Anda di halaman 1dari 40

1

BAB I
PENDAHULUAN

Komplemen merupakan sistem yang terdiri atas sejumlah protein yang


berperan dalam pertahanan penjamuan, baik dalam sistem imun nonspesifik
maupun sistem imun spesifik. Komplemen merupakan salah satu sistem enzim
serum yang berfungsi dalam inflamasi, opsonisasi dan kerusakan (lisis) membran
patogenik. Dewasa ini diketahui sekitar 20 jenis protein yang berperan dalam
sistem komplemen. (Baratawidjaja, 2010)
Komplemen merupakan molekul larut sistem imun nonspesifik dalam
keadaan tidak aktif yang dapat diaktifkan berbagai bahan seperti LPS bakteri.
Komplemen dapat juga berperan dalam sistem imun spesifik yang setiap waktu
dapat diaktifkan kompleks imun. Hasil aktivasi tersebut menghasilkan berbagai
mediator yang mempunyai sifat biologik aktif dan beberapa di antaranya
merupakan enzim untuk reaksi berikutnya. Produk lainnya berupa protein
pengontrol dan beberapa lainnya tidak mempunyai aktivitas enzim. Aktivasi
komplemen merupakan usaha tubuh untuk menghancurkan antigen asing, namun
sering pula menimbulkan kerusakan jaringan sehingga merugikan tubuh sendiri.
(Baratawidjaja, 2010)
Ada 9 komponen dasar komplemen yaitu C1 sampai C9 yang bila
diaktifkan, dipecah menjadi bagian-bagian yang besar dan kecil (C3a, C4a dan
sebagainya). Fragmen yang besar dapat berupa enzim tersendiri dan mengikat
serta mengaktifkan molekul lain. Fragmen tersebut dapat juga berinteraksi dengan

inhibitor yang menghentikan reaksi selanjutnya. Komplemen sangat sensitif


terhadap sinyal kecil, misalnya jumlah bakteri yang sangat sedikit sudah dapat
menimbulkan reaksi beruntun yang biasanya menimbulkan respon lokal.
(Baratawidjaja, 2010)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mediator Komplemen


Sistem komplemen terdiri atas sejumlah protein serum yang tidak tahan
panas. Komponen komplemen biasanya ditemukan dalam bentuk prekursor inaktif
larut yang bila diaktifkan, menghasilkan komponen komplemen yang dapat
bekerja sebagai enzim, mengikat beberapa molekul komponen berikutnya dan
menghasilkan sejumlah molekul efektor yang mempunyai efek biologik dan peran
dasar pada (Baratawidjaja, 2010):

Lisis sel, bakteri dan virus


Opsonisasi yang meningkatkan fagositosis partikel antigen
Mengikat reseptor komplemen spesifik, inflamasi dan sekresi

molekul immunoregulatori
Menyingkirkan
kompleks

imun

dari

sirkulasi

dan

mengendapkannya di limpa dan hati. Contohnya pada penderita


LES yang memproduksi sejumlah besar kompleks imun yang
menunjukkan kerusakan jaringan
Berbagai mediator yang dilepas pada waktu komplemen diaktikan, adalah
sebagai berikut (Baratawidjaja, 2010):

C1qrs yang meningkatkan permeabilitas vaskular


C2 yang mengaktifkan kitin
C3a dan C5a yang bersifat kemotaksis yang mengerahkan leukosit
dan sebagai anafilatoksis yang dapat merangsang sel mast melepas

histamin dan mediator-mediator lainnya


C3b yang berfungsi sebagai opsonin dan adherens imun

C4a yang berfungsi sebagai anafilatoksin lemah


C4b yang berfungsi sebagai opsonin
C5-6-7 yang bersifat kemotaksis
C8-9 yang melepas sitolisin yang dapat menghancurkan sel (lisis)

2.1.1 Reseptor Komplemen


Aktivasi komplemen jalur alternatif dan klasik menghasilkan beberapa
fragmen komplemen yang diikat oleh reseptornya yang ditemukan pada berbagai
jenis sel. C1qR ditemukan pada makrofag yang mengikat C1q pada jaringan
kolagen dan berperan pada eliminasi antigen. CR2 merupakan bagian dari
kompleks ko-reseptor sel B dan juga ditemukan pada sel dendritik folikular yang
berfungsi dalam fagositosis kompleks imun di senter germinal dan dalam
perkembangan sel memori. CR3 adalah integrin (molekul adhesi) pada fagosit
mononuklear, neutrofil dan sel NK yang fungsinya memudahkan fagositosis
kompleks imum dan migrasi monosit ke jaringan. CR4 adalah integrin yang
mempunyai fungsi sama dengan CR3 yang terutama diekspresikan pada makrofag
jaringan. Efek biologis yang ditimbulkan oleh interaksi reseptor dan ligannya
tergantung dari sel yang mengekspresikan reseptor tersebut (Tabel 2.1)
(Baratawidjaja, 2010).

Tabel 2.1 Reseptor Komplemen dan Efek Biologis (Baratawidjaja, 2010)


Resepto
r

CR1

Ligan
fragmen
kompleme
n
C3b dan
iC4b

Tipe sel untuk


reseptor

Fagosit
Eritrosit

Fungsi interaksi ligan reseptor

Mengenal antigen dengan bantuan


opsonin
Pembersihan kompleks imun dalam
sirkulasi

CR2
CR3

C3b
IC3b

Sel B
Fagosit

CR4

C3b

Fagosit

C3a/C4a
-R
C5a-R

C3a dan
C4a
C5a

Sel mast dan


basofil
Sel mast dan
basofil
Sel endotel
Fagosit

Infeksi EBV
Adhesi selular
Mengenal antigen dengan bantuan
opsonin
Mengenal antigen dengan bantuan
opsonin
Degranulasi yang melepas histamin
dan mediator inflamasi lain
Degranulasi yang melepas histamin
dan mediator inflamasi lain
Meningkatkan permeabilitas
Kemotaksis

Menurut Subowo (1993), reseptor komplemen terbagi menjadi (Subowo, 1993):


1. Reseptor komplemen Tipe 1 (CR1)
CR1 merupakan glikoprotein yang terdapat pada berbagai jenis sel seperti:
eritrosit, monosit, makrofag, netrofil, limfosit B dan limfosit T tertentu dan
podosit pada ginjal. CR! Menunjukkan aktifitas pengikatan dalam pengaturan
C4b dam C3b, tetapi peran utamanya dianggap terletak pada kemampuan
pembersihan kompleks imun. Setelah kompleks imun terbungkus oleh C3b
selama terjadinya aktivitas komplemen , selanjutnya akan terikat melalui CR1
pada eritrosit yang pada gilirannya dibersihkan melalui hati dan limpa. C3b
yang telah terpakai akan dipecah dan dibersihkan oleh faktor H dan I. maka
kekurangan CR1 pada permukaan eritrosit akan mengganggu pembersihan
kompleks imun. Keadaan ini dijumpai pada penderita SLE (Subowo, 1993).
2. Reseptor komplemen Tipe 2 (CR2)
CR2 juga merupakan molekul glikoprotein sebagau molekul integral pada
membran, tetapi baru diketemukan pada limfosit B dan sel-sel dendritik dalam
limpa. CR2 mungkin berperan dalam aktivasi limfosit B CR2 dan CR1 diatur
oleh gen yang sama pada pita 1q32 pada khromosom 1 (Subowo, 1993).
3. Membran cofactor protein (MCP)

MCP terdapat pada membran monosit, trombosit dan limfosit T. tetapi tidak
dijumpai pada membran eritrosit. Peran utama MCP diduga mengawasi
kerusakan C3 pada permukaan sel dengan bertindak sebagai kofaktor dalam
pemecahan C3b oleh faktor 1 (Subowo, 1993).
4. Faktor percepatan kehancuran
DAF atau decay acceleration factor telah dibahas cara kerjanya termasuk pula
daam golongan substansi yang terdapat pada permukaan sel (Subowo, 1993).

