalam batas normal, hal ini sesuai dengan pendapat Romauli
(2011) tekanan darah normalnya 100/70 mmHg sampai dengan 120/80
mmHg. Tekanan darah dikatakan tinggi bila lebih dari 140/90 mmHg Bila
terjadi kenaikan tekanan darah yaitu sistolik 30 mmHg atau lebih, dan atau
diastolik 15 mmHg atau lebih, kelainan ini akan berlanjut pada pre eklamsi
atau eklamsi jika tidak segera di tangani. Pada ibu hamil trimester III,
tekanan darah terjadi peningkatan, namun masih dalam batas normal.
Berdasarkan hal diatas, tidak ada kesenjangan antara fakta dan teori.
Berat badan
Berat badan Ny.T sebelum hamil 53 kg, pada akhir kehamilan 63 kg,
terjadi peningkatan 10 kg, berat badan Ny.T fisiologis, hal ini sesuai
dengan pendapat Wahyuningsih (2009) terjadi kenaikan berat badan
sekitar 5.5 kg, penambahan BB dari mulai awal kehamilan sampai akhir
kehamilan adalah 11-12 kg.
Sehubungan dengan hal tersebut, tidak dijumpai adanya penyimpangan
antara fakta dan teori.
LILA (Lingkar Lengan Atas)
Ukuran LILA Ny.T 25 cm dalam batas fisiologis, hal ini sesuai
dengan pendapat Wahyuningsih (2009), LILA kurang dari 23,5 cm
merupakan indikator kuat untuk status gizi lbu kurang atau buruk.
Sehingga ibu beresiko untuk melahirkan BBLR. Berdasarkan hal tersebut,
tidak ditemukan kesenjangan antara fakta dan teori.

2) Pemeriksaan fisik
Perubahan fisik yang terjadi pada Ny.A saat hamil trimester III, yaitu
muka tidak oedem, sklera putih, konjungtiva merah muda, tidak ada
pembesaran kelenjar limfe dan tyroid, tidak ada bendungan vena jugularis,
kolostrum belum keluar, hal ini fisiologis sesuai dengan pendapat Romauli
(2011) perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu hamil trimester III
didapatkan tidak ada oedem pada muka, sklera putih, konjungtiva merah
muda, tidak ada pembesaran kelenjar limfe dan tyroid, tidak ada
bendungan vena jugularis, puting susu menonjol dan kolostrum sudah
keluar, terjadi pembesaran membujur pada abdomen.
Berdasarkan har tersebut, tidak ditemukan kesenjangan antara fakta
dan teori.
TFU (Tinggi Fundus Uteri)
Pada Ny.T ukuran TFU menurut WHO saat UK 34-35 mgg
pertengahan pusat-processus xipoideus, 35-36 mgg pertengahan pusatprocessus xipoideus, 36-37 mgg 3 jari bawah processus xipoideus. Ukuran
TFU Ny.T menurut WHO fisiologis, sesuai dengan pendapat Mochtar
(2005) ukuran TFU pada akhir bulan ke 8 pertengahan pusat-px, pada
akhir bulan ke 9 3 jari bawah px.
Berdasarkan hal diatas, tidak ada kesenjangan antara fakta dan teori.
Pada Ny.T ukuran TFU menurut Mc. Donald saat UK 34-35 mgg 28
cm, 35-36 mgg 29 cm, 36-37 mgg 31 cm. Tidak terjadi penyimpangan
ukuran TFU menurut Mc. Donald, sesuai dengan pendapat Mochtar (2005)
ukuran TFU pada UK 34 mgg 31 cm, UK 36 mgg 32 cm.

Berdasarkan hal diatas, tidak terjadi penyimpangan antara fakta dan


teori.

3) Pemeriksaan khusus
Pemeriksaan darah (Hb)
Hasil pemeriksaan Hb Ny. T 12 gr%, hal ini fisiologis sesuai dengan
pendapat Winkjosastro (2007), kadar Hb normal 11gr%. Berdasarkan hal
tersebut, tidak ada kesenjangan antara fakta dan teori.
Golongan darah
Hasil pemeriksaan golongan darah Ny. T, golongan darah B,
rhesus+, hal ini fisiologis sesuai dengan pendapat Winkjosastro (2007),
pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil sebagai perencanaan
pencegahan penyakit, apabila suatu saat ibu membutuhkan transfusi darah
sudah diketahui golongan darah ibu dan sudah mendapatkan darah salah
satu anggota keluarga yang sama dengan darah ibu untuk menggantikan
darah yang sudah ditransfusikan.
Pemeriksaan rhesus darah ibu juga perlu diperhatikan sebagai deteksi
dini adanya komplikasi pada janin ibu dengan rhesus negatif.
Sehubungan dengan hal diatas, tidak dijumpai adanya penyimpangan
antara fakta dan teori.
Pemeriksaan urine albumin
Hasil pemeriksaan urine albumin Ny. T adalah negatif, hal ini
fisiologis sesuai dengan pendapat Winkjosastro (2007), pemeriksaan urine
albuin normal bila hasilnya negatif (urine tidak keruh).
Berdasarkan hal tersebut, tidak ditemukan penyimpangan antara fakta
dan teori.
Pemeriksaan urine reduksi
Hasil pemeriksaan urine reduksi Ny. T minggu adalah negatif. Hal
ini fisiologis sesuai dengan pendapat Winkjosastro (2007), pemeriksaan

