Anda di halaman 1dari 28

Pengertian Stress

Tulisan 2 / Kesehatan Mental

Nama: Dedeh Herdiyani

Npm : 10507049 / 2PA01

Stress
Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk
ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress
dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan
mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik
maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di
akibatkan karena stress, disebut strain.
Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang
menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana
untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan
apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri
adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang
karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat
mengganggu pelaksanaan kerja mereka.
Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system
kognitif, apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar
kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang
kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu
sendiri.Karenanya dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi dari ancaman
atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang menggerakkan,
menyiagakan atau mambuat aktif organisme.
Sedangkan menurut Handoko (1997), stress adalah suatu kondisi ketegangan
yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stress yang
terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi
lingkungannya.
Arti Penting Strees :
Stress menurut Hans Selye 1976 merupakan respon tubuh yang bersifat tidak
spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian
tersebut dapat dikatakan stress apabila seseorang mengalami beban atau tugas
yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi tugas yang dibebankan
itu, maka tubuh akan berespon dengan tidak mampu terhadap tugas tersebut,
sehingga orang tersebut dapat mengalami stress. Respons atau tindakan ini
termasuk respons fisiologis dan psikologis.
v Efek-efek stress menurut Hans selye :
Stress dapat menyebabkan perasaan negatif atau yang berlawanan dengan apa
yang diinginkan atau mengancam kesejahteraan emosional. Stress dapat

menggangu cara seseorang dalam menyerap realitas, menyelesaikan masalah,


berfikir secara umum dan hubungan seseorang dan rasa memiliki. Terjadinya
stress dapat disebabkan oleh sesuatu yang dinamakan stressor,stressor ialah
stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan. Stressor secara umum
dapat diklasifikasikan sebagai stressor internal atau eksternal.Stressor internal
berasal dari dalam diri seseorang (mis. Kondisi sakit,menopause, dll ). Stressor
eksternal berasal dari luar diri seseorang atau lingkuangan (mis. Kematian
anggota keluarga, masalah di tempat kerja, dll ).
v Faktor-faktor individual dan sosial yang menjadi penyebab stress :
Sumber-sumber stress didalam diri seseorang : Kadang-kadang sumber stress
itu ada didalam diri seseorang. Salah satunya melalui kesakitan. Tingkatan stress
yang muncul tergantung pada rasa sakit dan umur inividu(sarafino,1990). Stress
juga akan muncul dalam seseorang melalui penilaian dari kekuatan motivasional
yang melawan, bila seseorang mengalami konflik. Konflik merupakan sumber
stress yang utama.
Sumber-sumber stress di dalam keluarga : Stress di sini juga dapat bersumber
dari interaksi di antara para anggota keluarga, seperti : perselisihan dalam
masalah keuangan, perasaan saling acuh tak acuh, tujuan-tujuan yang saling
berbeda dll. Misalnya : perbedaan keinginan tentang acara televisi yang akan
ditonton, perselisihan antara orang tua dan anak-anak yang menyetel tape-nya
keras-keras, tinggal di suatu lingkungan yang terlalu sesak, kehadiran adik baru.
Khusus pada penambahan adik baru ini, dapat menimbulkan perasaan stress
terutama pada diri ibu yang selama hamil (selain perasaan senang, tentu), dan
setelah kelahiran. Rasa stress pada ayah sehubungan dengan adanya anggota
baru dalam keluarga, sebagai kekhawatiran akan berubahnya interaksi dengan
ibu sebagai istrinya atau kekhawatiran akan tambahan biaya. Pra orang tua yang
kehilangan anak-anaknya atau pasanganya karena kematian akan merasa
kehilangan arti (sarafino,1990).
Sumber-sumber stress didalam komunitas dan lingkungan : interaksi subjek
diluar lingkungan keluarga melengkapi sumber-sumber stress. Contohnya :
pengalaman stress anak-anak disekolah dan di beberapa kejadian kompetitif,
seperti olahraga. Sedangkan beberapa pengalaman stress oang tua bersumber
dari pekerjaannya, dan lingkungan yang stressful sifatnya. Khususnya
occupational stress telah diteliti secra luas.
Pekerjaan dan stress : Hampir semua orang didalam kehidupan mereka
mengalami stress sehubungan denga pekerjaan mereka. Tidak jarang situasi
yang stressful ini kecil saja dan tidak berarti, tetapi bagi banyak orang situasi
stress itu begitu sangat terasa dan berkelanjutan didalam jangka waktu yang
lama. Faktor-faktor yang membuat pekerjaan itu stressful ialah :
1.
Tuntutan kerja : pekerjaan yang terlalu banyak dan membuat orang bekerja
terlalu keras dan lembur, karena keharusan mengerjakannya.
2.
Jenis pekerjaan : jenis pekerjaan itu sendiri sudah lebih stressful dari pada
jenis pekerjaan lainnya. Pekerjaan itu misalnya : jenis pekerjaan yang
memberikan penilaian atas penampilan kerja bawahannya (supervisi), guru, dan
dosen.

3.
Pekerjaan yang menuntut tanggung jawab bagi kehidupan manusia :
contohnya tenaga medis mempunyai beban kerja yang berat dan harus
menghadapi situasi kehidupan dan kematian setiap harinya. Membuat kesalahan
dapat menimbulkan konsekuensi yang serius.
Menurut Sarafino (1990) stress kerja dapat disebabkan karena :
a.

Lingkungan fisik yang terlalu menekan

b.

Kurangnya kontrol yang dirasakan

c.

Kurangnya hubungan interpersonal

d.

Kurangnya pengakuan terhadap kemajuan kerja

Stress yang berasal dari lingkungan : lingkungan yang dimaksud disni adalah
lingkungan fisik, seperti : kebisingan, suhu yang terlalu panas, kesesakan, dan
angin badai (tornado,tsunami). Stressor lingkungan mencakup juga stressor
secara makro seperti migrasi, kerugian akibat teknologi modern seperti
kecelakaan lalu lintas, bencana nuklir (Peterson dkk, 1991) dan faktor sekolah
(Graham,1989).
v The General Adaptation Syndrome (GAS)
Dengan bahasa latin, Hans Selye,M.D. menjelaskan tahapan stress ini dan
menyebutkan sebagaiThe General Adaptation Syndrome (GAS), menurut Selye
GAS juga terdiri dari 3 tahap :
1.
Reaksi terkejut (alarm reaction) ketika tubuh mulai mendeteksi stimulus
dari luar
2.
Adaptasi (adaptation) ketika mengeluarkan perangkat pertahanan melawan
sumber stress (stressor).
3.

