Anda di halaman 1dari 53

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Homeostasis
1. Pengertian Homeostasis
Homeostasis berasal dari bahasa Yunani: homeo berarti sama, stasis
mempertahankan keadaan, sehingga dapat diartikan sebagai suatu keadaan
tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi segala kondisi
yang dihadapi. Istilah ini digunakan oleh ahli fisiologi untuk menjelaskan
pemeliharaan aneka kondisi yang hampir selalu konstan di lingkungan dalam.
Homeostasis dipertahankan oleh mekanisme fisiologis yang mengontrol
fungsi tubuh dan memantau organ tubuh. Untuk sebagian besar mekanisme ini
dikontrol oleh sistem saraf dan endokrin dan tidak mencakup perilaku sadar.
Tubuh membuat penyesuaian dalam frekuensi jantung, frekuensi pernapasan,
tekanan darah, suhu tubuh, keseimbangan cairan dan elektrolit, sekresi hormon
dan tingkat kesadaran yang semuanya ditujukan untuk memberi kontribusi bagi
homeostasis.
2. Dasar-dasar Homeostasis
Ahli ilmu faal Amerika Serikat Walter Cannon mengajukan 4 postulat yang
mendasari homeostasis, yaitu:
a. Peran system saraf dalam mempertahankan kesesuaian lingkungan dalam
dengan kehidupan.
b. Adanya kegiatan pengendalian yang bersifat tonik.
c. Adanya pengendalian yang bersifat antagonistik.
d. Suatu sinyal kimia dapat mempunyai pengaruh yang berbeda di jaringan
tubuh berbeda.

3. Faktor-faktor yang Dipertahankan secara Homeostasis


Faktor-faktor

lingkungan

internal

yang

harus

dipertahankan

secara

homeostasis, yaitu :
a. Konsentrasi molekul zat-zat gizi.
Sel-sel membutuhkan pasokan molekul nutrient yang tetap untuk
digunakan sebagai bahan bakar metabolic untuk menghasilkan energi.
Energy kemudian digunakan untuk menunjang aktifitas-aktifitas khusus
dan untuk mempertahankan hidup.
b. Konsentrasi O2 dan CO2
Sel membutuhkan O2 untuk melakukan reaksi-reaksi kimia yang
menarik sebanyak mungkin energi dari molekul nutrien digunakan oleh
sel. CO2 yang dihasilkan selama reaksi-reaksi tersebut berlangsung harus
diseimbangkan dengan CO2 yang dikeluarkan oleh paru, sehingga CO2
pembentuk asam ini tidak meningkatkan keasaman di lingkungan
internal.
c. Konsentrasi zat-zat sisa
Berbagai reaksi kimia menghasilkan proiduk-produk akhir yang
berefek toksik bagi sel apabila dibiarkan tertimbun melebihi batas tertentu.
d. pH
Diantara efek-efek paling mencolok dari p[erubahan keasaman
lingkungan cairan internal adalah perubahan mekanisme pembentuk sinyal
listrik di sel saraf dan perubahan aktifitas enzim di semua sel.
e. Konsentrasi air,garam-garam, dan elektrolit-elektrolit lain
Karena konsentrasi relative garam (NaCl) dan air di dalam cairan
ekstrasel (lingkungan internal) mempengaruhi berapa banyak air yang
masuk atau keluar sel, konsentrasi keduanya diatur secara ketat untuk
mempertahankan volume sel yang sesuai. Sel-sel tidak dapat berfungsi
secara normal apabila mereka membengkak atau menciut. Elektrolit lain
memiliki bermacam-macam fungsi fital lainnya. Sebagai contoh denyut
jantung yang teratur bergantung pada konsentrasi kalium di cairan ekstra
sel yang relative konstan.
f. Suhu.

Sel-sel tubuh berfungsi secara optimal dalam rentan suhu yang sempit.
Sel-sel akan mengalami perlambatanaktifitas yang hebat apabila suhunya
terlalu dingin dan yang lebih buruk protein-protein structural dan
enzimatiknya akan terganggu apabila suhunya terlalu panas.
g. Volume dan tekanan.
Komponen sirkulasi pada lingkungan internal, yaitu plasma, harus
dipertahankan pada tekanan darah dan volume yang adekuat agar
penghubung vital antara sel dan lingkungan eksternal ini dapat
terdistribusi ke seluruh tubuh.
4. Konstribusi Sistem Homeostasis
Homeostasis sangat penting bagi kelangsungan hidup setiap sel, dan pada
gilirannya, setiap sel, melalui aktifitas khususnya masing-masing, turut berperan
sebagai bagian dari system tubuh untuk memelihara lingkungan internal yang
digunakan bersama oleh semua sel. Terdapat sebelas system tubuh utama,
kontribusi terpenting mereka untuk homeostasis dicantumkan sebagai berikut:
a. Sistem Sirkulasi.
Merupakan system transportasi yang membawa berbagai zat, misalnya
zat gizi, O2, CO2, zat-zat sisa,elektrolit, dan hormone dari satu bagian
tubuh ke bagian tubuh lainnya.
b. Sistem Pencernaan
Menguraikan makanan menjadi molekul-molekul kecil zat gizi yang
dapat diserap ke dalam plasma untuk didistribusikan ke seluruh sel. Sel
ini juga memindahkan air dan elektrolit dari lingkungan eksternal ke
lingkungan internal. System ini mengeluarkan sisa-sisa makanan yang
tidak dicerna ke lingkungan eksternal melalui tinja.
c. Sistem Respirasi
Mengambil O2 dari udara dan mengeluarkan CO2 ke lingkungan
eksternal. Dengan menyesuaikan kecepatan pengeluaran CO2 pembentuk
asam, system respirasi juga penting
lingkungan internal yang sesuai.
d. Sistem Kemih

untuk mempertahankan pH

Mengeluarkan kelebihan garam, air, dan elektrolit lain dari plasma


melalui urine, bersama zat-zat sisa selain CO2.
e. Sistem Rangka
Memberi penunjang dan proteksi bagi jaringan lunak dan organ-organ.
System ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan kalsium, suatu
elektrolit yang konsentrasinya dalam plasma harus dipertahankandalam
rentang yang sangat sempit. Bersama dengan system otot , system rangka
juga memungkinkan timbulnya gerakan tubuh dan bagian-bagiannya.
f. Sistem Otot
Menggerakkan tulang-tulang yang melekat kepadanya. Dari sudut
pandang homeostasis semata-mata, sistem ini memungkinkan individu
mendekati makanan dan menjauhi bahaya. Selain itu, panas yang
dihasilkan oleh kontraksi otot penting untuk mengatur suhu. Karena
berada di bawah kontrol kesedaran, individu mampu menggunakan otot
rangka untuk melakukan bermacam gerakan sesuai keinginan. Gerakangerakan tersebut, berkisar dari keterampilan motorik halus yang
diperlukan, misalnya untuk menjahit sampai gerakan-gerakan kuat yang
diperlukan untuk mengangkat beban, tidak selalu diarahkan untuk
mempertahankan homeostasis.
g. Sistem Integument
Berfungsi sebagai sawar protektif bagian luar yang mencegahcairan
internal keluar dari tubuhdan mikroorganisme asing masuk ke dalam
tubuh. System ini juga penting dalam mengatur suhu tubuh. Jumlah panas
yang dikeluarkan dari permukaan tubuh ke lingkungan eksternal dapat
disesuaikan dengan mengatur produksi keringat dan dengan mengatur
aliran darah hangat ke kulit.
h. Sistem Imun
Mempertahankan tubuh dari seranganbenda asing dan sel-sel tubuh
yang telah menjadi kanker. System ini juga mempermudah jalan untuk
perbaikan dan penggantian sel yang tua atau cedera.
i. Sistem Saraf

Merupakan salah satu dari dua system pengatur atau control utama
tubuh. Secara umum, system ini mengontrol dan mengkoordinasikan
aktifitas tubuhyang memerlukan respon cepat. System ini sangat penting
terutama untuk mendeteksidan mencetuskan reaksi terhadap berbagai
perubahan di lingkungan internal. Selain itu, system ini akan bertanggung
jawab atas fungsi lain yang lebih tinggi yang tidak seluruhnya ditujukan
untuk mempertahankan homeostasis, misalnya kesadaran, ingatan, dan
kreatifitas.
j. Sistem Endokrin
Merupakan system kontrol utainnya. Secara umum, kelenjarkelenjarpenghasil hormone pada system endokrin mengatur aktifitas yang
lebih mementingkan daya tahan (durasi) daripada kecepatan. System ini
terutama penting untuk mengontrol konsentrasi zat-zat gizi dan dengan
menyesuaikan fungsi ginjal, mengontrol volume serta komposisi elektrolit
lingkungan internal.
k. Sistem Reproduksi
System ini tidak esensial bagi homeostasis, sehingga tidak penting
bagi kelangsungan hidup individu. Akan tetapi, system ini penting bagi
kelangsungan hidupsuatu spesies.

5. Sistim Kontrol Homeostasis


Untuk mempertahankan homeostasis, tubuh harus mampu mendeteksi
penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada faktor-faktor lingkungan internal
yang perlu dijaga dalam retang yang sempit. Tubuh juga harus mampu
mengontrol berbagai sistem tubuh yang bertanggung jawab untuk menyesuaikan
faktor-faktor itu.
Sebagai contoh, untuk mempertahankan konsentrasi CO2 di cairan ekstrasel
pada kadar yang optimal, tubuh harus mampu mendeteksi adanya perubahan pada
konsentrasi CO2 dan kemudian dengan tepat mengubah aktifitas pernapasan,
sehingga konsentrasi CO2 kembali ke tingkat yang diinginkan. Sistem control
yang beroperasi untuk mempertahankan homeostasis dapat dikelompokkan
menjadi dua kelas, yaitu:
a. Control intrinsic
Control intrinsik (local, intrinsic berarti di dalam) terdapat di dalam atau
inheren bagi organ yang bersangkutan. Sebagai contoh, sewaktu suatu otot
yang beraktifitas menggunakan O2 dan mengeluarkan CO2
menghasilkan

energy

yang

diperlukan

untuk

menjalankan

untuk
aktifitas

kontraktilnya, konsentrasi O2 turun dan CO2 meningkat di dalam otot


tersebut.
Melalui kerja langsung pada otot polos di dinding pembuluh darah yang
mengaliri otot-otot tersebut, perubahan-perubahan kimiawi local tersebut
menyebabkan otot polos melemas dan pembuluh terbuka lebar untuk
mengakomodasikan peningkatan aliran darah ke otot tersebut. Mekanisme
local ini ikut berperan mempertahankan kadar O2 dan CO2 yang optimal di
dalam lingkungan cair internal yang mengelilingi sel-sel otot tersebut.
b. Control ekstrinsik
Control ekstrinsik (extrinsic berarti di luar), yaitu mekanisme pengatur
yang dicetuskan di luar suatu organ untuk mengubah aktifitas organ tersebut.
Control ekstrinsik berbagai organ dan system dilaksanakan oleh system saraf
dan endokrin, dua sistem kontrol utama pada tubuh.

Control ekstrinsik memungkinkan pengaturan beberapa organ sekaligus


untuk mencapai suatu tujuan bersama; sebaliknya, control intrinsic berfungsi
untuk melayani organ tempat control tersebut bekerja. Mekanisme pengaturan
keseluruhan yang terkoordinasikan penting untuk mempertahankan keadaan
stabil dinamis lingkungan internal secara keseluruhan.
6. Homeostasis Fisiologis
Homeostasis fisiologis dalam tubuh manusia dapat dikendalikan oleh sistem
endokrin dan saraf otonom. Prosesnya terjadi melalui empat cara, yaitu :
a. Self Regulation
Sistem ini terjadi secara otomatis pada orang yang sehat. Contohnya :
proses pengaturan fungsi organ tubuh
b. Kompensasi
Tubuh akan cenderung bereaksi terhadap ketidaknormalan yang terjadi
didalamnya. Misalnya apabila secara tiba tiba lingkungan menjadi
dingin, maka pembuluh darah perifer akan mengalami konstriksi dan
merangsang pembuluh darah bagian dalam untuk meningkatkan kegiatan
(misalnya menggigil) yang dapat menghasilkan panas sehingga suhu
tubuh tetap stabil, pelebaran pupil untuk meningkatkan persepsi visual
pada saat terjadi ancaman terhadap tubuh, dan peningkatan keringat untuk
mengontrol kenaikan suhu tubuh.
c. Umpan Balik Negatif
Proses ini merupakan penyimpangan dari keadaan normal. Dalam keadaan
abnormal, tubuh secara otomatis akan melakukan mekanisme umpan balik
untuk menyeimbangkan penyimpangan yang terjadi.