10

urine diakatakan normal jika hasilnya negatif (Warna biru sedikit kehijauhijauan dan sedikit keruh).
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, tidak dijumpai kesenjangan
antara fakta dan teori.
3. Analisa Data
Analisa data pada Ny.T adalah GIIP10001, hamil 34-35 minggu, tunggal,
hidup, intra uterine, letak kepala, keadaan jalan lahir cukup, keadaan ibu dan
janin baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Wirakusumah (2011), diagnosis
kehamilan dapat diurutkan menurut nomenklatur sebagai berikut: hamil atau
tidak hamil, primigravida atau multigravida, tua kehamilan, anak hidup atau
mati, anak tunggal atau kembar, letak anak, anak intrauterin atau ekstrauterin,
keadaan jalan lahir, keadaan umum klien.
Berdasarkan hal diatas, tidak ditemui kesenjangan anatara fakta dan teori.
4. Penatalaksanaan
Asuhan pada masa hamil penulis melakukan penatalaksanaan pada Ny.T
sebagaimana asuhan yang diberikan untuk kehamilan normal karena tidak
ditemukannya masalah, asuhan yang diberikan yaitu seperti KIE tentang tanda
bahaya ibu hamil, tanda-tanda persalinan, persiapan persalinan dan (P4K),
keluhan pada ibu hamil seperti kenceng-kenceng, dan sebagainya, kolaborasi
pemberian suplemen, dan kontrol ulang.
Hal ini sesuai dengan pendapat Sarwono (2010), asuhan yang diberikan
untuk kehamilan normal karena diantaranya KIE tentang keluhan pada ibu hamil
seperti kenceng-kenceng, dan sebagainya, tanda bahaya ibu hamil, tanda-tanda

11

persalinan, persiapan persalinan dan (P4K), kolaborasi pemberian suplemen, dan


kontrol ulang.
Berdasarkan hal diatas, tidak dijumpai kesenjangan antara fakta dan teori.

12

4.2 Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin


Pada pembahasan yang kedua, akan dijelaskan tentang kesesuaian teori
dan kenyataan pada Intranatal Care. Berikut akan disajikan data-data yang
mendukung untuk dibahas dalam pembahasan tentang Intranatal Care. Dalam
pembahasan yang berkaitan dengan Intranatal Care maka dapat diperoleh data
pada tabel berikut ini:
Tabel 4.2 Distribusi Data Subyektif dan Obyektif dari Variabel INC Ny. T di
Puskesmas Simomulyo, Surabaya
INC
KELUHAN
Ibu
mengatakan
kencengkenceng dan
keluar lendir
sejak
tanggal
7
April 2014
pukul 22.00
WIB

KALA I
JAM
KETERANGAN
05.00 TD: 110/70 mmHg
N : 82x/mnt
S : 36,7 oC
RR : 20x/ mnt
His 2x30
DJJ 128x/mnt
Palpasi WHO : 3/5
VT : 4 cm, Eff 25 %, ketuban positif,
presentasi kepala, denominator ubunubun kecil kiri depan arah jam 11,
Hodge II, moulase 0
09.00 N : 82x/mnt
S : 36,5 oC
TD : 110/70 mmHg
His : 2x30
DJJ 124x/mnt
Palpasi WHO: 2/5
VT : 8 cm, Eff 75%, ketuban positif,
presentasi kepala, denominator ubunubun kecil kiri depan posisi jam 11,
Hodge III, moulase 0
13.30

N : 88x/mnt
His : 4x50
DJJ 142x/mnt
Palpasi WHO: 0/5
VT : 10 cm, Eff 100%, ketuban
negatif jernih, presentasi kepala,
denominator ubun-ubun kecil kiri
depan, Hodge IV, moulase 0

KALA II
Lama kala II

10
menit.
Bayi lahir
spontan
belakang
kepala, jenis
kelamin
perempuan,
langsung
menangis,
tonus otot
baik, warna
kulit merah
muda, tidak
ada kelainan
kongenital,
anus ada.

