Anda di halaman 1dari 118

GAMBARAN PERAN PERAWAT DALAM PENATALAKSANAAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DBD (DEMAM BERDARAH


DENGUE) ANAK DI BANGSAL IBNU SINA RUMAH SAKIT PKU
MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Karya Tulis Ilmiah


Disusun Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Derajat
Sarjana Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh:
RETNO CAHYANI
20040320109

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2008

GAMBARAN PERAN PERAWAT DALAM PENATALAKSANAAN


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DBD
(DEMAM BERDARAH DENGUE) ANAK DI BANGSAL IBNU SINA
RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Karya Tulis Ilmiah
Disusun Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Derajat
Sarjana Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh:
RETNO CAHYANI
20040320109

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2008
i

HALAMAN PERSETUJUAN
Karya Tulis Ilmiah
GAMBARAN PERAN PERAWAT DALAM PENATALAKSANAAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DBD
(DEMAM BERDARAH DENGUE) ANAK DI BANGSAL IBNU SINA
RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Telah Disetujui Untuk Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Karya Tulis


Ilmiah Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Pada tanggal: 08 November 2008

RETNO CAHYANI
20040320109

Dosen Pembimbing

(dr. Kusbariyanto, M. Kes)

ii

HALAMAN PANGESAHAN
Karya Tulis Ilmiah
GAMBARAN PERAN PERAWAT DALAM PENATALAKSANAAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DBD
(DEMAM BERDARAH DENGUE) ANAK DI BANGSAL IBNU SINA
RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Telah diseminarkan dan diujikan pada tanggal:
08 November 2008
Oleh:
RETNO CAHYANI
NIM 20040320109
Dewan Penguji:
dr. Kusbariyanto., M. Kes

(.)

Noor Ariyani R., S.Kep, Ns

(...........................)

Mengetahui
Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(dr. H. Erwin Santosa, Sp.A., M. Kes)

iii

Sesungguhnya,
dalam menciptakan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring
dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata) :
YA Tuhan kami,
tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia
Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka.
(Q. S Ali Imron: 190-191)
Ya Rabb,
jauhkan hati ini dari sombong dan angkuh ketika diri berilmulindungi hati ini dari malas
putus asa ketika diri bodohsebagai tanda syukurku atas nikmatNYA berupa :

Ibu,Ibu,Ibu,dan Bapak, mereka yang bahagianya kunanti dan


kusayang, karena tanda pengorbananya aku tidak bisa seperti sekarang ini.mereka
yangkusayang:

kakSolihin dan kakAndry (yang selalalu menemaniku dalam suka dan duka
baik dorongan spiritual dan moril tanpa mengenal lelah),YuFatim,
MFandi,Mmunir,Agus
saudara-saudaraku yang tinggal di Jogja;harapan dan keindahan persaudaraan
Sahabat-Sahabat Dalam Hidup:
Afni,Cory,Dije,Dieca,Sundari,Rini,ipoeng(geng
AsramaMenurIndah),TSusan,Yuli,Selvy,Imadan temen-temen lain yang belum Kusebut namanya atas dorongan,nasehat,dan bantuanya; keteladanan dan kebersamaan
Bunga Keberanian yang menjaga; kesabaran dan kelembutan
TERIMA KASIH.

iv

KATA PENGANTAR

Assalamuallaikum Wr. Wb.


Alhamdulillaahirabbilaalamin, segala puji syukur Penulis panjatkan kehadirat
Rabb Semesta Alam, Allah S. W. T, yang atas izin dan kehendak-Nya penulisan skripsi
ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa, shalawat dan salam juga Penulis haturkan
kepada manusia teladan terbaik Rasul-Nya Muhammad S.A.W, serta kepada keluarga,
sahabat, dan para pengikutnya yang setia akhir zaman.
Penulisan skripsi yang berjudul GAMBARAN PERAN PERAWAT TERHADAP
PERAWATAN PASIEN DBD (DEMAM BERDARAH DENGUE) ANAK DI
BANGSAL IBNU SINA RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA ini dapat
terselesaikan atas bantuan berbagai pihak. Oleh karenanya, Penulis ingin menyampaikan
rasa terima kasih yang tulus kepada:
1.

dr. H. Erwin Santosa, Sp.A., M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran


Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yang telah memberikan izin dan
kesempatan kepada penulis untuk menyusun karya tulis ilmiah ini.
2.
Uswatun Khasanah, MNS, selaku Kepala Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,
3.
dr. Kusbariyanto, M. Kes, selaku dosen pembimbing yang telah membimbing
dan mengarahkan selama penyusunan karya tulis ilmiah ini.
4.
Sri Sumaryani, S.Kep, Ns MKep, Sp.Mat, yang bersedia meluangkan waktu
untuk memberikan pengujian, koreksi dan saran terhadap Karya Tulis ini.
5.
Bapak Direktur RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta yang telah
memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.
6.
Teman-temanku semua yang telah memberikan support dan doa yang tidak
bisa disebutkan satu persatu.
7.
Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian karya tulis ini.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini belum sempurna oleh karenanya penulis
mengharapkan saran dan kritik yang dapat membantu demi penyempurnaan penelitian ini
dapat bermanfaat bagi semua pihak dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan
Taufik, Hidayah serta Inayah-Nya kepada kita. Amin.
Wassalamu allaikum Wr.Wb.
Yogyakarta, 08 November 2008

Retno Cahyani

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ........i
HALAMAN PERSETUJUAN............ii
HALAMAN PENGESAHAN ...iii
HALAMAN PERSEMBAHAN.................................................................................iv
KATA PENGANTAR.............v
DAFTAR ISI.......vi
DAFTAR TABEL ..........xi
DAFTAR SKEMA....xiii
DAFTAR LAMPIRAN ....xiv
INTISARI ..xv
ABSTRACT .........xvi
BAB I. PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang Masalah.......1
B. Rumusan Masalah.....4
C. Tujuan Penelitian..................5
D. Manfaat Penelitian....................5

vi

E. Ruang Lingkup Penelitian........6


F.

Keaslian Penelitian.......7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA....9


A. Peran Perawat .....9
B. Proses Asuhan Keperawatan.........12
1. Pengkajian keperawatan..13
2. Diagnosis keperawatan13
3. Rencana keperawatan..15
4. Implementasi keperawatan..15
5. Evaluasi keperawatan..16
6. Dokumentasi asuhan keperawatan...17
C. Asuhan keperawatan Demam Berdarah Dengue ..18
D. Demam Berdarah Dengue..32
1. Definisi....32
2. Patofisiologi.....32
3. Gambaran klinis...36
4. Diagnosis.38
5. Penatalaksanaan...39
6. Pencegahan..42
E. Kerangka Konsep.......43
F. Pertanyaan Peneliti43
vii

BAB III. METODE PENELITIAN..44


A. Desain Penelitian....44
B. Populasi dan Sampel Penelitian......44
C. Lokasi dan Waktu Penelitian......45
D. Variabel dan Definisi Operasional......46
1. Variabel46
2. Definisi operasional.....46
E. Instrumen Penelitian........47
F. Cara Pengumpulan Data..........48
G. Uji Validitas dan Reliabilitas......49
1. Uji validitas..49
2. Reliabilitas...49
H. Metode Analisis Data..51
I. Kesulitan Penelitian.....52
J. Etika Penelitian...........53
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN55
A. Hasil Penelitian ..55
1.

Gambaran umum lokasi penelitian .55

2.

Karakteristik responden ..56

3.

Distribusi pada pasien DBD di Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta...58

viii

4.

Lama perawatan pada pasien DBD di bangsal Ibnu sina RS PKU


Muhammadiyah Yogyakarta...............59

5.

gambaran peran perawat dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan


pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta...59
a. Gambaran

peran

perawat

dalam

pelaksanaan

pengkajian

keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina RS PKU


Muhammadiyah Yogyakarta ...59
b. Gambaran

peran

perawat

dalam

pelaksanaan

diagnosis

keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina RS PKU


Muhammadiyah Yogyakarta ...60
c. Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan rencana tindakan
keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta ...62
d. Gambaran

peran

perawat

dalam

pelaksanaan

tindakan

keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina RS PKU


Muhammadiyah Yogyakarta ...63
e. Gambaran

peran

perawat

dalam

pelaksanaan

evaluasi

keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina RS PKU


Muhammadiyah Yogyakarta ...64

ix

f. Gambaran peran perawat

dalam pelaksanaan dokumentasi

keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina RS PKU


Muhammadiyah Yogyakarta ...65
B. Pembahasan.66
1. Karakteristik responden ..66
2. Distribusi pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina rumah sakit
PKU Muhammadiyah Yogyakarta.. ...69
3. Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada
pasien DBD anak di Bangsal Ibnu Sina rumah sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta ..70
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN83
A. Kesimpulan ..............................................................................................83
B. Saran..........................................................................................................83
C. Kekuatan dan kelemahan penelitian.........................................................85
DAFTAR PUSTAKA.86
LAMPIRAN...

DAFTAR TABEL

Halaman

xi

Tabel 4.1

Distribusi karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin, umur,


dan lama kerja Bangsal Ibnu Sina RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta.......................................56

Tabel 4.2

Distribusi karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan di


Bangsal
Ibnu
Sina
RS
PKU
Muhammadiyah
Yogyakarta...................................................................................57

Tabel 4.3

Distribusi pasien DBD anak berdasarkan jenis kelamin di Bangsal


Ibnu Sina RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta....................58

Tabel 4.4

Lama perawtan pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina RS PKU


Muhammadiyah Yogyakarta...59

Tabel 4.5

Gambaran peran perawata dalam pelaksanaan pengkajian keperawatan


yang dilakukan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina RS
PKU Muhammadiyah Yogyakarta......60

Tabel 4.6

Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan diagnosis keperawatan


yang dilakukan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina RS
PKU Muhammadiyah Yogyakarta......60

Tabel 4.7

Gambaran diagnosis keperawatan pada pasien DBD..61

Tabel 4.8

Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan rencana tindakan


keperawatan yang dilakukan pada pasien DBD anak di Bangsal
Ibnu sina RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.....63

Tabel 4.9

Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan tindakan keperawatan


yang dilakukan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina RS
PKU Muhammadiyah Yogyakarta .....63

DAFTAR TABEL (Lanj.)

Tabel 4.10

Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan evaluasi keperawatan


yang dilakukan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina RS
PKU Muhammadiyah Yogyakarta ......64

Tabel 4.11

Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan dokumentasi


keperawatan yang dilakukan pada pasien DBD anak di Bangsal
Ibnu sina RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta .....65

xii

DAFTAR SKEMA

Skema 2.1

xiii

Kerangka Konsep Penelitian......43

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Surat ijin penelitian dari PSIK UMY.

Lampiran 2

Surat ijin penelitian dari RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Lampiran 3

Surat permohonan bersedia menjadi responden.

Lampiran 4

Kuesioner penelitian

Lampiran 5

Data penelitian gambaran peran perawat dalam pelaksanaan


asuhan keperawatan pasien DB/DBD anak di RSU PKU
Muhammadiyah Yogyakarta.

xiv

Retno Cahyani. (2008). Gambaran Peran Perawat Dalam Pelaksanaan Asuhan


Keperawatan pada Pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) Anak di
Bangsal Ibnu Sina RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Pembimbing :
dr. Kusbariyanto, M. Kes
INTISARI
Peran perawat merupakan tugas utama dalam peningkatan pelanyanan
sebuah rumah sakit, termasuk dalam pemberian asuhan keperawatan. Asuhan
keperawatan menjadi salah satu tolak ukur dalam pemberian perawatan pasien
terutama pasien DBD. Peran perawat terdiri dari peran sebagai pemberi asuhan
keperawatan, advocat, kolaborator, konsultan, pendidik dan peneliti. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah gambaran peran perawat
dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pasien demam berdarah dengue anak di
Bangsal Ibnu Sina RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode diskriptif non eksperimen,
jumlah sampel 12 perawat yang diambil dari semua jumlah populasi perawat di
Bangsal Ibnu Sina. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan lembar
isian dan disajikan dalam bentuk kuissoner.
Hasil penelitian peran perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
pada pasien DBD anak rata-rata kategori baik. Hasil pengamatan peran perawat
dalam pelaksanaan pengkajian seluruhnya baik, perawat dapat memperhatikan
respon klien sehingga masalah yang dihadapi oleh pasien teridentifikasi.
Diagnosis seluruhnya baik karena perawat telah melakukan pengkajian mendalam
pada pasien maka penyusunan diagnosis dapat optimal, rencana tindakan 91,7%
dan tindakan keperawatan 75% cukup masih ada hal-hal yang harus diperhatikan
dalam melakukan rencana tindakan dan implementasi pelaksanaan asuhan
keperawatan, evaluasi dan dokumentasi 91,7% baik perawat telah memperhatikan
hasil tindakan yang telah dilakukan, dengan peran perawat yang professional
sesuai standar asuhan keperawatan yang baik mampu membawa perubahan pada
pasien.
Dengan mempertimbangkan hasil penelitian ini, penulis mengharapkan
agar peran perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan khususnya perawatan
pasien demam dengue dan demam berdarah dengue di rumah sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta lebih ditingkatkan.
Kata kunci: DBD, peran perawat, penatalaksanaan asuhan keperawatan.

xv

Retno Cahyani. (2008). Description of Nursing Role on intervention of nursing


treatment of DHF (Dengue Hemorrhagic Fever) to child patient in Ibnu
Sina Class PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta.
Adviser:
dr. Kusbariyanto, M. Kes

ABSTRACT
Nursing role is priorities task on intervention of nursing treatment in
hospital, so advocate to patient, education, coordination, consultation, and
research. Dengue fever (DF) and dengue hemorrhagic fever (DHF) represent
endemic disease some region in Indonesia especially _ certain month of the rains
moment. In Yogyakarta in the year 2006-2007 number painfulness of tired dengue
16.803 per 10.000 resident. Target of this research is to know how biro ration
nurse role on intervention of nursing treatment of DHF to child patient in Ibnu
Sina class PKU Muhammadiyah hospital of Yogyakarta.
This study using method of descriptive non experiment, amount of sample
12 take nurse, from all nurse population in Ibnu Sina class. Intake of date done by
using stuffing sheet and presented in the from of cuisine.
Result of this study, nurse role on treatment to upbringing execution with
child patient of DF/DHF on category level of the good. Result of perception of
study 100% good, nurse can paying attention of client respond so that the
problem of which is possible faced by patient identify, diagnosis 100% good
because nurse after circumstantial study hence compilation of diagnosis is
optimal. The action plan 91,7% and treatment action 75% enough still many
matter which must be paid attention in executing action plan and implementation
execution of treatment upbringing, nurse on evaluation and documentation 91,7%
good have pain attention result of action which have been done, by perceiving it
action can bring change at patient or still require furthermore action.
By considering result of this study, writer expect nurse role on intervention
of nursing especially treatment of DHF patient in PKU Muhammadiyah hospital
of Yogyakarta more improved.

Keyword: DHF, nurse role, intervention of nursing treatment.

xvi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Selama hampir dua abad, penyakit dengue digolongkan sejajar dengan
penyakit demam, pilek, diare, yaitu sebagai penyakit penyesuaian diri
seseorang terhadap iklim tropis. Namun sejak timbulnya wabah DBD (Demam
Berdarah Dengue) di Manila pada Tahun 1953-1954, yang disertai renjatan
(syok) dan pendarahan gastrointestinal yang berakhir dengan kematian
penderita, pandangan ini berubah. Kenyataan sekarang ialah bahwa virus
dengue menempati urutan kedelapan sebagai penyebab kesakitan di Negaranegara kawasan Asia Tenggara Barat dan Pasifik Barat.
Penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) merupakan masalah
kesehatan di Indonesia, hal ini dari kenyataan yang ada di seluruh wilayah di
Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD. Sebab baik virus
penyebab maupun nyamuk penularnya sudah tersebar luas diperumahan
penduduk maupun fasilitas umum di seluruh Indonesia (Sungkar. S, 2005).
Laporan yang ada sampai saat ini penyakit DBD sudah menjadi masalah yang
endemis pada 122 daerah Tingkat II, 605 daerah Kecamatan dan 1800 Desa
atau Kelurahan di Indonesia (Widodo Darmowandowo, 2001).
Di Indonesia Demam Berdarah Dengue pertama kali dicurigai muncul di
Surabaya tahun 1968 tetapi konfirmasi virologis baru diperoleh pada tahun
1970.

