Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dunia teknologi berkembang pesat ini sehingga menuntut kita untuk lebih
maju agar tidak tertinggal dengan negara lain. Dunia industri menuntut kita
untuk meningkatkan produksinya dengan efektif dan efisien.
Sistem pengendalian dan pengontrolan berbasis Programmable Logic
Controller (PLC) akhir akhir ini sedang dikembangkan seiring dengan
tuntutan industri. Laju perkembangan zaman yang terjadi pada saat ini, sistem
kendali suatu mesin tidak mrnggunakan sistem pengendali konvensional yang
menggunakan saklar magnet (Magnetic Controller), tetapi sebagian besar
industri menggunakan PLC, dan mempunyai keistimewaan di banding dengan
saklar magnet kendali konvensional.
Berdasarkan latar belakang di atas dimana teknologi berkembang pesat
yang menuntut peralihan dari mesin konvesional ke mesin otomatis, akan
diangkat suatu tema penggunaan PLC sebagai pengendali dalam proses
perpindahan barang denngan menggunakan dua buah silinder kerja ganda
berdasarkan

keistimewaan

penggunaan

pengendali

PLC

Pneumatik.

Berdasarkan judul ini penulis akan membuat sebuah miniatur sistem


pengendali PLC pada alat packing yang digunakan untuk memindahkan beban
dari satu tempat ke tempat lain.
1.2 Tujuan Penulisan
Maksud dan tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penyusunan tugas
akhir ini adalah :
a. Siswa diharapkan mampu merancang bangun rangkaian sistem kontrol
elektro-pneumatik baik untuk kebutuhan sistem pengontrolan di industri
maupun untuk pengontrolan mesin produksi.
b. Mengoptimalkan jumlah produksi, efisien, produktivitas dan kualitas
produk agar dapat lebih bermanfaat.

1.3 Pembatasan Laporan


Dalam laporan Mesin Penyemprot Untuk Ice Cream ini dibatasi pada :
1. Pengertian Pneumatik
2. Sistem Pneumatik dengan Silinder Kerja Ganda
3. PLC
4. Macam- macam PLC
1.4 Manfaat Penulisan Laporan
1. Mempermudah manusia dalam berusaha dengan waktu dan hasil yang
optimal.
2. Memberi pengetahuan yang lebih luas tentang penjabaran Pneumatik dan
PLC yang terkait dengan mekanik dan elektrik dalam sebuah industri.
1.5 Sistematika Penulisan Laporan
Sistematika penulisan laporan terbagi dalam 4 (empat) bab, yaitu :
BAB I

: Menguraikan Latar Belakang, Tujuan, Pembatasan Laporan,


Manfaat Penulisan Laporan, dan Sistematika Penulisan Laporan.

BAB II

: Menerangkan tentang Teori- teori Dasar.

BAB III

: Menjelaskan Pemahaman, Prinsip Kerja, Gambar pada Mesin


Penyemprot Untuk Ice Cream.

BAB IV

: Kesimpulan.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pneumatik
2.1.1

Pengertian Pneumatik
Pneumatik merupakan teori atau pengetahuan tentang udara yang
bergerak, keadaan-keadaan keseimbangan udara dan syarat-syarat
keseimbangan. Perkataan pneumatik berasal bahasa Yunani pneuma
yang berarti napas atau udara. Jadi pneumatik berarti terisi udara
atau digerakkan oleh udara mampat.
Pneumatik merupakan cabang teori aliran atau mekanika fluida dan
tidak hanya meliputi penelitian aliran-aliran udara melalui suatu sistem
saluran, yang terdiri atas pipa-pipa, selang-selang, gawai dan
sebagainya, tetapi juga aksi dan penggunaan udara mampat.
Pneumatik menggunakan hukum-hukum aeromekanika, yang
menentukan keadaan keseimbangan gas dan uap (khususnya udara
atmosfir) dengan adanya gaya-gaya luar (aerostatika) dan teori aliran
(aerodinamika).
Pneumatik dalam pelaksanaan teknik udara mampat dalam industri
merupakan ilmu pengetahuan dari semua proses mekanik dimana
udara memindahkan suatu gaya atau gerakan. Jadi pneumatik meliputi
semua komponen mesin atau peralatan, dalam mana terjadi prosesproses pneumatik. Dalam bidang kejuruan teknik pneumatik dalam
pengertian yang lebih sempit lagi adalah teknik udara mampat (udara
bertekanan).
Komponen pneumatik beroperasi pada tekanan 8 s.d. 10 bar, tetapi
dalam praktik dianjurkan beroperasi pada tekanan 5 s.d. 6 bar untuk
penggunaan yang ekonomis.
Beberapa bidang aplikasi di industri yang menggunakan media
pneumatik dalam hal penangan material adalah sebagai berikut :
3

a. Pencekaman benda kerja


b. Penggeseran benda kerja
c. Pengaturan posisi benda kerja
d. Pengaturan arah benda kerja

Penerapan pneumatik secara umum :


a. Pengemasan (packaging)
b. Pemakanan (feeding)
c. Pengukuran (metering)
d. Pengaturan buka dan tutup (door or chute control)
e. Pemindahan material (transfer of materials)
f.