2.2 Aktivasi Komplemen


Sistem komplemen semula diketahui diaktifkan melalui dua jalur, yaitu
jalur klasik dan alternatif. Namun sekarang diketahui juga dapat diaktifkan
melalui jalur lektin. Jalur klasik diaktifkan oleh kompleks imun, sedang jalur
alternatif dan jalur lektin tidak. Perbandingan antara jalur klasik dan alternatif
dapat dilihat pada tabel 1 (Baratawidjaja, 2010).
Tabel 2.2. Perbandingan aktivasi komplemen jalur klasik dan alternatif
Perbandingan aktivasi komplemen jalur klasik dan alternatif
Jalur klasik
Jalur alternatif
Imunitas spesifik
Imunitas nonspesifik
Dimulai oleh antibodi
Dimulai oleh dinding sel bakteri
Biasanya diikat antigen
Memerlukan interaksi dengan C2 dan Tidak memerlukan komponen C1, C4
semua komponen mayor
Tiga fase :
Tiga fase :
- fase inisiasi
- fase inisiasi
- fase amplifikasi
- fase amplifikasi
- fase membran attack pada akhir jalur - fase membran attack
umum
2.3 Aktivasi Komplemen melalui Jalur Klasik

Penggunaan istilah klasik ini berdasarkan penemuannya pertama kali,


meskipun jalur klasik terjadi sesudah jalur lainnya. Aktivasi komplemen melalui
jalur klasik dimulai dengan dibentuknya komplek antigen-antibodi larut atau
dengan ikatan antibodi dan antigen pada sasaran yang cocok, seperti sel bakteri.
Aktivasi jalur klasik dimulai dengan C1 yang dicetuskan oleh komplek imun
antibodi dan antigen (Baratawidjaja, 2010).
IgM yang memiliki lima Fc mudah diikat oleh C1. Meskipun C1 tidak
mempunyai sifat enzim, namun setelah berikatan dengan Fc, stimulasi dari
kompleks antigen-antibodi larut mengaktivasi C1q, C1r, C1s, ketiga komponen ini
menghasilkan komponen enzimatik yang menstimulasi C4, C4 menghasilkan
komponen enzimatik yang menstimulasi C2, komponen C2 ini kemudian
menghasilkan komponen enzimatik dan menstimulasi C3 Convertase (pusat
katalitik sistem komplemen) (Baratawidjaja, 2010).
IgM dan IgG1, IgG2, IgG3 (IgM lebih kuat dibading IgG) yang
membentuk kompleks imun dengan antigen, dapat mengaktifkan komplemen
melalui jalur klasik. Jalur klasik melibatkan 9 komplemen protein utama, yaitu C1
sampai C9. Selama aktivasi, protein-protein tersebut diaktifasikan secara
berurutan. Produk yang dihasilkan menjadi katalisator dalam reaksi berikutnya.
Jadi stimulus kecil dapat menimbulkan reaksi aktivasi komplemen berurutan.
Lipid A dari endotoksin, protease, polinukleotida, membran virus tertentu dan
CRP dapat mengaktifkan komplemen melalui jalur klasik (Baratawidjaja, 2010).
Permukaan patogen tidak memiliki inhibitor komplemen. Setiap sel yang
tidak dilindungi oleg inhibitor komplemen akan diserang oleh komplemen.

Aktivasi komplemen yang berlebihan tidak diinginkan karena dapat menimbulkan


inflamasi dan kematian sel yang luas. Untuk mencegah hal ini dibutuhkan
inhibitor komplemen (Baratawidjaja, 2010).

Jalur klasik diinisiasi dengan


direkrutnya C1 ke permukaan
sel antibodi yang berikatan
dengan antigen. C1 secara
spesifik berikatan dengan
domain Fc dari IgG dan IgM
yang terikat dengan antigen.
Kompleks protein C1 terdiri
dari subunit protein C1q,
C1r, C1s. Subunit C1r
memiliki ikatan protease.

Pengikatan C1 ke domain Fc
dari antibodi mengaktifkan
protease C1. Aktivasi C1
memecah C4 menjadi C4a
yang terbebas, dan C4b yg
terikat pada permukaan sel.
Fungsi C4a sebagai
anafilatoksin yang
merangsang inflamasi.
C1 yang telah aktif memecah
C2 menjadi C2a yang
terbebas dan C2b yg
berikatan dengan C4b pada
permukaan sel. itu C4b dan
C2B kompleks protein
merupakan sistem enzim
konvertase C3. kompleks
protein C4b dan C2b
mengaktifkan C3 convertase

enzym system.

C3 konvertase memecah C3
menjadi C3a yang terbebas
dan C3b yang dibutuhkan
untuk mengaktifkan C5
sistem enzim konvertase dan
juga berfungsi sebagai
opsonin.

C3b bersatu dengan C3b


convertase dan mengaktifkan
C5 sistem enzim konvertase.
C3b juga berikatan dengan
permukaan sel sebagai
opsonin untuk meningkatkan
deteksi dari reseptor
phagocytes expressing
complement, sehingga
kekuatan opsonisasi
meningkat 1000x
C5 konvertase memecah C5
menjadi C5a yang terbebas
dan C5b yg merekrut
komplemen lainnya sehingga
membentuk membrane attack
complex (MAC). C5a
berfungsi sebagai
anafilatoksin yg menstimulus
inflamasi, dengan melekat
pada mast sel dan
meningkatkan daya proses
inflamasi serta meningkatkan
faktor khemotaktik leukosit

10

C5b kemudian merekrut C6


dan C7, masuk ke dalam
membran sel. C7 mengikat
C8 yg segera meningkatkan
molekul C9 dalam jumlah
banyak.

C8 and C9 mengaktifkan
pori-pori ikatan membran
yang memediasi lisis sel.
Grup komplemen C5b-C9
disebut sebagai membrane
attack complex (MAC).

Peningkatan fagositosis sel


target dimediasi oleh protein
komplemen C3b yg terikat di
permukaan sel, berfungsi
sebagai opsonin dan
terdeteksi oleh reseptor
komplemen yg diekspresikan
oleh fagosit. Opsonisasi dari
sel target oleh IgG juga
terdeteksi oleh fagosit dan

11

natural killer cell yg


mengekspresikan reseptor Fc.
Fagosit terutama termasuk
makrofag , neutrofil dan sel
dendritik, serta basofil dan
eosinofil dalam jumlah kecil.
Gambar 2.1 Aktivasi Komplemen Jalur Klasik
C1qrs
C2
C3a dan C5a

C3b
C4a
C4b
C5-6-7
C8-9

Meningkatkan permeabilitas vaskular


Mengaktifkan kinin
Kemotaksis yang mengerahkan leukosit dan juga berupa anafilatoksin
yang dapat merangsang sel mast melepas histamin dan mediatormediator lainnya
Opsonin dan adherens imun
Anafilatoksin lemah
Opsonin
Kemotaksis
Melepas sitolisin yang dapat menghancurkan sel (lisis)

2.4 Aktivasi Komplemen Melalui Jalur Alternatif.


Jalur alternatif terjadi tanpa melalui tiga reaksi pertama yang terdapat pada
jalur klasik (C1, C4 dan C2). Jalur alternatif sebenarnya terjadi terus menerus
dalam derajat klinis yang tidak berarti. Ig A dan IgG dapat mengaktifkan
komplemen melalui jalur alternatif. Proses ini merupakan bagian dari sistem
pertahanan non spesifik karena tidak memerlukan antibodi untuk inisiasinya.
Selain itu, terdapat protein tertentu dan lipopolisakarida dapat mengaktifkan
komplemen melalui kedua jalur.