Di Jakarta dilaporkan pertama kali oleh Kho et al (1969), kemudian


berturut-turut di Bandung dan Yogyakarta, sejak tahun 1973 penyakit dengue
tidak hanya menyerang daerah urban tetapi juga menyerang daerah rural (Eran
et al, 1988). Insiden tertinggi kasus yang dilaporkan ialah pada tahun 1998
(45.548 kasus dengan kematian sebanyak 1414 orang), tahun 1999 (21.134
kasus), tahun 2000 (33.443 kasus ), tahun 2001 (45.904 kasus), tahun 2002
(40.377 kasus), tahun 2003 (50.131 kasus), tahun 2004 (26.015 kasus dengan
jumlah kematian sebanyak 389 orang), dan pada tahun 2006-2007, kasus
demam berdarah di Indonesia mencapai 16.803 kasus dan kasus yang
meninggal akibat DBD sebanyak 267 kasus (Depkes, 2007). Dan data
sementara selama kurun waktu bulan Januari sampai September tahun 2008
kasus demam dengue di Yogyakarta mencapai 1.768 penderita dengan 15
orang meninggal dunia (Depkes Provinsi DIY, 2008).
Saat ini DBD (Demam Berdarah Dengue) menjadi endemis di kota-kota
besar, bahkan sejak tahun 1975 penyakit ini berjangkit dipedesaan. Menurut
Suroso (cit, Prakitri 1999), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai
terjangkit penyakit DBD pada tahun 1970 dengan 41 penderita dan 5 orang
diantaranya meninggal, sehingga pada tahun 1986 dilaporkan bahwa
Kotamadya Yogyakarta merupakan daerah endemis DBD. Karena letaknya
pada jalur yang menghubungkan antara Jawa bagian Barat dengan Jawa
bagian Timur, sehingga membuat kota Yogyakarta cukup rentan terhadap
masuknya

penyakit-penyakit

Yogyakarta, 2002).

menular

termasuk

DBD

(Depkes

Kota

Pada tahun 2006-2007 angka kesakitan DBD di kota Yogyakarta


mencapai 16.803 perseribu penduduk, dari data tersebut telah membuktikan
bahwa kasus DBD di Yogyakarta masih cukup tinggi, terutama menyerang
pada anak-anak dibawah umur 15 tahun dan juga menyerang orang dewasa.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, serta instansiinstansi yang terkait dalam sosialisasi pemberantasan sarang nyamuk, akan
tetapi angka kesakitan setiap tahun cenderung meningkat (Depkes, 2007). Hal
ini yang membuat DBD tetap merupakan masalah kesehatan yang rumit,
biasanya jumlah kasus DBD meningkat bersamaan dengan peningkatan curah
hujan, oleh karena itu puncak jumlah kasus setiap daerah berbeda. Pada
umumnya di Indonesia meningkat pada musim hujan sejak bulan Desember
sampai dengan bulan April-Mei, maka deteksi dini penderita dan pengawasan
sangat penting artinya (Hardiono D.Pusponegoro, 2004).
Berdasarkan data-data diatas kasus DBD merupakan masalah kesehatan
yang sangat endemik di Indonesia, maka penyakit DBD memerlukan suatu
penanganan pelayanan kesehatan yang melibatkan peran seorang perawat dan
tenaga-tenaga medis lainnya.
Perawat merupakan salah satu profesi yang terlibat dalam pembangunan
di bidang kesehatan, oleh karena itu perawat sekaligus merupakan bagian
integral dari sistem kesehatan nasional. Dalam memberikan pelayanan dalam
asuhan

keperawatan,

perawat

dituntut

untuk

meningkatkan

mutu

pelayanannya (Mundakir, 2006). Fokus utama keperawatan adalah kesehatan


masyarakat dengan target populasi total dimana manusia tidak dipandang

hanya dari aspek fisik tetapi juga dipandang sebagai makhluk bio-psikososial-spiritual (Arwani, 2002).
Perawat juga merupakan mitra yang sangat dekat dengan dokter dituntut
dapat memberikan pelayanan asuhan keperawatan yang seimbang dengan
profesi kedokteran sesuai dengan standar yang ada. Dalam memberikan
pelayanan yang seimbang maka diperlukan adanya pengetahuan, kemauan dan
ketrampilan sikap profesional mulai dari komunikasi, cara kerjasama dengan
pasien, dengan mitra kerjanya sampai cara pengambilan keputusan (Arwani,
2001). Peran perawat sangat penting yaitu sebagai ujung tombak di ruang
rawat inap dan merupakan tenaga yang paling lama kontak atau berhubungan
dengan pasien yaitu selam 24 jam
Penelitian ini dilakukan untuk melihat dan mengetahuai sejauh mana
gambaran peran perawat dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada
pasien DBD (Demam Berdarah Dengue) anak yang dilakukan di Bangsal Ibnu
sina Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta terutama dalam
pengkajian, diagnosis keperawatan, rencana tindakan, implementasi, evaluasi
dan dokumentasi. Hal ini juga bertujuan untuk mengetahuai apakah
penatalaksanaan asuhan keperawatan sudah sesuai dengan standar model
acuhan asuhan keperawatan.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran peran perawat dalam penatalaksanaan asuhan
keperawatan pada pasien DBD (Demam Berdarah Dengue) anak di Bangsal
Ibnu Sina Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 2008 ?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peran perawat
dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien DBD (Demam
Berdarah Dengue) anak terutama dalam pengkajian, diagnosis keperawatan,
rencana tindakan, implementasi, evaluasi dan dokumentasi.
D. Manfaat Penelitian
1.

Bagi ilmu keperawatan


Memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan
pendidikan dalam keperawatan untuk membentuk praktek keperawatan
profesional terutama dalam penatalaksanaan DBD dan upaya-upaya
seperti promosi, preventif, kuratif dan rehabilitatif

2. Bagi perawat
Dapat memberikan informasi dan sumbangan ilmu pengetahuan kepada
perawat-perawat di Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta

terutama

tentang

gambaran

peran

perawat

dalam

penatalaksanaan asuhan keperawatan DBD (Demam Berdarah Dengue)


anak, sehingga nantinya diharapkan dapat membantu upaya peningkatan
promosi, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
3. Bagi pihak rumah sakit
Memberikan informasi kepada Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta

sebagai salah

satu

bahan evaluasi terhadap

proses

penatalaksanaan asuhan keperawatan dengan lebih meningkatkan kualitas


asuhan keperawatan.

4. Bagi peneliti
Sebagai regenerasi perawat, peneliti diharapkan mampu melaksanakan
tehnik penatalaksanaan asuhan keperawatan dengan benar
5. Bagi peneliti selanjutnya
Sebagai bahan acuhan dan diharapkan dapat menjadi acuhan dalam
mengembangkan penelitian yang serupa baik tentang gambaran peran
perawat dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien DBD
anak, maupun penelitian sejenisnya.
E. Ruang Lingkup Penelitian
1. Responden
Responden dalam penelitian ini adalah semua perawat yang ada di
Bangsal Ibnu Sina Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
2. Waktu
Waktu penelitan ini akan dilaksanakan selama dua bulan pada bulan
Agustus sampai September 2008.
3. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Bangsal Ibnu sina Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta.
4. Alasan pemilihan lokasi penelitian
Alasan pemilihan lokasi tersebut dilihat dari lokasinya yang sangat
strategis berada di kota di Jl. Ahmad Dahlan No. 20 Yogyakarta, terletak
dipinggir jalan raya dan mudah dijangkau dengan kendaraan. Dilihat dari
rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta sendiri, menyediakan

fasilitas dan sarana yang memadai bagi pasien dan pelayanannya cepat,
mutu, nyaman, ringan, islami. Dan alasan penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui sejauh mana peran perawat di Bangsal Ibnu sina rumah sakit
PKU Muhammadiyah Yogyakarta dalam pemberian asuhan keperawatan
pada pasien anak DBD.
5. Materi
Materi dari peneliti ini adalah gambaran peran perawat

dalam

penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien DBD (Demam Berdarah


Dengue) anak.
F. Peneliti Terkait
1. Frekuensi penderita DBD pada pasien anak di RS PKU Muhammadiyah
Solo periode Januari 2002 31 Juni 2002 oleh Lilik Prabowo (2002).
Penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian diskriptif yang
dilakukan secara retrospektif, data penelitian diambil secara sekunder dari
catatan rekam medis. Peneliti ingin mengetahui frekuensi penderita DBD
pada pasien anak yang dirawat di RS PKU Muhammadiyah Solo menurut
golongan umur dalam kurun waktu mulai 1 Januari 31 Juni 2002. Hasil
penelitian bahwa frekuensi DBD pada pasien anak di RS PKU
Muhammadiyah Solo dalam periode Januari 2002- 31 Juli 2002 jumlah
penderita meningkat.
2. Peneliti Deny Nuryadi (2000), tentang Pola Distribusi Penderita DBD
pada Pasien Anak di RSUD Dr. Sardjito Yogyakarta pada tahun 2000,
penelitian ini dilakukan dengan rancangan metode penelitian diskriptif

dengan cara pearson chi square dengan mengumpulkan data dan melihat
kembali catatan status rekam medis penderita DB/DBD pasien anak di
RSUD Dr. Sardjito Yogyakarta. Peneliti ingin mengetahui pola distribusi
penderita DBD pada anak yang dirawat di RSUD Dr. sardjito pada kurun
waktu 1 Januari 31 Desember 2000.
3. Peneliti Sumarni (2005), tentang gambaran penatalaksanaan keperawatan
pasien DB dan DBD (DF/DHF) pada anak usia 4-15 tahun di RSU PKU
Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 2005, peneliti ini dilakukan
dengan rancangan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan
retrospektif yang merupakan penelitian kuantitatif bertujuan untuk
mendiskripsikan proses asuhan keperawatan yang dilakukan pada anak
dengan diagnosis medis (data sekunder) DHF yang dirawat inap di RSU
PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Oktober 2003-Maret 2004.
Hasil penelitian bahwa

penatalaksanaan keperawatan pasien DHF pada

anak usia 4-15 tahun di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada


tahun 2005 dalam karegori kurang.
Penekanan pada perawat-perawat yang merawat pasien anak
DB/DBD di Bangsal Ibnu Sina Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta, dengan metode penelitian dan pengumpulan data yang
berbeda yaitu bersifat deskriptif atau gambaran dengan jenis rancangan
kualitatif pengumpulan data menggunakan kuissonner dan melihat catatan
rekam medis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Peran perawat
Peran adalah perilaku yang diharapkan, sedangkan perawat adalah orang
yang telah lulus dalam pendidikan formal keperawatan (PUSBANKES, 2008).
Peran perawat merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai dengan kedudukan masing-masing individu. Hal ini
dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari profesi perawat maupun dari
luar profesi keperawatan. Peran perawat menurut konsorium ilmu kesehatan
tahun 1989 terdiri dari peran sebagai pemberi asuhan keperawatan, advocat
klien, pendidik, koordinator, kolaborator, konsultan dan peneliti (Hidayat,
2004).
Pelayanan keperawatan merupakan salah satu bagian utama dari
pelayanan kesehatan yang diberikan kepada klien. Perawat merupakan orang
pertama dan secara konsisten selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu
menjalin kontak dengan klien, maka perawat harus mengetahui dan
memahami tentang paradigma kesehatan, peran, fungsi dan tanggung jawab
sebagai seorang perawat agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang
optimal (Perry & Potter, 2005).
Peran perawat dalam Care giver adalah peran yang dapat dilakukan
perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar klien yang
membutuhkan.

Melalui

pemberian

pelayanan

keperawatan

dengan

10

menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis


keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat
sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar klien, kemudian dapat dievaluasi
tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari
yang sederhana sampai yang kompleks (Hidayat, 2004). Menurut Potter &
Perry (2005), peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan diharapkan
perawat dapat membantu klien mendapatkan kembali kesehatannya melalui
proses penyembuhan. Proses penyembuhan lebih dari sekedar sembuh dari
penyakit tertentu, sekali pun keterampilan tindakan yang meningkatkan
kesehatan fisik merupakan hal yang penting bagi pemberi asuhan. Dan
perawat diharapkan lebih memfokuskan asuhan pada kebutuhan kesehatan
klien secara holistik, meliputi upaya mengembalikan kesehatan emosi,
spiritual, dan sosial.
Peran sebagai advokat klien dilakukan perawat dalam membantu klien
dan keluarga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi
pelayanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas
tindakan keperawatan yang diberikan kepada klien, juga dapat berperan
mempertahankan dan melindungi hak-hak klien yang meliputi hak atas
pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas
privasi hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti
rugi akibat kelalaian (Hidayat, 2004).
Perawat sebagai educator atau pendidik dilakukan dengan membantu
klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit

11

bahkan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari


klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. Metode pengajaran yang
digunakan oleh perawat adalah metode yang sesuai dengan kemampuan dan
kebutuhan klien serta melibatkan orang-orang yang dekat dengan klien seperti
keluarganya (Perry & Potter, 2005).
Peran

sebagai

koordinator

dilaksanakan

dengan

mengarahkan,

merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan


sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan
kebutuhan klien. Bekerja melalui tim kesehatan penting dilakukan perawat
sebagai peran kolaborator. Perawat dapat menjalin kerjasama dengan dokter,
fisioterapis, ahli gizi, dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi
pelayanan keperawatan yang diperlukan, termasuk diskusi atau tukar pendapat
dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya. Peran sebagai konsultan
adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan
yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien terhadap
informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan. Mengadakan
perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan
metode pemberian pelayanan keperawatan. Hal ini merupakan tugas perawat
sebagai seorang pembaharu (Hidayat, 2004).
Perawat juga mempunyai peran sebagai penyuluh dan komunikator,
peran ini sangat dibutuhkan dalam sosialisasi terutama di rumah sakit dan
masyarakat. Peran sebagai penyuluh, perawat dapat menjelaskan kepada klien
konsep dan data-data tentang kesehatan, mendemonstrasikan prosedur seperti

12

aktivitas perawatan diri, menilai apakah klien memahami hal-hal yang


dijelaskan dan mengevaluasi kemajuan dalam pembelajaran. Dan peran
sebagai komunikator merupakan pusat dari seluruh peran perawat yang lain.
Keperawatan mencakup komunikasi dengan klien dan keluarga, antar sesama
perawat dan profesi kesehatan lainnya, sumber informasi dan komunitas.
Peran sebagai komunikasi juga dapat dilakukan dengan memberikan
perawatan yang efektif, memberikan perlindungan bagi klien dari ancaman
terhadap kesehatannya, mengoordinasi dan mengatur asuhan keperawatan,
membantu klien dalam rehabilitasi, memberi kenyamanan, membantu

klien

dan keluarga dalam membuat keputusan. Komunikasi merupakan faktor yang


menentukan dalam memenuhi kebutuhan individu, keluarga dan komunitas
(Potter & Perry, 2005).
B. Proses Penatalaksanaan Asuhan Keperawatan
Penatalaksanaan asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian
kegiatan pada praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada klien
pada berbagai pelayanan kesehatan, dengan menggunakan metodologi proses
asuhan keperawatan (yang terdiri dari lima tahap yaitu pengkajian, diagnosis,
perencanaan, implementasi, evaluasi dan dokumentasi) berpedoman pada
standar keperawatan dilandasi etika keperawatan dalam lingkup wewenang
serta tanggung jawabnya (Nursalam, 2003).
Berdasarkan Standar Asuhan Keperawatan (Nursalam, 2003), proses
keperawatan terdiri dari:

13

1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan
merupakan suatu proses yang sistimatis dalam pengumpulan data dari
berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status
kesehatan klien, yang terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
a. Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara (data
subyektif),

observasi

(data

obyektif),

pemeriksaan

fisik

dan

mempelajari data penunjang. Pencatatan data yang dikaji sesuai


dengan pedoman pengkajian. Kriteria dalam pengumpulan data adalah
kelengkapan data, sistematis, menggunakan format, aktual (baru),
absah (valid).
b. Pengelompokan data
Kriteria dalam pengelompokan data adalah data biologis, data
psikologis, data sosial dan data spiritual.
c. Pengkajian data dilakukan dari pasien masuk sampai pulang.
d. Perumusan masalah
Kriteria dalam perumusan masalah adalah masalah dirumuskan
berdasarkan masalah yang telah ditemukan.
2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah suatu pernyataan dari pasien yang
nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan, yang

14

pemecahannya dapat dilakukan dalam batas kewenangan perawat untuk


melakukannya.
Masalah nyata adalah masalah yang sudah ada pada waktu
pengkajian. Sedangkan masalah potensial/resiko merupakan masalah yang
mungkin

timbul

bila

pemecahannya

tidak

dilaksanakan.

Untuk

menghindari kekeliriuan antara diagnosis medis dengan diagnosis


keperawatan, perlu diketahui perbedaan antara kedua diagnosis tersebut.
Diagnosis medis berfokus pada keadaan patologis/pengobatan dan
penyembuhan penyakit, sedangkan diagnosis keperawatan berfokus pada
respon pasien terhadap penyakit atau faktor lain yang mempengaruhi.
Kategori

diagnosis

komponen

yang

lain

diperlukan

untuk

pengajuan:
a. Nama: Bagian ini memberikan nama untuk diagnosis, sebuah frase,
istilah atau label singkat.
b. Definisi: Bagian ini memberikan definisi yang jelas dan tepat dari
nama diagnosis yang disebutkan dan menguraikan artinya.
c. Karakteristik definisi: karaktristik klinik yang menunjukkan adanya
kategori diagnosis:
d. Bahan-bahan subtansial dan pendukung: bagian ini menberikan
dokumentasi yang mempekuat keberadaan, sifat dan karakteristik
fenomena perhatian. Dokumentasi yang minimal adalah sebuah narasi
rujukan yang menunjukan dukungan pada diagnosis yang diusulkan
(Rothrock C Jane, 1998).

15

3. Rencana keperawatan
Perencanan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan
keperawatan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosis
keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan terpenuhunya kebutuhan
pasien.
Tujuan perencanaan keperawatan adalah sebagai alat komunikasi
antar teman sejawat dan tenaga kesehatan lain, dan meningkatkan
keseimbangan asuhan keperawatan.
Komponen perencanaan keperawatan meliputi:
a. Perencanaan keperawatan berdasarkan diagnosis keperawatan
b. Prioritas

masalah,

dengan

kriteria:

masalah

yang

mengancam

kehidupan merupakan prioritas pertama. Masalah yang mengancam


kesehatan seseorang adalah prioritas kedua. Masalah-masalah yang
mempengaruhi perilaku merupakan prioritas ketiga.
c. Tujuan asuhan keperawatan.
d. Rencana tindakan.
4. Pelaksanaan keperawatan (Implementasi)
Pelaksanaan keperawatan adalah pelaksanaan rencana tindakan yang
telah ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara
optimal, yang mencakup aspek peningkatan, pemeliharaan, dan pemilihan
kesehatan dengan mengikutsertakan pasien dengan keluarganya.
Kriteria pelaksanaan keperawatan:
a. Dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan.

16

b. Mengamati keadaan bio-psiko-sosio spiritual pasien.


c. Menjelaskan setiap tindakan keperawatan kepada pasien/keluarga.
d. Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
e. Menggunakan sumber daya yang ada.
f. Menerapkan

prinsip

aman,

nyaman,

ekonomi,

privasi,

dan

menguntungkan keselamatan pasien.


g. Mengobservasi respon pasien terhadap tindakan keperawatan.
h. Melakukan perbaikan tindakan keperawtan berdasarkan respon pasien.
i.

Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan.

j.

Mencantumkan tanda tangan dan nama perawat yang melakukan


tindakan.

k. Melaksanakan tindakan keperawatan berpedoman pada prosedur tetap


yang telah ditentukan.
5. Evaluasi keperawatan
Evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian
ulang rencana keperawatan. Evaluasi keperawatan dilakukan secara
periodik, sistematis dan terencana untuk menialai perkembangan pasien
setelah pelaksanaan tindakan keperawatan.
Kriteria evaluasi keperawatan:
a. Kriteria tindakan keperawatan, dilakukan evaluasi.
b. Evaluasi hasil penggunaan indicator perubahan fisiologi dan tingkah
laku perubhan tingkah laku pasien.

17

c. Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan untuk diambil


tindakan selanjutnya.
d. Evaluasi melibatkan pasien, keluarga dan tim kesehatan lain.
6. Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi keperawatan dalam masa ini telah banyak diyakini oleh
perawt bahwa semakin lengkap akan semakin baik pula pembelaannya
dalam hukum. Namun perawat juga mengenal sistem dokumentasi yang
efisien, komprehensif dapat mendokumentasikan lebih banyak data dalam
waktu dan tempat yang lebih sedikit.
Dokumentasi keperawatan harus obyektif dan komprehensif dan
harus secara akurat mencerminkan status pasien dan apa yang telah terjadi.
Dokumentasi keperawatan mempunyai tujuan professional administrasif
dan klinis, yaitu sebagai berikut:
a. Untuk mendokumentasikan fokus keperawatan bagi klien dan
kelompok.
b. Untuk membedakan tanggung gugat perawat dari tanggung gugat
anggota pelayanan kesehatan lain.
c. Untuk memberikan kriteria penelaahan pengevaluasian asuhan.
d. Untuk memberikan kriteria klasifikasi pasien.
e. Untuk memberikan data untuk tinjauan administrasi dan legal.
f. Untuk memenuhi persyaratan hukum, akreditasi dan profesionalis.
g. Untuk memberikan data penelitian dan tujuan pendidikan.