10

d. Umpan Balik untuk Mengoreksi Ketidakseimbangan Fisiologis


Contoh, apabila seseorang mengalami hipoksia akan terjadi proses
peningkatan denyut jantung untuk membawa darah dan oksigen yang
cukup ke sel tubuh.
7. Tahap-tahap Homeostasis
Homeostasis terdiri dari 3 tahap:
a. Homeostasis primer.
Jika terjadi desquamasi dan luka kecil pada pembuluh darah, akan
terjadi homeostasis primer. Homeostasis primer ini melibatkan tunika
intima pembuluh darah dan trombosit. Luka akan menginduksi terjadinya
vasokonstriksi dan sumbat trombosit.
Homeostasis primer ini bersifat cepat dan tidak tahan lama. Karena itu,
jika homeostasis primer belum cukup untuk mengkompensasi luka, maka
akan berlanjut menuju homeostasis sekunder.
b. Homeostasis Sekunder.
Jika terjadi luka yang besar pada pembuluh darah atau jaringan lain,
vasokonstriksi dan sumbat trombosit belum cukup untuk mengkompensasi
luka ini. Maka, terjadilah hemostasis sekunder yang melibatkan trombosit
dan faktor koagulasi.
Homeostasis sekunder ini mencakup pembentukan jaring-jaring fibrin.
Homeostasis sekunder ini bersifat delayed dan long-term response. Kalau
proses ini sudah cukup untuk menutup luka, maka proses berlanjut ke
homeostasis tersier.
c. Homeostasis Tersier.
Homeostasis tersier ini bertujuan untuk mengontrol agar aktivitas
koagulasi tidak berlebihan. Homeostasis tersier melibatkan sistem
fibrinolisis.

11

8. Ketidakseimbangan Homeostasis
Jika satu atau lebih sistem tubuh gagal berfungsi secar benar, homeostasis
terganggu dan semua sel akan menderita karena mereka tidak lagi memperoleh
lingkungan yang optimal tempat mereka hidup dan berfungsi. Muncul beberapa
keadaan patofisiologis. Patofisiologis mengacu kepada abnormalitas fungsional
tubuh (perubahan fisiologi) yang berkaitan dengan penyakit. Jika gangguan
terhadap

homeostasis

menjadi

sedemikian

berat

sehingga

tidak

lagi

memungkinkan kelangsungan hidup, timbul kematian.


Hampir semua penyakit merupakan kegagalan tubuh mempertahankan
homeostasis. Keberadaan seseorang dilingkungan sangat dingin tanpa pakaian dan
perlindungan dapat berakibat fatal jika tubuhnya gagal mempertahankan suhu
sehingga suhu tubuh turun. Hal ini disebabkan oleh terganggunya proses-proses
enzimatik sel yang sangat bergangtung pada suhu tertentu.
Contoh lain adalah kaehilangan drh dalam jumlah yang kecil mungkin tidak
fatal karena tubuh masih mampu mengkompensasi kehilangan tersebut dengan
cara meningkatkan tekanan darah mereabsorpsi cairan di ginjal dsb. Tetapi bila
kehilangan darah terjadi dalam jumlah yang besar, upaya untuk mengkompensasi
tubuh mungkin tidak memadai sehingga berakibat fatal.
Tanggung jawab dokter dan para medis adalah untuk perawatan intensif untuk
pasien-pasien yang gawat. Berbagai indicator homeostasis akan dipantau di unit
intensif seperti frekuensi denyut jantung, tekanan darah, frekuensi pernapasan,
suhu tubuh, kimia darah, dan mengatur keluarnya cairan tubuh. Tujuan unit
adalah untuk mengambil alih fungsi homeostasis yang tidak dapat dilaksanakan
oleh pasien yang sedang sakit parah sahingga tidak mampu melakukan proses
homeostasis sendiri.

12

B. Kompartemen Air dalam Tubuh dan Cairan Biologis


1. Pengertian
Naldi (2012) mengatakan Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air dan
zat terlarut. Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel
bermuatan listrik yang disebut ion. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh
melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh
bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang
normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh.
Mayangsari (2010) mengatakan Air merupakan bagian terbesar pada tubuh
manusia, persentasenya dapat berubah tergantung pada umur, jenis kelamin dan
derajat obesitas seseorang. Pada bayi usia <> 1 tahun mengandung air sebanyak
70-75 %. Seiring dengan pertumbuhan seseorang persentase jumlah cairan
terhadap berat badan berangsur-angsur turun yaitu pada laki-laki dewasa 50-60%
berat badan, sedangkan pada wanita dewasa 50 % berat badan.
Perubahan jumlah dan komposisi cairan tubuh, yang dapat terjadi pada
perdarahan, luka bakar, dehidrasi, muntah, diare, dan puasa preoperatif maupun
perioperatif, dapat menyebabkan gangguan fisiologis yang berat. Jika gangguan
tersebut tidak dikoreksi secara adekuat sebelum tindakan anestesi dan bedah,
maka resiko penderita menjadi lebih besar. Seluruh cairan tubuh didistribusikan
ke dalam kompartemen intraselular dan kompartemen ekstraselular (Mayangsari,
2010).
2. Komposisi dalam Tubuh
a. Cairan intraselular
Naldi (2012) mengatakan Cairan yang terkandung di antara sel disebut
cairan intraselular. Komponen intrasel air tubuh 40% BB. Pada orang dewasa,
sekitar dua pertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular (sekitar
27 liter rata-rata untuk dewasa laki-laki dengan berat badan sekitar 70
kilogram), sebaliknya pada bayi hanya setengah dari berat badannya
merupakan cairan intraselular.
b. Cairan ekstraselular

13

Naldi (2012) mengatakan Cairan yang berada di luar sel disebut cairan
ekstraselular. Jumlah relatif cairan ekstraselular berkurang seiring dengan
usia. Pada bayi baru lahir, sekitar setengah dari cairan tubuh terdapat di cairan
ekstraselular. Setelah usia 1 tahun, jumlah cairan ekstraselular menurun
sampai sekitar sepertiga dari volume total. Ini sebanding dengan sekitar 15
liter pada dewasa muda dengan berat rata-rata 70 kg. Komponen ekstrasel
20% BB. Sekitar 25% komponen ekstrasel terdapat dalam sistem vaskular
(plasma = 5% berat badan) dan 75% di luar pembuluh darah (cairan
interstisium = 15% BB). Volume darah total adalah sekitar 8% dari berat
badan. Cairan ekstraselular dibagi menjadi :
1) Cairan Interstitial
Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial, sekitar 1112 liter pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume interstitial.
Cairan intersitial relatif terhadap ukuran tubuh, volume ISF adalah sekitar 2
kali lipat pada bayi baru lahir dibandingkan orang dewasa (Mayangsari,
2010).
2) Cairan Intravaskular
Merupakan cairan yang terkandung dalam pembuluh darah (contohnya
volume plasma). Rata-rata volume darah orang dewasa sekitar 5-6L dimana 3
liternya merupakan plasma, sisanya terdiri dari sel darah merah, sel darah
putih dan platelet (Mayangsari, 2010).
3) Cairan transeluler
Merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu seperti
serebrospinal, perikardial, pleura, sendi sinovial, intraokular dan sekresi
saluran pencernaan. Pada keadaan sewaktu, volume cairan transeluler adalah
sekitar 1 liter, tetapi cairan dalam jumlah banyak dapat masuk dan keluar dari
ruang transeluler (Mayangsari, 2010).
Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis zat yaitu
1) Elektrolit

14

Garam yang terurai di dalam air menjadi satu atau lebih partikel
bermuatan, disebut ion atau elektrolit (Naldi, 2012). Elektrolit merupakan zat
yang terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik. Elektrolit
dibedakan menjadi dua yaitu ion positif (kation) dan ion negative (anion).
Jumlah kation dan anion dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam
miliekuivalen).
a) ion positif (kation)
Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+), sedangkan
kation utama dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Suatu sistem
pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa keluar sodiumdan
potassium ini (Mayangsari, 2010).
Mayangsari (2010) mengaatakan Natrium sebagai kation utama didalam
cairan ekstraseluler dan paling berperan di dalam mengatur keseimbangan
cairan. Kadar natrium plasma: 135-145mEq/liter.12. Kadar natrium dalam
plasma diatur lewat beberapa mekanisme yaitu:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Left atrial stretch reseptor


Central baroreseptor
Renal afferent baroreseptor
Aldosterone (reabsorpsi di ginjal)\
Atrial natriuretic factor
Sistem renin angiotensin
Sekresi ADH
Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW=Total Body Water)

15

Kadar natrium dalam tubuh 58,5mEq/kgBB dimana + 70% atau


40,5mEq/kgBB dapat berubah-ubah. Ekresi natrium dalam urine 100180mEq/liter, faeces 35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter. Kebutuhan setiap
hari = 100mEq (6-15 gram NaCl). Natrium dapat bergerak cepat antara ruang
intravaskuler dan interstitial maupun ke dalam dan keluar sel. Apabila tubuh
banyak mengeluarkan natrium (muntah,diare) sedangkan pemasukkan terbatas
maka

akan

terjadi

keadaan

dehidrasi

disertai

kekurangan

natrium

(Mayangsari, 2010).
Kekurangan air dan natrium dalam plasma akan diganti dengan air dan
natrium dari cairan interstitial. Apabila kehilangan cairan terus berlangsung,
air akan ditarik dari dalam sel dan apabila volume plasma tetap tidak dapat
dipertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi (Mayangsari, 2010).
Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler
berperan penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit.
Jumlah kalium dalam tubuh sekitar 53 mEq/kgBB dimana 99% dapat
berubah-ubah sedangkan yang tidak dapat berpindah adalah kalium yang
terikat dengan protein didalam sel. Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter,
kebutuhan setiap hari 1-3 mEq/kgBB. Keseimbangan kalium sangat
berhubungan dengan konsentrasi H+ ekstraseluler. Ekskresi kalium lewat
urine 60-90 mEq/liter, faeces 72 mEq/liter dan keringat 10 mEq/liter (Biologi,
2010).
Kalsium dapat dalam makanan dan minuman, terutama susu, 80-90%
dikeluarkan lewat faeces dan sekitar 20% lewat urine. Jumlah pengeluaran ini
tergantung pada intake, besarnya tulang, keadaan endokrin. Metabolisme
kalsium sangat dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar paratiroid, tiroid, testis,
ovarium, da hipofisis. Sebagian besar (99%) ditemukan didalam gigi dan +
1% dalam cairan ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel (Biologi, 2010).
Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kebutuhan unruk
pertumbuhan + 10 mg/hari. Dikeluarkan lewat urine dan faeces.

16

Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu
hasil akhir daripada metabolisme. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal.
Sedikit sekali bikarbonat yang akan dikeluarkan urine. Asam bikarbonat
dikontrol oleh paru-paru dan sangat penting peranannya dalam keseimbangan
asam basa (Mayangsari, 2010).
b) ion negatif (anion).
Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan
bikarbonat (HCO3-) , sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah
ion fosfat (PO43-). Karena kandungan elektrolit dalam plasma dan cairan
interstitial pada intinya sama maka nilai elektrolit plasma mencerminkan
komposisi dari cairan ekstraseluler tetapi tidak mencerminkan komposisi
cairan intraseluler (Biologi, 2010).
2) Non elektrolit
Nonelektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam larutan dan tidak
bermuatan listrik (protein, urea, glukosa, oksigen, karbon dioksida, dan asamasam organik) (Naldi, 2012).
Non elektrolit merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak
terdisosiasi dalam cairan. Zat lainya termasuk penting adalah kreatinin dan
bilirubin (Biologi, 2010).
Tabel 2.1 Prosentase Air dalam Tubuh berdasarkan Berat Badan
Usia
Bayi (baru lahir)
Dewasa:
Pria (20-40 tahun)
Wanita (20-40 tahun)
Lanjut usia (>60 tahun)

Prosentase
75 %
60 %
50 %
45-50 %

17

3. Pergerakan Cairan dalam Tubuh


Cairan tubuh tidak statis, Cairan dan elektrolit berpindah dari satu
kompartemen kekompartemen lain untuk memfasilitasi proses proses yang terjadi
didalam tubuh, seperti

oksigenasi jaringan,

respon terhadap

penyakit,

keseimbangan asam basa, dan respon terhadap terapi obat. Cairan tubuh dan
elektrolit berpindah melalui difusi, osmosis, transportasi aktif, atau filtrasi.
Perpindahan tersebut bergantung pada permeabilitas membrane sel atau
kemampuan membrane untuk ditembus cairan dan elektrolit.
1) Difusi
Suatu proses ketika materi padat, partikel, seperti gula didalam cairan,
berpindah dari daerah berkonsentrasi tinggi kekonsentrasi rendah, sehingga
distribusi partikel didalam cairan menjadi merata atau partikel akan melewati
membrane sel yang permeabe terhadap subtansi tersebut.
2) Osmosis
Perpindahan pelarut murni, seperti air, melalui membran semipermeabel yang
berpindah dari larutan yang memiliki konsentrasi solute rendah ke larutan yang
memiliki konsentrasi solute tinggi. Kecepatan osmosis tergantung pada
konsentrasi solute di dalam larutan, suhu larutan, muatan listrik solute, dan
perbedaan antara tekanan osmosis yang dikeluarkan oleh larutan.
3) Filtrasi
Suatu proses perpindahan air dan substansi yang dapat larut secara bersamaan
sebagai respon terhadap adanya tekanan cairan. Proses ini bersifat aktif di dalam
bantalan kapiler. Tekanan hidrostatik adalah tekanan yang di hasilkan oleh suatu
likuid di dalam sebuah ruangan.
4) Transport Aktif
Merupakan suatu mekanisme mengenai sel-sel yang mengabsorbsi glukosa
dan substansi-substansi lain untuk melakukan aktivitas metabolic. memerlukan
aktivitas metabolic dan pengeluaran energi untuk menggerakan berbagai materi
guna menebus membrane sel.

