Anda di halaman 1dari 6

KEWASPADAAN STANDAR ISOLASI

No Dokumen
...

Tujuan

Halaman
1/5
Ditetapkan,
Direktur

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Pengertian

No.Revisi

Tanggal Terbit

Kewaspadaan adalah sikap kehati-hatian untuk mencegah sesuatu


dapat terjadi
Isolasi adalah memisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Kewaspadaan isolasi adalah segala usaha yang dilakukan guna
mencegah terjadinya sesuatu (infeksi) pada orang yang sensitive.
Kewaspadaan standar : panduan yang dirancang untuk mencegah
penyebaran infeksi dengan memutus siklus transmisi penyakit melalui
pembatas fisik, mekanik, atau kimiawi antara mikroorganisme dan
seseorang.
1. Mencegah penyebaran infeksi dan terjadinya infeksi pada
petugas kesehatan.
2. Menerapkan standar pelayanan yang aman
3. Melindungi baik tenaga kesehatan maupun staf RS terhadap
penularan infeksi baik resiko diketahui maupun tidak diketahui
4. Untuk memastikan perlindungan maksimum terhadap pasien,
pengunjung dan staf tanpa membuka rahasia kedokteran

Kebijakan

1. SK menkes No.27/MENKES/2007 tentang manajerial


PPI di RS dan fasilitas Pelayanan Kesehatan lainnya.
2. SK Mankes no. 382/Menkes/2007 tentang pedoman
PPI di RS fasilitas Pelayanan Kesehatan lainnya.
3. SK Menkes No.129/Menkes/SK/II/2008 tentang SPM
RS
4. SK Menkes 1165.A/Menkes/SK/X/2004 tentang KARS
5. SE Dirjen Bina Yanmed no.HK.03.01/III/3744/08
tentang Pembentukan Komite PPI RS dan Tim PPI RS

Prosedur

Penerapan kewaspadaan standar isolasi di Rumah sakit Ibu dan Anak


Anugrah meliputi kewaspadaaan dalam hal-hal berikut
1)

Menutup semua bagian tubuh yang luka atau lecet


Menutup bagian tubuh yang luka menggunakan pembalut

2)

yang tahan air. Memastikan semua petugas kesehatan yang


beresiko (kontak dengan darah, cairan tubuh atau jaringan
tubuh pasien) mendapat imunisasi hepatitis B.
Kebersihan Tangan
Kebersihan tangan adalah hal paing penting dalam pencegahan
kontaminasi silang (orang ke orang atau alat terkontaminasi ke
orang)
a)
Lakukan langkah kebersihan tangan sebelum dan setelah
kontak dengan pasien, setelah kontak dengan darah, cairan
tubuuh, eksret, secret, selaput mukosa, luka atau bahan dan
alat terkontaminasi dan setelah melepas sarung tangan.
b)
Gunakan cairan berbasis alkohol (handrub) dan sabun
antiseptik sebagai alternative cuci tangan bila tangan terlihat
bersih. Bila tangan terlihat kotor, maka harus tetap cuci
tangan.

3) Penggunaan APD
Alat perlindungan diri harus digunakan bila ada resiko terpajan
infeksi. Alat perlindungan diri adalah alat-alat yang digunakan
sebagai pelindung saluran nafas, selaput lender, kulit dan pakaian
terhadap kontak agent infeksius. Pemilihan APD tergantung pada
jenis interaksi dengan pasien dan kemungkinan cara penularan.
Sebelum dan setelah memakai APD, wajib melakukan cuci tangan.

a. Sarung Tangan. Pakai sarung tangan (bersih dan


tidak perlu steril) bila menyentuh darah, cairan
tubuh, sekresi, ekskresi dan barang-barang
terkontaminasi. Pakai sarung tangan sebelum
menyentuh lapisan mukosa dan kulit yang luka
(non-intact skin). Ganti sarung tangan di antara
dua tugas dan prosedur berbeda pada pasien
yang sama setelah menyentuh bagian yang
kemungkinan
mengandung
banyak
mikroorganisme. Lepas sarung tangan setelah
selesai
melakukan
tindakan,
sebelum
menyentuh barang dan permukaan lingkungan
yang tidak terkontaminasi, dan sebelum
berpindah ke pasien lain, dan cuci tangan
segera
untuk
mencegah
perpindahan
mikroorganisme ke pasien lain atau lingkungan
b. Penggunaan
pelindung
wajah:
Masker,
Pelindung Mata,dan Pelindung Wajah. Masker
digunakan pada 3 keadaan berikut;

Digunakan untuk melindungi petugas dari kontak


dengan material infeksius yang berasal dari pasien
(dahak/ bersin atau percikan darah)

Digunakan oleh petugas kesehatan selama


melakukan prosedur yang memerlukan teknik steril
untuk melindungi pasien dari konttaminan yang
berasal dari petugas

Digunakan oleh petugas atau pasien yangs


sedang batuk untuk membatasi kemungkinan
penyebaran sekret infeksius.
Kacamata pelindung dapat digunakan bersama masker atau
dapat dipilih penggunaan pekindung wajah (face shield)
tergnatung risiko pajanan.
c. Apron plastic/ gaun tahan air dan sepatu boot
Digunakan pada saat kontak dengan pasien infeksius,
ekskresi atau alat/ material terkontaminasi.

