Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Penyakit Parkinson (Parkinsonisme idiopatik atau paralisis agitans) atau lebih
tepat bila disebut sebagai sindrom Parkinson merupakan penyakit degeneratif
sistim ekstrapiramidal yang ditandai dengan rigiditas, bradikinesia, tremor
istirahat dan hilangnya refleks postural. Penyakit ini menjadi terkenal sejak tahun
1817; dan setelah letak lesi diketahui yakni pada substansia nigra pars compacta,
maka kelainan neurokimiawinya ditemukan secara beruntun yaitu adanya kelainan
pada neurotransmitter dopamin.1,2,3,4
Penyakit Parkinson mengenai sekitar 1% dari kelompok usia di atas 50 tahun
dan sekitar 2% dari mereka yang berusia lebih dari 70 tahun. Penyakit ini
merupakan penyebab kedua terbanyak dari penyakit neurodegeneratif di seluruh
dunia. Meskipun tidak ada terapi yang mengubah proses neurodegeneratif yang
mendasari, namun terapi simtomatis dapat memperbaiki kualitas hidup pasien.4,5
Karena itu pada referat ini akan dibahas mengenai terapi penyakit Parkinson.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sebagaimana telah disebutkan bahwa penyakit Parkinson ditandai dengan
rigiditas, bradikinesia, tremor istirahat dan hilangnya refleks postural. Rigiditas
merupakan akibat kenaikan tonus otot yang hilang timbul sehingga akan muncul
tahanan yang timbul tenggelam pada saat ekstremitas digerakkan. Rigiditas
mengenai hampir seluruh otot-otot tubuh namun lebih condong ke otot fleksor
sehingga memberi kesan membungkuk pada pasien. Bradikinesia atau hipokinesia
adalah melambatnya gerakan / kontraksi otot-otot bukan akibat kelemahan
(parese) ototnya; hal ini ditandai dengan kedipan mata berkurang, wajah seperti
topeng, hipotonia, hipersalivasi, tulisan semakin kecil-kecil dan cara berjalan
langkah kecil-kecil. Tremor adalah gerakan bagian distal ekstremitas pada saat
istirahat, rata-rata 3-6 kali per detik, namun bisa juga timbul saat sedang bergerak
(postural tremor / action tremor) atau campuran tremor istirahat dengan tremor
gerak. Fenomena lain yang juga sering ditemukan pada penderita penyakit
Parkinson adalah gejala awal asimetri (mulai timbul pada satu sisi tubuh), respons
terhadap l-dopa, dan ada gejala penyerta lain seperti demensia, depresi, gejala
psikotik, disfungsi otonomik, gangguan okulomotor.4,6,7
Pada penyakit Parkinson, terjadi kehilangan neuron dopamin di substansia
nigra sehingga produksi dopamin berkurang. Jadi, abnormalitas patologis yang
utama adalah degenerasi sel dengan hilangnya neuron dopaminergik yang
terpigmentasi di substansia nigra pars kompakta di otak dan ketidakseimbangan
sirkuit motor ekstrapiramidal (pengatur gerakan di otak).8,9,10
Dopamin merupakan derivat asam amino tirosin yang diperoleh dari
makanan. Dari tirosin, oleh enzim tyrosin hydroxylase, dibentuk dopa
(dihidroksifenilalanin). Oleh amino acid decarboxylase, dopa kemudian diubah
menjadi dopamin. Neuron dopaminergik di otak berasal dari dua tempat yakni
dari substansia nigra yang membentuk sistim nigro-striatum yang mengatur
pergerakan melalui ganglia basal (nukleus kaudatus dan putamen); dan dari area
tegmentum ventral yang membentuk sistim mesokortikal atau mesolimbik yang
1

menyalurkan aksonnya ke nukleus akumbens dan area subkortikal limbik, yang


memiliki peranan dalam proses adiksi dan berkaitan dengan sistim reward. Jalur
nigro-striatum yang menggunakan dopamin sebagai neurotransmitter mensintesis
dopamin oleh neuron itu sendiri dari bahan bakunya, tirosin. Dopamin yang
berada di luar kantung vesikel akan dirusak (degradasi) oleh enzim monoamin
oksidase (MAO) yang terdapat terutama di dalam sel neuron dan oleh enzim
COMT yang letaknya terutama di luar sel neuron atau di dalam sel glia.4,10
Traktus nigrostriatum mengatur fungsi gerakan halus, dan untuk itu perlu ada
keseimbangan antara komponen kolinergik (asetilkolin; bersama dengan glutamat)
yang merangsang dan komponen dopaminergik yang menghambat. Karena traktus
nigrostriatum

bersifat

dopaminergik,

maka

pada

penyakit

Parkinson,

keseimbangan kedua komponen tersebut terganggu ke arah dominasi kolinergik.11


Penurunan dopamin merupakan hal yang wajar pada manusia normal yaitu
sekitar 5% per dekade, sedangkan pada pasien dengan penyakit Parkinson
penurunan dopamin sekitar 45% per dekade. Gejala Parkinsonisme yang dialami
pasien baru akan muncul ketika kadar dopamin di striatal berkurang sampai 80%.
Selain

berkurangnya

dopamin,

neurotransmitter

lain

juga

mengalami

ketidakseimbangan di korteks dan hipotalamus, yakni neurotransmitter asetilkolin,


