Anda di halaman 1dari 17

TRADITIONAL MANAGEMENT ACCOUNTING (PRODUCT

COSTING)

Disusun Oleh :
Nama

: Pipit Fitri Rahayu

Nim

: 01022681419007

BKU

: Akuntansi

Kelas : Reguler Pagi


Dosen : Dr. Luk Luk Faudah.,SE.,MBA.,Ak
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
FAKULTAS EKONOMI
2015

Bab I
Pendahuluan
Lingkungan di sekitar perusahaan selalu berubah secara kontinu.
Perubahan ini telah memperluas aktivitas perusahaan. Para pemimpin
perusahaan

senantiasa

berusaha

mencari

cara

untuk

mencapai

kesuksesan, tidak hanya dalam pasar internal, tetapi juga eksternal.


Perkembangan dan pertumbuhan perdagangan dunia dan peningkatan
aktivitas perusahaan telah mengakibatkan masalah dan isu yang berbeda
bagi manajer. Informasi akuntansi manajemen tradisional, khususnya,
tidaklah relevan untuk persaingan saat ini.
Belakangan ini tindakan-tindakan yang didorong oleh informasi akuntansi
manajemen

telah

merusak

daya

saing

perusahaan.

Pengambilan

keputusan yang tepat pada era globalisasi harus didasarkan atas


informasi yang benar-benar bermanfaat dan tidak hanya tergantung pada
informasi akuntansi yang menyebabkan perusahaan tidak bertahan dari
persaingan.

Bab II
Pembahasan
2.1 Akuntansi Manajemen Tradisional
Sistem akuntansi manajemen tradisional hanya memusatkan
pada ukuran-ukuran output aktivitas yang didasarkan pada
volume produksi. Mulai tahun 1925, setelah dikembangkannya
pasar modal di USA, hampir semua usaha akuntansi manajemen
menghasilkan
dihentikan

dan

informasi
diganti

bagi

pemakai

dengan

intern

penentuan

kemudian

harga

pokok

persediaan (inventory costing), yang merupakan pembebanan


biaya produksi kepada produk sedemikian rupa sehingga harga
pokok persediaan dapat dilaporkan kepada pemakai eksternal
dalam laporan keuangan.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an telah dilakukan beberapa usaha untuk
memperbaiki manfaat sistem akuntansi biaya konvensional untuk kepentingan
manajemen. Perbaikan akuntansi biaya pada saat itu pada hakikatnya hanya
terpusat pada bagaimana membuat informasi akuntansi keuangan lebih
bermanfaat bagi pemakai luar, tidak ditujukan untuk menghasilkan informasi
akuntansi yang khusus diperuntukkan bagi kepentingan manajemen.
Akuntansi manajemen tradisional ini mengacu pada 3 hal yaitu:
1.

Pembagian kerja

2.

Hierarki proses fungsional

3.

Pengawasan yang ketat

2.2 Tema Baru Akuntansi Manajemen


Lingkungan ekonomi telah mensyaratkan perkembangan praktik-praktik
akuntansi manajemen yang inovatif dan relevan. Beberapa tema baru dalam
Akuntansi Manajemen adalah:
1.

Manajemen berdasarkan aktivitas (Activity Based Management)

2.

Orientasi pada pelanggan

3.

Manajemen kualitas total (Total Quality Management)

4.

Waktu sebagai unsur kompetitif

5.

Efisiensi

6.

Bisnis secara elektronik (E-business)

2.3 Persaingan Global dan Akuntansi Manajemen


Setelah tahun 1900 mulai timbul pengintegrasian antara catatan biaya dan
keuangan. Pada awal abad 20 mulai dikembangkan teknik-teknik dan sistem
untuk pendistribusian dan pengalokasian biaya overhead. Pada akhir abad 19 dan
awal abad 20, para insinyur dan akuntan menggunakan informasi standar untuk
mencapai tiga tujuan:
1.

Untuk menganalisis efisiensi potensial tugas-tugas atau proses.

2.

Untuk membandingkan efisiensi sesungguhnya dengan efisiensi potensial.


Pelopor pemakaian sistem penganggaran fleksibel.

3.

Untuk menyederhanakan penilaian persediaan produk akhir dan barang


dalam proses.

Persaingan yang mengglobal lebih merubah sifat pasar bersifat


monopolistic menjadi pasar yang lebih terbuka. Dengan semakin banyaknya
pesaing, produsen berlomba-lomba untuk dapat memperoleh kepercayaan dari
pelanggan agar pelanggan tidak lari ke competitor. Manajemen sekarang
mulai berfikir untuk meningkatkan nilai pelanggan, sebab nilai pelanggan lah
yang merupakan kunci bagi perusahaan untuk dapat menciptakan keunggulan
bersaing dibandingkan perusahaan competitor.
Disamping itu perkembangan teknologi manufaktur berkembang begitu
pesat dimulai dengan otomasi, robotisasi, dan komputerisasi telah merubah
struktur biaya produksi sedemikian rupa sehingga upah langsung yang
beberapa secade yang selalu menjadi biaya dengan porsi besar secara drastic.

Lingkungan industri maju seperti inilah yang mendorong lahirnya ilmu-ilmu


baru seperti:
Activity-Based Costing (ABC)

Activity-Based Management (ABM)

Balance Score Cards (BSC)

2.4 Product Costing & Cost Accumulation in Batch Production


Environment
2.4.1 Product and Service Costing
1.

