Anda di halaman 1dari 13

BAB II

ISI

2.1 GAMBARAN UMUM


2.1.1 Gambaran Umum PT. Phapros Tbk.
PT Rajawali Nusindo Adalah salah satu anak perusahaan dari PT Rajawali Nusantara
Indonesia (PT RNI) yang bergerak di bidang perdagangan. Refocusing bisnis PT RNI pada
tiga lini usaha yaitu industry agro, farmasi dan alat kesehatan, serta perdagangan telah
ditandai dengan pemisahan (spin off) unit usaha yang sebelumnya bernaung dibawah PT RNI
menjadi perusahaan sendiri. Salah satu unit usaha yang dipisahkan tersebut adalah unit usaha
yang bergerak dibidang distribusi dan perdagangan, yaitu PT Rajawali Nusindo.
PT Rajawali Nusantara Indonesia (Rajawali Nusindo) merupakan salah satu
perusahaan tertua di Indonesia dengan ukiran sejarah yang cemerlang. Pada awalanya
Perusahaan bernama Kian Gwan Company Limited NV didirikan dengan akta No. 85 dari
Tan A Sioe Notaris di Semarang tanggal 22 Juli 1955 yang bernaung di dalam grup Oei Tiong
Ham Concern. Pada tahun 1961 perusahaan tersebut dinasionalisasikan oleh Pemerintah RI.
Berdasarkan Keputusan Pengadilan Ekonomi No. 32/1961 EKS tanggal 10 Juli 1961
yang kemudian dikukuhkan dengan Keputusan Mahkamah Agung RI No. 5/Kr/K/1963
tanggal 27 April 1963 dimana kegiatan perusahaan berada di bawah penguasaan Menteri /
Jaksa Agung kepada Menteri Urusan Pendapatan Pembiayaan dan Pengawasan (P3) yang
sekarang menjadi Departemen Keuangan Indonesia.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kompartemen Keuangan tanggal 19 Agustus
1964 No. 0642/M.K.3/64 dari seluruh harta Oei Tiong Ham Concern oleh Pemerintah
dipergunakan sebagai Penyertaan Modal Pemerintah dalam pendirian PT Perusahaan
Perkembangan Ekonomi Nasional (PPEN) Rajawali Nusantara Indonesia termasuk di
dalamnya seluruh saham Kian Gwan Company Indonesia Limited NV.
Dalam perkembangannya di tahun 1971 telah diadakan perubahan Anggaran Dasar
Perseroan Kian Gwan Company Indonesia Limited NV dengan merubah nama perusahaan
tersebut menjadi PT Rajawali Impor Ekspor dan pada tanggal 18 Juni 1971 terjadi lagi

perubahan Anggaran Dasar Perseroan dengan akta No. 37 dengan notaris yang sama dengan
merubah nama perusahaan menjadi PT Perusahaan Impor Ekspor Rajawali NUsindo. Pada
tanggal 28 Juni 1975 Anggaran Dasar mengalami perubahan kembali dengan menyatakan
seluruh saham PT PIE Rajawali NUsindo dimiliki oleh PT PPEN Rajawali Nusantara
Indonesia. Pada tanggal 29 Mei 1995 terjadi lagi perubahan Anggaran Dasar Perseroan
dengan peningkatan modal dan menyingkat nama PT Perusahaan Impor Ekspor Rajawali
Nusindo menjadi PT Rajawali Nusindo.
Pada tahun 2001 tentang penggabungan PT Rajawali Nusindo ke dalam PT Rajawali
Nusantara Indonesia. Akhirnya pada tanggal 31 Oktober 2004 terjadi lagi perubahan tentang
pemisahan unit distribusi dan perdagangan PT Rajawali Nusantara Indonesia menjadi anak
perusahaan sendiri dengan nama PT Rajawali Nusindo. Pendirian perseroan tersebut telah
disetujui oleh Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara nomor S-244/MBU/2004 tanggal 4
Mei 2004 serta telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia nomor C-16617 HT.01.TH.2004 tanggal 2 Juli 2004.
Perubahan anggaran dasar ditetapkan oleh Rapat Umum Pemegang Saham, yang
dihadiri oleh Pemegang Saham yang mewakili paling sedikit 2/3 bagian dari jumlah seluruh
saham yang mempunyai hak suara yang sah dan disetujui paling sedikit 2/3 bagian dari
jumlah suara tersebut. Perubahan tersebut harus dibuat dengan akta Notaris dan dalam
Bahasa Indonesia serta dilaporkan ke Menteri Kehakiman Republik Indonesia dan
didaftarkan dalam Daftar Perusahaan.
PT Rajawali Nusindo pada saat ini menjadi sebagai ujung tombak usaha daripada PT
RNI dengan cakupan area distribusi sebanyak 36 cabang yang tersebar dari ujung pulau
Sumatra, Banda Aceh, sampai dengan pulau Jayapura. Kegiatan oprasional perusahaan
terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu farmasi dan alat kesehatan serta perdagangan.