GABA, norepinefrin, glutamat dan serotonin.10
Perjalanan klinis penyakit Parkinson dilihat berdasarkan tahapan menurut
Hoehn dan Yahr: 1) stadium 0 yaitu tidak ada tanda-tanda penyakit; 2) stadium 1
yaitu tanda-tanda unilateral (gejala pada 1 sisi), ringan, mengganggu namun tidak
menimbulkan cacat, tremor pada satu anggota gerak, dan gejala awal dapat
dikenali orang terdekat; 3) stadium 1,5 yaitu tanda-tanda unilateral dan aksial; 4)
stadium 2 yaitu tanda-tanda bilateral, tanpa gangguan keseimbangan namun
sikap / cara berjalan terganggu; 4) stadium 2,5 yaitu penyakit bilateral ringan; 5)
stadium 3 yaitu terjadi gerakan tubuh yang nyata lambat, terdapat gangguan
keseimbangan saat berjalan / berdiri, disfungsi umum sedang, dan secara fisik
masih mandiri; 6) stadium 4 yaitu gejala lebih berat sehingga pasien tidak mampu
berdiri, ada keterbatasan jarak berjalan, rigiditas dan bradikinesia; 7) stadium 5

yaitu terjadi kecacatan kompleks, pasien tidak mampu berdiri dan berjalan
sehingga memerlukan perawatan tetap.6,9
Untuk manajemen pasien dengan penyakit Parkinson, diperlukan kesabaran
dan persistensi. Tujuan terapi pasien dengan penyakit Parkinson adalah untuk
mengurangi atau menghilangkan gejala dan memulihkan disabilitas fungsional
(tujuan jangka pendek); serta mempertahankan efektivitas pengobatan dan
mengurangi komplikasi terapi (tujuan jangka panjang). Karena itu diperlukan pula
konsultasi secara teratur karena umumnya terjadi efek samping dari pengobatan
farmakologik, dan pasien diberikan penjelasan yang sebaik-baiknya mengenai
sakitnya. Pada pasien berusia muda, misalnya 40 tahun, pengobatan sampai ia
meninggal dapat berlangsung lama (sekitar 30 tahun) sehingga akibat buruk dari
terapi jangka panjang perlu dipertimbangkan; lain halnya dengan pasien yang
memulai pengobatan pada usia tua (misalnya 60 atau 70 tahun).12,13
Pengobatan penyakit Parkinson dapat dikelompokkan menjadi:4
1.

2.

1.

Farmakologik:
a. Bekerja pada sistim dopaminergik.
b. Bekerja pada sistim kolinergik.
c. Bekerja pada glutamatergik.
d. Bekerja sebagai pelindung neuron.
e. Lain-lain.
Non-farmakologik:
a. Perawatan.
b. Pembedahan.
Farmakologik
a. Bekerja pada sistim dopaminergik.
Inti dari pengobatan gejala penyakit Parkinson adalah terapi pengganti
dopamin, dan standarnya adalah levodopa. Selain itu dapat pula diberikan
agonis dopamin, yang dapat sebagai monoterapi untuk memperbaiki gejala
pada awal penyakit atau sebagai terapi tambahan pada pasien yang
responsnya terhadap levodopa berkurang dan yang mengalami fluktuasi
dalam respons terhadap levodopa. Penghambat MAO (monoamin
oksidase)-B memiliki keuntungan sebagai monoterapi pada awal penyakit
dan sebagai tambahan levodopa pada pasien yang mengalami fluktuasi
motorik. Penghambat COMT (catechol-O-methyl transferase) digunakan
3

untuk meningkatkan waktu paruh levodopa sehingga mengirim lebih


banyak levodopa ke otak pada waktu yang lebih panjang.13

Gambar: Bagan cara kerja obat-obat anti parkinson pada sistim dopaminergik.
Keterangan: BBB = blood-brain barrier (sawar darah otak), DA = dopamin, l-dopa =
levodopa, D1 dan D2 = reseptor dopamin D1 dan D2, 3-MT = 3-metoksitiramin, HVA =
homovanilic acid.14

Levodopa (L-dopa)
Tirosin yang berasal dari makanan akan diubah secara beruntun menjadi
l-dopa

dan

dopamin

oleh

enzimnya

masing-masing

(tyrosin

hydroxylase dan L-aromatic amino acid decarboxylase). Kedua jenis


enzim ini terdapat di berbagai jaringan tubuh, di samping jaringan saraf.
Dopamin yang terbentuk di luar jaringan saraf otak, tidak dapat
melewati sawar darah otak, karena itu substitusi defisiensi dopamin
striatum tidak dapat dilakukan dengan pemberian dopamin. Untuk
mencegah jangan sampai dopamin tersintesa di luar otak, maka l-dopa
diberikan bersama dopa-decarboxylase inhibitor perifer dalam bentuk
karbidopa

(Stalevo)

Levazide,

Pardoz).

atau
Terapi

benserazid
kombinasi

(Madopar,
ini

Leparson,

diberikan

dalam

perbandingan dosis sebagai berikut; karbidopa : levodopa = 1:10 atau


1:4, benserazid : levodopa = 1:4. Dopamin yang berada di luar otak
bersifat emetogenik dan tidak diharapkan keberadaannya. Karbidopa
dan benserazid tidak melewati sawar darah otak.4,8,13,15