18

Hal ini memungkinkan sel menerima molekul yang lebih besar dari sel tersebut,
selain itu sel dapat menerima atau memindahkan molekul dari daerah berkonsentrasi
rendah ke konsentrasi tinggi. Contoh transport aktif adalah pompa natrium dan
kalium.
4. Pengaturan Cairan Tubuh
a. Asupan cairan
Asupan cairan terutama diatur melalui mekanisme rasa haus. Pusat
pengendalian rasa haus barada di dalam hipotalamus di otak. Stimulus
fisiologis utama terhadap pusat rasa haus adalah peningkatan konsentrasi
plasma dan penurunan volume darah. Sel-sel reseptor yang disebut
osmoreseptor secara terus menerus memantau osmolalitas. Apabila kehilangan
cairan terlalu banyak, osmoresptor akan mendeteksi kehilangan tersebut dan
mengaktifkan pusat rasa haus. Akibatnya, seseorang akan merasa haus
kemudian mencari air. Factor lain yang mempengaruhi pusat rasa haus adalah
keringnya membrane mukosa faring dan mulut, angiotensin II, kehilangan
kalium, dan factor-faktor psikologis.
b. Haluaran Cairan
Cairan terutama di keluarkan melalui ginjal dan saluran gastrointestinal.
Pada orang dewasa, ginjal setiap menit menerima sekitar 125 ml plasma untuk
di saring dan memproduksi urine sekitar 60 ml dalam setiap jam atau totalnya
sekitar 1,5 l dalam satu hari. Jumlah urine yang di produksi ginjal dipengaruhi
oleh

hormone

antidiuretik

dan

aldosteron.

Hormone-hormon

ini

mempengeruhi ekskresi air dan natrium serta distimulasi oeh perubahan


volume darah. Kehilangan air melalui kulit terutama diatur oleh system saraf
simpatis, yang mengaktifkan kelenjar keringat.
c. Hormon
Hormone utama yang mempengaruhi keseimbangn cairan dan elektrolit
adalah ADH dan aldosteron keadaan kekurangan air akan meningkatkan
osmolalitas darah dan keadaan ini akan di respon oleh kelenjar hipofisis

19

dengan melepaskan ADH. ADH akan menurunkan produksi urine dengan cara
meningkatkan reabsorbsi air oleh tubulus ginjal.
C. Sel, Membran dan Organel
1. Pengertian
Sel merupakan blok-blok pembangun (building bloks) hidup bagi tubuh.
Seperti tubuh keseluruhan yang tertata dengan rapi, demikian juga bagian dalam
sel. Sel yang menyusun tubuh manusia berukuran sangat kecil sehingga tidak
dapat dilihat dengan mata telanjang. Sehingga ukuran sel yang kecil menunjukan
bahwa struktur detail sel hanya dapat dilihat dengan mikroskop electron yang
dapat memperbesar objek hingga 100.000 kali.
Dalam setiap sel memiliki sitoplasma luar atau membran plasma yaitu suatu
struktur membranosa yang sangat tipis yang membungkus setiap sel, memisahkan
isi sel dari sekitarnya, menutupi sitoplasma yang berbentuk seperti agar dan
materi genetik dalam nucleus. Dalam sitoplasma terdapat benyak organel
memiliki fungsi spesifik dan vesikel sekretorius. Membran menyelubungi organel
dan memungkinkannya untuk bekerja dalam kondisi yang berbeda. Pemisahan
organel sangat penting jika organel tidak dilapisi membran untuk menahan
strukturnya, maka sel akan mati.
2. Struktur Sel
Dalam setiap sel memiliki sitoplasma luar atau membran plasma, memisahkan
isi nya, menutupi sitoplasma yang berbentuk seperti agar dan materi genetik
dalam nucleus. Dalam sitoplasma terdapat benyak organel memiliki fungsi
spesifik dan vesikel sekretorius. Membran menyelubungi organel dan
memungkinkannya untuk bekerja dalam kondisi yang berbeda. Pemisahan organel
sangat penting jika organel tidak dilapisi membran untuk menahan strukturnya,
maka sel akan mati.
a. Nucleus (inti), yang menyimpan bahan-bahan genetik sel.

20

Fungsi nukleus atau inti sebagai pusat pengatur genetik sel eukariot.
Di dalam nukleus, DNA sel adalah blue print atau cetak biru hereditas sel
yang mengatur aktivitas sel, sama fungsi dengan DNAnya sel prokariot. DNA
diikat ke protein membentuk benang panjang yang disebut kromatin. Selama
masa reproduksi sel, kromatin bergelung ke dalam struktur yang disebut
kromosom yang berukuran cukup tebal sehingga bisa dilihat dengan
mikroskop cahaya. Struktur nukleus dibungkus oleh kantung nukleus (nuclear
envelope), yaitu membran lapis dua yang memiliki lubang-lubang (pore). Dari
lubang-lubang tersebut, material masuk dan keluar nukleus. Berdekatan
dengan kromatin dalam nukleus, benang-benang kromatin dan granulagranula disebut nukleolus. Nukleolus terdiri atas bagian kromatin DNA dan
RNA dan protein. Nukleolus adalah tempat ribosom dibuat.
b. Membrane plasma atau membrane sel, yang membungkus sel.
Membran memisahkan dua larutan, yaitu membrane yang menyelimuti
sel memisahkan fluida (cairan) didalam dan diluar sel. Struktur dasar
membrane pada semua sel adalah sama. Membrane terutama terbuat dari
sekelompok molekul fosfolipid dan protein. Dua lapisan fosfolipid
membentuk lapisan ganda atau sawar hidrofobik (takut air) kerena struktur
kimianya. Protein berada diantara lapisan ganda ini berperan penting untuk
fungsi membran, misalnya membentuk pori atau saluran melalui membrane
untuk membentuk system transport molekul atau berfungsi sebagai molekul
reseptor. Pentingnya membrane sel berfungsi untuk : melindungi sel,
mempertahankan isi sel, mengatur lalulintas molekul molekul, membrane
plasma bersifat selektif permeable artinya ada zat zat tertentu yang dapat
melewati membran dan ada pula yang tidak, serta sebagai reseptor rangsangan
dari luar sel, berupa zat-zat kimia seperti hormone, racun, rangsangan
listrik,dan rangsangan mekanik yang dilakukan glikoprotein sebagai
reseptornya.
c. Sitoplasma

21

Sitoplasma adalah bagian interior sel yang tidak ditempati oleh


nucleus. Sitoplasma mengandung sejumlah struktur tersendiri, yang sangat
terorganisasi. Komponen dalam sitoplasma meliputi : Organel, mikrofilamen,
mikrotubulus, sentriol, silia, dan flagella.
d. Mitokondria (Organel Energy)
Organel energy atau pembangkit tenaga sel. Organel ini mengambil
energy dari zat-zat gizi dalam makanan dan mengubahnya menjadi suatu
bentuk yang dapat digunakan untuk menjalankan aktivitas sel.Mempunyai
struktur yaitu tampak seperti batang atau filament yang bergerak dengan
konstan dalam sebuah sel hidup, terdiri dari membran terluar halus dan
membran terdalam yang mempunyai lipatan yang disebut Krista, ruang antar
Krista dipenuhi matriks, yang berisi protein, DNA, RNA, dan ribosom.
Fungi dari Mitokondria ini adalah pembangkit tenaga sel karena fungsi
terpentingnya adalah memproduksi energy dalam bentuk ATP, energy yang
dihasilkan dari penguraian nutrient seperti glukosa, asam amino, dan asam
lemak, enzim yang dibutuhkan untuk melepas energy secara kimia,
terlokalisasi dalam matriks mitokondria dan partikel kecil pada krista.
e. Ribosom
Ribosom memiliki struktur seperti granula kecil berwarna hitam
(diameter 25 nm), yang tersusun dari RNA ribosomal dan hamper 80 jenis
protein, ribosom ditemukan sebagai granula individual atau dalam kelompok
disebut poliribosom, bisa bebas dalam sitoplasma (ribosom bebas) atau
melekat pada membran reticulum endoplasma. Ribosom berfungsi sebagai
tempat sintesis proteindan riibosom bebas terlibat dalam sentesis protein
untuk dipakai sel itu sendiri.
f. Reticulum endoplasma (pabrik untuk sintesis)
Reticulum endoplasma (pabrik untuk sintesis) memiliki struktur
jaringan membranosa yang luas dan kontinu, terdiri dari tubulus berisi cairan
dan kantung gepeng, sebagian ditaburi ribosomdan ada 2 jenis RE : reticulum
endoplasma kasar (granular), yang membrannya memiliki ribosom dan

22

reticulum endoplasma halus (agranular), yang tidak memiliki ribosom.RE


berfungsi sebagai tempat utama sintesis produk sel dan juga berperan dalam
transport dan penyimpanannya. Pada RE kasar menonjol dalam sel, terlibat
dalam sintesis dan pelepasan berbagai protein baru ke dalam lumen RE.
Dinding membranosa juga mengandung enzim-enzim yang penting untuk
sintesis hamper semua lipid yang dibutuhkan untuk membuat membran baru.
Sedangkan RE halus banyak ditemukan di sel-sel yang mengkhususkan diri
dalam metabolism lipid, misalnya sel-sel yang mengeluarkan hormone
steroid.
Pada sel hati RE halus, mengandung enzim yang berperan dalam
detoksifikasi berbagai bahan berbahaya yang diproduksi di dalam tubuh
sebagai hasil metabolism atau bahan-bahan yang masuk ke dalam tubuh dari
luar dalam bentuk obat atau senyawa asing. Pada sel otot, dikenal sebagai
reticulum sarkoplasma yang menyimpan kalsium dan berperan penting dalam
proses kontraksi otot.
g. Kompleks Golgi (pabrik pengilangan dan mengarahkan lalu lintas molekul)
Kompleks golgi berhubungan erat dengan RE. terdiri dari kantung
gepeng, sedikit melengkung, dan terbungkus membran yang bertumpuktumpuk membentuk lapisan-lapisan. Jumlah lapisan Golgi bervariasi,
bergantung pada jenis sel. Sebagian sel hanya memiliki satu tumpukan,
sedangkan sel-sel yang mengkhususkan diri mengsekresikan protein memiliki
ratusan tumpukan. Sebagian besar molekul yang baru disintesis yang baru saja
menonjol dari RE halus masuk ke tumpukan Golgi. Sewaktu sebuah vesikel
transportasi yang mengangkut kargo yang baru disintesis mencapai tumpukan
Golgi, membran vesikel tersebut akan menyatu dengan membran kantung
yang berada paling dekat dengan pusat sel. Membran vesikel membuka dan
menjadi bagian dari membran Golgi, sedangkan isi vesikel dibebaskan ke
bagian dalam kantung.

23

Bahan-bahan mentah yang baru disintesis ini bergerak bergerak dari


RE melalui pembentukan vesikel menelusuri lapisan-lapisan tumpukan Golgi,
tempat berlangsungnya dua fungsi yang saling berkaitan :
1) Pengolahan bahan mentah menjadi produk akhir
Di dalam kompleks Golgi, protein kasar dari RE dimodifikasi menjadi
bentuk akhirnya, sebagian besar melalui penyesuaian-penyesuaian pada
gula yang melekat ke protein. Jalur-jalur biokimiawi yang dilalui oleh
protein selama proses perjalanannya menelusuri kompleks Golgi adalah
jalur yang terperinci, kompleks, telah diprogram secara cermat, dan
spesifik untuk tiap-tiap produk akhir.
2) Menyortir dan mengarahkan produk akhir ke tujuan sebenarnya.
Kompleks Golgi bertanggung jawab untuk menyortir dan memisahkan
berbagai jenis produk sesuai dengan fungsi dan tujuannya yaitu molekulmolekul yang diarahkan untuk disekresikan ke bagian luar, molekulmolekul yang akan menjadi bagian dari membran plasma, dan molekulmolekul yang akan bergabung ke dalam organel lain.
Cara yang digunakan oleh kompleks Golgi untuk mengarahkan lalu lintas
molekul ini bersifat kompleks dan masih belum sepenuhnya dipahami.
Walaupun demikian, telah diketahui bahwa produk-produk yang diarahkan
untuk transportasi intrasel dikemas secara berbeda dari produk-produk
yang akan dikeluarkan dari sel. Produk-produk yang ditujukan ke bagian
intrasel lainnya dikemas dalam vesikel berselubung, sedangkan yang akan
disekresikan dikemas dalam vesikel sekretonik.
h. Lisosom (sebagai system pencernaan intrasel)
Lisosom adalah kantung terbungkus memban yang mengandung enzim-enzim
hidrolitik kuat yang mampu mencerna dan dengan demikian, menyingkirkan
berbagai sisa sel dan benda asing yang tidak diinginkan, seperti bakteri yang
masuk ke dalam sel. Dengan demikian, lisosom berfungsi sebagai system
pencernaan intrasel dengan cara sebagai berikut :

