Anda di halaman 1dari 6

DATA AKUSISI UNTUK PENGUKURAN TEMPERATUR

Dalam merancang sistem pengukuran ada beberapa langkah yang perlu


diperhatikan :

1. Variabel yang akan diukur : Temperatur


2. Sensor yang akan digunakan : Termistor
3. Pengkondisi sinyal : Amplifier dan ADC
A. Pengertian Termistor

Termistor adalah suatu jenis resistor yang sensitive terhadap perubahan suhu. Prinsipnya
adalah memberikan perubahan resistansi yang sebanding dengan perubahan suhu.
Perubahan resistansi yang besar terhadap perubahan suhu yang relatif kecil menjadikan
termistor banyak dipakai sebagai sensor suhu yang memiliki ketelitian dan ketepatan
yang tinggi.
Termistor merupakan salah satu jenis sensor suhu yang mempunyai koefisien temperatur
yang tinggi. Komponen dalam termistor ini dapat mengubah nilai resistansi karena
adanya perubahan temperatur. Dengan demikian dapat memudahkan kita untuk
mengubah energi panas menjadi energi listrik. Termistor dapat dibentuk dalam bentuk
yang berbeda-beda, bergantung pada lingkungan yang akan dicatat suhunya. Lingkungan
ini termasuk kelembaban udara, cairan, permukaan padatan, dan radiasi dari gambar dua
dimensi. Maka, termistor bisa berada dalam alat-alat seperti disket, mesin cuci, tasbih
(manik-manik), balok,dan satelit.

TERMISTO
R

VOLTAGE
DIVIDER

AMPLIFIE
R

ADC

DISPLAY

Gambar1 Diagram Blok Termistor

B. Pemrosesan Sinyal
Perubahan resistansi termistor harus dikonversikan menjadi sinyal tegangan yang lalu
diaplikasikan pada suatu alat ukur misalnya DVM ,dan seterusnya dikonversi menjadi
sinyal arus yang melewatinya dan akhirnya pembacaan yang berkaitan dengan temperatur
yang diukur.Salah satu cara mengkonversi perubahan resistansi menjadi tegangan yaitu
dengan rangkaian pembagi tegangan.

Gambar2 Rangkaian Pembagi Tegangan

Misalkan suatu Termistor memiliki resistansi : 4,7K pada suhu 25C


15,28 K pada suhu 0C
0,33 K pada suhu 100C
Resistor variabel dapat bernilai 0 sampai 100 K. Apabila resistor variabel bernilai 0 K
maka akan timbul arus yang sangat besar melalui termistor. Karena arus yang besar dapat
menimbulkan panas yang dapat merusak komponen. Maka dari itu dibutuhkan Resistor
protektif untuk mencegah hal-hal semacam ini terjadi.
Daya maksimum yang dapat ditahan oleh Termistor ditentukan sebesar 250mW.
Jadi dengan catu tegangan 6V, nilai variabel resistor 0 K, Resistansi protektif R, dan
Termistor pada temperatur 100C,maka kita akan menentukkan nilai resistor protektif
yang akan kita gunakan. Dengan mencari arus I yang mengalir melewati termistor
dirumuskan sebagai V=IR
sehingga 6 = I (330 + 0 + R)
6
I = 330+ R
Daya yang didisipasikan oleh termistor adalah I2 x 330, sehingga jika daya yang diinginkan
berada dibawah nilai maksimum, misalkan 100mW, maka dapat dirumuskan sebagai berikut:
P = I2R

0,01 = ( 330+ R

x 330

Maka resistor protektif yang didapat adalah 15.


Contoh :
1. Ketika temperatur termistor bernilai 0C, resistansinya bernilai 15,25 K. Jika resistor
variabelnya diatur sebesar 5 K dan resistor protektif sebesar 15 , maka besarnya
tegangan keluaran ketika tegangan catu yang dikenakan 6V adalah:

Vout =

5,015 K
15,28 K +5,015 K

6V

= 1,48V

2. Ketika temperatur termistor bernilai 100C, resistansinya bernilai 0,33 K. Jika resistor
variabelnya diatur sebesar 5 K dan resistor protektif sebesar 15 , maka besarnya
tegangan keluaran ketika tegangan catu yang dikenakan 6V adalah:

Vout =

5,015 K
330 +5,015 K

6V=

5,63 V

Jadi pada temperatur 0C - 100C, tegangan keluaran berubah nilainya dari 1,48V

sampai 5,63V. Sebuah voltmeter dengan skala yang mencakup rentang nilai ini dapat
digunakan untuk menampilkan keluaran yang dihasilkan.

