Anda di halaman 1dari 4

PT. LIST bergerak dibidang penyewaan rumah toko (ruko).

Sesuai dengan kontrak, sewa


ruko tiap bulan adalah sebesar USD 2.000 dan diterbitkan invoice setiap tgl 1.
Pada tanggal 1 September 2012 PT. LIST menerbitkan invoice sebesar USD 1.000 kepada
penyewa.
Pada tanggal tersebut, kurs yang berlaku adalah Rp 11.000/USD. Pada tanggal 1 September
2012 tersebut PT. LIST mengakui penghasilan atas sewa ruko sebesar :
USD 2.000 x Rp 11.000 = Rp 22.000.000
Pada tgl 15 September 2012 penyewa membayar sewa ruko. Pada tgl tersebut, kurs yang
berlaku adalah Rp 10.000/USD, sehingga nilai sewa yang dibayar adalah :
USD 2.000 x Rp 10.000 = Rp 20.000.000
Atas perbedaan waktu antara tanggal penerbitan invoice dan tanggal pembayaran timbul
kerugian selisih kurs bagi PT. LIST sebesar :
Rp 22.000.000 Rp 20.000.000 = Rp 2.000.000
Atas kerugian selisih kurs tersebut tidak diakui sebagai biaya bagi PT. LIST karena berasal
dari penyewaan ruko yang telah dikenal pajak penghasilan bersifat final.
Sementara itu, keuntungan atau kerugian selisih kurs yang tidak berkaitan langsung
dengan usaha Wajib Pajak yang dikenakan PPh final atau yang bukan obyek pajak, diakui
sebagai

penghasilan

atau

biaya

sepanjang

biaya

tersebut

dipergunakan

untuk

mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan.

Perhatikanlah kalimat yang dicetak tebal di atas terutama pada penjelasan Pasal
6 ayat (1) huruf e bahwa pengakuan selisih kurs bisa menggunakan kurs tetap
(histories) dan kurs tengah BI akhir tahun. Apabila menggunakan kurs tetap
kerugian diakui pada saat realisasi. Sedangkan kurs tengah BI mengakui adanya
keuntungan pada akhir tahun.
Dari penjelasan tersebut dapat dicontohkan sebagai berikut:
1. Pada tanggal 1 September 2008 perusahaan membeli mata uang US sebanyak
$50.000 dengan kurs Rp 10.000,-. Dalam hal ini perusahaan akan mencatat uang
tunai dalam mata uang asing sebesar Rp 500.000.000,2. Pada tanggal 31 Desember 2008, kurs tengah BI yang berlaku untuk 1$ mata
uang US adalah Rp. 10.100,-

Dengan kurs tetap:


Wajib Pajak tidak melakukan penyesuaian saldo mata uang asing,
Dengan kurs tengah BI akhir tahun:
Wajib Pajak melakukan penyesuaian saldo mata uang asing dengan kurs pada
tanggal neraca sebesar Rp 10.100,- sehingga nilai saldo mata uang asingnya
menjadi Rp 50.500.000,-. Dalam hal ini Wajib Pajak mengakui adanya
keuntungan atas kenaikan selisih kurs sebesar Rp 500.000,-.
3. Pada tanggal 31 Maret 2009, seluruh mata uang US sebanyak $50.000,- dijual
dengan kurs Rp 9.750,Dengan kurs tetap:
Wajib Pajak mengakui adanya penurunan mata uang dari Rp 10.000 menjadi Rp
9.750,- sehingga Wajib Pajak mengakui adanya kerugian sebesar Rp 1.250.000,Dengan kurs tengah BI akhir tahun:
Wajib Pajak mengakui kerugian kurs sebesar Rp 1.750.000,- yaitu penurunan
kurs dari Rp 10.100,- menjadi Rp 9.750,-.
2. Penjelasan Dalam UU baru (UU No. 36 Tahun 2008):
Sebagaimana diuraikan di atas bahwa telah terjadi perubahan dalam penjelasan
pasal-pasal yang mengatur keuntungan dan kerugian selisih kurs. Adapun bunyi
penjelasan pasal-pasal tersebut adalah sebagai berikut:
Penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf l:
Keuntungan yang diperoleh karena fluktuasi kurs mata uang asing diakui
berdasarkan sistem pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia.
Penjelasan Pasal 6 ayat (1) huruf e:
Kerugian karena fluktuasi kurs mata uang asing diakui berdasarkan sistem
pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas sesuai dengan Standar
Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia.
Berdasarkan bunyi penjelasan pasal tersebut maka mulai sejak berlakunya UU
PPh no. 36 Tahun 2008 aturan perpajakan mengenai selisih kurs mengikuti
ketentuan yang diatur dalam PSAK, dalam hal ini adalah PSAK No.10.
Pengakuan Selisih Kurs Sesuai PSAK No. 10
PSAK No. 10 mengatur tentang transaksi dalam mata uang asing. Dinyatakan
bahwa transaksi dalam mata uang asing adalah transaksi yang didenominasi
atau membutuhkan penyelesaian dalam suatu mata uang asing. Transaksi dalam
mata uang asing tersebut kebanyakan timbul dari transaksi berupa pembelian
dan penjualan barang dan jasa yang harganya didenomisasikan dalam mata
uang asing dan pinjam meminjam dalam mata uang asing.

Dalam paragraph 8 dijelaskan bahwa setiap transaksi dalam mata uang asing
dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi . Kurs tunai
yang berlaku pada tanggal transaksi disebut kurs spot (spot rate). Lebih lanjut
juga dijelaskan bahwa untuk alasan praktis , suatu kurs yang mendekati kurs
tanggal transaksi contohnya suatu kurs rata-rata selama seminggu (kurs
mingguan) atau sebulan mungkin digunakan untuk seluruh transaksi dalam mata
uang asing yang terjadi selama periode itu . Namun jika kurs berfluktuasi secara
signifikan, penggunaan kurs rata-rata untuk suatu periode tidak dapat
diandalkan.
Kemudan dalam paragraph 14 juga dijelaskan bahwa selisih kurs timbul apabila
terdapat perubahan kurs antara tanggal transaksi dengan tanggal
peneyelesasian (settlement date) dari pos moneter dalam mata uang asing. Bila
tanggal transaksi dan tanggal penyelesaian terjadi pada periode yang sama
maka selisih kurs dibebankan seluruhnya pada periode tersebut, namun jika
tanggal trnasksi dan tanggal penyelesaian berada dalam beberapa periode
akuntansi, maka pembebanan selisih kurs dibebankan pada setiap [eriode
akuntansi dengan memperhatikan perubahan kurs untuk setiap periode.
Dari uaraian paragraph 14 bisa kita lihat bahwa PSAK tidak menganut asas kurs
tetap. Artinya pada setiap akhir tahun buku pos-pos moneter dalam mata uang
asing harus dilakukan peneyesuaian kembali dengan menggunakan kurs pada
tanggal neraca, sehingga diakuilah adanya selisih kurs antara kurs pada tanggal
catat dengan kurs pada tanggal neraca. Hal itu dinyatakan secara lebih jelas
dalam paragraf 9 bahwa pada setiap tanggal neraca:
(a) pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke
dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca. Apabila
terdapat kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca, maka dapat
digunakan kurs tengah Bank Indonesia sebagai indikator yang obyektif.
(b) Pos non-moneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal
neraca tetapi tetap harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal
transaksi, dan
(c) Pos non-moneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing
harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai
tersebut ditentukan.
Contoh:
Tanggal 1 Januari 2009 (tanggal transaksi) perusahaan meminjam dana dari
Bank di luar negeri sebesar $US 10.000,- dimana kurs yang berlaku pada saat itu
adalah (spot rate) Rp 10.000,- per $US. Jika perusahaan melunasi seluruh
hutangnya pada tanggal 1 Desember 2009 dan kurs yang berlaku pada tanggal 1
Desember 2009 (tanggal penyelesaian) dan kurs yang berlaku adalah Rp
11.000,- per $US. Dari uraian transaksi peminjaman tersebut antara tanggal
trnasaksi dengan tanggal penyelesaian terjadi pada tahun 2009 sehingga
seluruh selisih kurs yang terjadi sebesar Rp 1.000,- x $US 10.000 = Rp
10.000.000,- dibebankan seluruhnya di tahun 2009.
Jika pelunasan dilakukan pada tanggal 15 Maret 2010 dengan kurs yang berlaku
sebesar Rp 12.000,- sehingga timbul selisih kurs sebesar Rp 2.000,- x $US
10.000,- = Rp 20.000.000,- maka karena tanggal transaksi dan tanggal