Efek terapeutik preparat l-dopa baru muncul sesudah 2 minggu, oleh


karena itu perubahan dosis seyogianya setelah 2 minggu. Mulailah
dosis rendah dan secara berangsur ditingkatkan. Drug holiday
sebaiknya jangan lebih lama dari 2 minggu karena gejala akan muncul
lagi sesudah 2 minggu obat dihentikan.4
Dosis levodopa dimulai rendah dan secara lambat laun ditingkatkan
menjadi 300-400 mg/hari dalam kurun waktu 2-3 minggu. Tahun-tahun
berikutnya pasien akan membutuhkan dosis sedang (600-800 mg/hari)
atau dosis tinggi (800-1000 mg/hari). Namun dengan kombinasi
bersama obat golongan lain maka dosis levodopa yang melebihi 1000
mg/hari jarang dibutuhkan.1
Efek samping levodopa terutama disebabkan terbentuknya dopamin di
berbagai organ perifer. Hal tersebut terjadi karena diperlukan dosis yang
besar untuk mendapat efek terapi yaitu peningkatan dopamin di
nigrostriatum. Efek samping tersebut antara lain: 1) mual, muntah dan
tidak nafsu makan terutama bila dosis awal terlalu tinggi, namun dapat
dihindari bila dosis awal rendah dan dinaikkan berangsur-angsur, dan
menggunakan

obat

antiemetik

seperti

domperidone

(antagonis

dopamin). 2) diskinesia (berkurang atau melemahnya kemampuan


untuk bergerak bebas) dan gerakan spontan abnormal, yang diduga
disebabkan oleh supersensitivitas reseptor dopaminergik pascasinaps.
Diskinesia ini mencakup diskinesia pada puncak dosis (peak dose
dyskinesia) yang dapat diobati dengan menurunkan dosis levodopa atau
meningkatkan dosis agonis dopamin. 3) gangguan tingkah laku, namun
cenderung terjadi pada pasien yang sejak pengobatan sudah mengalami
gangguan kepribadian. 4) hipotensi ortostatik.11
Setelah beberapa tahun pengobatan dengan levodopa, dapat terjadi apa
yang disebut dengan fenomena on-off, yakni dalam keadaan tenang
tiba-tiba terjadi perubahan dari keadaan mobil menjadi imobil (sulit
bergerak), namun terjadi dalam waktu relatif singkat kemudian
menghilang. Fenomena ini sangat mengganggu, karena penderita tidak
dapat meramalkan kapan gerakannya akan mendadak berhenti.
5

Penyebab dari fluktuasi fungsi motorik ini adalah distribusi levodopa


yang tidak konstan di otak, gangguan sensitivitas reseptor dopamin
striatal, atau berkurangnya persediaan dopamin di sistim saraf pusat.
Karena itu hal ini dapat diatasi dengan penambahan agonis dopamin
atau inhibitor MAO-B (contohnya Selegiline), atau dengan mengubah
preparat levodopa yang slow-release. Fenomena on-off ini mencakup
dua kategori yaitu serangan yang tidak berhubungan dengan waktu
pemberian levodopa dan reaksi wearing-off. Reaksi wearing-off
merupakan episode yang karakteristik mulai pada akhir periode
antardosis, dan segera hilang setelah pemberian levodopa.1,16
Levodopa memiliki interaksi dengan obat maupun makanan. Salah
satunya adalah interaksi levodopa dengan piridoksin (vitamin B6) dan
makanan berprotein tinggi (seperti daging dan produk susu). Piridoksin
dalam jumlah yang kecil (lebih dari 5 mg) akan meningkatkan dopa
dekarboksilase di perifer sehingga levodopa yang mencapai jaringan
otak akan berkurang, sedangkan makanan berprotein tinggi akan
membuat efek levodopa berkurang karena masuknya levodopa
melintasi sawar darah otak dapat dihambat oleh sejumlah asam amino.
Kedua interaksi ini ada pada level farmakokinetik. Dianjurkan untuk
diet rendah protein sebanyak 0.8 gram/kgBB/hari.1,12,16
MAO-B dan COMT inhibitor
Pada umumnya penyakit Parkinson memberi respons yang cepat dan
bagus dengan l-dopa dibandingkan dengan obat lain, namun ada
laporan bahwa l-dopa dan dopamin menghasilkan metabolit yang
mengganggu

atau

menekan

proses

pembentukan

energi

dari

mitokondria dengan akibat terjadinya stres oksidatif yang menuntun


timbulnya degenerasi sel neuron. Preparat penghambat enzim MAO
(monoamin oksidase)-B dan COMT (catechol-O-methyl transferase)
ditambahkan bersama preparat l-dopa untuk melindungi dopamin
terhadap degradasi oleh enzim tersebut sehingga metabolit dopamin
berkurang (pembentukan radikal bebas dari dopamin berkurang) dan
neuron dopamin terlindung dari proses stres oksidatif.4
6

Pada manusia terdapat dua tipe enzim MAO yaitu MAO-A yang
terutama berada di usus halus, dan MAO-B yang lebih banyak
diekspresikan di sistim saraf pusat. Selegiline (Jumex) dan Rasagiline
merupakan contoh inhibitor MAO-B. Pengobatan dengan Selegiline
digunakan pada dosis sampai 10 mg/hari. Pada pasien dengan penyakit
Parkinson lanjut, penambahan Selegiline meringankan fenomena
wearing-off (respons yang menjadi lebih pendek dan berkurang). Efek
samping berat tidak dilaporkan terjadi, hanya hipotensi, mual dan
kebingungan. Rasagiline, bersifat 5 kali lebih poten dibandingkan
dengan selegiline, namun tidak dimetabolisme menjadi amfetamin.,
yang mana amfetamin ini akan meningkatkan level dopamin
ekstraseluler striatal. Dosis yang direkomendasikan adalah berkisar 0,51 mg/hari. Tempatnya Selegiline dalam pengobatan Parkinson masih
kontroversial, namun mungkin dapat dianggap sebagai obat yang dapat
menghemat levodopa dan dapat memperlambat memburuknya sindrom
Parkinson; dengan demikian terapi levodopa dapat ditangguhkan
selama beberapa waktu.1,11,12,15,17
Entekapon (Comtan) dan Tolkapon merupakan contoh inhibitor
COMT yang bersifat reversibel. Karena obat-obat ini meningkatkan
kadar dopamin di otak pada awal pengobatan, dosis karbidopa
sebaiknya diturunkan sepertiganya. Efek samping levodopa dapat
meningkat setelah pemberian obat ini. Tolkapon dilaporkan lebih sering
menimbulkan diare daripada entekapon. Tes fungsi hati perlu
dilaporkan setiap 2 minggu dalam 1 tahun setelah pemberian Tolkapon;
tidak pada pemberian entekapon. Dosis Tolkapon 100 mg 3 kali sehari;
dosis entekapon 200 mg diberikan bersama levodopa/karbidopa (contoh
Stalevo) sampai maksimum 5 kali sehari.11,15
Entekapon dan Tolkapon berguna mengobati wearing off levodopa, dan
sangat efektif mengurangi fluktuasi motorik pada pasien dengan
penyakit Parkinson yang sudah lanjut, serta sebagai terapi tambahan

