Anda di halaman 1dari 10

Therapeutic Drug Monitoring (TDM)

BAB I
Pendahuluan
Pengertian Therapeutic Drug Monitoring (TDM) juga dikenal dengan istilah Drug
Therapy Monitor yang artinya adalah Pengawasan terhadap kadar atau tingkatan
obat didalam darah.
Tujuan dan tugas dari TDM ini sendiri sebenarnya adalah untuk mengukur kadar
atau level obat yang ada di dalam darah, dengan begitu, maka dosis obat yang
efektif dalam darah dapat ditentukan, sehingga dapat mencegah terjadinya
keadaan toksik atau keracunan obat di dalam tubuh.
TDM ini juga seringkali dimanfaat kan untuk mengidentifikasi pasien atau
penderita yang tidak patuh (biasanya untuk pasien yang dengan alasan apapun
berusaha untuk tidak menaati dosis obat yang telah diberikan oleh dokter
dengan tujuan pengobatan)
Karena sangat banyak faktor yang mempengaruhi kadar obat dalam darah, maka
ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan dijadikan sebagai acuan
dalam melaksanakan TDM ini yaitu sebagai berikut :
1. Usia Pasien
2. Berat badan pasien
3. Rute pemberian obat
4. Absorpsi obat
5. Eksresi obat
6. Dosis yang diberikan
7. Cara Metabolisme obat dalam tubuh
Faktor faktor lain yang juga harus diperhatikan adalah :
1. jika pasien tersebut juga mengkonsumsi obat - obat lain secara bersamaan.
2. Jija ada penyakit lain yang juga diderita oleh pasien.
3. Serta kepatuhan pasien terhadap peraturan dalam penggunaan obat sesuai
dengan ketentuan dokter
4. Cara - cara yang digunakan oleh laboratorium untuk melakukan test atau uji
coba untuk obat tersebut.
TDM adalah alat praktis yang dapat membantu dokter memberikan terapi obat
yang efektif dan aman pada pasien yang memerlukan obat-obatan. Monitoring
dapat digunakan untuk mengkonfirmasi tingkat konsentrasi obat dalam darah
apakah berada dalam batas atas atau di bawah rentang terapi, atau jika efek
terapi yang diinginkan dari obat ini tidak seperti yang diharapkan. Jika kasus
seperti ini terjadi maka hal tersebut dapat berbahaya terhadap tubuh sebab
toksisitas obat dalam tubuh akan meningkat, tetapi dengan adanya TDM maka
keadaan tersebut dapat segera diatasi tanpa memakan banyak waktu.
TDM sangat penting bagi pasien yang memiliki penyakit lain yang mungkin
dapat mempengaruhi kadar obat dalam darah, atau bagi pasien yang
menggunakan obat obatan lain secara bersamaan yang mungkin dapat

mempengaruhi kadar obat karena berinteraksi dengan obat yang sedang diuji.
Sebagai contoh, tanpa pengawasan obat maka dokter tidak dapat mengetahui
dengan pasti bahwa kurangnya respons terhadap antibiotik mencerminkan
resistensi bakteri Atau adalah hasil dari ketidakmampuan untuk mencapai
berbagai terapi konsentrasi antibiotik yang memadai dalam darah. Dalam kasus
infeksi fatal, waktu terapi antibiotik yang efektif sangat penting bagi
keberhasilan. Hal ini juga penting untuk menghindari toksisitas pada pasien sakit
parah. Jadi, jika muncul gejala toksik dengan dosis standar, TDM dapat
digunakan untuk menentukan perubahan di dalam campuran.
Setelah proses monitoring dalam tubuh selesai maka tahap selanjutnya yang
peru dilakukan adalah melakukan uji test sample darah pasien , Hal tersebut
dilakukan untuk menunjukkan aksi obat dalam tubuh pada waktu tertentu,
sedangkan pemeriksaan juga dapat dilakukan melalui sampel urin untuk
mengetahui kadar obat yang ada di dalam urin, karena hal tersebut dapat
mencerminkan keberadaan obat untuk beberapa hari yang akan datang
(tergantung pada tingkat ekskresinya). Oleh karena itu, tes darah adalah
prosedur yang menjadi pilihan utama jika ingin melakukan uji coba untuk
mendapatkan data yang lebih akurat. Namun, untuk mengetahui penjelasan
yang lengkap tentang kadar absorpsi dan tingkat terapi secara tepat , Adalah
penting untuk memberikan waktu yang cukup antara pemberian obat dan koleksi
sampel darah

