Anda di halaman 1dari 8

PENGETAHUAN IBU TERHADAP PEMBERIAN

MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI


UMUR 0-6 BULAN
REVIEW ARTIKEL
Diajukan sebagai tugas blok reaserch
artikel ilmiah

OLEH:

SAYID NAJIBULLAH
0807101010165

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM BANDA ACEH
2011

ABSTRAK
Makanan pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung zat
gizi yang diberikan pada bayi atau anak berusia 6-24 bulan untuk memenuhi
kebutuhan gizi selain dari ASI, pemberian makanan pendamping ASI di pengaruhi
oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pengetahuan

ibu, semakin tinggi

pengetahuan ibu terhadap MP-ASI bayi semakin sesuainya pemberian makannya


begitu juga sebaliknya semakin

rendah pengetahuan ibu terhadap MP-ASI

semakin ketidaksesuaiannya pemberian makanan bayinya. Penelitian ini bertujuan


untuk mengetahui ketidaksesuian atau kesesuain ibu dalam pemberian MP-ASI.
Hasil penelitian yang dilakukan di Indonesia didapatkan bahwa 32% Ibu
memberikan makanan tambahan kepada bayi berumur 2 3 bulan, seperti bubur
nasi, pisang, dan 69% terhadap bayi berumur 4 5 bulan Selain itu di Jawa
Tengah, ditemukan bahwa pemberian makan pada bayi sebelum usia 1 bulan
mencapai 32,4% dan pada usia tersebut didapatkan 66,7% jenis makanan yang
diberikan adalah pisang. Sementara itu pengetahuan ibu masing dalam katagori
rendah karena Indonesia adalah Negara berkembang. Dari hasil ini disarankan
agar digalakkan kegiatan penyuluhan tenaga medis terhadap pengetahuan ibu
terhadap pemberian MP-ASI.
Kata kunci : Pemberian MP-ASI dan pengetahuan ibu.

PENDAHULUAN
Makanan tambahan sangat di perlukan oleh bayi dalam menunjak
pertumbuhannya karena dibandingkan dengan orang dewasa, kebutuhan bayi akan
zat gizi boleh dibilang sangat kecil, namun jika diukur berdasarkan presentase BB
(berat badan), kebutuhan bayi akan zat gizi ternyata melampaui kebutuhan orang
dewasa nyaris 2 kali lipat (Arisman, 2004).
Menurut Depkes 2006 Usia 0-24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan
perkembangan yang pesat, sehingga kerap diistilahkan sebagai periode emas
sekaligus periode kritis. Kritis di sini adalah jika pemberian tidak memperoleh

makanan sesuai kebutuhan gizinya akan menimbulkan KEP (Kekurangan Energi


Protein).
Pada kenyataannya banyak ibu ibu yang memberikan makanan tambahan
ASI (Air Susu Ibu) dibawah 6 bulan, Dari hasil penelitian di Canada disebutkan
bahwa 83 % bayi 3 bulan sudah mengkonsumsi sereal. Buah-buahan dan sayursayuran adalah makanan yang paling umum dikonsumsi oleh bayi di segala usia,
sedangkan daging adalah makanan yang paling umum dikonsumsi pada bayi
dibawah 12 bulan ( Friel et al ., 2010).
Sementara itu di Indonesi Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi
nasional (Susenas) tahun 2002, terdapat banyak Ibu yang memberikan makanan
terlalu dini kepada bayinya, kemudian sebanyak 32% Ibu memberikan makanan
tambahan kepada bayi berumur 2 3 bulan, seperti bubur nasi, pisang, dan 69%
terhadap bayi berumur 4 5 bulan Selain itu, dari penelitian yang dilakukan di
daerah pedesaan Kabupaten Wonosobo, provinsi Jawa Tengah, ditemukan bahwa
praktek pemberian makan pada bayi sebelum usia 1 bulan mencapai 32,4% dan
pada usia tersebut didapatkan 66,7% jenis makanan yang diberikan adalah pisang
(Litbangkes, 2003).
Pengetahuan ibu adalah suatu faktor yang penting dalam pemberian
makanan tambahan pada bayi karena dengan pengetahuan yang baik, ibu tahu
kapan waktu pemberian makanan yang tepat. Pengetahuan dapat diperoleh dari
informasi yang disampaikan orang lain, media cetak, media elektronik, atau
penyuluhan-penyuluhan.