KALA III
Lama kala
III

10

menit.
Plasenta
lahir lengkap
spontan,
kotiledon
utuh

KALA IV
Lama kala
IV

jam 35
menit.
Perdarahan :
250 cc
Observasi 2
jam pp :
TD : 110/80
mmHg
N : 82x/mnt
S : 36,50 C
RR : 18
x/mnt
TFU : 2 jari
bawah pusat
UC : Baik
Konsistensi :
keras

13

Lama kala I

8,5 jam

Berdasarkan fakta diatas, dapat diperoleh analisa sebagai berikut :


1. Data Subyektif
Keluhan utama
Keluhan yang dirasakan Ny.T kenceng-kenceng dan keluar lendir
sejak tanggal 7 April 2014 jam 22.00WIB. Hal ini fisiologis pada ibu bersalin
sesuai dengan pendapat Manuaba, (2010) keluhan yang sering dirasakan ibu
bersalin yaitu dimulai dengan adanya his yang dipengaruhi oleh hormon
esterogen dan progesterone. Selanjutnya keluar lendir darah terjadi karena
adanya pembuluh darah yang pecah akibat pendataran dan pembukaan servik.
Adanya pengeluaran cairan, hal ini dikarenakan karena ketuban pecah.
Sebagian ketuban pecah menjelang pembukaan lengkap. Dengan pecahnya
ketuban diharapkan persalinan perlangsung dalam waktu 24 jam.
Berdasarkan hal tersebut diatas, tidak ada kesenjangan antara fakta dan
teori.
2. Data Obyektif
Pada fakta, diperoleh data pada Ny.T muka tidak oedem, konjungtiva
merah muda, sklera putih, mukosa bibir lembab, payudara bersih, puting susu
menonjol, kolostrum sudah keluar, tidak ada bendungan/ massa abnormal,
pemeriksaan abdomen, meliputi:
Leopold I : TFU 3 jari atas pusat (31cm), Teraba bulat, lunak, besar (bokong)
TBJ : (31-11) cm x 155 gram = 3100 gram
Leopold II : Bagian kanan teraba bagian-bagian kecil janin (ekstremitas).
Bagian kiri teraba keras memanjang seperti papan (punggung).

14

Leopold III : Teraba keras, bulat, tidak dapat digoyangkan (kepala).


Leopold IV : Divergen
DJJ 128 x/ menit, di kiri bawah pusat
Palpasi WHO 3/5 bagian
His : 2x30 dalam 10 menit
Genetalia bersih, tidak oedem, tidak varises, tidak ada kondiloma talata
maupun akuminata, tidak ada tanda-tanda infeksi, tidak ada pembesaran
kelenjar bartholini maupun scene.Ekstremitas atas dan bawah tidak oedem.
Menurut Manuaba (2005), pemeriksaan fisik pada ibu bersalin meliputi
muka tidak oedem, konjungtiva merah muda, sklera putih, mukosa bibir
lembab, payudara bersih, puting susu menonjol, kolostrum sudah keluar, tidak
ada bendungan/ massa abnormal, pemeriksaan abdomen pada ibu bersalin,
meliputi: TFU Mc. Donald (cm) sesuai dengan umur kehamilan, pemeriksaan
Leopold (Leopold I, II, III, dan IV), DJJ (normalnya 120-160x/menit)
Genetalia bersih, tidak oedem, tidak varises, tidak ada kondiloma talata
maupun akuminata, tidak ada tanda-tanda infeksi, tidak ada pembesaran
kelenjar bartholini maupun scene.Ekstremitas atas dan bawah tidak oedem.
Berdasarkan hal tersebut diatas, tidak ditemukan adanya penyimpangan
antara fakta dan teori.
3. Analisa Data
Analisa data pada Ny.T adalah GIIP10001 UK 37-38 minggu, tunggal,
hidup, intrauterine, presentasi kepala, kesan jalan lahir normal, keadaan ibu
dan janin baik, inpartu kala I fase aktif. Hal ini sesuai dengan pendapat Aziz
dan Wildan (2011), penulisan analisa data pada ibu bersalin yaitu GPAPIAH
UK... minggu, tunggal, hidup, presentasi..., kesan atau keadaan jalan lahir
normal, keadaan umum ibu dan janin baik dengan inpartu kala I fase laten atau

15

aktif. Berdasarkan data diatas, tidak ditemukan kesenjangan antara fakta dan
teori.
4. Penatalaksanaan
Kala I
Berdasarkan fakta, persalinan kala I fase aktif Ny.T berlangsung selama
8,5 jam jam (05.00-13.30 WIB). Hal ini tidak sesuai dengan pendapat

Sumarah, 2009 persalinan kala I berlangsung

18-24 jam, yang terbagi

menjadi 2 fase, yaitu fase laten (8jam) dari pembukaan 0 sampai pembukaan
kurang dari 4cm, dan fase aktif (6-7jam) dari pembukaan serviks 4 cm sampai
10 cm. Dalam fase aktif ini masih dibagi menjadi 3 fase, yaitu fase akselerasi,
dimana dalam waktu 2 jam pembukaan 3cm menjadi 4cm, fase dilatasi
maksimal, yakni dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung cepat, dari
pembukaan 4cm menjadi 9cm, dan fase deselerasi, dimana pembukaan
menjadi lambat kembali. Dalam waktu 2 jam pembukaan 9cm menjadi 10cm.
Kontraksi menjadi lebih kuat dan lebih sering pada fase aktif. Keadaan
tersebut dapat dijumpai baik pada primigravida maupun multigravida, akan
tetapi pada multigravida fase laten, fase aktif, dan fase deselerasi terjadi lebih
pendek. Berdasarkan kurve Fridman, diperhitungkan pembukaan pada
primigravida 1cm/ jam dan pembukaan pada multigravida 2cm/ jam. Dengan
demikian waktu pembukaan lengkap dapat diperkirakan. Mekanisme
membukanya serviks berbeda antara primigravida dan multigravida. Pada
primigavida ostium uteri internum akan membuka terlebih dahulu, sehingga
serviks akan mendatar dan menipis. Kemudian ostium uterin eksternum