Pemutaran dan pembalikan benda kerja (turning and inverting of


parts)

g. Pemilahan bahan (sorting of parts)


h. Penyusunan benda kerja (stacking of components)
i. Pencetakan benda kerja (stamping and embosing of components)
Susunan sistem pneumatik adalah sebagai berikut :
a. Catu daya (energi supply)
b. Elemen masukan (sensors)
c. Elemen pengolah (processors)
d. Elemen kerja (actuators)
2.1.2

Silinder Pneumatik
Aktuator adalah bagian keluaran untuk mengubah energi suplai
menjadi energi kerja yang dimanfaatkan. Sinyal keluaran dikontrol
oleh sistem kontrol dan aktuator bertanggung jawab pada sinyal
kontrol melalui elemen kontrol terakhir.
Aktuator pneumatik dapat digolongkan menjadi 2 kelompok :
gerak lurus dan putar. :

1. Gerakan lurus (gerakan linear) :

Silinder kerja tunggal.

Silinder kerja ganda.

2. Gerakan putar :
Motor udara
Aktuator yang berputar (ayun)
2.1.3

Simbol-simbol aktuator linear sebagai berikut :


SIMBOL

NAMA KOMPONEN
Silinder kerja tunggal
Silinder kerja tunggal , piston dengan magnet
tetap
Silinder kerja ganda

Gambar 2.1 Simbol Actuator Linear


Simbol Actuator Gerak Putar :
Motor udara, putaran satu arah, kapasitas
bervariasi.
Motor udara, putaran dua arah ,kapasitas
bervariasi.
Aktuator putar lintasan terbatas. Putaran
dua arah.
Gambar 2.2 Simbol Actuator Gerak Putar
2.2 Silinder Kerja Tunggal
2.2.1

Konstruksi

Silinder kerja tunggal mempunyai seal piston tunggal yang


dipasang pada sisi suplai udara bertekanan. Pembuangan udara pada
sisi batang piston silinder dikeluarkan ke atmosfir melalui saluran
pembuangan. Jika lubang pembuangan tidak diproteksi dengan sebuah
penyaring akan memungkinkan masuknya partikel halus dari debu ke
dalam silinder yang 6las merusak seal. Apabila lubang pembuangan ini
tertutup akan membatasi atau menghentikan udara yang akan dibuang
pada saat silinder gerakan keluar dan gerakan akan menjadi tersentaksentak atau terhenti. Seal terbuat dari bahan yang fleksibel yang
ditanamkan di dalam piston dari logam atau 6lastic. Selama bergerak
permukaan seal bergeser dengan permukaan silinder.
Gambar konstruksi silinder kerja tunggal sebagai berikut :

Keterangan

Rumah silinder

2.

Lubang masuk
udara bertekanan

1.

3.

Piston

4.

Batang piston

5.

Pegas pengembali

Gambar 2.3 Konstruksi Silinder Kerja Tunggal

2.2.2

Prinsip Kerja
Dengan memberikan udara bertekanan pada satu sisi permukaan
piston, sisi yang lain terbuka ke atmosfir. Silinder hanya bisa
memberikan gaya kerja ke satu arah . Gerakan piston kembali masuk
diberikan oleh gaya pegas yang ada didalam silinder direncanakan
hanya untuk mengembalikan silinder pada posisi awal dengan alasan
agar kecepatan kembali tinggi pada kondisi tanpa beban.
Pada silinder kerja tunggal dengan pegas, langkah silinder dibatasi
oleh panjangnya pegas . Oleh karena itu silinder kerja tunggal dibuat
maksimum langkahnya sampai sekitar 80 mm.

2.2.3

Kegunaan
Menurut konstruksinya silinder kerja tunggal dapat melaksanakan
berbagai fungsi gerakan , seperti :
Menjepit benda kerja
Pemotongan
Pengeluaran
Pengepresan
Pemberian dan pengangkatan.

2.2.4

Macam- macam Silinder Kerja Tunggal


Ada bermacam- macam perencanaan silinder kerja tunggal termasuk :

Silinder membran (diafragma)

Silinder membran dengan rol

2.3 Silinder Ganda


2.3.1

Konstruksi
Konstruksi silinder kerja ganda adalah sama dengan silinder kerja
tunggal, tetapi tidak mempunyai pegas pengembali. Silinder kerja
ganda mempunyai dua saluran (saluran masukan dan saluran
pembuangan). Silinder terdiri dari tabung silinder dan penutupnya,
piston dengan seal, batang piston, bantalan, ring pengikis dan bagian
penyambungan. Konstruksinya dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar 2.4 Silinder Kerja Ganda


Keterangan :
1. Batang / rumah silinder

5. Seal

2. Saluran masuk

6. Bearing

3. Saluran keluar

7. Piston

4. Batang piston

Biasanya tabung silinder terbuat dari tabung baja tanpa


sambungan. Untuk memperpanjang usia komponen seal permukaan
dalam tabung silinder dikerjakan dengan mesin yang presisi. Untuk
aplikasi khusus tabung silinder bisa dibuat dari aluminium , kuningan
dan baja pada permukaan yang bergeser dilapisi chrom keras.
Rancangan khusus dipasang pada suatu area dimana tidak boleh terkena
korosi.

