Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH HUMANIORA

FENOMENA SELFIE DI MASYARAKAT

DISUSUN OLEH :
1. SONYA REVITA S
2. SELVYANA NGGEBU
3. ULILFATU NIKMAH
4. NURIN ROHMAWATI

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA
JOMBANG

KATA PENGANTAR

.
Puji syukur kepada Tuhan karena, banyak nikmat yang diberikan, tetapi sedikit sekali
yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat,
rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah dengan judul TRADISI FENOMENOLOGI SERTA FENOMENA
SELFIE DI MASYARAKAT
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak,
karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepad keluarga besar
Stikes Husada Jombang khususnya prodi D4 kebidanan dan terima kasih kepada dosen mata
kuliah Administrasi dan amanajemen pendidikan yaitu ibu Ambar Puspitasari,SE,M.Pd,MM
yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah
semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan
menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan,
namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Jombang, November 2015
Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG
Kemajuan teknologi semakin meningkat dalam kehidupan kita, hal ini telah mendorong

masyarakat untuk terus mengikuti kemajuan teknologi tersebut. Seiring berkembangnya zaman,
semakin berkembang pulalah alat-alat teknologi dalam kehidupan masyarakat. Kehadirann
smartphone seperti ipad, iphone, dan android membawa fenomena baru dikalangan remaja
yaitu selfie. Apa itu selfie ? selfie sendiri adalah bentuk foto dari hasil memotret diri sendiri atau
selft image yang mana memang sedang menjadi fenomena bagi masyarakat luas dengan cara
melakukan kegiatan memfoto dirinya sendiri dengan hasil gambar hanya terlihat muka yang
tampak memenuhi layar camera seorang selfies itu sendiri.
Fenomena selfie sendiri merupakan salah satu fenomena paling booming di akhir tahun
2013 sampai saat ini dan pasti salah satu dari anda sering melakukan hal ini. Oxford
Dictionaries pun menasbihkannya sebagai Word of the Year. If it is good enough for the
Obamas or The Pope, then it is good enough for Word of the Year, begitu yang ditulis di situs
resmi Oxford Dictionaries menyoali selfie sebagai Word of the Year. 2 Selfie sesungguhnya
bukan hal baru foto oleh Robert Cornelius tahun 1839, diyakini sebagai selfie pertama di dunia.
Foto tersebut kini ditempatkan di Library of Congress, Washington sedangkan bagi seorang
penikmat selfie sendiri disebut dengan selfies karena rutinitas kegiatan sehari-harinya selalu di
dokumentasi kan dengan berfoto selfie.
Bagaimana selfie menjadi trend bagi remaja yang suka mengunggah foto selfie ke
media sosial sehingga dapat dilihat oleh pengguna lainnya, bahkan dilihat dari sudut pandang
lain banyak masyarakat yang berasumsi bahwa seorang selfie adalah seorang yang krisis
identitas diri, karena seorang selfies banyak dikaitan dengan remaja yang mengalami gangguan
kepercayaan diri dengan mencoba mencari perhatian dari masyarakat pengguna media sosial.
Penggunaan media sosial instagram pun terus bertambah jumlahnya, menurut pengumuman
layanan photo sharing tersebut pada Selasa (25/3/2014) kemarin, pengguna media sosial
instagram telah mencapai lebih dari 200 juta diseluruh dunia, angka itu naik dari sekitar 150 juta
pengguna enam bulan sebelumnya, serta 100 juta pengguna sekitar satu tahun yang lalu. Data
ini menunjukan bahwa instagram mengalami pertumbuhan pengguna sekitar 100 persen
sepanjang tahun lalu, adapun angka 200 juta tersebut mengacu pada jumlah pengguna aktif
bulanan, sebagaimana dilaporkan oleh Cnet, perusahaan yang dimiliki oleh jejaring sosial
Facebook ini menjelaskan bahwa para penggunanya telah mengunggah lebih dari 20 miliar.
Dalam ranah penelitian komunikasi visual, makna-makna simbol tersebut relevan untuk
dianalisis dengan menggunakan pendekatan metode analisis semiotika. Berdasarkan
pandangan semiotika, bila seluruh praktik sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa,
maka semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda, hal ini dimungkinkan karena luasnya
pengertian tanda itu sendiri (Tinarbuko dalam www.unila.ed/digilib, diakses tangal 18 November
2015). Semiotika merupakan suatu pendekatan teoritis yang sekaligus berorientasi kepada

kode (sistem) dan pesan (tanda-tanda dan maknanya), tanpa mengabaikan konteks
dan pihak pembaca, dan bagaimana seorang selfies dikaitkan dengan kepercayaan diri,
pandangan yang berbeda dari masyarakat pun semakin berbeda-beda. Marcia dikutip dalam

