Anda di halaman 1dari 8

Warta Thomas

Berita Gereja
Ekaristi harian dalam
minggu ini Senin s/d
Jumat Pukul 05.30 di
Gereja. Sabtu pukul
06.00 di Susteran.
Selasa, 17 November :
Peringatan Wajib St.
Elisabet dari Hungaria,
Biarawan
Sabtu, 21 November :
Peringatan Wajib St.
Perawan Maria
Dipersembahkan kepada
Allah

Gereja Katolik
Paroki Santo Thomas
Kelapadua

halaman 1

Jalan Kompleks Ksatrian, Korps


Brimob, Kelapa Dua, Cimanggis
16951, Telepon (021) 8715526
Fax. (021) 87706362.
Email: sekreparoki@thomas.
keuskupanbogor.or.id
Website:
http://
thomas.keuskupanbogor.or.id

Warta Mingguan Paroki St. Thomas Kelapa Dua


Edisi : Minggu, 15 November 2015 Hari Minggu Biasa ke XXXIII
Nomor : 51 Th. XVIII

Lebih Baik
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering kali
mendapatkan kata lebih baik. Kata lebih baik ini
menunjukkan perbandingan A dan B. Perbandingan ini
menunjukkan kualitas A lebih baik dari pada yang B
bahkan sebaliknya. Dengan perbandingan yang ada,
manusia diajak menentukan apa yang dikerjakannya
ini memiliki nilai yang pantas diperjuangkan atau
dilupakan saja. Dengan perbandingan ini manusia
diajak untuk menentukan prioritas dalam kehidupan.
Perjuangan Persaudaraan
Mendengarkan bacaan hari ini, kita berhadapan
dengan Yesus yang menggajak muridnya dengan satu
prioritas hidup yang pantas dihayati dan diperjuangkan
dalam hidupnya. Prioritas hidup Yesus menjadi arahan
yang menuntun orang pada pilihan bebasnya
mengabdi Allah dan sesama.
Kalau dicermati apa yang dikatakan oleh Yesus kepada
kita berasal dari 10 perintah Allah. Dalam 10 perintah
Allah itu kita berjumpa dengan arahan hidup yang
mengarah pada relasi manusia dengan Allah dan
manusia dengan manusia. Dua arah hidup yang
dialami manusia dalam 10 perintah Allah ini
menggambarkan suasana batin yang seimbang.
Manusia dapat mengabdi Allah dengan gembira kalau
manusia mampu mengarahkan langkahnya pada
sesamanya. Begitu pula sebaliknya, manusia dapat
mengarahkan langkahnya pada sesama kalau manusia
mampu membina relasi mendalam kepada Allah. Di
sini kita melihat bagaimana kedekatan dengan Allah
menghantar manusia pada sesama begitu juga
kedekatan kita pada sesama menghantar pada Allah.
Pada bagian ini tuntutan minimal untuk masuk dalam
kerajaan Allah dimulai. Tuntutan minimal ini kemudian
diberi warna pelangi oleh Yesus. Warna pelangi
nampak pada kerelaan manusia untuk memberikan
yang terbaik, yang dimilikinya untuk sesamanya. Di
sini kita melihat, bagaimana kita berani menggarahkan
langkah kita, bahkan hidup kita pada mereka yang
ditinggalkan, terasing dari lingkungan sekitar akibat

usia lanjut, karena sakit penyakit, pengungsi, perang, dll.