Pengetahuan

didukung

oleh

pendidikan

karena

pendidikan merupakan suatu proses untuk mengembangkan semua aspek


kepribadian manusia, meliputi pengetahuan, nilai sikap, dan ketrampilan sehingga
terjadi perubahan perilaku yang positif. Ketidaktahuan tentang akibat pemberian
makanan pendamping ASI dini dan cara pemberiannya serta kebiasaan yang
merugikan kesehatan, secara langsung ataupun tidak secara langsung menjadi
penyebab masalah kesehatan pada anak, khususnya pada anak usia dibawah 2
tahun (Aryani, 2008).
Penelitian yang dilakukan di US (United State) tentang pengetahuan ibu
terhadap pemberian MP-ASI (Makanan Pendamping-Air Susu Ibu) menunjukan
bahwa sebagian kecil ibu yang diteliti tidak sesuai pemberian pola makanan

pendamping, tetapi ibu dengan pendidikan kurang lebih mungkin terjadi


dibandingkan yang berpendidikan tinggi. Sekitar 20% - 29% presentaase ibu yang
gagal untuk mengikuti waktu rekomendasi untuk makanan pendamping, merka
memperkenalkan makanan padat sebelum 4 bulan, makanan jus dan susu sapi
terlalu cepat diperkenalkan yaitu pada umur sebelum 6 bulan dan sebelum 12
bulan. Hal itu lebih sering terjadi pada ibu yang berpendidikan lebih rendah
daripada ibu yang berpendidikan tinggi (Fein et al ., 2008).
Dari data di atas peneliti tertarik dalam meninjau lebih dalam masalah
pemberian makanan pendamping ASI pada bayi umur 0-6 bulan di desa bakoy dan
apakah ada hubungan nya antara pengetahuan dan pola pemberian MP-ASI,
karena peneliti dapat meninjau sejauh mana pengetahuan ibu-ibu terhadap
pemberian MP-ASI pada bayi umur 0-6 bulan di desa bakoy dan juga hasil
penelitian ini dapat di gunakan oleh puskesmas setempat dalam bahan
pertimbangan terhadap upaya meningkatkan pengetahuan ibu terhadap pemberian
MP-ASI.

PEMBAHASAN
Pengetahuan adalah hasil tahu dan terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Hal ini terjadi melalui panca indra
manusia, yaitu ilmu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba.
Pengetahuan seseorang tentang masalah gizi diperoleh dari pengalaman
empiris dan dijadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam menyediakan,
mengolah, menyajikan makanan bagi dirinya dan orang lain, oleh karenanya
penguasaan pengetahuan tentang gizi akan membantu dalam memilih makanan,
menentukan cara pengolahan yang benar serta menyajikan secara baik sesuai
dengan kriteria kesehatan (Suharjo, 1996).
Definisi makanan pendamping pada bayi adalah makanan atau minuman
yang mengandung zat gizi yang diberikan pada bayi atau anak berusia 6-24 bulan
untuk memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI (Depkes RI, 2006). Makanan
tambahan adalah memberikan makanan lain selain ASI oleh karena ASI

merupakan makanan alami pertama untuk bayi dan harus diberikan tanpa
makanan tambahan sekurangnya sampai usia 6 bulan (WHO, 2003). Makanan
tambahan atau makanan pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang
mengandung zat gizi, diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan guna
memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI (Dinkes propinsi, 2006).
Istilah untuk makanan penndamping ASI bermacam-macam yakni
makanan pelengkap, makanan tambahan, makanan padat, makanan sapihan,
weaning food, makanan peralihan, beiskot (istilah dalam bahasa Jerman yang
berarti makanan selain dari susu yang diberikan kepada bayi). Keseluruhan istilah
ini merujuk pada pengertian bahwa ASI maupun pengganti ASI untuk berangsur
diubah ke makanan keluarga atau orang dewasa (Depkes RI, 2004).
Pemberian makanan pendamping pada bayi juga bertujuan untuk
melengkapi ASI (mixed feeding) dan diperlukan setelah kebutuhan energy dan zatzat gizi tidak mampu dipenuhi dengan pemberian ASI saja. Pemberian makanan
tambhan tergantung jumlah ASI yang dihasilkan oleh dan keperluan bayi yang
bervariasi

