Anda di halaman 1dari 6

BAB V

PEMBAHASAN
Pasta merupakan sediaan berupa massa lunak yang dimaksudkan untuk pemakaian luar.
Biasanya dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang berbentuk serbuk dalam jumlah besar
dengan vaselin atau parafin cair atau dengan bahan dasar tidak berlemak yang dibuat dengan
gliserol, mucilago atau sabun (FI III). Sedangkan menurut DOM , Pasta biasanya disiapkan
dengan menambahkan sejumlah serbuk yang tidak larut yang signifikan (biasanya 20% atau
lebih) pada basis salep konvensional sehingga akan merubah aliran plastis dari salep menjadi
aliran dilatan.
Pasta gigi adalah salah satu bentuk sediaan kosmetik yang diperuntukan sebagai
pembersih gigi. Penggunaaanya pada gigi diharuskan menggunakan bahan-bahan tidak akan
menimbulkan reaksi negatif pada gigi seperti pengeroposan gigi, timbulnya plak atau gigi
berlubang akibat bakteri. Pemilihan bahan yang tepat harus memperhatikan juga sifat
karakteristik bahan dalam formulasi agar menghasilkan sediaan pasta gigi yang sesuai standar,
terutama dilihat dari pH dan viskositas sediaan tersebut.
Formula sediaan :
R/ CaCO3

40 %

Na-CMC

0,75 %

Gliserin

25 %

Na-Lauril Sulfat

4%

Na-Sakarin

0,2 %

Metil Paraben

0,18 %

Propil Paraben

0,02 %

Menthol

0,3 %

Aquadest

29,55 %

Berdasarkan definisi pasta, maka kelompok kami lebih memilih Calcium Carbonat
sebagai polishing dan abrasive agent dibandingkan dengan Natrium bicarbonate. Hal ini
dikarenakan , menurut FI IV hal.159, kalsium karbonat praktis tidak larut dalam air , sehingga
sediaan pasta yang dihasilkan memenuhi spesifikasi yaitu lebih kaku dan kental dibandingkan

salep, sebab terdapat hampir 50% kalsium karbonat yang sukar larut dalam air. Sedangkan jika
digunakan natrium bikarbonat dalam pembuatan pasta, maka konsistensi pasta tidak memenuhi
spesifikasi ,dimana pasta tidak kaku dikarenakan natrium bikarbonat larut dalam air,
sebagaimana kelarutannya adalah sangat mudah larut dalam air dan tidak larut dalam etanol
(Ditjen POM, 1995).
Pada praktikum kali ini, digunakan Na-sakarin sebagai pemanis . Na sakarin merupakan
pemanis buatan dengan intensitas kemanisan sakarin 200-700 kali gula. Karena pemanis buatan,
maka Na sakarin memiliki ADI. ADI (Acceptable Daily Intake) adalah batasan berapa banyak
konsumsi bahan tambahan yang dapat diterima dan dicerna setiap hari sepanjang hayat tanpa
mengalami resiko kesehatan. Karena pada praktikum kali ini digunakan na sakarin dalam sediaan
pasta gigi, maka ADI tidak terlalu diperhitungkan karena cukup kecil kemungkinan pasta gigi
tertelan.
Sediaan pasta gigi yang dibuat menggunakan bahan Kalsium Karbonat yang berfungsi
sebagai penghilangkan partikel makanan yang menempel pada gigi, membantu menghilangkan
diskolorisasi pada gigi dan juga memperkuat gigi agar tidak mudah keropos. Sediaan pasta gigi
ini menggunakan glycerin yang digunakan agar mampu mempertahankan air agar tidak terjadi
pengeringan pada sediaan pasta dan biasa dipakai dalam basis sediaan pasta gigi. Dengan
menggunakan bahan tersebut kelembapan pasta gigi akan sangat terjaga karena bahan-bahan
yang digunakan dalam formulasi pasta gigi ada yang dapat bereaksi dengan udara dan dapat
menggurangi kadar air.
Sebagai kosmetika kesehatan mulut, pasta gigi haruslah mampu menimbulkan busa dan
mudah dibersihkan, hal-hal tersebut dapat dibuktikan dengan pencucian menggunakan air,
setelah diberi air ternyata menghasilkan busa dan mudah sekali dibersihkan dengan air tanpa
perlu waktu yang lama. Hal tersebut dikarenakan pembuatanya yang menggunakan bahan
pembusa yang sesuai takaran dan sedikitnya kadar minyaknya yaitu gliserin yang sesuai
sehingga cukup dibersihkan dengan air.
Sediaan pasta gigi haruslah memiliki derajat keasaman yang sesuai dengan bahan bahan
yang digunakan dimana bahan yang digunakan terdiri dari bahan yang memiliki pH basa dan
netral sedangkan pH mulut adalah netral. Mulut yang bersifat asam atau dalam keadaan asam
dapat membuat bakteri banya bersarang didalamnya sehingga keamanan kesehatan mulut dan