BAB II
Ruang Lingkup Dan Faktor - Faktor yang Mempengaruhi
Drugs Therapeutic Monitoring(TDM)
1. Ruang Lingkup
Sebenarnya Drugs Therapeutic Monitoring atau pengawasan terhadap terapi
obat erat kaitannya dengan ilmu farmakokinetik, sebab seperti yang telah kita
ketahui pengertian dari farmakokinetika itu sendiri adalah segala proses yang
dilakukan tubuh terhadap obat berupa absorpsi, distribusi, Metabolisme,
(biotransformasi), dan eksresi. dimana Tubuh kita dapat dianggap sebagai suatu
ruangan besar yang terdiri dari beberapa kompartemen yang terpisah oleh
membran - membran sel. Sedangkan proses absorpsi distribusi dan eksresi obat
dari dalam tubuh pada hakekatnya berlangsung dengan mekanisme yang sama,
karena proses ini tergantung pada lintasan obat melalui membran tersebut.
Membran sel terdiri dari suatu lapisan lipoprotein ( lemak dan protein ) yang
mengandung banyak pori - pori kecil, terisi dengan air. Membran dapat ditembus
dengan mudah oleh zat - zat tertentu, sukar dilalui zat - zat lain, maka disebut
semi permeable. Zat - zat lipofil (suka lemak) yang mudah larut dalam lemak
tanpa muatan listrik umumnya lebih lancar melintasinya dibandingkan dengan
zat - zat hidrofil dengan muatan ( ion).
Adapun mekanisme pengangkutan obat untuk melintasi membran sel ada dua

cara yaitu :
a. Secara pasif , artinya tanpa menggunakan energi.
Filtrasi , melalui pori - pori kecil dari membran misalnya air dan zat - zat hidrofil
Difusi, zat melarut dalam lapisan lemak dari membran sel contoh ion organik
b. Secara aktif, artinya menggunakan energi.
Pengangkutan dilakukan dengan mengikat zat hidrofil (makromolekul atau ion)
pada enzim pengangkut spesifik. Setelah melalui membran, obat dilepaskan lagi.
Cepatnya penerusan tidak tergantung pada konsentrasi obat, Contohnya :
Glukosa, asam amino, asam lemak, garam garam, besi, vitamin b1 , b2 , b12
2. Faktor faktor yang mempengaruhi Drugs Therapeutic Monitoring
A. Absorpsi
Proses absorpsi sangat penting dalam menentukan efek obat. Pada umumnya
obat yang tidak diabsorpsi maka tidak akan menimbulkan efek, Kecuali antasida
dan obat yang bekerja lokal. Proses absorpsi terjadi di berbagai tempat
pemberian obat, misalnya melalui alat cerna, otot rangka, kulit dan sebagainya.
Absorpsi juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
1. Kelarutan obat.
2. Kemampuan difusi melintasi sel membran.
3. Konsentrasi obat.
4. Sirkulasi pada letak absorpsi.
5. Luas permukaan kontak obat.
6. Bentuk sediaan obat.
7. Cara pemakaian obat.
B. Distribusi
Obat setelah diabsorpsi oleh tubuh maka selanjutnya akan tersebar melalui
sirkulasi darah ke seluruh badan dan harus melalui membran sel agar tercapai
tepat pada efek aksi. Molekul obat yang mudah melintasi membran sel akan
mencapai semua cairan tubuh baik inta maupun ekstra sel. sedangkan obat yang
sulit menembus membran sel maka penyebarannya umumnya terbatas pada
cairan ekstra sel.
kadang - ikadang beberapa obat mengalami kumulatif selektif pada beberapa
jaringan tertentu, karena adanya proses transpor aktif, pengikatan dengan zat
tertentu atau daya larut yang lebih besar dalam lemak. Kumulasi ini digunakan
sebagai gudang obat (yaitu protein plasma, umumnya albumin, jaringan ikat dan
jaringan lemak). selain itu ada beberapa tempat lain misalnya tulang, organ
tertentu, dan cairan transel yang dapat berfungsi sebagai gudang untuk
beberapa obat tertentu. Distribusi obat kesusunan saraf pusat dan janin harus
menembus sawar khusus yaitu sawar darah otak dan sawar uri. Obat yang
mudah larut dalam lemak pada umumnya mudah menembusnya.
C. Metabolisme ( biotransformasi)
Tujuan biotransformasi obat adalah mengubahnya dengan cara sedemikian rupa
sehingga menjadi bentuk yang mudah dieksresi oleh ginjal, dalam hal ini
menjadikannya lebih hidrofil.
Pada umumnya obat dimetabolisme oleh enzim mikrosom dan retikulum
endoplasma sel hati. Pada proses metabiolisme molekul obat dapat berubah sifat