2.1.2 Lokasi PT. Phapros Tbk.

PT.Phapros Tbk berlokasi di Jalan Simongan No 131 Semarang, Jawa Tengah

Gambar 2.1 Foto di Lingkungan PT. Phapros Tbk.

2.1.3 Visi dan Misi PT. Phapros Tbk.


2.1.3.1 Visi
Visi PT. Phapros, Tbk adalah menjadi perusahaan farmasi terkemuka yang
menghasilkan produk inovatif dan jasa kesehatan yang didukung oleh manajemen profesional
serta kemitraan strategis guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
2.1.3.2 Misi
Misi yang dikembangkan PT. Phapros Tbk. Untuk mendukung visinya adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Menyediakan produk kesehatan terbaik guna memenuhi kebutuhan masyarakat.


Memberikan imbal hasil kepada pemegang saham sebagai refleksi kinerja
perusahaan dan memberikan penghargaan terhadap karyawan yang
memberikan kontribusi serta melakukan innovasi.
Menjadi perusahaan yang mempunyai tanggung jawab sosial dan ramah lingkungan.

2.1.4 Produk PT. Phapros Tbk

PT.Phapros Tbk merupakan industri farmasi dengan hasil produksi berupa obatobatan berbentuk tablet, kapsul, dan cair. Beberapa produk PT.Phapros Tbk yang sudah
dikenal di pasaran yaitu: Antimo, Antimo Anak, Minyak Kayu Putih Antimo, Livron b-plex,
Supra Livon, Noza, X-gra, Hemorograd, dan Bioneuron.
2.1.5 Struktur Organisasi PT. Phapros Tbk

Gambar 2.2 Struktur Organisasi PT. Phapros Tbk.

2.2 IDENTIFIKASI DAN PEMBAHASAN K3 PT. PHAPROS TBK.


2.2.1 Pengertian K3

Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah bidang yang terkait dengan kesehatan,
keselamatan, dan kesejahteraan manusia yang bekerja di sebuah institusi maupun lokasi
proyek (Wikipedia,2014).
Suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani
maupun rohani tenaga kerja khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil karya dan
budaya menuju masyarakat adil dan makmur (Mangkunegara).
Semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan
kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat
kerja (OHSAS 18001:2007).
2.2.2 Potensi Bahaya PT.Phapros Tbk

Kecelakaan kerja
Kebakaran / ledakan
Tumpahan bahan kimia
Keracunan makanan
Banjir
Pencemaran lingkungan
Sambaran petir

Gambar 2.3 Kecelakaan yang dapat terjadi

Gambar 2.4 Kecelakaan yang dapat terjadi

Gambar 2.5 Kecelakaan yang dapat terjadi


2.2.3 Kategori Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja di PT. Phapros Tbk dikategorikan sebagai berikut:

Near miss

Near miss adalah kondisi hampir celaka . Upaya penanganan yang dilakukan
biasanya lebih ditekankan pada peringatan atau teguran untuk lebih berhati-hati dan
mematuhi ketentuan K3 perusahaan yang sudah ditetapkan.

First Aid
First Aid adalah kecelakaan ringan pada pekerja, misal tergores bungkus obat.
Penanganan yang dilakukan untuk kecelakaan kategori ini adalah pertolongan
pertama atau P3K. Sebagai penguatan sistem K3, upaya P3K untuk kecelakaan ringan
ini dilakukan oleh staf-staf terlatih yang ada pada masing-masing unit kerja.

Medical Treatment Injury


Kecelakaan kategori ini adalah kecelakaan yang cukup parah misal luka
terbuka, sehingga mengharuskan korban mendapat penanganan medis. Dalam hal ini,
penanganan medis yang ada di PT. Phapros Tbk adalah dengan cara membawa korban
ke poliklinik yang ada di perusahaan. Apabila poliklinik tidak mampu menangani,
maka upaya yang dilakukan adalah dengan membawa ke instansi kesehatan yang
lebih memadai seperti rumah sakit.