24

1) Bahan ekstrasel yang akan dihancurkan oleh enzim-enzim lisosom dibawa ke


bagian dalam sel melalui proses endositosis (endo berarti di dalam)
2) Sebagian kecil sel, terutama sel darah putih, melakukan bentuk khusus
endositosis yang disebut fagositosis.
3) Enzim-enzim hidrolitik umumnya menguraikan bahan yang ditelan menjadi
produk-produk seperti asam amino, glukosa, dan asam lemak yang dapat
digunakan oleh sel. Produk-produk berukuran kecil ini siap menembus
membran lisosom untuk masuk ke dalam sitoplasma untuk digunakan
kemudian.
4) Biasanya bahan-bahan yang tidak tercerna yang tertinggal di dalam badan
residual akhirnya dikeluarkan dari sel melalui proses eksositosis.
Lisosom juga dapat bergabung dengan organel-organel yang sudah tua atau
rusak untuk menyingkirkan bagian-bagian sel yang tidak berguna. Lisosom akan
pecah dan melepaskan enzim-enzim destruktifnya ke dalam sitosol, sehingga sel
mencerna dirinya sampai tuntas. Pada keadaan tertentu, lisosom menyebabkan
penghancuran diri sel sel sehat secara sengaja.
Lisosom juga berperan penting dalam regresi jaringan. Mekanisme yang
mengontrol aktivitas lisosom dalam keadaan-keadaan tersebut belum diketahui.
Peroksisom (menyimpan enzim oksidatif yang mendetoksifikasi berbagai zat
sisa).
Peroksisom serupa dengan lisosom, yaitu sama-sama merupakan kantung
yang mengandung enzim-enzim. Namun tidak seperti lisosom, yang mengandung
enzim-enzim hidrolitik, peroksisom menyimpan beberapa enzim oksidatif kuat
dan mengandung sebagian besar katalase sel. Enzim oksidatif, seperti yang
disyaratkan namanya, menggunakan oksigen (o2), dalam hal ini untuk mempreteli
hydrogen pada molekul-molekul tertentu. Reaksi seperti ini penting untuk
mendetoksifikasi berbagai zat sisa yang dihasilkan di dalam sel atau senyawa
asing yangmasuk ke dalam sel. Misalnya etanol yang terdapat dalam minuman
beralkohol. Produk utama yang dihasilkan di peroksisom adalah hydrogen

25

peroksida (H2O2), yang dibentuk dari oksigen molekuler dan atom hydrogen yang
berasal dari zat-zat sisa.
Hydrogen peroksida, suatu oksigen kuat, memiliki potensi merusak apabila
dibiarkan tertimbun atau keluar dari bungkus peroksisomnya. Walaupun
demikian, peroksisom juga mengandung banyak katalase, suatu enzim
antioksidan yang menguraikan H2O2 yang poten menjadi H2O dan O2 yang tidak
berbahaya. Reaksi yang terakhir ini merupakan mekanisme pengaman yang
penting untuk menghancurkan peroksida yang dapat mematikan di tempat
pembentuknya, sehingga mencegah kemungkinan lolosnya senyawa itu ke dalam
sitosol.
3. Protein-protein membran
Protein membran melekat atau terselip di antara lipid lapis-ganda. Sebagian
dari protein ini, memiliki bagian polar dikedua ujungnya yang berkaitan dengan
bagian sentral nonpolar, dengan menjulur ke seluruh ketebalan membran. Protein
lain hanya menempel dipermukaan luar dan dalam. Protein-protein ini tertambat
oleh interaksi dengan suatu protein yang menembus membran atau oleh
perlekatan ke lipid lapis-ganda. Protein dibagi dalam dua kategori, yaitu integral
dan perifer.
a. Protein Integral membentuk mayoritas protein membran. Molekul ini
menembus dan tertanam dalam lapisan ganda, terikat pada bagian nonpolar.
Protein transmembran menyebar keseluruh lapisan ganda dan membentuk
saluran (pori-pori) untuk transport zat yang melewati membran. Protein
integral juga bisa muncul sebagian pada satu atau beberapa permukaan.
Protein tersebut memiliki beberapa fungsi :
1) Sebagian protein yang terentang di dalam membran membentuk jalur atau
saluran berisi air yang menembus lipid-lapis ganda. Keberadaan proteinprotein tersebut memungkinkan zat-zat larut air yang cukup kecil
memasuki

saluran, misalnya ion, melewati membran tanpa harus

berkontak langsung dengan interior lemak yang hidrofobik. Saluran-saluran

26

ini sangat selektif. Diameternya lebih besar dari 0,8 nm, saluran tersebut
juga dapat secara selektif menarik atau menolak ion-ion tertentu. Sebagai
contoh, Saluran Natrium (Na+) dan Saluran Kalium (K+) masing-masing
hanya dapat dilalui Na+ dan K+.
2) Protein lain berfungsi sebagai molekul pembawa (carrier molecule) yang
menyangkut zat-zat yang tidak mampu menembus membran dengan
sendirinya. Dengan demikian, saluran dan molekul pembawa, keduanya
penting dalam transportasi zat-zat antara CES dan CIS. Setiap pembawa
hanya dapat mengengkut molekul tertentu atau molekul-molekul yang
berhubungan erat. Jenis-jenis pembawa yang bervariasi pada sel-sel yang
berbeda secara selektif diangkut melalui membran sel tersebut. Sebagai
contoh, kelenjar tiroid memerlukan yodium untuk sintesis hormone tiroid.
Dengan demikian, membran plasma kelenjar tiroid memiliki molekul
pembawa yang khas untuk yodium, sebagai unsure yang esensial ini dapat
diangkut dari darah ke dalam kelenjar tiroid, suatu kemampuan yang tidak
dimiliki sel tubuh lain.
3) Banyak protein di permukaan luar berfungsi sebagai tempat reseptor
(receptor site) yang mengenali dan berikatan dengan molekul-molekul
spesifik di lingkungan sekitar sel. Pengikatan ini mencetuskan serangkaian
kejadian di membran dan di dalam sel yang mengubah aktivitas sel
tertentu. Dengan cara ini, zat-zat perantara kimiawi di dalam darah,
misalnya hormone, hanya mampu mempengaruhi sel-sel spesifik yang
memiliki reseptor untuk zat tersebut dan tidak menimbulkan efek pada selsel lain, walaupun setiap sel terpajan oleh zat perantara yang sama melalui
penyebarannya yang luas di dalam darah. Sebagai contoh, kelenjar
hipofisis anterior mengeluarkan TSH ke dalam darah. TSH hanya dapat
melekat pada permukaan sel kelenjar tiroid untuk merangsang sekresi
hormone tiroid.
4) Kelompok protein lain berfungsi sebagai enzim yang terikat ke membran
yang mengontrol reaksi-reaksi kimia tertentu di permukaan dalam atau luar

27

sel. Sel-sel memperlihatkan kekhususan pada jenis enzim yang terbenam di


dalam membran plasmanya. Sebagai contoh, lapisan luar membran plasma
sel-sel otot rangka mengandung suatu enzim yang dapat menghancurkan
zat perantara kimiawi yang mencetuskan kontraksi otot sehingga otot dapat
melemas.
5) Sebagian protein tersusun dalam suatu jalinan filamentosa di permukaan
bagian dalam membran dan dihubungkan dengan unsure-unsur protein
tertentu pada sitoskeleton. Protein-protein membran ini tampak secara
struktural berperan yang penting dalam mempertahankan bentuk sel serta
mungkin ikut serta dalam perubahan-perubahan di permukaan yang terjadi
saat sel bergerak.
6) Protein lain berfungsi sebagai molekul adhesi sel (cell adhesion molecule,
CAM). Molekul-molekul ini menonjol ke luar dari permukaan membran
dan membentuk lengkung-lengkung atau anggota badan (apendiks) lain
yang digunakan oleh sel untuk saling berpegangan dan untuk melekat ke
serat-serat jaringan ikat yang menjalin antara sel-sel. Dengan demikian,
molekul-molekul inii membantu menyatukan jaringan dan organ.
7) Protein lain, khususnya bersama dengan karbohidrat, penting untuk
kemampuan sel mengenali diri (self, yaitu sel dari jenis yang sama) dan
dalam interaksi sel ke sel.
b. Protein perifer, terikat longgar pada permukaan membran dan dapat dengan
mudah terlepas dari membran tersebut. Fungsinya, tidak begitu diketahui
seperti fungsi protein integral. Protein ini kemungkinan terlibat dalam struktur
pendukung dan perubahan bentuk membran saat pembelahan atau pergerakan
sel.
4. Karbohidrat Membran
Berkaitan dengan molekul lipid atau protein. Glikolipid dan glikoprotein yang
dihasilkan dapat memberikan sisi pengenal permukaan untuk interaksi antar sel,
seperti mempertahankan sel-sel darah merah agar tetap terpisah atau

28

memungkinkan penggabungan sel-sel yang sama untuk membentuk sebuah


jaringan. Karbohidrat membran berperan dalam pengenalan sel, kemampuan sel
untuk membedakan sel yang satu dengan sel lainnya.
D. Protein Transport Membran dan Kanal Ion
1. Transport Molekul Melalui Membran
Prinsip dasar : pemeliharaan kehidupan sel bergantung pada kesinambungan
gerakan materi ke dalam dan keluar sel. Nutrisi harus masuk, sampah harus
keluar, dan ion-ion harus digerakkan ke dua arah tersebut. Pergerakan menembus
membran plasma terjadi melalui mekanisme transport aktif dan transport pasif.
a. Pasif = difusi
Difusi merupakan pergerakan senyawa dari daerah dengan konsentrasi tinggi
ke konsentrasi rendah.Persyaratan yang harus dimiliki oleh suatu senyawa non
elektrolit agar dapat berdifusi secara pasif melalui membrane:
1) Konsentrasi senyawa pada satu sisi lebih besar dari sisi lain
2) Membran harus permiabel terhadap substansi tersebut
Difusi melalui membrane :
1) Difusi sederhana melalui lipid bilayer
2) Difusi sederhana melalui Channel protein
3) Difusi terfasilitasi, Difusi dari daerah konsentrasi tinggi ke rendah. Senyawa
berikatan dulu dengan protein carrier atau protein integral membrane.
b. Aktif, dengan adanya pemanfaatan energy (ATP) = transport aktif
2. Transport Aktif
a. Transport aktif

merupakan

system

transport

yang

terarah

yang

membutuhkan energy dan melibatkan protein integral tertentu (pompa


protein). Ada 2 kelompok yaitu:
1) Berikatan dengan hidrolisa ATP : Na+/K+-ATP ase (pompa Na-K)
a) Ca2+-ATP ase transport Ca dari RE keluar atau kedalam RE
b) H+/K+ ATPase pada sel epitel dalam saluran pencernaan
2) Co-transport : berikatan dengan gradien ion yaitu terjadinya perpindahan
glukosa berikatan dengan ion Na sel epitel.
b. Terdapat 3 protein transporter yang terlibat dalam transport aktif

29

1)

Uniport, pergerakan ion tunggal dalam satu arah, misalnyaprotein

pengikat kalsium terdapat dalam membrane plasma dan RE pada sel-sel


yang aktif mentransport ion Ca2+ dari daerah konsentrasi tinggi baik dari
dalam maupun luar RE.
2) Symport, pergerakan 2 jenis ion dalam arah yang sama. Misalnya,
pengambilan asam amino dari usus halus dari sel-sel yang membatasinya
memerlukan pengikatan ion Na+ dan asam amino secara bersamaan ke
protein transporter yang sama.
3) Antiports, pergerakan dua ion pada arah yang berlawanan. Satu ke
luar dan yang lain ke dalam sel. Misalnya, banyak sel yang memiliki
pompa Na-K yang menggerakkan Na+ ke luar sel dan K+ke dalam sel.
4) Symport dan antiport dikenal sebaggai transporter berpasangan, karena
kedua tipe ini menggerakkan ion pada saat yang bersamaan. Proses
transport aktif dibagi menjadi dua yaitu :

30

a) Transport Aktif primer : pompa Na-K.


