Anda di halaman 1dari 4

MASALAH-MASALAH POKOK DALAM KRIMINOLOGI

A. Perumusan Kejahatan dan Penjahat


Di dalam kriminologi seringkali para ahli terlibat dalam perdebatan kontroversil dan
perbedaan pandangan mengenai pengertian kejahatan dan penjahat. Usaha untuk
merumuskan dan mendefinisikan kejahatan dalam kriminologi hampir setua bidang
pengetahuan ilmiah itu sendiri. Hal itu menyangkut sejumlah pendapat-pendapat
kontroversil dan beberapa benturan pendapat ilmiah yang pada dasarnya merupakan
bagian proses perkembangan suatu ilmu.
Di dalam kriminologi dikenal rumusan-rumusan yang berasal dari beberapa ahli.
misalnya menurut Sue Titus Reid bagi suatu perumusan hukum tentang kejahatan, maka
hal-hal yang perlu diperhatikan adalah antara lain :
1. Kejahatan adalah suatu tindakan sengaja (omissi). Dalam pengertian ini seseorang
tidak dapat dihukum hanya karena pikirannya, melainkan harus ada suatu tindakan
atau kealpaan dalam bertindak. Kegagalan untuk bertindak dapat juga merupakan
kejahatan, jika terdapat suatu kewajiban hukum untuk bertindak dalam kasus
tertentu. Di samping itu pula, harus ada niat jahat (criminal intent, mens rea).
2. Merupakan pelanggaran Hukum Pidana.
3. Yang dilakukan tanpa adanya suatu pembelaan atau pembenaran yang diakui secara
hukum.
4. Yang diberi sanksi oleh negara sebagai suatu kejahatan atau pelanggaran
Dalam hubungan ini, perlu dipahami beberapa hipotesa yang menyangkut realitas
social kejahatan. Para sosiolog menganggap, bahwa realitas social paling sedikit
mencakup dua arti, yaitu arti sosialnya dan sebagai hasil daripada anggapan-anggapan
subyektif manusia perorangan. Orang perorangan di dalam pergaulan hidup sehari-hari,
secara sadar maupun secara tidak sadar mengadakan aktivitas-aktivitas dan pola-pola
perikelakuan yang dikaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Hal itu semualah yang
merupakan realitas social yang pada hakikatnya mencakup baik secara konsepsional
maupun dalam qujud gejala-gejala yang merupakan realitas.
Suatu gejala spsial yang biasanya dinamakan kejahatan, sebenarnya merupakan
sesuatu perikelakuan yang dianggap menyimpang atau bahkan membahayakan
masyarakat. Untuk lebih mudah mengadakan identifikasi terhadap kejahatan tersebut,
maka akan dicoba untuk merumuskan beberapa hipotesa tentang realitas social dari
kejahatan tersebut. Alat-alat analisa yang dipergunakan, adalah dari sosiologi Hukum
Pidana, sehingga hasilnya mungkin saja berbeda dengan analisa Hukum Pidana.

Dengan demikian, pendekatan yang dipergunakan adalah apa yang dinamakan


labeling approach. Pendekatan ini lebih menyoroti gejala kejahatan, sebagai akibat
daripada proses-proses social yang terjadi dalam masyarakat.
Secara sosialogis, maka kejahatan merupakan suatu perikelakuan manusia yang
diciptakan oleh sebagian warga-warga masyarakat yang mempunyai kekuasaan dan
wewenang. Dengan demikian, maka di dalam realitas sosialnya kejahatan merupakan
perikelakuan yang dibentuk.
Hipotesa ini berbeda dengan hipotesa yang dihasilkan oleh pendekatan clinical
perspective yang berassumsi bahwa kejahatan merupakan keadaan patologis dari
individu. Hipotesa selanjutnya, adalah bahwa perumusan kejahatan menggambarkan
perikelakuan-perikelakuan