12

Gambar 2.2. Skematik reaksi komplemen. Ada tiga jalur aktivasi komplemen.
Pertama adalah jalur klasik, yang dipicu oleh antibodi atau oleh ikatan langsung
komplemen componen C1q pada permukaan patogen. Kedua jalur MB-lektin
yang dipicu oleh lektin yang mengikat mannan. Ketiga jalur alternatif, yang
dipicu secara langsung pada permukaan patogen. Semua jalur di atas
menghasilkan aktivitas enzim, yang pada gilirannya memunculkan molekul
efektor komplemen. Konsekuensi dari ketiga aktivitas jalur komplemen itu adalah
terjadinya opsonisasi patogen, perekrutan sel inflamator, dan pembunuhan
patogen secara langsung.
Inisiasi:

Jalur alternatif menginisiasi pengaktifan sistem komplemen dengan cara


menghidrolisis molekul C3 secara spontan. C3 terdiri dari ikatan thiolester yang
tidak stabil. Ikatan yang tidak stabil menyebabkan mudah terhidrolisis menjadi
C3b dan C3a. Selain itu, C3b mampu melekat pada permukaan antigen asing.

Gambar 2.3 Molekul C3 mengalami hidrolisis sehingga pecah

13

menjadi molekul C3a dan C3b


Pembentukan C3b dimulai dengan cara hidrolisis spontan pada ikatan
thioester molekul C3 untuk membentuk C3(H2O) yang mempunyai perubahan
konformasi. C3(H2O) memiliki kemampuan mengikat protein plasma (faktor B)
menjadi C3(H2O)B. Kemudian C3(H2O)B menyebabkan faktor D memecahkan
faktor B menjadi Ba dan Bb. Molekul Bb berasosiasi dengan C3(H2O)
membentuk komplek C3(H2O)Bb. C3(H2O)Bb merupakan fluid-fase (fase cair)
C3 konvertase. Meskipun C3(H2O)Bb terbentuk dalam jumlah yang sedikit
namun dapat memecahkan sejumlah besar molekul C3 menjadi C3a dan C3b.
Sebagian besar molekul C3b dinonaktifkan dengan reaksi hidrolisis, namun
sebagian berikatan secara kovalen pada permukaan patogen maupun sel host
melalui grup thioester yang reaktif. Mekanisme di atas menghasilkan C3
konvertase, C3b, Bb.

14

Gambar 2.4. Ikatan C3b pada faktor B membentuk enzim protein disebut
faktorD untuk membelah faktor B menjadi Ba dan Bb, sedangkan Faktor B
tetap mengikat C3b sedang Ba dan faktor D melepaskan diri
Faktor D yang mengaktifkan C3b yang kemudian mengikat C3Bb
sehinggan membentuk kompleks imun C3BbD. Kompleks imun C3BbD yang
akan dipecah, distabilkan oleh properdin. Properdin, atau disebut faktor P, melekat
pada C3bBb kompleks utk menstabilkannya. C3bBbP membentuk C3 activation
complex utk jalur alternatif.

Gambar 2.5. C3 Activation Complex Memicu Produksi C3b Lebih Banyak


Ketika C3b berikatan dengan permukaan sel host, protein regulator yang
ada pada plasma dan pada membran sel host bergabung untuk mencegah aktivasi
komplemen. Protein regulator berinteraksi dengan C3b untuk mencegah
terbentuknya konvertase atau memacu terjadinya disosiasi pada molekul C3b.
Terbentuknya konvertase juga dapat dicegah dengan memecahkan molekul C3b
menjadi derivat non-aktif (iC3b). Pembentukan iC3b dari C3b dilakukan oleh
protease plasma yaitu faktor I. Faktor I melakukan kerjanya dengan mengadakan

15

konjugasi dengan CR1, MCP (membrane cofactor of proteolysis), dan faktor H.


Faktor H merupakan protein regulator pada plasma yang mengikat C3b.
Sebagaimana CR1, faktor H mempunyai kemampuan kompetisi dengan faktor B
dan menggeser Bb dari posisi konvertase. Di samping itu faktor H dapat berperan
sebagai kofaktor untuk faktor I. Faktor H lebih mudah untuk berikatan dengan
C3b yang terikat pada sel vertebrata karena faktor H mempunyai afinitas ikatan
pada residu asam sialik yang ada pada permukaan sel vertebrata bukan pada
patogen. Sebaliknya pada permukaan patogen tidak mempunyai protein regulator
untuk komplemen maupun residu asamsialik, sehingga C3b konvertase, Bb dapat
terbentuk dan diam pada permukaan patogen. Proses ini diatur oleh faktor P yakni
properdin yang berikatan dengan berbagai macam permukaan mikrobia dan
menstabilkan konvertase pada tempat tersebut. Jadi jalur alternatif dapat
diaktifkan dengan mekanisme aktivasi yang telah berlangsung pada permukaan
patogen, namun tidak pada permukaan sel host.
Permukaan patogen yang mengikat C3 konvertase akan merekrut fragmen
C3b dalam jumlah besar dan menghasilkan aktivitas C5 konvertase. C5
dipecahkan oleh enzim Bb untuk membentuk C5b dan mediator inflamasi C5a.
Terbentuknya C5b menginisiasi penggabungan komponen komplemen akhir
(terminal). Tahap berikutnya adalah pembentukan C5 konvertase. Sel fagosit juga
mengekspresikan reseptor anafilotoksin C5a. Ikatan C5a pada reseptornya akan
memicu terjadinya fagosit mikroorganisme. Sebagai contoh, fragmen komplemen
C5a dapat mengaktivasi makrofag untuk memfagosit bakteri yang telah berikatan

16

dengan reseptor CR1. Molekul C3a mempunyai peran penting pada proses
inflamasi seperti halnya C5a

Gambar 2.6. Bila terjadi penambahan ikatan C3b mengikat C3 aktifasi kompleks
maka ia berubah mejadi C5 aktivasi kompleks. C5 aktivasi kompleks
membelah C5 menjadi C5a dan C5b. C5b mulai memproduksi MAC.
Patogen yang berikatan dengan komplemen mengalami fagositosis yang
diperantarai reseptor komplemen. Peranan komplemen yang terpenting adalah
untuk memfasilitasi pengambilan dan penghancuran patogen oleh sel fagosit.
Kejadian tersebut berlangsung dengan adanya ikatan reseptor komplemen (CRs)
pada sel fagosit dengan sisi komplemen yang tengah berikatan dengan patogen.
Reseptor komplemen akan mengikat patogen yang telah diopsonisasi oleh
komponen komplemen. Opsonisasi pathogen merupakan fungsi utama C3b dan
derivatnya yang berupa enzim proteolitik.
Dengan

demikian

aktivasi

komplemen

dapat

berkontribusi

pada

menguatnya respon antibodi. Ini merupakan suatu contoh bagaimana imun


humoral innate dapat membantu mengaktivasi imunitas humoral adaptif sejalan
dengan kontribusi makrofag dan sel dendritik sebagai respon selluler innate yang

17

menginisiasi terjadinya respon sel T. Peranan penting opsinisasi oleh C3b dan
fragmen inaktifnya pada patogen ekstraselluler dapat dilihat pada individu yang
secara genetika dinonaktifkan gen penyandinya. Individu yang tidak dapat
menghasilkan molekul C3 atau molekul yang dapat mengkatalisis deposisi C3b
menunjukkan kerentanan terhadap infeksi bakteri dari luar.