sehingga menghasilkan reduksi dosis levodopa sebanyak 30%.1


Agonis dopamin
7

Preparat lain yang juga dapat menghemat pemakaian l-dopa adalah


golongan agonis dopamin. Golongan ini bekerja langsung pada reseptor
dopamin, sehingga mengambil alih tugas dopamin dan memiliki durasi
kerja lebih lama dibandingkan dopamin. Sampai saat ini ada 2 golongan
agonis dopamin, yaitu derivat dari ergot dan non-ergot. Obat-obatan
yang termasuk golongan agonis dopamin derivat ergot adalah
bromokriptin, cabergoline, lisuride, pergolide. Obat-obatan yang
termasuk

golongan

agonis

dopamin

derivat

non-ergot

adalah

pramipexole, ropinirole, talipexole.4


Keuntungan terapi dengan agonis dopamin dibandingkan l-dopa antara
lain: durasi kerja obat lebih lama, respons fluktuatif dan diskinesia lebih
kecil, dapat dipilih agonis dopamin yang lebih spesifik terhadap
reseptor dopamin tertentu, disesuaikan dengan kondisi penderita
penyakit Parkinson. Sedangkan kerugian terapi agonis dopamin adalah
onset terapeutiknya rata-rata lebih lama dibandingkan l-dopa.4
Alasan untuk menggunakan agonis dopamin sebagai monoterapi pada
penyakit Parkinson yang masih dini ialah untuk menangguhkan
penggunaan levodopa atau mengurangi pemaparan terhadap levodopam
dengan demikian mengurangi komplikasi sistim motorik pada
penggunaan levodopa jangka panjang.1
Terapi dengan bromokriptin (Cripsa, Elkrip, Parlodel) dimulai
dengan dosis 1,25 mg, dua kali sehari, kemudian dosis dinaikkan
sampai efek terapi tercapai atau timbul efek samping. Dengan
pemberian bromokriptin, umumnya dosis levodopa dapat dikurangi
dengan 125-250 mg setiap penambahan 2,5 mg bromokriptin.11,15
Pergolid mesilat sama efektifnya dengan bromokriptin, dan bermanfaat
untuk pasien yang tidak responsif terhadap bromokriptin, dan
sebaliknya bromokriptin diberikan pada pasien yang tidak responsif
dengan pergolid. Lisurid, sama dengan bromokroptin namun juga
merangsang reseptor serotonin (5-HT) yang diduga mendasari
halusinasi dan efek samping lainnya. Sifatnya yang larut air cocok
untuk pemberian sebagai infus.11
8

Pramipeksol (Sifrol), efektif sebagai monoterapi pada penyakit


Parkinson ringan. Pada penyakit yang lebih berat, berguna untuk
menurunkan dosis levodopa. Obat ini diduga bersifat neuroprotektif
berdasarkan daya menyingkirkan hidrogen peroksida dan meningkatkan
aktivitas neurotropik pada sel dopaminergik in vitro. Dosis antara 0,51,5 mg, tiga kali sehari. Ronipirol, diindikasikan pada penyakit
Parkinson awal atau lanjut. Dengan penundaan pemberian levodopa,
diharapkan efek samping diskinesia berkurang. Dosis awal tiga kali
0,25 mg/hari, ditingkatkan perlahan-lahan sampai maksimum 24
mg/hari.11,15
b.

Bekerja pada sistim kolinergik.


Obat golongan antikolinergik memberi manfaat untuk penyakit Parkinson,
oleh karena dapat mengoreksi kegiatan berlebihan dari sistim kolinergik
terhadap sistim dopaminergik yang mendasari penyakit Parkinson. Ada
dua preparat antikolinergik yang banyak digunakan untuk penyakit
Parkinson yaitu Triheksifenidil (Arkine, Hexymer) dan Benztropin
(Cogentin). Preparat lainnya yang juga termasuk golongan ini adalah
Biperiden (Akinetin), Orphenadrine (Disipal) dan Procyclidine
(Kamadrin).

Golongan antikolinergik terutama

digunakan untuk

menghilangkan gejala tremor (antikolinergik kurang efektif untuk rigiditas


dan bradikinesia), namun efek samping yang paling ditakuti adalah
kemunduran memori. Karena efek sampingnya (mulut kering, retensi urin,
pandangan kabur, keringat berkurang, konstipasi, palpitasi, memori
menurun) lebih buruk dengan melanjutnya usia, maka penggunaan obat ini
pada lansia harus hati-hati. Triheksifenidil digunakan 2-3 x 2 mg/hari
dengan rentang dosis 10-20 mg/hari. Biperiden digunakan 2-4 x 0,5-2
mg/hari. Benztropin digunakan 0,5-1 mg/hari dengan rentang dosis 4-6
mg/hari. Procyclidine digunakan 2-3 x 5 mg/hari dengan rentang dosis 2030 mg/hari.1,4,11
c.