www.unila.edu mengatakan bahwa identitas diri merupakan komponen penting yang


menunjukkan identitas personal individu. Semakin baik struktur pemahaman diri seseorang
berkembang, semakin sadar individual akan keunikan dan kemiripan dengan orang lain, serta
semakin sadar akan kekuatan dan kelemahan individu dalam menjalani kehidupan. Sebaliknya,
jika kurang berkembang maka individu semakin tergantung pada sumbersumber eksternal
untuk evaluasi diri. 5 Interaksi secara tidak langsung dapat dilakukan melalui berbagai media
seperti komunikasi melalui handphone dan yang saat ini banyak dilakukan oleh remaja adalah
interaksi melalui dunia maya yaitu internet .
Lantas bagaimana pandangan Antropologi, apakah fenomena dalam berfoto ini dapat
dikatakan sebagai kebudayaan baru ?, jika melandaskan pada defenisi kebudayaan yang
penafsirannya bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil
kara manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan sebagai milik diri manusia yang
didapat dari proses belajar (Koentjaraningrat, 2009 Hal.144). Dalam sebuh penelitian yang
telah digagas oleh Tri Harningsih yang menyebutkan ketika terdapat seseorang yang sangat
gemar dalam memposting foto-fotonya kedalam media social dan itu yang sangat
membahayakan hubungan didalam kehidupan nyata. Dari gagasan diatas dapat ditafsirkan
bahwa dampak bergaya atau berpose dalam sebuah foto sangatlah besar. Hal ini dapat
dikarenkan gaya berfoto dapat menunjukkan setatus dari kita. Oleh karena itu bagaimana cara
bergaya atau berpose yang sesuai dan tepat dengan criteria kita sehingga tidak merugikan kita
dan orang lain. Olehkarenanya observasiini diajukan agar kita mengetahui tentang fenomena
dalam berfoto yang banyak melibatkan gaya atau pose yang saatini sedang tren.
Tradisi fenomenologi merupakan tradisi yang cukup menarik untuk dibahas , fenomenologi boleh dikatakan menolak teori. Fenomenologi sedikit alergi teori. Pendekatan ini lebih
menekankan rasionalisme dan realitas budaya yang ada. Hal ini sejalan dengan
penelitian etnografiyang menitikberatkan pandangan warga setempat. Realitas dipandang lebih
penting dan dominan dibanding teori-teori. Fenomenologi menjadikan pengalaman sebenarnya
sebagai data utama dalam memahami realitas. Apa yang dapat diketahui seseorang adalah
apa yang dialaminya.
Fenomena yang terjadi saat ini melanda penggemar situs jejaring sosial Instagram
,setahun belakangan ini pasti akrab dengan hashtag bertuliskan selfie bukan hanya penggemar
instragaram saja, bahkan penggemar fb dan twitter mulai dari orang biasa hingga selebriti
ternama, semua 'latah' berfoto selfie. Bagi Anda yang belum tahu, selfie merupakan gaya foto
yang menampilkan diri sendiri entah itu wajah, seluruh tubuh atau hanya bagian tertentu dari
tubuh. Foto selfie ini dilakukan oleh diri sendiri tanpa meminta bantuan orang lain untuk
memotret Anda. Saat melakukannya, si pelaku selfie akan memegang ponsel berkamera atau
kamera dengan salah satu tangannya dan mengarahkan lensa ke bagian yang ingin difoto.

B.

Rumusan masalah

Dari latar belakang di atas kami, rumusan masalah yang ingin kami paparkan di dalam makalah
ini sebagai berikiu:

1.
2.
3.

C.

Pemaparan tentang budaya selfie


Tinjauan kasus yang berhubungan dengan fenomena selfie
pembahasan fenomena selfie menurut berbagai susut pandang

Tujuan penulisan makalah

Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Humaniora selain itu makalah ini juga
memberikan pengetahuan kepada mahasiswa/masyarakat tentang tradisi fenomenologi dan
fenomena selfie di masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pemaparan tentang Foto Selfie


1. Pengertian dan awal mula Selfie
Selfie adalah sebuah jenis self-portrait foto, dimana biasanya diambil dengan kamera digital
genggam atau kamera ponsel. Selfies juga sering dikaitkan dengan jejaring sosial, seperti
Instagram. Orang-orang biasanya melakukan foto Selfie dengan cara menggunakan kamera
yang dipegang dengan lengan panjang atau di hadapan cermin. Foto selfie biasanya juga
menggukan ekpresi yang berlebihan di hadapan camera.
Awal Mula foto Selfie ditemukan oleh Robert Cornelius yang merupakan seorang
berkebangsaan Amerika yang juga seorang perintis dalam dunia fotografi. Dia membuat sebuah
ekspresi dirinya sendiri pada tahun 1839 dimana ini merupakan salah satu dari foto seseorang
yang pertama kali. Lalu karena proses fotonya lambat, kemudian dia mengungkap lensa yang
mengalami tembakan selama satu menit atau lebih. Kemudian dia mengganti penutup lensa.
Debut pertama Portabel kotak kamera Kodak Brownie dimulai pada tahun 1900 yang
menyebabkan teknik fotografi diri sendiri menjadi lebih luas . Kemudian metode ini biasanya
media cermin untuk menstabilkan kamera baik pada objek dekat atau pada tripod saat framing
melalui viewfinder di bagian atas kotak.
Seorang wanita berkebangsaan Rusia bernama Anastasia Nikolaevna merupakan salah
satu remaja pertama yang mengambil foto dirinya sendiri dengan menggunakan cermin untuk
dikirim ke temannya pada tahun 1914 di saat usianya baru 13 tahun. Kemudian di dalam surat
yang menyertai fotonya itu, dia mengatakan "Saya mengambil gambar diriku sendiri dengan
melihat cermin. Hal itu sangat mengagetkan dimana tangan saya gemetar."
Sebuah konsep meng-upload foto diri sendiri ( sekarang dikenal sebagai super selfies ) ke
internet, meski dengan kamera sekali pakai (bukan smartphone), ke halaman Web pertama kali
diciptakan oleh Australia pada September 2001, termasuk foto yang diambil di akhir 1990-an
( ditangkap oleh Internet Archive pada bulan April 2004 ) . Kemudian penggunaan awal Selfie
dapat ditelusuri pada tahun 2002. Dann ini pertama kalinya muncul di sebuah forum internet
Australia ( ABC online ) pada tanggal 13 September 2002.
2.