gigi kurang terjaga. pH pasta gigi yang sudah ada juga memiliki Ph, apabila pasta gigi dipakai
akan mengurangi derajat keasaman mulut sehingga bakteri tidak dapat merusak gigi.
Sediaan pasta gigi haruslah memiliki kekentalan yang tinggi, Hal tersebut dikarenakan
persyaratan persediaan pasta yang sedikit mengandung air didalamnya. Kekentalan yang besar
sesuai dengan persyaratan pasta yang mengharuskan memiliki kekentalan yang tinggi. Oleh
karena itu pasta gigi harus kental dan tidak boleh terlalu cair seperti air.
Wadah yang digunakan adalah tube plastik yang tertutup baik. Pemilihan wadahnya
bersifat khusus ini karena bahan-bahan yang terkandung dalam sediaan mudah bereaksi dengan
cahaya yaitu mudah teroksidasi. Selain itu, wadah tube plastik lebih ekonomis dan praktis dari
pada tube dari besi sebagai bentuk kemasan pasta gigi.
Antara pasta dan gel gigi, sebenarnya memiliki konsistensi yang hampir mirip. Menurut
para ahli kesehatan, kedua jenis bahan ini tetap membersihkan gigi dengan baik, Selain cita rasa,
tekstur, atau bagaimana pasta gigi itu berpengaruh pada perasaan pemakainya, tidak ada
perbedaan besar dari bentuk-bentuk bahannya. Memilih pasta gigi atau gel gigi, ini tergantung
pilihan masing-masing konsumen. Pada praktikum kali ini , dipilih sediaan pasta selain karena
bentuk sediaan tersebut lebih umum untuk gigi , bahan abrasive dan polishing yang digunakan
(CaCO 3) sukar larut dalam air . Sehingga akan timbul masalah jika dibuat sediaan gel (hidrofilik
gel), dimana kandungan terbesar adalah air.
Jika abrasive polishing agent yang digunakan untuk membersihkan gigi adalah natrium
bikarbonat , maka cocok sekali jika sediaan dibuat dalam bentuk gel gigi. Sodium bikarbonat
adalah bahan kimia berbentuk kristal putih yang larut dalam air, bahan ini banyak digunakan
dalam industri pembuatan gel gigi dan pembersih gigi. Sodium bikarbonat merupak agen
effervescent yang menghasilkan pembersihan kimia pada gigi.(Anonim, 2012)
Flouride adalah bahan kimia alami yang memperkuat enamel (email), lapisan luar yang
keras pada gigi. Flouride membantu mencegah kerusakan gigi dan membantu memperbaiki
kerusakan dini pada gigi. Fluoride adalah senyawa kimia yang digunakan sebagai salah satu
bahan untuk membuat pasta gigi. Senyawa ini dipercaya mampu memperkuat gigi, namun
ternyata berbahaya jika dikonsumsi. Jika tertelan, senyawa fluoride bisa terakumulasi dalam
tubuh, terutama pada tulang dan kelenjar. Kadar fluoride yang terlalu tinggi jelas mampu
mengacaukan fungsi organ penting dalam tubuh. Itulah sebabnya kenapa kita harus meludahkan
pasta gigi setelah menggosok gigi, agar jangan ada larutan fluorida yang ikut tertelan.