Kelelahan (exhaustion) ketika tubuh mulai kehabisan daya pertahanannya.

v Tipe-tipe stress :
1.
Tekanan : hasil hubungan antara peristiwa-peristiwa persekitaran dengan
individu. Paras tekanan yang dihasilkan akan bergantung kepada sumber
tekanan dan cara individu tersebut bertindak balas. Tekanan mental adalah
sebagian daripada kehidupan harian. Ia merujuk kepada kaedah yang
menyebabkan ketenangan individu terasa di ancam oleh peristiwa persekitaran
dan menyebabkan individu tersebut bertindak balas. Anda boleh mengalami
tekanan ketika di tempat kerja, menyesuaikan diri dengan persekitaran baru,
atau melalui hubungan sosial. Tekanan mental yang sederhana boleh menjadi
pendorong kepada satu-satu tindakan dan pencapaian tetapi kalau tekanan
mental anda itu terlalu tinggi, ia boleh menimbulkan masalah sosial dan
seterusnya menggangu kesehatan anda.
2.
Frustasi : adalah suatu harapan yang diinginkan dan kenyataan yang
terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan.
3.
Konflik : Berasal dari kata kerja latin configere yang berarti saling memukul.
Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang
atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha

menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak


berdaya.
4.
Kecemasan : Banyak pengertian/definisi yang dirumuskan oleh para ahli
dalam merumuskan pengertian tentang kecemasan. Beberapa ahli yang
mencoba untuk mengemukakan definisi kecemasan, antara lain :

Maramis (1995) menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu ketegangan,


rasa tidak aman, kekhawatiran, yang timbul karena dirasakan akan mengalami
kejadian yang tidak menyenangkan.

Lazarus (1991) menyatakan bahwa kecemasan adalah reaksi individu


terhadap hal yang akan dihadapi. Kecemasan merupakan suatu perasaan yang
menyakitkan, seperti kegelisahan, kebingungan, dan sebagainya, yang
berhubungan dengan aspek subyektif emosi. Kecemasan merupakan gejala yang
biasa pada saat ini, karena itu disepanjang perjalanan hidup manusia, mulai lahir
sampai menjelang kematian, rasa cemas sering kali ada.

Saranson dan Spielberger (dalam Darmawanti 1998) menyatakan bahwa


kecemasan merupakan reaksi terhadap suatu pengalaman yang bagi individu
dirasakan sebagai ancaman. Rasa cemas adalah perasaan tidak menentu, panik,
takut, tanpa mengetahui apa yang ditakutkan dan tidak dapat menghilangkan
perasaan gelisah dan rasa cemas tersebut.

Tjakrawerdaya (1987) mengemukakan bahwa kecemasan atau anxietas


adalah efek atau perasaan yang tidak menyenangkan berupa ketegangan, rasa
tidak aman dan ketakutan yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu
yang mengecewakan tetapi sumbernya sebagian besar tidak disadari oleh yang
bersangkutan.

v Pendekatan problem solving terhadap stress

Strategi koping yang spontan mengatasi strees :


Dukungan sosial dan konsep-konsep terkait : beberapa penulis meletakkan
dukungan sosial terutama dalam konteks hubungan yang akrab atau kualitas
hubungan (Winnubst dkk,1988). Menurut Robin & Salovey (1989) perkawinan
dan keluarga barangkali merupakan sumber dukungan sosial yang penting.
Akrab adalah penting dalam masalah dukungan sosial, dan hanya mereka yang
tidak terjalin suatu keakraban berada pada resiko. Para ilmuan lainnya
menetapkan dukungan sosial dalam rangka jejaring sosial. Wellman(1985)
meletakkan dukungan sosial didalam analisis jaringan yang lebih longgar :
dukungan sosial yan hanya dapat dipahami kalau orang tahu tentang struktur
jaringan yang lebih luas yang didalamnya seorang terintegrasi. Segi-segi
struktural jaringan ini mencangkup pengaturan-pengaturan hidup, frekuensi
kontak, keikutsertaan dalam kegiatan sosial, keterlibatan dalam jaringan sosial
(Ritter,1988). Rook (1985) menganggap dukungan sosial sebagai satu diantara
fungsi pertalian (atau ikatan) sosial. Segi-segi fungsional mencangkup :
dukungan emosional, mendorong adanya ungkapan perasaan, pemberian
nasehat atau informasi, pemberian bantuan material (Ritter, 1988). Ikatan-

ikatan sosial menggambarkan tingkat dan kualitas umum dari hubungan


interpersonal.
Dukungan sosial sebagai kognisi atau fakta sosial : Dukungan sosial terdiri
dari informasi atau nasehat verbal dan/atau non-verbal, bantuan nyata, atau
tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial atau didapat karena kehadiran
mereka dan mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi pihak
penerimaan(Gottlieb, 1983).
Jenis dukungan sosial :
o Dukungan emosional
o Dukungan penghargaan
o Dukungan instrumental

Dukungan informatif

http://dedeh89-psikologi.blogspot.co.id/2013/04/pengertian-stress.html

v Sumber :
Christian,M.2005.Jinakkan stress.Bandung:Nexx Media
Smet,Bart.1994.Psikologi kesehatan.Jakarta:Gramedia.
http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik
http://www.sioloon.com/t8577-tekanan-mental

Apa itu Stress


Stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses
berpikir dan kondisi seseorang (Handoko, 1997:200). Stress yang terlalu besar
dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungannya.
Sebagai hasilnya, pada diri para karyawan berkembang berbagai macam gejala
stress yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka. Stress dapat juga
membantu atau fungsional, tetapi juga dapat berperan salah atau merusak
prestasi kerja. Secara sederhana hal ini berarti bahwa stress mempunyai potensi
untuk mendorong atau mengganggu pelaksanaan kerja, tergantung seberapa
besar tingkat stress yang dialami oleh karyawan tersebut (Handoko, 1997:201202).
Adapun menurut Robbins (2001:563) stress juga dapat diartikan sebagai suatu
kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu
kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan
atau penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini
maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik
atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri
seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.
Jadi, stress dapat dilihat dari dua sisi yaitu sisi positif dan negatif tergantung dari
sudut pandang mana seseorang atau karyawan tersebut dapat mengatasi tiap