Transport aktif primer memerlukan partisipasi langsung molekul ATP yang
kaya energi.Pada transport aktif primer energi digunakan untuk memindahkan
ion melawan gradient konsentrasi. Untuk setiap molekul ATP yang digunakan,
dua ion K+ dipompa ke dalam sel dan tiga ion Na+ dipompa ke luar sel.
b) Transport aktif sekunder
Transport aktif sekunder tidak menggunakan ATP secara langsung, energi
disediakan oleh gradien konsentrasi ionyang dihasilkan dari transport aktif
primer. Pada transport aktif sekunder, konsentrasi Na+ yang dimantapkan oleh
transport aktif primer menggerakkan transport aktif sekunder dari glukosa,
Perpindahan glukosa melintasi membran melawan gradient konsentrasi
dibantu oleh protein simport untuk pergerakan ion Na+ ke dalam sel.
E. LISTRIK BIOLOGIS
1. Pengertian
Biolistrik adalah daya listrik hidup yang terdiri dari pancaran elektronelektron yang keluar dari setiap titik tubuh (titik energi) dan muncul akibat
adanya rangsangan penginderaan. Pikiran kita terdiri dari daya listrik hidup,
semua daya ini berkumpul didalam pusat akal didalam otak dalam bentuk potensi
daya listrik. Dari pusat akal, daya ini kemudian diarahkan ke seluruh anggota
tubuh kita, yang kemudian bergerak oleh perangsangnya. Potensi daya listrik
hidup ini, yang tertimbun didalam pusat akal harus di tuntut oleh sesuatu supaya
mengalir untuk mengadakan gerakan tubuh kita atau bagian-bagian tubuh lainnya.
Biolistrik adalah energi yang dimiliki setiap manusia yang bersumber dari
ATP (Adenosine Tri Posphate) dimana ATP ini di hasilkan oleh salah satu energi
yang bernama mitchondria melalui proses respirasi sel. Biolistrik juga merupakan
fenomena sel. Sel-sel mampu menghasilkan potensial listrik yang merupakan
lapisan tipis muatan positif pada permukaan luar dan lapisan tipis muatan negatif
pada permukaan dalam bidang batas/membran.
Kelistrikan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan
muatan-muatan, ion-ion yang terdapat dalam tubuh dan medan listrik yang

31

dihasilkan oleh ion-ion dan muatan muatan tersebut serta tegangan yang
dihasilkan.
Tegangan (voltage) listrik atau sering disebut potensial listrik dapat dihasilkan
oleh sel-sel tubuh. Tegangan yang dihasilkan disebut sebagai tegangan-bio atau
biopotensial. Tegangan yang paling besar dihasilkan oleh sel-sel saraf (nerve) dan
sel-sel otot (muscle). Tegangan yang terjadi pada sel, (selanjutnya disebut
tegangan sel (cell potentials)), terus menerus terjaga keberadaannya, dan untuk
menjaganya, sejumlah besar energi dibutuhkan. Jadi, energi yang disuplai ke
dalam tubuh, sebanyak paling tidak 25% digunakan untuk menjaga kehadiran
tegangan pada sel.
Tegangan sel dapat bertahan konstan dalam jangka waktu yang lama, namun
dapat pula diubah melalui suatu perlakuan internal maupun eksternal dalam
bentuk gangguan atau rangsangan (fires). Pengubahan nilai tegangan pada sel
akan menghasilkan suatu pulsa tegangan (voltage pulses). Efek yang ditimbulkan
oleh pengubahan tengangan ini sangat bergantung pada jenis selnya. Sel-sel saraf,
oleh karena pengubahan nilai tegangan selnya, dapat menghasilkan pulsa
tegangan yang dapat dirambatkan ke berbagai sel lainnya untuk memberi
informasi tentang hal-hal yang kita rasakan dari panca indra. Aktivitas
sekumpulan sel-sel ditentukan oleh keadaan tegangan yang dihasilkannya dan
dapat diukur melalui suatu alat pengukur pulsa-pulsa tegangan.
Kemampuan sel syaraf (neurons) menghantarkan isyarat biolistrik sangat
penting.Transmisi sinyal biolistrik (TSB) mempunyai sebuah alat yang
dinamakan Dendries yang berfungsi mentransmsikan isyarat dari sensor ke
neuron. Stimulus untuk mentringer neuron dapat berupa tekanan, perubahaan
temperature, dan isyarat listrik dari neuron lain. Aktifitasi bolistrik pada suatu otot
dapat menyebar ke seluruh tubuh seperti gelombang pada permukaan air.
Pengamatan pulsa listrik tersebut dapat dilakukan dengan memasang beberapa
elektroda pada permukaan kulit. Hasil rekaman isyarat listrik dari jantung
(Electrocardiogran-ECG) diganti untuk diagnosa kesehatan. Seperti halnya pada
ECG, aktivitasi otak dapat dimonitor dengan memasang beberapa elektroda pada

32

posisi tertentu. Isyarat listrik yang dihasilkan dapat untuk mendiagnosa gejala
epilepsy, tumor, geger otak dan kelainan otak lainya.
Alat elektroencephalogram (EEG) adalah alat yang digunakan untuk merekam
pulsa-pulsa tegangan yang dihasilkan oleh aktivitas sel-sel saraf otak. Alat
elektrocardiogram (ECG) digunakan untuk merekam pulsa-pulsa tegangan yang
dihasilkan oleh aktivitas sel-sel otot, khususnya otot jantung.
2. Penemuan Biolistrik
Manusia tidak bisa melihat, merasa, mencium atau menyadari keberadaan
listrik dengan inderanya, baik untuk muatan maupun untuk medan listriknya.
Baru pada akhir abad 18 hal-hal mengenai listrik diteliti.
a. Histori Yunani Kuno : Batu amber digosok dapat menarik benda kecil seperti
jerami atau bulu (kata listrik dari bahasa yunani, electron = amber)
Gilbert, 1600, dokter istana Inggris > electric (membedakannya dgn gejala
kemagnetan)
b. Du Fay, 1700, tolak menolak tarik menarik > resinous (-), vitreous (+)
Franklin, ilmuwan USA membagi muatan listrik atas dua: positif dan negatif.
Jika gelas dengan sutera digosokkan, maka gelas akan bermuatan positif dan
sutera akan bermuatan negative.
c. Luigi Galvani (1786), periode hujan badai: Menyentuh otot tungkai seekor
katak dengan metal, teramati otot berkontraksi. Aliran listrik akibat badai
merambat melalui saraf katak sehingga otot-ototnya berkontraksi. Kemudian
hari: Impuls dalam sistem syaraf terdiri dari ion-ion yang mengalir sepanjang
sel syaraf, analog dengan aliran elektron dalam konduktor. Pada tahun 1786
dia melaporkan hasil eksperimennya bahwa kedua kaki katak terangkat
ketika diberikan aliran listrik lewat suatu konduktor.
d. Millikan (1869 1953), mencari harga muatan paling kecil, percobaan tetes
minyak Millikan. Muatan elektron e = 1,6 10-19 C.
e. Caldani (1856), kelistrikan pada otot katak yang telah mati.
f. Arons (1892), merasa ada aliran frekuensi tinggi melalui tubuhnya sendiri
serta pembantu atau asistennya.

33

g. Van Seynek (1899), mengamati terjadinya panas pada jaringan yang


disebabkan aliran frekuensi tinggi.
h. Schlephake
(1982), melaporkan

tentang

pengobatan

dengan

menggunakan Short Wave.


3. Hukum dalam Biolistrik
Ada dua hukum dalam biolistrik, yaitu : Hukum Ohm dan Hukum Joule.
a. Hukum Ohm menyatakan bahwa: Perbedaan potensial antara ujung
konduktor berbanding langsung dengan arus yang melewati, dan
berbanding terbalik dengan tahanan dari konduktor.
Rumusnya yaitu : R V/I
Dimana, R : hambatan (), I : kuat arus (ampere), V : tegangan (Volt).
b. Hukum joule menyatakan bahwa: Arus listrik yang melewati konduktor
dengan beda potensial (V), dalam waktu tertentu akan menimbulkan
panas.
Rumusnya yaitu : Q =V I t
Dimana, Q : energi panas yang ditimbulkan (joule), V : tegangan (Volt), I :
arus (A), t : waktu lamanya arus mengalir (second).

34

4. Kelistrikan dan Kemagnetan Yang Timbul Pada Tubuh Manusia


a. Sistem syaraf dan neuron
Sistem syaraf dibagi menjadi dua bagian yaitu sistem syaraf pusat dan
otonom. Sistem syaraf pusat terdiri diantaranya otak, medulla spinalis dan
perifer. Saraf perifer ini adalah saraf-saraf yang mengirim informasi
sensoris ke otak atau ke medulla spinalis disebut saraf afferen sedangkan
serat saraf yang menghantarkan informasi dari otak atau medula spinalis
ke otot serta kelenjar disebut sistem saraf efferen sedangkan sistem saraf
otonom mengatur organ dalam tubuh seperti jantung usus dan kelenjarkelenjar sehingga pengontrolan sistem ini dilakukan dengan tidak sadar
yakni bekerja secara sendiri-sendiri.
b. Konsentrasi ion di dalam dan di luar sel
Ini merupakan suatu model potensial istirahat pada waktu = 0 dimana ion
K akan melakukan difusi dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah
sehingga pada saat tertentu akan terjadi membran dipole atau membran
dua kutub di mana larutan dengan konsentrasi yang tadinya rendah akan
kelebihan ion positif, kebalikan dengan larutan yang konsenrasi tinggi
akan mengalam kekurangan ion sehingga menjadi lebih negatif.
c. Kelistrikan saraf
Dalam bidang Neuroatomi akan dibicarakan kecepatan impuls serat saraf,
serat saraf yang berdiameter yang besar mempunyai kemampuan
menghantarkan impuls lebih cepat daripada serat saraf yang mempunyai
diameter yang kecil. Serat dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian
diantaranya A,B dan C. Dengan menggunakan mikroskop elektron , serat
saraf di bagi dalam dua tipe serta saraf yang bermyelin dan tidak
bermyelin.
d. Perambatan Potensial Aksi
Potensial aksi dapat terjadi apabila suatu daerah membran saraf atau otot
mendapat rangsangan mencapai nilai ambang. Potensial aksi itu sendiri
mempunyai kemampuan untuk merangsang daearah sekitar sel membran
untuk mencapai nilsi ambang. Dengan demikian dapat terjadi perambatan

35

potensial aksi ke segala jurusan sel membran, ,keadaan ini disebut


peramabatan potensial aksi atau gelombang depolarisasi.
e. Setelah timbul potensial aksi, sel membran akan mengalami repolarisasi.
Proses repolarisasi sel membran disebut sebagai suatu tingkat refrakter.
Tingkat refrakter ada dua fase yaitu periode refrakter absolut yakni selama
periode ini tidak ada rangsangan, tidak ada unsur kekuatan nntuk
menghasilkan potensial aksi yang lan sedangkan periode refrakter relaktif
yakni setelah membran mendekati repolarisasi seluruhnya maka dari
periode refrakter terabsolut akan menjadi periode refrakter refraktif dan
apabila stimulus yang kuat secara normal akan menghasilkan potensial
aksi yang baru.
5. Kelistrikan Pada Sinapsis dan Neuronyal Junction
Hubungan antara dua buah syaraf disebut sinapsis; berakhirnya syaraf pada
sel otot/hubungan syaraf otot disebur Neuromyal Junction. Baik sinapsis maupun
neuromyal junction mempunyai kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi
dengam cara lompat dari satu sel ke sel yang berikutnya. Gelombang depolarisasi
ini penting pada sel membrane otot, oleh karena pada waktu terjadi depolarisasi,
zat kimia yang terdapat pada otot akan trigger/bergetar/berdenyut menyebabkan
kontraksi otot dan setelah itu akan terjadi repolarisasi sel otot hal mana otot akan
mengalami relaksasi.
6. Kelistrikan Otot Jantung
Sel membran otot jantung sangat berbeda dengan saraf dan otot bergaris, pada
saraf maupun otot bergaris dalam keadaan potensial membran istirahat dilakukan
rangsangan maka ion-ion Na+ akan masuk kedalam sel dan setelah mencapai nilai
ambang akan timbul depolrisasi sedangkan pada sel sel otot jantung ion Na+
mudah terjadi kebocoran sehingga terjadi repolarisasi komplit, ion Na+ perlahanlahan akan masuk kembali ke dalam sel dengan akibat gterjadi gejala depolarisasi

36

secara spontan sampai mencapai nilai ambang dan terjadi potensial aksi tanpa
memerlukan rangsangan dari luar.
Dapat diketahui membrane sel otot jantung tanpa rangsangan dari luar akan
mencapai nilai ambang dan menghasilkan potensial aksi pada suatu
rate/kecepatan yang teratur. Rate/kecepatan ini disebut Natural Rate/kecepatan
dasar membrane sel otot jantung.
Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet. Medan magnet
sekitar jantung disebabkan adanya aliran listrik jantung yang mengalami
depolarisasi

dan

repolarisasi.

Pencatatan

medan

magnet

disebut

magnetoksdiogram. Besar medan magnet sekita jantung adalah sekitar 5 x 10


pangkat -11 T( Testa) atau sekitar 10 x 10 pangkat 8 medan megnet bumi.
7. Elektroda
Untuk mengukur potensial aksi secara baik dipergunakan elektroda. Kegunaan
dari elektroda untuk memindahkan transmisi ion kepenyalur electron. Bahan yang
dipakai sebagai elektroda adalah perak dan tembaga. Apabila sebuah eletroda
tembaga dan sebuah elektroda perak dicelupkan kedalam larutan, misalnya
larutan eletrolit seimbang cairan badan/tubuh maka akan terjadi perbedaan
potensial antara kedua elektroda itu. Perbedaan potensial ini kira-kira sama
dengan perbedaan potensial antara kedua elektroda itu. Perbedaan potensial ini
kira-kira sama dengan perbedaan antara potensial kontak kedua logam tersebut
disebut potensial offset elektroda.
Apabila ada elektroda tembaga dan elektroda tembaga dan elektroda perak
ditempatkan dalam bak berisi elektrolit akan terdapat perbedaan potensial sebesar
0,80-0,30=0,46 V. Macam-macam bentuk elektroda :

a.
b.