16

membuka. Pada multigravida, ostium uteri internum sudah membuka sedikit,


sehingga ostium uteri internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran
serviks terjadi dakam waktu yang bersamaan.
Pada kala I juga dilakukan konseling IUD Pasca plasenta dan informed
consent tindakan persalinan dan pemasangan KB IUD Pasca Plasenta, dan ibu
sudah menyetujui tindakan yang akan dilakukan. Hal ini sesuai dengan
pendapat JNPK-KR (2013) bahwa perlu dilakukan informed consent dan
konseling sebelum pelaksanaan insersi IUD Pasca plasenta.
Pada partograf Ny.T melewati garis waspada, kemudian ibu diberikan
makan dan minum, karena hisnya kurang adekuat, hal ini sesuai dengan
pendapat Sarwono (2010), pada ibu bersalin kekuatan dipengaruhi asupan
nutrisi sebelum persalinan. Hal ini sesuai antara fakta dan teori.
Kala II
Berdasarkan fakta, persalinan kala II Ny.T berlangsung selama

10

menit (13.30-13.40 WIB), tidak ada penyulit selama proses persalinan. Hal ini
fisiologis sesuai dengan pendapat Sumarah (2009), Kala II dimulai dari
pembukaan lengkap (10cm) sampai bayi lahir. Proses ini berlangsung 2 jam
pada primigravida dan 1 jam pada multigravida. Berdasarkan hal diatas tidak
ada kesenjangan antara fakta dan teori.
Kala III
Berdasarkan fakta, persalinan kala III Ny.T berlangsung selama

10

menit (13.40-13.50 WIB), tidak ada penyulit, perineum intak. Hal ini
fisiologis, sesuai dengan pendapat Sumarah (2009), kala III dimulai segera
setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari

17

30 menit.Berdasarkan hal diatas, tidak dijumpai penyimpangan antara fakta


dan teori.
Kala IV
Berdasarkan fakta, persalinan kala IV Ny.T berlangsung selama

jam 35 menit (13.50-16.25 WIB), perdarahan

250 cc, dilakukan IMD.

Hal ini sesuai dengan pendapat Sumarah (2009), kala IV dimulai dari saat
lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum. Observasi yang harus
dilakukan pada kala IV adalah : tingkat kesadaran klien, pemeriksaan tandatanda vital : tekanan darah, nadi, dan pernapasan, kontraksi uterus, TFU,
terjadinya perdarahan, perdarahan dianggap masih normal jika jumlahnya
tidak melebihi 400-500 cc. Berdasarkan hal diatas, tidak ditemui adanya
penyimpangan antara fakta dan teori.
Pada saat kala IV, dilakukan insersi KB IUD Pasca plasenta sesuai dengan
mekanisme insersi IUD Pasca plasenta menurut JNPK-KR (2013).
Mekanisme pemasangan IUD Pasca plasenta terlampir. Berdasarkan hal
diatas, tidak ada penyimpangan antara fakta dan teori.

18

4.3 Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas


Pada pembahasan yang ketiga akan dijelaskan tentang kesesuaian teori
dan kenyataan pada post natal care. Berikut akan disajikan data-data yang
mendukung untuk dibahas dalam pembahasan tentang asuhan kebidanan
pada post natal care. Dalam pembahasan yang berkaitan dengan tentang post
natal care, maka dapat diperoleh data pada tabel berikut ini:
Tabel 4.3 Distribusi Data Subyektif dan Obyektif dari Variabel PNC Ny.T di
Puskesmas Simomulyo, Surabaya dan di Rumah Ny.T.
Tanggal PNC

Post
(hari)

Partum

1
Mules

Anamnesa
BAK

Eliminasi

Tekanan Darah

Laktasi

Involus
i

TFU

12 April
2014

9 April 2014
4

19 April 2014

24 April 2014

11

16

Mules dan Tidak


ada Tidak
ada
nyeri akibat keluhan
keluhan
benang IUD
4 BAK 4 BAK
4 BAK
4

x/ hari, warna
kuning jernih
Ibu
belum
BAB

110/70
mmHg
ASI
sudah
keluar lancar,
tidak
ada
bendungan,
tidak
ada
massa
abnormal
TFU 2 jari
bawah pusat,
kontaksi
uterus baik

x/
hari,
warna
kuning
jernih
BAB
1x/
hari,
konsistensi
keras
110/70
mmHg
ASI keluar
lancar, tidak
ada
bendungan,
tidak
ada
massa
abnormal
TFU 3 jari
bawah pusat,
kontraksi
uterus baik

x/ hari, warna
kuning jernih
BAB
1x/
hari,
konsistensi
lembek

x/
hari,
warna
kuning jernih
BAB
1x/
hari,
konsistensi
lembek

120/70
mmHg
ASI
keluar
lancar, tidak
ada
bendungan,
tidak
ada
massa
abnormal
Pertengahan
pusatsymphisis,
kontraksi