Mereka yang terasing ini pun mengusik kita untuk disapa sebagai manusia. Maka
tuntutan masuk Kerajaan Surga pun terarah pada mereka, yang seringkali kalau kita
berhadapan dengan mereka mengalami banyak tantangan dan rintangan baik secara
eksternal maupun internal. Rintangan internal, orang terasing selalu ada di sekitar
kita, memang siapa mereka?. Rintangan ekternal anggapan adanya kristenisasi,
penginjilan. Rintangan rintangan macam ini membuat langkah kita menuju Kerajaan
Surga menjumpai jalan yang terjal, jalan yang sempit namun membuat kita merasa
nyaman melangkahkan kaki dan membuat doa kita menyucikan diri sendiri serta
menyucikan orang yang kita bantu. Langkah kita menjadi nyaman dengan jalan yang
sempit karena kita menjumpai banyak saudara yang membantu dan menegakkan
serta memotivasi kita untuk sama-sama menuju kerajaan surga.
RD. Albertus Kurniadi

SAB, 21/11
MGG, 22/11
MGG, 22/11
MGG, 22/11
MGG, 22/11STASI

Tgl
16/11
17/11
18/11
19/11
20/11
21/11
22/11

Pkl.

Koor

Pemandu Umat

Tata Bunga

18.00
06.00
08.00
18.00

LUSIA W7
RPD W9
YUSTINUS W2

LAURENTIUS W3
GREG. AGUNG W8
CAROLUS W7
NIKOLAS W1

ROSARIO

07.00

PASKALIS W11

BUNDA GEREJA W10

IX

RATU

Petugas Liturgi

Hari/Tanggal

Daftar Bacaan Harian


1Mak. 1:10-15,41-43,54-57,62-64; Mzm. 119: 53, 61, 134, 150, 155, 158; Luk.
18:35-43. BcO Yeh. 17:3-15,19-24
2Mak. 6:18-31; Mzm. 4:2-3,4-5,6-7; Luk. 19:1-10.BcO Yeh. 18:1-13,20-32
2Mak. 7:1,20-31; Mzm. 17:1,5-6,8b,15; Luk. 19:11-28. BcO Yeh. 20:27-44
1Mak. 2:15-29; Mzm. 50:1-2,5-6,14-15; Luk. 19:41-44. BcO Yeh. 24:15-27
1Mak. 4:36-37,52-59; MT1Taw. 29:10,11abc,11d-a2a,12bcd; Luk. 19:45-48.
BcO Yeh. 28:1-19
1Mak. 6:1-13; Mzm. 9:2-3,4,6,16b,19; Luk: 20:27-40 BcO Yeh. 34:1-6,11-16,25-31
Dan. 7:13-14; Mzm. 93:1ab,1c-2,5; Why. 1: 5-8; Yoh. 8:33b-37
BcO Dan. 7:1-27 atau Why. 1:4-6,10,12-18; 2:26,28; 3:5,12,20-21

Penanggungjawab: DPP Paroki St. Thomas - Komsos Penasihat: RD. Robertus Eeng
Gunawan Koordinator: K. Tatik Pelaksana: Sekretariat Paroki Sirkulasi/Iklan:
Pieter Fernandez - 0218715526 Email: warta@thomas.keuskupanbogor.or.id.
Tim Warta menerima sumbangan tulisan berita/non berita dengan maksimum panjang tulisan 2000 karakter
termasuk spasi dikirim via email paling lambat hari Rabu. Tim Warta berhak mengedit tulisan atau tidak
menerbitkan jika mengandung SARA atau bertentangan dengan Etika, Moral, Hukum dan HAM.