1) Elektroda jarum (Mikro Elektroda)


2) Elektroda Mikropipet
3) Elektroda Permukaan kulit
Bentuk plat
Bentuk Suction cup

37

c.
d.
e.

Bentuk Floating
Bentuk ear Clip
Bentuk Batan
F. KONDUKSI DAN POTENSIAL AKSI
1. Konduksi
Konduksi adalah perpindahan panas antara dua sustansi dari sustansi yang
bersuhu tinggi, panas berpindah ke sustansi yang bersuhu rendah dengan adanya
kontak kedua sustansi secara langsung. Tahapan potensial aksi diringkas dalam
lima langkah, pertama dua di antaranya adalah kenaikan (rising) dan fase
melampaui(overshoot). Tiga langkah terakhir akan jatuh (falling), menembak
rendah (undershoot), dan fase pemulihan (recovery). Beberapa sumber, baik
fisiologi atau buku pelajaran, kadang-kadang mencakup fase istirahat awal
sebelum tahap naik ketika pencacahan tahap potensial aksi, mungkin untuk
menggambarkan status quo neuron sebelum potensial aksi dimulai.
a. Konduksi Impuls Pada Saraf
Kecepatan konduksi impuls saraf sangat bervariasi antara satu saraf dengan
saraf yang lain pada hewan yang sama, dan antara saraf pada hewan yang satu
dengan pada hewan yang lain.
Kecepatan konduksi impuls saraf pada suatu hewan di tentukan oleh
penampang saraf dan adanya selubung mielin. Serabut saraf yang memiliki
penampang lebih besar akan merambatkan impuls lebih cepat.
Vertebrata tidak memiliki akson raksasa namun kecepatan konduksi pada saraf
motornya sangat cepat. Hal ini dapat terjadi karena semua akson pada vertebrata
di selubungi oleh sarung tipis dari sejenis zat lemak yaitu mielin. Sarung mielin
terbentuk dari sel-sel glia yang tumbuh menjadi lapisan-lapisan pembalut dimana
protoplasmanya telah menghilang sehingga tinggal lapisan-lapisan membran sel
glia. Mielin ini tidak menutup rapat seluruh akson, namun nampak bersegmensegmen dimana antara dua segmen masih ada membrean saraf yang berhubungan
dengan cairan ekstraseluler. Bagian antara dua segmen mielin di sebut nodus
ranvier, yang panjangnya bisa 1 mm sampai beberapa mm.

38

Impuls adalah potensial aksi yang di rambatkan pada serabut saraf. Selama
perambatannya potensial aksi tidak mengalami perubahan. Ada dua cara
perambatan impuls yaitu aliran Arus Lokal (Local Current Flow) dan konduksi
Loncatan (Saltatory Conduction)
1) Aliran Arus Lokal (Local Current Flow), Aliran ini terjadi pada akson yang
tidak bermielin.
Bila pada akson Hilocknya di rangsang dengan potensial aksi maka
rangsangan ini akan menyebabkan terbukanya saluran Na+. Karena gradien
konsentrasi Na+ berdifusi ke dalam sel sehingga membran mengalami
depolarisasi dan tercapai potensial aksi baru. Potensial aksi baru ini akan
menyebabakan depolarisasi baru pada daerah membran di sebelahnya sehingga
tercapai potensial aksi baru lagi. Proses rangkaian potensial aksi, depolarisasi,
potensial aksi, depolarisasi ini akan merambat sampai ke ujung akson. Karena
potensial aksi merambat dari satu titik ke titik berikutnya rambatan potensial aksi
ini di kenal sebagai aliran arus lokal. Jiak potensial aksi berasal dari akson hilock
dan potensial aksi itu merambat menjauhi akson hilock menuju ujung akson maka
membran saraf yang di tinggalkan oleh potensial aksi akan kembali ke keadaan
istirahat (polarisasi). Perubahan dari Depolarisasi ke polarisasi di kenal sebagai
repolarisasi.
2) Konduksi Loncatan (Saltatory Conduction), terjadi pada serabut saraf yang
bermielin.
Apabila terjadi potensial aksi pada akson hilock, potensial aksi ini akan
menyebabkan depolarisasi pada daerah membran di sebelahnya. Karena daerah
membran di sebelahnya tidak berhubungan langsung dengan cairan ekstraseluler
(tertutup selubung mielin). Maka potensial aksi ini akan meloncati satu segmen
selubung mielin ke nodus ranvier 1. Karena rangsangan potensial aksi tersebut,
nodus ranvier 1 akan mengalami depolarisasi dan membangkitkan potensial aksi
baru. Potensial aksi baru ini seperti potensial aksi pertama akan meloncat ke
nodus ranvier 2 dan menyebabkan depolarisasi untuk membangkitkanpotensial

39

aksi baru lagi. Kejadian ini berulang terus sampai ke ujung akson (bonggol
sinaps). Dengan konduksi loncatan inilah maka rambatan impuls melalui serabut
saraf bermielin lebih cepat daripada rambatan impuls pada serabut saraf tidak
bermielin (pada diameter yang sama)
b. Transmisi Sinyal Pada Batang Saraf
1) Akson bermielin dan tidak bermielin
Serabut saraf dibedakan menjadi serabut saraf besar (diselubungi mielin) dan
serabut saraf kecil (tidak diselubungi mielin).
Pada serabut saraf besar, bagian tengahnya adalah akson, yang berfungsi
dalam penghantaran potensial aksi. Di dalam akson terdapat aksoplasma yang
merupakan cairan intrasel yang kental. Akson ini diselubungi oleh mielin yang
seringkali lebih tebal daripada akson itu sendiri. Kira-kira setiap 1-3 mm sekali,
selubung mielin ini diselingi oleh nodus ranvier. Selubung mielin di sekeliling
akson dibentuk oleh sel Schwann, yang kemudian menyelubungi akson hingga
beberapa kali dan membentuk sel Schwann yang terdiri atas substansi lipid
sfingomielin. Substansi ini adalah insulator listrik yang sangat baik dan
mengurangi aliran ion yang melalui membran hingga 5000 kali lipat. Sedangkan
pada bagian nodus ranvier, ion-ion masih dapat mengalir dengan mudah melalui
membran akson di antara cairan ekstrasel dan intrasel di dalam akson.
2) Konduksi melompat pada akson bermielin dari nodus ke nodus
Walaupun hampir tidak ada ion-ion yang dapat mengalir melewati selubung
mielin yang tebal pada saraf bermielin, ion-ion tersebut dapat mengalir dengan
mudah melewati nodus ranvier yang tidak bermielin. Oleh karena itu, potensial
aksi hanya terjadi pada nodus. Namun potensial aksi tersebut dikonduksikan dari
nodus ke nodus, sehingga terlihat seperti melompat-lompat. Artinya, aliran arus
listrik mengalir melalui sekeliling cairan ekstrasel di luar selubung mielin dan
melalui aksoplasma di dalam akson dari nodus ke nodus, yang merangsang
nodus-nodus secara berurutan satu per satu. Penjalaran secara melompat ini
mempunyai 2 makna, yaitu: Konduksi melompat akan menghemat energi akson
karena hanya nodus saja yang berdepolarisasi, yang memungkinkan kehilangna
ion-ion sampai 100 kali lebih sedikit daripada yang seharusnya terjadi seperti

40

yang diperlukan, dan karena itu hanya membutuhkan sedikit metabolisme untuk
menetapkan kembali perbedaan konsentrasi natrium dan kalium di antara
membran setelah timbulnya serangkaian impuls saraf
c. Kecepatan konduksi pada serabut saraf
Kecepatan konduksi pada serabut saraf bervariasi antara 0,25 m/detik pada
serabut tak bermielin yang sangat kecil, hingga sebesar 100 m/detik pada serabut
mielin bermielin yang sangat besar
d. Mekanisme Penghanatar Impuls (Sinaps)
Di dalam tubuh hewan, jaringan saraf tersusun atas sel-sel saraf yang
sambung-menyambung dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain, dari
satu organ ke organ yang lain. Hubungan antara sel saraf tersebut pada umumnya
terjadi antara akson sel saraf sebelumnya denga dendrite atau badan sel saraf
berikutnya. Titik dimana suatu akson membuat kontak dengan neuron yang lain
disebut sinapsis. Sel saraf sebelum sinaps disebut sel saraf prasinaps, dan sel saraf
sesudah sinaps disebut sel saraf pascasinaps. Berdasarkan mekanisme transmisi
impuls pada sinaps dikenal adanya dua macam sinaps, yaitu sinaps listrik
(electrical synapses) dan sinaps kimia (chemical sinapses) sedangkan berdasarkan
fungsinya ada dua macam sinaps yaitu sinaps eksitatori dan sinaps inhibitori.
Sinyal-sinyal saraf dihantarkan dari satu neuron ke neuron yang lain/
berikutnya melalui batas antar neuron (interneural junction) yang disebut sinaps.
Terdapat 2 macam sinaps :
1) Sinaps listrik (electrical synapses)
Pada sinaps ini membran prasinaps dan membran pascasinaps menempel
sangat erat melalui suatu persambungan renggang (gap junction). Gap junction ini
memiliki tahanan listrik yang sangat rendah sehingga sinyal listrik dari saraf
prasinaps ke saraf pascasinaps akan merambat secara konduksi sederhana tanpa
mengalami penundaan. Transmisi informasi terjadi sebagai listrik murni tanpa
intervensi pemancar kimia (neurotransmitter). Ditandai oleh adanya saluran
langsung berupa tubular protein kecil (taut celah/ gap junction) yang menjalarkan

41

aliran listrik dari satu sel ke sel berikutnya. Sinap selalu menjalarkan sinyal
dalam 1 arah : dari neuron presinaps ke neuron postsinaps yang disebut konduksi
satu arah.
2) Sinaps kimia (chemical sinapses)
Pada sinaps ini ujung akhir dari akson prasinaps melebar membentuk bonggol
akson (axon knob) di dalam bonggol akson terdpat banyak vesikel kecil yang
berisi molekul zat pemancar kimia (neurotransmitter) adanya vesikel-vesikel
tersebut merupakan ciri khas dari sinaps ini. Pada tempat persinggungan antara
bonggol akson dengan dendrite atau badan sel dari sel saraf pascasinaps,
membran prasinaps tidak menyatu dengan membran pascasinaps. Antara
keduanya terdapat suatu celah sempit yang di sebut celah sinaps (synaptic cleft).
Neuron presinaps menyeksresikan bahan kimia yang disebut neurotransmitter.
Bahan transmitter ini akan bekerja pada reseptor protein dalam membran neuron
berikutnya (neuron post sinaps) sehingga neuron tersebut akan terangsang,
menghambatnya atau mengubah sensitivitasnya dalam berbagai cara.
Transmisi suatu impuls dari bonggol parasinaps ke neuron pascasinaps dicapai
melalui pembebasan neurotransmitter-neurotransmitter dari vesikel-vesikel ke
celah sinaps yang kemudian mempengaruhi membran pascasinaps. Dalam sinaps
kimia ini transmisi impuls akan mengalami penundaan. Bila suatu impuls saraf
sampai pada bonggol prasinaps perubahan-perubahan pada potensial membran
secara cepat menyebabkan saluran Ca++ terbuka dan menyebabkan Ca++
berdifusi ke bonggol akson. Saluran Ca++ tertutup saat membran istirahat dan
terbuka sebagai respon terhadap perubahan voltase membran. Saluran ion kalsium
seperti ini termasuk saluran berpintu voltase (voltage-gated). Meningkatnya
konsentrasi Ca++ di dalam bonggol akson mempengaruhi vesikel-vesikel untuk
berdifusi pada membran prasinaps dan membebaskan neurotransmitternya ke
celah sinaps.
Pada sambungan sel otot (neuromuscular junction) sekitar 300 vesikel di
bebaskan untuk setiap impuls saraf. Pada persambungan saraf otot tersebut
neurotransmitternya

adalah

Asetil-kolin

(Ach).

Setiap

vesikel

sinaptik

42

mengandung sekitar 10000 molekul Asetil-kolin yang dengan cepat berdifusi


menyeberang celah sinaps ke membran pascasinaps. Pada membrane pascasinaps
molekul-molekul asetilkolin akan menempel pada reseptor khusus yang
merupakan bagian protein membrane pascasinaps.
e. Mekanisme Pelepasan Transmiter dari Ujung Presinaps ke Celah Sinaps
Adanya impuls menyebabkan potensial aksi menyebar di sepanjang ujung
presinaps yang mendepolarisasi terminal. Hal ini menyebabkan terbukanya kanal
ion Ca sehingga sebagian besar ion Ca yang berada di celah sinaps mengalir
masuk membran presinapse. Sewaktu ion Ca memasuki ujung presinaps, ion-ion
ini berikatan dengan protein pada permukaan sisi dalam membran presinaps, yang
disebut sisi pelepasan. Keadaan ini sebaliknya akan menyebabkan kantongkantong transmiter disekitar daerah itu akan berikatan dan menyatu dengan
membran, sehingga akhirnya akan membuka bagian luar membran melalui proses
yang disebut eksositosis. Akibatnya bahan-bahan transmiter ke luar menuju celah
sinaps dan akan berikatan dengan reseptor- reseptor yang terdapat pada membran
post sinaps, sehingga terjadi aktivasi membran postsinaps.

