Anda di halaman 1dari 3

Konsep

Konsep Entitas Bisnis (Entity Theory)

Konsep Pengukuran Uang (Money


Measurement Concept)

Konsep Kelangsungan Usaha (Going


Concern)

Konsep Dua Aspek Akuntansi

Konsep Kos

Penjelasan
Dalam konsep ini bisnis perusahaan
sebagai suatu organisasi bisnis
diperlakukan berbeda atau secara
hukum terpisah dengan pemilik dari
bisnis tersebut. Hal ini termasuk bahwa
transaksi-transaksi dalam bisnis tersebut
harus dijaga secara keseluruhannya agar
terpisah dari urusan pribadi dari seorang
pemiliknya. Namun, diperbolehkan bagi
seorang pemilik untuk dapat
memperoleh informasi yang benar
mengenai kondisi perusahaannya.
Konsep ini mengandung pengertian
bahwa uang merupakan alat ukur umum
dan paling tepat dalam aktivitas
ekonomi dan menjadi dasar yang tepat
pula bagi pengukuran analisis akuntansi.
Dalam pencatatan, unit moneter yang
diwakili oleh uang sangat relevan,
sederhana, tersedia secara universal,
dapat dipahami dan berguna.
Postulat kelangsungan usaha (going
concern) mengasumsikan bahwa
perusahaan akan terus berlanjut sampai
waktu yang tidak ditentukan. Implikasi
asumsi ini, pada keadaan luar biasa, nilai
laporan likuidasi untuk aset dan ekuitas
adalah pelanggaran atas konsep atau
asumsi dasar ini.
Di bawah konsep ini, pada setiap dan
masing-masing transaksi dibagi ke
dalam dua aspek. Salah satu aspek
berhubungan dengan penerimaan atas
suatu manfaat tertentu sedangkan aspek
yang lain berhubungan dengan
pemberian atas manfaat tersebut.
Konsep dual aspect ini mendasarkan
pada kaidah bahwa untuk setiap
kegiatan bisnis selalu memiliki
persamaan dan reaksi sebaliknya.
Pada dasarnya penggunaan prinsip ini
karena perusahaan memiliki kepentingan
untuk menentukan nilai jual dari setiap
aset setiap kali perusahaan ingin menilai
laba yang diperolehnya. Di mana
penilaian dengan cara yang lain akan
mengakibatkan munculnya subjektifitas
sehingga berdampak pada informasi
keuangan yang bias. Namun, dalam

standar akuntansi keuangan pun jika hal


tersebut menjadi tidak relevan, maka
diperkenankan menilai dengan nilai
wajar sebagai basis pengukurannya.
Konsep Periode Akuntansi

Konsep perioda menyatakan bahwa akuntansi


memperhitungkan laba dengan periode waktu
sebagai

takarannya

dan

bukan

angkatan

produk, (Suwardjono, 2003, hlm 101). Lanjut


Suwardjono (2003) bahwa sebagai implikasi
dari konsep ini adalah akuntansi menentukan
laba dengan menandingkan atau mengasosiasi
pendapatan
dianggap

periode

dengan

menciptakan

biaya

pendapatan

yang
untuk

periode tersebut. Jadi, biaya dianggap sebagai


upaya untuk menghasilkan pendapatan dengan
waktu

sebagai

takaran

penandingan,

(Suwardjono, 2003: hlm. 101).


Konsep Penandingan (Matching Concept)

Konsep Upaya dan Hasil (Effort and


Accomplishment)

Dalam akuntansi dikenal


prinsip matching concept. Di mana yang
dimaksud dari prinsip ini adalah dengan
diakuinya beban bukan pada saat
pengeluaran kas telah terjadi atau telah
dibayarkan. Namun, diakui ketika suatu
produk atau jasa secara aktual
memberikan kontribusi terhadap
pendapatan. Pendapatan suatu periode
harus dibebani dengan biaya-biaya yang
secara ekonomis berkaitan dengan
produk yang menghasilkan pendapatan
tersebut,(Suwardjono, 1986, hlm 116).
konsep penandingan (matching concept)
yang berimplikasi pula pada konsep
upaya dan hasil dalam akuntansi,
memberikan implikasi bahwa biaya
adalah upaya dalam rangka memperoleh
hasil yang dalam hal ini disebut
pendapatan. Secara konseptual,
pendapatan timbul karena biaya bukan
sebaliknya pendapatan menanggung

Konsep entitas (entity)

Prinsip reliabilitas (reliability priciple)

biaya, (Suwardjono, 2005, hlm. 234).


Artinya pendapatan sudah dapat diakui
meskipun belum terealisasi karena
adanya pengeluaran atau upaya entitas
dalam melakukan kegiatan produktifnya.
Konsep dari entitas harus jelas. Misal kita
mendirikan bisnis dan teman kita
memberikan modal 20 juta. Kita harus
memisahkan 20 juta ini dari harta kita. Kita
tidak boleh mencampur adukkan harta
perusahaan dan harta pribadi kita.
Untuk melihat kinerja dari bisnis-bisnis unit
perusahaan, akan lebih baik kalau entitasentitas bisa dipisahkan. Misalnya entitas
untuk penjualan merek mobil A dipisahkan
dengan entitas penjualan merek B,
dipisahkan dengan merek C dan
sebagainya. Dengan pemisahan ini maka
kita bisa melihat kinerja dari masingmasing unit bisnis.
Data yang dimasukkan ke dalam laporan
euangan haruslah data yang benar-benar
bisa dihandalkan. Contoh umum adalah
mengenai tanah dan bangunan. Saat kita
memulai usaha dan menggunakan
bangunan milik kita, berapa kita akan
menghargai.
Mungkin ada perbedaan penaksiran antara
kita dan ahli bangunan. Dalam kasus ini
nilai yang dimasukkan seharusnya
mengikuti ahli bangunan