kondisi yang menekannya untuk dapat dijadikan acuan sebagai tantangan kerja
yang akan memberikan hasil yang baik atau sebaliknya.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stress
Kondisi-kondisi yang cenderung menyebabkan stress disebut stressors. Meskipun
stress dapat diakibatkan oleh hanya satu stressors, biasanya karyawan
mengalami stress karena kombinasi stressors.
Menurut Robbins (2001:565-567) ada tiga sumber utama yang dapat
menyebabkan timbulnya stress yaitu :
(1) Faktor Lingkungan
Keadaan lingkungan yang tidak menentu akan dapat menyebabkan pengaruh
pembentukan struktur organisasi yang tidak sehat terhadap karyawan.
Dalam faktor lingkungan terdapat tiga hal yang dapat menimbulkan stress bagi
karyawan yaitu ekonomi, politik dan teknologi. Perubahan yang sangat cepat
karena adanya penyesuaian terhadap ketiga hal tersebut membuat seseorang
mengalami ancaman terkena stress. Hal ini dapat terjadi, misalnya perubahan
teknologi yang begitu cepat. Perubahan yang baru terhadap teknologi akan
membuat keahlian seseorang dan pengalamannya tidak terpakai karena hampir
semua pekerjaan dapat terselesaikan dengan cepat dan dalam waktu yang
singkat dengan adanya teknologi yang digunakannya.
(2) Faktor Organisasi
Didalam organisasi terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan stress
yaitu role demands, interpersonal demands, organizational structure dan
organizational leadership.
Pengertian dari masing-masing faktor organisasi tersebut adalah sebagai
berikut :
a. Role Demands
Peraturan dan tuntutan dalam pekerjaan yang tidak jelas dalam suatu organisasi
akan mempengaruhi peranan seorang karyawan untuk memberikan hasil akhir
yang ingin dicapai bersama dalam suatu organisasi tersebut.
b. Interpersonal Demands
Mendefinisikan tekanan yang diciptakan oleh karyawan lainnya dalam organisasi.
Hubungan komunikasi yang tidak jelas antara karyawan satu dengan karyawan
lainnya akan dapat menyeba bkan komunikasi yang tidak sehat. Sehingga
pemenuhan kebutuhan dalam organisasi terutama yang berkaitan dengan
kehidupan sosial akan menghambat perkembangan sikap dan pemikiran antara
karyawan yang satu dengan karyawan lainnya.
c. Organizational Structure
Mendefinisikan tingkat perbedaan dalam organisasi dimana keputusan tersebut
dibuat dan jika terjadi ketidak jelasan dalam struktur pembuat keputusan atau
peraturan maka akan dapat mempengaruhi kinerja seorang karyawan dalam
organisasi.
d. Organizational Leadership
Berkaitan dengan peran yang akan dilakukan oleh seorang pimpinan dalam
suatu organisasi. Karakteristik pemimpin menurut The Michigan group (Robbins,
2001:316) dibagi dua yaitu karakteristik pemimpin yang lebih mengutamakan
atau menekankan pada hubungan yang secara langsung antara pemimpin
dengan karyawannya serta karakteristik pemimpin yang hanya mengutamakan
atau menekankan pada hal pekerjaan saja.

Empat faktor organisasi di atas juga akan menjadi batasan dalam mengukur
tingginya tingkat stress. Pengertian dari tingkat stress itu sendiri adalah muncul
dari adanya kondisi-kondisi suatu pekerjaan atau masalah yang timbul yang
tidak diinginkan oleh individu dalam mencapai suatu kesempatan, batasanbatasan, atau permintaan-permintaan dimana semuanya itu berhubungan
dengan keinginannya dan dimana hasilnya diterima sebagai sesuatu yang tidak
pasti tapi penting (Robbins, 2001:563).
(3) Faktor Individu
Pada dasarnya, faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam keluarga,
masalah ekonomi pribadi dan karakteristik pribadi dari keturunan. Hubungan
pribadi antara keluarga yang kurang baik akan menimbulkan akibat pada
pekerjaan yang akan dilakukan karena akibat tersebut dapat terbawa dalam
pekerjaan seseorang. Sedangkan masalah ekonomi tergantung dari bagaimana
seseorang tersebut dapat menghasilkan penghasilan yang cukup bagi kebutuhan
keluarga serta dapat menjalankan keuangan tersebut dengan seperlunya.
Karakteristik pribadi dari keturunan bagi tiap individu yang dapat menimbulkan
stress terletak pada watak dasar alami yang dimiliki oleh seseorang tersebut.
Sehingga untuk itu, gejala stress yang timbul pada tiap-tiap pekerjaan harus
diatur dengan benar dalam kepribadian seseorang.

Info Dan Pengertian


Dari Sebuah Catatan Untuk Berbagi Dan Mencoba Dalam Mengetahui Suatu Arti
Dan Makna Yang Di Cari Di Info Dan Pengertian Para Ahli
HOME

Home Manajemen , Pengertian Pengertian Manajemen Stress Menurut Ahli


Pengertian Manajemen Stress Menurut Ahli
No comments

Pengertian Manajemen Stress


Manajemen Stres-Stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi
emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang (Handoko, 1997:200). Stres yang
terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi
lingkungannya.

Sebagai hasilnya, pada diri para karyawan berkembang berbagai macam gejala
Stres yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka. Stres dapat juga
membantu atau fungsional, tetapi juga dapat berperan salah atau merusak
prestasi kerja.

Secara sederhana hal ini berarti bahwa Stres mempunyai potensi untuk
mendorong atau mengganggu pelaksanaan kerja, tergantung seberapa besar
tingkat Stres yang dialami oleh karyawan tersebut (Handoko, 1997:201-202).

Adapun menurut Robbins (2001:563) Stres juga dapat diartikan sebagai suatu
kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu
kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan
atau penghalang.

Dan apabila pengertian Stres dikaitkan dengan penelitian ini maka Stres itu
sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis
seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang
yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka

Jadi, Stres dapat dilihat dari dua sisi yaitu sisi positif dan negatif tergantung dari
sudut pandang mana seseorang atau karyawan tersebut dapat mengatasi tiap
kondisi yang menekannya untuk dapat dijadikan acuan sebagai tantangan kerja
yang akan memberikan hasil yang baik atau sebaliknya.

Manajemen stres adalah kemampuan penggunaan sumber daya (manusia)


secara efektif untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional
yang muncul karena tanggapan (respon). Tujuan dari manajemen stres itu sendiri
adalah untuk memperbaiki kualitas hidup individu itu agar menjadi lebih baik.
(id.wikipedia.org)

Manajemen stres adalah kecakapan menghadapi tantangan dengan cara


mengendalikan tanggapan secara proporsional.
Stres adalah reaksi dari tubuh (respon) terhadap lingkungan yang dapat
memproteksi diri kita dan bagian dari sistem pertahahan yang membuat kita
tetap hidup. (Erica , all-about-stress.com)
Stres sudah ada sejak kita dalam kandungan dan tak pernah lepas dari
kehidupan kita
A. Reaksi Stress
Reaksi fisik, reaksi yang mudah terlihat, sakit kepala, jantung deg-degan, hilang
nafsu makan, tangan dingin dsb.