yang

bertentangan

dengan

kepentingan

warga-warga

masyarakat yang mempunyai kewibawaan. Hal ini berarti, bahwa golongan tersebut
merasa perlu untuk melindungi kepentingan-kepentingan kewibawaan.
Dengan lain perkataan, semakin banyak terjadinya konflik kepentingankepentingan, semakin banyak terjadi formulasi terhadap perikelakuan yang dianggap
jahat. Sudah tentu, bahwa faktor-faktor lain mungkin berpengaruh terhadap hal itu,
misalnya terjadi perubahan-perubahan kondisi soisal, timbulnya kepentingan-kepentingan
baru sesuai dengan perkembangan politik ekonomi dan agama, berubahnya konsepsikonsepsi tentang kepentingan-kepentingan umum, dan lain sebagainya.
Dengan demikian, maka adanya kejahatan tersebut tergantung, antara lain pada
faktor-faktor seperti kesempatan-kesempatan, pengalaman belajar dari pihak lain, imitasi
dan identifikasi. Sebagai suatu kesimpulan sementara dapatlah dinyatakan, bahwa
realisasi social dari kejahatan dikonstruksikan oleh formulasi dan penterapan batasanbatasan dari kejahatan, perkembangan perikelakuan-perikelakuan yang berkaitan dengan
batasan-batasan tentang kejahatan dan kontruksi, daripada konsepsi-konsepsi kriminal.
B. Epidemiologi Kejahatan
Istilah epidemiologi seringkali ditemui dalam studi-studi kesehatan masyarakat
yang terutama adalah mengenai luasnya, distribusi dan cirri-ciri pelbagai bentuk penyakit.
Ahli kriminologi mempergunakan istilah ini dalam hubungannya dengan jumlah, tempat
dan ciri-ciri sosial penjahat. Data epidemiologis dibuthkan sebelum setiap usaha
dilakukan untuk menjelaskan kejahatan.
Salah satu langkah dalam memperdalam pemahaman tentang epidemiologi
kejahatan

adalah

mengembangkan

secara

cermat

pengamatan

atas

pola

dan

kecenderungan kejahatan. Kejahatan yang secara cermat dimonitor adalah kejahatan,


kekerasan yang terdiri atas: penjambretan, penodongan, pembajakan, perampokan,
pencurian kendaraan bermotor, pemerasan, pembunuhan, penganiayaan berat, perkosaan
dan kejahatan di jalan raya. Pada umumnya diperoleh kesimpulan bahwa :
a. Kualitas kejahatan menunjukkan kecenderungan lebih rumit dan lebih canggih
(sophisticated).
b. Pelaku anak dan remaja cukup besar (pencurian biasa: 59,39% ; pencurian dengan
kekerasan: 11,65% ; pembunuhan: 7,90%).
c. Pelaku wanita juga besar (pencurian biasa: 32,93% ; penganiayaan ringan: 17,49%).
C. Segi-segi Sosiologis dari Hukum Pidana
Hukum Pidana merupakan salah satu alata pengendalian social (Social control) yang
mempunyai empat karakteristik dalam sifatnya antara lain: politis, kekhususan,
keseragaman dan sanksi hukum. Hukum pidana mempunyai aspek yakni sanksi pidana
yang berarti hukuman-hukuman yang dikhususkan bagi pelanggar Hukum Pidana.
Kajian-kajian sosiologis tentang Hukum Pidana memang layak dimasukkan dalam
kategori permasalahan utama dalam kriminologi mengingat arti pentingnya bagi
pemahaman mendasar mengenai pelbagai tindakan pelanggaran hukum dan reaksi social
terhadap pelanggar dan pelaranggaran hukum, termasuk ke dalamnya proses penegakan
Hukum Pidana.
Secara sosiologis, pola hubungan-hubungan social memang menentukan isi dan
berfungsinya proses peradilan pidana lebih daripada nilai-nilai, norma-norma dan
keyakinan-keyakinan dalam masyarakat.
D. Proses-proses Kriminalisasi, Dekriminalisasi dan Depenalisasi
1. Penelitian terhadap Proses Kriminalisasi
Proses kriminalisasi yang merupakan suatu proses, dimana perbuatanperbuatan tertentu yang oleh masyarakat atau golongan-golongan masyarakat
dianggap sebagai perbuatan yang dapat dipidana. Proses tersebut terakhir dengan
terbentuknya peraturan hukum pidana.
2. Dekriminalisasi dan Depenalisasi suatu Faset dalam Perubahan Hukum
2.1. Proses Dekriminalisasi
Secara sempit proses dekriminalisasi dapat diartikan sebagai suatu
proses, di mana suatu perilaku yang semula dikualifikasikan sebagai
peristiwa pidana dan dikenakan sanksi negative di bidang pidana, kemudian
dihapuskan kualifikasi pidananya dan sanksi negatifnya.
2.2. Proses Depenalisasi

Pada proses depenalisasi, sanksi negative yang bersifat pidana


dihilangkan dari akibat suatu perilaku yang ditolak. Dalam hal ini hanya
kualifikasi pidana yang dihilangkan, sedangkan sifat melawan atau
melanggar hukum masih tetap dipertahankan.
2.3

Stigmatisasi
Stigmatisasi terjadi apabila penyimpangan-penyimpangan yang terjadi
diperhatikan dengan nyata atau ditonjolkan oleh bagian terbesar warga
masyarakat. Artinya, kedudukan dan jiwa seseorang yang melakukan
penyimpangan diperlakukan sedemikian rupa sehingga dia kehilangan
identitas sosialnya.