18

C. Asuhan Keperawatan Demam Berdarah Dengue


Pasien yang mempunyai keluhan terhadap penyakitnya, mempunyai
harapan yang besar untuk mendapat perawatan lebih baik ketika di rawat di
rumah sakit. Perawat mempunyai peranan yang sangat

penting dalam

perawatan pasien karena secara terus-menerus berhubungan dengan pasien.


Perawat berkewajiban memberikan asuhan keperawatan yang optimal,
bertanggung jawab, dan tanggung gugat. Untuk itu perawat harus mengetahui
peran dan fungsinya secara tepat dan selalu mempertahankan hubungan
terapeutik dan kerjasama yang di tandai dengan tukar perilaku, perasaan,
pikiran dan pengalaman dalam membina hubungan terapeutik (Stuart dan
Sundeen, 1987 cit Effendy 1995).
Sama seperti kasus penyakit pada umumnya, proses keperawatan yang
diberikan kepada pasien DB/DBD adalah dengan tahap-tahap, yaitu tahap
pengkajian, diagnosis, perencanaan tindakan keperawatan, implementasi atau
pelaksanaan

tindakan,

dan

evaluasi

serta

diakhiri

dengan

tahap

pendokumentasian.
1. Pengkajian
a. Data subyektif
Data subyektif adalah data yang dikumpulkan berdasarkan
keluhan yang dinyatakan oleh pasien. Pada pasien DBD/DBD data
subyektif yang sering ditemukan adalah:
1) Lemah
2) Panas dan demam
3) Sakit kepala
4) Anoreksia (tidak nafsu makan), mual, haus sakit saat menelan.

19

5) Nyeri ulu hati


6) Nyeri pada otot atau sendi
7) Pegal-pegal pada seluruh tubuh
8) Konstipasi (sembelit)
a. Data obyektif
Data

obyektif

adalah

data

yang

diperolah

berdasarkan

pengamatan perawat atas kondisi pasien. Data obyektif yang sering


dijumpai pada penderita DB/DBD antara lain:
1) Suhu tubuh tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan (flushing)
2) Mukosa mulut kering, pendarahan gusi, lidah kotor.
3) Tampak bintik merah pada kulit (petekie), uji torniquet (+):
epistaksis

(pendarahan

pada

hidung/mimisan),

ekimosis,

hematoma, hematemesis, melena.


4) Hyperemia pada tenggorokan.
5) Nyeri tekan pada epigastrik
6) Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa.
7) Pada rejatan (derajat IV), nadi cepat dan lemah, hipotensi,
8) Ekstremitas dingin, gelisah, sianosis perifer, nafas dangkal.
b. Data penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboraturium digunakan untuk menegakkan
diagnosisi

DB/DBD,

perlu

adanya

berbagai

laboraturium antara lain pemeriksaan darah dan urine.

pemeriksaan

20

Pada pemeriksaan darah akan dijumpai:


a) Ig G dengue positif.
b) Trombositopenia.
c) Hemoglobin meningkat >20%
d) Hemokonsentrasi (Hematokrit meningkat).
e) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukan hipoproteinemia,
hiponatremia, hipokloremia.
f) SGOT/SGPT mungkin meningkat.
g) Ureum dan pH darah mungkin meningkat.
h) Waktu pendarahan memanjang.
i) Pada pemeriksaan analisis gas darah arteri menunjukan asidosis
metabolik: pCO2<35-40 mmHg, HCO3 rendah,Base excess (-).
j) Pada hari kedua dan ketida terjadi lekopenia, netropenia,
aneosinofilia, peningkatan limfosit, monosit dan basofil.
Sedangkan

pada

pemeriksaan

urin

akan

ditemukan

albuminuria ringan.
2) Pemeriksaan serologi
Pada pemeriksaan serologi, melakukan pengukuran titer
antibody pasien dengan cara Haemaglutination inhibition Test (HI
tets) atau dengan uji pengikatan komplemen (Complement fixation
test). Pada pemeriksaan serologi dibutuhkan 2 bahan pemeriksaan
yaitu pada masa akut atau demam dan pada masa penyembuhan (1-

21

4 minggu setelah gejala penyakit). Untuk pemeriksaan serologi ini


diambil darah vena 2-5 ml.
Pemeriksaan diagnosis penunjang antara lain foto thorak
mungkin dijumpai pleural effusion, pada pemeriksaan USG akan
ditemukan hepatomegali dan splenomegali.
3) Pemeriksaan hematologi.
a) Nilai limfosit plasma biru pada sediaan apus darah tepi.
Suvatte

dan

Longsaman

(1979)

melaporkan

bahwa

penemuan limfosit plasma biru (LPB) dalam presentase yang


tinggi (20-50%) pada sedian apus bufycoat penderita deman
berdarah dengue

sangat

khas

karena

berbeda

dengan

persentase LPB sebanyak 0-10% yang terjadi pada infeksi


virus lain.
b) Pemeriksaan hemoglobin metode hematin asam dengan
hemometer sahlin.
Pemeriksaan

ini penting

untuk

memperkirakan

nilai

hematokrit yang sangat penting dalam pengelolaan penderita


DBD, karena biasanya pemeriksaan hematokrit dengan cara
mikro tidak tersedia di semua rumah sakit tipe C lebih-lebih di
Puskesmas (Sumarmo, 2000).
c) Leukosit
Leukopenia timbul karena berkurangnya limfosit pada saat
peningkatan suhu pertama kali. Pasa saat suhu meningkat

22

kedua kalinya sel limfosit relative sudah bertambah. Sel


eosinofil sangat berkurang.
d) Trombosit
Pada DBD umumnya dijumpai trombositopenia. Uji
torniquet yang positif merupakan pemeriksaan yang penting.
Masa pembekuan masi dalam batas normal, tetapi masa
pendarahan biasanya memanjang (Sumarmo, 2000).
e) Hematokrit
Pemeriksaan hematokrit secara berkala mempunyai tujuan
yaitu (1) pada saat pertama kali seorang penderita dicurigai
menderita DBD, pemeriksaan ini turut menentukan perlu atau
tidaknya penderita tersebut dirawat, (2) pada penderita DBD
tanpa rejatan, pemeriksaan hematokrit berkala ikut menentukan
perlu atau tidaknya penderita tersebut diberi cairan intravena,
dan (3) pada penderita DSS pemeriksaan ini menentukan perlu
atau tidaknya kecepatan tetesan dikurangi, menentukan secara
tepat untuk menghentikan pemberian cairan intravena, dan
menentukan saat

yang

tepat

untuk memberikan darah

(Sumarmo, 2000).
2. Diagnosis keperawatan
a. Peningkatan suhu tubuh (hypertermi) berhubungan dengan proses
penyakit (viremia)
Tujuan :

23

Setelah dilakukan tindakan keperawatan suhu tubuh pasien akan


kembali normal yaitu pada suhu 36,5 37,5 C.
Kriteria hasil :
1) Suhu tubuh kembali normal
2) Pasien bebas dari demam
Rencana tindakan
Kaji saat timbulnya demam.
Observasi tanda-tanda vital: suhu, nadi,
tensi, pernafasan setiap 3 jam atau lebih
sering.
Berikan penjelasan tentang penyebab
demam atau peningkatan suhu tubuh.

Rasional
Untuk mengidentifikasi pola
demam pasien.
Tanda-tanda vital merupakan
acuan
untuk
mengetahui
keadaan umum pasien.
Penjelasan tentang kondisi
yang dialami pasien dapat
membantu pasien atau keluarga
mengurangi kecemasan yang
timbul.
Keterlibatan keluarga sangat
berarti
dalam
proses
penyembuhan pasien di rumah
sakit.

Berikan penjelasan pada pasien atau


keluarga tentang hal-hal yang dapat
dilakukan untuk mengatasi demam dan
menganjurkan pasien atau keluarga untuk
kooperatif.
Jelaskan pentingnya tirah baring bagi Penjelasan yang diberikan pada
pasien dan akibat yang timbul jika hal itu pasien atau keluarga akan
tidak dilakukan.
memotivasi
pasien
untuk
kooperatif.
Anjurkan pasien untuk banyak minum + Peningkatan
suhu
tubuh
2,5 liter per 24 jam dan jelaskan mengakibatkan
penguapan
manfaatnya bagi pasien.
tubuh meningkat
sehingga
perlu diimbangi dengan asupan
cairan yang banyak.
Berikan kompres air hangat (pada daerah Kompres
hangat
akan
axilla dan lipatapaha).
mempercepat menurunkan suhu
tubuh.
Anjurkan pasien untuk tidak memakai Pakaian yang tipis akan
selimut atau pakain tebal.
membantu
mengurangi
penguapan.
Lakukan
pencatatan
asupan
dan Untuk
mengetahui adanya
pengeluaran cairan tubuh.
ketidak seimbangan cairan
tubuh.
Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain Pemberian
cairan
sangat
untuk pemberian cairan vena dan terapi penting bagi pasien dengan
obat-obatan sesuai dengan kebutuhan.
suhu tinggi. Pemberian obatobatan
adalah
wewenang
dokter sehingga perlu adanya
kolaborasi.

24

b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari normal


berhubungan dengan nafsu makan menurun, mual, muntah, dan
rasa sakit saat menelan.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan nutrisi akan
kembali normal.
Kriteria Hasil :
1) Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi, pasien mampu menghabiskan
makannya sesuai dengan porsi yang diberikan/dibutuhkan.
Rencana tindakan
Kaji keluhan mual, sakit menelan dan
muntah yang dialami pasien.
Kaji bagaimana makanan yang
dihidangkan.
Berikan makan yang mudah ditelan
seperti: bubur, tim dan dihidangkan
saat masih hangat.
Berikan makanan dalam porsi yang
kecil dan frekuensi yangs sering.
Jelaskan manfaat mkanan/nutrisi bagi
pasien terutama saat pasien sakit.
Berikan umpan balik positif saat
pasien mau berusaha menghabiskan
makanannya.
Lakukan
pencatatan
jumlah/porsi
makanan pasien yang dihabiskan setiap
harinya.
Kolaborasi dengan tenaga kesehatan
lain untuk pemberian makanan
parenteral (jika intake peroral tidak
adequate).

Rasional
Untuk
menetapkan
cara
mengatasi.
Cara menghidangkan makanan
dapat
mempengaruhi
nafsu
makan pasien.
Membantu mengurangi kelelahan
pasien dan meningkatkan asupan
makanan karena mudah ditelan.
Untuk menghindari mual dan
muntah.
Meningkatkan
pengetahuan
pasien tentang nutrisi sehingga
motivasi untuk makan meningkat.
Memotivasi dan meningkatkan
semangat pasien.
Untuk mengetahui
nutrisi pasien.

pemenuhan

Nutrisi
parenteral
sangat
bermanfaat terutama pada pasien
yang intake per orainya sangat
kurang. Jenis dan junlahnya harus
dikolaborasikan dengan dokter.
Kolaborasi pemberian antasida.
Obat antasida membantu pasien
mengurangi mual dan muntah
dengan pemberian obat ini
diharapkan intake nutria pasien
meningkat.
Lakukan pengukuran berat badan Untuk mengetahui status gizi
pasien.
pasien.

25

c. Resiko terjadi syok hipovolemik berhubungan dengan pendarahan


hebat.
Tujuan :
Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan

pasien

mampu

mengenali tanda-tanda pendarahan sehingga apabila terjadi pendarahan


pasien dan keluarga dapat segera melaporkan pada perawat sehingga
dapat ditangani dengan cepat.
Kriteria hasil :
1) Tidak terjadi syok hipovolemik.
2) Tanda tanda vital dalam keadaan batas normal.
3) Kadaan umum baik.
Rencana Tindakan
Monitor keadaan umum pasien.

Rasional
Untuk memantau kondisi pasien
selama masa perawatan terutama
saat terjadi pendarahan. Dengan
memonitor keadaan umum pasien,
perawat segera mengetahui jika
terjadi tanda-tanda pre syok atau
syok
sehingga
dapat
segera
ditangani.
Observasi tanda-tanda vital tiap 2-3 Tanda-tanda vital dalam batas
jam.
normal menandakan keadaan umum
pasien baik, perawat perlu memantau
tanda-tanda vital selama pasien
mengalami
pendarahan
untuk
memastikan tidak terjadi presyok
atau syok.
Monitor tanda-tanda pendarahan.
Pendarahan yang cepat diketahui
dapat segera diatasi sehingga pasien
tidak sampai ke tahap syok
hipovolemik akibat pendarhan hebat.
Jelaskan pada pasien dan keluarga Dengan memberi penjelasan dan
tentang tanda-tanda pendarahan yang melibatkan keluarga diharapkan
mungkin dialami oleh pasien.
tanda-tanda
pendarahan
dapat
diketahui lebih cepat sehingga pasien
dan
keluarga
menjadi
lebih
kooperatif selama psien dirawat.

26

Kolaborasi dengan tenaga kesehatan


lain untuk pemberian infuse, beri
terapi cairan intravena jika terjadi
pendarahan.
Segera puasakan jika terjadi saluran
pencernaan.

Cek Hb, Ht, trombosit.

Perhatiakan keluhan pasien seperti


mata
berkunang-kunang,
pusing,
lemah, ekstremitas dingin, sesak nafas
Perhatikan keluhan pasien seperti mata
berkunang-kunang, pusing, lemah,
ekstremitas dingin, sesak nafas.
Monitor masukan dan keluaran,
catatdan ukur pendarahan yang terjadi,
produksi urin.

Pemberian cairan intravena sangat


diperlukan
untuk
mengatasi
kehilangan cairan tubuh yang hebat
yaitu
untuk
mengatasi
syok
hipovolemik.
Puasa membantu mengistirahatkan
saluran pencernaan untuk sementara
selama pendarhan berasal dari
saluran cerna.
Untuk mengetahui tingkat kebocoran
penbuluh darah yang dialami pasien
dan untuk acuan melakukan tindakan
lebih lanjut terhadap pendarahan
tersebut.
Untuk mengetahui seberapa jauh
pengaruh pendarhan tersebut pada
pasien sehingga tim kesehatan lebih
waspada.
Untuk mengetahui seberapa jauh
pengaruh pendarhan tersebut pada
pasien sehingga tim kesehatan lebih
waspada.
Pengukuran
dan
pencatatan
sangatpenting
untk
mengetahui
jumlah pendarahan yang dialami
pasien.
Untuk
mengetahui
keseimbangan
cairan
tubuh.
Produksu urin yang lebih pekat dan
lebih
sedikit
dari
normal
menunjukan
pasien
kekurangan
cairan dan mengalami syok, hati-hati
terhadap pendarahan di dalam tubuh.
Untuk menghindari kondisi yang
lebih buruk.

Bila
terjadi
tanda-tanda
syok
hipovolemik,
baringkan
pasien
terlentang atau posisi datar.
Berikan terapi oksigen sesuai dengan Pemberian oksigen akan membantu
kebutuhannya.
oksigenasi jaringan karena dengan
terjadinya pendarhan hebat maka
suplai oksigen ke jaringan akan
terganggu.
Segera lapor dokter jika tampak tanda- Untuk mendapatkan penenganan
tanda syok hipovolemik dan observasi sesegera mungkin.
ketat pasien serta percepat tetesan
infuse.

27

d. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan berpindahnya


cairan intravascular ke ekstravaskular.
Tujuan :
Pasien tidak mengalami kekurangan volume cairan selama
dilakukan perawatan dirumah sakit.
Kriteria hasil :
1) Tidak terjadi kekurangan volume cairan.
Rencana tindakan
Kaji keadaan umum pasien (lemah,
pucat, takikardi), serta tanda-tanda
vital.

Rasional
Menetapkan data dasar pasien untuk
mengetahui
dengan
cepat
penyimpangan dengan keadaan
normal.
Observasi adanya tanda-tanda syok. Agar dapt segera dilakukan tindakan
untuk menangani syok yang dialami
pasien.
Berikan cairan intravena sesuai Pemberian cairan intravena sangat
dengan program dokter.
penting bagi pasien yang mengalami
deficit volume cairan dengan
keadaan umum yang buruk karena
cairan langsung masuk kedalam
pembuluh darah.
Anjurkan pasien untuk banyak Asupan cairan diperlukan untuk
minum.
menambah volume cairan.
Kaji tanda dan gejala dehidrasi/ Untuk mengetahui penyebab deficit
hipovolemik
(riwayat
muntah, volume cairan. Jika urin < 25
diare, kehausan, turgor jelek).
ml/jam maka pasien mengalami
syok.
Kaji perubahan keluaran urin (urin Untuk mengetahui keseimbangan
output < 25 ml/jam atau 600 cairan.
ml/jam). Monitor asupan-keluaran.

Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan


dan obat-obatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dan diberikan informasi,
pasien dan keluarga lebih memahami tentang proses penyakit, diet,
perawatan dan obat-obatan.

28

Kriteria hasil :
1) Pengetahuan pasien atau keluarga tentang proses penyakit, diet,
perawatan dan obat-obatan bagi pasien DBD meningkat dan pasien
atau keluarga mampu mencerminkan kembali.
Rencana tidakan
Rasional
Kaji tingkat pengetahuan pasien Untuk memberikan informasi pada
keluarga tentang penyakit demam pasien dan keluarga, perawat perlu
berdarah.
mengetahui sejauh mana informasi
atau pengetahuan tentang penyakit
demam berdarah, serta kebenaran
tentang informasi tersebut.
Kaji latar belakang pendidikan Agar perawat dapat memberikan
pasien.
informasi penjelasan sesuai tingkat
pendidikan sehingga penjelasan
dapat dipahami dan tujuan yang
derencanakan dapat dicapai.
Jelaskan tentang proses penyakit, Agar informasi dapat diterima
diet, perawatan pada pasien dengan dengan mudah dan tepat sehingga
bahasa yang mudah dimengerti oleh tidak
meninbulkan
pasien.
kesalahpahaman.
Jelaskan semua prosedur yang akan Dengan mengetahuai prosedur atau
dilakukan dan manfaat bagi pasien.
tindakan yang akan dialami, pasien
akan
lebih
kooperatif
dan
kecemasan menurun.
Berikan kesempatan pada pasien atau Mengurangi
kecemasan
dan
keluarga untuk menanyakan hal-hal memotivasi pasien untuk kooperatif
yang ingin diketahui sehubungan selama masa perawatan dan
dengan proses penyakit dalam hal ini penyembuhan.
demam berdarah.
Gunakan leaflet atau gambar-ganbar Gambar-gambar atau media cetak
dalam memberikan penjelasan.
seperti leaflet dapat membantu
mengingat
penjelasan
yang
diberikan karena dapat diliahat atau
dibaca berulang kali.

f Gangguan aktifitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh


yang lemah.
Tujuan :
Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan

melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

pasien

maupun

29

Kriteria hasil :
1) Kebutuhan aktivitas sehari-hari.
2) Pasien mampu mandiri setelah bebas demam.
Rencan tindakan
Kaji keluhan pasien

Rasional
Untuk mengidentifikasi keluhankeluhan pasien.
Kaji hal-hal yang mampu dan tidak Untuk
mengetahui
tingkat
mampu dilakukan oleh pasien ketergantungan
pasien
dalam
sehubungan
dengan
kelemahan memenuhi kebutuhannya.
fisiknya.
Berikan bantuan kepada pasien untuk Pemberian
bantuan
sangat
memenuhi kebutuhan aktivitasnya diperlukan oleh pasien pada saat
sehari-hari sesuai dengan tingkat kondisinya melemah dan perawt
keterbatasan pasien seperti mandi, mempunyai tanggung jawab dalam
makan, eliminasi.
pemenuhan kebutuhan sehari-hari
pasien tanpa membuat pasien
mengalami ketergantungan pada
perawat.
Berikan bantuan pada pasien untuk Dengan melatih kemandirian pasien
mandiri sesuai dengan perkembangan maka pasien tidak mengalami
kemajuanfisiknya.
ketergantungan pada perawat.
Berikan penjelasan tentang hal-hal Dengan penjelasan yang diberikan
yang
dapat
membantu
dan kepada pasien, maka pasien
meningkatkan kekuatan fisik pasien.
termotivasi untuk kooperatif selam
perawatan
terutama
terhadap
tindakan yang dapat meningkatkan
kekuatan fisiknya seperti pasien
mau
menghabiskan
porsi
makannya.
Letakkan barang-barang yang mudah Akan membantu pasien untuk
terjangkau olah pasien.
memenuhi kebutuhannya sendiri
tanpa mengandalkan orang lain.
Siapkan bel didekat pasien.
Agar pasien dapat segera meminta
bantuan
perawat
saat
membutuhkan.

g. Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan proses penyakit.


Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan rasa nyaman pasien
dapat terpenuhi, dan nyeri berkurang.

30

Kriteria hasil :
1) Rasa nyaman pasien terpenuhi.
2) Nyeri dapat berkurang atau hilang
Rencan tindakan
Kaji tingkat nyeri yang di alami
pasien dengan memberi rentang nyeri
(0-10), berikan pasien menentukan
tingkat nyeri yang dialaminya,
tetapkantipe nyeri yang dialami
pasien, respon terhadap nyeri yang
dalami.
Kaji
faktor-faktor
yang
mempengaruhi reaksi pasien terhadap
nyeri (budaya, pendidikan dll).

Rasional
Untuk mengetahui berapa berat
nyeri yang dalami pasien.

Reaksi pasienterhadap nyeri dapat


dipengaruhi oleh berbagai faktorfaktor tersebut maka perawat dapat
melakukan intervensi yang sesuai
dengan masalah klien. Respon
individu terhadap nyeri sangat
berbeda atau bervariasi, sehingga
perawat perlu mengkaji lebih lanjtu
untjk
menghindari
kesalahan
persepsi terhadap kondi yang
dialami pasien.
Berikan posisi
yang nyaman, Untuk mengurangi rasa nyeri.
usahakan situasi ruangan yang
tenang.
Berikan suasana gembira bagi pasien, Dengan melakukan aktifitas lain,
alihkan perhatian pasien dari rasa pasien dapat sedikit melakukan
nyeri
(libatkan
keluarga). perhatiannya terhadap nyeri yang
Menganjurkan
pasien
untuk dirasakan.
membaca buku, mendengar music,
menonton
televise
(mengalihkan
perhatian).
Berikan kesempatan pada pasien Tetap berhubungan dengan oranguntuk berkomunukasi dengan teman- orang terdekat atau teman-teman
temannya atau orang terdekat.
membuat pasien gembira dan dapat
mengalihkan perhatiannya terhadap
nyeri.
Kolaborasi dengan dokter untuk Obat-obat analgesik dapat menekan
pemberian obat analgesik.
atau mengurangi nyeri pasien.

31

h. Kecemasan ringan sedang berhubungan dengan kondisi pasien


yang buruk.
Tujuan :
Setelah diberikan penjelasan tentang perawatan kecemasan dapat
berkurang.
Kriteria hasil :
1) Kecemasan berkurang.
Rencana tindakan
Kaji rasa cemas yang dialami pasien
atau keluarga.
Jalin hubungan saling percaya
dengan pasien dan keluarga.
Tunjukkan sikap empati. Gunakan
sentuhan pada saat yang tepat.

Rasional
Menetapkan tingkat kecemasan yang
dialami pasien atau keluarga.
Agar pasien dan keluarga bersikap
terbuka kepada perawat.
Sikap empati akan membuat pasien
atau keluarga merasa diperhatikan
dengan sungguh-sungguh.
Berikan kesempatan pada psien atau Meringankan beban pikiran pasien
keluarga untuk mengungkapkan rasa atau keluarga.
cemasnya.
Gunakan kominikasi teraputik.
Agar
segala
sesuatu
yang
disampaikan, diajarkan pada pasien
atau keluarga memberikan hasil
yang efektif.
Jawab semua pertanyaan pasien atau Jawaban yang jujur dan benar akan
keluarga dengan jujur dan benar.
mempertahankan
kepercayaan
pasien pada perawat. Ini sangat
penting agar pasien atau keluarga
tetap bersikap terbuka pada perawat.
Berikan kenyakinan pada pasien Sikap positif yang ditunjukan tim
bahwa perawat, dokter dan tim kesehatan
akan
membantu
kesehatan lain selalu berusaha menurunkan kecemasan pasien.
memberikan
pertolongan
yang
terbaik dan optimal pada pasien.
Berikan penjelasan tiap prosedur atau Memberikan penjelasan tentang
tindakan yang akan dilakukan pada proses
pemyakit.
Menjelaskan
pasien dan manfaatnya bagi pasien.
tentang kemungkinan pemberian
perawatan intensif jika memang
diperlikan
oleh
pasien untuk
mendapat perawatan yang lebih
optimal.
Berikan kesempatan keluarga untuk Pasien akan merasa lebih tenang jika
mendampingi
pasien
secara ada
anggota
keluarga
yang
bergantian.
menemani.

32

D. Demam Berdarah Dengue


1. Definisi
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit demam akut
yang disebabkan oleh virus dengue famili flaviviridae, dengan genusnya
adalah flavivirus. Karena virus dengue ditularkan melalui gigitan
arthropoda maka virus dengue dapat digolongkan ke dalam golongan B
Arbovirus (arthropoda borne virus), (Hardiono et al, 2004). Namun
nyamuk Aedes Aegypti merupakan vektor utama penyakit DBD di daerah
tropis dan subtropis.
Virus dengue mempunyai 4 serotipe yang dikenal dengan DEN-1,
DEN-2, DEN-3, DEN-4. Dengue satu dan dua ditemukan di Irian ketika
berlangsung perang dunia II, sedangkan dengue tiga dan empat ditemukan
pada saat wabah Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk
batang, bersifat termolabil, sensitive terhadap inaktivasi oleh dietileter dan
natrium dioksilat, stabil pada suhu 70 derajat (Hendarwanto, 1994).
2. Patofisiologi
Virus dengue dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes
Albopictus sebagai vektor ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk
tersebut. Infeksi yang pertama kali dapat memberi gejala sebagai DBD
(Demam Berdarah Dengue). Apabila orang itu mendapat infeksi berulang
oleh tipe virus dengue yang berlainan akan menimbulkan reaksi yang
berbeda. DBD dapat terjadi bila seseorang yang telah terinfeksi dengue
pertama kali, mendapat infeksi berulang virus dengue lainnya.

33

Virus akan bereplikasi di nodus limfatikus regional dan menyebar ke


jaringan lain, terutama ke sistem retikuloendotelial dan kulit secara
bronkogen maupun hematogen. Tubuh akan membentuk kompleks virusantibodi dalam sirkulasi darah sehingga akan mengaktivasi sistem
komplemen C3 dan C5 yang berakibat dilepaskannya anafilatoksin C3a
dan C5a sehingga permeabilitas dinding pembuluh darah meningkat. Akan
terjadi juga agregasi trombosit yang melepaskan ADP, trombosit
melepaskan vasoaktif yang bersifat meningkatkan permeabilitas kapiler
dan melepaskan trombosit faktor III yang merangsang koagulasi
intravaskular. Terjadinya aktivasi faktor Hageman (faktor XII) akan
menyebabkan pembekuan intravaskular yang meluas dan meningkatkan
permeabilitas dinding pembuluh darah (Mansjoer, 2001).
Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan
menurunnya faktor koagulasi (promtombin, faktor V, VII, IX, X dan
fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya pendarahan hebat,
terutama pendarahan saluran gastrointestinal pada DBD. Kondisi yang
menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding
pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi,
trombositopenia dan deatesis hemoragik. Renjatan terjadi

secara akut.

Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnnya plasma melalui


endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien
mengalami hipovolumik. Apabila tidak diatasi biasa terjadi anoksia
jaringan, asidosis metabolik dan kematian (Aziz, 2006 ).

34

Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat ringannya


penyakit

dan membedakan DBD dengan demam dengue adalah

meningkatnya

permeabilitas

dinding

pembuluh

darah,

menurunnya

volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diatesis


hemoragik (Tuchinda, 1973). Pada kasus berat, renjatan terjadi secara
akut, nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan menghilangnya
plasma melalui endotel pembuluh darah.
Meningginya nilai hematokrit pada penderita dengan renjatan
menimbulkan dugaan bahwa renjatan terjadi sebagai akibat kebocoran
plasma ke daerah ekstravaskuler melalui kapiler yang rusak dengan
berakibat menurunnya volume plasma dan meningginya nilai hematokrit.
Bukti yang mendukung dugaan ini adalah ditemukannnya cairan yang
tertimbun di dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura,
dan pericardium yang pada autopsy ternyata melebihi cairan yang
diberikan melalui infus (Bhamarapravati, dkk, 1967). Rejatan hipovolumik
yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera diatasi
dapat berakibat anoksia jaringan, asidosis metabolik, dan kematian
(Hendarwanto, 1994). Pemeriksaan radiologi paru pada 140 orang
penderita DBD dengan 76 di antaranya menderita renjatan. Pada kurang
lebih tiga perempat jumlah kasus DBD ditemukan adanya bendungan
darah paru (pulmonary vascular congestion) dengan efusi pleura terutama
pada paru sebelah kanan. Efusi pleura ditemukan pada 59 di antara 76
penderita DSS (77,6%) dan pada 13 di antara 63 penderita DBD tanpa
renjatan (20,3%) (Sumarmo, 2002).

35

Renjatan yang terjadi akut dan perbaikan klinis yang drastis setelah
pemberian plasma atau pengganti plasma yang efektif, sedangkan pada
autopsy tidak ditemukan kerusakan dinding pembuluh darah yang
destruktif atau akibat radang, menimbulkan dugaan bahwa perubahan
fungsional dinding pembuluh darah mungkin disebabkan mediator
farmakologis yang bekerja singkat (Bharmarapravati, dkk, 1967).
Sebab lain kematian DBD adalah pendarahan hebat, yang biasanya
timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak teratasi (Nelson, dkk,
1999; Sumarmo,

dkk,

1999). Pendarahan pada DBD umumnya

dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit, dan


kelainan sistem koagulasi.
Nilai trombosit mulai menurun pada masa demam dan mencapai
nilai terendah pada masa renjatan, kemudian akan kembali naik pada masa
konvalesen (Nelson, 1999). Trombositopeni yang dihubungkan dengan
meningkatnya megakariosit muda dalam sumsum tulang dan pendeknya
masa hidup trombosit menimbulkan dugaan meningkatnya destruksi
trombosit yang terjadi sistem retikuloendotelial, limpa, dan hati (Mitrakul,
dkk, 1997). Masalah terjadi tidaknya DIC pada DBD dan DSS, terutama
pada penderita dengan pendarahan hebat, sejak lama telah menjadi bahan
perdebatan (Hendarwanto, 1994).
Telah dibuktikan bahwa DIC secara potensial dapat terjadi juga pada
penderita DBD tanpa renjatan. Dikatakan pada masa dini DBD, peran DIC
tidak menonjol dibanding dengan perembesan plasma, tetapi bila penyakit
memburuk dengan terjadinya asidosis dan renjatan, maka renjatan akan

36

memperberat DIC sehingga peranannya akan menonjol (Hendarwanto,


1994).
3. Gambaran klinis
Infeksi virus dengue dapat bersifat asimtomatik atau simptomatik
berbentuk fever, demam berdarah dengue atau DBD.
Gambaran klinis amat bervariasi, dari yang ringan, sedang seperti
DD sampai ke DBD dengan manifestasi demam akut, pendarahan serta
kecenderungan terjadi rejatan yang dapat berakibat fatal. Masa inkubasi
dengue antara 3-15 hari atau rata-rata 5-8 hari. Gambaran klinis demam
dengue sering kali bergantung pada umur penderita. Pada bayi dan anak
biasanya didapatkan demam dengan ruam makulopapular saja. Pada anak
besar dan dewasa mungkin didapatkan demam ringan atau gambaran
klinik lengkap dengan demam tinggi mendadak disertai peningkatan suhu
secara tiba-tiba, dengan gejala-gejala tidak khas, seperti keluhan saluran
cerna (mual, muntah, diare, konstipasi), sistam syaraf (nyeri kepala hebat,
nyeri bagian belakang kepala, nyeri otot dan sendi serta tulang), flasing,
ruam, dan nyeri menelan. Selain mendadak, demam bersifat tinggi,
kontinyu dan lamanya berkisar 2-7 hari (Samsi dan susanto, 1999).
Pada saat demam kesadaran penderita baik, suhu tubuh kemudian
lisis menjadi normal atau subnormal dan sakit kepala dapat menyeluruh
atau berpusat pada supraorbital dan retroorbital. Pada nyeri di bagian otot
terutama dirasakan bila tendon dan otot perut ditekan dan pada mata dapat
ditemukan pembengkakan, injeksi konjungtiva, lakrimasi, dan fotofobia,

37

otot-otot sekitar mata terasa pegal. Eksantem dapat muncul pada awal
demam yang terlihat jelas di muka dan dada, berlangsung beberapa jam
lalu akan muncul kembali pada hari ke 3-6 berupa bercak petekie di lengan
dan kaki lalu keseluruh tubuh. Dalam pemeriksaan fisik pasien DD hampir
tidak ditemukan kelainan.
Nadi pasien mula-mula cepat kemudian menjadi normal atau lebih
lambat pada hari ke-4 dan ke-5. Bradikardi dapat menetap beberapa hari
dalam masa penyembuhan, juga dapat ditemukan lidah kotor dan kesulitan
buang air besar. Pada pasien DBD dapat terjadi gejala pendarahan pada
hari ke-3 atau ke-5 berupa petekie, purpura, ekimosis, hematemesis,
melena, dan epistaksis. Hati umumnya membesar dan terdapat nyeri tekan
yang tidak sesuai dengan beratnya penyakit. Pada pasien DSS, gejala
renjatan ditandai dengan kulit yang terasa lembab dan dingin, sianosis
perifer yang terutama tampak pada ujung hidung, jari-jari tangan dan kaki,
serta dijumpai penurunan tekanan darah. Rejatan biasanya terjadi pada
waktu demam atau saat demam turun antara hari ke-3 dan ke-7 penyakit
(Mansjoer, 2001).
Kasus DBD ditandai oleh 4 manifestasi klinis, yaitu demam tinggi,
pendarahan terutama pendarahan kulit, hepatomegali, dan kegagalan
peredaran darah (sumarmo, 2002).
Menurut WHO (1999), gejala klinis demam berdarah dengue dibagi
menjadi 4 derajat :

38

a. Derajat I (ringan) : demam mendadak 2-7 hari disertai gejala tidak


khas dengan manifestasi pendarahan teringan, yaitu uji torniquet
positif.
b. Derajat II (sedang) : derajat I dan disertai pendarahan spontan di kulit
dan atau pendarahan lain.
c. Derajat III : ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat, lembut,
tekanan darah menurun (20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit yang
dingin, lembab, penderita gelisah.
d. Derajat IV : rejatan berat dengan nadi yang tidak dapat diraba dan
penurunan tekanan darah yang tidak dapat diukur.
4. Diagnosis
Diagnosis demam berdarah dengue ditegakkan berdasarkan kriteria
diagnosis menurut WHO (1999), yaitu :
a. Demam akut yang tetap tinggi selama 2-7 hari, kemudian turun secara
lisis, demam disertai gejala tidak spesifik, seperti anoreksia, lemah,
nyeri pada punggung, tulang, persendian, dan kepala.
b. Manifestasi pendarahan, yaitu :
1) Uji torniquet positif.
2) Petekie, purpura, ekimosis.
3) Epistaksis, pendarahan gusi.
4) Hematemesis, melena.
c. Pembesaran hati (hepatomegali) dengan nyeri tekan, tanpa ikterus.

39

d. Dengan atau tanpa rejatan. Rejatan biasanya terjadi pada saat demam
biasanya mempunyai prognosis buruk.
e. Trombositopenia.
f. Kenaikan nilai hematokrit atau hemokonsentrasi, yaitu sedikitnya
20%.
5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dengue memerlukan evaluasi tanda-tanda vital
segera, serta renjatan hemokonsentrasi, dehidrasi dan ketidakseimbangan
elektrolit. Pemantauan yang seksama penting, paling tidak selama 48 jam,
karena syok dapat terjadi atau terjadi kembali secara cepat pada awal
penyakit. Pemberian oksigen pada penderita sianosis atau sulit bernafas
harus dilakukan. Penggantian cairan dan elektrolit intravena secara cepat
sering

kali

dapat

mempertahankan

penderita,

sehingga

terjadi

penyembuhan spontan. Bila peningkatan hematokrit menetap setelah


penggantian cairan maka sedian-sedian plasma atau koloid merupakan
indikasi. Transfusi darah segar atau suspense trombosit yang mungkin
diperlukan untuk mengatasi pendarahan, tidak boleh diberikan selama
hemokosentrasi, tetapi hanya setelah dilakukan evaluasi nilai-nilai
hemoglobin atau hematokrit. Paraldehid atau khopraldehid mungkin
diperlukan untuk anak-anak dengan agitasi nyata.

40

Heparin dapat digunakan secara hati-hati pada penderita dengan


bukti objektif adanya DIC. Diuretika seperti furosemid, harus diberikan
dan kemungkinan diperlukan digitalisasi apabila terjadi hipervolemi
selama fase reabsorbsi cairan yang ditandai dengan penurunan hematokrit
dan tekanan nadi yang melebar (Berhman dan Vaughn, 1992).
Penatalaksanaan DD atau DBD tanpa penyulit (Mansjoer, 2001)
adalah:
a. Tirah baring
b. Makanan lunak dan bila nafsu makan diberi minum 1,5-2 liter dalam
24 jam (susu, air dengan gula, atau sirup) atau air tawar ditambah
garam
c. Medikamentosa yang bersifat simtomatis. Untuk hiperpireksia dapat
diberikan dengan kompres, antipiretik golongan asetaminofen, eukinin,
atau dipiron dan jangan diberikan asetosal karena bahaya pendarahan.
d. Antibiotik diberikan bila terdapat

kemungkinan terjadi infeksi

sekunder.
Menurut Ngastiyah (1995), penatalaksanaan DBD dapat juga
dibedakan menjadi lebih sederhana lagi, yaitu didasarkan derajat DBD :
1) Derajat I
a) Pengobatan symtomatik, minum cukup dan makan seimbang.
b) Pemantauan yang teratur dan ketat.
c) Buah-buahan biasa diberikan, tapi berupa sari buahnya saja.