Perkembangan Foto Selfie


Istilah " Selfie " dibahas oleh seorang fotografer bernama Jim Krause pada tahun 2005,

walaupun foto bergenre Selfie sudah meluas mendahului istilahnya. Kemudian pada awal tahun
2000-an, sebelum Facebook menjadi jaringan sosial online yang dominan, foto diri sendiri
sering terjadi di MySpace . Tapi seorang penulis bernama Kate Losse menceritakan bahwa
antara tahun 2006 dan 2009 ( ketika Facebook menjadi lebih populer daripada MySpace ) foto
diri sendiri sering diambil di depan cermin kamar mandi. Dan ini menjadi indikasi buruk bagi
pengguna jejaring sosial Facebook baru. Lalu pada tahun 2009 dalam gambar hosting dan
hosting video situs Flickr, pengguna Flickr menggunakan ' selfies ' untuk menggambarkan
bentuk foto dirinya sendiri yang diposting oleh kebanyakan gadis-gadis remaja.
Selfies kemudian menjadi populer di berbagai tempat dari waktu ke waktu. Pada akhir
tahun 2012 majalah Time membuat Selfie menjadi salah satu "top 10 buzzwords". Menurut
survei tahun 2013, dua pertiga dari wanita Australia berusia 18-35 tahun, berfoto selfies dengan
tujuan yang paling umum untuk posting di akun Facebook. Lalu pada tahun 2013, kata " Selfie "
telah menjadi hal yang biasa untuk dipantau dan dimasukkan dalam online Oxford English
Dictionary. Pada bulan November 2013, kata " Selfie " diumumkan sebagai "Word Of The Year"
oleh Oxford English Dictionary, diman kata tersebut berasal dari Australia

Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi diabad modern ini tidak dipungkiri
memiliki berbagai macam pengaruh terhadap kehidupan manusia, terlebih yang hidup dikotakota besar. Berbagai macam pengaruh itu, baik yang positif maupun negatif hampir menjadi hal
lumrah dalam keseharian, terlebih jika itu sudah menjadi fenomena dan gaya hidup.
Salah satu pengaruh dari perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang sedang menjadi
fenomena adalah selfie. Begitu banyak orang yang tak mau ketinggalan melakukan hal yang
satu ini, dan kini seolah menjadi rutinitas bagi sebagian orang tanpa mengenal batasan usia,
status, pekerjaan dan lainnya. Entah berapa ribu atau bahkan juta foto selfie yang diunggah
keberbagai jejaring sosial ataupun aplikasi smartphone setiap harinya. Itu menunjukkan bahwa
fenomena selfie kini telah menjadi hal wajib, terutama untuk mereka yang narsis.
3. Kajian para ahli mengenai selfie
Dari kacamata psikologi, fenomena selfie dianggap psikologi konsumen dari adanya
supply dan demand. Seperti pernyataan dari Psikolog Kasandra Putranto jika selfie merupakan
hal supply dan demand. Demand ketika ada seorang yang ingin menampilkan gambar dirinya
sendiri sedangkan itu didukung dengan adanya (supply) kecanggihan dari gadget masa kini.
Sedangkan menurut Prof. Sherry Turkle dari Massachusetts Institute of Technology, selfi adalah
seperti foto pada umumnya yang berfungsi untuk mengabadikan sebuat momen yang kemudian
diperlihatkan pada orang lain. Pengalaman Prof. Turkle dalam memperlajari hubungan antara
manusia dengan mobile technology selama 15 tahun menyimpulkan bahwa orang-orang tidak
lagi merasa menjadi dirinya sendiri tanpa berbagi pemikiran dan perasaan, sekalipun hal itu
belum jelas bagi mereka sendiri. Ia pun mengatakan selfie mengakibatkan banyak orang
mengabaikan hal yang sedang terjadi disekitarnya karena lebih mementingkan
mendokumentasikan momen tersebut tanpa ingin melewatkannya.
Didalam teori kebudayaan menjelaskan bahwa, kebudayaan adalah seluruh system
gagasan dan rasa, tindakan, serta yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat
yang dijadikan miliknya dengan belajar (Koentjaraningrat, dalam www.kompasiana.com). Jika
teori diatas di korelasikan dengan fenomena gaya berfoto yang saat ini sedang marak, maka
bisa jadi fenomena berfoto adalah sebuah kebudayaan yang baru muncul. Sebagaimana
pendapat R.Linton mengenai kebudayaan yaitu kebudayaan dapat dipandang sebagai
konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang dipelajari, dimana unsure
pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat. Selain itu, hal ini juga
didukung dari tinjauan terdahulu dari penelitian detikNET yang mengkutip dari Huffington yang
dipostkan pada (3/4/2014) manjelaskan bahwa, selfie atau gaya berfoto sendiri dilakukan pada
oktober 1893 oleh pria Amerika Serikat yang bernama Robert Cornelus. Dari tinjauan ini
menguatkan bahwa gaya dalam berfoto merupakan tingkah laku dihasilkan manusia dan
didukung serta diteruskan oleh anggota masyarakat yang lain
Kemudian jika dipandang dari segi fungsi, maka akan mengacu pada pada tinjauan
terdahulu yang dipost oleh Rosma Widyana pada(18/12/2014) bahwa, terdapat fungsi pokok
dari gaya berfoto yaitu dapat berinteraksi dengan orang lain. Hal ini diperkuat dengan
pengertian dari interaksi sendiri. Interaksi merupakan hubungan social yang mencakup
hubungan timbale balik antara individu, kelompok, serat individu dangan kelompok yang dapat
berupa tuturkata, jabat tangan, bahasa isyarat, atau tanpa kontak fisik (Hermanto dan Wiranto,
dalam www.kompasiana.com)
Melihat dari sudut pandang psikologi tentang selfie dan akibatnya, rasa-rasanya sangat
nyata hal-hal tersebut terjadi dikehidupan sehari-hari. Lihat saja kecanggihan gadget saat ini,