Warta Thomas

halaman 2

Orang Katolik Depok Mencari Walikota Baru

halaman 3

Tanggal 7 November 2015, yang lalu, Sie Kerawam St. Thomas, mengadakan
sebuah Diskusi Politik dengan tema Orang Katolik Depok Mencari Walikota Baru.
Menghadirkan tiga orang panelis, yaitu Bapak Anton Sulis, sekretaris eksekutif Kerawam Keuskupan Bogor sekaligus Ketua Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI)
Keuskupan Bogor, Bapak Natalius Pigay, anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
(HAM) RI, dan Ibu Elisabeth Setyaningsih, Ketua FMKI Cabang Depok.
Dari hasil diskusi yang dipandu oleh Sie Kerawam St. Thomas, Bapak Fautinus
Wundu, maka didapatkan kesimpulan bahwa kita sebagai orang Katolik harus turut
memberikan suara dalam Pilkada bulan Desember Nanti.
Menurut Romo Eddy Kristiyanto OFM, Politik adalah bagian perwujudan sakramen.
Konsekuensinya, penyelamatan hanya bisa dilakukan dengan keterlibatan kita di
dalamnya. Tuhan Yesus menunjukkan keberpihakan kepada orang yang lemah. Oleh
karena itu mereka yang sudah dibaptis pun harus memihak kepada orang yang lemah. Jadi tidak boleh netral.
Jika orang itu tidak peduli, terutama terhadap orang yang di sekelilingnya, apalagi
yang lemah, maka bisa diragukan ke-Katolikan-nya. Meski pun umat Katolik adalah
minoritas di Depok, jangan sampai tidak memberikan suara. Karena suara kita, yang
orang Katolik, juga akan berpengaruh pada jumlah suara. Memilih pemimpin yang
berkualitas. Dalam arti, yang mempunyai misi yang sejalan dengan misi orang Katolik.
Memang benar bahwa Tuhan nantinya yang akan bekerja atas segala sesuatunya,
tapi bukan berarti kita tidak memilih. Partisipasi suara kita tetap harus diberikan demi
kemajuan tempat kita tinggal.
Pada akhir acara, ditampilkan para calon Walikota Depok. Meski hanya sepasang
calon yang datang, yaitu Dimas Oky Nugroho dan Babai Suhaimi, tapi diskusi yang
berlangsung tetap hidup. Pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota urutan no. 1
ini memaparkan visi dan misinya dengan panjang-lebar, dan mendapat tanggapan
yang luar biasa dari peserta yang memenuhi aula St. Thomas ini. Mereka memakai
jargon Depok
Baru, Depok
Berubah.
Ingat, jangan
sampai tidak
memilih! Ayo,
berikan suara
Anda sesuai hati
nurani, tapi paling tidak, pilihlah
yang selaras dengan misi dan visi
Gereja Katolik.
(Komsos)

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL


Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia IV
Via Renata -Cimacan, 2 6 November 2015

halaman 4

Pengantar
1. Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) IV yang diadakan pada 2 6
November 2015 di Via Renata Cimacan mengambil tema Keluarga Katolik: Sukacita
Injil, Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Masyarakat Indonesia yang
Majemuk. Dengan mengangkat tema itu, Gereja Katolik Indonesia bersehati dan
seperasaan dengan Gereja Universal yang membahas tema keluarga dalam Sinode
Para Uskup (2015) kelanjutan Sinode Luar Biasa Para Uskup (2014). SAGKI yang
mendalami tema keluarga sebagai hal penting dan mendesak ini diikuti oleh 569
peserta yang terdiri dari uskup, imam, biarawan-biarawati, perwakilan umat dari 37
keuskupan, perwakilan keuskupan TNI, dan kelompok kategorial.
2. Keluarga sebagai sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat (Familiaris
Consortio 42) dan sekolah kemanusiaan (Gaudium et Spes 52) menjadi tempat
pertama seseorang belajar hidup bersama orang lain serta menerima nilai-nilai luhur
dan warisan iman. Di situlah seseorang menjadi pribadi matang yang menggemakan
kemuliaan Allah. Keluarga Katolik menjadi tempat utama, di mana doa diajarkan,
perjumpaan dengan Allah yang membawa sukacita dialami, iman ditumbuhkan, dan
keutamaan-keutamaan ditanamkan.
3. SAGKI 2015 mendalami kehidupan keluarga melalui kesaksian beberapa keluarga
tentang buah-buah sukacita Injil dalam keluarga dan tantangan keluarga ketika
memperjuangkan sukacita Injil serta melalui paparan tentang membangun
wajah Ecclesia Domestica di Indonesia. Pengalaman tersebut diteguhkan oleh para
ahli, didiskusikan dalam 17 kelompok dari segi spiritual, relasional, dan sosial,
dipresentasikan dalam Pleno, dan akhirnya dipersembahkan dengan penuh syukur
dalam Perayaan Ekaristi.
4. Selama SAGKI 2015, dialami rasa syukur dan gembira serta rasa haru dan air mata
saat mendengarkan dan menyaksikan sukacita dan pengalaman jatuh-bangun
keluarga-keluarga katolik dalam memperjuangkan kekudusan perkawinan dan
keutuhan keluarga.
Buah-Buah Sukacita Injil dalam Keluarga
5. Dengan penuh iman, Gereja mensyukuri perkawinan katolik sebagai sakramen,
yaitu tanda kehadiran Allah Tritunggal dalam hidup berkeluarga. Perjumpaan dengan
Kristus membawa sukacita Injil (bdk. Evangelii Gaudium 1). Pasangan suami istri
percaya bahwa Allah menghendaki, memberkati, dan mencintai keluarganya.
Keyakinan ini meneguhkan suami istri untuk setia dalam untung dan malang serta
menambah sukacita dalam keluarga baik secara spiritual, relasional, maupun sosial.
6. Bercermin dari hidup Keluarga Kudus Nazaret, keluarga Katolik dihayati sebagai
ladang sukacita Injil yang paling subur, tempat Allah menabur, menyemai, dan
mengembangkan benih-benih sukacita Injil. Di dalam keluarga, suami istri dan anakanak saling mengasihi, membutuhkan, dan melengkapi. Kesabaran, pengertian, dan
kebersamaan saat makan, doa, dan pergi ke gereja adalah wujud nyata kasih sayang
tersebut. Kasih yang dibagikan tidak pernah habis, tetapi justru meningkatkan
sukacita dalam keluarga. Oleh karena itu, ketika para anggota keluarga terpaksa