Bekerja pada sistim glutamatergik.


9

Di antara obat-obat glutamatergik yang bermanfaat untuk penyakit


Parkinson adalah dari golongan antagonisnya

yaitu Amantadine,

Memantine, dan Remacide. Antagonis glutamatergik diduga menekan


kegiatan berlebihan jalur dari inti subtalamikus sampai dengan globus
palidus internus sehingga jalur indirek seimbang kegiatannya dengan jalur
direk, dengan demikian output ganglia basalis ke arah talamus dan korteks
kembali normal. Di samping itu, diduga antagonis glutamatergik dapat
meningkatkan

pelepasan

dopamin,

menghambat

reuptake

dan

menstimulasi reseptor dopamin. Obat ini lebih efektif untuk akinesia dan
rigiditas daripada antikolinergik.4
d.

Bekerja sebagai pelindung neuron


Berbagai macam obat dapat melindungi neuron terhadap ancaman
degenerasi akibat nekrosis atau apoptosis. Termasuk diantaranya adalah:

Neurotrophic factor, yang dapat bertindak, sebagai pelindung neuron


terhadap kerusakan dan meningkatkan pertumbuhan dan fungsi dari
neuron. Termasuk dalam kelompok ini adalah BDNF (brain derived
neurotrophic factor), NT 4/5 (Neurotrophin 4/5), GDNT (glial cell linederived neurotrophic factor artemin), dan lain sebagainya. Namun
semuanya belum dipasarkan.4

Anti exitoxin, yang melindungi neuron dari kerusakan akibat paparan


bahan neurotoksin (MPTP, glutamat). Termasuk disini adalah antagonis
NMDA, MK 801, CPP, remacemide, dan anti konvulsan riluzole.4

Anti oksidan, yang melindungi neuron terhadap proses oksidatif stres


akibat serangan radikal bebas. Termasuk di dalamnya deprenyl
(Selegiline), 7-nitroindazole, nitroarginine-methyl-ester, methylthiocitrulline. Bahan ini bekerja menghambat kerja enzim yang memproduksi
radikal bebas.4

Bioenergetic

supplements,

metabolisme

energi

di

yang

bekerja

mitokondria.

memperbaiki

Coenzim

Q10

proses

(CoQ10),

nikotinamide termasuk dalam golongan ini.4


10

Immunosupresan, yang menghambat respons imun sehingga salah satu

jalur menuju oksidatif stres dihilangkan. Termasuk dalam golongan ini


adalah immunophilins, CsA (cyclosporine A), dan FK 506 (takrolimus).
Akan tetapi berbagai penelitian masih menunjukkan kesimpulan yang
kontroversial.4
Bahan lain yang masih belum jelas cara kerjanya diduga bermanfaat untuk
penyakit Parkinson yaitu hormon estrogen dan nikotin. Pada dasawarsa
terakhir, banyak peneliti menaruh perhatian dan harapan terhadap nikotin
berkaitan dengan potensinya sebagai neuroprotektan. Pada umumnya
bahan yang berinteraksi dengan reseptor nikotinik memiliki potensi
sebagai neuroprotektif terhadap bahan neurotoksis, misalnya glutamat
lewat reseptor NMDA, deksametason dan MPTP. Bahan nikotinik juga
mencegah degenerasi lesi, iskemia dan transeksi. Dari berbagai penelitian,
nikotin dapat memperbaiki kelainan degeneratif dari ganglia basalis,
termasuk penyakit Parkinson.4
2.

Non-farmakologik
Penanganan penyakit Parkinson yang tidak kalah pentingnya ini sering

terlupakan, mungkin dianggap terlalu sederhana atau terlalu canggih.4


a.

Perawatan penyakit Parkinson


Sebagai salah satu penyakit kronis yang diderita oleh manula, maka
perawatan tidak bisa hanya diserahkan kepada profesi paramedis, namun
kepada semua orang yang ada di sekitarnya:4

Pendidikan, dalam arti memberi penjelasan kepada penderita, keluarga


dan care giver tentang penyakit yang diderita. Hendaknya keterangan
diberikan secara rinci namun suportif, dalam arti tidak makin
membuat penderita cemas atau takut. Ditimbulkan simpati dan empati
dari anggota keluarganya sehingga dukungan fisik dan psikis mereka

menjadi maksimal.4
Rehabilitasi, merupakan suatu terapi tambahan yang penting untuk
penyakit ini. Walaupun sampai saat ini belum ada yang menunjukkan
adanya hubungan langsung antara rehabilitasi dengan perbaikan gejala
11

utama penyakit ini seperti bradikinesia, tremor, instabilitas postural


dan rigiditas, akan tetapi rehabilitasi dapat menghambat proses
sekunder yang berupa gangguan mobilitas dan aktivitas penderita serta
meningkatkan kualitas hidup penderita. Adapun tujuan dari latihan
dalam rehabilitasi adalah:4
Memperbaiki postur tubuh penderita dengan cara melakukan
koreksi terhadap posisi leher yang fleksi, memperbaiki kifosis
torakal, koreksi terhadap kelainan fleksi pinggul dan lutut, serta

mencegah terjadinya kontraktur pada sendi-sendi lain.


