Anda di halaman 1dari 21

MATA KULIAH EKONOMI KESEHATAN

MAKALAH DEMAND PELAYANAN KESEHATAN

Oleh :
Kelompok 5 IKM A 2013
Nesya Yulita A.

101311133015

Fajar Afrindo

101311133028

Kardita Puspa M.

101311133042

Ainun Afifah

101311133165

Mahda Khairina

101311133171

PROGRAM STUDI S1 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
i

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena
hanya dengan Rahmat kami dapat menyelesaikan tugas makalah ekonomi
kesehatan. Dengan terselesainya makalah ini kami mendapat bantuan dari
beberapa pihak, kami ingin mengucapkan terimakasih kepada dosen ekonomi
kesehatan yang telah membimbing kami sehingga dapat menyelesaikan makalah
ini dengan lancar. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
yang telah membantu dan mendukung makalah ini.
Kami berharap semoga makalah ini bermanfaat untuk para pembaca.
Untuk itu, kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami
harapkan demi perbaikan dalam penyusunan makalah kedepannya.
Surabaya, 17 September 2015
Penyusun

ii

DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN.....................................................................................1
1.1

Latar Belakang.......................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah..................................................................................1

1.3

Tujuan.....................................................................................................1

BAB 2 : PEMBAHASAN......................................................................................3
2.1.

Pengertian Demand Dalam Pelayanan Kesehatan.................................3

2.2.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Demand Dalam Pelayanan


Kesehatan..............................................................................................4

2.3.

Perbedaan Demand Pelayanan Kesehatan Dengan Demand Produk


Secara Umum........................................................................................7

2.4.

Elastisitas demand pelayanan kesehatan dan konsekuensinya...........14


2.4.1.Elastisitas Demand Pelayanan Kesehatan..................................14
2.4.2.Konsekuensi Elastisitas Demand Dalam Pelayanan Kesehatan. 16

BAB 3 : PENUTUP.............................................................................................17
3.1

Kesimpulan...........................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................18

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Setiap
individu akan berusaha mencapai status kesehatan yang baik dengan
mengkonsumsi sejumlah barang dan jasa kesehatan. Maka untuk mencapai
kondisi tersebut dibutuhkan sarana kesehatan yang baik pula. Dengan
kondisi seperti itu maka muncullah demand (permintaan) pelayanan
kesehatan.
Ada beberapa fakor juga yang akan mempengaruhi demand pelayanan
kesehatan, sehingga hal ini akan membuat demand pelayanan kesehatan
naik-turun. Naik-turunnya demand pelayanan kesehatan tersebut akan
mempengaruhi juga harga dari pelayanan kesehatan.
Di dalam teori ekonomi mikro tentang demand pelayanan kesehatan,
mengatakan bahwa jika jasa pelayanan kesehatan merupakan normal good,
makin tinggi pemasukan keluarga maka makin besar demand terhadap jasa
pelayanan kesehatan tersebut. Dan jika jasa pelayanan kesehatan
merupakan inferior good, semakin meningkatnya pemasukan keluarga akan
menurunkan demand terhadap jenis jasa pelayanan kesehatan tersebut.
Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai deskripsi demand
pelayanan kesehatan, faktor-faktor yang mempengaruhi demand pelayanan
kesehatan, perbedaan antara demand pelayanan kesehatan dengan demand
produk, dan mengenai elastisitas demnd pelayanan kesehatan dan
konsekuensi dari demand pelayanan kesehatan.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa pengertian demand dalam pelayanan kesehatan ?
b. Apa saja faktor yang mempengaruhi demand dalam pelayanan kesehatan
?
c. Apa perbedaan demand pelayanan kesehatan dengan demand produk
secara umum ?
d. Bagaimana elastisitas demand pelayanan kesehatan dan konsekuensinya
?
1.3 Tujuan
a. Untuk memahami demand dalam pelayanan kesehatan.

b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi demand dalam


pelayanan kesehatan.
c. Untuk mengetahui perbedaan demand pelayanan kesehatan dengan
demand produk secara umum.
d. Untuk

mengetahui

elastisitas

demand

pelayanan

kesehatan

dan

konsekuensinya.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Demand Dalam Pelayanan Kesehatan