110/70
mmHg
ASI keluar
lancar, tidak
ada
bendungan,
tidak
ada
massa
abnormal
TFU
tidak
teraba

19

uterus baik
Lochea Lochea rubra Lochea rubra Lochea serosa Lochea alba
Berdasarkan fakta diatas, dapat diperoleh analisa sebagai berikut :
1. Data Subyektif
1) Keluhan
Berdasarkan fakta, pada 3 hari post partum Ny. T mengeluh mules,
pada 1 dan 4 hari post partum mengeluh mules, pada 4 hari PP ibu juga
mengeluh nyeri karena benang IUD. Hal ini fisiologis dialami pada ibu
post partum dengan KB IUD Post Plasenta, sesuai dengan pendapat JNPKKR (2013) kram ringan yang periodik dan nyeri karena benang IUD dapat
terjadi dalam beberapa minggu setelah insersi AKDR.
Berdasarkan hal tersebut, tidak ditemukan adanya penyimpangan
antara fakta dan teori.
2) Eliminasi
Berdasarkan fakta, Ny. T sudah BAK sejak hari pertama post
partum, BAK pada 4 hari post partum dengan konsistensi keras, pada hari
ke 11 BAK dan BAB sudah lancar. Hal ini fisiologis sesuai dengan
pendapat Sulistyawati (2009), klien harus BAK dalam waktu 6 jam post
partum, bila 8 jam post partum belum BAK, dirangsang dengan air
mengalir, kompres hangat dan lain-lain. Bila tidak bisa dilakukan
kateterisasi. BAB: supaya buang air besar kembali normal, dapat diatasi
dengan diet tinggi serat, peningkatan asupan cairan, dan ambulasi awal.
Normalnya ibu sudah BAB sampai 4 hari post partum.
Berdasarkan hal diatas, tidak ditemukan adanya penyimpangan antara
fakta dan teori.

20

2. Data Obyektif
1) Laktasi
Berdasarkan fakta, ASI Ny. T sudah keluar lancar, tidak ada
bendungan, tidak ada massa abnormal. Hal ini fisiologis sesuai dengan
pendapat Bahiyatun (2009), pada payudara, terjadi proses laktasi. Pada
keadaan fisiologis, tidak terdapat benjolan, pembesaran kelenjar atau
abses.
ASI matur dikeluarkan mulai hari ke 14 post partum, keluarnya ASI
dengan lancar dapat dipengaruhi oleh refleks hisap bayi/ refleks let down,
semakin kuat hisapan bayi, semakin lancar ASI yang keluar (Suherni,
2009).
Proses laktasi pada Ny. T berdasarkan teori dan fakta diatas tidak
ditemukan adanya penyimpangan.
2) Involusi
TFU
Berdasarkan fakta pada Ny. T, pada 1 hari post partum TFU 2 jari
bawah pusat, kontaksi uterus baik, pada 4 hari post partum TFU 3 jari
bawah pusat, kontaksi uterus baik, pada 11 hari post partum pertengahan
pusat-symphisis, kontraksi uterus baik, pada 16 hari post partum TFU
tidak teraba. Pada hari ke 3 terjadi sub involusi, selanjutnya pada 5 hari
dan seterusnya fisiologis, sesuai dengan pendapat Suherni (2009), TFU
setelah plasenta lahir-1minggu post partum 2 jari bawah pusat, 1-2
minggu post partum pertengahan pusat-symphisis, 2-6 minggu tak teraba,
dan kontraksi uterus selalu baik dengan konsistensi keras.
Lochea
Berdasarkan fakta pada Ny. T, pada 1-4 hari post partum lochea
rubra, pada 11 hari post partumlochea serosa, pada 16 hari post partum
lochea alba. Pada hari ke 3 terjadi sub involusi, selanjutnya pada 5 hari