Mengurangi rigiditas dan meningkatkan fleksibilitas penderita.
Memperbaiki cara berjalan (gait) penderita.
Mempertahankan dan meningkatkan luas gerak sendi.
Memperbaiki dan mempertahankan cara bernapas yang ada.
Memperbaiki cara berbicara penderita dengan melakukan napas

dalam dan latihan peregangan otot napas.


Mengurangi tremor yang terjadi.
Memperbaiki cara makan, karena adanya kesulitan menelan.
Mempertahankan dan meningkatkan endurance penderita baik

kardiovaskuler maupun otot.


Mempertahankan dan meningkatkan kekuatan otot.
Diet, diberikan agar tidak terjadi kekurangan gizi, penurunan berat
badan, pengurangan jumlah massa otot, serta tidak terjadinya
konstipasi. Penderita dianjurkan untuk memakan makanan yang
berimbang antara komposisi serat dan air untuk mencegah terjadinya
konstipasi, serta cukup kalsium untuk mempertahankan struktur tulang
agar tetap baik. Apabila didapatkan penurunan motilitas usus dapat
dipertimbangkan pemberian laksan setiap beberapa hari sekali.
Hindari makanan yang mengandung alkohol atau berkalori tinggi.4

b.

Pembedahan
Tindakan pembedahan untuk penyakit Parkinson dilakukan bila penderita
tidak lagi memberi respons terhadap pengobatan (intractable), yaitu
masih adanya gejala dua dari gejala utama penyakit Parkinson (tremor,
rigiditas, bradi/akinesia, instabilitas postural/gait), fluktuasi motorik,
fenomena on-off, distonia, diskinesia karena obat, juga memberi respons
12

baik terhadap pembedahan. Persyaratan pembedahan yaitu pengobatan


farmakologis harus dioptimalkan dulu termasuk gejala psikologisnya.
Penderita penyakit Parkinson dengan gangguan kognisi berat kurang
bermanfaat dilakukan operasi (kontraindikasi).4,18
Teknik pembedahan antara lain:1,4,19,20
Pallidotomi, yang hasilnya cukup baik untuk menekan gejala
akinesia / bradikinesia, gangguan jalan / postural, gangguan bicara.
Neurotransmitter yang disekresi oleh globus palidus interna (Gpi)
sewaktu tingkat dopamin menurun diduga menginduksi diskinesia,
rigiditas, dan tremor. Prosedur pallidotomi yaitu merusak Gpi dengan
menggunakan panas.
Thalamotomi, yang efektif untuk gejala tremor, rigiditas, diskinesia
karena obat.
Stimulasi otak dalam / deep-brain stimulation
Mekanisme yang mendasari efektivitas deep-brain stimulation untuk
penyakit Parkinson sampai saat ini belum jelas, namun perbaikan
gejala penyakit Parkinson bisa mencapai 80%. Frekuensi rangsangan
yang diberikan pada umumnya lebih besar dari 130 Hz dengan lebar
pulsa antara 60-90 second. Stimulasi juga dapat diberikan dengan
alat stimulator yang ditanam di inti nukleus subtalamus (untuk tremor
berat) dan globus pallidus interna (bila gambaran Parkinson lain
ditemukan).
Transplantasi substansia nigra.
Percobaan transplantasi pada penderita penyakit Parkinson dimulai
tahun 1982 oleh Lindvall dan kawannya, menggunakan jaringan
medula adrenal yang menghasilkan dopamin. Jaringan transplant
(graft) lain yang pernah digunakan adalah dari jaringan embrio ventral
mesensefalon yang mengandung jaringan premordial stem. Untuk
mencegah reaksi penolakan jaringan (rejection), diberikan obat
imunosupresan siklosporin A yang menghambat proliferasi sel T
sehingga masa hidup graft lebih panjang. Transplantasi yang berhasil
13

baik dapat mengurangi gejala penyakit Parkinson selama 4 tahun,


kemudian efeknya menurun 4-6 tahun sesudah transplantasi. Sampai
saat ini, di seluruh dunia ada 300 penderita penyakit Parkinson
memperoleh pengobatan transplantasi dari jaringan embrio ventral
mesensefalon.

Gambar: Jalur fungsional antara korteks, ganglia basal dan talamus. Pada penyakit
Parkinson, terjadi degenerasi substansia nigra pars kompakta yang menyebabkan
berlebihnya aktivitas tidak langsung dan meningkatkan aktivitas glutamatergik oleh
nukleus subtalamikus.19

3.

Algoritme pengobatan penyakit Parkinson


Karena saat ini pengobatan penyakit Parkinson berlangsung lama, seumur

hidup, maka hal ini menjadi masalah besar. Selain itu, harus disadari bahwa
penyakit ini kronis dan progresif, bahkan progresifitasnya bisa disebabkan oleh
obat yang digunakan dan atau oleh faktor yang tidak diketahui sehingga tidak bisa
dicegah. Ironisnya, obat gold standard justru merupakan pemicu progresifitasnya.
Dengan demikian, penggunaan l-dopa perlu dihemat seefisien mungkin.
Pertentangan utama dalam pengobatan penyakit Parkinson berpusat pada
14

penentuan saat pengobatan dimulai. Banyak dokter menunda pengobatan


simtomatis dengan levodopa sampai memang dibutuhkan, terutama pada pasien
usia muda dan mereka dengan gejala yang ringan. Data terakhir menyebutkan
bahwa mortalitas dan progresifitas penyakit menurun bila diberikan pengobatan
lebih cepat.1,4,11
Terdapat beberapa hal mengenai terapi farmakologis yang telah disepakati,
yakni: 1) Saat ini, levodopa merupakan obat simtomatis yang paling efektif untuk
penyakit Parkinson; 2) Sebagian besar penderita yang diobati dengan levodopa
akhirnya mengalami fluktuasi dan diskinesia; 3) Agonis dopamin sangat efektif
bila digunakan sebagai terapi adjuvan, namun tidak seefektif levodopa bila
digunakan sebagai terapi dini pada mereka yang belum mendapat terapi Parkinson
sebelumnya; 4) Agonis dopamin kurang menyebabkan efek samping motorik
dibanding levodopa, namun lebih cenderung menyebabkan efek samping
neuropsikiatrik dibanding levodopa.1