dalam

memenuhi

kebutuhan

dasarnya

diantaranya

untuk

mempertahankan kesehatan serta pemulihan kesehatan setelah sakit, untuk


mendidik kebiasaan makan yang baik mencakup penjadwalan waktu makan,
belajar menyukai, memilih dapat merugikan karena tumbuh kembang bayi akan
terganggu (Sembiring, 2009).
Makanan pendamping pada bayi bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan
zat gizi bayi, penyusuaian kemampuan alat cerna dalam menerima makanan
tambahan dan merupakan masa peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Selain
untuk memenuhi kebutuhan bayi terhadap zat-zat gizi, pemberian makanan
pendamping merupakan salah satu proses pendidikan dimana bayi diajarkan untuk
mengunyah dan menelan makan padat, serta membiasakan selera-selera baru
(Sohardjo, 1992).
Pemberian makanan pendamping dilakukan secara bertahap untuk
mengembangkan kemampuan bayi mengunyah dan menelan serta menerima
bermacam-macam makanan. Pemberian makanan pendamping harus bervariasi,

dari bentuk bubur cair ke bentuk bubur kental, sari buah, buah segar, makanan
lumat, makanan lembek dan akhirnya makanan padat (Sulistijani, 2001).
Menurut Depkes RI

2002 pola pemberian MP-ASI berdasarkan

golongan umur, seperti yang tertera di bawah ini :


Pola Pemberian MP-ASI Menurut Golongan Umur
Golongan
Umur

ASI

Pola pemberian ASI/MP-ASI


MP-ASI
Makanan lumat
Makanan lembik

0-6
ASI
6-9
ASI
Makanan lumat
9-12
ASI
Makanan lumat
Sumber : Departemen Kesehatan RI tahun 2002

Makanan lembik

Bahan makanan tambahan pada bayi dibedakan atas 2 golongan yaituu


hewani dan nabati.

Golongan hewani terdiri dari ikan, telur, daging. Golongan

nabati terdiri buah-buahan, sayur-sayuran, padi-padian (Baso, 2007).


Makanan pendamping yang baik adalah makanan yang mengandung
sejumlah kalori atau energy (karbohidrat, protein dan lemak), vitamin, mineral
dan serat untuk pertumbuhan dan energy bayi, disukai oleh bayi, mudah disiapkan
dan harga terjangkau (Judarwanto, 2004), makanan pendamping harus bersih dan
aman. Terhindar dari pencermaran mikroorganisme dan logam, serta tidak
kadarluarsa (Kepmenkes RI, 2007)
Jenis Makanan Pendamping :
a. Makanan pendamping lokal
Makanan pendamping local adalah makanan tambhan yang diolah di
rumah tangga atau posyandu, terbuat dari bahan makanan yang tersedia
setempat, mudah diproleh dengan harga terjangkau oleh masyarakat, dan
memerlukan pengolahan sebelum dikonsumsi oleh bayi. Makanan
tambahan lokal ini disebut juga dengan makanan pendamping ASI lokal
(Depkes RI, 2006).
b. Makanan pendamping olahan pabrik