Gambar 2.7. Skema aktivasi komplemen jalur Klasik, Lektin dan


Alternatif
2.5 Jalur Lektin
Lektin adalah protein larut yang mengenal dan mengikat residu manosa
dari hidrat arang yang merupakan bagian dinding sel mikroba. Lektin adalah
golongan famili kolektin yang merupakan protein fase akut dan kadarnya
meningkat pada respons imflamasi. Jalur lektin merupakan jalur baru yang
dikemukakan sebagai hasil berbagai penelitian. Jalur ini diaktifkan tanpa
memerlukan keberadaan antibodi melalui pengikatan polisakarida mikroba dengan
lektin yang beredar dalam darah misalnya Mannan-Binding-Lectin (MBL).

18

MBL merupakan protein oligomeric yang dibentuk dari monomer yang


mengandung lektin terminal amino kolagen dan terminal karboksil tipe C, protein
ini disebut collectins. Monomer MBL dibentuk kedalam trimers melewati formasi
triple helix pada daerah yang berbentuk seperti kolagen. Timers kemudian
dibentuk kedalam oligomerse oleh ikatan disulfida di antara daerah kolagen pada
daerah yang kaya akan sistem MBL. MBL yang ada di dalam darah tersusun atas
dua atau tiga trimers. Daerah karbohidrat tunggal didalam MBL memiliki afinitas
yang rendah untuk mannose, fucosse, dan m-acetylglucosamine (GIcNAc), residu
yang umum berada pada glican mikroba, tapi tidak mengikat residu asam sialit
yang berakhir pada glycan vertebrae sehingga MBL multimerik memiliki ikatan
atau pencapaian untuk struktur karbohidrat secara repetitif pada variasi yang lebar
di permukaan mikroba termasuk gram positif, gram negatif, bakteri, virus, jamur,
dan parasit, sementara tidak ada interaksi dengan sel host. MBL diproduksi di
dalam liver di keluarkan pada konsentrasi yang rendah di dalam individu, tapi
pada infeksi lanjut produksi MBL ini meningkat.
Jalur lektin teraktivasi ketika suatu protein plasma yaitu lektin pengikat
MBL berikatan dengan manosa di permukaan mikroba. Aktivasi jalur lektin
diawali oleh terjadinya ikatan antara polisakarida mikroba dengan lektin dalam
sirkulasi. Lektin tersebut akan mengaktivasi protein pada jalur klasik, tetapi
karena aktivasinya tidak membutuhkan antibodi maka jalur lektin di anggap
sebagai bagian dari imunitas non spesifik. Lektin yang terlarut ini merupakan
anggota keluarga collectin dan secara struktural mirip dengan struktural C1q,
MBL mengaktifkan kompleks enzim C1r-C1s atau serin estarase yang lain yang

19

disebut mannose binding protein associated serin-esterase. Setelah itu semua


tahap jalur lektin adalah sama dengan jalur klasik melalui C4. Meskipun aktivasi
sistem komplemen diawali oleh tiga jalur yang berbeda, namun semua jalur
berakhir dalam prroduksi C3b. Pada tingkat akhir dari semua jalur di bentuk MAC
(membrane attack complex).

Gambar 2.8 Sistem Komplemen, Jalur Lektin


2.6 Mekanisme Pengaturan Sistem Komplemen
Pengaturan

proses

aktivasi

sistem

komplemen

pada

umumnya

dilaksanakan melalui 2 jalan : (1) kerusakan/labilitas dari setiap komponen yang


terlibat dalam tahap-tahap tertentu, dan (2) faktor-faktor tertentu yang dapat
mempengaruhi jalannya reaksi.
(1) Pada umumnya terjadi kerusakan dari kompleks yang aktif seperti C3bBb,
C4b2a dan C4b2a3b, sehingga akan terjadi hambatan aktivasi sistem
dalam tahap bersangkutan. Selain itu terdapat suatu faktor yang disebut

20

DAF (decay accelaration factor) yang terdapat sebagai glikoprotein


integral membran sel. Penyebaran DAF sangat luas, tetapi paling utama
terdapat pada membran trombosit, eritrosit, dan lekosit. Bentuk larutan
terdapat sangat rendah dalam plasma darah air ludah dan urine. DAF
mempercepat kerusakan konvertase C3 dari kedua lintasan. Mungkin
sekali perannya lebih mengambat penyatuan komponen-komponen
konvertase daripada bekerja menguraikan molekul yang sudah terbentuk.
Adanya DAF dalam membran tersebut akan menccegah aktivasi
komplemen sehingga tidak terjadi lisis sel tadi.
(2) Substansi pengatur :
- C1 esterase inhibitor terdapat dalam serum dengan BM 105 kd
dengan berbagai fungsi. Selain berfungsi mengambat aktivasi C1r dan
C1s, juga dapat menghambat aktivasi enzim dalam sistem biologik lain
seperti plasmin, kalikrein, dan faktor Hageman. Maka apabila terjadi
aktivasi sistem-sistem tersebut akan menyebabkan juga makin aktifnya
sistem komplemen klasik. Hal ini disebabkan C1 inhibitor dipakai oleh
-

sistem-sistem tersebut.
Faktor I terlibat dalam pengaturan konvertase C3/C5 pada kedua
lintasan. Faktor I merupakan enzim yang khusus memecah C4b dan
C3b setelah dibantu kofaktor yang cocok. Dengan adanya faktor I
fungsi konvertase bersangkutan sangat dihambat. Penderita-penderita
tersebut hanya memiliki sedikit C3 dalam darahnya oleh karena
pembentuka C3bBb yang tidak terkendalikan akan memecah C3 terus.
Penderita tidak mengalami gangguan dalam menghadapi infeksi

21

bakteri sehingga bertambah jelaslah peran sistem komplemen dalam


-

tubuh.
Faktor H merupakan rantai tunggal glikoprotein dengan BM 150 kd
yang mampu mengikat C3b sehingga berperan mengatur melalui
fungsi-fungsi yang berkaitan dengan C3b. Berikatannya faktor H
dengan C3b akan mempercepat kerusakan C3bBb dan C3bBbP dalam
plasma. Faktor H yang terdapat pada membran akan bertindak sebagai
reseptor C3b pada sel limfosit dan makrofag tertentu. Agaknya faktor
H juga mengatur konvertase C5 karena berkompetisi antara ikatan C3b
dan C5. Faktor H bertindak sebagai kofaktor dalam pemecahan C3b
dan C3(H2O) oleh faktor I. C3b dipecah menjadi iC3b yang

selanjutnya dipecah menjadi C3c dan C3d oleh enzim.