15

Bagan: Algoritma tatalaksana penyakit Parkinson8

Pengobatan penyakit Parkinson pada awal timbulnya dimulai dengan obat


yang melindungi neuron dan pengobatan non farmakologis dalam arti perawatan
sehari-hari. Obat yang dipilih dipertahankan selama mungkin selagi masih
efektif.4 Algoritma pengobatan penyakit Parkinson dapat dilihat pada bagan di
atas.
Bila kondisi memburuk dipertimbangkan tindakan operasi. Perlu diingat
bahwa pembedahan adalah pilihan terakhir dari pengobatan penyakit Parkinson
sesudah pengobatan farmakologis dilakukan secara optimal.4
4.

Latihan untuk orang dengan penyakit Parkinson


Memiliki penyakit Parkinson tidak berarti harus duduk dan berhenti menjadi

aktif. Latihan, termasuk menjadi aktif, stretching (peregangan), mempraktikkan


16

postur tubuh yang baik dan melakukan latihan khusus, merupakan komponen
kunci untuk hidup sehari-hari orang dengan penyakit Parkinson. Latihan tidak
akan mengubah progresifitas penyakit Parkinson, tetapi penting untuk
mempertahankan kualitas hidup pasien. Latihan akan membantu mencegah efek
sekunder dari Parkinson yaitu: postur tubuh yang tidak baik, kehilangan
fleksibilitas, pengurangan kekuatan terutama pada otot-otot yang membantu
seseorang untuk berdiri tegak yang membuat kecenderungan untuk menjadi
bungkuk, pengurangan ketahanan tubuh (menjadi cepat lelah), dan menjadi tidak
seimbang.21
Cara menjadi aktif adalah dengan melakukan aktivitas aerobik seperti:
menggunakan treadmill, menggunakan sepeda statis, berjalan, berenang dan
berdansa (menari). Aktivitas lain yang dapat dilakukan untuk menjadi aktif adalah
dengan yoga, olahraga golf, bertanam, dan lain-lain. Yang paling penting adalah
konsistensi dalam melakukan berbagai aktivitas ini, bukan aktivitas khusus yang
dipilih. Mulailah dengan aktivitas yang dapat dilakukan dengan nyaman dan
pilihlah waktu yang terbaik untuk melakukan aktivitas tersebut. Secara bertahap,
tambahkan menit-menit untuk aktivitas tersebut setiap harinya, sampai menjadi
30-60 menit per harinya.21
Beberapa perubahan pertama yang terlihat pada penderita Parkinson salah
satunya adalah postur tubuh. Terdapat kecenderungan untuk bahu menjadi turun,
siku dan lutut melipat. Hal ini membuat beberapa kesulitan untuk bernapas dalam,
menelan, bergerak, menjadi seimbang, dan berjalan. Karena itu orang dengan
penyakit Parkinson harus memiliki kebiasaan mengubah postur menjadi baik.
Ketika mencoba membangun postur tubuh yang baik, yang paling penting adalah
pengulangan (repetition). Hal ini harus dilakukan sesering mungkin dalam sehari.
Cara membangun postur tubuh yang baik adalah:21

17

a.

Setiap hari (sesering mungkin yang bisa dilakukan)


pasien harus membandingkan postur tubuhnya; dengan
cara berdiri bersandar pada dinding dan pastikan bahwa
punggung bawah dan bahu menyentuh dinding. Cobalah
untuk menarik bagian belakang kepala ke depan dinding
dan kepala belakang jangan mengenai dinding.

b. Ketika bangun di pagi hari, baring

mendatar pada punggung dan jaga agar


kepala dan leher tip back selama 5 menit.
Jangan

menekan

belakang

ke

bahu

tempat

atau

kepala

tidur.

Dapat

dilakukan pula pada permukaan yang


c.

kuat seperti di lantai.


Setiap kali duduk
dipastikan

bahwa

di
bahu

kursi,

harus

menyentuh

sandaran kursi, kemudian tahan beberapa


detik. Lakukan ini kurang lebih tiga kali
setiap kali ingin duduk.
d.

Duduk di kursi, rileks ke depan dan


biarkan lengan dan kepala bergantung
ke bawah ke lantai. Kemudian dengan
pelan kembali ke posisi tegak dengan
berpusat

pada

tulang

belakang

kemudian baru kepala menjadi tegak.


Duduk tegak untuk beberapa detik.
Namun bila tekanan darah rendah,
hindari latihan ini).

18

e.

Baring dengan posisi wajah ke bawah


pada matras yang diletakkan di lantai
dengan posisi lengan di samping. Dengan
lembut tarik bahu bersamaan, jaga kepala
dan leher agar tetap berada pada garis
lurus, tahan beberapa detik. Jangan

f.

mencoba naik dengan punggung bawah.


Setiap kali duduk atau berdiri, dengan
lembut tarik dagu lurus dan luruskan
leher, tahan posisi ini selama 5 detik
dan rileks.