Untuk diproses pada komputer maka data analog harus dikonversikan dalam
bentuk digital dengan ADC
C. Konversi sinyal analog menjadi format digital
Sebelum masuk ke dalam rangkaian ADC, tegangan output dari
pembagi tegangan akan masuk ke rangkaian op-amp. IC LM 358
digunakan sebagai penguat. Rangkaian penguat ini diperlukan karena
kenaikan sebesar 10 mV setiap derajat celcius tidak dapat langsung
dihubungkan ke ADC 0804 karena berada di bawah toleransi ketelitian.
Tingkat kenaikan tegangan yang lebih kecil dari toleransi ketelitian
ADC 0804 akan menyebabkan kesalahan dalam pengukuran. Untuk
menghindari kesalahan tersebut maka diperlukan rangkaian
penguatan dengan menggunakan LM 358 serta dengan konfigurasi
penguatan tak membalik. Resistor R 10k dan potensiometer 30k
dapat digunakan untuk mengatur agar keluaran dari LM 35 menjadi 4
kali lebih besar.
Pada saat 0C , tegangan output = 10mV/C x 0C = 0V
Pada suhu max 125C tegangan output = 10mV/C x 100 = 1,25V
Dengan penguatan 4 kali maka didapat tegangan output;
Pada saat 0C , tegangan output = 4 x 0 = 0V
Pada saat 125C , tegangan output = 4 x1,25 = 5v
Maka tegangan output dari op-amp 0-5V, tegangan ini sesuai untuk tegangan
input ADC 0804.
Kita akan melakukan konversi dengan menggunakan ADC jenis SAR 8
bit. Pengubah tegangan analog ke tegangan digital berfungsi untuk
mengubah harga tegangan sinyal yang telah dicuplik (tegangan
analog) kedalam kode-kode biner (besaran digital). Pada alat ini
digunakan komponen ADC 0804. IC ADC 0804 adalah sebuah CMOS 8
bit yang bekerja dibawah 100s dan menggunakan metode successive
approximation untuk pengkonversinya. IC ADC jenis ini menawarkan
beberapa keuntungan antara lain kecepatan yang tinggi dan konsumsi
daya rendah . ADC0804 mempunyai lebar data 8-bit maka format data
maksimal adalah 256 (0FFH). ADC0804 mempunyai tegangan referensi
pada pin 9, tegangan tersebut sebagai acuan dalam konversi bit/volt.
Bila diketahui Vin masukan ADC sebesar 3V dan Vreff ADC
sebasar 5 Volt dengan lebar data 256 bit. Maka kode binary nya adalah
:
Step 1

Set b1 =1 , Vx = 5 x

128
256

=2,5 V

Vin > Vx , b1 tidak direset , masih 1 (MSB) 10000000

Step 2
64
256

Set b2 =1 , Vx = 2,5 x

=0,625 V

Vin > Vx , b2 tidak direset masih 1 11000000


Step 3
32
Set b3 =1 , Vx = 0,625 x 256 =0,07 V
Vin > Vx , b3 tidak direset masih 1 11100000
Step 4
16
256

Set b4=1, Vx = 0,07 x

=4,375 mV

Vin > Vx , b4 tidak direset masih 1 11110000


Step 5
8
Set b5=1, Vx = 4,375mV x 256 =0,13mV
Vin > Vx , b5 tidak direset masih 1 11111000
Step 6
4
Set b6=1, Vx = 0,13mV x 256 = 2 uV
Vin > Vx , b6 tidak direset masih 1 11111100
Step 7
Set b7=1, Vx = 2uVx

2
256

=0,015uV

Vin > Vx , b7 tidak direset masih 1 11111110


Step 8
Set b8=1, Vx = 0,015 x

1
256

=0,06nV

Vin > Vx , b8tidak direset masih 1 11111111


Maka binary kode nya adalah 11111111 (0FFH)

Setelah mendapatkan sinyal-sinyal digital selanjutnya akan ditransfer oleh


komputer. Memungkinkan sinyal-sinyal dari komputer untuk pengontrolan
proses.