.
d. Gaun. Gunakan gaun (bersih dan tidak perlu
steril) untuk melindungi kulit dan untuk
mencegah ternodanya pakaian saat melakukan
prosedur dan aktifitas perawatan pasien yang
memungkinkan adanya cipratan darah. Lepas
gaun kotor sesegera mungkin dan cuci tangan
untuk mencegah perpindahan mikroorganisme
ke pasien lain atau lingkungan.
4) Peralatan Perawatan Pasien dan ekskresi hendaknya
diperlakukan sedemikian rupa sehingga tidak
bersentuhan dengan kulit dan lapisan mukosa, tidak
mengotori pakaian, dan tidak memindahkan
mikroorganisme ke pasien lain dan lingkungan.
Pastikan bahwa peralatan yang dapat dipakai ulang
tidak dipakai lagi untuk pasien lain sebelum
dibersihkan dan diproses selayaknya. Pastikan
bahwa
peralatan
sekali
pakai,
dan
yang
terkontaminasi darah, cairan tubuh, sekresi dibuang
dengan cara yang benar.
5) Pengendalian Lingkungan.
Lakukan
prosedur
untuk perawatan rutin, pembersihan, dan desinfeksi
permukaan lingkungan, tempat tidur, tiang-tiang
tempat tidur, peralatan di samping tempat tidur, dan
permukaan lainnya yang sering disentuh, dan
pastikan prosedur ini dilaksanakan. Jika terkena
percikan darah/cairan tubuh yang mengenai mata,
hidung, mulut atau luka, cuci segera dengan air
atau NaCl 0,9%.

6) Linen. Tangani, tranportasikan dan proseslah linen


yang terkontaminasi dengan darah, cairan tubuh,
sekresi dan ekskresi dengan baik sehingga tidak
bersentuhan dengan kulit dan lapisan mukosa,
tidak mengotori
pakaian,
dan
tidak
memindahkan mikroorganisme ke pasien lain dan
lingkungan.
7) Pengolahan sampah/limbah. Warna kantong harus
dibedakan setiap tempat sampah, kuning untuk
sampah infeksius, merah untuk sampah infeksius,
dan
hitam
untuk
sampah
non
infeksius/domestic.wadah yyang dipakai seperti
tahan bocor dan tusukan, ada pegangan, ada tutup,
dibuang setelah terisi 2/3 bagian.
8) laundry. Memisahkan agar semua permukaan yang
kontak dengan pasien dibersihkan secara rutin
dengan detergen, air dan desinfektan bila
diperlukan.
9) Praktik menyuntik yang aman
Pemakaian ulang jarum steril untuk peralatan
suntik IV beberapa pasien
Jarum pakai ulang obat/cairan multidose
10) Etika batuk
Pasien, keluarga, teman pasien dengan infeksi
saluran nafas yang dapat di transmisikan.
Edukasi pasien, keluarga, pengunjung
Beri
gambar
dengan
bahasa
mudah
dimengerti
Menutup mulut/hidung dengan tisu saat
batuk, pakai masker.
Cuci tangan setelah kontak dengan sekresi
saluran nafas
Beri jarak >3 kaki bagi pasien infeksi saluran
nafas di Ruang tunggu bila perlu pakailah
masker.
Efektif menurunkan transmisi pathogen
droplet melalui saluran naffas (influenza,
adenovirus,
B
pertusis,
mycoplasma
pneumonia).

11) Pengolaan benda-benda tajam


Kewaspadaan untuk mencegah perlukaan akibat
terkena benda-benda
tajam, termasuk cara
menggunakan jarum dan benda tajam lain
sedemikian rupa untuk mencegah cedera pengguna
dan orang lain yang mungkin berhubugan selama
atau setelah suatu prosedur dikerjakan.
a. Meminimalkan risiko cedera dengan melakukan
prosedur yang cermat
b. Menggunakan kotak pembuangan jarum/ benda
tajam dengan benar, tidak mengisinya terlalu
penuh
c. Letak
kotak
pembuangan
jarum
mudah
dijangkau
d. Membuang jarum/benda tajam secara benar
segera setelah dipakai.
e. Tidak melakukan re-cap, membengkokkan atau
mematahkan jarum
f. Pemakai bertanggung jawab untuk segera
membuang benda tajam dengan benar
12) Kesehatan Karyawan dan Penularan Penyakit
Melalui Darah (Bloodborne Pathogens)
Melakukan pemeriksaan kesehatan secara
berkala terhadap petugas kesehatan
pemberian imunisasi.
MCU
teratur
terutama
petugas
yang
menangani kasus airborne
Penanganan paska pajanan yang emmadai
(ada alur pajanan, sebelim 4 jam sudah
ditentukan, panata laksanaan)
Petugas sakit, beberapa lama diliburkan, dan
batasi kontak langsung dengan pasien.
13) Peralatan yang dapat menggantikan pernafasan
dari mutut ke mulut (mouth-to-mouth resuscitation), seperti mouthpiece, kantong resusitasi,
dan peralatan ventilasi lainnya hendaknya
diletakkan di tempat yang sering dibutuhkan.

Unit Terkait

Ruang bersalin
Ruang bedah
Ruang nifas