antara lain menjadi lebih polar, Metabolit yang lebih polar ini menjadi mudah
dieksresi melalui ginjal. Metabolit obat dapat lebih aktif dari obat asal
(bioaktivasi), tidak atau berkurang aktif (detoksifikasi atau bioinaktivasi) atau
sama aktifitasnya.
Proses metabolisme ini memegang peranan penting dalam mengakhiri efek obat.
Hal - hal yang dapat mempengaruhi metabolisme adalah sebagai berikut :
1. Fungsi hati, metabolisme dapat berlangsung lebih cepat atau lebih lambat,
sehingga efek obat menjadi lebih lemah atau lebih kuat dari yang kita harapkan
2. Usia, pada bayi proses metabolisme akan berjalan lebih lambat
3. Faktor genetik (turunan), ada orang yang memiliki faktor genetik tertentu
yang dapat menimbulkan perbedaan khasiat obat pada pasien.
4. Adanya pemakaian obat lain secara bersamaan, hal tersebut dapat
mempercepat metabolisme (inhibisi enzim).
D. Eksresi
Pengeluaran obat maupun metabolitnya dari tubuh terutama dilakukan oleh
ginjal melalui air seni dan dikeluarkan dalam bentuk metabolit maupun bentuk
asalnya. disamping itu ada pula cara lain yaitu :
1. Kulit, bersama keringat. Misal : paraldehid
2. Paru - paru, dengan pernafasan keluar, terutama berperan pada anestesi
umum, anestesi gas atau anestesi terbang.
3. Hati, melalui saluran empedu, terutama obat untuk infeksi saluran empedu.
4. Air susu ibu, Misalnya alkohol, obat tidur, nikotin dari rokok dan alkaloida lain.
Harus dioerhatikan karena dapatmenimbulkan efek farmakologi atau toksik pada
bayi.
5. Usus. misalnya sulfa dan preparat besi.
Selain dipengaruhi oleh proses Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, dan Eksresi
(ADME) pencapaian efek - efek obat didalam tubuh juga dipengaruhi oleh
Mekanisme Kerja dari obat tersebut, adapun Mekanisme kerja obat itu sendiri
terbagi dalam beberapa golongan sebagai berikut :
1. Secara fisika, Contohnya anestetik terbang, laksansia dan diuretik osmotis.
2. Secara Kimia, misalnya antasida lambung dan zat - zat khelasi ( zat - zat yang
dapat mengikat logam berat)
3. Proses metabolisme, misalnya antibiotika mengganggu pembentukan dinding
sel kuman, sintesis protein, dan metabolisme asam nucleat.
4. Secara kompetisi atau saingan, dalam hal ini dapat dibedakan menjadi dua
macam kompetisi yaitu untuk reseptor spesifik dan enzym - enzym.
BAB III
Macam - Macam Efek Terapi Obat Di Dalam Tubuh
Dalam melakukan suatu pengawasan terhadap terapi obat maka langkah awal
yang harus dilakukan adalah kita harus terlebih dahulu menentukan efek apakah
yang ingin kita capai dari pemberian suatu obat, sehingga kita dapat memilih
dengan tepat obat yang sesuai untuk dapat diberikan kedalam tubuh agar
mencapai efek maksimal dan sesuai dengan yang kita kehendaki, karena tidak
semua obat bersifat betul - betul menyembuhkan penyakit, banyak diantaranya
hanya meniadakan atau meringankan gejala - gejalanya saja tanpa