Fluoride adalah racun yang bisa menyebabkan berkurangnya aktifitas kelenjar thyroid,
menyebabkan dpresi, kelelahan, bertambah berat badan, sakit otot, meningkatnya tingkat
kolesterol dan sakit jantung. 1 PPM Fluoride saja bisa merusak otak sehingga menyebabkan
Alzheimer dan jenis lain dari kegilaan. Selain itu terdapat juga berbagai macam penyakit akibat
penggunaan fluoride seperti osteoporosis (keropos tulang) , arthritis (asam urat) , keretakan pada
tulang pinggung, kanker, kemandulan,kerusakan otak , penyakit Alzheimer dan tidak
berfungsinya thyroid. (Jerry Duane Gray,2005)
Flouride sebenarnya penting atau dibutuhkan tetapi tidak boleh berlebihan. Secara
sistemik fluoride sangat dibutuhkan dalam perkembangan gigi pada masa mineralisasi gigi agar
email menjadi lebih tahan terhadap karies. Benih gigi dibentuk pada waktu janin masih dalam
kandungan dan masa kanak-kanak. Mineralisasi gigi sulung dimulai pada waktu janin berusia 5
bulan dalam kandungan.
Pada gigi permanen, mineralisasi pertama adalah pada gigi geraham pertama bawah,
dimulai beberapa minggu pertama setelah bayi lahir. Gigi yang terakhir dibentuk adalah gigi
geraham ke tiga, mineralisasinya dimulai pada usia 9 tahun.
Secara fisiologis, flour terdapat dalam tulang dan gigi. Fluor dapat dikonsumsi melalui air
minum, makanan seperti ikan, sayur-sayuran, dan susu, atau diberikan dalam bentuk suplemen
seperti tablet atau gel. Pemberian suplemen ini biasanya diberikan sejak anak berusia setahun
atau dua tahun, dan diulang setahun kemudian. Di usia 2 tahun, biasanya gigi anak masih bagus,
sehingga proses fluorisasi bisa maksimal.
Setelah ditemukannya pasta gigi, fluor mulai terkandung dalam pasta gigi. Termasuk
dalam pasta gigi anak-anak. Fluor dalam bentuk pasta gigi dapat meningkatkan daya tahan gigi
terhadap karies. Menurut penelitian, penggunaan pasta gigi yang mengandung fluor dapat
menurunkan angka kejadian karies sebesar 24% termasuk pada gigi yang baru erupsi (muncul di
rongga mulut).
Gigi yang baru erupsi rentan terhadap karies karena mineralisasinya belum selesai,
terutama pada gigi geraham pertama permanen bawah yang mahkotanya memiliki parit-parit
dalam. Pada anak.rata-rata gigi erupsi di usia enam tahun, dan mineralisasinya selesai kira-kira

empat tahun setelah gigi erupsi. Pada saat ini kebutuhan akan fluoride harus terpenuhi agar gigi
anak terbentuk dengan baik.
Fluoride memang sangat penting bagi gigi, tapi pemberiannya pun tidak boleh
berlebihan. Terutama kandungan fluoride yang terdapat dalam pasta gigi anak yang kadarnya
kadang-kadangan sangat tinggi. Anak-anak seringkali menelan pasta gigi karena rasanya yang
mirip buah-buahan atau permen. Bila ini terjadi terus menerus dalam waktu yang lama,
dikhawatirkan terjadi kelebihan fluoride yang dapat menimbulkan fluorosis atau osteoporosis,
dan kerusakan sistem syaraf.
Pada dasarnya, pasta gigi mengandung berbagai jenis fluoride. Fluoride yang banyak
digunakan adalah jenis sodium monofluoro fosfat (MFP). Kandungan ini dapat tertelan atau
sengaja ditelan oleh anak saat mereka menyikat giginya atau melalui air ludah. Inilah yang dapat
menyebabkan overdosis fluoride.
Anak-anak yang mengalami kelebihan fluoride dapat dilihat dari tanda-tanda fisik seperti:
banyak mengeluarkan ludah, indera perasa jadi tumpul, badan gemetar, pernafasan berat dan
anak jadi cepat lelah.Untuk menghindari hal ini ,maka pada praktikum ini dipilih sediaan pasta
gigi yang tidak mengandung fluoride agar aman digunakan oleh anak-anak.
Menurut Angela (2005), tujuan penggunaan fluor adalah untuk melindungi gigi dari
karies, fluor bekerja dengan cara menghambat metabolisme bakteri plak yang dapat
memfermentasi karbohidrat melalui perubahan hidroksil apatit pada enamel menjadi fluor apatit
yang lebih stabil dan lebih tahan terhadap pelarutan asam. Reaksi kimia : Ca10(PO4)6(OH)2+F
Ca10(PO4)6(OHF) menghasilkan enamel yang lebih tahan asam sehingga dapat menghambat
proses demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi. Remineralisasi adalah proses perbaikan
kristal hidroksiapatit dengan cara penempatan mineral anorganik pada permukaan gigi yang telah
kehilangan mineral tersebut (Kidd dan Bechal, 1991). Demineralisasi adalah proses pelarutan
kristal hidroksiapatit email gigi, yang terutama disusun oleh mineral anorganik yaitu kalsium dan
fosfat, karena penurunan pH plak sampai mencapai pH kritis (pH 5) oleh bakteri yang
menghasilkan asam (Rosen, 1991;Wolinsky, 1994). Selain itu fluoride juga bekerja dengan cara
menghambat sistem enzim mikrobiologi yang merubah karbohidrat menjadi asam dalam plak

gigi dan adanya efek bakteriostatik yang menghambat kolonisasi bakteri pada permukaan gigi
(Lubis, 2001)