Anda di halaman 1dari 12

BAB I

LATAR BELAKANG
Hemodinamik yang berarti harfiah "gerakan darah" adalah studi tentang
darah aliran atau sirkulasi. Semua sel membutuhkan oksigen (O2) untuk konversi
karbohidrat, lemak dan protein menjadi karbon dioksida (CO2). Sistem peredaran
darah berfungsi untuk mengangkut darah untuk memberikan O2, nutrisi dan
bahan kimia kesel-sel tubuh, untuk memastikan kesehatan mereka dan fungsi
yang tepat, dan untuk menghapus produk limbah selular.
Para Sistem sirkulasi adalah seri terhubung tabung, yang meliputi jantung,
yang arteri, yang mikrosirkulasi dan vena. Hemodinamik merupakan bagian
penting dari fisiologi kardiovaskular berhubungan dengan kekuatan pompa
(jantung) telah mengembangkan untuk mengedarkan darah melalui sistem
kardiovaskular. Sirkulasi darah yang memadai (alirandarah) adalah kondisi yang
diperlukan untuk suplai oksigen yang cukup ke seluruh jaringan, ini identik dengan
kesehatan jantung.
Pemantauan hemodinamik dibagi menjadi dua yaitu, infasif dan non
infasif.

BAB II
PEMBAHASAN

a. Pengertian
Hemodinamik adalah aliran darah dalam system peredaran tubuh
kita baik melalui sirkulasi magna (sirkulasi besar) maupun sirkulasi parva
( sirkulasi dalam paru-paru). Hemodinamik monitoring adalah pemantauan
dari hemodinamik status.Pentingnya pemantauan terus menerus terhadap
status hemodinamik, respirasi, dan tanda-tanda vital lain akan menjamin
early detection bisa dilaksanakan dengan baik sehingga dapat mecegah
pasien jatuh kepada kondisi lebih parah.
Hemidinamik status adalah indeks dari tekanan dan kecepatan
aliran darah dalam paru dan sirkulasi sistemik. Pasien dengan gagal
jantung, overload cairan, shock, hipertensi pulmonal dan banyak kasus lain
adalah pasien dengan masalah perubahan status hemodinamik. Dalam hal
ini, Kritikal Care Nurse bukan hanya dituntut mampu mengoperasikan alat
pemantauan

hemodinamik

saja

melainkan

harus

mampu

menginterpretasikan hasilnya.
b. .Faktor Penentu Hemodinamik
1. Pre load : menggambarkan tekanan saat pengisian atrium kanan
selama diastolic digambarkan melalui Central Venous Pressure
(CVP). Sedangkan pre l oad ventricle kiri digambarkan melalui
Pulmonary Arterial Pressure (PAP).
2. Contractility : menggambarkan kekuatan otot jantung untuk
memompakan darah ke seluruh tubuh.
3. After load : menggambarkan kekuatan/tekanan darah yang
dipompakan oleh jantung. After load dipengaruhi oleh sistemik
vascular resistance dan pulmonary vascular resistance.
c. Monitoring Hemodinamik
Melalui monitoring beberapa parameter di bawah ini dapat
diketahui

bagaimana

perfusi

sistemik

seorang

pasien

yang

menggambarkan status hemodinamiknya. Non infasif dapat dikaji status


hemodinamik melalui monitoring EKG, denyut nadi, Non infasif BP,
status mental, pulse oksimetri dan produksi urine. Infasif, dapat
Pemantauan tekanan melalui penempatan beberapa kateter ke dalam sistim
sirkulasi yang bertujuan untuk secara terus menerus atau intermiten
memantau tekanan intra arterial, intra cardial, tekanan arteri pulmonal dan
parameter oksigenasi.
Informasi ini dimanfaatkan untuk mengetahui dan mengenali
dengan pasti dan memperoleh hasil pengkajian yang akurat untuk
mengenali adanya perubahan sirkulasi yang serius pada pasien pasien
kritis.
1. Blood Pressure (Tekanan Darah)
Dua macam cara pemantauan tekanan darah yang kita kenal.
Pemantauan darah Non Invasive(cuff pressure) dan Invasive Blood
Pressure(arterial pressure)
a. Non Invasive Blood Pressure (NIBP)
Teknik pengukuran darah dengan menggunakan cuff atau
manset, baik secara manual maupun menggunakan mesin
sebagaimana bedsidemonitor yang ada di unit pelayanan Intensif.
Ukuran manset harus disesuaikan dengan besarnya lengan pasien,
karena ketidak sesuaian ukuran manset akan mengurangi validitas
hasil pengukuran. Data status hemodinamik yang bisa didapatkan
adalah tekanan sistolik, tekanan diastolic, dan tekanan rata-rata
arteri (Mean Arterial Pressure=MAP).
Sistolik pressure adalah tekanan darah maksimal dari
ventrikel kiri saat systole. Diastolic pressure adalah gambaran dari
elastisitas pembuluh darah dan kecepatan darah saat dipompakan
dalam arteri. MAP adalah tekanan rata-rata arteri, menggambarkan
perfusi rata-rata dari peredaran darah sistemik. Sangat penting bagi
kita untuk mempertahankan MAP diatas 60 mmHg, untuk
menjamin perfusi otak, perfusi arteria coronaria, dan perfusi ginjal
tetap terjaga.