Reaksi emosi, reaksi sifat ; marah-marah, cemas, mudah tersinggung, pesimis,


dsb.
Reaksi Kognitif, reaksi otak, berpikir negatif, sulit konsentrasi, sulit berpikir, dsb/
Reaksi tingkah laku, reaksi sikap ; menarik diri dari pergaulan, tidur berlebihan,
jadi pendiam, jadi kasar dsb
B. Sumber stres
Tingkat ekstrim pada Stress bisa disebabkan oleh keadaan krisis dan operasional
kantor sehari-hari. Stress karena krisis bisa disebabkan oleh reaksi emosional
terhadap : Kehilangan pribadi, trauma, kegagalan misi,kesalahan manusia,
pemberitaan media

Stress karena operasi sehari-hari bisa disebabkan oleh reaksi emosional terhadap
: Tekanan, tuntutan terhadap karyawan, tanggung jawab peran, kesalah
pahaman, kebutuhan akan perhatian/penghargaan, antagonismen sistem
pemerintah dan pihak berwenang setempat

Secara umum orang berpendapat bahwa jika seseorang dihadapkan pada


tuntutan pekerjaan yang melampaui kemampuan individu tersebut, maka
dikatakan bahwa individu itu mengalami stress kerja.

Namun apakah sebenarnya yang dikategorikan sebagai stress kerja? Menurut


Phillip L. Rice, Penulis buku Stress and Health, seseorang dapat dikategorikan
mengalami stress kerja jika :

Urusan stress yang dialami melibatkan juga pihak organisasi atau perusahaan
tempat individu bekerja.

Namun penyebabnya tidak hanya di dalam perusahaan, karena masalah rumah


tangga yang terbawa ke pekerjaan dan masalah pekerjaan yang terbawa ke
rumah dapat juga menjadi penyebab stress kerja Mengakibatkan dampak
negatif bagi perusahaan dan juga individu Oleh karenanya diperlukan kerja sama
antara kedua belah pihak untuk menyelesaikan persoalan stress tersebut

C. Mencegah Stress
Dapatkan info memadai sebelum bertugas, pupuk kesehatan jasmani dan rohani,
Keluarkan emosi,
Gunakan waktu untuk relaks bersama keluarga (misalnya jangan tunda cuti RnR
didaerah MERAH), ambil cuti bulanan dsb

D. Menyadari Stress
Indikator stres berat jika stres tidak dikelola dengan baik : Apati/lesu, depresi,
tidak bisa tidur, makan berlebihan, penyakit ringan yang kambuhan, tidak
harmonis dalam berteman, merosotnya efisiensi dan produktifitas, konsumsi
alkohol berlebihan dsb.

E. Mengelola Stress
Akui bahwa anda stress :
Jaga kesehatan rohani anda (tetap berdo'a/ mendekatkan diri kepada YANG
MAHA KUASA, keluarkan emosi anda
kendalikan rasa panik, jaga kesehatan fisik dengan baik (berolah raga), tidur
yang cukup, konsumsi makanan bergizi (Vit A, C dan B), Sering istirahat
Relaksasi, Rekreasi dengan orang-orang terdekat (keluarga), Selalu berpikir
positif, Pertimbangkan untuk melakukan konsultasi dengan orang lain atau
psikolog profesional

F. Konsekuensi Yang Ditimbulkan Stres di Tempat Kerja Pada Individu Pekerja dan
Organisasi.
Stres di tempat kerja dapat menimbulkan berbagai konsekuensi pada individu
pekerja. Secara fisiologis, pekerja dengan tingkat stres kerja yang tinggi dapat
mengalami ganguan fisik seperti: sulit tidur, perubahan pada metabolisme,
hilang selera makan, perut mual, tekanan darah dan detak jantung meningkat,
gangguan pernapasan, sakit kepala, telapak tangan yang berkeringat, dan gatalgatal.

Secara psikologis, timbul ketidakpuasan kerja yang diikuti dengan adanya


tekanan pada emosi seperti cemas, mudah tersinggung atau mudah marah, bad
mood, muram, bosan dan sikap kasar. Stres juga bisa berakibat pada perubahan
perilaku pekerja, seperti: menurunnya produktivitas, tingkat kehadiran dan
komitmen terhadap organisasi.

Bagi organisasi, stres di tempat kerja dapat berakibat pada rendahnya kepuasan
kerja, kurangnya komitmen terhadap organisasi, terhambatnya pembentukan
emosi positif, pengambilan keputusan yang buruk, rendahnya kinerja, dan
tingginya turnover. Sebagaimana telah dikemukakan di awal tulisan, stres di
tempat kerja pada akhirnya bisa menyebabkan terjadinya kerugian finansial
pada organisasi yang tidak sedikit jumlahnya.

G. Faktor Pemicu Terjadinya Stres di Tempat Kerja.


Ada tiga kelompok utama pemicu stres (biasa disebut stressor) di tempat kerja :

Kelompok pertama adalah faktor pribadi, seperti: keluarga, ekonomi


rumahtangga, dan karakteristik kepribadian. Adanya persoalan pada kehidupan
pernikahan, perceraian serta anak-anak yang tidak disiplin dan sulit diatur;
penghasilan yang kurang mencukupi pemenuhan kebutuhan rumahtangga dan
gaya hidup; serta kepribadian yang tertutup, mudah tersinggung, perfeksionis,
sangat berorientasi pada waktu dan hasil, merupakan beberapa contoh faktor
pribadi yang dapat menjadi pemicu terjadinya stres di tempat kerja.
Kelompok kedua adalah faktor organisasi, seperti: pekerjaan, peran, dan
dinamika hubungan atau interaksi antar karyawan. Pekerjaan yang bersifat rutin,
monoton, membutuhkan kecepatan dalam pengerjaan, dengan ruang atau lokasi
kerja yang bising dan panas; tuntutan peran yang tidak jelas atau bertentangan
dengan sistem nilai yang dianut; serta hubungan kerja antar rekan yang tidak
cocok, apalagi bila diwarnai dengan adanya konflik mental maupun fisik,
merupakan beberapa contoh faktor organisasi yang dapat menjadi pemicu
terjadinya stres di tempat kerja. Selain itu juga budaya perusahaan yang sangat
menekankan individualisme dan persaingan, struktur organisasi dengan kontrol
dan komando yang ketat, kurangnya penguasaan terhadap teknologi yang
digunakan, serta perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat di dalam
perusahaan.
Kelompok ketiga adalah faktor lingkungan, seperti: ekonomi, politik, dan
teknologi. Ketidakpastian kondisi politik, krisis ekonomi negara yang
berkepanjangan, serta perkembangan teknologi yang mengancam kelangsungan
kerja merupakan beberapa contoh faktor lingkungan yang dapat menjadi pemicu
terjadinya stres di tempat kerja.