Restricted Work Injury


Kecelakaan kerja kategori ini adalah kecelakaan kerja yang menyebabkan
pekerja tidak dapat bekerja baik pada posisinya. Dengan demikian, penanganan yang
dilakukan adalah dengan memindahkan sementara pekerja tersebut pada posisi yang
lebih ringan atau masih mampu untuk dilaksanakan. Misal, seorang operator mesin
yang mengharuskan dia banyak berdiri terkilir kakinya, kemudian untuk
meminimalisasi berkurangnya jam kerja maka perusahaan memindahkan sementara
pekerja tersebut ke bagian operasi yang tidak banyak menuntut berdiri.

Fatality
Fatality adalah kecelakaan kerja sangat serius yang dapat menyebabkan
kematian atau cacat, misalnya jatuh dari ketinggian. Untuk kasus kategori ini, di
PT.Phapros Tbk sangat kecil bahkan cenderung tidak pernah.

2.2.4 Tindakan Pengendalian Potensi Bahaya


1. Eliminasi

Fokus utama penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah pencegahan,
bukan penanganan. Karenanya, eliminasi atau upaya menghilangkan sumber bahaya
menduduki posisi teratas dalam tindakan pengendalian bahaya di PT. Phapros Tbk. Contoh
eliminasi yang dilakukan adalah penghilangan bahan atau material yang berpotensi bahaya
bagi kesehatan kerja karyawan.
2. Substitusi
Tindakan pengendalian potensi bahaya kedua adalah substitusi atau penggantian.
Tindakan substitusi dapat berupa penggantian teknologi produksi maupun penggantian
material atau bahan produksi. Contoh substitusi yang telah dilakukan PT. Phapros Tbk adalah
penggantian mesin untuk membuat tablet yang lebih modern dan aman dan penggantian
sistem insulinasi ruangan yang lebih aman dari potensi kebakaran.
3. Engineering Control
Tindakan pengendalian potensi bahaya ketiga adalah pengendalian secara teknis
(Engineering Control). Contoh pengendalian teknis ini misalnya, pemberian tutup pada
mesin-mesin produksi sehingga memperkecil risiko kecelakaan kerja seperti tangan terluka.
4. Administrasi Control
Pengendalian administrasi atau administrasi control yang sudah dilakukan PT.
Phapros Tbk adalah dengan memberlakukan kewajiban perizinan untuk semua aktivitas yang
berpotensi berbahaya misalnya, aktivitas konstruksi di ketinggian. Bila dalam monitoring
atau pengamatan lapangan kegiatan tersebut dirasa berbahaya, maka kegiatan itu dilarang
atau dihentikan.

5. Alat Pelindung Diri (APD)


Alat pelindung diri (APD) menjadi tindakan pengendalian potensi bahaya terakhir di
PT.Phapros Tbk. Penerapan alat pelindung diri (APD) lebih ditekankan pada proses produksi.

Gambar 2.6 Diagram Pengendalian Bahaya PT. Phapros Tbk.

Gambar 2.7 Tanda-Tanda K3 di PT. Phapros Tbk.

Gambar 2.8 Tanda-Tanda K3 di PT.Phapros Tbk.

Gambar 2.9 Tanda-Tanda K3 di PT.Phapros Tbk.


2.2.5 Komponen dalam Pengendalian Bahaya
Komponen dalam pengendalian bahaya di PT.Phapros Tbk biasa dikenal dengan 3M,
yaitu sebagai berikut :

Machine (mesin)
Prinsip utama pengendalian bahaya komponen utama ini adalah memastikan
mesin sebagai alat produksi dalam kondisi layak atau aman bagi pekerja. Selain
melalui inovasi atau substitusi mesin, perusahaan juga selalu melakukan pemantauan
atau monitoring rutin terhadap mesin-mesin produksi.

Man (manusia/pekerja)
Penekanan yang dilakukan perusahaan dalam pengendalian bahaya komponen
ini adalah perubahan budaya atau pola pikir para pekerja untuk lebih berhati-hati serta
selalu mentaati aturan K3 perusahaan. HSE perusahaan selalu melakukan training
atau pelatihan serta simulasi bagi para karyawan atau pekerja. Selain itu, perusahaan
juga selalu berusaha menertibkan pekerja dari berbagai aktivitas, seperti adanya

pedestrian untuk pejalan kaki di lingkungan perusahaan.