mempengaruhi penyebab penyakit itu sendiri. Oleh karena itu sebelumnya kita
juga harus mengetahui macam - macam efek terapi yang mungkin akan dicapai
oleh obat - obat didalam tubuh, efek terapi obat itu sendiri dibedakan lagi
menjadi tiga jenis pengobatan yaitu :
1. Terapi kausal, yaitu pengobatan dengan meniadakan atau memusnahkan
penyebab penyakitnya, misalnya sulfonamida, antibiotika, obat malaria dan
sebagainya.
2. Terapi simptomatis, yaitu pengobatan untuk menghilangkan atau meringankan
gejala penyakit, sedangkan penyebabnya yang lebih mendalam tidak
dipengaruhi, misalnya pemberian analgetik pada rheumatik atau sakit kepala.
3. Terapi subtitusi, yaitu pengobatan dengan cara menggantikan zat - zat yang
seharusnya dibuat oleh organ tubuh yang sakit, misalnya insulin pada penderita
diabetes dan tiroksin pada penderita hipotiroid.
Selain itu untuk mempermudah dalam pengawasan dan mengurangi resiko
pemakaian suatu obat agar tidak digunakan terlalu sering saat ini didalam
industri farmasi telah mengembangkan beberapa jenis obat tablet dengan efek
jangka panjang melalui prinsip delayed action atau sustained release, sehingga
dosis yang diperlukan cukup satu atau maksimal dua kali sehari. Sedangkan
untuk injeksi efek obat dapat diperpanjang dengan prinsip memperlambat
resorpsinya dengan cara sebagai berikut :
1. Menggunakan minyak sebagai zat pelarut untuk zat lipofil, Misalnya : hormon
kelamin, penisilin dan sebagainya.
2. Memperkecil daya larut obat dengan menggabungkannya dengan zat - zat
lipofil.
3. Menggunakan kristal yang lebih kasar
4. Menambah vasokonstriktor ( menciutkan pembuluh), agar penyebaran obat
diperlambat
Setelah mengetahui penggolongan dari efek terapi yang mungkin akan dicapai
didalam tubuh kita juga harus mengetahui faktor - faktor penting lainnya yang
sangat menentukan dalam pencapaian penyembuhan dari suatu penyakit
didalam tubuh, faktor penting tersebut adalah kepercayaan pasien terhadap
dokter dan terhadap obat yang diminumnya.
Berdasarkan kepercayaan ini maka dibuatlah suatu obat yang disebut Plasebo
yang dalam bahasa latin berarti saya ingin menyenangkan, dan arti yang
sebenarnya adalah suatu sediaan yang tidak mengandung zat aktif. Tujuan dari
placebo itu sendiri adalah sebagai berikut :
1. Pengobatan sugesti, kadangkala memberikan efek yang mengagumkan pda
pasien yang menderita kecanduan obat - pbat narkotika dan psikotropika lainnya
maupun pada penderita kanker stadium akhir.
2. Uji klinis, digunakan pada tahap akhir dalam rangkaian penelitian suatu obat
baru yang akan dinilai efek farmakologisnya.
3. Pelengkap dan penggenap [il KB, bertujuan agar pasien tidak terlupa menelan
pil KB tersebut pada saat menstruasi.
Tujuan sebenarnya dari Drugs Therapeutic Monitoring ini sendiri adalah untuk
mengetahui perjalanan obat didalam tubuh dan pencapaian pencapaian apa
yang akan di lakukan oleh suatu obat didalam tubuh, sebab setiap obat
mengandung unsur kimiawi yang berbeda - beda maka selain khasiat atau efek