C4b binding protein (C4bp)
C4bp mengatur konvertase C3 (C4b2a)dari lintasan klasik melalui
ikatan dengan afinitas yang tinggi terhadap C4b fase cari atau fase
terikat membran. Selain menghambat pembentukan konvertase C3,
apabila faktor I terikat oleh C4bp, C4bp bertindak sebagai kofaktor
untuk faktor I dalam memecah C4b menjadi C4c dan C4d, sehingga
mempercepat kerusakan C4b. C4bp merupakan komponen komplemen
yang terbesar dengan BM 570 kd. Struktur C4bp manusia terdiri atas 7
rantai identik yang masing-masing mempunyai BM 71 kd. Ketujuh
rantai-rantai peptida tersebut bersatu pada satu pusat sehingga dengan
mikroskop elektrion nampak sebagai laba-laba. Ketujuh ujung NH 2
dari C4bp tersebut dapat mengikat masing-masing sebuah molekul

22

C4b. Telah diketahui bahwa C4bp diatur oleh gena pada kromosom 1.
-

Belum pernah dilaporkan adanya kelainan defisiensi C4bp.


Protein S ikut mengatur sistem komplemen dengan mengikat kompeks
C5b67 sehingga mengubah kemampuannya untuk menempel pada
membran. Akibatnya tidak terjadi kerusakan membran.

2.7 Efek Biologis Sistem Komplemen


Komplemen merupakan sistem yang terdiri dari sejumlah protein yang
berperan dalam pertahanan pejamu, baik dalam sistem imun nonspesifik maupun
sistem imun spesifik. Komplemen merupakan salah satu sistem enzim serum yang
berfungsi dalam inflamasi, opsonisasi, dan kerusakan (lisis) membran patogen.
Saat ini telah diketahui sekitar 20 jenis protein yang berperan dalam sistem
komplemen (Baratawidjaja, 2010). Tiga jenis efek biologis yang utama dari yang
terjadi akibat sistem komplemen, meliputi reaksi inflamasi, opsonisasi, serta
aktivitas sitolitik (Baratawidjaja, 1991). Dalam makalah ini, efek biologis dari
sistem komplemen akan dijelaskan secara rinci, sebagai berikut:
1

Reaksi Inflamasi
Sebagai langkah pertama untuk menghancurkan benda asing dan
mikroorganisme

serta

membersihkan

jaringan

yang

rusak,

tubuh

mengerahkan elemen-elemen sistem imun ke tempat benda asing dan


mikroorganisme yang masuk kedalam tubuh atau jaringan rusak tersebut
(Baratawidjaja, 2010).
Inflamasi merupakan reaksi tubuh terhadap masuknya benda asing,
invasi mikroorganisme atau kerusakan jaringan. Dalam usaha pertama untuk
menghancurkan benda asing, mikroorganisme, dan membersihkan jaringan

23

yang rusak, maka tubuh akan mengerahkan elemen-elemen sistem imun ke


tempat benda asing dan mikroorganisme yang masuk tubuh atau jaringan
yang rusak tersebut (Baratawidjaja, 1991).
Berbagai bahan dalam sirkulasi seperti lektin, interferon, CRP, dan
komplemen berperan dalam pertahanan humoral. Serum normal dapat
memusnahkan dan menghancurkan beberapa bakteri negatif-bram atas
kerjasama antara antibodi dan komplemen yang ditemukan dalam serum
normal. Komplemen rusak pada pemanasan 56o C selama 30 menit.
Komplemen terdiri atas sejumlah besar protein yang bila diaktifkan akan
memberikan proteksi terhadap infeksi dan berperan dalam respon inflamasi
(Baratawidjaja, 2010).
Komplemen terdiri atas sejumlah besar protein yang bila diaktifkan
akan memberikan proteksi terhadap infeksi dan berperan dalam respon
inflamasi. Komplemen dengan spektrum aktivitas yang luas diproduksi oleh
hepatosit dan monosit dan dapat diaktifkan secara langsung oleh mikroba atau
produknya (jalur alternatif, klasik, atau lektin) (Baratawidjaja, 2010).
Fagositosis merupakan komponen penting dari inflamasi. Dalam proses
inflamasi terdapat tiga hal yang terjadi (Baratawidjaja, 2010), yaitu sebagai
berikut:
a Peninggian persediaan darah ke tempat benda asing, mikroorganisme
atau jaringan yang rusak.
b Peningkatan permeabilitas kapiler yang ditimbulkan oleh pengerutan sel
endotel. Hal tersebut memungkinkan molekul yang lebih besar seperti
antibodi dan fagosit bergerak ke luar pembuluh darah dan sampai
ditempat benda asing, mikroorganisme, atau jaringan yang rusak.

24

Leukosit, terutama fagosit polimorfonuklear dan makrofag dikerahkan


dari sirkulasi dan bergerak ke tempat benda asing, mikroorganisme atau
jaringan yang rusak. Hal tersebut dipermudah oleh penglepasan C3a dan
C5a pada aktivasi komplemen yang bersifat kemotaksis.

Tabel 2.3 Aktivasi Komplemen pada Inflamasi (Baratawidjaja, 2010)

Peningkatan permeabilitas vaskular yang lokal terjadi atas pengaruh


anafilatoksin (C3a, C4a, C5a). Aktivasi komplemen C3 dan C5 menghasilkan
fragmen kecil C3a dan C5a yang merupakan anafilatoksin yang dapat memacu
degranulasi sel mast maupun basofil dalam melepas histamin. Histamin yang
dilepas sel mast atas pengaruh komplemen, meningkatkan permeabilitas vaskular
dan kontraksi otot polos, serta memberikan jalan untuk migrasi sel-sel leukosit

25

dan keluarnya plasma yang mengandung banyak antibodi, opsonin, dan


komplemen ke jaringan (Baratawidjaja, 2010).
`

Gambar 2.9 Efek Biologis C5a. Pelepasan C5a yang berupa anafilatoksin
menyebabkan terjadinya berbagai reaksi. Lisosom yang memilik sifat
proteolitik dan dilepaskan oleh fagosit ke rongga ekstraseluler
dapat merusak jaringan (Baratawidjaja, 1991)
Dalam proses tersebut banyak pula leukosit yang dihancurkan.
Kemudian makrofag lain yang memasuki daerah tersebut akan mengakhiri
inflamasi. Kejadian tersebut diatas disebut sebagai inflamasi. C3a dan C5a
merupakan pula anafilatoksin yang dapat melepaskan histamin melalui
degranulasi mastosit dan basofil yang juga mempunyai sifat biologis. Selain
C3a dan C5a pada aktivasi komplemen, dilepas pula bahan-bahan lain yang
berperan pada inflamasi. Efek biologis C5a dapat dilihat pada gambar
dibawah ini (Baratawidjaja, 1991).