begitu sangat mendukung seseorang untuk ber-selfie-ria. Terlebih dengan aksesoris


pendukungnya, orang-orang sebelumnya pemalu pun kini seolah tertarik untuk selfie. Pun
begitu dengan berbagai macam akibat dari selfie, baik itu yang postitif, mengejutkan sampai
yang negatif sudah banyak terjadi.
A). Dampak negaif
1) Menurut penelitian yang dilakukan di Inggris menyatakan bahwa membagi terlalu
banyak foto ke jejaring social termasuk foto selfie berpotensi memperburuk hubungan
atau membuat pengunggah foto kurang disukai
2) Menurut penelitiaan kami, menemukan bahwa seseorang yang secara berkala
memposting foto miliknya dimedia social sangat membahayakan pada hubungannya di
kehidupan nyata. Kata pimpinan riset Dr David Hoogton hal ini dikarenakan tidak semua
orang berhubungan baik dengan orang yang memposting foto personalnya.
B). Dampak Positif
1) Menurut Psikolog Paggy Dreyler, selfie bias menguntungkan banyak orang bila
digunakan secara tepat. Misalnya, foto sesuai menalankan kebiasaan hidup sehat
dibanding sebelumnya.
2) Menurut Rutledge, bila selfie dilakukan secara benar maka dapat menjadi cara untuk
mengeksplorasi kepercayaan diri saya percaya selfie bias member dukungan pada
orang dengan cara berbeda . misalnya, ketika ia merasa terpuruk selfie membantu
mereka melihat keadaan tersebut sebagi sesuatu yang normal, sama halnya pria. Ujar
Rutledge, dia juga menambahkan selfie mampu menciptakan keseimbangan dan
membuka pikiran kita untuk mengerti

.
B. FENOMENOLOGI
Tradisi fenomenologi memfokuskan perhatianya terhadap pengalaman sadar seorang
individu. Teori komunikasi yang masuk dalam tradisi fenomenologi berpandangan bahwa
manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka, sehingga mereka dapat
memahami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan.
Tradisi fenomenologi memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interpretasi dari
pengalaman subjektif manusia. Pendukung teori ini berpandangan bahwa cerita atau
pengalaman indivvidu adalah lebih penting dan memiliki otoritas lebih besar daripada hipotesa
penelitian sekalipun.
Kata fenomenologi berasal dari kata phenomenon yang berarti kemunculan suatu
objek, peristiwa atau kondisi dalam persepsi seorang individu. Fenomenologi menggunakan
pengalaman secara langsung untuk memahami dunia. Orang mengetahui pengalaman atau
peristiwa dengan cara mengujinya secara sadar melalui perasaan dan persepsi yang dimiliki
orang yang bersangkutan
Fenomenologi menjadikan pengalaman sebenarnya sebagai data utama dalam
memahami realitas. Dalam pandangan Natanton (Mulyana, 2002:59) fenomenologi merupakan
istilah generik yang merujuk kepada semua pandangan ilmu sosial yang menganggap
bahwa kesadaran manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan
sosial. Tentu saja, dalam kaitannya dengan penelitian budaya pun pandangan subjektif
informan sangat diperlukan. Subjektif akan menjadi sahih apabila ada proses intersubjektif
antara peneliti budaya dengan informan.