penyembuhan yang akan dicapai suatu obat dalam tubuh maka ada
kemungkinan suatu obat juga akan memberikan efek samping yang akan
berakibat kurang baik bagi tubuh dan dapat membahayakan kesehatan pasien
itu sendiri, adapun efek - efek obat yang tidak diinginkan dalam tubuh adalah
sebagai berikut :
1. Efek samping, adalah segala pengaruh obat yang tidak diinginkan pada tujuan
terapi yang dimaksud, pada dosis normal (WHO 1970).
2. Idiosinkrasi, adalah peristiwa dimana suatu obat memberikan efek yang sama
sekali berlainan dengan efek normalnya.
3. Alergi, adalah peristiwa hipersensitif akibat pelepasan histamin di dalam tubuh
atau terjadinya reaksi khusus antara antigen - antibodi. Gejala - gejala alergi
yang terpenting dan sering terjadi adalah pada kulit yaitu urtikaria (gatal dan
bentol - bentol), kemerah - merahan dan sebagainya. Pada alergi yang lebih
hebat dapat berupa demam, serangan asma, anafilaksis shock dan lain - lain.
4. Fotosensitasi, adalah kepekaan berlebihan terhadap cahaya akibat
penggunaan obat. Seringkali terjadi pada penggunaan kosmetik yang tidak
cocok.
Setiap obat dalam dosis yang cukup tinggi dapat menunjukkan efek toksis.
Secara umum, hebatnya reaksi toksis berhubungan langsung dengan tingginya
dosis.dengan mengurangi dosis, efek dapat dikurangi pula. Salah satu efek toksis
yang terkenal yaitu efek teratogen yaitu obat yang pada dosis terapeutik untuk
ibu, mengakibatkan cacat pada janin. Yang terkenal adalah kasus Thalidomide.
Selain efek toksis dan efek samping yang telah disebut diatas, dikenal juga
beberapa istilah yang digunakan untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi
didalam tubuh sebagai respon dari pemberian obat - obatan kedalam tubuh yaitu
sebagai berikut :
A. Toleransi
Toleransi adalah peristiwa dimana dosis obat harus dinaikkan terus menerus
untuk mencapai efek terapeutik yang sama. Macam - macam toleransi yaitu :
a. Toleransi primer (bawaan), terdapat pada sebagian orang dan binatang
tertentu misalnya kelinci sangat toleran dengan atropin.
b. Toleransi sekunder, yang bisa timbul setelah menggunakan suatu obat selama
beberapa waktu. Organisme menjadi kurang peka terhadap obat tersebut. Hal ini
disebut juga dengan habituasi atau kebiasaan.
c. Toleransi silang, dapat terjadi antara zat - zat dengan struktur kimia serupa
(fenobarbital dan butobarbital), atau kadang - kadang antara zat - zat yang
berlainan misalnya alkohol dan barbital.
d. Tachyphylaxis, adalah toleransi yang timbul dengan pesat sekali bila obat
diulangi dalam waktu singkat.
B. Habituasi atau Kebiasaan
Habituasi atau kebiasaan adalah suatu peristiwa dimana organisme menjadi
kurang peka terhadap suatu otertentu yang disebkan karna terlalu sering
mengkonsumsi suatu obat. Habituasi dapat terjadi melalui beberapa cara yaitu
dengan induksi enzym, reseptor sekunder, dan penghambatan resorpsi.
Dengan meningkatkan dosis obat secara terus menerus maka pasien dapat
menderita keracunan, karena efek sampingnya menjadi lebih kuat pula.
Habituasi dapat diatasi dengan menghentikan pemberian obat dan pada