41

2) Derajat II
a) Pemasangan infus, kadang melalui 2 jalur yaitu satu untuk
pemberian plasma dan satu lagi untuk pemberian cairan.
b) Minum dan makan diberikan sebanyak yang pasien mau.
c) Pengobatan DIC dengan heparin, namun jarang digunakan sebagai
terapi standar untuk sekarang ini.
d) Pemberian komponen darah yaitu suspensi trombosit atau darah
lengkap sesuai kebutuhan.
3) Derajat III dan IV (DSS):
a) Mengatasi syok.
b) Memperbaiki gangguan balance basa dan elektrolit.
c) Memberi komponen darah atau darah lengkap yang sesuai dengan
indikasinya.
d) Pemberian antipiretik.
e) Obat inotropik bila syok belum teratasi.
f) Pengawasan terhadap pemberian cairan untuk mencegah terjadinya
overloading.
g) Menghindari tindakan invasive yang berlebihan.
Kasus-kasus fatal biasanya terjadi akibat keterlambatan diagnosis
dan atau kurangnya perawatan. Menurut Badan Kesehatan Dunia (World
Health Organisation /WHO), 20% penderita DHF atau DBD akan
meninggal dunia jika tidak terdiagnosis dan dirawat dengan benar.

42

Dengan perawatan yang baik, angka tersebut berkurang sebanyak 12 % dari penyakit sebelumnya. Penderita yang harus diwaspadai adalah
jika penderita mengalami pendarahan atau syok maka hal ini harus
mendapatkan perawatan yang lebih dan harus segera di bawa ke rumah
sakit.
6. Pencegahan
Pada saat ini satu-satunya cara pencegahan DBD adalah dengan
memberantas nyamuk penularnya, yaitu nyamuk Aedes Aegypti yang
hidup di dalam dan di sekitar rumah. Cara pemberantasan yang paling
mudah, aman, dan murah adalah memusnahkan jentik-jentik nyamuk
ditempat

perindukannya.

Cara

ini

dikenal

dengan

nama

PSN

(Pemberantasan Sarang Nyamuk). Cara pemberantasan ini didukung


dengan penyuluhan kesehatan masyarakat, dengan tujuan agar masyarakat
berpartisipasi dalam pembersihan sarang nyamuk.
Pencegahan atau pemberantasan DBD dapat dilakukan dengan
membasmi nyamuk dan sarangnya dengan melakukan tindakan 3M
(Hardiono, 2004), yaitu:
a.

Menguras tempat-tempat penampung air secara teratur seminggu


sekali atau menaburkan bubuk larvasida (abate).

b.

Menutup rapat-rapat penampungan air.

c.

Mengubur atau menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air.

43

E. Kerangka Konsep
Baik

Peran perawat
DBD

Pemberi asuhan
keperawatan

Cukup

Pendidik

Kurang

Advocat klien
Konsultan
Kolaborator
Peneliti

Skema 2.1
Keterangan :

Diteliti
Tidak Diteliti

F. Pertanyaan penelitian
Bagaimanakah gambaran peran perawat dalam proses penatalaksanaan
asuhan keperawatan yang dilakukan pada pasien DBD (Demam Berdarah
Dengue) yang dirawat inap di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang
meliputi tahap

pengkajian,

diagnosis keperawatan,

implementasi, evaluasi dan dokumentasi?

rencana tindakan,

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian non eksperimental,
bersifat deskriptif dengan pendekatan retrospektif yang merupakan penelitian
kuantitatif bertujuan untuk mendeskripsikan peran perawat dalam pelaksanaan
proses asuhan keperawatan yang dilakukan pada anak dengan diagnosis medis
demam dengue atau demam berdarah dengue yang dirawat inap di Bangsal
Ibnu RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
B. Populasi dan Sampel Penelitian
Keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti tersebut adalah
populasi penelitian. Sedangkan sebagian yang diambil dari keseluruhan objek
yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ini disebut sampel,
penelitian ini digunakan dengan cara atau teknik-teknik tertentu, sehingga
sampel tersebut sedapat mungkin mewakili populasinya. Teknik ini biasanya
disebut teknik sampling. Didalam penelitian survey teknik sampling ini sangat
penting dan sangat diperhitungkan masak-masak. Sebab teknik pengambilan
sampel yang tidak baik akan mempengaruhi validitas hasil penelitian tersebut
(Arikunto, 2002).
Dalam penelitian ini, populasinya adalah perawat diseluruh Bangsal
Ibnu Sina rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta, sedangkan yang

44

45

berlaku sebagai sampel adalah 12 perawat di Bangsal Ibnu Sina di rumah sakit
Muhammadiyah Yogyakarta.
Kriteria inklusi untuk sampel dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
a. Perawat di Bangsal Ibnu Sina rumah sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta.
b. Perawat yang pernah merawat pasien anak DBD (Demam Berdarah
Dengue).
c. Bersedia menjadi responden selama penelitian berlangsung.
Kriteria eklusi untuk sample dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a

Perawat selain di Bangsal Ibnu sina

Siswa praktek/tenaga yang melakukan magang (KOAS)

Perawat yang sedang dalam masa cuti

Perawat yang tidak bersedia menjadi subyek penelitian

C. Lokasi dan Waktu Penelitian


Lokasi penelitian berada di Bangsal Ibnu sina Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta yang terletak di Jalan KH. Ahmad Dahlan no. 20
Yogyakarta. Alasan pemilihan lokasi tersebut dilihat dari lokasinya yang
sangat strategis berada di kota, terletak dipinggir jalan raya dan mudah
dijangkau dengan kendaraan. Dilihat dari rumah sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta sendiri, menyediakan fasilitas dan sarana yang memadai bagi
pasien dan pelayanannya cepat, mutu, nyaman, ringan, islami. Waktu
penelitian dilakukan pada akhir bulan Agustus sampai September 2008.

46

D. Variabel dan Definisi Operasional


1. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu gambaran
peran perawat dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien
DBD (Demam Berdarah Dengue) anak.
2. Definisi Operasional
Definisi

Operasional

adalah

mendefinisikan

variabel

secara

operasional dan berdasarkan karakteristik yang diamati (Arikunto, 2002),


yang dimaksud dengan :
a. Peran perawat adalah tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain
terhadap seseorang sesuai dengan kedudukan masing-masing individu
dalam memberikan asuhan keperawatan, advocat klien, pendidikan,
koordinasi, kolaborasi, konsultan dan peneliti (Hidayat, 2004).
Sedangkan peran perawat DBD adalah usaha yang dilakukan perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan dan pelayanan secara
langsung pada pasien di Rumah Sakit yang menderita penyakit DBD
(Demam Berdarah Dengue) maupun yang berisiko.
b. Pelaksanaan Asuhan Keperawatan DBD adalah segala tindakan
pelayanan keperawatan yang diberikan

perawat secara langsung di

rumah sakit pada pasien di Bangsal Anak yang telah di diagnosis DBD
(Demam

Berdarah

Dengue).

Pelaksanaan

perawatan

dengan

menggunakan proses asuhan keperawatan (yang terdiri dari lima tahap

47

yaitu

pengkajian,

diagnosis

keperawatan,

perencanan

tindakan

keperawatan, implementasi, evaluasi dan dokumentasi).


E. Instrument Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data dari responden yaitu
subyek penelitian diberi kuisioner yang berisi identitas subyek dan pertanyaan
untuk mengetahui gambaran peran perawat dalam penatalaksanaan asuhan
perawatan pasien anak dengan DBD (Demam Berdarah Dengue).
Kuisioner dibuat sendiri oleh peneliti dengan mengacu pada kepustakaan
yang terdiri dari beberapa pertanyan dengan menggunakan skala linkert yang
berisi lima alternative jawaban (tidak pernah dilakukan, pernah dilakukan,
jarang dilakukan, sering dilakukan, selalu dilakukan). Jumlah pertanyan
sejumlah 35 item, yang meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, rencana
tindakan, implementasi, evaluasi dan dokumentasi.
Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari 30 pertanyaan favorable
(positif) dan 5 pertanyaan unfavorable (negatif) yang berupa check list
tindakan keperawatan yang harus dijawab oleh responden sesuai dengan
keadaan pengetahuan responden. Skor penilaian untuk pertanyaan favourable
adalah Tidak pernah dilakukan mendapat skor 1, Pernah dilakukan mendapat
skor 2, Jarang dilakukan mendapat skor 3, Sering dilakukan mendapat skor 4,
Selalu dilakukan mendapat skor 5. Dan skor penilaian untuk semua pertanyaan
unfavourable adalah tidak pernah dilakukan mendapat skor 5, Pernah
dilakukan mendapat skor 4, Jarang dilakukan mendapat skor 3, Sering
dilakukan mendapat skor 2, Selalu dilakukan mendapat skor 1.
Untuk menginterpretasikan nilai presentasi yang diperoleh maka nilai
tersebut dimasukan kedalam standar kriteria objektif (Arikunto, 2006), yaitu
dengan cara membandingkan skor data dengan skor yang ada dalam standar

48

sehingga didapatkan persentase, kemudian ditafsirkan kedalam kalimat yaitu


baik cukup dan kurang, dengan kriteria:
1. Baik bila persentasi 76 100 %
2. Cukup bila persentase 56 -75%
3. Kurang bila persentase < 55 %
F. Cara Pengumpulan Data
Cara pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti pertama yaitu
peneliti melakukan studi pendahuluan, kemudian dilakukan menyusun
proposal penelitian dan instrument penelitian, kemudian pengurusan perijinan
di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta dan pendekatan kepada pihak Pimpinan Rumah
Sakit yang ada di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang akan dijadikan
subyek penelitian, khususnya kepada Kepala Bangsal, dan perawat-perawat
yang akan dijadikan responden.
Pengumpulan data disini dengan menggunakan data primer yang
diperoleh dari subyek penelitian melalui pengisian keisioner, yang ditujukan
pada perawat-perawat di Bangsal Ibnu Sina yang melakukan perawatan anak
DBD di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, yang berjumlah sebanyak 12
responden.
Setelah data dikumpul kemudian dilakukan cheking data, rekapitulasi
data, editing dan tabulasi data. Selanjutnya dengan penyajian data dalam
bentuk tabel dan narasi serta analisisnya. Dan juga data dikelompokkan
dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi. Tahap akhir adalah
penyusunan laporan hasil penelitian, konsultasi dengan dosen pembimbing

49

dan dilanjutkan seminar hasil penelitian kemudian diakhiri dengan revisi


(perbaikan) laporan hasil penelitian.
G. Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Uji Validitas
Sebelum kuesioner yang berfungsi sebagai instrument pengambilan
data digunakan dalam penelitian ini, maka terlebih dahulu dilakukan uji
validitas dan reliabilitas terhadap kuesioner tersebut.
Pengukuran validitas instrumen dilakukan dengan cara teknik
korelasi antar skor masing-masing variabel dengan skor totalnya. Suatu
variabel dinyatakan valid bila skor variabel berkolerasi secara signifikan
dengan skor totalnya. Teknik korelasi yang digunakan adalah korelasi
Person Product moment (r) yaitu dengan membandingkan r hitung dengan
r tabel. Uji reliabilitas yang digunakan adalah nilai alpha () (Aziz
Hidayat, 2007).
Rumus korelasi Pearson Product Moment (Arikunto, 2002) yaitu :
rxy =

{N X

N X Y ( X) ( Y)
2

} {

(X 2 ) N Y 2 ( Y 2 )}

Keterangan :
rxy = Nilai validitas tiap item instrumen
N = Jumlah responden
X = Skor jawaban dari masing-masing pertanyaan
Y = Skor total dari tiap responden

50

Penggunaan rumus tersebut untuk menentukan hubungan antara dua


gejala interval dan untuk menghitung korelasi antara masing-masing
pernyataan dengan skor total.
Suatu

instrument

dikatakan

valid

apabila

nilai

probabilitas

signifikansinya kurang dari 5% atau 0,05. Hasil uji validitas dengan


metode pearson correlations didapatkan bahwa kuesioner yang diujikan
pada responden, dengan pertanyaan yang valid (sahih) berjumlah 35 butir
pertanyan. Item pertanyaan memiliki yang nilai signifikan lebih kecil dari
0,05.
2. Reliabilitas
Uji reliabilitas adalah ukuran konsistensi instrument penelitian.
Instrument dikatakan reliable jika alat ukur tersebut menujukan hasil yang
konsisten, sehingga instrument dapat digunakan dengan aman karena dapat
bekerja dengan baik pada waktu dan kondisi yang berbeda. Dalam
penelitian ini penulis melakukan uji reliabilitas dengan menggunakan
Cronbach Alpha.
Rumus dari koefisien reliabilitas Cronbrach Alpha (Sugiyono, 2003)
yaitu:
2
K b
R11 =
1 2
K 1
1

Dimana:

R1

= Reliabilitas instrument

= Banyaknya butir pertanyaan

b 2 = Jumlah varian butir


1

= Varian Total

51

Suatu instrument dikatakan reliabel apabila memilki nilai cronbach


alpha lebih besar atau sama dengan 0,6 (Sugiyono, 2003).
Hasil perhitungan dengan menggunakan komputer program SPSS
didapatkan hasil bahwa nilai Cronbach Alpha dalam uji reliabilitas ini
adalah 0,997. Alat ukur yang digunakan dinyatakan reliabel karena
mempunyai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6.
H. Metode Analisis Data
Menurut Arikunto (2006), proses analisa data meliputi langkah-langkah
yaitu persiapan, tabulasi dan analisa data. Persiapan meliputi editing yaitu
peneliti memeriksa data yang telah terkumpul yang berasal dari responden
yang meliputi kesesuaian jawaban dan kelengkapan pengisian, melakukan
pengecekan

kembali

data-data

yang

diperoleh

untuk

selanjutnya

diklasifikasikan.
Tabulasi data meliputi scoring yaitu pemberian skor atau nilai pada
tiap-tiap item pertanyaan. Pertanyaan dalam kuesioner yang diujikan terhadap
responden mempunyai nilai (skala) 1-5. Jawaban Tidak pernah dilakukan
mendapat skor 1, Pernah dilakukan mendapat skor 2, Jarang dilakukan
mendapat skor 3, Sering dilakukan mendapat skor 4, Selalu dilakukan
mendapat skor 5, dan alternatif jawaban yang unfavorable nilai adalah tidak
pernah dilakukan mendapat skor 5, Pernah dilakukan mendapat skor 4, Jarang
dilakukan mendapat skor 3, Sering dilakukan mendapat skor 2, Selalu
dilakukan mendapat skor 1.Setelah itu, langkah selanjutnya yaitu master sheet
( tabel induk) yaitu memasukkan semua data ke dalam tabel induk kemudian
data di masukkan komputer (entry data).

52

Pengolahan data kuesioner seperti skala likert (tidak pernah dilakukan,


pernah dilakukan, jarang dilakukan, sering dilakukan, selalu dilakukan) yang
telah diubah dalam bentuk angka seperti yang tertera pada score.

x
P = x100%
n
Dimana:
P : prosentase (%)
x : jumlah jawaban yang dipilih
n : jumlah responden
Kemudian hasilnya dimasukkan kedalam kategori kualitatif. Penilaian
kategori kualitatif menurut Arikunto (2002) Sehingga dapat diketahui
persentase dari masing-masing pertanyaan yang dipilih, sebagai berikut:
1. Baik bila persentase 76-100%
2. Cukup bila persentasenya 56-75%
3. Kurang bila persentasenya <55%
I. Kesulitan penelitian
1. Keterbatasan memakai instrument seperti skala likert dengan pilihan (tidak
pernah dilakukan, pernah dilakukan, jarang dilakukan, sering dilakukan,
selalu dilakukan) yang mempunyai kecenderungan untuk mendapatkan
hasil yang sedang dan kebanyakan responden memilih jawaban yang
cenderung lebih aman dengan jawaban (sering dilakukan, selalu
dilakukan) sehingga hasil yang didapatkan kurang optimal.

53

2. Hambatan yang sering ditemui dilapangan berupa kesulitan dalam


menentukan waktu yang tepat bagi responden. Hal tersebut bisa
dicontohkan seperti adanya perubahan jadwal piket responden penelitian
yang semula sudah dijadwal.
3. Kesulitan penelitian ini juga ditemukan dalam pengisian kuissoner,
kebanyakan responden tidak mau mengisi kuissoner sehingga penelitian
ini membutuhkan waktu lebih lama dari waktu yang sudah direncanakan
peneliti.
J. Etika penelitian
Dalam

mengadakan

penelitian

dengan

memperhatikan

hak-hak

responden sebagai subyek penelitian, yaitu:


1. Informed Consent
Memberi informasi tentang mekanisme atau proses penelitian
sebagai calon responden. Sehingga mampu memahami dan diharapkan
dapat berpartisipasi secara sukarela dan tidak ada unsure paksaan. Saat
bersedia

menjadi

responden

peneliti,

lembar

informed

consent

ditandatangani oleh responden dalam hal ini adalah perawat-perawat.


2. Anonymily (Tanpa Nama)
Untuk

menjaga

kerahasiaan

responden

peneliti

mencatumkan nama responden pada kuesioner penelitian.

tidak

akan

54

3. Confidentiality (Kerahasiaan)
Peneliti menjamin kerahasiaan informasi yang diberikan oleh
responden. Peneliti memberitahukan jaminan rahasia pada saat sebelum
Kuesioner dibagikan dan saat mengisi lembar informed consent.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Yogyakarta terletak di Jl.
KH. Ahmad Dahlan No. 20 Yogyakarta yang merupakan amal usaha
Pimpinan Pusat Persyarikatan Muhammadiyah. Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta berstatus akreditasi penuh sesuai SK.
Menkes, No: YM.00.03.2.2.15 pada tahun 1998.
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta memiliki tenaga
keperawatan sebanyak 230 0rang yang terdiri dari 15 orang lulusan
Sarjana (S1) Keperawatan, 169 orang lulusan D3 Keperawatan, 13 orang
lulusan D3 Kebidanan, 3 orang lulusan D3 Anastesi, 12 orang lulusan D1
Kebidanan, 10 orang lulusan SPK, 2 orang lulusan setara SPK dan 1 orang
lulusan Penjenang Kesehatan.
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta memiliki unit
pelayanan Rawat Inap, Rawat Jalan, Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang
ICU/ICCU dan fasilitas penunjang medis lainnya. Instalasi Rawat Jalan
terdiri dari poliklinik umum, poli bedah, poli penyakit dalam, poli
kebidanan, poli anak, poli THT, poli mata, poli kulit dan kelamin, poli gigi
dan mulut, poli jiwa, poli syaraf, poli kardiologi, poli paru, poli rematologi
dan poli rehabilitasi medik.