21

dan seterusnya fisiologis, sesuai dengan pendapat Suherni (2009), Lochea


rubra : Berwarna merah, berlangsung selama 1-3 hari post partum., Lochea
sanguinolenta : Warnanya merah kuning berisi darah dan lendir, terjadi
pada hari ke 4-7 hari post partum, Lochea serosa : Berwarna kuning dan
cairan ini tidak berdarah lagi pada hari ke 7-14 post partum, Lochea alba :
Cairan putih yang terjadi pada hari setelah 2 minggu post partum.
Proses involusi berdasarkan lochea pada Ny. T berdasarkan teori dan
fakta diatas tidak ditemukan adanya penyimpangan.
3. Analisa Data
Analisa data pada Ny.T adalah P20002 post partum hari ke 1 fisiologis. Hal
ini sesuai dengan pendapat Medforth,dkk (2012) penulisan analisa data
diagnosa ibu nifas yaitu PAPIAH post partum hari ke_ fisiologis.
Berdasarkan hal tersebut, tidak ditemui kesenjangan antara fakta dan teori.
4. Penatalaksanaan
Penulis melakukan penatalaksanaan asuhan kebidanan ibu nifas pada
Ny.T sebagaimana untuk ibu nifas normal karena tidak ditemukannya
masalah, seperti melakukan observasi pengeluaran pervaginam, tinggi fundus
uteri, dan proses laktasi, memberikan KIE tentang tanda bahaya nifas, ASI
eksklusif, nutrisi, dsb, dan kontrol ulang. Hal ini fisiologis sesuai dengan
pendapat Bahiyatun (2009), seperti melakukan observasi pengeluaran
pervaginam, tinggi fundus uteri, dan proses laktasi, memberikan KIE tentang
tanda bahaya nifas, ASI eksklusif, nutrisi, dsb, dan kontrol ulang.
Berdasarkan hal tersebut, tidak didapatkan kesenjangan antara fakta dan
teori.

22

4.4 Asuhan Kebidanan pada Neonatus


Pada pembahasan yang keempat, akan dijelaskan tentang kesesuaian
teori dan kenyataan asuhan kebidanan pada neonatus. Berikut akan disajikan
data-data yang mendukung untuk dibahas dalam pembahasan tentang asuhan
kebidanan pada neonatus. Dalam pembahasan yang berkaitan dengan tentang
asuhan kebidanan pada neonatus, maka dapat diperoleh data sebagai berikut:
Berdasarkan fakta, diperoleh data bayi Ny. T, sebagai berikut :
Pada usia 1jam bayi belum BAB dan sudah BAK 1 kali, warna jernih.
Bayi sudah menyusu, pada saat dilakukan IMD.
Pemeriksaan Antropometri
Panjang badan : 50 cm
Berat badan

: 2800 gram

Lingkar dada

: 31 cm

Lingkar lengan : 10 cm
Ukuran Belakang Kepala :
SOB (Suboksipito bregmatika) : 31 cm
SOF (Suboksipito frontalis)

: 34 cm

FO (Fronto oksipito)

: 33 cm

MO (Mento oksipito)

: 38 cm

SMB (Submento bregmatika) : 32 cm


Ukuran Melintang :
BP (Biparietal)

: 9,5 cm

BT (Bitemporal)

: 8 cm

Hasil Pemeriksaan Fisik : Tidak ada kelainan

23

Tabel 4.4 Distribusi Data Subyektif dan Data Obyektif dari Variabel Neonatus
Bayi Ny.T di Puskesmas Simomulyo, Surabaya dan di Rumah
Ny.T.
Tgl
Kunjungan

9 April 2014

14 April 2014

21 April 2014

24 April 2014

Neo
ASI
BAK

Ya
Ya
7-8 kali
7-8

Ya
7-8

Ya
7-8

hari

kali/hari,

kali/hari,

ini, kali/hari,

warna kuning warna kuning warna kuning warna kuning


BAB

BB
Ikterus
Tali pusat

jernih
2

jernih
3
kali

hari

ini, hari,

jernih
3
kali/
warna hari,

warna hitam
2850 gram
Tidak
Basah

kuning
3000 gram
Tidak
Kering Tidak

Tidak

kemerahan,

kemerahan,

tidak

tidak

jernih
3
kali/
warna hari,

kuning
3150 gram
Tidak
Sudah lepas

kali/
warna

kuning
Tidak terkaji
Tidak
Sudah lepas

bau,

bau, tidak bengkak

tidak
bengkak
Berdasarkan fakta diatas, dapat diperoleh analisa sebagai berikut :
1. Data Subyektif
1) Eliminasi
Berdasarkan fakta, pada usia 1jam bayi Ny. T sudah BAK, warna
kuning jernih, dan BAB pada usia 1 hari, warna hitam. Hal ini fisiologis,
sesuai dengan pendapat Arief dan Kristiyanasari (2009), proses
pengeluaran defekasi dan urin terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir
adalah 20-300 cc/24 jam atau 1-2 cc/Kg BB/jam.