H. Strategi Menangani Stres di Tempat Kerja


Kemampuan individu dalam menangani stres di tempat kerja berbeda-beda.
Dalam menghadapi stressor yang sama, misalnya deadline waktu penyelesaian
suatu tugas, tingkat atau konsekuensi stres yang dialami bisa berbeda.
Karyawan yang satu bereaksi terhadap stressor tersebut dengan tetap rileks dan
fokus. Sedangkan rekannya terlihat panik dan tegang dalam penyelesaian tugas,
serta menjadi mudah marah.

Secara individu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan karyawan untuk
mengendalikan stres di tempat kerja. Cara tersebut diantaranya adalah dengan
menerapkan manajemen waktu, secara rutin melakukan latihan fisik dan mental
seperti olahraga dan relaksasi, serta membina jejaring sosial yang luas.
Sedangkan secara organisasi, ada lima strategi yang bisa dilakukan perusahaan
untuk membantu karyawan menangani stres di tempat kerja.

Kelima strategi adalah: menghilangkan stressor atau pemicu stres, menjauhkan


karyawan dari stressor, mengubah persepsi karyawan terhadap stressor,
mengendalikan konsekuensi dari stres, dan menyediakan dukungan sosial bagi
karyawan yang menghadapi stres.

Contoh praktek manajemen stres yang dilakukan perusahaan terkait dengan


kelima strategi di atas adalah: konseling klinis dan personal, uraian pekerjaan
yang jelas, jaminan kerja seperti asuransi dan tunjangan kesehatan, jam kerja
yang fleksibel, tempat atau sarana bagi karyawan melakukan meditasi,
berolahraga atau berkesenian, keterlibatan karyawan dalam proses pengambilan
keputusan dan perubahan di perusahaan, serta program-program yang terkait
dengan perbaikan kesehatan karyawan.

I. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stres


Kondisi-kondisi yang cenderung menyebabkan Stres disebut Stressors. Meskipun
Stres dapat diakibatkan oleh hanya satu Stressors, biasanya karyawan
mengalami Stres karena kombinasi Stressors.

Menurut Robbins (2001:565-567) ada tiga sumber utama yang dapat


menyebabkan timbulnya Stres yaitu :

1. Faktor Lingkungan
Keadaan lingkungan yang tidak menentu akan dapat menyebabkan pengaruh
pembentukan struktur organisasi yang tidak sehat terhadap karyawan.

Dalam faktor lingkungan terdapat tiga hal yang dapat menimbulkan Stres bagi
karyawan yaitu ekonomi, politik dan teknologi. Perubahan yang sangat cepat
karena adanya penyesuaian terhadap ketiga hal tersebut membuat seseorang
mengalami ancaman terkena Stres. Hal ini dapat terjadi, misalnya perubahan
teknologi yang begitu cepat. Perubahan yang baru terhadap teknologi akan
membuat keahlian seseorang dan pengalamannya tidak terpakai karena hampir
semua pekerjaan dapat terselesaikan dengan cepat dan dalam waktu yang
singkat dengan adanya teknologi yang digunakannya.

2. Faktor Organisasi
Didalam organisasi terdapat beberapa faktor yang dapat menimbulkan Stres
yaitu role demands, interpersonal demands, organizational structure dan
organizational leadership. Pengertian dari masing-masing faktor organisasi
tersebut adalah sebagai berikut :

a. Role Demands
Peraturan dan tuntutan dalam pekerjaan yang tidak jelas dalam suatu organisasi
akan mempengaruhi peranan seorang karyawan untuk memberikan hasil akhir
yang ingin dicapai bersama dalam suatu organisasi tersebut.

b. Interpersonal Demands
Mendefinisikan tekanan yang diciptakan oleh karyawan lainnya dalam organisasi.
Hubungan komunikasi yang tidak jelas antara karyawan satu dengan karyawan
lainnya akan dapat menyeba bkan komunikasi yang tidak sehat. Sehingga
pemenuhan kebutuhan dalam organisasi terutama yang berkaitan dengan
kehidupan sosial akan menghambat perkembangan sikap dan pemikiran antara
karyawan yang satu dengan karyawan lainnya.

c. Organizational Structure
Mendefinisikan tingkat perbedaan dalam organisasi dimana keputusan tersebut
dibuat dan jika terjadi ketidak jelasan dalam struktur pembuat keputusan atau
peraturan maka akan dapat mempengaruhi kinerja seorang karyawan dalam
organisasi.

d. Organizational Leadership
Berkaitan dengan peran yang akan dilakukan oleh seorang pimpinan dalam
suatu organisasi. Karakteristik pemimpin menurut The Michigan group (Robbins,
2001:316) dibagi dua yaitu karakteristik pemimpin yang lebih mengutamakan
atau menekankan pada hubungan yang secara langsung antara pemimpin
dengan karyawannya serta karakteristik pemimpin yang hanya mengutamakan
atau menekankan pada hal pekerjaan saja.

Empat faktor organisasi di atas juga akan menjadi batasan dalam mengukur
tingginya tingkat Stres. Pengertian dari tingkat Stres itu sendiri adalah muncul
dari adanya kondisi-kondisi suatu pekerjaan atau masalah yang timbul yang
tidak diinginkan oleh individu dalam mencapai suatu kesempatan, batasanbatasan, atau permintaan-permintaan dimana semuanya itu berhubungan
dengan keinginannya dan dimana hasilnya diterima sebagai sesuatu yang tidak
pasti tapi penting (Robbins, 2001:563).

3. Faktor Individu
Pada dasarnya, faktor yang terkait dalam hal ini muncul dari dalam keluarga,
masalah ekonomi pribadi dan karakteristik pribadi dari keturunan. Hubungan
pribadi antara keluarga yang kurang baik akan menimbulkan akibat pada
pekerjaan yang akan dilakukan karena akibat tersebut dapat terbawa dalam
pekerjaan seseorang.

Sedangkan masalah ekonomi tergantung dari bagaimana seseorang tersebut


dapat menghasilkan penghasilan yang cukup bagi kebutuhan keluarga serta
dapat menjalankan keuangan tersebut dengan seperlunya. Karakteristik pribadi
dari keturunan bagi tiap individu yang dapat menimbulkan Stres terletak pada
watak dasar alami yang dimiliki oleh seseorang tersebut. Sehingga untuk itu,

gejala Stres yang timbul pada tiap-tiap pekerjaan harus diatur dengan benar
dalam kepribadian seseorang.