Demand (permintaan) adalah keinginan yang disertai dengan daya beli.
Menurut (Kotler dan Andersen, 1995), permintaan adalah keinginan
terhadap produk spesifik yang didukung oleh kemampuan dan kesediaan
untuk membeli. Demand atau permintaan adalah jumlah dari suatu barang
yang mau dan mampu dibeli pada berbagai kemungkinan harga, selama
jangka waktu tertentu, dengan anggapan berbagai hal lain tetap sama
(ceteris paribus). Mau dan mampu disini memiliki arti betapapun orang
berkeinginan atau membutuhkan sesuatu, kalau ia tidak mempunyai uang
atau tidak bersedia mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membeli, maka
keinginan tersebut belum disebut permintaan. Namun ketika keinginan atau
kebutuhan disertai dengan kemauan dan kemampuan untuk membeli dan
didukung oleh uang yang cukup untuk membayar maka akan disebut
permintaan. Dengan demikian permintaan adalah kebutuhan dan keinginan
yang didukung oleh daya beli.
Permintaan (demand) pelayanan kesehatan adalah Pelayanan yang
sesungguhnya dibeli oleh customer pelayanan kesehatan, dalam hal ini
adalah pasien. Permintaan tersebut dipengaruhi oleh pendapat medis dari
dokter, dan juga faktor lain seperti pendapatan dan harga obat. Model dari
Cooper Posnett (1988) dalam Palutturi (2005), Permintaan (demand)
pelayanan kesehatan merupakan keinginan untuk lebih sehat diwujudkan
dalam perilaku mencari pertolongan tenaga kedokteran. Jadi dapat
disimpulkan bahwa, Permintaan (demand) pelayanan kesehatan adalah
pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan diinginkan oleh pasien yang
disertai juga dengan daya beli yang dimiliki oleh pasien tersebut.
Terdapat dua pendekatan yang digunakan dalam demand pelayanan
kesehatan, yaitu:
a. Demand menurut Model Agency Relationship
Model ini mengasumsikan bahwa peranan pasien sangat kecil
dibandingkan dengan peranan tenaga kesehatan maupun tenaga
medis. Pendekatan ini digunakan untuk menggabungkan antara
demand dan need terhadap pelayanan kesehatan, dimana tenaga

medis bertindak sebagai agen bagi pasien yang membutuhkan


informasi yang terkait dengan pelayanan kesehatan.
b. Demand menurut Model Grossman
Model Grossman mengasumsikan bahwa masing-masing individu
melakukan penilaian manfaat terhadap pengeluaran untuk kepentingan
kesehatan yang dibandingkan dengan pengeluaran untuk kepentingan
yang lain. Berbeda dengan model Agency Relationship, model
Grossman ini pengguna pelayanan kesehatan diasumsikan mempunyai
pengetahuan

terkait

status

kesehatannya

sendiri,

yang

berarti

konsumen memiliki peranan yang besar mengenai demand terhadap


pelayanan kesehatan
2.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Demand Dalam Pelayanan
Kesehatan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan dalam pelayanan
kesehatan menurut Michael Grossman dalam health care economics
second edition , Konsumen memiliki 2 alasan dalam hal permintaan
terhadap kesehatan yaitu:
a. Kesehatan sebagai komuditas konsumsi
Kesehatan merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh konsumen
dimana dengan kesehatan itu sendiri konsumen merasa lebih baik.
Dengan kesehatan itu sendiri, konsumen dapat melakukan aktivitas fisik
dengan leluasa tanpa ada gangguan dr kesehatan mereka sendiri.
b. Kesehatan sebagai sebuah investasi
Kondisi kesehatan akan menentukan jumlah waktu yang tersedia untuk
seseorang. Lama waktu seseorang sakit akan berpengaruh pada jumlah
waktu yang dapat ia lakukan untuk bekerja dan melakukan aktivitas
lainnya. Selain itu, sakit dapat menyebabkan seseorang kehilangan
penghasilannya akibat tidak dapat bekerja selama ia sakit.
Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi demand pelayanan
kesehatan
1. Incident of Illness
Secara umum ada 2 jenis derajat kesakitan yang dialami manusia
yakni, penyakit akut dan penyakit kronis. Bagi penderita penyakit kronis
merupakan penentu besarnya demand pelayanan kesehatan, frekuensi
permintaan terhadap pelayanan kesehatan lebih banyak dibandingkan
dengan penyakit akut (Feldstein, Paul J, 2006).
2. Provider
4