HEMODINAMIK PRESSURE VALUE


VALUE ABBREVIATION

DEFINITION

NORMAL
RANGE

Tekanan rata-rata 70-90 mmHg


yang dihasilkan
oleh tekanan darah
arteri disaat akhir
cardiac cycle

FORMULA

Mean
Arterial
Pressure

MAP

Cardiac out
put

CO

Banyaknya darah 5-6 L/min(at HRXStroke


yang dipompakan
rest)
volume
oleh ventrikel
dalam satu menit.

Stroke
Volume

SV

Banyaknya darah
yang dipompakan
oleh ventrikel di
setiap kali
denyutan

60-130ml

COHR
X 1000

Central
Venous
pressure

CVP

Tekanan yang
dihasilkan oleh
volume darah di
dalam jantung
sebelah kanan

6-12 cm
H2O4-15
mmHg

Hasil
pengukuran

b. Invasive Blood Pressure (IBP)


Pengukuran tekanan darah secara invasive dapat dilakukan
dengan

melakukan

insersi

kanule

ke

dalam

arteri

yang

dihubungkan dengan tranduser. Tranduser ini akan merubah


tekanan hidrostatik menjadi sinyal elektrik dan menghasilkan

(2xD) +
1S/3

tekanan sistolik, diastolic, maupun MAP pada layar monitor. Setiap


perubahan dari ketiga parameter diatas, kapanpun,dan berapapun
maka akan selalu muncul dilayar monitor.
Ketika terjadi vasokonstriksi berat, dimana stroke volume
sangat lemah, maka pengukuran dengan cuff tidak akurat lagi.
Maka disinilah penggunaan IBP sangat diperlukan. Pada kondisi
normal, IBP lebih tinggi 2-8 mmHg dari NIBP. Pada kondisi sakit
kritis bisa 10-30 mmHg lebih tinggi dari NIBP.
Manfaat

pemantauan

infasif

Hemodinamik

Monitor

untuk

mengukur tekanan darah, mengetahui gelombang tekanan di dalam ruang


jantung, tempat pengambilan sampel darah arterit, tempat memasukan obat
obatan, pacu jantung.
a. Komponen Infasif hemodinamik Monitoring
1) Ada cateter/canule yang masuk ke ruang jantung (Swanz Gand
Cateter) atau pembuluh darah ( Central Venous Cateter atau Arteri
line canule )
2)

Manometer yang dihubungkan langsung dengan tranduser /


langsung ke kateter

3) Tranduser dan monitor: Tranduser merupakan Suatu alat yang


mampu mengubah data dari tekanan yang diterima menjadi sebuah
gelombang atau angka pada display monitor.
b. Parameter Infasif Hemodinamik Monitoring
1) Tekanan Vena Central / CVP
2) Tekanan arteri

3) Arteri pulmonal (PAP )


4) Kapiler arteri pulmonal (PCWP)
5) Atrium kanan
6) Atrium kiri
7) Cardiac output / CO
8) Cardiac Index /CI
9) SVO2
c. Keuntungan pemantauan secara Infasif
1) Lebih akurat dan dapat dibaca secara continue
2) Perubahan tekanan kecil dapat dideteksi
3) Tercapainya optimalisasi terapi
4) Pengambilan sampel darah mudah
5) Hemat waktu
6) Bentuk gelombang dapat dilihat melalui sistim tranduser
d. Kerugian pemantauan secara Infasif
1) Resiko komplikasi
2) Butuh tenaga dan skill khusus
3) Kadang menunjukan hasil yang berbeda dengan kondisi klinis
pasien

Modalitas yang harus dikuasai untuk mampu memahami Infasif


hemodinamik adalah memahami konsep dasar hemodinamik, yaitu :
1. Pre load
2. Afterload
3. Contraktility
2. Central Venous Pressure (CVP)
Merupakan pengukuran langsung dari atrium kanan, tekanan di
vena kava superior, memperoleh informasi tentang volume cairan dan
darah, preload di jantung kanan, fungsi ventrikel kanan, venous return.
Central venous pressure mencerminkan preload ventrikel kanan dan
kapasitas vena, sehingga dapat diketahui volume pembuluh darah atau
cairan dan efektifitas jantung sebagai pompa. CVP adalah pengukuran
tekanan di vena cava superior atau atrium kanan.
1. Ada 2 cara memantau CVP
a. Bergabung bersama kateter swans ganz (pengukuran dengan
pressurized system/tranduser)
b. Mengunakan Central Venous cateter ( Water manometer )
2.