Wawasan utama fenomenologi adalah pengertian dan penjelasan dari suatu realitas
harus dibuahkan dari gejala realitas itu sendiri (Aminuddin, 1990:108). Dalam
perkembangannya, fenomenologi memang ada beberapa macam, antara lain: (a) fenomenologi
Edidetik dalam linguistik, (b) fenomenologi Ingarden dalam sastra, artinya pengertian murni
ditentukan melalui penentuan gejala utama, penandaan dan pemilahan, penyaringan untuk
menentukan keberadaan, penggambaran gejala (refleksi), (c) fenomenologi transendental, dan
(d) fenomenologi eksistnsial.
Bagi fenomenologi transendental, keberadaan realitas sebagai objek secara tegas
ditekankan. Kesadaran aktif dalam menangkap dan merekonstruksi kesadaran terhadap suatu
gejala amat penting. Bagi fenomenologi eksitensial, penentuan pengertian dari gejala budaya
semata-mata tergantung individu. Refleksi individual menjadi guru bagi individu itu sendiri
dalam rangka menemukan kebenaran.
Dalam penelitian budaya, perkembangan pendekatan fenomenologi tidak dipengaruhi
secara langsung oleh filsafat fenomenologi, tetapi oleh perkembangan dalam pendefinisian
konsep kebudayaan. Dalam hal ini, fenomenolog Edmun Husserl (Muhadjir, 1998:12-13)
menyatakan bahwa obyek ilmu itu tidak terbatas pada yang empirik (sensual), melainkan
mencakup fenomena yang tidak lain terdiri dari persepsi, pemikiran, kemauan, dan keyakinan
subyek yang menuntut pendekatan holistik, mendudukkan obyek penelitian dalam suatu
kontsruksi ganda, melihat obyeknya dalam suatu konteks natural, dan bukan parsial. Karena itu
dalam fenomenologi lebih menggunakan tata pikir logik daripada sekedar linier kausal.
Tujuan penelitian fenomenologi budaya adalah ke arah membangun ilmu ideografik budaya itu
sendiri. Metode kualitatif fenomenologi berlandaskan pada empat kebenaran, yaitu kebenaran
empirik sensual, kebenaran empirik logik, kebenaran empirik etik, dan kebenaran empirik
transenden. Atas dasar cara mencapai kebenaran ini, fenomenologi menghendaki kesatuan
antara subyek peneliti dengan pendukung obyek penelitian.
Keterlibatan subyek peneliti di lapangan dan penghayatan fenomena yang dialami
menjadi salah satu ciri utama. Hal tersebut juga seperti dikatakan Moleong (1988:7-8) bahwa
pendekatan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap
orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu. Peneliti fenomenologi tidak berasumsi bahwa
peneliti mengetahui arti sesuatu bagi orang-orang yang sedang diteliti. Maka dari itu, inkuiri
dimulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu yang
diteliti. Yang ditekankan adalah aspek subyek dari perilaku orang. Mereka berusaha untuk
masuk ke dunia konseptual para subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka
mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang mereka kembangkan di sekitar peristiwa
dalam kehidupannya seharihari. Makhluk hidup tersedia pelbagai cara untuk
menginterpretasikam pengalaman melalui interaksi dengan orang lain, dan bahwa pengertian
pengalaman kitalah yang membentuk kenyataan. Yang ditekankan oleh kaum fenomenologis
ialah aspek subyektif dari perilaku budaya. Mereka berusaha masuk ke dalam dunia subyek
yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga peneliti mengerti apa dan bagaimana suatu
pengertian dikembangkan dalam hidup sehari-hari. Subyek penelitian dipercaya memiliki
kemampuan untuk menafsirkan pengalamannya melalui interaksi. Peneliti fenomenologis tidak
menggarap data secara mentah. Peneliti cukup arif dengan cara memberikan tekanan pada
subyek untuk memaknai tindak budayanya, tanpa mengabaikan realitas.
Hal tersebut dapat dipahami, karena menurut Phillipson (Walsh,1972:121) istilah fenomena itu
berkaitan dengan suatu persepsi yaitu kesadaran. Fenomenologi akan berupaya

menggambarkan fenomena kesadaran dan bagaimana fenomena itu tersusun. Dengan adanya
kesadaran ini, tidak mengherankan jika pemerhati kebudayaan dan pelaku budaya juga
memiliki kesadaran tertentu terhadap yang mereka alami. Pengalaman yang dipengaruhi oleh
kesadaran itu, pada saatnya akan memunculkan permasalahan baru dan di antaranya akan
terkait dengan ihwal seluk beluk kebudayaan itu sendiri.
Akibat dari tumbuh kembangnya kesadaran tersebut, bukan tidak mungkin jika para ahli peneliti
budaya fenomenologi mulai dihadapkan pada sejumlah permasalahan kebudayaan. Pada
dasarnya, ada tiga permasalahan pokok ketika orang akan melukiskan kebudayaan yaitu: (1)
mengenai ketidaksamaan data etnografi yang disebabkan oleh perbedaan minat di kalangan
ahli peneliti budaya, (2) masalah sifat data itu sendiri, artinya seberapa jauh data tersebut dapat
diperbandingkan atau seberapa jauh data tersebut benar-benar dapat melukiskan gejala yang
sama dari masyarakat yang berbeda, dan (3) menyangkut masalah klasifikasi data yang di
antara para ahli masih sering berbeda kriterianya.
Berdasarkan ketiga hal itu, dalam studi fenomenologi terutama sebagai upaya memahami
sugesti Malinovski tentang to grasp the natives point of view, his relation to life to realize his
vision of his world, Ahimsa-Putra (1985:106-109) menawarkan pendekatan etnosains sebagai
salah satu alternatif. Pendekatan ini dipandang lebih fenomenologis karena dengan
menerapkan model linguistik yang dikenal dengan pelukisan kebudayaan secara etik dan emik,
pemaknaan kebudayaan menjadi lebih lengkap. Dengan cara ini ini pendefinisian
kebudayaan merupakan akumulasi dari sistem pengetahuan atau sistem ide, dalam istilah
makna yang diberikan oleh pendukung kebudayaan pun turut diperhitungkan.
Dari kaca pandang fenomenologis yang dipengaruhi oleh pendefinisian kebudayaan itu,
pada gilirannya kebudayaan menjadi lebih kompleks. Kebudayaan menjadi sangat `tergantung
siapa yang memandang. Jika warga setempat paham terhadap yang mereka lakukan, tentu
pendefinisian akan berlainan dengan warga yang samar-samar terhadap budayanya. Kedua
pandangan yang berbeda ini pun dalam perspektif fenomenologi harus tetap dihargai. Oleh
karena perbedaan pendapat adalah khasanah fenomena budaya itu sendiri.