Dalam hal pengambilan keputusan,

provider memiliki peran

ganda dalam pelayanan kesehatan yaitu:


a. Sebagai advisor
Dikatakan sebagai advisor apabila dikaitkan dengan adanya
saran atau nasihat dari

provider

kesehatan tentang suatu

pelayanan kesehatan bagi pasien yang dapat menimbulkan suatu


permintaan terhadap pelayanan kesehatan itu sendiri. Dalam hal
seperti ini biasanya pasien jarang menolak saran yang diberikan
oleh provider, dikarenakan adanya kesenjangan pengetahuan
antara provider kesehatan dan pasien.
b. Sebagai supplier
Dikatakan sebagai

supplier apabila provider kesehatan

memberikan tindakan pada pasien, sehingga dapat membuat


suatu permintaan pelayanan kesehatan yang sesuai.
3. Karakteristik

budaya

dan

demografi

(culturaldemographic

characteristics)
a) Jenis kelamin
Ada perbedaan dalam kebutuhan pelayanan kesehatan antara pria
dan wanita. Pengeluaran yang dikeluarkan oleh perempuan
melebihi dari yang dikeluarkan oleh laki-laki terutama karena biaya
kandungan. Wanita memiliki permintaan yang lebih tinggi hingga
usia 45, dan diatas usia 45 tahun permintaan akan pelayanan
kesehatan akan sama antara pria dan wanita.
b) Usia
Hubungan antara umur dan penggunaan pelayanan medis,
bagaimanapun tidak linier juga tidak sama untuk setiap jenis
pelayanan kesehatan. Karena semakin bertambah usia akan
semakin membutuhkan pelayanan kesehatan. Rata-rata permintaan
pelayanan kesehatan akan meningkat pada usia 45-64 tahun dan
akan meninggakat tajam mulai usia 65 tahun keatas dikarenakan
mereka membutuhkan pelayanan kesehatan untuk memperpanjang
hidupnya.
c) Status perkawinan dan jumlah anggota keluarga
Seseorang dengan status belum menikah
menggunakan

pelayanan

rumah

sakit

lebih

banyak

dibandingkan

dengan

seseorang yang sudah menikah. Selain status perkawinan, jumlah


5

orang dalam keluarga juga mempengaruhi permintaan untuk


pelayanan kesehatan. Besarnya keluarga juga mempengaruhi
permintaan, sebuah keluarga dengan jumlah anggota keluarga yang
banyak akan mengurangi tingkat demand pelayanan kesehatan
(Feldstein, 2006
d) Pendidikan
Pendidikan juga

diyakini

dapat

mempengaruhi

permintaan

pelayanan medis. Semakin tinggi tingakt pendidikan dalam suatu


rumah tangga dapat memungkinkan keluarga untuk mengenali
gejala awal penyakit, sehingga kesediaan yang lebih besar untuk
mencari pelayanan kesehatan awal (Feldstein, 2006)
e) Preferensi pasien
Preferensi yang dimiliki pasien bisa didapatkan melalui iklan, orang
sekitar dan dokter yang dapat mempengaruhi pelayanan kesehatan
yang diinginkan oleh pasien.
4. Faktor Ekonomi
a) Pendapatan
Pendapatan keluarga yang tinggi merupakan salah satu faktor
dalam

meningkatnya

demand

pelayanan

kesehatan,

karena

keluarga dengan pendapatan yang tinggi akan cenderung memiliki


pengeluaran

yang

lebih

besar

untuk

pelayanan

kesehatan

(Feldstein, 2006)
b) Harga
Hubungan tarif dengan demand terhadap pelayanan kesehatan
adalah negatif. Semakin tinggi tarif maka demand akan menjadi
semakin rendah. Sangat penting untuk dicatat bahwa hubungan
negatif ini secara khusus terlihat pada keadaan pasien yang
mempunyai pilihan. Pada pelayanan rumah sakit, tingkat demand
pasien sangat dipengaruhi oleh keputusan dokter. Keputusan dari
dokter mempengaruhi length of stay, jenis pemeriksaan, keharusan
untuk operasi, dan berbagai tindakan medik lainnya. Pada keadaan
yang membutuhkan penanganan medis segera, maka faktor tarif
mungkin tidak berperan dalam mempengaruhi demand, sehingga
elastisitas harga bersifat inelastis.
c) Jaminan atau asuransi kesehatan
Asuransi dan jaminan kesehatan dapat meningkatkan demand
terhadap pelayanan kesehatan, dengan demikian hubungan dari
asuransi kesehatan dan jaminan kesehatan terhadap demand
6

terhadap pelayanan kesehatan adalah bersifat positif. Pada negara


maju, faktor asuransi kesehatan menjadi penting dalam hal demand
pelayanan

kesehatan.