55

56

Bangsal Rawat Inap terdiri dari 10 bangsal dengan jumlah kapasitas


tempat tidur pada tahun 2007 sebanyak 218 tempat tidur dengan angka
pemanfaatan tempat tidur atau bed occupation rate (BOR) rata-rata 77%,
angka bed turn over (BTO) sebesar 57,24 dan rata-rata length of stay
(LOS) akhir tahun 2007 adalah 4 hari.
2. Karakteristik Responden
Penelitian

tentang

gambaran

peran

perawat

terhadap

penatalaksanaan keperawatan pasien DBD anak di bangsal Ibnu Sina


rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian ini dilaksanakan
selama periode Agustus 2008-September 2008. Jumlah responden dalam
penelitian ini sebanyak 12 responden. Dari hasil penelitian didapatkan
karakteristik responden sebagai berikut:
a. Berdasarkan

tabulasi

data

distribusi responden

menurut

jenis

kelamin,usia dan lama kerja dapat dilihat dalam tabel 4.1


Tabel 4.1
Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, Umur, Lama
Kerja di Bangsal Ibnu Sina RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
bulan Agustus-September 2008
No

Karakteristik

1.

Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Umur
<30 Tahun
30-40 Tahun
>40 Tahun
Lama masa kerja
< 10 Tahun
10-20 Tahun
> 20 Tahun
Jumlah

2.

3.

Sumber : Data Primer Terolah, 2008

Frekuensi
N = 12

Prosentase %

0
12

0%
100 %

1
9
2

8,3 %
75 %
16,7 %

1
11
0
12

8,3 %
91,7 %
0 %
100 %

57

Responden dalam penelitian ini sebanyak 12 perawat di Bangsal


Ibnu Sina RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Berdasarkan tabel 4.1
diatas dapat diketahui bahwa dari 12 responden semuanya perempuan
yaitu sebanyak 12 perawat (100%).
Dilihat dari umur responden sebagian besar berumur antara 30-40
tahun yaitu ada 9 orang (75%), adapun jumlah responden yang paling
sedikit adalah responden mempunyai umur kurang dari 30 tahun yaitu ada
1 orang (8,3%). Sementara responden berumur lebih dari 40 tahun yaitu
ada 2 orang (16,7%).
Sementara bila dilihat dari lama masa kerja jumlah responden yang
paling banyak adalah responden dengan lama masa kerja 10-20 tahun
sebanyak 11 orang (91,7%). Sedangkan jumlah responden yang paling
sedikit adalah yang lama masa kerjanya kurang dari 10 tahun yaitu 1 orang
(8,3%).
b. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat
dalam tabel 4.2
Tabel 4.2
Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
di Bangsal Ibnu Sina RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
bulan Agustus-September 2008
Tingkat Pendidikan
SPK
AKPER
S1 KEPERAWATAN
Total
Sumber : Data Primer Terolah, 2008

Jumlah
0
10
2
12

Prosentase (%)
0
83,3
16,7
100

58

Distribusi berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian


besar responden menempuh pendidikan sampai jenjang AKPER yaitu ada
10 perawat (83,3%). Persentase paling kecil adalah responden yang
menempuh pendidikan sampai jenjang S1 Keperawatan dengan jumlah
responden sebanyak 2 perawat (16,7%).
3. Distribusi pasien DBD (Demam Berdarah Dengue) anak di Bangsal
Ibnu sina Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Pasien DBD (Demam Berdarah Dengue) yang dirawat inap di
Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta, diambil
dengan menggunakan data yang ada.
Tabel 4.3
Distribusi pasien DBD anak usia 4-15 tahun berdasar jenis kelamin
di Bangsal Ibnu sina RS PKU Mumammadiyah Yogyakarta
bulan Juni Agustus 2008

Kelompok
usia (tahun)
4-6
7-9
10-12
13-15
Jumlah

Perempuan

Laki laki

Kasus DBD

Kasus DBD

0
6
5
1
12

0
50
41,66
8,33
100

4
7
6
1
18

22,22
38,88
33,33
5,55
100

Sumber : Data Primer Terolah, 2008

Dari tabel 4.3, diketahui bahwa pasien yang dirawat inap di


Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta adalah
paling tinggi pada usia 7-9 tahun baik pada anak laki-laki ataupun anak
perempuan.

59

4. Lama perawatan pasien DBD anak rawat inap di Bangsal Ibnu sina
rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Lama perawatan yang dijalani anak di rumah sakit. Data diambil
untuk mengetahui berapa lama rata-rata pasieb dirawat inap di rumah
sakit.
Tabel 4.4
Lama perawatan pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta bulan Agustus-September 2008
Lama perawatan (hari)

Jumlah

13
47
8 - 11

12
17
1

40
56,66
3,33

Jumlah

30

100

Sumber : Data Primer Terolah, 2008

Dari tabel 4.4, lama perawatan paling tinggi adalah 4 - 7 hari yaitu
sebanyak 56,66 %, dan paling rendah adalah pada lama perawatan 8-11
hari yaitu sebanyak 3,33%.
5. Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
pada pasien DBD (Demam Berdarah Dengue) anak di Bangsal Ibnu
sina RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
a. Gambaran

peran

perawat

dalam

pelaksanaan

pengkajian

keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina rumah


sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Peran perawat dalam pelaksanaan pengkajian keperawatan pada
pasien DBD anak

di Bangsal Ibnu

sina rumah sakit

PKU

60

Muhammadiyah Yogyakarta yang diambil dengan menggunakan


kuissoner.
Tabel 4.5
Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan pengkajian keperawatan
yang dilakukan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Bulan Agustus-September 2008
No.

Nilai

Kategori

Frekuensi

(%)

12

100

76-100

Baik

56-75

Cukup

<56

Kurang

12

100

Jumlah
Sumber : Data Primer Terolah, 2008

Dilihat dari tabel 4.5, hasil pengamatan peran perawat dalam


pengkajian pasien DBD anak diperoleh frekuensi tertinggi peran
perawat dalam pengkajian keperawatan adalah kategori baik yaitu
sebanyak 12 perawat (100%) dari semua total populasi dan frekuensi
terendah adalah kategori cukup dan kategori kurang yaitu sebanyak 0
perawat (0%).
b. Gambaran

peran

perawat

dalam

pelaksanaan

diagnosis

keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina rumah


sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Diagnosis keperawatan yang ditegakkan oleh perawat selama
melakukan perawatan pada pasien DBD diambil dengan menggunakan
kuissoner.

61

Tabel 4.6
Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan diagnosis keperawatan
yang dilakukan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
bulan Agustus-September 2008.
No.
1
2
3

Nilai
76-100
56-75
<56
Jumlah

Kategori
Baik
Cukup
Kurang

Frekuensi
12
0
0
12

(%)
100
0
0
100

Sumber : Data Primer Terolah, 2008

Dari tabel 4.6 dapat dilihat bahwa hasil pengamatan gambaran


peran perawat dalam diagnosis keperawatan pada 12 perawat
didapatkan frekuensinya 12 perawat termasuk dalam kategori baik
(100%). Hasil penelitian gambaran diagnosis dan rencana tindakan
keperawatan pasien DBD anak, sebagai berikut:
Tabel 4.7
Gambaran diagnosis keperawatan pasien DBD
Variabel
Item
1.
Peningkatan
suhu
tubuh
berhubungan dengan proses penyakit
2.
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan berhubungan dengan
nafsu makan menurun
3.
Kurangnya pengetahuan tentang
proses penyakit, diet, perawatan dan
obat-obatan berhubungan dengan
kurangnya informasi
4.
Gangguan aktivitas sehari-hari
berhubungan dengan kondisi tubuh
lemah
5.
Gangguan rasa nyaman: nyeri
berhubungan dengan proses penyakit
6.
Resiko terjadi syok hipovolumik
berhubungan dengan pendarahan
hebat
7.
Resiko kekurangan volume cairan
Jumlah
Sumber : Data Primer Terolah, 2008

Kategori
Baik

Frekuensi
12

(%)
100

Baik

12

100

Baik

12

100

Baik

12

100

Baik
Cukup
baik

11
1
12

91,7
8,3
100

Baik
Cukup

11
1
12

91,7
8,3
100

62

Dari tabel 4.7 dapat dilihat bahwa hasil pengamatan diagnosis


keperawatan pasien DBD yang terdiri dari 7 item dapat diketahui
hasilnya adalah peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses
penyakit didapatkan frekuensi sebanyak 12 yang termasuk dalam
kategori baik (100%). Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan nafsu makan menurun didapatkan
frekuensi sebanyak 12 yang termasuk dalam kategori baik (100%).
Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit diet, perawatan dan
obat-obatan

berhubungan dengan kurangnya informasi didapatkan

frekuensi sebanyak 12 yang termasuk dalam kategori baik (100%).


Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh
lemah didapatkan frekuensi sebanyak 12 yang termasuk dalam kategori
baik (100%). Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan proses
penyakit didapatkan frekuensi sebanyak 11 yang termasuk dalam
kategori baik (91,7%) dan dalam kategori cukup (8,3%) dengan
frekuensi sebanyak 1. Resiko terjadinya syok hipovolumik berhubungan
dengan pendarahan hebat didapatkan frekuensi sebanyak 12 yang
termasuk dalam kategori baik (100%). Resiko kekurangan volume
cairan didapatkan frekuensi sebanyak 11 yang termasuk dalam kategori
baik (91,7%) dan dalam kategori kurang (8,3%) dengan frekuensi
sebanyak 1.

63

c. Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan rencana tindakan


keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina rumah
sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan keperawatan pada
pasien DBD anak diambil dengan menggunakan kuissoner.
Tabel 4.8
Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan rencana tindakan
keperawatan yang dilakukan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu
sina RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
bulan Agustus-September 2008
No.
1
2
3

Nilai
76-100
56-75
<56
Jumlah

Kategori
Baik
Cukup
Kurang

Frekuensi
11
1
0
12

(%)
91,7
8,3
0
100

Sumber : Data Primer Terolah, 2008

Dari tabel 4.8 dapat dilihat bahwa hasil pengamatan gambaran


peran perawat dalam pelaksanaan rencana tindakan keperawatan pada
12 responden didapatkan frekuensinya 12 perawat termasuk dalam
kategori baik (100%).
d. Gambaran

peran

perawat

dalam

pelaksanaan

tindakan

keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina rumah


sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan tindakan keperawatan
pasien DBD anak

di Bangsal Ibnu

sina rumah sakit

PKU

Muhammadiyah Yogyakarta, yang diambil dengan menggunakan


kuissoner.

64

Tabel 4.9
Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan tindakan keperawatan
yang dilakukan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
bulan Agustus-September 2008
No.
1

Nilai
76-100

Kategori
Baik

Frekuensi
1

(%)
8,3

56-75

Cukup

75

<56
Jumlah

Kurang

2
12

16,7
100

Sumber : Data Primer Terolah, 2008

Dari tabel 4.9 dapat dilihat bahwa hasil pengamatan gambaran


peran perawat terhadap pelaksanaan tindakan keperawatan pada 12
responden didapatkan frekuensi tertinggi adalah kategori cukup yaitu
sebanyak 9 perawat (75%). Sementara didapatkan frekuensi terendah
adalah kategori baik yaitu sebanyak 1 perawat (8,3%) dan dalam
kategori kurang yaitu sebanyak 2 perawat (16,7%).
Data diatas sama dengan data rencana tindakan keperawatan
karena tindakan keperawatan (implementasi) merupakan langkah nyata
dari rencana tindakan keperawatan.
e. Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan evaluasi tindakan
keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina PKU
Muhammadiyah Yogyakarta.
Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan evaluasi tindakan
keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina PKU
Muhammadiyah Yogyakarta, yang diambil dengan menggunakan
kuissoner.

65

Tabel 4.10
Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan evaluasi keperawatan
yang dilakukan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina
di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
bulan Agustus-September 2008
No.

Nilai

Kategori

Frekuensi

(%)

1
2

76-100
56-75

Baik
Cukup

11
1

91,7
8,3

<56

Kurang

12

100

Jumlah
Sumber : Data Primer Terolah, 2008

Dari tabel 4.10, dapat dilihat bahwa hasil pengamatan gambaran


peran perawat terhadap pelaksanaan evaluasi keperawatan frekuensi
tertinggi adalah kategori baik yaitu sebanyak 11 perawat (91,7%) dari
total sampel sebanyak 12 perawat

dan frekuensi terendah adalah

kategori cukup yaitu sebanyak 1 perawat (8,3%).


f. Gambaran

peran

perawat

dalam pelaksanaan

dokumentasi

keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina rumah


sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan dokumentasi
keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta, yang diambil dengan menggunakan
kuissoner.

66

Tabel 4.11
Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan dokumentasikeperawatan
yang dilakukan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
bulan Agustus-September 2008
No.

Nilai

Kategori

Frekuensi

(%)

76-100

Baik

11

91,7

2
3

56-75
<56

Cukup
Kurang

1
0

8,3
0

12

100

Jumlah
Sumber : Data Primer Terolah, 2008

Dari tabel 4.11, dapat dilihat bahwa hasil pengamatan gambaran


peran perawat terhadap pelaksanaan dokumentasi keperawatan frekuensi
tertinggi adalah kategori baik yaitu sebanyak 11 perawat (91,7%) dari
total sampel sebanyak 12 perawat

dan frekuensi terendah adalah

kategori cukup yaitu sebanyak 1 perawat (8,3%).

B. PEMBAHASAN
1. Karakteristik responden
Peran perawat merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh
orang lain terhadap seseorang sesuai dengan kedudukan masing-masing
individu. Hal ini dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari profesi
perawat maupun dari luar profesi keperawatan. Peran perawat menurut
konsorium ilmu kesehatan tahun 1989 terdiri dari peran sebagai pemberi
asuhan keperawatan, advocat klien, pendidik, koordinator, kolaborator,
konsultan dan peneliti (Hidayat, 2004).

67

Pelayanan keperawatan merupakan salah satu bagian utama dari


pelayanan kesehatan yang diberikan kepada klien. Perawat merupakan
orang pertama dan secara konsisten selama 24 jam per hari dan 7 hari per
minggu menjalin kontak dengan klien, maka perawat harus mengetahui
dan memahami tentang paradigma kesehatan, peran, fungsi dan tanggung
jawab sebagai seorang perawat agar dapat memberikan pelayanan
kesehatan yang optimal, maka dibutuhkan seorang perawat yang
profesional dalam menangani setiap kasus yang ada di rumah sakit.
Sementara faktor umur, faktor pendidikan dan lamanya kerja sangat
menentukan cara kerja perawat dalam skill dan pengalaman yang lebih
baik (Hidayat, 2004).
Distribusi karakteristik responden di Bangsal Ibnu Sina rumah
sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta bulan Agustus-September 2008,
pada tabel 4.1, dari hasil pengamatan karakteristik umur responden
menunjukkan bahwa sebagian besar berumur antara 30-40 tahun yaitu
sebanyak 9 orang (75%), adapun jumlah responden yang paling sedikit
adalah responden mempunyai umur kurang dari 30 tahun yaitu ada 1 orang
(8,3%). Sementara responden berumur lebih dari 40 tahun yaitu ada 2
orang (16,7%).
Usia sangat berpengaruh pada tingkat kerja seorang perawat, hal
ini dapat dilihat bahwa umur semakin tua maka tingkat kerja semakin
menurun karena manusia mempunyai keterbatasan fisik dan mental. Usia

68

juga dapat di pengaruhi oleh sosio kultural dan kesehatan (Petter & Perry,
2005).
Sementara distribusi karakteristik lama masa kerja responden di
Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta bulan
Agustus-September 2008, pada tabel 4.2 dari hasil pengamatan
karakteristik lama kerja responden yang paling tinggi adalah responden
dengan lama masa kerja 10-12 tahun sebanyak 11 orang (91,7%).
Sedangkan jumlah responden yang paling rendah adalah yang lama masa
kerjanya kurang dari 10 tahun yaitu ada 1 orang (8,3%).
Lama masa kerja sangat berpengaruh pada kemampuan dan
pengalaman perawat,

kemampuan perawat untuk melakukan tindakan

keperawatan akan meningkat karena menggunakan pengalaman masa lalu


dan menerapkan pengetahuan yang relevan dalam setiap tindakan dan
pengambilan keputusan (Potter & Perry, 2005).
Distribusi

karakteristik

tingkat

pendidikan

responden,

menunjukkan bahwa sebagian besar responden menempuh pendidikan


sampai jenjang AKPER dengan frekuensi 12 atau (83,3%) yaitu sebanyak
10 responden dari 12 responden. Presentasi paling kecil adalah responden
yang menempuh pendidikan sampai jenjang S1 Keperawatan dengan
jumlah responden sebanyak 2 orang (16,7%).
Tingkat

pendidikan

akan

mempengaruhi

seseorang

dalam

mempersepsikan sesuatu. Menurut The American Association of Colleges


of

Nursing

(AACN)

menyatakan

bahwa

sikap

individu

dalam

69

mempersepsikan obyek dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman,


keterampilan, cakrawala, keyakinan dan nilai, kualitas diri, proses belajar
dan tergantung juga dari pendapat atau keyakinan individu mengenai
obyek yang diterimanya, hal ini berkaitan dengan segi kognisi dan afeksi.
Hasil kognitif terhadap suatu obyek disebut hasil evaluatif, yang dapat
bersifat positif atau negatif serta dapat juga bersifat baik maupun tidak
baik. Tingkat pendidikan semakin tinggi diharapkan dapat mempengaruhi
pola pikir yang kritis dan pandangan yang luas tentang profesi
keperawatan.
2.

Distribusi pasien DBD (Demam Berdarah Dengue) anak di Bangsal


Ibnu sina Rumah Sakit PKU Muhammadayah Yogyakarta.
Deman berdarah dengue merupakan infeksi penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk
Aedes Aegypti. Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan
masyarakat

di

Indonesia

karena

prevalensinya

yang

tinggi

dan

penyebarannya yang cukup luas (Sungkor.S, 2005).