Biaya Produk dalam Perusahaan Non Manufaktur


Kebutuhan biaya produk tidak terbatas pada perusahaan manufaktur.
Perusahaan Merchandising memasukkan biaya untuk membeli dan
mengangkut barang dagangan pada biaya produk mereka. Peran biaya
produk di perusahaan-perusahaan ini identik dengan yang ada pada
perusahaan manufaktur. Sebagai contoh, buah melon ditanam dan dijual
oleh Dole yang diinventarisasi pada biaya produk mereka sampai terjual.
Maka biaya produk menjadi beban harga pokok penjualan.

2.

Perusahaan layanan dan Organisasi Nirlaba


Output produksi perusahaan jasa dan organisasi nirlaba terdiri dari jasa yang
dikonsumsi seperti yang dihasilkan. Karena jasa tidak dapat disimpan dan
dijual kemudian, seperti barang-barang manufaktur, tidak ada biaya
persediaan pada perusahaan industri jasa dan organisasi nirlaba.

2.4.2 Tipe Produk Sistem Biaya


Prosedur akuntansi yang rinci digunakan dalam sistem biaya produk
tergantung pada jenis industri yang terlibat. Dua set dasar prosedur yang
digunakan:
1.

Job order costing


Job order costing digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi
job-shop atau operasi product batch. Dalam job-order costing, setiap batch
yang berbeda dari produksi disebut pekerjaan atau job order.

2. Process costing.
Biaya proses digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang memproduksi
sejumlah besar unit yang identik. Dalam jenis-jenis perusahaan, tidak perlu
untuk melacak biaya untuk product batch tertentu, karena dalam product
batch yang berbeda adalah identik.

2.4.4 Biaya Akumulasi pada Sistem Biaya Pesanan Kerja


Dalam sistem biaya pesanan kerja, biaya bahan langsung, tenaga kerja langsung,
dan biaya overhead manufaktur yang ditugaskan untuk setiap pekerjaan produksi.
Biaya ini terdiri dari input dari sistem biaya produk. Sebagai biaya yang
dikeluarkan, mereka menambahkan ke akun Persediaan dalam proses pada buku
besar. Untuk melacak biaya produksi ditugaskan untuk setiap pekerjaan, buku besar
pembantu dipertahankan. Akun buku besar yang ditugaskan untuk setiap pekerjaan
adalah dokumen yang disebut rekor biaya pekerjaan.

2.4.4.1 Job Cost Record


Dokumen yang digunakan untuk mencatat biaya produksi dan disiapkan
oleh perusahaan yang menggunakan sistem biaya pesanan kerja untuk
menghitung dan mengalokasikan biaya untuk produk dan jasa.

2.4.4.2 Direct Material Cost


Sebagai bahan baku yang dibutuhkan untuk proses produksi, bahan baku
dipindahkan dari gudang ke bagian produksi.
a.

Manajemen rantai pasokan


Rantai pasokan organisasi mengacu pada aliran dari semua barang, jasa, dan
informasi ke dalam dan luar dari organisasi. Manajemen rantai pasokan
berarti secara proaktif bekerja dengan beberapa atau semua organisasi dalam
rantai pasokan perusahaan untuk meningkatkan pelayanan dan untuk
mengelola atau mengurangi biaya.

b.

Persyaratan bahan perencanaan


Untuk produk dan komponen produk yang diproduksi secara rutin, bahan
yang dibutuhkan dikenali terlebih dahulu. Dalam operasi manufaktur yang
kompleks, di mana produksi berlangsung dalam beberapa tahap, persyaratan
bahan perencanaan (atau MRP) dapat digunakan. Perencanaan yang matang
seperti memastikan pada setiap tahap dalam proses produksi, diperlukan
subassemblies, komponen, atau sebagian bahan olahan akan siap untuk
tahap berikutnya.

2.4.4.3 Direct Labor Cost


Biaya penugasan tenaga kerja langsung untuk pekerjaan didasarkan pada catatan
waktu yang diisi oleh karyawan. Catatan waktu adalah dokumen sumber yang
digunakan di departemen akuntansi biaya sebagai dasar untuk menambahkan
biaya tenaga kerja langsung dalam proses inventarisasi dan catatan biaya kerja
untuk berbagai pekerjaan dalam proses.

2.4.4.4 Biaya Overhead Manufaktur


Relatif sederhana untuk melacak biaya bahan langsung dan tenaga kerja
langsung untuk pekerjaan produksi, tetapi overhead manufaktur tidak mudah
ditelusuri pada pekerjaan. Biaya ini sering menanggung ketidakjelasan
hubungan untuk pekerjaan atau unit produk individu, tetapi mereka harus
dikeluarkan untuk produksi yang berlangsung. Oleh karena itu, perlu untuk
menetapkan biaya overhead produksi untuk pekerjaan dalam rangka untuk
memiliki gambaran yang lengkap dari biaya produk.

Bab III
Kesimpulan
Sistem akuntansi manajemen tradisional hanya memusatkan pada ukuranukuran output aktivitas yang didasarkan pada volume produksi. Sebagai
tanggapan terhadap kelemahan akuntansi biaya manajemen tradisional, berbagai
usaha dilakukan untuk mengembangkan sistem akuntansi manajemen baru yang
dapat memenuhi kebutuhan lingkungan ekonomi.
Seiring perkembangan zaman, manajemen tradisional pun tergeser
disebabkan karena kelemahan dari manajemen tradisional itu sendiri. Oleh
karena itu, pengambilan keputusan yang tepat pada era globalisasi harus
didasarkan atas informasi yang benar-benar bermanfaat dan tidak hanya
tergantung pada informasi akuntansi yang menyebabkan perusahaan tidak
bertahan dari persaingan.

Terima Kasih