Sebagai

contoh,

di

Amerika

Serikat

masyarakat tidak membayar langsung ke pelayanan kesehatan,


tetapi melalui sistem asuransi kesehatan. Di samping itu, dikenal
pula program pemerintah dalam bentuk jaminan kesehatan untuk
masyarakat miskin dan orang tua.
d) Nilai waktu bagi pasien
Ketika harga pelayanan kesehatan diminimalkan maka seseorang
akan mempertimbangkan penggunaan waktu seperti jauh dekatnya
dengan tempat pelayanan kesehatan atau lama waktu tunggu
sebelum mendapat pelayanan kesehatan juga akan mendapat
perhatian dari konsumen.
Adapun rumus untuk demand pada pelayanan kesehatan yaitu sebagai
berikut:
Qdmc= f (insiden penyakit, provider karakteristik budaya- demografi,
factor ekonomi, dll)

2.3. Perbedaan Demand Pelayanan Kesehatan Dengan Demand Produk


Secara Umum.
Banyak tokoh yang menguraikan konsep mengenai demand kesehatan
dan demand sektor ekonomi /komoditi yang lain. Grossmen pada tahun
1972,menguraikan berbagai hal yang membedakan
kesehatan

dengan

mengenai demand

pendekatan tradisional mengenai demand terhadap

sektor lain:
1. Yang diinginkan masyarakat atau konsumen adalah kesehatan bukan
pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan merupakan derived demand
sebagai input untuk menghasilkan kesehatan. Kebutuhan penduduk
meningkat, penyakit semakin kompleks, dan teknologi kedokteran serta
perawatan yang semakin tinggi menuntut tersedianya dana untuk
investasi, operasional, dan pemeliharaan.
2. Masyarakat tidak membeli kesehatan dari pasar secara pasif, masyarakat
menghasilkannya, menggunakan waktu untuk usaha-usaha peningkatan
kesehatan, di samping menggunakan pelayanan kesehatan.
3. Kesehatan dapat dianggap sebagai bahan investasi karena tahan lama
dan tidak terdeprisiasi dengan segera.
7

4. Kesehatan dapat dianggap sebagai bahan konsumsi sekaligus sebagai


bahan investasi.
Dari uraian diatas maka demand pelayanan kesehatan berbeda dengan
demand dibidang ekonomi disebabkan karena Permintaan (demand)
pelayanan kesehatan adalah pelayanan yang sesungguhnya dibeli oleh
customer pelayanan kesehatan, dalam hal ini adalah pasien. Permintaan
tersebut dipengaruhi oleh pendapat medis dari dokter dan juga faktor lain
seperti pendapatan dan harga obat.
Perbedaan demand kesehatan dengan

demand sektor lain ini

disebabkan oleh beberapa hal,seperti :


1. Pada

dasarnya

orang

tidak

menyukai

pelayanan

kesehatan berbeda dengan pakaian, rumah, mobil.Yang diharapkan


konsumen dalam pelayanan kesehatan adalah cepat sehat.
2. Konsumer pelayanan kesehatan berada dalam posisi lemah dan sangat
ditentukan oleh pemberi yankes.
3. Demand yang terjadi bukan keputusan konsumerwalaupun memutuskan
dimana

mau

berobat

tapitidak

bisa

memutuskan

jenis

perawatan/pengobatanuntuknya
Berikut adalah perbedaan demand pelayanan kesehatan dengan
demand produk secara umum :
Tabel 1.1 Perbedaan Demand pelayanan kesehatan dengan produk
secara umum
Komponen Pembeda
Pengertian