Penutup akhir tabung adalah bagian paling penting yang terbuat


dari bahan cetak seperti aluminium besi tuang. Kedua penutup bisa
diikatkan pada tabung silinder dengan batang pengikat yang
mempunyai baut dan mur.
Batang piston terbuat dari baja yang bertemperatur tinggi. Untuk
menghindari korosi dan menjaga kelangsungan kerjanya, batang piston
harus dilapisi chrom.
Ring seal dipasang pada ujung tabung untuk mencegah kebocoran
udara. Bantalan penyangga gerakan batang piston terbuat dari PVC,
atau perunggu. Di depan bantalan ada sebuah ring pengikis yang
berfungsi mencegah debu dan butiran kecil yang akan masuk ke
permukaan dalam silinder.
2.3.2

Prinsip Kerja
Dengan memberikan udara bertekanan pada satu sisi permukaan
piston (arah maju) , sedangkan sisi yang lain (arah mundur) terbuka ke
atmosfir, maka gaya diberikan pada sisi permukaan piston tersebut
sehingga batang piston akan terdorong keluar sampai mencapai posisi
maksimum dan berhenti. Gerakan silinder kembali masuk, diberikan
oleh gaya pada sisi permukaan batang piston (arah mundur) dan sisi
permukaan piston (arah maju) udaranya terbuka ke atmosfir.
Keuntungan silinder kerja ganda dapat dibebani pada kedua arah
gerakan batang pistonnya. Ini memungkinkan pemasangannya lebih
fleksibel. Gaya yang diberikan pada batang piston gerakan keluar lebih
besar daripada gerakan masuk. Karena efektif permukaan piston
dikurangi pada sisi batang piston oleh luas permukaan batang piston
Silinder aktif adalah dibawah kontrol suplai udara pada kedua arah
gerakannya. Pada prinsipnya panjang langkah silinder dibatasi,
walaupun faktor lengkungan dan bengkokan yang diterima batang
piston harus diperbolehkan. Seperti silinder kerja tunggal, pada silinder
kerja ganda piston dipasang dengan seal jenis cincin O atau membran.

2.3.3

Pemasangan Silinder
Jenis pemasangan silinder ditentukan oleh cara cara gerakan
silinder yang ditempatkan pada sebuah mesin atau peralatan . Silinder
bisa dirancang dengan jenis pemasangan permanen jika tidak harus
diatur setiap saat. Alternatif lain, silinder bisa menggunakan jenis
pemasangan yang diatur, yang bisa diubah dengan menggunakan
perlengkapan yang cocok pada prinsip konstruksi modul. Alasan ini
adalah penyederhanaan yang penting sekali dalam penyimpanan, lebih
khusus lagi dimana silinder pneumatik dengan jumlah besar digunakan
seperti halnya silinder dasar dan bagian pemasangan dipilih secara
bebas membutuhkan untuk disimpan.
Pemasangan silinder dan kopling batang piston harus digabungkan
dengan hati-hati pada penerapan yang relevan, karena silinder harus
dibebani hanya pada arah aksial. Jika sumbu salah gabung dan tidak
segaris dipasang, tekanan bantalan pada tabung silinder dan batang
piston dapat diterima, akibatnya adalah :
*0 Tekanan samping yang besar pada bantalan silinder memberikan
indikasi bahwa pemakaian silinder meningkat.
*1 Tekanan samping pada batang piston akan mengikis bantalan
*2 Tekanan tidak seimbang pada seal piston dan batang piston.
Tekanan samping ini sering mendahului faktor pengurangan
perawatan silinder yang sudah direncanakan sebelumnya. Pemasangan
bantalan silinder yang dapat diatur dalam tiga dimensi membuat
kemungkinan untuk menghindari tekanan bantalan yang berlebihan
pada silinder. Momen bengkok yang akan terjadi selanjutnya dibatasi
oleh penggesekan yang bergeser pada bantalan. Ini bertujuan bahwa
silinder diutamakan bekerja hanya pada tekanan yang sudah
direncanakan, sehingga bisa mencapai secara maksimum perawatan
yang sudah direncanakan.

10

Gambar dibawah ini menunjukan pemasangan silinder :

Gambar 2.5 Cara Pemasangan Silinder

2.3.4

Kegunaan
Silinder pneumatik telah dikembangkan pada arah berikut :
*0 Kebutuhan penyensoran tanpa sentuhan (menggunakan magnit
pada piston untuk mengaktifkan katup batas /limit switch dengan
magnit )
*1 Penghentian beban berat pada unit penjepitan dan penahan luar
tiba-tiba.
*2 Silinder rodless digunakan dimana tempat terbatas.
*3 Alternatif pembuatan material seperti plastik
*4 Mantel pelindung terhadap pengaruh lingkungan yang merusak,
misalnya sifat tahan asam
11

*5 Penambah kemampuan pembawa beban.


*6 Aplikasi robot dengan gambaran khusus seperti batang piston tanpa
putaran, batang piston berlubang untuk mulut pengisap.
2.3.5 Macam- macam Silinder Ganda
SIMBOL

NAMA KOMPONEN
Silinder kerja ganda
Silinder kerja ganda dengan batang piston sisi
ganda.

Silinder kerja ganda dengan bantalan udara


tetap dalam satu arah.

Silinder kerja ganda dengan bantalan udara


tunggal , dapat diatur pada satu sisi.

Silinder kerja ganda dengan bantalan udara


ganda , dapat diatur pada kedua sisi.