Makanan pendamping hasil olahan pabrik adalah makanan yang


disediakan dengan olahan dan bersifat instan dan beredar dipasaran untuk
menambah energy dan zat-zat gizi esensial pada bayi (Depkes RI,
2006).makanan ini disebut juga makanan komersial. Secara komersial,
makanan bayi tersedia dalam bentuk tepung campuran instan atau biskuit
yang dapat dimakan secara langsung atau dapat dijadikan bubur
(Krisnatuti, 2000)
Resiko pemberian makanan pendamping pada bayi 0-6 bulan :
Pada bulan-bulan pertama, saat bayi berada pada kondisi yang sangat
rentan, pemberian makanan atau minuman lain selain ASI akan meningkatkan
resiko terjadinya diare, infeksi, alergi, meningitis, leukemia, penyakit infeksi dan
penyakit-penyakit lain yang bisa terjadi pada bayi (Safitri, et al ., 2007).
Resiko pemberian makanan pendamping pada bayi usia kurang dari enam
bulan berbahaya karena pemberian mmakanan yang terlalu dini dapat
meningkatkan solute load hingga dapat menimbulkan hyperosmolality, kenaikan
berat badan yang terlalu cepat hingga dapat menyebabkan terjadinya obesitas,
alergi terhadap salah satu zat gizi yang terdapat dalam makanan yang diberikan
pada bayi, bayi yang mendapat zat-zat tambahan seperti garam dan nitrat yang
dapat merugikan pada ginjal bayi yang belum matang, dalam makanan padat yang
dipasarkan terdapat zat pewarna atau zat pengawet yang membahayakan, dan
adanya pencemaran dalam penyediaan dan penyimpangan makanan (Pudjiadi,
2000).

KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwasanya rendahnya pengetahuan ibu sangat akan
mempengaruhi pola pemberian makanan pendamping dini pada bayi di bawah
enam bulan, karena ibu tidak mengetahui kapan, jenis dan frekuensi pemberian
makanan pendamping sehingga ibu tidak mengetahui dapat dari pemberian MPASI tersebut terhadap tingkst kesehatan dan kesakitan bayi nantinya.

REFERENSI
Arisman, 2004.gizi dalam daur kehidupan. EGC . Jakarta.
Baso, M. 2007. Studi longitudinal Pertumbuhan bayi diberi MP-ASI pabrik
(Blended food) dan MP-ASI Non pabrik (lokal Food). [Dibuka pada website
http://graduate.blogspot.com/22007/02/02/studi-longitudinal-pertumbuhanbayi-yang-diberi-mp-asi-pabrik-blended-food-danmp-asi-non-pabrik-lokalfood-3/ pada tanggal 9 maret 2011].
Depkes RI. 2006. Pedoman Umum pemberian Makanan Pendamping Air Susu
Ibu ( MP-ASI lokal). [Di akses pada website www.depkes.org.id pada
tanggal 9 maret 2011].
Depkes RI. 2004. Pedoman pengenalan MP-ASI.[ Dibuka pada website
www.depkes.org.id pada tanggal 9 maret 2011].
Friel JK, Hanning RM, Alsaak C, Prowse D and Miller AC. 2010. Canadian
infants` nutrient intakes from complementary foods during the first year of
life. BMC pediatrics 10;43.[ Di akses 20 februari 2011].
Fein SB. Wolfe JL. Kelley S. Scanlon and Laurence M. Maternal Education
Selected Complementary Feeding Practices and Their Association With
Maternal Educatio. [Diakses pada situs
http://www.pediatrics.org/cgi/content/full/122/Supplement_2/S91 pada
tanggal 15 febuary 2011].
Krisnatuti, D. dan Yenrina, R. 2000. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI.
Jakarta . Puspa Swara.
Puadjiadi, S. 2000. Sifat-sifat dan Kegunaan Pelbagai Jenis Formula Bayi Dan
Makanan Padat yang Beredar di Indonesia. Jakarta . FKUI.
Suhardjo. 1992. Pemberian Makanan pada Bayi dan Anak. Kanisius. Yogyakarta.
Suhardjo. 1996. Perencanaan Pangan dan Gizi. Bumi Aksara. Jakarta.
Sulisttijani, D.A. 2001. Menjaga Kesehatan Bayi dan Balita. Jakarta puspa Swara.
Sulastri. 2004. Gambaran Pola Pemberian Makanan Pendamping ASI dan
Tumbuh Kembnag Anak Usia 0-24 Bulan di kelurahan Labuan Deli
Kecamatan Medan Marelan Tahun 2004. Tesis FKM USU.
Sembering, T. 2009. Ragam Pediatrik Praktis. Medan . USU Press.