26

Gambar 2.10 Fungsi Biologi Komplemen. Fungsi biologis komplemen adalah


sitolisis direk, opsonisasi, aktivasi dan migrasi direk leukosit,
pembersihan kompleks imun, dan peningkatan respon imun
humoral. Berbagai fragmen komplemen yang dilepas pada aktivasi
jalur alternatif dan klasik ikut berperan dalam pertahanan imun.
Disamping pelepasan fragmen proteolitik, aktivasi komplemen baik
jalur klasik maupun alternatif dapat menimbulkan lisis (MAC) di
permukaan sel bakteri (Baratawidjaja, 2010).
Fagosit akhirnya memakan benda asing, mikroorganisme, atau jaringan
yang rusak. Selama proses tersebut, enzim lisosom dilepas oleh makrofag ke
luar sel, sehingga hal itu dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan
sekitarnya. Jelas bahwa sistem imun nonspesifik dan sistem imun spesifik
bekerja sama dalam usaha untuk mengembalikan keseimbangan badan dan
bahwa dalam usaha tersebut, hal-hal yang tidak menyenangkan untuk tubuh
seperti panas, bengkak, sakit, dan kerusakan jaringan, dapat terjadi
(Baratawidjaja, 1991).
Sel polimorfonuklear lebih sering ditemukan pada inflamasi akut,
sedang proliferasi monosit ditemukan pada inflamasi kronis (Baratawidjaja,
1991).
2

Adheren Imun

27

Adheren imun merupakan fenomena dari partikel antigen yang melekat


pada berbagai permukaan (misalnya permukaan pembuluh darah), kemudian
dilapisi antibodi dan mengaktifkan komplemen. Akibatnya antigen akan
mudah

difagositosis. C3b berfungsi

dalam adheren

imun tersebut

(Baratawidjaja, 2010).

Gambar 2.11 LPS dan komplemen yang Merabgsang Makrofag dan Induksi
Inflamasi Akut. Neutrofil darah menempel pada molekul adhesi di
sel endotel dan atas pengaruh faktor-faktor lainnya, bermigrasi ke
jaringan dengan menembus membran basal (Baratawidjaja, 2010).

Eliminasi Kompleks Imun


C3a maupun iC3b dapat diendapkan dipermukaan kompleks imun dan
merangsang eliminasi kompleks imun. Baik sel darah merah dan netrofil
memiliki CR1-R dan mengikat C3a dan iC3b. C3 dan C4 ditemukan dalam
kompleks imun yang larut terakhir diikat oleh CR1-R pada sel darah merah.
Selanjutnya sel darah merah mengangkut kompleks imun yang diikatnya ke
organ-organ yang mengandung banyak fagosit residen (fixed), seperti hati dan
limpa. Melalui reseptor komplemen dan Fc, fagosit residen tersebut

28

menghancurkan kompleks imun dari sel darah merah. Pada proses ini, sel
darah merah sendiri tidak dirusak (Baratawidjaja, 2010).

Gambar 2.12 Eliminasi Kompleks Imun dalam Sirkulasi. Kompleks imun


dibersihkan melalui reseptor komplemen pada permukaan eritrosit. Selanjutnya
kompleks disingkirkan melalui reseptor pada makrofag di hati dan limpa. Oleh
karena eritrosit memiliki reseptor lebih sedikit dibandingkan makrofag, sel yang
akhir dapat membersihkan kompleks dari sel darah merah bila sel tersebut
melewati hati dan ginjal. Defisiensi dalam proses ini dapat menimbulkan
kerusakan ginjal akibat akumulasi komplek imun (Baratawidjaja, 2010).
Neutrofil dapat menyingkirkan kompleks imun kecil dalam sirkulasi.
Bila antigen tidak larut dan diikat darah tidak disingkirkan, akan memacu
inflamasi dan dapat menimbulkan penyakit kompleks imun. Kompleks besar
tidak larut sulit untuk disingkirkan dari jaringan. Sejumlah besar C3 yang
diaktifkan dapat melarutkan kompleks tersebut. Seperti telah disebut diatas,
penderita dengan defisiensi komplemen beresiko tinggi terhadap penyakit
4

yang ditimbulkan oleh kompleks imun seperti LES (Baratawidjaja, 2010).


Lisis Osmotik Bakteri.

29

Aktivasi C3 (jalur alternatif, klasik, dan lektin) akan mengaktifkan


bagian akhir dari kaskade komponen komplemen C5-C9. Aktivasi
komplemen yang terjadi di permukaan sel bakteri akan membentuk MAC
(gabungan C5, C6, C7, C8, dan C9), dan akhirnya menimbulkan lisis osmotik
sel atau bakteri. C5 dan C6 memiliki aktivitas enzim yang memungkinkan
C7, C8, dan C9 dalam memasuki membran plasma dari sel sasaran. Sekitar
10-16 molekul C9 menimbulkan lubang-lubang kecil dalam membran plasma
dan mematikan sel. MAC dapat secara langsung menyerang patogen seperti
5

halnya dengan perforin pada sel NK (Baratawidjaja, 2010).


Netralisasi Infeksi Virus.
Untuk kebanyakan virus ikatan antibodi dalam serum dengan subunit
protein struktur virus akan membentuk kompleks imun yang selanjutnya
dapat disingkirkan melalui aktivasi komplemen jalur klasik. Beberapa virus
(retro, EBV, Newcastle Disease Virus, dan rubella) dapat mengaktifkan jalur
lektin, bahkan jalur klasik tanpa adanya antibodi (Baratawidjaja, 2010).
Komplemen berperan dalam netralisasi virus melalui berbagai
mekanisme. Sebagian neutralisasi dapat diperoleh dengan pembentukan
agregat virus yang besar dan agregat tersebut dapat menurunkan jumlah akhir
partikel virus. Meskipun antibodi berperan dalam agregat virus, studi invitro
memperlihatkan bahwa C3b mempermudah pembentukan agregat misalnya
virus polioma yang dilapisi antibodi dinetralkan bila serum mengandung C3
yang diaktifkan. Ikatan antibodi maupun komplemen dengan permukaan
partikel virus dapat membentuk protein tebal yang melapisi virus sehingga
terlihat pada pemeriksaan mikroskop elektron. Hal tersebut dapat mencegah
virus menempel dengan sel pejamu yang rentan (Baratawidjaja, 2010).

30

Endapan antibodi komplemen pada partikel virus juga memudahkan


partikel virus diikat dengan sel yang memiliki Fc atau reseptor untuk
komplemen 1 (CR1). Dalam hal fagosit ikatan tersebut dapat diikuti oleh
fagositosis dan pengrusakan intraseluler dari pertikel virus dalam sel.
Akhirnya komplemen efektif untuk melisiskan seluruh atau sebagian virus
yang terbungkus dan meninggalkan fragmen dari envelop dan disintegrasi
6

dari nukleokapsid (Baratawidjaja, 2010).


Imunitas Spesifik dan Nonspesifik.
Makrofag dan neutrofil dapat diaktifkan C5a secara langsung dengan bantuan
C3b seperti opsonin atau oleh toksin bakteri seperti lipopolisakarida melalui
reseptor TCR atau melalui fagositosis. Makrofag yang diaktifkan melepas
berbagai mediator larut seperti IL-1, TNF yang meningkatkan respon
inflamasi , ekspresi molekul adhesi untuk neutrofil di permukaan sel endotel,
permeabilitas, kemotaksis dan aktivitas sel PMN sendiri. Aktivasi komplemen
dan makrofag memberikan gambaran respon seluler yang berperan pada
inflamasi akut. Sitotoksisitas sel NK yang memiliki reseptor untuk
komplemen juga dapat ditingkatkan. Komplemen juga berperan dalam
imunitas spesifik oleh aktivasi makrofag meningkatkan jumlah APC (antigen
presenting cell) yang berfungsi mempresentasikan antigen ke sel T
(Baratawidjaja, 2010).