43

f. Tahap pembentukan dan pelepasan asetilkolin pada sambungan


neuromuscular
Tahap pembentukan dan pelepasan asetilkolin adalah, sbb :
1) Vesikel kecil, brukuran kira-kira 40 nanometer, dibentuk oleh aparatus
golgi dalam badan sel motoneuron pada medula spinalis. Vesikel ini
kemudian diangkut oleh aliran aksoplasma melalui inti akson dari badan
sel pusat pada medula spinalis menuju ke sambungan neuromuskular yang
terletak di ujung serat saraf. Kira-kira 300.000 vesikel-vesikel kecil ini
berkumpul di bagian terminal saraf dari sebuah lempeng akhir otot rangka.
2) Asetilkolin disintesis dalam sitosol serat saraf terminal namun kemudian
diangkut melalui membran vesikel menuju ke bagian dalamnya, tempat
asetilkolin disimpan dalam bentuk sangat pekat, dengan sekitar 10.000
molekul asetilkolin dalam setiap vesikel.
3) Dalam keadaan istirahat, adakalanya vesikel bersatu dengan membran
permukaan terminal saraf dan melepaskan asetilkolinnya ke dalam parit
sinpas. Bila hal ini terjadi, sesuatu yang disebut potensial lempeng akhir
miniatur, dengan kekuatan kira-kira 0,4 milivolt dan berlangsung selama
beberapa milidetik, terjadi di daerah setempat serat otot akibat kerja dari
paket molekul asetilkolin ini.
4) Bila suatu potensial aksi tiba pada terminal saraf, hal ini akan banyak
membuka saluran kalsium dalam membran terminal, sebab membran ini
memiliki saluran kalsium bergerbang voltase yang berlimpah-limpah.
Sebagai akibatnya, konsentrasi ion kalsium pada terminak meningkat 100
kali lipat, yang kemudian meningkatkan laju penggabungan vesikel
asetilkolin dengan membran terminal kira-kira 10.000 kali lipat. Ketika
masing-masing vesikel bergabung, permukaan luarnya robek melewati
membran sel, jadi menimbulkan eksositosis asetilkolin ke dalam celah
sinaps. Biasanya pada setiap potensial aksi, kira-kira 125 vesikel menjadi
robek. Asetilkolin diuraikan oleh asetilkolinesterase menjadi ion asetat dan
kolin, dan kolin secra aktif direabsorpsi ke dalam terminal saraf untuk

44

digunakan kembali membentuk asetilkolin yang baru. Seluruh rangkaian


peristiwa ini terjadi dalam waktu 5 sampai 10 milidetik.
5) Setelah setiap vesikel melepaskan asetilkolinnya, membran vesikel
menjadi bagian dari membran sel. Namun, jumlah vesikel yang tersedia
dalam ujung saraf hanya cukup untuk memungkinkan penghantaran
beberapa ribu impuls saraf. Oleh karena itu, agar fungsi sambugan
neuromuskular dapat berlangsung terus, vesikel perlu ditarik kembali dari
membran saraf. Penarikan kembali ini dicapai melalui endositosis. Dalam
waktu beberapa detik sesudah potensial aksi selesai, pada membran saraf
terminal muncul terowongan berlapis yang disebabkan oleh adanya
protein kontraktil dari sitosol, khususnya protein klatrin, yang melekat di
bawah membran dalam daerah vesikel asal. Dalam waktu kira-kira 20
detik, protein-protein berkontraksi

dan menyebabkan terowongan

melepaskan diri ke bagian dalam membran, jadi membentuk vesikel baru.


Dalam waktu beberapa detik kemudian, asetilkolin ditranspor ke dalam
vesikel ini, dan selanjutnya siap untuk masuk ke dalam siklus pelepasan
asetilkolin yang baru.
2. Potensial Aksi
a. Pengertian Potensial Aksi
Potensial aksi adalah suatu peristiwa yang terjadi antara neuron dalam
rangka untuk mengirim pesan dari otak ke bagian-bagian tubuh yang berbeda,
baik untuk tindakan sadar atau tak sadar. Dalam arti sederhana, potensial aksi
dapat digambarkan sebagai pulsa listrik pendek yang dibuat di dalam badan
sel neuron. Pulsa ini disebabkan oleh pertukaran ion positif dan negatif ketika
ion kalium dan natrium keluar dan masuk badan sel. Percikan dari
pertukaran, maka, bergerak ke bagian akson, atau bagian seperti batang dari
neuron, menuju neuron lain, dan siklus terus berlanjut. Dalam banyak kasus,

45

ketika otak perlu untuk mengirim banyak pesan, potensial aksi dapat
terjadi dalam serangkaian disebut lonjakan rangkaian (spike rain).
Neuron biasanya mengandung ion kalium bermuatan positif (K+),
sedangkan ion natrium (Na +), juga bermuatan positif, berada di pinggiran
neuron. Selama fase istirahat, neuron tidak aktif dan berisi potensial listrik
-7 milivolt (mV). Ini muatan negatif dikelola oleh pompa natrium-kalium
neuron yang membawa dua ion K+ dalam sambil membawa tiga ion Na +
keluar dari membran. Ketika otak mengirimkan pesan, sejumlah besar ion
Na + masuk ke neuron, dan naik dan melampaui tahap potensial aksi terjadi.
Pada tahap ini, neuron mengalami depolarisasi dan menjadi bermuatan
positif karena pintu masuk + ion Na.
Neuron mencapai tahap melampaui ketika muatan positif melebihi 0 mV.
Semakin neuron bermuatan positif, semakin mulai membuka saluran natrium,
dan lebih ion Na + menyerbu masuk, sehingga sulit untuk pompa kaliumnatrium untuk membawa ion keluar. Untuk mengeluarkan ion positif, saluran
kalium akan terbuka segera setelah saluran natrium dekat, dan menurun dan
menembak terlalu rendah tahapan dari potensial aksi berlangsung. Dalam fase
ini, neuron mengalami repolarisasi dan menjadi bermuatan lebih negatif,
begitu banyak sehingga muatan akan memukul di bawah -70 mV pada tahap
menembak terlalu rendah, juga dikenal sebagai hiperpolarisasi.
Setelah kedua saluran potassium dan sodium dekat, fungsi pompa
natrium-kalium lebih efektif dalam membawa ion K + dan melaksanakan ion
Na +. Dalam tahap pemulihan akhir, neuron akan kembali ke kondisi normal
-7 mV, sampai episode lain potensial aksi terjadi. Hal ini sangat menarik
untuk mengetahui bahwa semua tahapan ini dari potensial aksi terjadi pada
waktu sesingkat dua milidetik.
b. Potensial Membran
Membran potensial merupakan potensial yang diakibatkan oleh adanya
perbedaan muatan pada sisi dalam dan sisi luar membran sel. Membran

46

potensial sangat berperan penting dalam berbagai fungsi sel seperti sel
kelenjar, hantaran saraf dan lain sebagainya. Proses yang berperan pada
potensial membran adalah difusi, transport aktif dan kebocoran Na dan K
melalui membran. Terdapat 2 kondisi potensial membran, yaitu aksi potensial
dan resting membran (masa istirahat membran).
Pada saat membrane istirahat, permeabilitasnya terhadap Na+ begitu
rendah, sehingga Na+ memiliki pengaruh yang sangat kecil terhadap
pembentukan potensial istirahat membran. Dengan konsentrasi Na+ tinggi di
luar sel, maka ada dua kekuatan cenderung mendorong Na+ berdifusi ke
dalam sel, yaitu potensial negative di dalam sel dan konsentrasi Na+ tinggio
di luar sel.
Suatu rangsangan akan menyebabkan membrane menjadi permeable
terhadap Na+. Peningkatan permeabilitas Na+ ini dapat mencapai 600 kali
dari keadaan istirahat. Karena gradient konsentrasi maupun potensial
negatifnya, Na+ akan berdifusi ke dalam sel dengan cepat. Masuknya Na+ ke
dalam sel menyebabkan penurunan gradient konsentrasi Na+ di luar dan di
dalm sel. Akibatnya potensial membrane menjadi turun di banding dari
keadaan istirahat, di katakana membrane mengalami depolarisasi dan
potensial membrannya di sebut potensial natrium.
Apabila rangsangan yang di berikan cukup kuat maka potensial membrane
akan turun sampai menjadi positif dan menghentikan masuknya Na+ ke dalam
sel lebih lanjut. Pada saat ini potensial membrane mencapai +40mV (sebelah
dalam positif). Setelah potensial membrane mencapai +40mV, maka
membrane menjadi impermeable terhadap Na+ sedangkan perneabilitasnya
terhadap K+ meningkat sampai 300 kali dari keadaan istirahat. Akibatnya K+
berdifiusi ke luar sel (karena gradient konsentrasinya), dan aktifitas ini akan
mengembalikan potensial membrane ke potensial istirahat (repolarisasi).
Aktifitas inilah yang menjadi sebab utama potensial aksi.

47

Pemompaan

Natrium-Kalium

(The

Sodium-Potasium

Pump)

Selama terjadi potensial aksi sejumlah Na+ telah masuk ke dalam sel dan K+
ke luar sel. Keadaan tersebut tidak boleh di biarkan karena akan mengganggu
fungsi saraf. Oleh karena itu ion-ion yang bermigrasi selama potensial aksi
harus di kembalikan ke posisi semula, Na+ harus di keluarkan dan K+ harus
di masukkan kembali ke dalam sel. Proses yang bertanggung jawab dalam
mengembalikan Na+ dan K+ ke posisis semula ini adalah pemompaan
Natrium-Kalium dengan melibatkan Na, K-ATPase.
c. Difusi
Difusi terjadi karena sifat membran sel yang semipermeabel, oleh karena
konsentrasi dalam sel yang tinggi, ion K cenderung berdifusi keluar sel
sehingga mengurangi muatan positif didalam sel danmembentuk elektropositif
di luar sel dan elektronegatif di dalam sel. Didusi ion K terhenti setelah
kondisi diluar sel mempunyai cukup kekuatan (94 mV) untuk menolak
keluarnya ion K dari dalam sel meskipun konsentrasi ion K dalam sel masih
jauh lebih lebih tinggi daripada diluar sel. Namun ion Na mengalami kondisi
yang sebaliknya, difusi ion Na akan terhenti setelah mencapai beda potensial
sebesar 61 mV. Tetapan sebesar 94 mV bagi ion K dan 61mV bagi ion Na
disebut sebagai Potensial Nernst.
1) Persamaan Nerst :
EMF = 61 log

Konsentrasi di dalam
Konsentrasi di luar

Bila menggunakan rumus ini, biasanya telah diasumsikan bahwa potensial


pada cairan ekstraelulardi luar membran tetap pada potensial nol, dan
potensial nernst adalah potensial di dalam membran. Juga, tanda potensial
adalah positif (+) jika ion yang berdifusi dari dalam ke luar merupakan ion
negatif (-) jika ion ini merupakan ion positif. Jadi, bila konsentrasi ion kalium
positif di sisi dalam besarnya 10 kali konsentrasinya di sisi luar, mak log 10

48

adalah 1, jadi potensial nernst yang dihitung menjadi -61 milivolt di dalam
membran.
2) Persamaan Goldman
Persamaan Goldman menyatakan bahwa :
Bila membran bersifat semi permeabel terhadap beberapa macam ion
maka perkembangan potensial akibat proses difusi bergantung pada 3 faktor :
a) polaritas muatan listrik masing-masing ion
b) permeabilitas membran
c) konsentrasi masing-masing ion di sisi dalam dan sisi luar membran
Persamaannya adalah sbb:
EMF = -61 log CNa+i PNa+ + CK+i PK+ + CCl-o PClCNa+o PNa+ + CK+o PK+ + CCl-i PCld. Transport Aktif
Transport aktif terjadi karena adanya pompa Na dan K yang bersifat
elektrogenik oleh karena lebih banyak mengeluarkan ion positif (3 ion Na
akan keluar setiap 2 ion K masuk). Kejadian ini menimbulkan gradien
konsentrasi yang tinggi antara ion Na dan ion K untuk modal awal agar terjadi
difusi.

Na didalam sel / Na diluar sel : 0,1


K didalam sel / K diluar sel : 35,0

Kondisi-kondisi Potensial Membran:


Resting membran potensial merupakan potensial membran saat sel saraf
berada pada kondisi istirahat, biasanya sebesar -90 mV. Faktor yang berperan
pada resting membran meliputi :

e.

Potensial difusi K (-94 mV)


Potensial difusi Na (+64 mV)
Pompa Na-K (-4 mV)
Penyebab Potensial Aksi
Potensial aksi ditimbulkan oleh adanya sensasi yang dirasakan oleh tubuh.