Silinder kerja ganda dengan bantalan udara


ganda , dapat diatur pada kedua sisi dan piston
bermagnet.
Tabel 2.1 Komponen Silinder Ganda

2.4

Silinder Dengan Peredam Diakhir Langkah

12

Jika silinder harus menggerakkan massa yang besar, maka dipasang


peredam di akhir langkah untuk mencegah benturan keras dan kerusakan
silinder. Sebelum mencapai posisi akhir langkah, peredam piston memotong
langsung jalan arus pembuangan udara ke udara bebas. Untuk itu disisakan
sedikit sekali penampang pembuangan yang umumnya dapat diatur.
Sepanjang bagian terakhir dari jalan langkah , kecepatan masuk dikurangi
secara drastis.
Jangan sekali-sekali menutup baut pengatur secara penuh sebab akan
mengakibatkan batang piston tidak dapat mencapai posisi akhir gerakannya.
Pada gaya yang sangat besar dan percepatan yang tinggi, harus dilakukan
upaya

pengamanan khusus. Pasanglah peredam kejut luar untuk

memperkuat daya hambat.

Konstruksi silinder kerja ganda dengan bantalan udara sebagai


berikut :

Gambar 2.6 Silinder Kerja Ganda Dengan Bantalan Udara


2.4.1

Karakteristik Silinder
Karakteristik penampilan silinder dapat ditentukan secara teori atau
dengan

data-data

dari

pabriknya.

Kedua

metode

ini

dapat
13

dilaksanakan, tetapi biasanya untuk pelaksanaan dan penggunaan


tertentu, data-data dari pabriknya adalah lebih menyakinkan.
2.4.2

Gaya Piston
Gaya piston yang dihasilkan oleh silinder bergantung pada
tekanan udara, diameter silinder dan tahanan gesekan dari komponen
perapat. Gaya piston secara teoritis dihitung menurut rumus berikut :

F = A. p
Untuk silinder kerja tunggal :

F D2
4

p f

Untuk silinder kerja ganda :


a. langkah maju

b. langkah mundur

Keterangan :
F
f
D
d
A

=
=
=
=
=

p
4

F D2 p
4

F D2 d 2 p
4

F D2 p
4
F D2

Gaya piston ( N )
Gaya pegas ( N )
Diameter piston ( m )
Diameter batang piston ( m )
2
Luas penampang piston yang dipakai (m )
Tekanan kerja ( Pa )

Pada silinder kerja tunggal, gaya piston silinder kembali lebih


kecil daripada gaya piston silinder maju karena pada saat kembali
digerakkan oleh pegas . Sedangkan pada silinder kerja ganda, gaya
piston silinder kembali lebih kecil daripada silinder maju karena
adanya diameter batang piston akan mengurangi luas penampang
14

piston. Sekitar 3 - 10 % adalah tahanan gesekan. Berikut ini adalah


gaya piston silinder dari berbagai ukuran pada tekanan 1 - 10 bar.

Diamet

Tekanan Kerja ( bar )

er
Piston

( mm )

10

Gaya Piston ( kgf )

0,2

0,4

0,6

0,8

1,0

1,2

1,4

1,6

1,8

2,0

12

10

16

10

12

14

16

18

20

25

13

17

21

24

30

34

38

42

35

17

26

35

43

52

61

70

78

86

40

12

24

36

48

60

72

84

96

108

120

50

17

35

53

71

88

106

124

142

159

176

70

34

69

104

139

173

208

243

278

312

346

100

70

141

212

283

353

424

495

566

636

706

140

138

277

416

555

693

832

971

1110

1248

1386

200

283

566

850

1133

1416

1700

1983

2266

2550

2832

250

433

866

1300

1733 2166 2600 3033


Tabel 2.2 Gaya Piston

3466

3800

4332

Silinder pneumatik tahan terhadap beban lebih. Silinder pneumatik


dapat dibebani lebih besar dari kapasitasnya. Beban yang tinggi
menyebabkan silinder diam.
2.4.3

Kebutuhan Udara
Untuk menyiapan udara dan untuk mengetahui biaya pengadaan
energi, terlebih dahulu harus diketahui konsumsi udara pada sistem.
Pada tekanan kerja, diameter piston dan langkah tertentu, konsumsi
udara dihitung sebagai berikut :

15

Kebutuhan udara = perbandingan kompresi x luas


penampang piston x panjang langkah

Perbandingan kompresi

1,031 tekanan kerja(bar )


1,031

Untuk mempermudah dan mempercepat dalam menentukan


kebutuhan udara, tabel di bawah ini menunjukkan kebutuhan udara
persentimeter langkah piston untuk berbagai macam tekanan dan
diameter piston silinder.

Tabel : Kebutuhan udara silinder pneumatik persentimeter langkah


dengan fungsi tekanan kerja dan diameter piston.
Diamete

Tekanan Kerja ( bar )

r
Piston

( mm )

10

Kebutuhan udara ( q ) dalam liter/cm langkah

0,0005

0,0008 0,0011 0,0014 0,0016 0,0019 0,0022 0,0025 0,0027 0,0030

12

0,002

0,003

0,004

0,006

0,007

0,008

0,009

0,010

0,011

0,012

16

0,004

0,006

0,008

0,010

0,011

0,014

0,016

0,018

0,020

0,022

25

0,010

0,014

0,019

0,024

0,029

0,033

0,038

0,043

0,048

0,052

16

35

0,019

0,028

0,038

0,047

0,056

0,066

0,075

0,084

0,093

0,103

40

0,025

0,037

0,049

0,061

0,073

0,085

0,097

0,110

0,122

0,135

50

0,039

0,058

0,077

0,096

0,115

0,134

0,153

0,172

0,191

0,210

70

0,076

0,113

0,150

0,187

0,225

0,262

0,299

0,335

0,374

0,411

100

0,155

0,231

0,307

0,383

0,459

0,535

0,611

0,687

0,763

0,839

140

0,303

0,452

0,601

0,750

0,899

1,048

1,197

1,346

1,495

1,644

200

0,618

0,923

1,227

1,531

1,835

2,139

2,443

2,747

3,052

3,356

250

0,966

1,441

1,916

2,392 2,867 3,342 3,817


Tabel 2.3 Tekanan Kerja

4,292

4,768

5,243

Kebutuhan udara dihitung dengan satuan liter/menit (l/min) sesuai dengan


standar kapasitas kompresor. Kebutuhan udara silinder sebagai berikut :
Silinder kerja tunggal : Q = s . n . q