Seperti pada penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus, maka
demam berdarah dengue (DBD) juga merupakan penyakit virus yang dapat
sembuh sendiri dalam waktu 2-7 hari, namun 50 % dari penyakit ini akan
terjun kedalam syok dan menyebabkan kematian. Untuk menurunkan
angka kematian akibat syok, maka penderita dapat dirawat di rumah sakit
atau dilakukan usaha-usaha untuk mencegah terjadinya syok. Jika sudah

70

terjadi syok harus segera ditangani dengan pemberian cairan secara cepat
(Sri rezeki.S, 2004).
Dari tabel 4.3, diketahui bahwa distribusi pasien DBD yang
dirawat inap di Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta tahun 2008 antara laki-laki dan perempuan tidak mengalami
perbedaan yang mencolok. Pasien anak laki-laki adalah 60% dan pada
anak perempuan adalah 40%, dan presentasi tertinggi sama-sama terdapat
pada anak usia 7-9 tahun. Namum dari beberapa penelitian menyebutkan
bahwa presentase penderita DBD antara anak laki-laki dan perempuan
hampir sama, atau dalam kata lain penyakit ini tidak memandang jenis
kelamin antara laki-laki maupun perempuan. Pernyataan tersebut antara
lain terdapat pada penelitian yang dilakukan oleh Sumarni (2005).
Lama perawatan pasien DBD dipengaruhi oleh proses asuhan
keperawatan yang dilakukan di rumah sakit, keadan umum pasien yang
memburuk,

adanya komplikasi penyakit, lingkungan yang kurang

mendukung, kurangnya dukungan dari orang terdekat dan keadaan


ekonomi keluarga. Dalam survay penelitian ini didapatkan bahwa rata-rata
56,66% pasien DBD dirawat inap selam 4-7 hari di Bangsal Ibnu sina
rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Hal ini sesuai dengan
kejadian demam pada penyakit demam berdarah dengue yaitu terjadi
demam sekitar 2-7 hari (WHO, 1999). Jika demam turun lebih cepat pada
pasien DBD yang dirawat inap diperbolehkan pulang, karena masalah
utamanya telah teratasi. Namun apabila ada pasien yang didapatkan

71

perawatan lebih dari hari tersebut kemungkinan pasien mengalami


komplikasi penyakit lain selain demam.
3. Gambaran peran perawat dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu Sina rumah sakit
Muhammadiyah Yogyakarta.
Peran perawat merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang
lain terhadap seseorang sesuai dengan kedudukan masing-masing individu.
Hal ini dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari profesi perawat
maupun dari luar profesi keperawatan. Peran perawat menurut konsorium
ilmu kesehatan tahun 1989 terdiri dari peran sebagai pemberi asuhan
keperawatan, advocat klien, pendidik, koordinator, kolaborator, konsultan
dan peneliti (Hidayat, 2004). Berbagai peran perawat diatas sangat
menentukan keberhasilan dalam pemecahan masalah kesehatan dan
pemberian pelayanan pada pasien.
Pada dasarnya pasien DBD yang menjalani rawat inap di
pelanyanan kesehatan mempunyai banyak masalah yang harus segera
diatasi dan diselesaikan oleh perawat. Perawat mempunyai peranan yang
sangat penting dalam perawatan pasien, karena perawat secara terusmenerus selama 24 jam perhari dan 7 hari perminggu berhubungan dengan
pasien. Sehingga perawat mempunyai peran dan kewajiban yang sangat
besar dalam memberikan asuhan keperawatan yang terbaik untuk pasien
secara optimal, bertanggung jawab dan tanggung gugat. Asuhan
keperawatan merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktek

72

keperawatan yang langsung diberikan kepada klien pada berbagai


pelayanan kesehatan. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan diberikan
secara bertahap mulai dari tahap pengkajian, diagnosis keperawatan,
rencana tindakan, implementasi, evaluasi dan dokumentasi (Nursalam,
2001).
Sementara dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien
sangat dibutuhkan kerjasama antara perawat dengan keluarga pasien, hal
ini bertujuan agar keluarga dapat ikut serta berperan dalam pemberian
tindakan sehingga selain diperhatikan oleh tim kesehatan pasien juga
merasa diperhatikan oleh pihak keluarga serta orang-orang terdekat
dengan pasien.
Tahap pertama dalam pelaksanaan asuhan keperawatan adalah
tahap pengkajian. Pengkajian merupakan tahap awal dari proses
keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistimatis dalam
pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien. Pengkajian juga merupakan
pedoman yang sangat penting dalam penegakan diagnosis keperawatan
yang tepat dan juga dapat membantu untuk mengatasi masalah yang
dihadapi pasien agar cepat terselesaikan dengan optimal.
Peran perawat dalam pelaksanaan pengkajian yang dilakukan pada
pasien DBD anak di Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta rata-rata dalam kategori baik dari standar asuhan keperawatan,
yang diambil menggunakan data primer (kuissoner) dengan data yang

73

digunakan adalah setiap pasien yang tiba di Bangsal anak pasien dengan
diagnosis DBD dilakukan kembali penilaian ulang kondisi umum,
pemeriksaan fisik, pelaporan langsung dari tim medis dan melakukan
pengkajian dasar pada pasien anak DBD yang baru tiba di bangsal. Dilihat
dari tabel 4.5, bahwa hasil pengamatan menunjukkan 100% peran perawat
dalam pelaksanaan pengkajian keperawatan diatas sudah dilaksanakan
dengan baik oleh perawat. Keadaan ini menunjukan bahwa perawatperawat di Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta telah melakukan pengkajian pada pasien DBD anak sesuai
dengan standar acuhan asuhan keperawatan.
Sementara hasil penelitian dengan melihat kembali catatan rekam
medis didapatkan bahwa di Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta data pengkajian disusun menjadi 9 item,
yaitu terdiri dari identitas, riwayat penyakit, keadaan fisik, keadaan
emosional, kemampuan aktivitas sehari-hari seperti BAK/BAB, keadaan
spiritual, informasi penunjang, catatan khusus dan pengelompokan data
yang terdiri dari data subyektif dan data obyektif. Dalam catatan
pengkajian yang paling banyak dituliskan para perawat adalah identitas
pasien,

informasi

penunjang

yang

berisi

diagnosis

medis,

hasil

pemeriksaan laboraturium, hasil rontgen dan hasil pemeriksaan lain, suhu


tubuh pasien. Pengkajian terhadap keadaan fisik dan keluhan-keluhan yang
dialami pasien masih jarang dilakukan perawat, mungkin saja pasien

74

pernah

mengeluh

dan

mendapat

perhatian

tapi

perawat

tidak

mendokumentasikan tindakannya tersebut (Sumarni, 2005).


Tahap kedua dalam pelaksanaan asuhan keperawatan adalah
perumusan diagnosis keperawatan. Diagnosis keperawatan adalah suatu
pertanyaan dari pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data
yang telah dikumpukkan, yang pemecahannya dapat dilakukan dalam
batas kewenangan perawat untuk melakukannya. Perumusan diagnosis
ditentukan dari hasil pengkajian awal (Nursalam, 2001).
Peran perawat sangat penting dalam menegakkan suatu diagnosis
keperawatan pada pasien karena perawat bertanggung jawab dalam
pendokumentasian setiap tindakan yang dilakukan. Dilihat dari tabel 4.6,
dapat dilihat bahwa peran perawat dalam pelaksanaan diagnosis
keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal Ibnu Sina rumah sakit
PKU Muhammadiyah Yogyakarta rata-rata dalam kategori baik dari
standar prosentase yang ditentukan peneliti.
Perumusan diagnosis pada pasien DBD yang dirawat inap di rumah
sakit dapat mengalami kurang lebih 12 diagnosis yang muncul (Effendy,
1995). Sementara diagnosis keperawatan pada pasien DBD anak yang
digunakan dalam penelitian ini sebanyak 7 diagnosis (tabel 4.7) yang
terdiri dari, pertama peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses
penyakit merupakan diagnosis yang paling sering muncul pada pasien
demam berdarah dengue, bahkan dipastikan mencapai 100% karena
merupakan suatu gejala paling awal dari penyakit tersebut. Diagnosis

75

kedua, gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan


tubuh berhubungan dengan nafsu makan menurun, dipastikan sebagian
besar pasien akan mengalami penurunan nafsu makan hal ini disebabkan
adanya gejala gejala yang sering terjadi pada pasien DBD seperti mual,
muntah, dan rasa sakit saat menelan. Sehingga asupan makan yang masuk
ketubuh akan berkurang, maka peran perawat yang harus dilakukan adalah
dengan memberikan makanan yang mudah ditelan (bubur, tim dan
dihidangkan saat masih hangat) dan memberi makanan dalam porsi yang
kecil dengan frekuensi yang sering.
Diagnosis ketiga, resiko terjadi syok hipovolumik berhubungan
dengan pendarahan hebat, diakibatkan kehilangan plasma darah sangat
banyak atau terjadinya pendarahan hebat akibat kebocoran pembuluh
darah. Hal ini bisa terjadi pada pasien DBD dan berakibat fatal apabila
penanganan tidak segera diberikan oleh perawat, maka peran perawat yang
harus segera dilakukan adalah mengatasi agar tidak terjadi tanda tanda
syok pada pasien dengan cara monitor keadaan umum, tanda-tanda vital,
tanda-tanda pendarahan dan pemberian infuse atau memberikan terapi
cairan intravena segera jika didapatkan pasien terjadi pendarahan.
Sementara

diagnosis

keempat,

resiko

kekurangan

volume

cairan

diakibatkan oleh pendarahan hebat, keluarnya keringat yang berlebih


akibat demam yang tinggi, kurangnya asupan cairan yang masuk ketubuh,
maka peran perawat adalah memberikan terapi cairan intravena dan

76

mengkaji terus perubahan intake-output, hal ini bertujuan agar pasien tidak
terjadi dehidrasi berat.
Diagnosis kelima, gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan
dengan proses penyakit, hal ini timbul akibat gejala-gejala penyerta seperti
nyeri otot, tulang, sendi, faring (susah menelan), dan nyeri tekan pada
hepar diakibatkan adanya pembesaran hepar (splenomegali) yang sering
ditemui pada kasus pasien syok, maka peran perawat adalah mengkaji
tingkat nyeri pasien dan mengurangi rasa nyeri dengan memberikan respon
yang baik (terapi musik, membaca buku), pemberian obat analgesik sesuai
petunjuk dokter. Dari diagnosis diatas akan timbul diagnosis gangguan
aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh lemah, sehingga
sangat membutuhkan peran perawat dan keluarga dalam memenuhi
kebutuhan sehari-hari (makan, mandi, BAK/BAB, dll). Diagnosis
selanjutnya, Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet,
perawatan dan obat-obatan berhubungan dengan kurangnya informasi. Hal
ini, merupakan diagnosis yang sering muncul pada pihak keluarga karena
kurangnya informasi dan penjelasan dari perawat dalam setiap tindakan
yang dilakukan, maka peran perawat dalam hal ini adalah memberikan
informasi dan penjelasan dalam setiap tindakan yang akan dilakukan
kepada pasien dan keluarga pasien.
Dari hasil penelitian tersebut bahwa gambaran peran perawat
dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasie DBD anak di
Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta rata-rata

77

dalam kategori baik (100%). Keadaan ini menunjukan bahwa perawatperawat di Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta telah melakukan perumusan diagnosis keperawatan pada
pasien DBD anak dengan standar acuhan asuhan keperawatan.
Tahap ketiga, perencanaan keperawatan atau rencana tindakan
keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan untuk
menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosis keperawatan yang telah
ditentukan

dengan tujuan

terpenuhinya kebutuhan pasien.

Dalam

perencanaan keperawatan pasien sangat membutuhkan peran perawat


untuk memenuhi tujuan keperawatan dalam mengatasi suatu masalah.
Dilihat dari tabel 4.8, bahwa hasil pengamatan menunjukan 91,7% peran
perawat dalam pelaksanaan rencana keperawatan pada pasien DBD di
bangsal Ibnu Sina rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta rata-rata
dalam karegori baik. Keadaan ini menunjukan bahwa perawat-perawat di
Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta telah
melakukan rencana tindakan pada pasien DBD anak sesuai dengan standar
acuhan asuhan keperawatan.
Sementara hasil pengamatan peran perawat dalam pelaksanaan
rencana tindakan keperawatan dilihat dari catatan rekam medis masih
dalam rata-rata cukup dari standar asuhan keperawatan . Dari hasil diatas
dapat dilihat suatu perbedaan peran perawat dalam perencanaan
keperawatan antara keadaan sebenarnya dengan catatan rekam medis, hal
ini mungkin disebabkan pada setiap pelaksanan rencana tindakan yang

78

telah dilakukan perawat terkadang perawat lupa tidak mencatat di rekam


medis.
Dari rencana tindakan yang telah ditentukan oleh perawat, maka
langkah selanjutnya tahap empat yaitu peran perawat dalam melakukan
implementasi keperawatan. Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan
rencana tindakan keperawatan yang telah ditentukan dengan maksud agar
semua kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal, yang mencakup aspek
peningkatan, pemeliharaan, dan pemilihan kesehatan (Potter & Perry,
2005). Dilihat dari tabel 4.9, bahwa gambaran peran perawat dalam
pelaksanaan implementasi keperawatan pada pasien DBD anak di Bangsal
Ibnu Sina rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta rata-rata dalam
kategori cukup (75%).
Hal ini dapat dilihat pada beberapa diagnosis dan rencana tindakan
yang telah disusun oleh perawat dirumah sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta yang telah mengacu pada pelaksanaan asuhan keperawatan
yang sesuai standar asuhan keperawatan, contohnya dalam rencana
tindakan dan implementasi pada diagnosis Peningkatan suhu tubuh
berhubungan dengan proses penyakit. Tindakan peran perawat dalam
menyusun rencana tindakan dan pelaksanaan tindakan telah mengarah
pada tindakan untuk mengatasi masalah secara tepat dan cepat, dengan
pemberian kompres hangat untuk menurunkan suhu tubuh pada pasien
DBD.

79

Untuk

diagnosis

Nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan penurunan nafsu makandapat diatasi dengan


mengkaji pola makan, mengobservasi keadaan umum, menganjurkan
pasien untuk makan sering dengan porsi yang sedikit-sedikit, menyajikan
makanan dalam keadaan hangat. Tindakan diatas sebagian besar sudah
dilaksanakan oleh perawat di Bangsal Ibnu Sina.
Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan proses
penyakit. Masalah yang harus diselesaikan pada diagnosis diatas adalah
gangguan rasa nyaman: nyeri, nyeri yang dihadapi oleh pasien biasanya
merupakan respon yang berbeda dari masing-masing individu, antara
pasien satu dengan pasien yang lain mempumyai persepsi nyeri yang
berbeda, sehingga tindakan yang dilakukan juga berbeda. Untuk pasien di
Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta tindakan
yang dilakukan perawat untuk mengatasi nyeri adalah mengatur posisi
tubuh pasien agar merasa nyaman dan tidak mengeluh nyeri, dan
kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgesik. Tindakan ini
sebagian sudah dilaksanakan dengan baik oleh perawat di Bangsal Ibnu
sina.
Diagnosis lain yang muncul pada pasien yang dirawat inap di
rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta adalah Kurangnya
aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh lemah. Kondisi
tubuh lemah pada pasien disebabkan oleh perjalanan penyakit sehingga
aktivitas terbatas, perawat di Bangsal Ibnu Sina telah melaksanakan

80

perannya dengan memberikan bantuan pada pasien dalam memenuhi


kebutuhan aktivitas sehari-hari sesuai dengan tingkat keterbatasan pasien
seperti mandi, makan, eliminasi (BAK/BAB).
Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit berhubungan
dengan kurangnya informasi. Diagnosis ini merupakan masalah yang
sering kali ditemukan pada keluarga pasien, hal ini disebabkan kurangnya
penjelasan setiap tindakan yang dilakukan oleh perawat pada keluarga
pasien. Namun sebagian perawat di Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta sudah cukup baik dalam memberikan
informasi pada pasien dan keluarga dalam setiap tindakan yang akan
dilakukan.
Diagnosis terakhir adalah Resiko kekurangan volume cairan
berhubungan

dengan

berpindahnya

cairan

intravaskuler

ke

ekstravaskuler. Tindakan untuk mengatasi masalah kekurangan cairan


harus cepat, karena masalah ini dapat menyebabkan syok hipovolumik.
Dalam diagnosis ini 50% tindakan telah dilakukan oleh perawat untuk
menolong pasien terhindar dari resiko dehidrasi. Dari penelitian ini
menunjukan bahwa perawat-perawat di Bangsal Ibnu sina rumah sakit
PKU Muhammadiyah Yogyakarta telah melakukan tindakan keperawatan/
implementasi pada pasien DBD anak sesuai dengan standar acuhan asuhan
keperawatan.
Setelah perawat melakukan tindakan keperawatan yang bertujuan
untuk mengatasi masalah yang dihadapi pasien, tindakan selanjutnya yang

81

harus dilakukan perawat adalah melakukan evaluasi dan dokumentasi


keperawatan terhadap hasil tindakannya. Evaluasi keperawatan adalah
proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian ulang rencana
keperawatan. Di Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta, tahap evaluasi ini 91,7% telah dilakukan dengan baik.
Seluruh tindakan yang telah dilakukan oleh perawat benar-benar
diperhatikan, baik tindakan tersebut membawa perubahan atau tidak.
Dalam catatan evaluasi, apabila tindakan telah membawa perubahan maka
perawat akan menulis dicatatan rekam medis denganmasalah telah
diatasi dan apabila masalah belum diatasi maka perawat akan menulis
dicatatan rekam medis dengan masalah belum diatasi, rencana tindakan
dilanjutkan. Dari sini dapat dilihat bahwa evaluasi yang dilakukan oleh
perawat pelaksana dapat dijadikan alat komunikasi untuk perawat jaga
selanjutnya.
Tahap terakhir dalam asuhan keperawatan DBD adalah tahap
dokumentasi. Dokumentasi adalah segala sesuatu yang tertulis atau
tercetak yang dapat diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu
yang berwenang. Tahap dokumentasi ini 91,7% telah dilakukan dengan
baik oleh perawat di bangsal Ibnu Sina. Seluruh tindakan yang telah
dilakukan oleh perawat dan semua hasil pemeriksaan pasien sudah
didokumentasikan dengan baik, hal ini bertujuan untuk professional
administrasif dan klinik. Dan juga sebagai laporan bagi tim medis terakhir

82

yang bersifat obyektif, komprehensif dan akurat yang mencerminkan


status pasien (Potter & Perry, 2005).
Dari keadaan diatas menunjukan bahwa perawat-perawat di
Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU muhammadiyah Yogyakarta telah
melakukan evaluasi dan dokumentasi pada pasien DBD anak sesuai
dengan standar asuhan keperawatan.
Dari penelitian ini dapat diketahuai bahwa gambaran peran perawat
dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien DBD (Demam
Berdarah Dengue) anak di Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU
Muhammadiyah

Yogyakarta terutama dalam pengkajian,

diagnosis

keperawatan, rencana keperawatan, tindakan keperawatan/implementasi,


evaluasi dan dokumentasi keperawatan telah sesuai dengan standar asuhan
keperawatan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik
kesimpulan, bahwa gambaran peran perawat dalam penatalaksanaan asuhan
keperawatan pada pasien DBD (Demam Berdarah Dengue) anak di Bangsal
Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta telah sesuai dengan
standar asuhan keperawatan.
Berdasarkan hasil, peran perawat dalam pengkajian keperawatan pada
pasien DBD anak 100% termasuk kategori baik. Peran perawat dalam
perumusan diagnosis keperawatan pada pasien DBD anak 100% termasuk
kategori baik, peran perawat dalm rencana tindakan keperawatan pada pasien
DBD anak 91,7% termasuk dalam kategori baik, peran perawat dalm tindakan
keperawatan 75% termasuk kategori cukup, peran perawat dalam evaluasi dan
dokumentasi keperawatan 91,7% termasuk kategori baik.
B. Saran
Berdasarkan

hasil

penelitian

gambaran

peran

perawat

dalam

penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien DBD (Demam Berdarah


Dengue) anak di Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta, maka saran yang disampaikan:

83

84

1. Bagi ilmu keperawatan


Khususnya bagi keperawatan anak dan penyakit dalam agar meningkatkan
standart pelayanan asuhan keperawatan terhadap pasien DBD, khususnya
pasien DBD (Demam Berdarah Dengue) anak.
2. Bagi perawat
Khususnya bagi perawat agar meningkatkan standart penatalaksanaan
asuhan keperawatan terhadap pasien. Dan diharapkan perawat dapat
memenuhi hak-hak pasien.
3. Bagi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Bagi rumah sakit khususnya dalam bidang keperawatan diharapkan untuk
lebih memperhatiakn pelaksanaan proses asuhan keperawatan oleh
perawat pelaksana terutama untuk hal evaluasi dan pendekumentasian,
evaluasi keperawatan dapat sebagai acuhan tindakan keperawatan
selanjutnya dan pendokumentasian dapat sebagai bahan pembelajaran.
4. Bagi peneliti
Sebagai regenerasi perawat, peneliti diharapkan mampu melakukan
penatalaksanaan asuhan keperawatan dengan baik.
5. Bagi peneliti selanjutnya
Kepada peneliti selanjutnya agar lebih memperhatikan keterbatasan yang
ada dalam penelitian ini, sebagai bahan masukan dan pertimbangan,
sehingga tercipta penelitian yang lebih baik lagi dan lebih bermanfaat bagi
pengembangan profesi keperawatan, misalnya saja melakukan penelitian
dengan materi penatalaksanaan keperawatan pasien deman dengue dan

85

demam berdarah dengue dengan mengambil data primer secara observasi


langsung tindakan perawat.
C.