umumnya tidak menimbulkan gejala - gejala penghentian (abstinensi) seperti


halnya pada adiksi.
C. Adiksi atau Ketagihan
adiksi atau ketagihan berbeda dengan habituasi dalam dua hal yakni adanya
ketergantungan jasmaniah dan rohaniah dan bila pengobatannya dihentikan
maka dapat menimbulkan efek hebat secara fisik dan mental.
D. Resistensi Bakteri
Resistensi bakteri adalah suatu keadaan dimana bakteri telah menjadi kebal
terhadap obat karena memiliki daya tahan yang lebih kuat. Resistensi dapat
dihindari dengan menggunakan dosis obat yang lebih tinggi dibanding dengan
dosis minimal dalam waktu pendek dan menggunakan kombinasi dari dua
macam obat atau lebih.
E. Dosis
Dosis yang diberikan pada pasien untuk menghasilkan efek yang diinginkan
tergantung dari banyak faktor antara lain : usia, dan berat badan. Takaran
pemakaian obat umumnya tercantum dalam Farmakope. Sebenarnya yang
umum dipakai sekarang adalah dosis lazim (usual dosis).
Anak - anak kecil terutama bayi yang baru lahir menunjukkan kepekaan yang
lebih besar terhadap obat, karena fungsi hati, ginjal serta enzim - enzimnya
belum lengkap perkembangannya. Demikian juga terjadi pada orang tua diatas
65 tahun.
F. Waktu menelan obat
Bagi kebanyakan obat waktu ditelannya tidak begitu penting, yaitu sebelum atau
sesudah makan. Tetapi ada pula obat dengan sifat atau maksud pengobatan
khusus guna menghasilkan efek maksimal atau menghindarkan efek samping
tertentu.
Sebenarnya resorpsi obat dari lambung yang kososng berlangsung paling cepat
karena tidak dihalangi oleh isi usus Contoh :
Obat - obat yang diharapkan memberikan efek dngan cepat sebaiknya ditelan
sebelum makan misalanya obat - obat analgetika (kecuali acetosal)
Obat yang sebaiknya diberikan pada saat lambung kosong yakni 1 jam
sebelum atau 2 jam setelah makan adalah penisilin, Sefalosporin, Eritromysin,
Rovamysin, Linkomisin
Obat lain yang bersifat merangsang mukosa lambung harus digunakan pada
waktu atau setelah makan, meskipun resorpsinya menjadi terhambat. misalnya
kortikosteroid dan obat - obat rematik, antidiabetik oral, garam - garam besi,
obat cacing dan sebagainya.
BAB IV
Kesimpulan
Dengan adanya Drug Therapeutic Monitoring ini (TDM) dapat membantu dokter
memberikan terapi obat yang efektif dan aman pada pasien yang memerlukan
obat - obatan sehingga penetapan dalam diagnosa dokter terhadap penggunaan
obat - obatan untuk pasien juga dpat lebih mudah dilakukan.
TDM mempermudah untuk mengukur kadar atau level obat yang ada di dalam
darah, dengan begitu, maka dosis obat yang efektif dalam darah dapat

ditentukan, sehingga dapat mencegah terjadinya keadaan toksik atau keracunan


obat di dalam tubuh.
TDM sangat penting bagi pasien yang memiliki penyakit lain yang mungkin
dapat mempengaruhi kadar obat dalam darah
Mengurangi resiko terjadinya interaksi obat
Mempermudah mendeteksi adanya resistensi bakteri dalam tubuh manusia

BAB V
Daftar Pustaka
Pagana, Kathleen Deska. Mosby's Manual of Diagnostic and Laboratory Tests.
St. Louis: Mosby, Inc., 1998.
American Journal of Health-System Pharmacy. 2006;63(12):1131-1139. 2006
American Society of Health-System Pharmacists
Farmakologi jilid II untuk SMF kelas II cetakan pertama, Pusdiknakes 2003
Levy G, Ebling WF, Forrest A. Concentration- or effect-controlled clinical trials
with sparse data. Clin Pharmacol Ther. 1994;56:18.
Campbell M. Community-based therapeutic drug monitoring. Clin
Pharmacokinet. 1995;28:271274.
Aronson JK, Hardman M. Measuring plasma drug concentrations. Br Med J.
1992;305:10781080.
Drug Therapy Monitoring