Pelayanan kesehatan
Produk secara umum
Demand
Pelayanan Demand
produk
Kesehatan

adalah secara umum adalah

permintaan untuk lebih sesuatu

yang

sehat diwujudkan dalam diinginkan

oleh

perilaku

dan

mencari konsumen

pelayanan kesehatan dan disesuaikan


terkadang
tersebut
dengan

permintaan kekuatan SDM yang


tidak

provider
Provider

sesuai dimiliki konsumen

keuangan

konsumen
Jenis
Demand turunan
Faktor yang paling Insiden penyakit
mempengaruhi
Pengambil

dengan

Demand langsung
dan Harga
Konsumen

keputusan
8

Pengetahuan

Asymetrik

Konsumen

dimana

knowledge
wawasan

Pengetahuan

dan konsumen bisa saja

pengetahuan dokter jauh sama


diatas konsumen

dengan

produsen atau bisa


lebih rendah

Demand pelayanan kesehatan berbeda dengan demand produk secara


umum disebabkan oleh:
a. Pelayanan kesehatan merupakan derived demand atau demand
turunan
Pelayanan kesehatan merupakan derived demand atau demand
turunan maksudnya permintaan terhadap suatu barang atau jasa
yang muncul sebagai akibat dari permintaan terhadap barang atau
jasa yang lain. Seorang pasien menginginkan suatu pelayanan
kesehatan dikarenakan pasien tersebut sakit dan menginginkan
kesehatan. Jika pasien tersebut tidak sakit, maka dia tidak akan
menginginkan pelayanan kesehatan. Sedangkan demand produk
secara umum adalah keinginan terhadap produk spesifik yang
didukung oleh kemampuan dan kesediaan untuk membelinya.
Demand atau permintaan merupakan jumlah dari suatu barang yang
mau dan mampu dibeli pada berbagai kemungkinan harga, selama
jangka waktu tertentu, dengan anggapan berbagai hal lain tetap sama
(ceteris

paribus)..Dengan

demikian,

demand

untuk

pelayanan

kesehatan berbeda dengan demand secara umum.


b. Faktor yang paling mempengaruhi demand pelayanan kesehatan
adalah Insidence of ilness dan provider
Dalam pelayanan kesehatan, faktor yang paling berpengaruh
adalah insiden penyakit dan provider, bukan harga. Hal ini
dikarenakan jika seseorang menginginkan pelayanan kesehatan
dalam keadaan emergency, maka harga yang harus dibayarkan tidak
akan dipikirkan meskipun itu tidak sesuai dengan kemampuannya.
Pasien

tersebut

akan

meminta

tindakan

yang

terbaik

untuk

kesembuhannya tanpa memikirkan konsekuensinya. Selain insisden


penyakit, faktor lain yang paling berpengaruh adalah provider
pelayanan kesehatan. Jenis pelayanan kesehatan yang diterima
pasien ditentukan oleh povider, karena dalam pelayanan kesehatan
9

provider adalah pengambil keputusan. Provider pelayanan kesehatan


merupakan penentu demand pelayanan kesehatan baik itu jenis
perawatannya dan obat yang harus dikonsumsi walaupun konsumen
masih dapat menentukan dimana tempat dia akan mendapatkan
pelayanan kesehatan, akan tetapi konsumen tidak memiliki wewenag
untuk menentukan jenis perawatan. Karena di dalam demand
pelayanan kesehatan, pasien selalu menyerahkan semua keputusan
kepada tenaga medis yang bersangkutan karena mereka anggap itu
keputusan yang paling tepat dalam proses penyembuhannya.
c. Adanya asymetric knowledge pada demand pelayanan kesehatan
Petugas medis dalam demand pelayanan kesehatan tentunya
mempunyai pengetahuan yang lebih daripada pasiennya, ini disebut
dengan asymetrik knowledge yaitu ketidak seimbangan pengetahuan
dari pihak pemberi pelayanan kesehatan terhadap pengguna jasa
pelayanan kesehatan (pasien). Hal ini tentunya

berbeda dengan

demand produk secara umum yang bisa saja pengetahuan konsumen


lebih tinggi, sama, atau lebih rendah daripada produsen.
informasi

tentang

bagaimana

pelayanan

kesehatan

untuk

penyembuhan suatu penyakit hanya dikuasai dan dipahami oleh


provider.

Dengan

ketidak-pahamannya,

pasien

pasrah

untuk

menyerahkan upaya penyembuhannya sepenuhnya kepada provider.