31

Gambar 2.13 Peran Komplemen yang Mengatur Mekanisme Imunitas Spesifik


dan Non-Spesifik (Baratawidjaja, 2010).
7. Kemotaksis dan Opsonisasi
Kemotaksis adalah gerakan fagosit (makrofag dan PMN) ke tempat
infeksi sebagai respon terhadap berbagai faktor seperti produk bakteri dan
faktor biokimia yang lepas pada aktivasi komplemen (Abbas and Lichtman,
2003; Michael, 2008; Surati, 2012).
Kemokin adalah molekul yang dapat menarik dan mengerahkan sel-sel
fagosit. C3a, C5a dan C5-6-7 merupakan kemokin yang dapat mengerahkan
sel-sel fagosit (Baratawidjaja, 2010). Efek kemotaksis C3a dan C5a, dan C5-6-7
ialah

mengerahkan

sel-sel

fagosit,

baik

mononuklear

maupun

polimorfonuklear, ke tempat kejadian infeksi, sedang C 3b dan C4b mempunyai


sifat opsonin (Kresnowidjojo, 1993). C5a merupakan kemoatraktan untuk
neutrofil yang juga merupakan anafilatoksin. Makrofag yang diaktifkan
melepas berbagai mediator yang ikut berperan dalam proses inflamasi
(Baratawidjaja, 2010).

32

Gambar 2.14. Strategi Pertahanan Berupa Reaksi Inflamasi Akut yang Diawali
dengan Aktivasi Komplemen Jalur Alternatif oleh Bakteri (Baratawidjaja,
2010). Aktivasi konvertase C3bBb-C3 oleh bakteri:
a Penglepasan C3b
b Mengikat bakteri C3a, C5a
c Mengerahkan mediator sel
d Efek terhadap dilatasi kapiler dan eksudasi protein plasma
e Kemotaksis neutrofil terhadap bakteri yang diselubungi C3b
f Adheren dan aktivasi akhir neutrofil untuk membunuh
g Pemusnahan oleh neutrofil
Opsonisasi adalah pelapisan bakteri dengan protein plasma tertentu
sebelum proses fagositosis. Opsonisasi menghasilkan kontak adhesi yang stabil
antara bakteri dengan sel fagositik. Proteinnya disebut opsonin yang berupa
beberapa komponen sistem komplemen dan molekul antibodi. Opsonin
(misalnya antibodi atau C3b) memulai proses fagositosis antigen dengan
mengikat antigen tersebut. (Abbas and Lichtman, 2003; Michael, 2008; Surati,
2012). C3b dan C4b memiliki sifat opsonin. Opsonin adalah molekul yang
dapat diikata disatu pihak oleh partikel (kuman) dan di lain pihak oleh
reseptornya pada fagosit sehingga memudahkan fagositosis bakteri atau sel
lain. C3 yang banyak diaktifkan pada aktivasi komplemen merupakan sumber
opsonin utama (C3b). Molekul C3b dalam bentuk inaktif (iC3b) juga berperan

33

sebagai opsonin dalam fagositosis oleh karena fagosit juga memiliki reseptor
untuk iC3b (Baratawidjaja, 2010).
IgG dapat juga berfungsi sebagai opsonin, bila berikatan dengan reseptor
Fc pada permnukaan fagosit. Oleh karena fagosit tidak memiliki reseptor Fc
untuk IgM, opsonisasi yang dibantuk komplemen merupakan hal yang sangat
penting selama terjadi respon antibodi primer yang didominasi IgM yang
merupakan aktivator komplemen poten. CRP juga berfungsi sebagai opsonin
(Baratawidjaja, 2010).

Gambar 2.15 Peran C3b dan Antibodi pada Opsonisasi (Baratawidjaja, 2010)
8. Aktivitas sitolitik
Eosinophil dan sel polimorfonuklear mempunyai sel afektor untuk C 3b dan
IgG sehingga C3b dapat mengaktifkan sitotoksisitas selefektor ADCC (antibody
dependent cellular cytotoxicity cell) yang kerjanya bergantung pada IgG
(Kresnowidjojo, 1993).
Sel darah merah yang disensitisasi C3b dapat dihancurkan oleh makrofag
tanpa fagositosis. Kejadian tersebut disebut kerusakan kontak (contractual
damage). Pada akhir aktivasi komplemen, C 8-9 merusak membran sehingga
terbentuk saluran-saluran dalam membran sel sebagai akibat lisis osmotik.
(Kresnowidjojo, 1993)
2.7. 1 Kegunaan Sistem Komplemen

34

Reaksi-reaksi biologik yang telah diutarakan di depan merupakan aspek


individual dalam satu kesatuan sistem yang mampu menghasilkan reaksi radang /
inflamasi

dan

mempermudah

(Baratawidjaja, 1991).
Kepentingan sistem

pencegahan

komplemen

penyebaran

dalam

sistem

kuman
pertahanan

patogen
tubuh

ditunjukkan pada percobaan-percobaan hewan, pengalaman penyakit imunologik


dan penyakit defisiensi komplemen pada manusia. Apalagi adanya gangguan
sistem pengaturan sistem komplemen akan lebih mengukuhkan betapa pentingnya
sistem komplemen tersebut. Misalnya adanya defisiensi kongenital C1 inactivator
menyebabkan tidak terkawalnya aktivasi lintasan klasik sehingga dapat
mengakibatkan timbulnya gejala patologik yang disebut angioedema herediter.
(Baratawidjaja, 1991)
Beberapa individu yang menderita defisiensi C5, C6, C7, dan C8
mengalami gangguan infeksi berulang dengan bakteria Neisseria (gonokokus dan
meningokokus) (Baratawidjaja, 1991).
2.8 Regulator
Protein dalam serum yang merupakan komponen pada aktivasi
komplemen, baik pada jalur klasik maupun jalur alternatif dibentuk oleh hati,
makrofag, monosit dan sel epitel interstinal. Bahan-bahan tersebut dilepas ke
dalam serum dalam bentuk tidak aktif (Baratawidjaja, 2010).
Pada tiap tahap pengelepasan mediator terdapat mekanisme tubuh untuk
menetralisirnya, yang disebut regulator, sehingga tidak akan terjadi reaksi yang
berlangsung terus menerus yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan. Sistem
enzim yang kompleks ini diatur oleh beberapa penyekat protein yang dapat

35

mencegah aktivasi prematur dan aktivitas yang memanjang dari setiap produk.
Contohnya adalah (Baratawidjaja, 2010):
Protein kofaktor membran, reseptor komplemen tipe 1, ikatan protein

C4b dan faktor H yang mencegah pembentukan konvertase C3


DAF yang memacu pengrusakan konvertase C3
Inhibitor C1
Faktor I dan protein kofaktor membran yang mengikat C3b dan C4b
CD 59 (prolektin) yang mencegah pembentukan MAC
Inaktivator anafilatoksin

Tabel 2.4 Protein regulator dari jalur klasik dan alternatif (Murphy, 2012)