MONITORING TERAPI PROKAINAMID


Posted on March 18, 2009 | Leave a comment

Priska Firstya 06 8114 016


Fransisca Desiana 06 8114 017
MONITORING TERAPI PROKAINAMID
Yang dimaksud dengan monitoring kadar terapeutik obat adalah pemeriksaan secara berkala
terkait kadar obat dalam darah. Dengan demikian, monitoring kadar terapeutik obat bermanfaat
untuk menentukan dosis dari obat-obat yang :
Kecepatan metabolismenya berbeda nyata secara individual
Mempunyai therapeutic window yang sempit
Efek terapeutiknya sukar atau tidak segera dapat diukur
Gejala penyakit sukar dibedakan dengan efek samping obat

Kecepatan metabolisme mudah jenuh


a. Individualisasi dosis dalam farmakoterapi
Pemberian obat pada umumnya didasarkan atas dosis rata-rata, yaitu dosis yang
diperkirakan memberikan efek terapeutik dengan efek samping minimal. Bila dosis rata-rata itu tidak
menimbulkan efek atau menimbulkan efek yang berlebihan, maka akan dilakukan penghentian obat
tanpa perlu mempertimbangkan apakah dosis yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan
penderita.
Jika therapeutic window dari obat cukup besar, maka perbedaan individual kadar obat
dalam keadaan steady state tidak akan menimbulkan masalah dalam penentuan dosis. Tetapi jika
therapeutic window suatu obat sempit, individualisasi dosis menjadi penting, karena perbedaan
dosis yang kecil saja (dalam mg/kgBB) sudah dapat menimbulkan perbedaan nyata dalam respons.
b. Contoh obat yang perlu dimonitoring
Salah satu contoh obat yang perlu dimonitoring terapi adalah prokainamid. Prokainamid
merupakan obat antiaritmia kelas I-A. Umumnya obat-obat antiaritmia memiliki terapeutic
windows yang sempit.
Prokainamid diabsorpsi dengan cepat dan hampir sempurna setelah pemberian per oral pada
orang normal. Kadar puncak dicapai 45-70 menit setelah pemberian dengan bentuk kapsul, tetapi
sedikit lebih lambat jika diberikan dalam bentuk tablet. Dalam minggu pertama setelah infark miokard
akut, absorpsi oral mungkin buruk, tercapainya kadar puncak mungkin sangat terlambat dan kadar
obat mungkin cukup untuk mengontrol aritmia.
Sekitar 20% prokainamid terikat protein dalam plasma. Obat ini dengan cepat di distribusi
keseluruh jaringan tubuh, kecuali ke otak. Volume distribusi prokainamid (Vd) adalah 2 Liter/kgBB.
Prokainamid dieliminasi melalui ekskresi ginjal dan metabolisme dihati. Jalur metabolisme utama
adalah melalui n-asetilasi oleh enzim n-asetil transferase. Sampai sekitar 70% dari dosis prokainamid
dieliminasi dalam bentuk yang tidak berubah dalam urine. Prokainamid adalah basa lemah yang
mengalami filtrasi, sekresi, dan reabsorpsi diginjal. Peningkatan pH urine menyebabkan penurunan
ekskresi prokainamid.
Kadar plasma yang diperlukan untuk memperoleh efek terapeutik antara 3-10g/ml dan
kadang-kadang lebih tinggi. Kemungkinan toksisitas menjadi lebih besar bila kadar plasma meningkat
di atas 8 g/ml. Efek prokainnamid terhadap jantung diperkuat bila kadar K + plasma meningkat. Cara
yang cepat dan aman untuk memperoleh kadar efektif dalam plasma adalah pemberian intravena,
yaitu 100 mg disuntikkan selama 2-4 menit, tiap 5 menit sampai aritmia terkontrol, atau efek samping
terlihat, atau sampai dosis total (1 gram tercapai tanpa ada perbaikan). Untuk terapi oral jangka lama
biasanya diperlukan dosis total 3-6 gram/hari, karena waktu paruh eliminasinya pendek (3 jam pada
orang normal dan 5-8 jam pada penderita penyakit jantung). Pemberian prokainamid tiap 6-8 jam
biasanya memadai, kadar puncak tercapai dalam satu hari, karena waktu eliminasinya pendek. Efek
samping yang sering ditimbulkan adalah efek samping yang berhubungan dengan kardiovaskular,
selain itu dapat menimbulkan efek samping pada SSP berupa pusing, psikosis, halusinasi dan
depresi.