Material
Pengendalian bahaya pada komponen material dilakukan dengan penghilangan
atau penggantian bahan-bahan yang berpotensi bahaya dan mencemari lingkungan.

2.2.6 Pencegahan Kebakaran


Kebakaran merupakan salah satu potensi bahaya di PT.Phapros Tbk. Selain karena
bahan baku maupun operasional produksi, potensi bahaya kebakaran muncul dari pemukiman
penduduk yang sangat dekat bahkan menempel dengan tembok perusahaan serta berbagai
industri tetangga. Upaya pencegahan dan penangan kebakaran tidak hanya menjadi tanggung
jawab HSE perusahaan, melainkan pada masing-masing unit kerja. Upaya tanggap darurat
mulai dari masing-masing unit ini dilakukan untuk memperkecil dampak bila terjadi
kebakaran. Upaya konkrit pencegahan kebakaran pada PT.Phapros Tbk adalah sebagai
berikut :

Peletakan Alat Pemadam Kebakaran (APAR) di setiap unit kerja.


Peletakan Alat Pemadam Kebakaran (APAR) di setiap unit kerja ini adalah
untuk mendukung sistem tanggap darurat yang diberlakukan sampai unit-unit kerja.
Dengan demikian, penanganan bila terjadi kebakaran tidak harus menunggu HSE
perusahaan (pusat) sehingga dapat meminimalkan dampak atau kerugian.

Fire Alarm
Selain Alat Pemadam Kebakaran (APAR), upaya pencegahan dan penanganan
kebakaran dilakukan dengan pemasangan fire alarm pada masing-masing unit kerja.

Peletakkan hidran kebakaran di dekat tembok-tembok pembatas.


Pencegahan dan penanganan kebakaran juga dilakukan dengan peletakkan
hidran-hidran kebakaran di dekat tembok atau pagar pembatas. Hal ini dilakukan
untuk mengantisipasi kebakaran yang datang dari luar seperti pemukiman penduduk
maupun industri tetangga.

Komunikasi dan koordinasi dengan industri tetangga ( Forum Komunikasi


Perusahaan Simongan) dan Pemadam Kebakaran Kota Semarang
Selain teknis, upaya pencegahan dan penanganan kebakaran juga dilakukan
dengan menjalin komunikasi serta koordinasi dengan industri tetangga melalui Forum
Komunikasi Perusahaan Simongan) dan pemadam kebakaran Kota Semarang. Terkait
hal ini, PT.Phapros pernah melakukan perhitungan waktu yang dibutuhkan pemadam
kebakaran Kota Semarang bisa sampai ke PT.Phapros bila terjadi kebakaran. Data
waktu yang dibutuhkan tersebut selanjutnya digunakan untuk dasar membangun
sistem tanggap darurat perusahaan.

Gambar 2.10 Tanda Petunjuk Keadaaan Darurat di PT.Phapros Tbk.


BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dari pemaparan makalah di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kesehatan
dan keselamatan kerja adalah suatu usaha dan upaya untuk menciptakan perlindungan dan
keamanan dari resiko kecelakaan dan bahaya baik fisik, mental maupun emosional terhadap
pekerja, perusahaan, masyarakat dan lingkungan. Kesehatan dan keselamatan kerja
merupakan salah satu unsur yang penting dalam ketenagakerjaan. Oleh karena itulah sangat
banyak berbagai peraturan perundang-undangan yang dibuat untuk mengatur nmasalah
kesehatan dan keselamatan kerja. Meskipun banyak ketentuan yang mengatur mengenai

kesehatan dan keselamatan kerja, tetapi masih banyak faktor di lapangan yang mempengaruhi
kesehatan dan keselamatan kerja yang disebut sebagai bahaya kerja dan bahaya nyata.
Kategori Kecelakaan Kerja di PT Phapros Tbk:

Near miss
First Aid
Medical Treatment Injury
Restricted Work Injury
Fatality

Tindakan pengendalian potensi bahaya yang dilakukan oleh PT Phapros Tbk:

Eliminasi
Substitusi
Engineering Control
Administrasi Control
Alat Pelindung Diri (APD)

3.2 SARAN
a.

Pihak perusahaan harus dapat menerapkan system K3 yang baik terhadap seluruh

b.
c.
d.

pekerjanya
Memberikan sanksi kepada pihak yang melanggar agar lebih mentaati peraturan
Pemeliharaan APD
Setiap pekerja harus memahami bahaya dan resiko pekerjaannya sehingga akan lebih
berhati-jati dalam bekerja