dalam l/min

Silinder kerja Ganda : Q = 2 ( s n q ) dalam l/min


Keterangan :

2.4.4

kebutuhan udara silinder ( l/min )

kebutuhan udara persentimeter langkah piston

panjang langkah piston ( cm )

jumlah siklus kerja per menit

Kecepatan Piston
Kecepatan piston rata-rata dari silinder standar berkisar antara 0,11,5 m/s (6 - 90 m/min). Silinder khusus dapat mencapai kecepatan 10
m/s. Kecepatan silinder pneumatik tergantung :
*3 beban ( gaya yang melawan silinder ),
*4 tekanan kerja,
*5 diameter dalam dan panjang saluran antara silinder dan katup
kontrol arah,
*6 ukuran katup kontrol arah yang digunakan.
17

Kecepatan piston dapat diatur dengan katup pengontrol aliran dan


dapat ditingkatkan dengan katup pembuang cepat yang dipasang pada
sistem kontrol tersebut. Kecepatan rata-rata piston tergantung dari gaya
luar yang melawan piston (beban) dan ukuran lubang aliran dapat
dilihat seperti pada tabel berikut :

Diameter

Lubang

Beban dalam %

Piston

Masuk

(mm)

mm

25

580

530

450

380

300

35

980

885

785

690

600

50

480

440

400

360

320

70

230

215

200

180

150

70

530

470

425

380

310

100

120

110

90

80

60

100

260

230

205

180

130

140

130

120

110

90

70

140

12

300

260

230

200

170

200

65

60

55

50

40

200

12

145

130

120

105

85

200

19

330

300

280

250

215

250

19

240
220
185
Tabel 2.4 Kecepatan Piston

165

115

20

40

60

80

Kecepatan Piston dalam mm/detik

18

2.4.5

Langkah Piston
Langkah silinder pneumatik tidak boleh lebih dari 2 m, sedangkan
untuk silinder rodless jangan lebih dari 10 m. Akibat langkah yang
panjang, tekanan mekanik batang piston dan bantalan menjadi terlalu
besar. Untuk menghindari bahaya tekanan, diameter batang piston pada
langkah yang panjang harus sedikit lebih besar.

2.5 Sistem Pneumatik


2.5.1

Umum
Pneumatik berasal dari bahasa Yunani yang berarti udara atau
angin. Semua sistem yang menggunakan tenaga yang disimpan dalam
bentuk udara yang dimampatkan untuk menghasilkan suatu kerja yang
disebut dengan sistem Pneumatik. Dalam penerapannya sistem
pneumatik banyak digunakan sebagai sistem automasi.
A. Penggunaan sistem pneumatik antara lain :
Rem
Buka dan tutup pintu
Pelepas dan penarik roda pesawat terbang
Dan lain- lain.
B. Kelebihan sistem Pneumatik antara lain :
Fluida kerja mudah didapat dan ditransfer
Dapat disimpan dengan baik
Penurunan tekanan relatif lebih kecil dibandingkan dengan
sistem hidrolik
Viskositas fluida yang lebih kecil sehingga gesekan dapat
diabaikan
Aman terhadap kebakaran
2.5.1.1 Sistem Tekanan Tinggi
19

Untuk sistem tekanan tinggi, udara biasanya disimpan


dalam tabung metal (Air Storage Cylinder) pada range tekanan
dari 1000-3000 Psi, tergantung pada keadaan sistem.
Tipe dari tabung ini mempunyai 2 klep, yang mana satu
digunakan sebagai klep pengisian, dasar operasi kompresor
dapat dihubungkan pada klep ini untuk penambahan udara
kedalam tabung. Klep lainnya sebagai klep pengontrol. Klep ini
dapat sebagai klep0 penutup dan jga menjaga terperangkapnya
udara dalam tabung selama sistem dioperasikan.
2.5.1.2 Sistem Tekanan Sedang
Sistem tekanan sedang mempunyai range tekanan antara
100-150 Psi, biasanya tidak menggunakan tabunng udara.
Sistem ini umumnya mengambil udara terkompresi langsung
dari motor kompresor
2.5.1.3 Sistem Tekanan Rendah
Tekanan udara rendah didapatkan dari pompa udara tipe
Vane. Demikian pompa udara mengeluarkan tekanan udara
secara kontinu dengan tekanan sebesar 1-10 Psi ke sistem
pneumatik
2.6 Komponen Sistem Pneumatik
2.6.1

Kompresor
Kompresor digunakan untuk menghisap udara di atmosfer dan
menyimpan kedalam tanki penampung. Kondisi udara dalam atmosfer
dipengaruhi oleh suhu dan tekanan.