BAB III
STUDI KASUS

A. Susan Stancy selamat karena selfie

Akibat dari selfie yang dimuat dibeberapa berita terutama media online memang cukup
mengejutkan. Tidak disangka selfie yang terlihat sepele tapi dapat membawa banyak hal yang
serius. Diantara beberapa akibat selfie yang membawa akibat serius diantaranya seperti yang
terjadi pada Susann Stacy yang selamat dari siksaan suaminya karena memposting photo
wajahnya yang berlumuran darah ke facebook.
Wanita Amerika Serikat yang tinggal di Kentucky tersebut mengaku dipukuli suaminya
lalu dikurung. Ia pun tidak bisa meminta pertolongan, namun beruntung ia menemukan sinyal
WiFi lalu memoto wajahnya yang berlumuran darah dan diunggah ke facebook dengan
dituliskan help please, anyone. Salah satu temannya yang melihat hal tersebut langsung
menghubungi polisi dan Susaan pun dapat diselamatkan.
B. Selfie dari Lantai 3 Gedung Sekolah, Terpeleset Jatuh Lalu Meningga
Gadis berumur 14 tahun di SMA Rizal High School di Pasig City, Filipina, tewas terjatuh dari
lantai tiga sekolahnya setelah kehilangan keseimbangan dan terpeleset di tangga sekolah saat
asyik melakukan selfie dengan teman sekelasnya. Menurut Mario Rariza dari kepolisian
setempat, Christine Rosello dan seorang teman sekelasnya ingin menjepret foto selfie saat
istirahat. Entah bagaimana, korban kemudian kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai
bawah. Gadis yang sempat dilarikan ke rumah sakit ini akhirnya menghembuskan nafas
terakhirnya sebelum mendapat perawatan karena luka parah di kepala dan patah tulang rusuk
yang melukai ginjalnya
.
C. Selfie dengan Senjata dan Menembak Kepala Sendir
Oscar Otero Aguilar nekat melakukan selfie sambil mengarahkan pistol ke kepalanya
sendiri dan naas pistol itu meletus lalu Oscar pun meninggal. Aku mendengar suara tembakan
dan orang berteriak, kemudian aku sadar ada yang terluka. Aku langsung memanggil polisi dan
ketika mereka datang, dia sebenarnya masih hidup, ujar tetangga korban, Manfredo Paez.
Saat itu Oscar dan dua temannya dalam keadaan mabuk sehingga sehingga tak ada yang coba
menghentikan selfie maut Oscar ataupun berusaha mengecek kondisi pistol terlebih dulu.
Akhirnya Oscar pun tak sengaja menarik pelatuk dan memuntahkan timah panas ke kepalanya
sendiri. Tragis!
D. Selfie Saat Menyetir Mobil Lalu Tabrakan
Colette Moreno akan melakukan pesta pra-wedding dengan teman-temannya di sebuah
resort populer di Amerika, Lake of the Ozarks, hanya jelang sebulan sebelum pernikahannya.
Duduk di kursi penumpang, Colette pergi bersama teman bernama Ashley Theobald yang
menyetir mobil. Mereka sempat berfoto selfie sesaat sebelum mobil yang mereka tumpangi
bertabrakan dengan sebuah truk dari arah berlawanan. Colette pun tewas, menginggalkan
seorang anak berumur 5 tahun, pria, dan keluarganya. Sementara Ashley berhasil selamat.

E. Tewas setelah selfie di kawah merapi


Sebelum terjatuh ke kawah Gunung Merapi, Eri Yunanto (21), Mahasiswa Atmajaya jurusan
Teknik Mesin ini, ternyata sempat berfoto selfie di puncak Gunung Merapi. Berdasarkan
informasi yang diberikan kelima pendaki ke Posko Barameru, Selo, Boyolali, Jawa Tengah,
diketahui hanya dua orang yang sampai ke puncak Gunung Merapi. Kedua orang pendaki yang

sampai ke puncak adalah Eri Yunanto dan Dicky teman satu tim dengan korban. Setibanya di
puncak, keduanya menghabiskan waktu dengan berfoto bersama. Setelah berfoto di puncak
Garuda, keduannya kemudian turun. Saat hendak turun dari puncak Garuda itulah korban tak
menyadari bila posisinya terlalu pinggir sekali. Hingga akhirnya, dalam hitungan detik, Eri
terjatuh ke dalam kawah. Melihat rekannya jatuh, Dicky panik. Kemudian Dicky pun langsung
turun ke pos dimana rekan-rekannya yang lain menunggu, untuk bersama-sama melaporkan
jatuhnya Eri ke dalam kawah.
F. Andreas tenggelam di Curug Grenjang
Merdeka.com - Nasib nahas menimpa Andreas Stevano (28) warga Jalan Dewi Sartika
Kelurahan Margahayu Bekasi Timur, Jawa Barat. Dia ditemukan sudah tidak bernyawa lagi,
lantaran tenggelam saat sedang selfie di Curug Grenjang, Desa Kemutug Kidul, Kecamatan
Baturraden Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (6/10). Menurut beberapa saksi yang melihat
kejadian tersebut, korban sebelum kejadian sedang berfoto di sekitar kedung. Salah seorang
saksi, Giar Siana (22) mengatakan korban datang sekitar pukul 10.30 WIB ke lokasi curug di
Desa Kemutug Kidul.