penyelesaian meliputi dua periode yaitu tahun 2009 dan 2010 maka selisih kurs
Rp 20.000.000,- akan dibebankan di dua tahun tersebut. Untuk dapat
menghitung berapa beban tahun 2009 maka kurs tanggal transaksi akan
dibandingkan dengan kurs pada tanggal neraca (akhir tahun). Jika misalkan kurs
akhir tahun adalah Rp 11.500, maka pembebanannya adalah:
Tahun 2009 : $US 10.000 x (Rp 11.500 10.000) = Rp 15.000.000,Tahun 2010: $US 10.000 x (Rp 12.000 11.500) = Rp 5.000.000,Jumlah = Rp 20.000.000,Ada beberapa poin yang perlu diketahui. Pertama penghitungan selisih kurs
adalah hanya atas pos moneter saja. Pos moneter adalah kas dan setara kas,
aktiva dan kewajiban yang akan diterima atau dibayar yang jumlahnya pasti atau
dapat ditentukan. Ketentuan pajak pun sejak semula sudah mengikuti ketentuan
ini. Jadi apabila kita membeli mesin (pos non-moneter) dengan harga US
$10.000,- dengan kurs Rp 10.000,- yang berarti mesin dicatat seharga Rp
100.000.000,- maka apabila terjadi perubahan kurs nilai mesin tidak berubah
dan tidak menimbulkan selisih kurs. Namun apabila pembelian mesin tersebut
dilakukan dengan kredit yang memunculkan saldo hutang dan terjadi perubahan
kurs maka akan menimbulkan selisih kurs.
Kedua, dalam penghitungan selisih kurs PSAK menganut azas konservatif dimana
pada setiap akhir tahun unit usaha harus menghitung selisih kurs atas pos
moneter dalam mata uang asing. Dengan kata lain PSAK tidak mengenal kurs
tetap dalam penghitungan selisih kurs.
Kesimpulan
Dengan berlakunya UU No. 36 tahun 2008 yang mulai berlaku mulai 1 Januari
2009 telah terjadi banyak perubahan mendasar dalam ketentuan perhitungan
besarnya penghasilan kena pajak, diantaranya adalah perubahan penghitungan
selisih kurs.
Dalam ketentuan lama sebelum UU No. 36 tahun 2008 terbit, penghitungan
selisih kurs mengenal dua macam cara yaitu kurs tetap atau kurs historis dan
kurs tengah BI akhir tahun. Namun dalam UU No. 36 Tahun 2008 mengalami
perubahan yaitu penghitungan kurs disesuaikan dengan ketentuan PSAK.
Dalam PSAK penghitungan selisih kurs atas pos moneter dilakukan pada setiap
akhir tahun, yang berarti PSAK tidak menganut kurs tetap. Kurs akhir tahun yang
digunakan adalah kurs sebenarnya yang berlaku, namun jika kesulitan
menentukan kurs yang sebenarnya maka bisa digunakan kurs tengah BI.