J. Cara Menanggulangi Stres


Karena Gejala-gejala stres mencakup mental, sosial dan fisik. Hal-hal ini meliputi
kelelahan, kehilangan atau meningkatnya napsu makan, sakit kepala, sering
menangis, sulit tidur dan tidur berlebihan. Melepaskan diri dari alkohol, narkoba,
atau perilaku kompulsif lainnya sering merupakan indikasi-indikasi dari gelaja
stres.

Untuk mencegah mengalami stress, setidaknya ada 3 lapis.


1. Lapis pertama ~ primary prevention
Dengan cara merubah cara kita melaku kan sesuatu. Untuk keperluan ini kita
perlu memiliki skills yang relevan, misal-nya : skill mengatur waktu, skill
menyalurkan, skill mendelegasikan, skill mengorganisasikan, menata, dst.

2. Lapis kedua ~ Secondary prevention


Strateginya kita menyiapkan diri menghadapi stressor, dengan cara exercise,
diet, rekreasi, istirahat , meditasi, dst.

3. Lapis ketiga ~ Tertiary prevention


Strateginya kita menangani dampak stress yang terlanjur ada, kalau diperlukan
meminta bantuan jaringan supportive ( social-network) ataupun bantuan
profesional.

K. Indikasi/gejala stress
Bagaimana kita mengetahui apakah kita berada dalam keadaan stress atau tidak
? Apa gejalanya? Ada sejumlah gejala yang bisa diditeksi secara mudah yaitu :
Gejala fisiologik , antara lain : denyut jantung bertambah cepat , banyak
berkeringat (terutama keringat dingin), pernafasan terganggu, otot terasa
tegang, sering ingin buang air kecil, sulit tidur, gangguan lambung, dst .
Gejala psikologik , antara lain : resah, sering merasa bingung, sulit
berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan, tidak enak perasaan, atau perasaan
kewalahan ( exhausted) dsb.
Tingkah laku, antara lain : berbicara cepat sekali, menggigit kuku, menggoyanggoyangkan kaki, ticks, Gemetaran, berubah nafsu makan ( bertambah atau
berkurang).
L. Dampak akibat stress

Apakah dampak stress? Sebagaimana terlihat pada diagram 01, dampak stress
dibedakan dalam 3 kategori, dampak Fisiologik, dampak psikologik dan dampak
perilaku~ behavioral

1. Dampak Fisiologik :
Secara umum orang yang mengalami stress mengalami sejumlah gangguan fisik
seperti : mudah masuk angin, mudah pening-pening, kejang otot (kram),
mengalami kegemukan atau menjadi kurus yang tidak dapat dijelaskan, juga
bisa menderita penyakit yang lebih serius seperti cardiovasculer, hypertensi, dst.

2. Dampak Psikologik:
Adapun dampak psikologik antara lain:
Keletihan emosi, jenuh, penghayatan ini merupakan tanda pertama dan punya
peran sentral bagi terjadinya burn out.
Terjadi depersonalisasi ; Dalam keadaan stress berkepanjangan, seiring dengan
kewalahan /keletihan emosi, kita dapat melihat ada kecenderungan yang
bersangkutan memperlakuan orang lain sebagai sesuatu ketimbang sesorang.
Pencapaian pribadi yang bersangkutan menurun, sehingga berakibat pula
menurunnya rasa kompeten & rasa sukses.
3. Dampak Perilaku
Dampak perilaku seperti:
Manakala stress menjadi distress, prestasi belajar menurun dan sering terjadi
tingkah laku yang tidak berterima oleh masyaraka.
Level stress yang cukup tinggi berdampak negative pada kemampuan mengingat
informasi, mengambil keputusan, mengambil langkah tepat.
Mahasiswa yang over-stressed ~ stress berat seringkali banyak membolos atau
tidak aktif mengikuti kegiatan pembelajaran.
M. Penyebab Orang Mengalami Stres
Stres yang dialami oleh seseorang biyasanya selalu berkonotasi negatif karena
akan mengalami suatu kontra produktif. Stres sendiri dapat juga membantu
proses mengingat yang dialami dalam jangka pendek dan tidak terlalu kompleks.
Stres bisa meningkatkan glokosa yang menuju ke otak, yang memberikan energi
lebih kepada neuron.

Hal dapat mendorong untuk meningkatkan pembentukan dan pengembalian


ingatan. Disisi lain jika stres dilakukan secara terus menerus, akan menyebabkan
terhambatnya pengiriman glukosa ke otak yang mengakibatkan rendahnya daya
ingat manusia.

Adapun hal-hal yang menjadi sumber penyebab terjadinya stress adalah sebagai
berikut:

1. Faktor Lingkungan
Ketidakpastian Ekonomi, misalnya orang merasa cemas terhadap kelangsungan
pekerjaan mereka.
Ketidakpastian Politik, misalnya adanya peperangan akibat perebutan
kekuasaan.
Perubahan Teknologi, misalnya dengan adanya alat-alat eletronik dll, munculnya
bom dimana-mana.
2. Faktor Organisasional
Tuntutan Tugas, misalnya desain pekerjaan individual, kondisi pekerjaan, dan
tata letak fisik pekerjaan.
Tuntutan Peran, misalnya ada peran beban yang berlebihan dalam organisasi.
Tuntutan Antarpersonal, misalnya tidak adanya dukungan dari pihak tertentu
atau terjain hungan yang buruk.
3. Faktor personal.
Persoalan Keluarga, misalnya kesulitan dalam mencari nafkah dan retaknya
hubungan keluarga.
Persoalan Ekonomi, misalnya apa yang dimilikinya tidak memenuhi apa yang
didambakan.
Berasal dari kepribadiannya sendiri.
Dari berbagai masalah yang telah disebutkan tadi baik dari masalah yang hadapi
secara personal, organisasi, dan lingkungan. Hal semacam itu yang sangat tidak
diharapkan setiap orang dalam segala kondisi apapun, terutama dalam
pekerjaan. Organisasi pun sangat tidak menginginkan setiap anggotanya
mengalami masalah tersebut. Oleh karena itu peran sebagai pemimpin atau
manajer sangat berperan supaya bisa menyelesaikan masalah tersebut agar
tidak mengganggu organisasi.

N. Dampak Dan Akibat Dari Stress


Berbagai tekanan dan gangguan dalam sebuah organisasi tentunya pasti sangat
sering terjadi. Hal ini lah yang perlu dihindari agar kinerja kerja tidak terganggu.
Semua bisa di atasi asalkan dapat mengindikasikan masalah yang kita hadapi itu
sendiri. Semakin seseorang mendapatkan tekanan diluar batas dari kemampuan
dirinya sendiri tentunya akan mengalami stres pula yang cukup berat dan sangat
mengganggu kerja otak termasuk dengan daya ingat.