24

Berdasarkan data tersebut diatas, tidak dijumpai penyimpangan antara


fakta dan teori.
2) Nutrisi
Berdasarkan fakta, bayi Ny. T sudah menyusu pada saat dilakukan
IMD. Hal ini fisiologis, sesuai dengan pendapat Arief dan Kristiyanasari
(2009), setelah lahir bayi segera disusukan pada ibunya. Pada bayi usia 1
hari, membutuhkan 5-7 ml atau satu sendok makan ASI sekali minum, dan
diberikan dengan jarak sekitar 2 jam. Kebutuhan ASI memang baru
sedikit, karena ukuran lambung bayi pada usia ini hanya sebesar biji
kemiri. Bayi usia 3 hari, membutuhkan 22-27 ml ASI sekali minum yang
diberikan 8-12 kali sehari atau hampir satu gelas takar air untuk satu hari.
Pada usia ini lambung berkembang menjadi sebesar buah ceri atau anggur
berukuran sedang. Bayi usia 1 minggu, membutuhkan ASI 45-60 ml dalam
satu kali minum, dan dapat menghabiskan 400-600 ml ASI atau satu
setengah gelas hingga dua setengah gelas takar air dalam satu hari. Bayi
Usia 1 bulan, membutuhkan ASI 80-150 ml dalam sekali minum, dan
diberikan 8 hingga 12 kali dalam satu hari, dengan jeda 1,5 jam-2 jam
pada siang dan pada malam hari jeda 3 jam.
Berdasarkan data diatas, tidak dijumpai penyimpangan antara fakta dan
teori.
2. Data Obyektif
1) Tanda-tanda vital
Berdasarkan fakta, tanda-tanda vital bayi Ny. T dalam batas normal,
sesuai pendapat Kosim dkk, (2010) suhu bayi normal adalah antara
36,5oC-37,5oC.

Menurut Latief (2013), laju napas normal neonatus

25

berkisar antara 40-60 kali permenit dan nadi apikal dapat berfluktuasi dari
110 sampai 180 x/ menit
Berdasarkan hal tersebut

diatas,

tidak

ditemukan

adanya

penyimpangan antara fakta dan teori.


2) Antropometri
Berat badan lahir bayi Ny.T 2800 gram, saat umur 1 hari dengan BB
2850 gram, umur 6 hari dengan BB 3000 gram, umur 13 hari dengan BB
3150 gram., hal ini fisiologis sesuai dengan pendapat Latief (2000), berat
neonatus cukup bulan antara 2500 sampai 4000 gram. Penurunan berat
badan lebih dari 5% berat badan lahir menunjukkan kekurangan cairan
(Saifuddin, 2010). Berdasarkan hal diatas, tidak ditemukan penyimpangan
antara fakta dan teori
Panjang badan bayi Ny.T 50 cm, hal ini fisiologis sesuai dengan
pendapat Latief (2013), panjang badan neonatus cukup bulan 45 sampai 54
cm. Berdasarkan hal tersebut, tidak ditemui kesenjangan antara fakta dan
teori.

Diameter kepala
Ukuran diameter kepala bayi Ny.T fisiologis, sesuai dengan
pendapat Hakimi (2010)
Diameter biparietal

: Diameter transversal diukur dari kedua eminentia

Diameter bitemporal

parietalis, besarnya 9,5 cm.


: Diameter transversal di antara os temporalis, jaraknya 8
cm (Hakimi, 2010).

Lingkar kepala

26

Sirkumferensia

: Diukur mengelilingi kepala melewati os oksipitalis sampai titik

Occipitomentalis
Sirkumferensia

mentalis, besarnya 35 cm (Wiknjosastro, 2006).


: Diukur mengelilingi kepala melewati fontanella posterior,

Occipitofrontalis

eminentia parietalis, dan margo supraorbitalis, besarnya 33 cm

Sirkumferensia
suboccipito

(Verralls, 2003) sampai 34 cm (Wiknjosastro, 2006).


: Diukur mengelilingi kepala melewati protuberantia occipitalis,
eminentia parietalis, dan bregma, besarnya 30 cm (Verralls,

bregmatica
Sirkumferensia
submento

2003) sampai 32 cm (Wiknjosastro, 2006).


: Diukur mengelilingi kepala melewati bawah dagu ke bregma,
besarnya 32 cm (Wiknjosastro, 2006).

bregmatica
Sirkumferensia
montoverticalis

: Diukur melingkar melewati dagu ke atas sampai vertex,


besarnya 38 cm (Verralls, 2003).

Berdasarkan hal diatas, tidak ditemukan kesenjangan antara fakta


dan teori.
Lingkar dada
Lingkar dada bayi Ny.T 31 cm, hal ini fisiologis sesuai dengan
pendapat Latief (2013), lingkar dada biasanya 2 cm lebih kecil dari
lingkaran kepala. Panjang lingkar dada 30-38 cm. Berdasarkan hal
tersebut, tidak ditemukan adanya kesenjangan antara fakta dan teori.
Lingkar lengan
Lingkar lengan bayi Ny.T 10 cm, hal ini fisiologis sesuai
dengan pendapat Wahyuni (2011), pengukuran dilakukan pada
pertengahan lengan bayi, normalnya 9-11. Berdasarkan data tersebut,
tidak ditemukan adanya penyimpangan antara fakta dan teori.
3) Pemeriksaan fisik

27

Pada By.K, warna kulit selama kunjungan rumah merah muda,


tidak ada kelainan pada anggota tubuh, tidak ada tanda-tanda infeksi tali
pusat, anus ada, tidak ada kelainan pada ekstremitas. Hal ini fisiologis
sesuai dengan pendapat Latief (2013) warna kulit bayi harus berwarna
merah muda yang bersih, tidak ada kelainan pada anggota tubuh, dan tidak
ada tanda-tanda infeksi tali pusat. Berdasarkan hal tersebut, tidak
ditemukan adanya kesenjangan antara fakta dan teori.