2.6.2

Oil and Water Trap


Fungsi dari Oil and Water Trap adalah sebagai pemisah oli dan air dari
udara yang masuk dari kompresor. Jumlah air presentasenya sangat

20

kecil dalam udara yang masuk kedalam sistem pneumatik, tetapi dapat
menjadi penyebab serius dari tidak berfubgsinya sistem.
2.6.3

Dehydrator
Fungsi unit ini adalah sebagai pemisah kimia untuk memisahkan sisa
uap lembab yang mana boleh jadi tertinggal waktu udara melewati unit
Oil and Water Trap.

2.6.4

The Air Filter


Setelah udara yang dikompres melewati Oil and Water Trap dan unit
Dehydrator, akhirnya udara yang dikompresi akan melewati filter
untuk memisahkan udara dari kemungkinan adanya debu dan kotoran
yang mungkin terdapat di udara.

2.6.5

Pressure Regulator
Sistem tekanan udara siap masuk pada tekanan tinggi menambah
tekanan pada bilik dan mendesak beban pada piston.

2.6.6

Restrictors
Restrictors adalah tipe dari pengontrol klep yang digunakan dalam
sistem pneumatik. Restrictor yang biasa digunakan ada dua tipe, yaitu
tipe Orifice dan Variable Restrictor.

2.7 Perawatan Sistem Pneumatik


Perawatan sistem pneumatik

terdiri dari memperbaiki, mencari

gangguan , pembersihan dan pemasangan komponen, dan uji coba


pengoperasian. Tindakan pencegahan untuk menjaga udara dalam sistem selalu
terjaga kebersihannya. Saringan dalam komponen harus selalu diberikan dari
partikel- partikel metal yang mana hal tersebut dapat menyebabkan keausan
pada komponen.

21

Setiap memasang komponen pneumatik harus dijaga kebersihannya dan


diproteksi dengan pita penutup atau penutup debu dengan segera setelah
pembersihan. Memastikan ketika memasang kembali komponen tidak ada
partikel metal yang masuk kedalam sistem.
Sangat penting mencegah masuknya air, karena dapat menjadi penyebab
sistem tidak dapat memberikan tekanan.
Kebocoran bagian dalam komponen, selama kebocoran pada O-Ring atau
posisinya, yang mana ketika pemasangan tidak sempurna atau tergores oleh
partikel metal atau sudah batas pemakaian.
2.8 PLC (Programmable Logic Controller)
2.8.1

Pengertian
PLC (Programmable Logic Controller) adalah komputer elektronik
yang mudah digunakan yang memiliki fungsi kendali untuk berbagai
tipe dan tingkat kesulitan yang beraneka ragam.
PLC dirancang untuk menggantikan suatu rangkaian relay
sequensial dalam sebuah sistem kontrol. PLC memiliki bahasa
pemrograman yang mudah dipahami dan dapat dioperasikan bila
program yang telah dibuat dengan menggunakan software yang sesuai
dengan jenis PLC yang digunakan sudah dimasukkan.
Alat ini bekerja berdasarkan input- input yang ada dan tergantung
dari keadaan pada suatu waktu tertentu yang kemudian ak an meng-ON
atau meng-OFFkan output- output. Angka 1 menunjukan bahwa
keadaan yang diharapkan terpenuhi. Sedangkan angka 0 menunjukan
keadaan yang diharapkan tidak terpenuhi. PLC juga dapat diterapkan
untuk pengendalian sistem yang memiliki output banyak.
Secara umum fungsi PLC adalah sebagai berikut :
1. Sequensial Control.
Memproses input sinyal nbiner menjadi output yang digunakan
untuk keperluan pemrosesan teknik secara berurutan.
2. Monitoring Plant.

22

PLC secara terus menerus memonitor status suatu sistem dan


mengambil tindakan yang diperlukan sehubungan dengan proses
yang dikontrol atau menampilkan pesan tersebut pada operator.
2.8.2

Prinsip Kerja
Prinsip kerja dari PLC adalah menerima sinyal masukan proses yang
dikendalikan lalu melakukan serangkaian instruksi logika terhadap
sinyal masukan tersebut sesuai dengan program yang tersimpan dalam
memori lalu menghasilkan sinyal keluaran untuk mengendalikan
aktuator atau peralatan lainnya.

2.8.3

Keuntungan dan Kerugian PLC


Dengan menggunakan PLC akan memperoleh banyak keuntungan
diantaranya adalah :
1. Fleksibel
Pada

masa

lalu,

tiap

perangkat

elektronik

yang

berbeda

dikendalikan dengan pengendalinya masing-masing. Misal sepuluh


mesin membutuhkan sepuluh pengendali, tetapi kini hanya dengan
satu PLC kesepuluh

mesin tersebut dapat dijalankan dengan

programnya masing-masing.
2. Perubahan dan pengoreksian kesalahan sistem lebih mudah
Bila salah satu sistem akan diubah atau dikoreksi maka
pengubahannya hanya dilakukan pada program yang terdapat di
komputer, dalam waktu yang relatif singkat, setelah itu didownload
ke PLC-nya. Apabila tidak menggunakan PLC, misalnya relay maka
perubahannya dilakukan dengan cara mengubah pengkabelannya.
Cara ini tentunya memakan waktu yang lama.
3. Jumlah kontak yang banyak