halaman 5

terpisah dari pasangan atau dari anak-anak karena alasan pekerjaan atau sekolah,
mereka berusaha mencari cara bagaimana kasih satu sama lain tetap dapat terjalin
dan keutuhan keluarga dapat diwujudkan.
7. Sukacita keluarga dialami secara spiritual dalam hubungan dengan Allah melalui
kegiatan rohani sehingga kerinduan akan Sabda Allah tumbuh, iman makin tangguh,
kepasrahan meningkat, dan pengalaman dicintai Allah dirasakan. Sukacita keluarga
dialami secara relasional saat menjalin perjumpaan dan kebersamaan hidup yang
bermutu, mempererat relasi kasih, saling memaafkan, menunjukkan sikap tenggangrasa dan keberanian berkorban, serta sadar akan tanggungjawab pada generasi
selanjutnya. Sukacita keluarga dialami secara sosial melalui kepedulian terhadap
orang lain, pelayanan tulus terhadap sesama, pekerjaan sesuai panggilan, dan
keteladanan hidup. Sukacita makin sempurna saat keluarga disapa dan diteguhkan
oleh Gereja dalam pelayanannya.
8. Sukacita yang dinikmati di dalam keluarga juga menjadi kekuatan untuk mengasihi
Allah dan sesama melalui pelayanan di Gereja dan masyarakat tanpa
memperhitungkan perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan serta
kepentingan material. Keyakinan ini diteruskan kepada anak-anak lewat pendidikan
iman yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan agar mereka mencintai Allah
dan sesama.
Tantangan Keluarga dalam Memperjuangkan Sukacita Anglia
9. Sukacita dialami oleh keluarga yang mewujudkan rencana Allah atas perkawinan
dan keluarganya. Sebagian keluarga membutuhkan perjuangan lebih karena
menghadapi aneka tantangan dan kelemahan. Tantangan itu antara lain: kesulitan
ekonomi, situasi sosial, budaya, agama dan kepercayaan yang tidak selaras dengan
nilai-nilai perkawinan Katolik seperti poligami, mahalnya mas kawin, dan kuatnya
tuntutan pernikahan adat, hidup sebagai keluarga migran atau rantau,
perkembangan media informasi yang menggantikan perjumpaan pribadi, dan
pemujaan kebebasan dan kenikmatan pribadi. Kelemahan itu antara lain: kekurangdewasaan pribadi dan kepicikan wawasan, penyakit dan meninggalnya pasangan,
keterbatasan kemampuan orang tua untuk mengikuti perkembangan dan pendidikan
anak-anak, ketidak-tahuan tentang makna dan tujuan perkawinan Katolik, kesulitan
dan ketidakmampuan untuk hidup bersama karena perbedaan agama dan budaya,
hidup dalam perkawinan tidak sah, ketidak-setiaan dalam perkawinan, hadirnya
orang ketiga (idaman lain atau keluarga besar pasangan), dan perpisahan yang tak
terelakkan. Tantangan dan kelemahan ini menyebabkan perasaan terbeban, bingung,
sedih, sepi, dan bahkan putus asa bagi anggota keluarga. Tantangan dan kelemahan
itu bisa membawa keluarga pada krisis iman yang merintangi, membatasi, dan
bahkan menghalangi keluarga untuk setia kepada iman Katolik dan untuk menghidupi
nilai-nilai luhur perkawinan.
10. Di tengah pergumulan memperjuangkan sukacita Injil, keluarga mesti datang
penuh kerendahan-hati untuk dikuduskan oleh Allah yang berbelas-kasih yang
melampaui kelemahan dan kedosaan manusia. Pembelaan Allah yang begitu besar ini
merupakan sukacita yang patut disadari dan disyukuri. Kekudusan keluarga
merupakan rahmat sekaligus tugas bagi keluarga untuk dipertahankan. Oleh
karenanya, keluarga diundang untuk bersikap dewasa, bertindak bijaksana, dan tetap