Sense berarti otak mendapatkan informasi tentang keadaan lingkungan sekitar

49

dan tubuh. Sejarahnya, Terdapat 5 rasa yang dapat kita terima yaitu bau, suara,
rasa, sentuhan, dan cahaya. Pada saat ini kita dapat membagi sensasi menjadi
dua, yaitu :
1. General sense
Dimana reseptornya secara luas tersebar di tubuh. General sense ini dapat
dibagi menjadi 2 bagian yaitu:
a. Somatic sense
Menyediakan informasi sensorik tentang tubuh dan lingkungan sekitar,
yang termasuk dalamnya adalah sentuhan, tekanan, suhu, propriosepsi,
dan nyeri.
b. Visceral sense
Menyediakan informasi tentang keadaan organ internal, yang terutamanya
nyeri dan tekanan.
2. Special Sense
Lebih mengkhusus pada struktur maupun penempatan pada organ tubuh.
Yang termasuk dalam special sense adalah bau, rasa, suara, cahaya,
keseimbangan.
f. Komponen Potensial aksi
Untuk memahami lebih mendalam mengenai potensial aksi ini, kita perlu
megetahui

tentang kanal-kanal

yang

berperan.

Pelaku

utama

yang

menyebabkan peristiwa depolarisasi dan repolarisasi membran saraf selama


potensial aksi adalah kanal natrium bergerbang voltase.
Namun bukan berarti hanya kanal tersebut yang berperan. Kanal kalium
bergerbang voltase juga berperan penting dalam meningkatkan kecepatan
repolarisasi membran. Dan kedua kanal ion ini akan menunjang pompa Na-K
serta kanal kebocoran Na-K.
1.

Kanal

natrium

bergerbang voltase
Kanal natrium bergerbang voltase ini memiliki 3 keadaan yang berbeda.
Kanal ini sendiri memiliki 2 gerbang, yaitu gerbang aktivasi yang berada

50

dekat dengan sisi luar kanal, dan gerbang inaktivasi yang letaknya dekat
dengan sisi dalam kanal. Keadaan saat potensial membran memiliki nilai -90
milivolt (potensial membran istirahat), gerbang aktivasi dari kanal ini tertutup,
dengan tujuan untuk mencegah masuknya ion natrium melalui kanal ke bagian
dalam serabut saraf.
2.

Aktivasi
Ketika potensial membran istirahat menjadi kurang negatif bila

dibandingkan dengan pada saat keadaan istirahat, potensial akan meningkat


dari -90 milivolt menjadi 0, dan akhirnya mencapai suatu voltase (biasanya
berkisar antara -70 dan -50 milivolt). Keadaan ini menyebabkan perubahan
bentuk yang tiba-tiba pada gerbang aktivasi, yang mambalikkan gerbang
sepenuhnya hingga posisi terbuka yang maksimal. Inilah yang disebut sebagai
keadaan teraktivasi, yaitu ion natrium berdifusi melalui kanal, yang dapat
meningkatkan permeabilitas natrium membran sebesar 500 5000 kali lipat.
3.

Inaktivasi
Kenaikan voltase yang sama besarnya dengan yang membuka gerbang

aktivasi juga akan menutup gerbang inaktivasi. Walau begitu, gerbang


inaktivasi menutup dalam waktu seperbeberapa puluh ribu detik setelah
gerbang aktivasi terbuka. Dengan kata lain, perubahan bentuk yang
membalikkan gerbang inaktivasi menajdi tertutup merupakan proses yang
lebih lambat daripada proses perubahan bentuk yang membuka gerbang
akivasi. Setelah kanal natrium tersebut terbuka dalam seperbeberapa puluh
ribu detik, gerbang inaktivasi akan menutup dan ion natrium tidak lagi dapat
berdifusi melewati membran. Pada saat iniliah potensial membran mulai pulih
kembali ke keadaan istirahat, atau yang biasa disebut debagai tahap
repolarisasi.
Sifat penting lainnya mengenai potensial aksi adalah bahwa gerbang yang
inaktif tidak akan membuka lagi, hingga potensial membran kembali ke atau
mendekati nilai potensial membran istirahat yang normal. Oleh karena itu,

51

tidaklah mungkin bahwa kanal ion natrium akan kembali terbuka sebelum
adanya repolarisasi pada serabut saraf.
4.

Kanal kalium bergerbang


voltase
Selama keadaan istirahat, gerbang kanal ion kalium berada dalam

keadaaan tertutup, dan ion kalium terhalangi untuk melewati kanal ini menuju
keluar. Namun ketika potensial membran meningkat dari -90 milivolt menuju
0, perubahan voltase ini menyebabkan perubahan bentuk yang membuka
gerbang dan memudahkan peningkatan difusi kalium keluar akson melewati
kanal. Namun diakibatkan oleh sedikit lambatnya pembukaan kanal ionkalium
ini, pada banyak bagian, kanal kalium hany aterbuka secara bersamaan ketika
kanal natrium mulai tertutup akibat inaktivasi. Jadi, menurunnya jumlah
natrium yang masuk ke dalam sel dan peningkatan pengeluaran kalium yang
bersamaan waktunya dari sel secara bersama-sama mempercepat proses
repolarisasi, dan menimbulkan pemulihan sempurna pada potensial membran
dalam waktu seperbeberapa puluh ribu detik kemudian.
g. Mekanisme Potensial Aksi
Potensial aksi merupakan suatu perubahan cepat pada potensial membran
yang menyebar sepanjang serabut saraf. Setiap potensial aksi dimulai dengan
perubahan mendadak dari potensial membran negatif istirahat normal menjadi
potensial positif dan kemudian berakhir dengan kecepatan yang hampir sama
dan kembali ke potensial negatif. Untuk menghantarkan sinyal saraf, potensial
aksi bergerak di sepanjang serabut saraf sampai tiba di ujung serabut.
Tahapan potensial aksi adalah sebagai berikut :
1) Tahap Istirahat
Tahap ini merupakan potensial membran istirahat yang ada sebelum
terjadinya potensial aksi. Pada saat ini, membran dapat dikatakan
terpolarisasi, karena selama tahap ini erlangsung, potensial membrannya
bersifat negatif dengan nilai sekitar -90 milivolt.

52

2) Tahap Depolarisasi
Pada tahap ini, membran secara tiba-tiba menjadi sangat permeabel
terhadap ion natrium. Hal ini menyebabkan kanal ion natrium terbuka dengan
sepat dan sejumlah besar ion natrium yang bermuatan positif berdifusi masuk
ke dalam akson. Keadaan membran yang awalnya terpolarisasi dengan nilai
-90 milivolt secara cepat menjadi semakin positif, karena difusi natrium
sekaligus menetralisir keadaan tersebut. Hal ini meningkatkan potensial
membran. Aktifnya kanal ion natrium pada awal depolarisasi memunculkan
suatu feedbac positif, berupa trigger untuk terbukanya kanal-kanal ion natrium
yang lain, sehingga natrium akan terus berdifusi ke dalam akson hingga
tercapai konsentrasi tertentu.
Pada serabut saraf besar (bermielin), sejumlah besar ion natrium yang
berdifusi ke dalam akson tersebut menyebabkan potensial mencapai nilai 0,
atau bahkan melampaui nilai 0 itu sendiri (menjadi sedikit positif). Namun
pada serabut saraf kecil (tidak bermielin), difusi ion natrium hanya mampu
menyebabkan potensial membran meningkat hingga nilai dibawah 0, dan tidak
pernah melampaui sampai keadaan positif.
3) Tahap Repolarisasi
Tahapan ini berlangsung setelah tahap depolarisasi berakhir, dan
membran menjadi lebih permeabel terhadap ion kalium. Berakhirnya tahap
depolarisasi adalah ketika kanal ion natrium tertutup dengan cepat yang diikuti
oleh pembukaan kanal ion kalium secara lambat. Saat kanal ion kalium telah
terbuka secara sempurna, sejumlah besar ion kalium akan berdifusi keluar
akson secara cepat. Hal ini menyebabkan potensial membran yang tadinya
menjadi positif karena depolarisasi kembali bersifat negatif, dan ketika sifat
negatif itu telah dicapai, kanal ion kalium akan kembali menutup secara
lambat.
h. Hiperpolarisasi
Setelah tahap repolarisasi berakhir, dikenal suatu kondisi yang disebut
positive after potential. Keadaan ini merupakan kondisi potensial membran

53

yang lebih negatif dari kondisi istirahat. Terjadi beberapa milidetik setelah
berakhirnya potensial aksi, terjadi akibat lambatnya penutupan kanal ion K
dan merupakan istilah yang salah kaprah akibat faktor historis dalam
pengukuran para ilmuan terhadap aksi potensial membran.
i. Respons all-or-none
Stimulus ambang untuk depolarisasi biasanya terjadi saat pada perubahan
sekitar 15 mV sarnpai 20 mV dari keadaan potensial istirahat. Begitu ambang
depolartsasi tercapai, potensial aksi akan terbentuk. Inilah yang disebut
respons all-or-none: Neuron akan merespon secara keseluruhan atau tidak
merespons sarna sekali.
j. Periode refraktori
1) Periode refraktori

absolut,

adalah

waktu selama

gerbang

ion tertutup, dan gerbang K+ masih terbuka, dan serabut saraf s: sekali
tidak res pons if terhadap kekuatan stimulus lain. Masa berlangsung
selama 1 milidetik.
2) Periode refraktori relative, adalah masa setelah masa refraktori ini
berlangsung kurang dari 2 milidetik, dan merupakan waktu dimana
stimulus dengan kekuatan yang lebih tinggi memicu potensial aksi
yang kedua.
Pada beberapa potensial aksi, di grafiknya kita dapat melihat suatu
garis mendatar yang disebut plateau. Hal ini disebabkan karena membran
yang tereksitasi tidak segera mengalami repolarisasi setelah depolarisasi,
dan justru tetap pada keadaan mendatar mendekati puncak potensial layak
(spike potential) selama beberapa milidetik, dan baru kemudian memulai
tahap repolarisasi. Pendataran ini akan sangat memperpanjang tahap
depolarisasi. Misalnya pada potensial aksi di dalam serabut otot jantung,
pendatarannya berlangsung selama 0,2 sampai 0,3 detik dan menyebabkan
kontraksi otot jantung pada periode waktu yang sama.

54

Pendataran ini sendiri dapat disebabkan oleh gabungan dari beberapa


faktor. Sebagai contoh, pada otot jantung terdapa 2 kanal yang terlibat
dalam tahap depolarisasi, yaitu: kanal natrium bergerbang voltase, yang
dikenal sebagai fast channel, dan kanal natrium-kalsium, yang dikenal
sebagai slow channel (terbuka secara lambat). Proses terjadinya
pendataran itu sendiri dapat terjadi karena kanal natrium yang membuka
dengan cepat tidak diimbangi dengan pembukaan kanal natrium-kalsium.
Jadi suatu waktu ketika depolarisasi melalui kanal natrium telah mencapai
tingkat maksimum, saatitu depolarisasi melalui kanal natrium-kalsium
belum mencapai titik puncak. Sedangkan faktor lainnya yang mungkin
bertanggung jawab adalah bahwa kanal kalium bergerbang voltase yang
berperan untuk mengawali repolarisasi terbuka lebih lambat dari biasanya,
bahkan seringkali tidak terbuka hingga akhir pendataran. Keadaan ini akan
memperlambat kembalinya potensial membran ke nilai negatif normal
sekitar -80 sampai -90 milivolt.
Setelah terjadinya potensial aksi, perlu dilakukan penetapan kembali
gradien ion natrium dan kalium antar di dalam dan di luar membran. Yang
memiliki peranan penting dalam hal ini adalah pompa Na-K, yang terkait
dengan metabolisme energi. Transmisi setiap potensial aksi di sepanjang
serabut saraf akan sangat sedikit mengurangi perbedaan konsentrasi
natrium dan kalium di sisi dalam dan sisi luar membran, karena ion
natrium berdifusi ke dalam selama depolarisasi dan ion kalium berdifusi
keluar selama repolarisasi. Untuk satu potensial aksi, pengaruh ini begitu
kecil sehingga tidak dapat diukur. Bahkan 100.000 sampai 50 juta impuls
sitransmisikan oleh serabut saraf besar sebelum perbedaan konsentrasi
mencapai ke suatu nilai yang menyebabkan terhentinya konduksi potensial
aksi.
Walaupun begitu, dengan berjalannya waktu, perbedaan konsentrasi
ion natrium dan ion kalium pada membran perlu ditetapkan kembali. Hal

55

ini dapat dicapai melalui kerja pompa Na-K. Prinsip kerja dari pompa ini
adalah mengembalikan keadaan ketika ion natrium telah berdifusi ke
dalam sel dan dan ion kalium telah berdifusi keluar sel saat potensial aksi.
Karena pompa ini membutuhkan energi untuk bekerja, dibutuhkan energi
yang berasal dari sistem energi adenosin trifosfat (ATP) melalui
metabolisme aktif yang dilakukan sel.
Pompa Na-K ini akan aktif ketika terdapat rangsangan berupa
kelebihan ion natrium yang berkumpul di dalam membran sel. Aktivitas
pemompaan ion natrium dan kalium oleh pompa ini meningkat kira-kira
sebanding dengan pangkat tiga konsentrasi natrium intrasel. Jadi, bila
konsentrasi natrium di dalam sel meningkat dari 10 menjadi 20 mEq/L,
aktivitas pompa tidak hanya meningkat dua kali, namun meningkat hingga
kira-kira delapan kali. Hal inilah yang dapat menjelaskan, bagaimana
proses penstabilan konsentrasi ion natrium dan kalium di serabut saraf
berlangsung denganbegitu cepat.