23

Jumlah kontak yang dimiliki oleh PLC pada masing-masing coil


lebih banyak daripada kontak yang dimiliki oleh sebuah relay.
4. Harga yang relatif murah
PLC mampu menyederhanakan banyak pengkabelan dibandingkan
dengan sebuah relay. Maka harga dari sebuah PLC lebih murah
dibandingkan dengan harga beberapa buah relay yang mampu
melakukan pengkabelan dengan jumlah yang sama dengan sebuah
PLC. PLC mencakup relay, timers, counters, sequencers, dan
berbagai fungsi lainnya.
5. Pilot running
PLC yang terprogram dapat dijalankan dan dievaluasi terlebih
dahulu di kantor atau laboratorium. Programnya dapat ditulis, diuji,
diobserbvasi dan dimodifikasi bila memang dibutuhkan dan hal ini
menghemat waktu bila dibandingkan dengan sistem relay
konvensional yang diuji dengan hasil terbaik di pabrik.
6. Observasi virtual
Selama program dijalankan, operasi pada PLC dapat dilihat pada
layar CRT.Kesalahan dari operasinya pun dapat diamati bila terjadi.
7. Kecepatan operasi
Kecepatan operasi PLC lebih cepat dibandingkan dengan relay.
Kecepatan PLC ditentukan dengan waktu scannya dalam satuan
millisecond.
8. Metode pemrograman ladder atau boolean
Pemrograman PLC dapat dinyatakan dengan pemrograman ladder
bagi teknisi, atau aljabar Boolean bagi programmer yang bekerja di
sistem kontrol digital atau Boolean.

24

9. Sifatnya tahan uji


Solid state device lebih tahan uji dibandingkan dengan relay dan
timers mekanik atau elektrik. PLC merupakan solid state device
sehingga bersifat lebih tahan uji.
10. Menyederhanakan komponen- komponen sistem kontrol
Dalam PLC juga terdapat counter, relay dan komponen-komponen
lainnya,

sehingga

tidak

membutuhkan

komponen-komponen

tersebut sebagai tambahan. Penggunaan relay membutuhkan


counter, timer ataupun komponen-komponen lainnya sebagai
peralatan tambahan.
11. Dokumentasi
Printout dari PLC dapat langsung diperoleh dan tidak perlu melihat
blueprint circuit-nya. Tidak seperti relay yang printout sirkuitnya
tidak dapat diperoleh.
12. Keamanan
Pengubahan pada PLC tidak dapat dilakukan kecuali PLC tidak
dikunci

dan

diprogram.Jadi

tidak

ada

orang

yang

tidak

berkepentingan dapat mengubah program PLC selama PLC tersebut


dikunci.
13. Dapat melakukan pengubahan dengan pemrograman ulang
Karena PLC dapat diprogram ulang secara cepat, proses produksi
yang bercampur dapat diselesaikan. Misal bagian B akan dijalankan
tetapi bagian A masih dalam proses, maka proses pada bagian B
dapat diprogram ulang dalam satuan detik.
14. Perbahan rangkaian lebih cepat

25

Pengguna dapat menambah rangkaian pengendali sewaktu-waktu


dengan cepat, tanpa memerlukan tenaga dan biaya yang besar
seperti pada pengendali konvensional.

Selain keuntungan yang telah disebutkan diatas maka ada juga


beberapa kerugian yang dimiliki PLC, antara lain :
1.
2.

Teknologi yang masih baru


Pengubahan sistem kontrol lama yang menggunakan ladder atau
relay ke konsep komputer PLC merupakan hal yang sulit bagi

3.
4.

sebagian orang
Buruk untuk aplikasi program yang tetap
Beberapa aplikasi merupakan aplikasi dengan satu fungsi.
Sedangkan PLC dapat mencakup beberapa fungsi sekaligus. Pada
aplikasi dengan satu fungsi jarang sekali dilakukan perubahan
bahkan tidak sama sekali, sehingga penggunaan PLC pada aplikasi

5.
6.

dengan satu fungsi akan memboroskan (biaya).


Pertimbangan lingkungan
Dalam suatu pemrosesan, lingkungan mungkin mengalami
pemanasan yang tinggi, vibrasi yang kontak langsung dengan alatalat elektronik di dalam PLC dan hal ini bila terjadi terus menerus,

7.
8.

mengganggu kinerja PLC sehingga tidak berfungsi optimal.


Operasi dengan rangkaian yang tetap
Jika rangkaian pada sebuah operasi tidak diubah maka penggunaan
PLC lebih mahal dibanding dengan peralatan kontrol lainnya. PLC
akan menjadi lebih efektif bila program pada proses tersebut diupgrade secara periodik.

2.8.4

Bagian- bagian PLC


Sistem PLC terdiri dari lima bagian pokok, yaitu :
1. Central Processing Unit (CPU).

26

Bagian ini merupakan otak atau jantung PLC, karena bagian ini
merupakan bagian yang melakukan operasi/ pemrosesan program
yang tersimpan dalam PLC.