Dampak dan akibat dari stress itu sendiri dalam buku Organizational Behavior
(Robbin), dikelompokkan menjadi tiga gejala, yaitu gejala Fisiologis, Psikologis,
dan Perilaku.
Gejala Fisiologis, meliputi sakit kepala, tekanan darah tinggi, dan sakit jantung.
Gejala Psikologis, meliputi kecemasan, depresi, dan menurunnya tingkat
kepuasan kerja.
Gejala Perilaku, meliputi perubahan produktivitas, kemangkiran dan perputaran
karyawan.
Semua gejala-gejala yang disebutkan diatas tentu sangat membuat ketidak
nyamanan setiap orang. Ingin rasanya untuk terhindar dari segala tekanan stres
yang dialaminya. Bahkan sampai pada tingkatan stres yang tinggi dalam gejala
psikologis, seseorang bisa berfikir untuk mengakhiri hidupnya. Tekanan yang
dirasa sudah cukup berat lah yang membuat dampak seperti itu.

O. Manajemen stres atau cara mengatasi stress


Ada dua pendekatan dalam manajemen stres, yaitu:

1. Pendekatan Individual
Penerapan manajemen waktu
Pengaturan waktu yang sangat tepat akan menjamin seseorang tidak akan
menjadi stres. Dikarenaka setiap orang pastinya memiliki rasa lelah yang sangat
besar dan perlukan pembagian waktu untuk istirahat dan merelaksasikan tubuh
dari kepadatan jadwal kerja. Pola pembagian waktu yang baik antar waktu
bekerja, beridah, dan waktu istirahat. Waktu bekerja antara jm7 pagi sampai jm6
sore, setelah itu kemungkinan daya tingkat kejenuhan seseorang akan
meningkat disaat itulah diperlukan istirahat yang cukup untuk mengembalikan
rasa lelah.

Penambahan waktu olah raga


Dalam tubuh manusia diperluakan olah raga yang dapat mengatur dan
merangsang syaraf motorik dan otot-otot sehingga membuat badan kita menjadi
bugar. Ketahanan fisik yang dimiliki pun akan semakin baik. Olah raga pun bisa
dilakukan seminggu 3 kali atau 1 minggu sekali. Bisa dengan joging di pagi atau
di sore hari, cukup melakukan olah raga yang ringan.

Pelatihan relaksasi
Setelah melakukan kerja yang cukup padat dan banyak, tentunya membuat
tubuh menjadi lelah dan diperlukan relaksasi yang membantu menenangkan
tubuh yang tegang menjadi relaks. Merefres otak yang sudah di pakai untuk
bekerja setiap hari. Cara yang ampuh dalam relaksasi bisa dengan

mendengarkan musik atau menonton film sambil bersantai. Namun ada juga
yang malakukan meditasi atau yoga.

Perluasan jaringan dukungan social


Berhubungan dengan banyak orang memang sanagt diperlukan. Selain dengan
mempermudah dalam pekerjaan, dengan memiliki banyak jaringan pertemanan
juga bisa kita manfaatkan sebagi tempat berbagi dalam memecahkan masalah
yang di alami. Terkadang setiap orang hal seperti ini sangat diperlukan sekali.
Karena itu manusia adalah makhluk sosial yang saling butuh membutuhkan.

2. Pendekatan Organisasional
Menciptakan iklim organisasional yang mendukung.
Banyak organisasi besar saat ini cenderung memformulasi struktur birokratik
yang tinggi yang menyertakan infleksibel. Ini dapat membawa stres kerja yang
sungguh-sungguh. Strategi pengaturan mungkin membuat struktur lebih
desentralisasi dan organik dengan membuat keputusan partisipatif dan aliran
keputusan ke atas. Perubahan struktur dan proses struktural mungkin akan
menciptakan iklim yang lebih mendukun bagi pekerja, memberikan mereka lebih
banyak kontrol terhadap pekerjaan mereka, dan mungkin akan mencegah atau
mengurangi stres kerja mereka.

Adanya penyeleksian personel dan penempatan kerja yang lebih baik.


Pada dasarnya kemampuan ilmun atau skil yang dimiliki oleh seyiap orang
mungkin akan berbede satu dengan yang lainnya. Penempatan kerja yang sesuai
dengan keahlian sangat menunjang sekali terselesaikannya suatu pekerjaan

Penyesuaiaan penempatan yang baik dan penseleksian itu yang sangat


diperluakan suatu perusahaan atau organisasi agar setiap tujuan dapat tercapai
dengan baik. Seperti halnya seorang petani yang tidak tahu bagaimana seorang
nelayan yang mencari ikan, tentunya akan kesulitan.

Mengurangi konflik dan mengklarifikasi peran organisasional.


Konflik dalam sebuah organisasi mungkin adalah hal yang wajar dan mungkin
sering juga terjadi. Konflik apapun yang terjedi tentunya akan menimbulkan
ketidak jelasan peran suatu organisasional tersebut. Mengidentifikasi konflik
penyebab stres itu sangat diperlukan guna mengurangi atau mencegah stres itu
sendiri.

Setiap bagian yang dikerjakan membutuhkan kejelasan atas setiap konflik


sehingga ambigious itu tidak akan terjadi. Peran organisasi itu yang bisa

mengklarifikasikan suatu konflik yang terjadi sehingga terjadilah suatu kejelasan


dan bisa menegosiasikan konflik.

Penetapan tujuan yang realistis.


Setiap organisasi pastinya memiliki suatu tujuan yang pasti. Baik bersifat profit
maupun non profit. Namun tujuan organisasi itu harus juga bersifat real sesuai
dengan kemampuan yang dimiliki oleh organisasi tersebut. Kemampuan suatu
organisasi dapat dilihat dari skli yang dimiliki oleh setiap orang anggotanya.
Dengan tujuan yang jelas dan pasti tentunya juga sesuai dengan kemampuan
anggotanya maka segala tujuan pasti akan tercapai pula. Namun sebaliknya jika
organisasi tidak bersikap realistis dan selalu menekan anggotanya tanpa adanya
kordinasi yang jelas stres itu akan timbul.

Pendesainan ulang pekerjaan.


Stres yang terjadi ketika bekerja itu kemungkina terjadi karena faktor kerjaan
yang sangat berat dan menumpuk. Cara menyikapi dan mengatur program kerja
yang baik adalah membuat teknik cara pengerjaannya.