halaman 6

beriman dengan tidak menyalahkan situasi, tetapi setia mencari kehendak Allah
melalui doa dan Sabda Allah, mengutamakan pengampunan dan peneguhan di antara
anggota keluarga, serta pergi menjumpai pribadi atau komunitas beriman yang
mampu membangkitkan harapan. Keluarga yang mengandalkan Allah percaya bahwa
Allah tidak pernah meninggalkannya. Selalu ada jalan keluar. Tantangan adalah
kesempatan untuk bertumbuh dalam kepribadian serta iman, harapan, dan kasih.
Tantangan justru tak harus menyuramkan nilai-nilai perkawinan dan hidup
berkeluarga. Melalui tantangan itu, Allah mengerjakan karya keselamatanNya di
dalam dan melalui keluarga.
11. Gereja terpanggil untuk bersama-sama mencari, menyapa, mendengarkan dan
bersehati dengan keluarga yang sedang menghadapi tantangan, termasuk mereka
yang tidak sanggup mempertahankan nilai-nilai hidup perkawinan dan keluarga. Di
sinilah Gereja hadir untuk menampilkan wajah Allah yang murah hati dan berbelas
kasih, terutama bagi keluarga yang berada dalam situasi sulit. Dalam kemurahan dan
belas kasih Allah, keluarga-keluarga tidak akan mengalami kebuntuan dalam
perjalanannya meraih kebahagiaan.
Gerak Bersama: Membangun Ecclesia Domestica di Indonesia
12. Keluarga merupakan buah dan sekaligus tanda kesuburan adikodrati Gereja
serta memiliki ikatan mendalam, sehingga keluarga disebut sebagai Gereja RumahTangga (ecclesia domestica). Sebutan ini sudah pasti memperlihatkan eratnya
pertalian antara Gereja dan keluarga, tetapi juga menegaskan fungsi keluarga
sebagai bentuk terkecil dari Gereja. Dengan caranya yang khas keluarga ikut
mengambil bagian dalam tugas perutusan Gereja, yaitu karya keselamatan
Allah. (Pedoman Pastoral Keluarga KWI 2010, No 6). Sebagai Gereja RumahTangga, keluarga menjadi pusat iman, pewartaan iman, pembinaan kebajikan, dan
kasih kristiani dengan mengikuti cara hidup Gereja Perdana (Kis 2: 41-47; 4: 32-37).
Gereja Rumah-Tangga mengambil bagian dalam tiga fungsi imamat umum Yesus
Kristus, yaitu guru untuk mengajar, imam untuk menguduskan, dan gembala untuk
mempimpin. Gereja Rumah-Tangga di Indonesia dibangun berdasarkan nilai-nilai
kristiani yang diwujudkan dalam masyarakat yang majemuk.
13. Dalam reksa pastoral keluarga, Gereja mesti berangkat dari keprihatinan dan
tantangan keluarga zaman ini yang semuanya membutuhkan kerahiman Allah. Gereja
dipanggil untuk menunjukkan wajah Allah yang murah hati dan berbelas kasih
melalui pelayanan, terutama kepada mereka yang paling lemah, rapuh, terluka, dan
menderita. Kerahiman Allah tidak pernah bertentangan dengan keadilan dan
kebenaran, tetapi bergerak melampauinya karena Allah adalah kasih (1Yoh 4: 8).
14. Demi menggiatkan pastoral keluarga yang berbelas kasih dan penuh kerahiman,
Gereja dipanggil melakukan pertobatan pastoral secara menyeluruh. Pertobatan
dimulai pelayan-pelayan pastoral yang berkarya dalam pelbagai lembaga pelayanan.
Dengan demikian, pastoral keluarga dapat menanggapi persoalan keluarga secara
tepat. Untuk itu,
a. Pedoman Pastoral Keluarga KWI yang diterbitkan tahun 2010 harus diperhatikan
dan dilaksanakan;
b. Reksa pastoral keluarga terpadu dan berjenjang mulai dari persiapan perkawinan
sampai pada pendampingan keluarga pasca nikah, termasukpertolongan pada