2.9 Defisiensi Komplemen

36

Defisiensi inhibitor esterase C1 (C1INH) menyebabkan aktivasi C4 dan


C2 oleh C1 terus-menerus sehingga terjadi lebih banyak fragmen-fragmen yang
kemudian diaktifkan plasmin dan membentuk peptida vasoaktif. Jadi stimulus
kecil yang mengaktifkan C1 dapat menimbulkan respons besar yang tidak dapat
dikendalikan (Baratawidjaja, 2010).
Penderita dengan defisiensi C1INH menunjukan edem angioneurotik,
edem di berbagai alat badan seperti kulit, saluran cerna dan napas. Edem berat
yang terjadi di larings dan saluran napas dapat menimbulkan kematian
(Baratawidjaja, 2010).
Defisiensi pada stadium dini jalur lektin dan klasik menimbulkan
hipersensitivitas tipe 3 (kompleks imun) oleh karena kompleks imun tidak dapat
dicairkan atau diantarkan ke fagosit dan menimbulkan penyakit seperti LES. Kada
rendah komponen komplemen juga dapat menimbulkan penyakit infeksi bakteri
rekureb, sebagian oleh karena sistem imun nonspesifik diperlukan untuk
menyingkirkan bakteri atas bantuan peran komplemen (antara lain sebagai
opsonin) pada awal antibodi diproduksi. Defisiensi MAC merupakan risiko yang
lebih tinggi terhadap neiseria (Baratawidjaja, 2010).
Hemoglobunuria paroksismal nokturnal terjadi oleh penghancuran sel
darah merah melalui jalur alternatif yang disebabkan oleh karena ada defisiensi
DAF pada membran sel. Fungsi DAF tersebut menghambat aktivasi komplemen
melalui jalur alternatif dan terjadinya convertase C5. Defisiensi komplemen
jarang terjadi dan gejalanya tergantung dari lokasi defek (Tabel 2.5). Efek biologis
yang terjadi melalui komplemen dan reseptor ikatan komplemen terlihat pada
Tabel 2.6 dan 2.7 (Baratawidjaja, 2010).

37

Tabel 2.5

Penyakit

yang

Ditimbulkan

Defisiensi

Komplemen

(Baratawidjaja, 2010)
Defisiensi
C1INH
C2 dan C4
C3
C5-9
Tabel 2.6

Efek

Penyakit
Angioedem herediter
Penyakit kompleks imun
Infeksi piogenik oleh bakteri berkapsul
Infeksi rekuren oleh spesies neiseria
Biologis

yang

Diperantarai

Komplemen

(Baratawidjaja, 2010)
Efek
Lisis
sel
Respons inflamasi
Degranulasi sel mast dan basophil*
Degranulasi eosinofil
Ekstravasasi dan kemotaksis leukosit ke daerah
inflamasi
Agregasi trombosit
Inhibisi migrasi monosit/makrofag dan induksi
Pelepasan neutrofil dari sumsum tulang
Pelepasan enzim hidrolitik dari neutrofil
Peningkatan ekspresi reseptor komplemen tipe 1 dan
3 (CR1 dan CR3) pada neutrofil
Opsonisasi antigen tertentu, peningkatan fagositosisnya
Netralisasi virus

Produk
komplemen
C5b-9-MAC

C3a, C4a dan C5a


(anafilaktoksin)
C3a, C5a
C3a, C5a, C5B67
C3a, C5a
Bb
C3c
C5a
C5a

C3b, C4b. iC3b


C3b, C5b-9
(MAC)
Melarutkan dan klirens kompleks imun
C3b
*Degranulasi menyebabkan pelepasan histamin dan mediator lainnya yang
menginduksi kontraksi otot polos dan meningkatkan permeabilitas pembuluh
darah

Tabel 2.7

Reseptor Ikatan Komplemen (Baratawidjaja, 2010)

38

Reseptor
CR1 (CD35)

CR2 (CD21)

CR3
(CD11c/18)

Reseptor
C3a/C4a
Reseptor C5a

Ligan
Utama
C3b, C4b

Aktivitas

Distribusi Seluler

Menghambat pembentukan
konvertase C3, mengikat ko
mpleks imun pada sel

C3d,
C3dg*,
iC3b
iC3b

Bagian dari koreseptor sel B,


mengikat EBV

Eritrosit, neutrofil,
monosit,
makrofag,
eosinofil, SD
folikular, sel B,
beberapa sel T
Sel B, SD
folikular, beberapa
sel T
Monosit,
makrofag,
neutrofil, sel NK,
beberapa sel T

C3a, C4a

Mengikat molekul adhesi pada


neutrofil, memfasilitasi
ekstravasasi, mengikat
kompleks imun dan memacu
fagositosisnya
Menginduksi degranulasi sel
mast dan basofil
Menginduksi degranulasi sel
mast dan basofil

Sel Mast, basofil,


granulosit
C5a
Sel Mast, basofil,
granulosit,
monosit,
makrofag,
trombosit, sel
endotel
*Pemecahan C3dg oleh protease serum menghasilkan C3d dan C3g

BAB III

39

KESIMPULAN

Reaksi-reaksi biologik yang telah diutarakan di depan merupakan aspek


individual dalam satu kesatuan sistem yang mampu menghasilkan reaksi radang /
inflamasi dan mempermudah pencegahan penyebaran kuman patogen.
Kepentingan sistem komplemen dalam sistem pertahanan

tubuh

ditunjukkan pada percobaan-percobaan hewan, pengalaman penyakit imunologik


dan penyakit defisiensi komplemen pada manusia. Apalagi adanya gangguan
sistem pengaturan sistem komplemen akan lebih mengukuhkan betapa pentingnya
sistem komplemen tersebut. Misalnya adanya defisiensi kongenital C1inactivator
menyebabkan tidak terkawalnya aktivasi lintasan klasik sehingga dapat
mengakibatkan timbulnya gejala patologik yang disebut angioedema herediter.
Beberapa individu yang menderita defisiensi C5, C6, C7, dan C8
mengalami gangguan infeksi berulang dengan bakteria Neisseria (gonokokus dan
meningokokus).

DAFTAR PUSTAKA

40

Abbas, A.K.; and A. H. Lichtman. 2003. Cellular and Molecular Immunology. 5th
ed. Philadelphia: Saunders. p563.
Baratawidjaja, K. G. 1991. Imunologi Dasar. Edisi Ke-2. Cetakan ke-1. Jakarta:
Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. p24-35.
Baratawidjaja, K. G. 2010. Imunologi Dasar. Edisi Ke-9. Jakarta: Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. p179-195.
Classical pathway. Diunduh dari:
http://www.immunopaedia.org.za/fileadmin/new_all/case_studies/pdfs/Class
ical%20pathway.pdf
Kresnowidjojo, Sobowo. 1993. Immunobiologi. Cetakan ke-10.Bandung :Angkasa
Kresno, S. B. 2013. Imunologi: Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Edisi Ke5. Cetakan ke-2. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
p44-49.
Murphy, K.P. 2012. Janeways Immunobiology 8th edition. New York: Garland
Science, Taylor 7 Francis Group.
Surati, S. 2012. Pengaruh Ekstrak daun Salam (Syzygium Polyanthum) terhadap
Aktivitas Makrofag pada Mencit Balb / C yang Diinfeksi Salmonella
Thphimurium. Semarang: Universitas Diponegoro.
Subowo. 1993. Imunobiologi. Angkasa. Bandung
Trush, Michael A. 2008. Immunotoxicology. Bloomberg: Johns Hopkins
University.
Available
online
at:
http://ocw.jhsph.edu/courses/publichealthtoxicology/
PDFs/Lecture10_Trush.pdf (Diakses pada Maret 2015).