Indikasi Monitoring
(a) Gangguan volume sirkulasi darah, tetapi fungsi kardio
pulmoner relative normal.
(b) Therapi cairan pada paska perdarahan, bedah trauma, sepsis,
kondisi emergency dengan kekurangan cairan dan komponen
darah.

3. Pengukuran
(a) Apabila menggunakan Pressure tranduser, maka dalam satuan
millimeter of mercury (mmHg). Nilai normal CVP 3-11mmHg.
(b) Apabila menggunakan Water manometer, maka dalam satuan
centimeter air (cmH2O). Nilai normal 4-15 cmH2O.
Untuk merubah dari mmHg cm H2O adalah
mmHg X 1,36 = ..cmH2O
Sebaliknya untuk merubah dari cmH2O mmHg adalah
cmH2O 1,36 = mmHg
pasien dengan nilai CVP rendah, artinya Hipovolemik
pasien dengan CVP tinggi artinya overload cairan.
4. Komplikasi
(a) Hematothorax
(b) Pneumothorax
(c) Nerve injury
(d) Arterial puncture
(e) Thorxic duct perforation
(f) Infeksi local/sistemik
(g) Thrombosis
(h) Emboli udara

d. Phlebostatik Axis
Phlebostatik axis adalah mengatur posisi tidur pasien dengan posisi
head-up 30Hal yang penting dalam pengukuran CVP adalah menjaga
kesetabilan dan konsistensi ZERO POINT (titik nol).zero point
menggambarkan posisi atrium, yaitu pada garis mid axilla intercosta
keenam.

e. Daerah pemasangan
1)
2)
3)
4)

Vena subclavia
Vena jugularis
Vena antecubital
Vena femoralis

f. Prosedur pemasangan
Persiapan alat
1) Catheter vena central
2) Cairan NaCl 0,9 %
3) Heparin
4) Lidocain 2%
5) Spuit 3cc, 10cc
6) Cairan antiseptic
7) Duk lubang kecil
8) Kapas alcohol
9) Kassa steril
10) Gunting
11) Benang dan jarum
12) Manometer / tranduser monitor
13) Standar infuse
14) Threeway stop-cock
15) Masker, sarung tangan steril, skort
g. Pelaksanaan
1) Cuci tangan
2) Persiapan alat
3) Jelaskan prosedur pada pasien
4) Siapkan pasien pada posisi telentang (supine)
5) Desinfeksi daerah pemasangan
6) Lakukan anestesi local, masukkan kateter dengan teknik aseptic
sampai mencapai muara vena cava superior(dilakukan oleh dokter
yang kompeten)
7) Hubungkan kateter dengan manometer

8) Fiksasi kateter , dan tutup dengan kasa steril pada daerah insersi
9) Paska tindakan : lakukan foto thoraks untuk mengetahui posisi kateter,
awasi KU pasien, dan adanya tanda-tanda komplikasi
10) Perhatikan adanya undulasi yang sesuai dengan respirasi pasien
(posisi kateter benar), undulasi menyamai denyut nadi berarti posisi
kateter terlalu dalam.
Prosedur pengukuran dengan Manometer air
1) Cuci tangan
2) Jelaskan prosedur kepada pasien
3) Posisikan pasien pada phlebostatik axis dan tentukan pasisi
Zero pointnya

4) Pindahkan jalur infuse dari pasien ke manometer dengan


menutup jalur ke pasien pada threeway

5) Setelah air pada manometer sampai pada puncak,


pindahkan jalur cairan infuse dari manometer ke pasien
dengan menutup jalur dari flabot infuse

6) Tunggu hingga cairan pada manometer tidak lagi bergerak


turun. Nilai CVp adalah tingginya air dalam manometer saat
air berhenti.

7) Catat nilai CVP pada lembar observasi

Penyebab perubahan tekanan intra cardial


CVP
Penyebab Nilai CVP

Penyebab Nilai CVP

Volume overload yang disebabkan


kelebihan cairan, gagal ventricle
kanan, cardiomyopaty, infark RV,
emboli paru, COPD, sepsis, ARDS,
MI/MS

Efussi , cardiac tamponade

Hipertensi pulmonal

Pemberian PEEP

Pneumothorax

Ascites

Hipertensi

Hipovolemia

Shock

Doble lument CVC

pemasangan CVP pada vena femoralis dextra


Referensi:

pemasang CVP pada subclavia inistras

1. Lantajo Rommel,RN,CCRN. Hemodinamic Made Easy,


http://www.criticalcarewizzard.com
2. you tub cardiac contraction, Nationwide children`s Hospital.

3.
J. Christopher Farmer, MD, FCCM. Pocket Advisor ICU Management
Authors Department of Medicine
Division of Pulmonary and Critical Care Medicine Mayo Clinic
Rochester, M
4.
Punit Ramrakha, Oxford Handbook of Acute Medicine, 2nd Ed Oxford
University Press
5. The ICU Book of Paul Morino

6.

Lippincott Manual of Nursing Practice: Procedures, 2nd Ed