halaman 7

keluarga dalam situasi khusus harusdibentuk dan dihidupkan kembali;


c. Katekese keluarga harus dikembangkan;
d. Kebijakan dan koordinasi perangkat pastoral keluarga baik di tingkat KWI, regio,
keuskupan, maupun paroki harus ditegaskan dan disosialisasikan;
e. Keuskupan-keuskupan se-Indonesia harus bekerja sama dan solider dalam sumber
daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta keuangan;
f. Pelayanan perangkat pastoral seperti Komisi Keluarga dan Tribunal Gerejawi harus
mendapat perhatian dan diberdayakan;
g. Lembaga dan pelayan pastoral keluarga, termasuk kelompok-kelompok kategorial
dan pemerhati keluarga serta para ahli harus diikutsertakan;
h. Komunitas basis keluarga dan institusi pendidikan katolik harus dilibatkan;
i. Ekonomi keluarga harus ditingkatkan melalui lembaga-lembaga ekonomi dan
keuangan;
j. Data-data yang berkaitan dengan kepentingan pastoral keluarga harus
dimanfaatkan;
k. Lembaga Hidup Bakti harus diikut-sertakan dalam pastoral keluarga dengan tetap
menghormati kekhasan karismanya.
Dalam gerak bersama tersebut, kita perlu juga terbuka untuk bekerja-sama dengan
lembaga swadaya masyarakat, lembaga adat, lembaga keagamaan, dan bahkan
pemerintah.
15. Keluarga Katolik dipanggil untuk mewartakan sukacita Injil dengan kesaksian
hidupnya dan kepeduliannya kepada keluarga-keluarga lain. Dengan demikian,
keluarga sungguh menjadi Gereja Rumah-Tangga yang tidak terkungkung dalam
dirinya sendiri, tetapi menjalankan tugas perutusannya dalam memajukan Gereja dan
menyejahterakan masyarakat (bdk. Familiaris Consortio 42).
Penutup
16. Kekayaan pengalaman dan aneka diskusi selama SAGKI 2015 tak mungkin
dirangkum seluruhnya dalam rumusan hasil Sidang ini. Namun, kesaksian keluarga,
diskusi kelompok, peneguhan dari ahli, kebersamaan, dinamika kerja panitia, dan
kreasi bersama tim animasi dalam SAGKI tetap akan terdokumentasikan dalam
bentuk buku, video, dan foto. Kita semua yakin bahwa para peserta SAGKI IV inilah
yang sepantasnya berperan sebagai dokumen dan saksi hidup yang kaya akan
pengalaman sukacita Injil dalam keluarga.
17. Pada akhir Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia ini, marilah kita semakin
percaya bahwa Allah menjumpai para anggotanya untuk membimbingnya menuju
kesempurnaan kasih dan kepenuhan hidup kristiani. Kita bersyukur kepada Allah
karena keluarga Katolik mengalami sukacita baik dalam kesetiaan perkawinannya
maupun dalam perjuangan menghadapi tantangan. Kita percaya bahwa Roh Kudus
menyertai keluarga memelihara dan merawat kesuciannya. Kita turut prihatin
bersama keluarga yang berada dalam situasi sulit. Semoga Gereja sebagai sumber air
hidup dapat menjadi Guru bijaksana dan Ibu pemberi harapan bagi keluarga.
Keluarga Kudus Nazaret, doakanlah kami untuk mewujudkan keluarga Katolik yang
memancarkan sukacita Injil!
Cimacan, 6 November 2015