Kekuatan dan Kelemahan Penelitian


1. Kekuatan

penelitian

tentang

gambaran

peran

perawat

dalam

penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien DBD (Demam


Berdarah Dengue) anak di Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta adalah penelitian ini dengan pendekatan
kepada perawat-perawat.
2. Kelemahan

penelitian

tentang

gambaran

peran

perawat

dalam

penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien DBD (Demam


Berdarah Dengue) anak di Bangsal Ibnu sina rumah sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta adalah penelitian ini tidak menggunakan
cara

observasi

tindakan

keperawatan

secara

langsung

hanya

menggunakan kuissoner saja, sehingga hasil penelitian yang diperoleh


kurang optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. S, 2002. 2006. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, Edisi


Revisi V. Penerbit Rineka Cipta: Jakarta.
Arwani, 2002. Komunikasi Dalam Keperawatan. Penerbit EGC, Jakarta.
Aziz, 2006. Asuhan Keperawatan Anak 2. Penerbit Info Medika Jakarta, Jakarta.
Aziz hidayat, 2006, Konsep dan Prosedur Penelitian, Penerbit Salemba Medika,
Jakarta.
Bhamarapravati, dkk, 1967, Kegawatan Pada Demam Berdarah Dengue, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Carpenito, L. J, 1999, Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan Edisi 2,
Penerbit Buku EGC, Jakarta.
Deny Nuryadi, 2000, Pola Distribusi Penderita DB/DBD pada Pasien Anak di
RSUD dr. Sarjito Yogyakarta, FK UMY Yogyakarta.
Departemen Kesehatan RI, 2002, Demam Berdarah Dengue,
http://www.litbang.depkes.go.id/maskes/052002/demam berdarah.htm
Departemen Kesehatan RI, 2007, Demam Berdarah Dengue,
http://www.litbang.depkes.go.id/maskes/052007/demam berdarah.htm
Departemen Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), 2008,
Demam

Berdarah

dan

Demam

Berdarah

Dengue,

http://www.litbang.depkes.go.id/maskes/052008/demam berdarah.htm
Elizabet J. Crowh, 2001, Patofisiologi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Effendy, C, 1995, Perawatan Pasien DHF, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Hardiono, dkk, 2004, Standar Pelayanan Media Kesehatan Anak Edisi I, Penerbit:
Badan Penerbit IDAI, Jakarta.
Hendarwanto, 1994, Dengue, Ilmu Penyakit Dalam I, Bagian Penyakit Dalam FK
UI, Jakarta.
Hidayat, A. Aziz Alimul, 2004, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan Edisi I,
Penerbit Salemba Medika, Jakarta.

86

87

Mansjoer, 2001, Kapita Selekta Kedokteran Jilid I, Penerbit Media Aesculapius


FK UI, Jakarta.
Mitrakul, dkk, 1997. Diagnosis Laboraturium Infeksi Virus Dengue.
http://www.doktertomi.com/1997/04/08/demam-berdarah-dengue/-54k/html.
Mundakir,

2006,

Komunikasi

Keperawatan

Aplikasi

Dalam

Pelayanan.

Yogyakarta: Graha ilmu.


Nelson, MD Waldo E, 1999, Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15 Vol. 2, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Ngastiyah, 1995, Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue, Penerbit FK UI,
Jakarta.
Nursalam, 2003, Konsep dan Penerapan Metodologi Keperawatan, pedoman
skripsi, tesis, dan instrument penelitian keperawatan, Penerbit Salemba
Medika, Jakarta.
Perry, Potter, 2005, Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktek Vol.
1, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Prabowo lilik, 2002, Frekuensi Penderita DB/DBD pada pasien anak di RSU
PKU Muhammadiyah Solo periode Januari 2002 31 Juli 2002, FK UMY
Yogyakarta.
Rothrock C Jane, 1998, Perioperative Nursing Care Planing, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Samsi, Susanto. dkk, 1999, Gambaran Klinis Demam Berdarah Dengue, Penerbit
FK UI, Jakarta.
Stuad & Sundeen, 1987. Principles and Practice of Psychiatric Nursing.
Missouri: Mosby Year Book
Sumarmo, 2002, Masalah Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Penerbit FK
UI Jakarta, Jakarta.
Sugiyono, 2003, Statistika untuk Penelitian, Penerbit Alfa Beta, Bandung.
Sumarni, 2005, Gambaran Penatalaksanaan Keperawatan Pasien DB/DBD
(DF/DHF) pada Anak Usia 4-15 tahun di RSU PKU Muhammadiyah
Yogyakarta, PSIK FK UMY Yogyakarta.

88

Sungkar. S, 2005, Majalah Kedokteran Indonesa Bionomik Aedes Aegepty, Vector


Demam Berdarah Dengue, Departemen Parasitologi FK UI, Jakarta.
Sri Rezeki, 2000, Tatalaksana Demam Berdarah/Demam Berdarah Dengue pada
Anak, Penerbit FK UI, Jakarta.
Tuchinda, 1973, Patofisiologi Demam Berdarah Dengue, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Widodo. D, 2001, Presentase Penderita Demam Berdarah Dengue di Indonesia,
http://www.doktertomi.com/2001/04/08/demam-berdarah-dengue/-54k/html.
WHO (World Health Organization), 1999, Demam Berdarah Dengue Diagnosis,
Pengobatan, Pencegahan dan Pengendalian, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.

Lampiran 3

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Assalamualaikum Wr.Wb.
Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama

: Retno cahyani

NIM

: 20040320109

Alamat

:Jl. Menjangan no. 51 Kuncen, Wirobrajan,


Yogyakarta

Adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Program A


Fakultas kedokteran UMY yang sedang malakukan penelitian dengan judul
Gambaran Peran Perawat terhadap Perawatan Pasien DBD (Demam Berdarah
Dengue) Anak di Bangsal Ibnu Sina Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Penelitian ini tidak menimbulkan akibat yang merugikan bagi Bapak/Ibu
sebagai responden. Kerahasiaan informasi yang diberikan akan dijaga dan digunakan
untuk kepentingan penelitian.
Apabila

Bapak/Ibu

menyetujui,

maka

mohon

kesediaannya

untuk

mendatangani lembar persetujuan. Tanda tangan saya menunjukkan bahwa saya telah
diberi informasi dan memutuskan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.
Wassalamualaikum Wr.Wb
Yogyakarta,

PENELITI

Retno Cahyani

RESPONDEN

.......................

2008

Lampiran 4

KUISSONER PENELITIAN GAMBARAN PERAN PERAWAT


(Pelaksanaan keperawatan)
I. IDENTITAS RESPONDEN
1. Nama

:.

2. Usia

:.tahun

3. Jenis kelamin

: laki-laki/perempuan

4. Alamat

:.

5. Pekerjaan

:..

6. Pendidikan terakhir

) SPK

) AKPER

) S1 KEPERAWATAN

7. Lama kerja

:bulan/tahun

II. PETUNJUK PENGISIAN ANGKET


1. Bacalah semua pertanyaan didalam tabel.
2. Jawablah sesuai dengan pengetahuan bapak/ibu/saudara.
3. Jawab dengan memberi tanda ( ) pada kolom yang disediakan.
4. Teliti sekali lagi untuk memastikan semua pertanyaan sudah
dijawab.

Lampiran 4

Cheklest Penatalaksanan Keperawatan DBD


Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar menurut Ibu/Bapak/Saudara dengan
memberi tanda ( ) pada kolom jawaban.

A.
1

B.
1.

a.
b.

PERTANYAAN
(pelaksanaan
tindakan)
Pengkajian
Setiap pasien yang tiba
di Bangsal Anak
dengan diagnosis DBD
dilakukan kembali
penilaian ulang kondisi
klien, pemeriksaan
fisik, dan pelaporan
langsung dari tim
medis.
Perawat di Bangsal
Anak perlu melakukan
pengkajian dasar pada
pasien anak dengan
diagnosis DBD yang
baru tiba di Bangsal
Diagnosis
keperawatan
Peningkatan suhu
tubuh (hypertermi)
berhubungan dengan
proses penyakit.
Perawat Mengkaji saat
timbulnya demam
Mengobservasi tandatanda vital: suhu, nadi,
tensi, pernafasan setiap
3 jam atau lebih sering.

Tidakpernah
dilakukan

Pernah
dilakukan

Jarang
dilakukan

Sering
dilakukan

Selalu
dilakukan

Lampiran 4

PERTANYAAN
(pelaksanaan
tindakan)
c.

d.

e.

f.

g.

h.

Memberikan
penjelasan tentang
penyebab demam atau
peningkatan suhu
tubuh.
Perawat tidak
memberikan
penjelasan pada pasien
atau keluarga tentang
hal-hal yang dapat
dilakukan untuk
mengatasi demam dan
menganjurkan pasien
atau keluarga untuk
kooperatif
Menjelaskan
pentingnya tirah
baring bagi pasien dan
akibat yang timbul jika
hal itu tidak dilakukan.
Menganjurkan pasien
untuk banyak minum +
2,5 liter per 24 jam
dan jelaskan
manfaatnya bagi
pasien.
Memberikan kompres
air hangat (pada
daerah axilla dan
lipatapaha).
Menganjurkan pasien
untuk tidak memakai
selimut atau pakain
tebal
Kolaborasi dengan
tenaga kesehatan lain
untuk pemberian
cairan vena dan terapi
obat-obatan sesuai
dengan kebutuhan

Tidakpernah
dilakukan

Pernah
dilakukan

Jarang
dilakukan

Sering
dilakukan

Selalu
dilakukan

Lampiran 4

Pertanyaan
2.

a.

b.

c.

d.
3

Gangguan
pemenuhan
kebutuhan nutrisi
kurang dari
kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
nafsu makan
menurun (mual,
muntah, rasa sakit
saat menelan
Perawat tidak
mengkaji keluhan
mual, sakit menelan
dan muntah yang
dialami pasien.
Memberikan makan
yang mudah ditelan
seperti: bubur, tim dan
dihidangkan saat
masih hangat
Memberi makanan
dalam porsi yang kecil
dan frekuensi yangs
sering. Dan Mencatat
jumlah/porsi makanan
pasien yang
dihabiskan setiap
harinya
Kolaborasi pemberian
antasida
Kurangnya
pengetahuan tentang
proses penyakit, diet,
perawatan dan obatobatan b.d
kurangnya informasi.

Tidakpernah
dilakukan

Pernah
dilakukan

Jarang
dilakukan

Sering
dilakukan

Selalu
dilakukan

Lampiran 4

Pertanyaan

a.

b.
c.

d.

4.

a.

b.

Perawat tidak mengkaji


tingkat pengetahuan
pasien keluarga tentang
penyakit demam
berdarah
Mengkaji latar belakang
pendidikan pasien
Memberikan kesempatan
pada pasien atau keluarga
untuk menanyakan halhal yang ingin diketahui
sehubungan dengan
proses penyakit dalam
hal ini demam berdarah.
Menjelaskan tentang
proses penyakit, diet,
perawatan pada pasien
dengan bahasa yang
mudah dimengerti oleh
pasien.
Ganguan aktivitas
sehari-hari b.d kondisi
tubuhlemah
Perawat tidak mengkaji
hal-hal yang mampu dan
tidak mampu dilakukan
oleh pasien sehubungan
dengan kelemahan
fisiknya
Membantu pasien
memenuhi kebutuhan
aktivitasnya sehari-hari
sesuai dengan tingkat
keterbatasan pasien

Tidak pernah
dilakukan

Pernah
dilakukan

Jarang
dilakukan

Sering
dilakukan

Selalu
dilakukan

Lampiran 4

PERTANYAAN

Tidakpernah
dilakukan

5.

Gangguan rasa
nyaman: nyeri b.d
proses penyakit

a.

Mengkaji tingkat nyeri


yang di alami pasien
dengan memberi rentang
nyeri (0-10), berikan
pasien menentukan
tingkat nyeri yang
dialaminya, tetapkantipe
nyeri yang dialami
pasien, respon terhadap
nyeri yang dalami

b.

Perawat tidak mengkaji


faktor-faktor yang
mempengaruhi reaksi
pasien terhadap nyeri
(budaya, pendidikan dll).

c.

Memberi posisi yang


nyaman, usahakan situasi
ruangan yang tenang

d.

Kolaborasi dengan dokter


untuk pemberian obat
analgesik

6.

Resiko terjadi syok


hipovolemik b.d
pendarahan hebat

a.

Monitor keadaan umum


pasien

b.

Observasi TTV tiap 2-3


jam

Pernah
dilakukan

Jarang

Sering

Selalu

dilakukan

dilakukan

dilakukan

Lampiran 4

PERTANYAAN
c.

Monitor tanda-tanda
pendarahan

d.

Kolaborasi dengan
tenaga kesehatan lain
untuk pemberian
infuse, beri terapi
cairan interavena jika
terjadi pendarahan.

e.

Monitor masukan dan


keluaran, catat dan
ukur pendarahan yang
terjadi. Produksi urin

7.

Resiko kekurangan
volume cairan
Mengkaji keadaan
umum pasien (lemah,
pucat, takikardi), serta
tanda-tanda vital

a.

a.

Mengkaji keadaan
umum pasien (lemah,
pucat, takikardi), serta
tanda-tanda vital

b.

Mengkaji tanda dan


gejala dehidrasi/
hipovolemik (riwayat
muntah, diare,
kehausan, turgor jelek

c.

Mengkaji perubahan
keluaran urin (urin
output < 25 ml/jam
atau 600 ml/jam).
Monitor asupankeluaran.

Tidakpernah
dilakukan

Pernah
dilakukan

Jarang
dilakukan

Sering
dilakukan

Selalu
dilakukan

Lampiran 4

PERTANYAAN
d.

Memberikan cairan
intravena sesuai
dengan program dokter

C.

Evaluasi
Apakah perawat
melaksanakan
penilaian ulang dan
pengamatan kembali
kondisi pasien dan
fungsi vital tubuh
pasien untuk
menentukan
pemulangan pasien.

D.

Dokumentasi
Apakah perawat telah
melaksanakan
pendokumentasian
pasien anak BDB
meliputi identifitas
pasien, status fisik,
tanda-tanda vital, hasil
laboraturium
(golongan darah, Hb,
Ht, leukosit, trombosit,
urin)

Tidakpernah
dilakukan

Pernah
dilakukan

Jarang
dilakukan

Sering
dilakukan

Selalu
dilakukan

Hasil Reliabilitas
Case Processing Summary
N
Cases

Valid
Excludeda
Total

11
1
12

a. Listwise deletion based on all


variables in the procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
.997

N of Items
35

%
91.7
8.3
100.0

Item Statistics
P1
P2
P3
P4
P5
P6
P7
P8
P9
P10
P11
P12
P13
P14
P15
P16
P17
P18
P19
P20
P21
P22
P23
P24
P25
P26
P27
P28
P29
P30
P31
P32
P33
P34
P35

Mean
4.4545
4.3636
4.2727
4.2727
4.2727
4.2727
4.3636
4.3636
4.3636
4.4545
4.3636
4.3636
4.3636
4.3636
4.3636
4.3636
4.4545
4.3636
4.3636
4.3636
4.3636
4.3636
4.3636
4.2727
4.4545
4.3636
4.3636
4.4545
4.3636
4.4545
4.3636
4.3636
4.3636
4.3636
4.3636

Std. Deviation
.52223
.50452
.46710
.64667
.46710
.46710
.50452
.50452
.50452
.52223
.50452
.50452
.50452
.50452
.50452
.50452
.52223
.50452
.50452
.50452
.50452
.50452
.50452
.64667
.52223
.50452
.50452
.52223
.50452
.52223
.50452
.50452
.50452
.50452
.50452

N
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11
11

Frequency Table
A. Pengkajian

Valid

Baik

Frequency
12

Percent
100.0

Valid Percent
100.0

Cumulative
Percent
100.0

B1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan penyakit

Valid

Baik

Frequency
12

Percent
100.0

Valid Percent
100.0

Cumulative
Percent
100.0

B2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

Valid

Baik

Frequency
12

Percent
100.0

Valid Percent
100.0

Cumulative
Percent
100.0

B3. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit

Valid

Baik

Frequency
12

Percent
100.0

Valid Percent
100.0

Cumulative
Percent
100.0

B4. Gangguan aktivitas sehari-hari

Valid

Baik

Frequency
12

Percent
100.0

Valid Percent
100.0

Cumulative
Percent
100.0

B5.Gangguan rasa nyaman: nyeri proses panyakit

Valid

Cukup
Baik
Total

Frequency
1
11
12

Percent
8.3
91.7
100.0

Valid Percent
8.3
91.7
100.0

Cumulative
Percent
8.3
100.0

B6. Resiko terjadi syok hipovolemik pendarahan hebat

Valid

Bailk

Frequency
12

Percent
100.0

Valid Percent
100.0

Cumulative
Percent
100.0

Frequency Table
B7. Resiko kekurangan volume cairan

Valid

Kurang
Baik
Total

Frequency
1
11
12

Percent
8.3
91.7
100.0

Valid Percent
8.3
91.7
100.0

Cumulative
Percent
8.3
100.0

C. Evaluasi

Valid

Kurang'
Baik
Total

Frequency
1
11
12

Percent
8.3
91.7
100.0

Valid Percent
8.3
91.7
100.0

Cumulative
Percent
8.3
100.0

D. Dokumentasi

Valid

Kurang
Baik
Total

Frequency
1
11
12

Percent
8.3
91.7
100.0

Valid Percent
8.3
91.7
100.0

Cumulative
Percent
8.3
100.0