2. Programmer Monitor (PM).


Emrograman dilakukan melalui keyboard sehingga alat ini
dinamakan programmer. Dengan adanya monitor maka dapat dilihat
apa yang diketik atau proses yang sedang dijalankan oleh PLC.
3. Modul Input/ Output (I/O)
Input merupakan bagian yang menerima sinyal elektrik dari sensor
atau komponen lain dan sinyal itu diteruskan ke PLC untuk
diproses.
4. Printer.
Alat ini memungkinkan program pada CPU dapat diprint out atau
dicetak. Informasi yang dapat dicetak adalah diagram laddeer, status
register, status dan daftar dari kondisi- kondisi yang sedang
dijalankan, timing diagram, dan lain- lain.
5. Program Recorder/ Player.
Alat ini digunakan untuk menyimpan program dalam CPU. Program
yang telah direkam ini nantinya akan direkam kembali kedalam
CPU apabila program aslinya hilang atau mengalami kesalahan.]
2.8.5

Konsep Perancangan Sistem Kendali dengan PLC


Dalam merancang suatu sistem kendali dibutuhkan pendekatan
sistematis dengan prosedur sebagai berikut :

27

1. Rancangan Sistem Kendali


Dalam tahapan ini perancang harus menentukan terlebih dahulu
sistem apa yang akan dikendalikan dan proses bagaimana yang
akan ditempuh. Sistem yang dikendalikan dapat berupa peralatan
mesin ataupun proses yang terintegrasi yang sering secara umum
disebut dengan sistem kontrol.
2. Penentuan I/O.
Pada tahap ini semua piranti masukan dan keluaran eksternal
yang akan dihubungkan PLC harus ditentukan. Piranti masukan
dapat berupa saklar, sensor, valve dan lain- lain. Sedangkan
piranti keluaran dapat berupa solenoid katup elektronik,
kontaktor, dan lain- lain.
3. Perancangan Program
Setelah ditentukan input dan output maka dilanjutkan dengan
proses merancang program dalam bentuk ladder diagram dengan
mengikuti aturan dan urutan operasi sistem kendali.
4. Pemrograman.
5. Menjalankan Sistem.

28

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Umum
Penyemprot untuk ice cream ini digunakan untuk memudahkan
pekerjaan dan mempercepat pekerjaan prinsip kerja dari penyemprot ini
adalah untuk menghiasi ice dengan cream sesuai keinginan tanpa
menggunakan cara manual dan system kerja ini menggunakan Pneumatik
yang berbasis PLC.
3.2 Ladder Diagram

29

Gambar 3.1 Ladder Diagram


3.3 Mnemonic Diagram

ALAMAT

INSTRUKSI

OPERAND

00000

LD

000.00

30

00001

OR

010.00

00002

AND

CNT 000

00003

AND NOT

000.01

00004

OUT

010.00

00005

LD

010.00

00006

OR

010.01

00007

AND NOT

CNT 000

00008

OUT

010.01

00009

LD

00010

CNT

010.02
000

00011

LD

#005
000.02

00012

OR

010.02

00013

AND NOT

200.00

00014

OUT

010.02

00015

LD

000.03

00016

OUT

200.00

00017

END (01)
Table 3.1 Mnemonic Diagram

3.4 Rangkaian Pneumatik

31

Gambar 3.2 Rangkaian Kontrol Pneumatik


Prinsip kerja
Pengoprasian katub 1.2, yang mengembalikan katub 0.1 di pindah
pada Y. Gerakan elemen 1.1, 1.2, dan 3.1 dipindahkan pada Z karena
ada udara pada saluran 1. Silinder 1.0 (A) membuka alat penyemprot,
Silinder 2.0 (B) mendorong es krim maju dengan pelan-pelan dan
silinder 3.0 (C) menggerakan alat penyemprot mondar mandir.
Ketika silinder 2.0 berada pada posisi akhir depan. Katub 1.3/2.3
dioperasikan, pembalikan katub 0.1 dipindah pada Z, saluran berisi
udara kempaan, saluran 1 pembuangan. Semua tiga silinder bergerak
kembali ke posisi awalnya.
System ini dapat dipindah manual ke otomatis melalui katub 1.4.
Sebuah penghitung menghitung komponen yang sudah disemprot.

32

3.5 Siklus Pneumatik

Gambar 3.3 Silkus Pneumatik

3.6 Gambar Barang

Gambar 3.4 Penyemprot Ice Cream

33

Es krim akan dihiasi pada permukannya.katub alat penyemprot dibuka oleh


silinder 1.0 (A). pada waktu yang sama silinder 0.2 (B) dan 3.0 (C)
mengawali.Silinder 2.0 (B) mendorong batang es krim maju dengan pelan dan
silinder 3.0 (C) memandu alat penyemprot pada gerakan bolak balik tegak lurus
terhadap langkah memanjang.Ketika silinder 2.0 (B) sudah mencapai posisi akhir
depan,katub alat penyemprot ditutup oleh silinder 1.0 (A),silinder 2.0 (B) dan 3.0
(C) kembali pada posisi awalnya.

BAB IV

34

PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Rangkain pneumatic yang berbasis PLC dapat digunakan untuk
berbagai jenis barang seperti salah satunya pada laporan ini. Sesuatu
yang digunakan manual dapat digunakan secara otomatis sehingga
pekerjaan yang dilakukan sangat efisien dan pembuatannya sangat
mudah.

DAFTAR PUSTAKA
35

http://www.ilmuteknik.com/wp-content/uploads/2011/06/DESAINSISTEM-KONTROL-ELEKTROPNEUMATIK_edit.pdf

http://koleksi.pustakaskripsi.com/dl.php?f=1836.pdf

Dasar 2 kontrol pneumatic.penerbit tarsito bandung 1992.Drs.Ing.Thomas


krist

Pneumatic pengarang croser, penerbit festo 1994

Pengantar ilmu pneumatika terbitan s.L.Pusat survey geologi

36