KOMUNI PERTAMA
KATEKESE

SEKSI
OTA

PDKK

Telah dibuka Pendaftaran Penerimaan Komuni Pertama.


Pengambilan formulir di Sekretariat Paroki Setiap jam kerja
dan dikumpulkan di Ketua lingkungan Masing-masing.
Pendaftaran akan ditutup 29 November 2015
Dimohon agar data orang asuh dan anak asuh yang sudah
terkumpul dari masing-masing lingkungan, dikumpulkan ke
sekretariat paroki. Mohon diserahkan di dalam amplop tertutup
dan ditulis OTA pada amplopnya.
PDKK St. Thomas mengundang Bpk/Ibu dan Orang Muda Katolik
untuk merasakan kasih Allah dalam persekutuan doa dengan
Tema
: Roh Kudus Berkaryalah
Pembicara : RD. CH. Tri Harsono (Vikaris Jendral Keuskupan
Bogor)
Hari
: Rabu, 25 November
Waktu
: 19.30 November di Aula Bawah.

PAROKI

Donor Darah hari Minggu, 29 November pukul 09.00-12.00


di Aula Paroki
Posko Panitia Natal di depan Aula setelah Misa pukul 06.00
dan 08.00 s/d pukul 11.00
Pembekalan Pemandu AAP hari Sabtu, 21 November pukul
20.00 di Aula Bawah. Setiap Lingkungan wajib mengirimkan
2 pemandu.

Panitia

ADVEN
&
NATAL STASI

Pembekalan Pemandu AAP hari Minggu, 22 November


pukul 10.00 di Sekolah Maria Sukatani
Pengumpulan Sembako hari Minggu tgl 15 Nov s/d 6 Des 2015

Pengumuman Perkawinan
#1

Christian Genereus Gevenshy Silalahi dari Paroki St. Barnabas Pamulang dengan
Parsaulian Serevina Paramita Sinaga dari Depok
Vincent Surjana Sidjaja dari Cilandak dengan Catrerine Puspita Sari dari
Lingkungan Bunda Penebus

#3

Antonius Dimas Nugroho Riadji dari Paroki Ratu Rosari Lenteng Agung dengan
Natalia Haribudiyani dari lingkungan St. Yulius
Fransiscus Yuli Siswoko dari Lingkungan St. Nikolas dengan Benedicta Eva Lina
Pratiwi dari Paroki St. Aloysius Gonzaga Cijantung

#2

halaman 8

Bagi umat yang mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut;
WAJIB memberitahukan kepada Pastor Paroki.