Anda di halaman 1dari 2

Tata Laksana

Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian


penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Reposisi tidak
dilakukan pada hernia inguinalis strangulate, kecuali pada pasien anak. Reposisi dilakukan
secara bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia sambil membentuk corong sedangkan tangan
kanan mendorongnya ke arah cincin hernia dengan sedikit tekanan perlahan yang tetap sampai
terjadi reposisi. Pada anak-anak, inkarserasi lebih sering terjadi pada usia di bawah 2 tahun.
Reposisi spontan lebih sering terjadi dan sebaliknya, gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi
dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh cincin hernia pada anak lebih
elastis. Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak menggunakan sedative dan kompres es di
atas hernia. Bila reposisi berhasil, anak disiapkan untuk operasi pada hari berikutnya. Jika
reposisi hernia tidak berhasil, operasi harus segera dilakukan dalam waktu 6 jam.
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional.
Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia terdiri atas
herniotomi dan hernioplasti.
Pada herniotomi, dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong
dibuka, dan isi gernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian di reposisi. Kantong hernia
dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil annulus inguinalis internus dan
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting dalam mencegah
terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi.

Komplikasi
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi hernia dapat
tertahan dalam kantong hernia pada hernia ireponibel. Hal ini dapat terjadi kalau isi hernia terlalu
besar, misalnya terdiri atas omentum, organ ekstraperitoneal atau merupakan hernia akreta.
Disini tidak timbul gejala klinis kecuali berupa benjolan. Isi hernia dapat pula tercekik oleh
cincin hernia sehingga terjadi hernia inkarserata yang menimbulkan gejala obstrukti usus yang
sederhana. Sumbatan dapat terjadi total atau parsial seperti pada hernia Richter. Bila cincin
hernia sempit, kurang elastic atau lebih kaku seperti pada hernia femoralis dan hernia
obturatoria, lebih sering terjadi jepitan parsial. Jarang terjadi inkarserasi retrograde, yaitu dua
segmen usus terperangkap di dalam kantong hernia dan satu segmen lainnya berada dalam
rongga peritoneum seperti huruf W.
Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada
permulaan, terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur di dalam hernia

dan transudasi ke dalam kantong hernia. Timbulnya udem menyebabkan jepitan pada cincin
hernia makin bertambah, sehingga akhirnya peredaran darah jaringan terganggu (strangulasi). Isi
hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat berupa cairan serosanguinus.
Kalau isi hernia terdiri atas usus dapat terjadi perforasi yang akhirnya menimbulkan abses lokal,
fistel atau peritonitis jika terjadi hubungan dengan rongga perut.
Gambaran klinis hernia inkaserata yang berisi usus dimulai dengan gambaran obstruksi
usus disertai gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa. Bila telah terjadi
strangulasi karena gangguan vaskularisasi, akan terjadi gangrene sehingga gambaran klinis
menjadi toksik, suhu tubuh meninggi dan terdapat leukositosis. Penderita mengeluh nyeri lebih
hebat di tempat hernia. Nyeri akan menetap karena rangsangan peritoneal.
Pada pemeriksaan lokal ditemukan benjolan yang tidak dapat dimasukkan kembali
disertai nyeri tekan dan tergantung keadaan isi hernia, dapat dijumpai tanda peritonitis atau abses
lokal. Hernia strangulata merupakan keadaan gawat yang perlu mendapat pertolongan segera.