Sifat asimetri ini memudahkan timbulnya demand creation yang
menyebabkan keseimbangan pasar tidak bisa tercapai di dalam
pelayanan kesehatan. Oleh karena itu di dalam pelayanan kesehatan,
adanya peningkatan supply tidak menyebabkan turunnya harga dan
kualitas.
d. Pengambil keputusan adalah provider, bukan konsumen
Dalam hal pengambilan keputusan,

provider memiliki peran

ganda dalam pelayanan kesehatan yaitu:


c. Sebagai advisor
Dikatakan sebagai advisor apabila dikaitkan dengan
adanya saran atau nasihat dari provider kesehatan tentang suatu
pelayanan kesehatan bagi pasien yang dapat menimbulkan suatu
permintaan terhadap pelayanan kesehatan itu sendiri. Dalam hal
seperti ini biasanya pasien jarang menolak saran yang diberikan
10

oleh provider, dikarenakan adanya kesenjangan pengetahuan


antara provider kesehatan dan pasien.
d. Sebagai supplier
Dikatakan sebagai

supplier apabila provider kesehatan

memberikan tindakan pada pasien, sehingga dapat membuat


suatu permintaan pelayanan kesehatan yang sesuai. Namun,
terkadang peran sebagai supplier

ini dapat menimbulkan efek

menjerumuskan pasien (demand creation)

yang negatif.

Misalnya karena adanya tindakan atau pemeriksaan tambahan


bagi pasien yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.
Adanya peran ganda yang dimiliki oleh provider ini, maka dapat
menyebabkan timbulnya

moral hazard. Moral hazard mempunyai

dua bentuk, pertama konsumen yang merasa tidak ada beban biaya
apa pun pada saat melakukan konsumsi komoditi pelayanan
kesehatan

akan

cenderung

menggunakan

pelayanan

yang

berlebihan yang menimbulkan ketidakefisienan. Sementara itu, yang


kedua, produsen yang mengetahui bahwa konsumennya dilindungi
oleh

asuransi

penggunaan

kesehatan
pelayanan

cenderung
kesehatan

akan
yang

menginstruksikan
semestinya

tidak

dipergunakan
Untuk mengatasi demand creation yang negatif, maka hal yang
harus dilakukan antara lain :
1. Meningkatkan pengetahuan pasien.
Pasien kurang mempunyai informasi tentang segala sesuatu
yang

menyangkut

pelayanan

kesehatan.

Kejadian

ini

disebabkan oleh sifat komoditi pelayanan kesehatan yang


akhirnya mengacu kepada situasi dimana provider yang secara
efektif

sering

bertindak

untuk

melakukan

permintaan

(demanding). Untuk menunjang hubungan tersebut dapat


beroperasi secara efisien, diperlukan tiga kelompok informasi
yaitu:
i.

Pengetahuan dasar mengenai masalah medis

ii.

Keterangan tentang keadaan pasien

iii.

Informasi tentang penilaian pasien sendiri mengenai


penyakit yang tengah dideritanya.
11

Dengan demikian, apabila pengetahuan pasien meningkat,


maka

kemungkinan

provider

untuk

menambahkan

jenis

pelayanan akan menurun.


2. Pembentukan Komite Medik di Rumah Sakit
Komite

medic

dibentuk

dengan

tujuan

untuk

menyelenggarakan tata kelola klinis (clinical governance) yang


baik agar mutu pelayanan medis dan keselamatan pasien lebih
terjamin dan terlindungi. Tugas dan fungsi komite medis menurut
Permenkes RI 2011nomor 755/MENKES/PER/IV/2011 Tentang
Penyelenggaraan

Komite Medik Di Rumah Sakit adalah

sebagai berikut :
a. Komite

medic

mempunyai

tugas

meningkatkan

profesionalisme staf medis yang bekerja di rumah sakit


dengan cara :
1. Melakukan kredensial bagi seluruh staf medis yang akan
melakukan pelayanan medis di rumah sakit.
2. Memelihara mutu profesi staf medis
3. Menjaga disiplin, etika, dan perilaku profesi staf medis
b. Dalam

melaksanakan

tugas

kredensial

komite

medic

memiliki fungsi sebagai berikut :


1. Penyusunan dan pengkompilasian daftar kewenangan
klinis sesuai dengan masukan dari kelompok staf medis
berdasarkan norma keprofesian yang berlaku.
2. Penyelenggaraan pemeriksaan dan pengkajian:
a. kompetensi
b. kesehatan fisik dan mental
c. perilaku
d. etika profesi
3. Evaluasi

data

pendidikan

profesional

kedokteran/

kedokteran gigi berkelanjutan


4. Wawancara terhadap pemohon kewenangan klinis
5. enilaian

dan

pemutusan

kewenangan

klinis

yang

adekuat.
6. Pelaporan hasil penilaian kredensial dan menyampaikan
rekomendasi kewenangan klinis kepada komite medik
12