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Sisi positif selfie

Menurut pendapat beberapa ahli, selfieternyata memiliki dampak negatif dan positif. Penelitian
di Inggris menyatakan, membagi terlalu banyak foto ke jejaring sosial termasuk
foto selfie, berpotensi memperburuk hubungan atau membuat pengunggah foto kurang disukai.
Peneliti menemukan, seseorang yang secara berkala memosting foto miliknya di media sosial
berisiko membahayakan hubungannya di kehidupan nyata. Hal ini dikarenakan tidak semua
orang berhubungan baik dengan orang yang memosting foto personalnya.
Beberapa ahli menyatakan, memmosting foto di jejaring sosial, termasuk fotoselfie, bisa
memengaruhi karakter dan tingkah laku orang dewasa. Misalnya untuk narsis, yang ditemukan
pada beberapa selfie, obyek dalam keadaan bersenang-senang. Meski begitu, peneliti
menganggap selfie bisa menimbulkan kesan kesendirian yang amat dalam pada obyek foto.
Bagaimanapun, sejumlah psikolog berpendapat, selfie tak sepenuhnya hanya menguntungkan
diri sendiri. Selfie bisa menguntungkan banyak orang bila digunakan dengan tepat. Misalnya
foto seusai menjalankan kebiasaan hidup sehat dibanding sebelumnya.
Dengan kata lain, orang yang kerap selfie bisa berperan sebagai penyebar pesan positif dan
artistik ke populasi yang lebih luas, seperti halnya seorang fotografer. Dengan hal itu pula, selfie
dapat dibedakan dari cara pria dan wanita mengambil foto.
Bila dilakukan dengan benar, selfie bisa menjadi cara mengeksplorasi kepercayaan diri. Dengan
kata lain, selfie bisa memberi dukungan pada orang dengan cara berbeda. Pada wanita
misalnya, ketika dia merasa terpuruk, selfiemembantu mereka melihat keadaan tersebut
sebagai sesuatu yang normal, sama halnya pada pria.
Secara umum, selfie intinya adalah menciptakan keseimbangan dan membuka pikiran kita
untuk mengerti. Ada sisi menguntungkan yang diperoleh bila melakukan selfie dengan benar.
Bila merasa lebih baik dengan selfie, tentu hal ini baik untuk memperbaiki kondisi psikologis
seseorang.

B. Selfie menurut kacamata agama


1. Menurut agama Islam
Dalam islam hukum selfie memang tidak tertulis langsung dalam kitab al-Quran maupun Assunnah. Namun dalam ajaran islam terdapat beberapa hadist yang menerangkan tentang
larangan menggambar. Dalam hadis yang dilarang adalah menggambar makhluk hidup yang
bernyawa, sedangkan tumbuhan boleh digambar. dalam website konsultasi islam terdapat
beberapa hadis mengenai larangan menggambar makhluk bernyawa:
Dari Ibnu, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda, Barangsiapa menggambar suatu gambar
dari sesuatu yang bernyawa di dunia, maka dia akan diminta untuk meniupkan ruh kepada
gambarnya itu kelak di hari akhir, sedangkan dia tidak kuasa untuk meniupklannya. [HR.
Bukhari].

Rasulullah Saw bersabda, Sesungguhnya diantara manusia yang paling besar siksanya pada
hari kiamat adalah orang-orang yang menggambar gambar-gambar yang bernyawa. (lihat
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, bab Tashwiir).
Hadis tersebut sudah jelas menerangkan adanya larangan menggambar makhluk yang
bernyawa. Maksud dari arti kata menggambar dalam hadis tersebut adalah membuat seketsa
gambar menggunakan tangan sendiri dengan bantuan alat dimana kita membuat semiripmiripnya dari gambar asli atau dengan membuat sendiri gambar tanpa meniru. sebagai contoh

adalah melukis makhluk bernyawa, menggambar makhluk hidup tanpa objek di komputer atau
di buku gambar.
Dalam kasus ini, foto termasuk dalam kategori gambar, namun foto tidak dibuat sendiri. Cara
kerja foto sama seperti cermin hanya saja hasilnya dalam bentuk cetak dan ini merupakan
sebuah pantulan dari gambar aslinya jadi tidak sama dengan dilukis atau digambar. Foto atau
foto selfie tidak dilarang dalam agama, bahkan jika dipublikasikan. Ada beberapa hal yang
membuat foto menjadi dilarang diantaranya adalah:
Foto bertujuan untuk pamer.

Foto bertujuan untuk merugikan orang lain.

Foto bertujuan untuk menyakiti diri-sendiri dan orang lain.

Foto bertujuan untuk nafsu belaka.

Foto yang bertujuan untuk mengadu domba dan membocorkan rahasia yang baik.

2. Menurut agama Kristen

Hal yang menakjubkannya adalah bahwa hal inipun sudah ada nubuatnnya di
dalam Alkitab. Ciri manusia di akhir zaman ini adalah ber-selfie ria.
Perhatikanlah ayat terkutip berikut ini, tentang ciri manusia di akhir zaman.
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia
akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan
menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak
terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan
agama, tidak tahu mengasihi , tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak
dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak
berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti
Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka , tetapi pada hakekatnya
mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!
(2 Timotius 3:1-5)
Perhatikanlah kata yang menyebutkan, Manusia akan mencintai dirinya
sendir Apakah maksudnya manusia akan mencintai dirinya sendiri? Inilah yang
dinamakan selfie. Pada awalnya, orang-orang suka memotret pemandangan

(keindahan Alam ataupun teman-lainnya). Pada awal-awalnya, tindakan berphoto selfie sangat sulit dilakukan, sebab teknologi lagi-lagi belum mendukung.
Tetapi pada zaman sekarang, dikala kamera digital ditemukan dan dengan
adanya berbagai tipe smart-phone yang canggih-canggih telah memungkinkan
seseorang untuk ber-photo selfie dengan leluasa.Inilah salah satu penggenapan
nubuatan Alkitab yang semakin komplit tersebut! Tidak puas tselfhanya dengan
memegang kamera di tangan, orang-orang pada akhir zaman ini tidak kehabisan
akal untuk memuaskan dirinya sendiri. Akhirnya ditemukanlah suatu tongkat
ajaib yang diberi nama tongkat selfie. Akhir-akhir ini, gadget yang mahal dan
canggih sudah sulit dipisahkan dengan tongkat selfie jika seseorang bepergian
ke suatu daerah tujuan wisata. Rasanya tidak afdol jika belum ber-selfie ria.
Bukan hanya photo selfie yang populer, tetapi juga tindakan acuh tak acuh
untuk hal-hal rohani (agama), membual, menyombongkan diri, berontak
terhadap orang tua dan sebagainya.