3. Analisa Data
Analisa data pada Ny.T adalah Neonatus aterm usia 1 hari fisiologis.
Hal ini sesuai dengan pendapat Mitayani (2010), diagnosa asuhan kebidanan
pada neonatus fisiologis yaitu: Neonatus Aterm usia.....hari fisiologis.
Berdasarkan hal tersebut, tidak ditemukan kesenjangan antara fakta dan teori.
4. Penatalaksanaan
Pada asuhan neonatus, penulis melakukan penatalaksanaan pada By.K
sebagaimana untuk neonatus normal karena tidak ditemukan masalah selama
kunjungan. Asuhan yang diberikan yaitu memberikan KIE, seperti KIE tanda
bahaya neonatus, imunisasi, ASI eksklusif, perawatan bayi sehari-hari dsb.
KIE diberikan secara bertahap agar ibu lebih mudah dalam memahami
penjelasan yang diberikan, imunisasi, kontrol ulang. Hal ini sesuai dengan
pendapat Sudarti (2010) penatalaksanaan pada neonatus fisiologis, meliputi
KIE tanda bahaya neonatus, imunisasi, ASI eksklusif, perawatan bayi sehari-

28

hari dsb. KIE diberikan secara bertahap agar ibu lebih mudah dalam
memahami penjelasan yang diberikan, imunisasi, dan kontrol ulang.
Berdasarkan hal tersebut, tidak ditemukan kesenjangan antara fakta dan
teori.

29

4.5 Asuhan Kebidanan pada Keluarga Berencana


Pada pembahasan yang keenam akan dijelaskan tentang kesesuaian teori
dan kenyataan pada asuhan kebidanan pada keluarga berencana. Berikut akan
disajikan data-data yang mendukung untuk dibahas dalam pembahasan
tentang asuhan kebidanan pada keluarga berencana. Dalam pembahasan yang
berkaitan dengan asuhan kebidanan pada keluarga berencana, maka dapat
diperoleh data pada tabel berikut ini:
Tabel 4.5 Distribusi Data Subyektif dan Data Obyektif dari Variabel Keluarga
Berencana di Puskesmas Simomulyo, Surabaya.
Tanggal
kunjungan KB
Keluhan
Benang IUD
Inspekulo
Ekspulsi

12 April 2014
Mules, nyeri benang IUD
Teraba di porsio
Terlihat benang IUD
Negatif

19 April 2014
Tidak ada keluhan
Teraba di porsio
Terlihat benang IUD
negatif

1. Data Subjektif
Berdasarkan fakta, pada 4 hari post partum Ny. T mengeluh mules, pada
1 dan 4 hari post partum mengeluh mules, pada 4 hari PP ibu juga mengeluh
nyeri karena benang IUD. Hal ini fisiologis dialami pada ibu post partum
dengan KB IUD Post Plasenta, sesuai dengan pendapat JNPK-KR (2013)
kram ringan yang periodik dan nyeri karena benang IUD dapat terjadi dalam
beberapa minggu setelah insersi AKDR.
Berdasarkan hal tersebut, tidak ditemukan adanya penyimpangan antara
fakta dan teori.
2. Data Objektif

30

Berdasarkan data diatas, pemeriksaan fisik Ny.T berkaitan dengan KB


IUD tidak didapatkan penyimpangan. Hal ini fisiologis sesuai dengan
pendapat Sarwono (2006), pemeriksaan fisik untuk akseptor KB IUD meliputi
masih terana benang IUD pada porsio dan tidak ada tanda-tanda ekspulsi.
Berdasarkan hal tersebut, tidak ditemui kesenjangan antara fakta dan teori.
3. Analisa Data
Analisa data pada Ny.T terkait dengan KB adalah P20002 akseptor lama
KB IUD Post Partum, hal ini sesuai dengan pendapat Saifuddin (2010) P_ _ _
_ _ akseptor baru/ lama KB ___
Berdasarkan hal tersebut, tidak ada kesenjangan antara fakta dan teori.
4. Penatalaksanaan
Pada asuhan kebidanan untuk akseptor KB, penulis melakukan
penatalaksanaan pada Ny.T sebagaimana untuk akseptor KB lama IUD post
partum, karena tidak ditemukannya masalah ibu diberi KIE efek samping,
gejala normal KB IUD, tanda bahaya KB IUD, cara mengecek benang IUD,
dan kolaborasi pemberian obat anti nyeri, kontrol ulang. Hal ini sesuai dengan
pendapat JNPK-KR (2013), penatalaksanaan pada akseptor KB IUD Post
partum, meliputi KIE efek samping, gejala normal KB IUD, tanda bahaya KB
IUD, cara mengecek benang IUD, dan kolaborasi pemberian obat anti nyeri,
dan kontrol ulang.
Berdasarkan hal tersebut, tidak ditemukan kesenjangan antara fakta dan
teori.