7. Melakukan proses rekredensial pada saat berakhirnya


masa berlaku surat penugasan klinis dan adanya
permintaan dari komite medik
8. Rekomendasi kewenangan klinis dan penerbitan surat
penugasan klinis.
c. Dalam melaksanakan tugas menjaga disiplin, etika, dan
perilaku profesi staf medis komite medik memiliki fungsi
sebagai berikut :
1. Pembinaan etika dan disiplin profesi kedokteran
2. Pemeriksaan staf medis yang diduga melakukan
pelanggaran disiplin
3. Rekomendasi pendisiplinan pelaku profesional di rumah
sakit
4. Pemberian nasehat/pertimbangan dalam pengambilan
keputusan etis pada asuhan medis pasien
Pengawasan langsung dari komite medic akan mendorong
provider melakukan pelayanan hanya yang diperlukan saja.
Dengan demikian, adanya komite medis dapat mengatasi
terjadinya demand creation yang negatif
3. Memberikan provider financial incentive
Dengan adanya peningkatan insentif, maka kesejahteraan
financial provider

akan terjamin sehingga

provider

akan

menghindari/tidak melakukan pelayanan yang tidak perlu untuk


diberikan kepada pasien.
4. Mengubah biaya reimbursement menjadi capitation
System penggantian (reimbursement), peserta asuransi
harus mengeluarkan uang terlebih dahulu untuk membayar
biaya pelayanan kesehatan yang kemudian dapat meminta
penggantian ke perusahaan asuransi. Metode reimbursement
ini merupakan metode dimana pasien tidak membayar kepada
provider. Hal ini dikarenakan pasien telah membayar kepada
pihak pengelola asuransi.
Sehingga, provider yang nantinya akan mengklaim seluruh
biaya pelayanan kesehatan pasien kepada pihak asuransi

13

tersebut. Dengan metode ini, kemungkinan provider untuk


melakukan demand creation yang negatif akan sangat mungkin.
2.4. Elastisitas demand pelayanan kesehatan dan konsekuensinya.
2.4.1. Elastisitas Demand Pelayanan Kesehatan
Elastisitas

adalah

mengukur

seberapa

besar

responsif

perubahan jumlah barang akibat perubahan harga. Sedangkan


elastisitas harga atas permintaan adalah kepekaan jumlah barang
yang diminta terhadap perubahan harga barang tersebut, dengan
asumsi bahwa hal-hal lainnya tidak berubah.
Dengan demikian, elastisitas demand pelayanan kesehatan
adalah besarnya perubahan kuantitas dan kualitas pelayanan
kesehatan yang diminta kosumen/pasien akibat adanya perubahan
harga. Sehingga adanya perubahan terhadap elastisitas pelayanan
kesehatan, tetu akan menimbulkan konsekuensi tertentu.

Gambar : Kurva inelastis (A ke B) pada demand pelayanan kesehatan


Elastisitas pada demand pelayanan kesehatan bersifat inelastis.
Dikatakan

inelastis

karena

semakin

tinggi

harga

pelayanan

kesehatan maka demand pada pelayanan kesehatan tidak akan


berubah. Hal ini disebabkan karena harga bukanlah faktor dominan
yang mempengaruhi permintaan pelayanan kesehatan, melainkan
insiden penyakit.
Dalam

pelayanan

kesehatan,

permintaan

atau

demand

tergantung pada sifat urgensinya, yaitu :


1. Emergency
14

Pada

sifat

emergency

ini,

elastisitas

demand

dalam

pelayanan kesehatan tergolong inelastis. Pada penderita sakit


jantung mendadak misalnya. Hal ini karena keinginan seseorang
untuk sembuh dan tetap sehat memungkinkan mereka untuk
melakukan apa saja dan membayar berapa saja. Dengan
demikian, semakin emergency suatu keadaan, maka kurva dari
demand akan bersifat semakin inelastic bahkan inelastic
sempurna.
2. Non emergency
Pada sifat non emergency ini, elastisitas demand dalam
pelayanan kesehatan akan bersifat semakin elastis. Dalam
keadaan yang tidak darurat pasien cenderung memikirkan faktor
lain yang mempengaruhi salah satunya yaitu biaya. Misalnya,
dalam kadaan menderita migren, dimana sakit ini tidak terlalu
darurat atau memerlukan penanganan secepatnya, dan apabila
seorang dokter meresepkan pelayanan kesehatan A dimana
biayanya dirasa mahal, maka pasien akan lebih memilih membeli
obat bebas yang dirasa biayanya lebih murah dari pada
pelayanan kesehatan A.
3. Elective
Elektif adalah pelayanan kesehatan yang dipilih pasien
ataupun dokter yang bersifat tidak mendesak sehingga bisa
diatur