C. Selfi menurut tinjauan psikologis dan kesehatan


Benarkah selfie secara inheren adalah narsistik? Sementara setiap narsis butuh kolam refleksi,
seperti halnya Narcissus yang menatap ke kolam untuk mengagumi dirinya. Zaman yang

modern telah menjadikan media sosial seperti Facebook seolah kolam modern kita untuk terus
mengagumi diri. Namun, tidakkah kita terlalu cepat mengaitkan media sosial dengan perilaku
narsis? Sebelumnya telah dilakukan penelitian terhadap 400 orang. Bagaimana perilaku
mereka terhadap Facebook, berapa jam per hari waktu yang mereka habiskan untuk mengutakatik Facebook, serta berapa kali mereka memperbarui status mereka.
Orang narsis memiliki pandangan yang berlebihan terhadap daya tarik mereka dan ingin
berbagi dengan dunia. Namun, pertanyaan ini lumrah diajukan, karena boleh diakui banyak
orang melakukan selfie, mungkin Anda sendiri pun melakukannya. Pada batasan apa
seseorang yang melakukan selfie disebut mengalami gangguan narsistik atau narcissistic
personality disorder?Perilaku selfie sebetulnya tidak mengenal batasan usia. Hal tersebut diakui
oleh Roslina Verauli. Psikolog anak, remaja, dan keluarga itu menjelaskan bahwa selfie tidak
ada kaitannya dengan usia. Lihat saja para aktor atau bahkan presiden yang melakukannya
(selfie). Itu bisa dilakukan di setiap tahapan usia. Memang tahap remaja adalah tahap tumbuh
kembang, di mana kepedulian terhadap diri lebih tinggi. Tapi bukan berarti di usia lain tidak
begitu, kata Vera.Selfie yang sudah masuk pada tahap gangguan, menurut Vera, manakala
perilaku tersebut telah mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari. Pendidikan terganggu,
pekerjaan terganggu, setiap kehidupan akan terganggu. Dia tidak lagi nafsu makan, hanya
nafsu memfoto dirinya. ucap Vera. Namun, dalam ilmu psikologi pun ada takaran untuk
terjadinya gangguan kejiwaan. Dengan kata lain, tidak bisa disebut sembarangan. Takaran
tersebut melewati batas normal sampai mengganggu fungsi sehari-hari dan membuat orang
tersebut mengalami distres Sebuah kasus bahkan pernah terjadi di Inggris. Pertengahan tahun
lalu, remaja 19 tahun mencoba bunuh diri lantaran foto selfie-nya dia anggap tidak sempurna.
Jika selfie telah sampai pada tahap gangguan, menurut Vera yang harus dilakukan adalah
memahami mekanisme kenapa pasien menjadi selfie

BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Tradisi fenomenologi memfokuskan


perhatianya terhadap pengalaman sadar seorang individu. Teori komunikasi yang masuk dalam
tradisi fenomenologi berpandangan bahwa manusia secara aktif menginterpretasikan
pengalaman mereka, sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman
personal dan langsung dengan lingkungan. Tradisi fenomenologi memberikan penekanan
sangat kuat pada persepsi dan interpretasi dari pengalaman subjektif manusia, dan kami ingin
mengkaitkan fenomena selfie sebagai tradisi fenomenologi.
Fenomena selfie ini terjadi tak lain karena semakin canggihnya teknologi. Jika dulu foto
diri sendiri tidak memungkinkan karena tidak adanya teknologi yang mendukung, sekarang ada
banyak gadget penunjang untuk selfie.

DAFTAR PUSTAKA
1. m.detik.com/wolipop/read/2014/02/07/074842/2489885/852/fenomena-selfie-danalasan-aksi-foto-narsis-ini-begitu-digemari-

2. m.detik.com/inet/read/2014/01/03/155544/2457783/398/wanita-ini-diselamatkan-fotoselfie-mengerikan- m.inilah.com/read/detail/2124690/seorang-pria-tewas-gara-gara-fotoselfie3. m.okezone.com/read/2014/07/25/55/1018036/foto-selfie-di-facebook-bikin-perempuanini-ditangkap


4. https://marudutsianturi.wordpress.com/.../photo-selfie-ini-pun-sudah-din...

5.
6.
7.
8.

kultum648.blogspot.com/2014/09/hukum-selfie-menurut-islam.html
www.hdindonesia.com/info-kesehatan/positif-dan-negatifnya-selfie
news.okezone.com/.../sebelum-jatuh-ke-kawah-eri-selfie-di-puncak-mera
gysugianto.blogspot.com/.../tradisi-fenomenologi-serta-fenomena.html
9. www.kompasiana.com/.../penelitian-tentang-fenomena-berfoto-2014_54...

Anda mungkin juga menyukai