Selanjutnya adalah latihan peregangan atau fleksibilitas. Aktivitas ini


membantu pasien untuk mempertahankan jangkauan gerakan pada semua sendi
dan otot. Pasien harus dalam keadaan rileks dan bernapas biasa. Berikut gambar
cara melakukan aktivitas peregangan:21

1)
2)

3)

atau

4)

19

5)
6)
Setelah itu dapat dilakukan latihan penguatan untuk menjaga otot tetap sehat
dan kuat, yang mana latihan ini membutuhkan penggunaan otot berulang-ulang
secara spesifik. Cara melakukannya adalah:21
3)

1)

2)

5)

4)

6)

7)

8)

20

9)

11)

10)

12)

21

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Penyakit Parkinson merupakan penyebab kedua terbanyak dari penyakit
neurodegeneratif di seluruh dunia. Meskipun tidak ada terapi yang mengubah
proses neurodegeneratif yang mendasari, namun terapi simtomatis dapat
memperbaiki kualitas hidup pasien.
Berhadapan dengan penyakit Parkinson, harus disadari bahwa penyakit ini
kronis dan progresif, bahkan progresifitasnya bisa disebabkan oleh obat yang
digunakan dan atau oleh faktor yang tidak diketahui sehingga tidak bisa dicegah.
Ironisnya,

obat

gold

standard

(levodopa)

justru

merupakan

pemicu

progresifitasnya. Meskipun ada perdebatan mengenai waktu memulai terapi


namun data terakhir menyebutkan bahwa mortalitas dan progresifitas penyakit
menurun bila diberikan pengobatan lebih cepat.
Pengobatan penyakit Parkinson pada awal timbulnya dimulai dengan obat
yang melindungi neuron dan pengobatan non farmakologik. Obat yang dipilih
dipertahankan

selama

mungkin

selagi

masih

efektif.

Pengobatan

non-

farmakologik terdiri dari perawatan dan pembedahan. Perawatan orang dengan


penyakit Parkinson yang penting adalah pendidikan dan rehabilitasi untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien.

22

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.

Lumbantobing SM. Neurogeriatri. Jakarta: BPFKUI; 2011.


Martono HH, Pranaka K, editor. Buku ajar Boedhi-Darmojo geriatri, edisi ke-

3.

4. Jakarta: BPFKUI; 2011.


Harsono. Buku ajar neurologi klinis. Yogyakarta: Gadjah Mada University

4.

Press; 2011.
Joesoef AA. Patofisiologi dan managemen penyakit Parkinson. Dalam:
Machfoed MH, Hamdan M, Machin A, R Wardah, editor. Buku ajar ilmu

5.

penyakit saraf. Surabaya: Airlangga University Press; 2011. hal.180-5.


Connoly BS, Lang AE. Pharmacological treatment of Parkinson disease: a

6.

review. JAMA. 2014;311(16):1670-1683. doi:10.1001/jama.2014.3654.


Misbcah J, Hamid AB, Mayza A, Saleh MK, editor. Standar pelayanan medik

7.
8.

PERDOSSI. Jakarta: PERDOSSI; 2011.


Setiadji VS. Fungsi motorik sistem saraf. Jakarta: BPFKUI; 2013.
Dewanto G, Suwono WJ, Riyanto B, Turana Y. Panduan praktis diagnosis dan

9.

tatalaksana penyakit saraf. Jakarta: EGC; 2009.


Ikawati Z. Farmakoterapi penyakit sistem syaraf pusat. Yogyakarta: Bursa

Ilmu; 2011.
10. Setiadji VS. Neurotransmitter: reseptor dan cara kerja. Jakarta: BPFKUI;
2012.
11. Gan VHS, Gan S. Obat penyakit Parkinson. Dalam: Gan S, Setiabudy R,
Nafrialdi, Elysabeth, editor. Farmakologi dan terapi, edisi ke-5. Jakarta:
BPFKUI; 2012.
12. Wilkinson I, Lennox G. Essential neurology, 4th ed. USA: Blackwell
Publishing; 2005.
13. Hauser RA, Benbadis SR. Parkinson disease. [Online]. 2014 Aug 18 [cited
2014

Nov

21];

[6

screens].

Available

from:

URL:

http://emedicine.medscape.com/article/1831191-overview#showall

dan

http://emedicine.medscape.com/article/1831191-medication#showall
23

14. Jankovic J, Aguilar LG. Current approaches to the treatment of Parkinsons


disease. Neuropsychiatric Disease and Treatment. 2008: 4(4) 743-757.
15. UBM Medica Asia. MIMS Indonesia petunjuk konsultasi edisi 10 2010/2011.
Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer; 2010.
16. Wibowo A, Gofir A. Farmakoterapi dalam neurologi. Jakarta: Salemba
Medika; 2001.
17. Garcia-Montes JR, Boronat-Garcia A, Drucker-Colin R. Pharmacological
strategies for Parkinsons disease. Health 4 (2014) 1153-1166.
18. Fung VSC, Morris JGL, Pell MF. Surgical treatment for Parkinsons disease.
MJA Vol 177, 5 August 2002.
19. Katzung BG, editor. Farmakologi dasar dan klinik, edisi ke-10. Jakarta: EGC;
2010.
20. Mumenthaler M, Mattle H, Taub E. Fundamentals of neurology, an illustrated
guide. New York: Thieme; 2006.
21. Parkinson Society Canada. Exercises for people with Parkinsons. [Online].
July 2003 [cited 2014 Nov 21]; [12 screens]. Available from: URL:
http://www.parkinsonmaritimes.ca/files/uploads/file/resources/exerciseseng.p
df

24