c. Interpretasi hasil pemeriksaan kadar


Pemeriksaan kadar obat dalam cairan hayati merupakan dari pharmaco-therapeutic
audit yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas terapi obat. Tujuan dari monitoring akan tercapai
dengan baik bila permintaan itu dilengkapi dengan data klinis yang diperlukan untuk interpretasi dan
pemeriksaan dilakukan secara berulang selama terapi pemeliharaan. Interpretasi hasil pemeriksaan
kadar obat dalam plasma memerlukan berbagai macam data klinis yang lebih banyak dari data klinis
yang diperlukan untuk menginterpretasikan hasil pemeriksaan kimia klinik untuk diagnostik. Kecuali
untuk tolerasi glukosa, pemeriksaan kimia klinik bila perlu hanya memerlukan puasa malam hari.
Waktu untuk pengambilan sampel darah tidak perlu ketat sekali, karena zat yang hendak di periksa
kadarnya relatif stabil dari jam ke jam berkat adanya peranan hemeostasis tubuh. Selain itu,
interpretasi pemeriksaan kadar terapeutik obat memerlukan data klinis yang berguna untuk
memperhitungkan secara matematis besarnya dosis dan aturan pemberian, jika regimen dosis harus
diubah agar mencapai kadar terapeutik.
d. Sumber kekeliruan dalam monitoring kadar obat
Sumber keliruan dapat terjadi pada tahap-tahap awal dalam analisis laboratorik, misalnya
pemberian obat yang waktunya tidak sesuai dengan yang diintruksikan, pengambilan sampel darah
yang tidak tepat waktunya, sampel darah yang tidak cukup, dan terjadinya hemolisis.
Perbedaan individual dalam ikatan obat dengan protein plasma juga harus diperhatikan
dalam menginterpretasikan hasil pemeriksaan kadar obat dalam plasma. Seringkali dikemukakan
bahwa yang penting untuk diukur adalah kadar obat bebas (unbound), karena jumlahnya lebih
mencerminkan kadar obat pada reseptor. Perbedaan individual dalam kadar obat bebas dalam
plasma seringkali terjadi karena adanya perbedaan sifat protein, pengaruh obat lain yang diberikan
bersama, pengaruh penyakit, serta sifat fisik dari obat yang diberikan. Metabolit aktif dapat
mempersulit interpretasi kadar obat dalam darah, karena sifat farmakokinetika dan farmakodinamika
metabolit tidak diketahui sehingga tidak semuanya dapat diukur serentak dengan mengukur kadar zat
asalnya.
Daftar Pustaka
Ganiswarna, Sulistia G., 1995, Farmakologi dan Terapi, UI Press, Jakarta
Muchtar, dr. Armen, 1985, Monitoring Kadar Terapeutik Obat, Dalam Majalah Cermin Dunia
Kedokteran, Vol. 37, 13-17
Tjay, Drs. Tan Hoan dan Drs. Kirana Rahardja, 2007, Obat-Obat Penting : Khasiat, Penggunaan
dan Efek-Efek Sampingnya, PT. Gramedia, Jakarta