saat

pelaksanaannya.Misalnya

bedah

kosmetik,

sirkumsisi, dan operasi katarak. Sebagai contoh, seseorang akan


melakukan operasi hidung yang kurang mancung. Kemudian
dokter menawarkan harga yang bagi orang tersebut sangat
mahal. Dalam keadaan ini, demand pelayanan kesehatan akan
bersifat inelaastis pada pasien yang memiliki banyak uang.
Namun sebaliknya, pada pasien yang tidak memiliki cukup uang,
maka demand pelayanan kesehatan bersifat elastis.
2.4.2.

Konsekuensi Elastisitas Demand Dalam Pelayanan Kesehatan


Konsekuensi yang harus dilakukan pelayanan kesehatan pada
kondisi inelastis tersebut adalah dengan meningkatkan mutu
kualitas, diantaranya:
1. Menambahkan teknologi kesehatan yang belum lengkap pada
pelayanan kesehatan;
15

2. Meningkatkan kualitas sumber daya tenaga kesehatan;


3. Memberikan inovasi-inovasi yang tidak diberikan pada
pelayanan kesehatan di tempat lain;
4. Memberikan pelayanan terbaik pada pelanggan;
5. Memberikan fasilitas-fasilitas yang memadai
Tujuan dari peningkatan mutu kualitas pelayanan kesehatan
adalah agar mampu bersaing dengan pelayanan kesehatan yang
lain dalam mempertahankan dan memperoleh pelanggan yang lebih
banyak.

16

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1) Menurut (Kotler dan Andersen, 1995), permintaan adalah keinginan
terhadap produk spesifik yang didukung oleh kemampuan dan
kesediaan untuk membeli.
2) Permintaan

(demand)

pelayanan

kesehatan

adalah

pelayanan

kesehatan yang dibutuhkan dan diinginkan oleh pasien yang disertai


juga dengan daya beli yang dimiliki oleh pasien tersebut.
3) Faktor-faktor yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan antara
lain: Derajat kesakitan, Provider, Faktor sosio-demografi, dan faktor
ekonomi
4) Ada beberapa komponen yang menjadi pembeda antara demand
pelayanan

kesehatan dan

demand

secara umum

antara lain:

pengertian, jenis, faktor yang mempengaruhi, pengambil keputusan,


tujuan, pengetahuan konsumen
5) elastisitas demand pelayanan kesehatan adalah besarnya perubahan
kuantitas

dan

kualitas

pelayanan

kesehatan

yang

diminta

kosumen/pasien akibat adanya perubahan harga.

DAFTAR PUSTAKA
Andersen, Ronald et al.. 1975. Equity In Health : Empirical Analysis in Social
Policy. London : Cambridge Mall Bailinger Publishing.

17

Andhika. 2010. Analisis Permintaan Penggunaan Layanan Kesehatan Pada


Rumah Sakit Umum Milik Pemerintah Di Kabupaten Semarang.
Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.
.Anonim.

2014.

http://fk.uns.ac.id/static/materi/Ekonomi_Kesehatan_

_Prof_Bhisma_Murti.pdf diakses pada tanggal 16 September 2015 pukul


06.05 WIB.
Feldstein, Paul J. 2012. Health Care Economics (Seventh edition). USA: Delmar
Cengage Learning
Grossman, M .1972. On the Concept of Health Capital and TheDemand for
Health.Journal of Political Economics. 35:331-50.
Meisa, Yusrika 2012. Bengkulu.

Permintaan (Demand) Dalam Yankes.

http://www.scribd.com/doc/96634742/Makalah-Permintaan-DemandDalam-Pelayanan-Kesehatan (diakses pada tanggal 16 september 2015)


Noer. 2008. Permintaan dan Penawaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Trisnantoro, L.2009. Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi dalam Manajemen
Rumah Sakit. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

18