Terkadang setiap orang mengerjakan pekerjaan yang sulit terlebih dahulu dari
pada yang mudah. Seseorang akan terasa malas dan enggan untuk mengerjakan
pekerjaannya ketika melihat tugas yang sudah menumpuk maka akan timbul
stres.

Strategi yang dilakukan adalah melakukan penyusunan pekerjaan yang muadah


terlebih dahulu atau pekerjaan yang dapat dikerjakan terlebih dahulu. Sedikit
demi sedikit pekerjaan yang menumpuk pun akan terselesaikan. Dengan kata
lain stres pun bisa dihindari dan bisa dikurangi.

Perbaikan dalam komunikasi organisasi.


Komunikasi itu sangatlah penting sekali dalam berorganisasi. Komunikasi dapat
mempermudah kerja seseorang terutama dalam team work. Sesama anggota
yang tergabung dalam satu kelompok selalu berkordinasi dan membicarakan
program yang akan dilakukan.

Komunikasinya pun harus baik dan benar. Perbedaan cara kordinasi dan instruksi
ke atasan mau pun bawahan. Sering sekali terjadi kesalahan dan tidak mampu
menempatkan posisi dan jabatan sehingga terjadi kesalahan dalam
mengkomunikasikan.

Membuat bimbingan konseling

Bimbingan konseling ini bisa dirasakan cukup dalam mengatasi stres. Konseling
yang dilakukan kepada psikolog yang lebih kompeten dalam masalah kejiwaan
seseorang. Psikologis seseorang terganggu sekali ketika stres itu menimpa.

PENDAHULUAN

Stres merupakan kondisi psikofisik yang ada dalam diri setiap orang. Artinya
stres dialami oleh setiap orang, tidak mengenal jenis kelamin, usia, kedudukan,
jabatan atau status sosial ekonomi. Stres bisa dialami oleh bayi, anak-anak,
remaja maupun orang dewasa. Bahkan mungkin stres juga dialami oleh makhluk
hidup lainnya.
Stres dapat berpengaruh positif maupun negatif. Pengaruh positif, mendorong
orang untuk membangkitkan kesadaran dan menghasilkan pengalaman baru.
Sedangkan pengaruh negatif, menimbulkan perasaan-perasaan tidak nyaman,
tidak percaya diri, penolakan, marah, depresi, dan memicu sakit kepala, sakit
perut, insomnia, tekanan darah tinggi atau stroke. Stres pada anak yang
berkepanjangan akan berpengaruh negatif pada pertumbuhan kepribadiannya,
yaitu kurang percaya diri dan takut melakukan sesuatu.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa Tanpa stres tidak ada kehidupan,
gagal merespon stressor pertanda kematian.
Menurut Dadang Hawari (1997: 44-45) istilah stres tidak dapat dipisahkan dari
distres dan depresi, karena satu sama lain saling terkait. Stres merupakan reaksi
fisik terhadap permasalahan kehidupan yang dialami. Apabila fungsi organ
tumbuh sampai terganggu dinamakan distres, yaitu derajat penyimpangan fisik,
psikis dan perilaku dari fungsi yang sehat (Sopiah, 2008).
Tulisan ini akan menjelaskan apa itu stres, jenis-jenis stres, aspek, penyebab
stres, reaksi fisik-psikologis, klasifikasi stres serta bagaimana mengelolanya.

A.

Pengertian Stres

Menurut Sopiah (2008:85) stres merupakan suatu respons adoptif terhadap


suatu situasi yang dirasakan menantang atau mengancam kesehatan seseorang.
Hans Selye (dalam Sehnert, 1981) yang mendefinisikan stres sebagai respon
yang tidak spesifik dari tubuh pada tiap tuntutan yang dikenakan padanya.
Stress adalah suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa disebabkan oleh
tuntutan fisik (badan), atau lingkungan, dan situasi sosial, yang berpotensi
merusak dan tidak terkontrol.
Menurut Morgan dan King : as an internal state which can be caused by
physical demands on the body (disease conditions, exercise, extremes of
temperature, and the like) or by environmental and social situations which are

evaluated as potentially harmful, uncontrollable, or exceeding our resources for


coping (Morgan & King, 1986: 321).
Menurut Lazarus (1976) stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang
disebabkan karena individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal.

B.
1.

Jenis Stres
Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu:

a. Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif,
dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan
individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan,
fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.
b. Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat,
negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi
individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat
ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan
sakit, penurunan, dan kematian.
2.

Dua jenis stres menurut Holahan (1981) yaitu:

a. Systemic stres yang didefinisikan oleh Selye (dalam Holahan, 1981)


sebagai respon non fisik dari tubuh terhadap beberapa tuntutan lingkungan.
Selye mengidentifikasikan 3 tahap respon sistemik tubuh terhadap kondisikondisi penuh stres, Yng diistilahkan General Adaption Syndrome (GAS). Tahap
pertama adalah alarm reaction. Tahap ini bisa diartikan sebagai pertahanan
tubuh, tahap kedua adalah resistance atau adaptasi dan tahap ketiga adalah
exhaustion atau kelelahan.
b. Psychological stress.

C.

Aspek Stres

1. Stimulus
Keadaan/situasi dan peristiwa yang dirasakan mengancam atau membahayakan
yang menghasilkan perasaan tegang disebut sebagai stressor. Beberapa ahli
yang menganut pendekatan ini mengkategorikan stressor menjadi tiga :
a.

Keadaan kronis, contoh hidup dalam keadaan suasana yang bising

b. Peristiwa hidup yang penting, contoh : kehilangan seseorang yang


disayangi.
c.

Peristiwa katastropik, contoh : gempa bumi

2. Respon
Respon adalah reaksi seseorang terhadap stresor. Terdapat dua komponen yang
saling berhubungan, komponen Fisiologis dan komponen Psikologis. Dimana
kedua respon tersebut disebut dengan strain atau ketegangan.
a.

Komponen Fisiologis, misalnya detak jantung, sakit perut, keringat.

b.

Komponen psikologis, misalnya pola berfikir dan emosi

3. Proses
Stres sebagai suatu proses terdiri dari stresor dan strain ditambah dengan satu
dimensi yang peting yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungan. Proses
ini melibatkan interaksi dan penyesuaian diri yang kontinyu yang disebut juga
dengan istilah transaksi antara manusia dengan lingkungan, yang didalamnya
termasuk perasaan yang dialami dan bagaimana orang lain merasakannya.

D.

Penyebab Stres

Stres dapat terjadi karena: (1) fisik-biologik, penyakit sulit disembuhkan, cacat
fisik, merasa penampilan kurang menarik; (2) psikologik, negatif thinking , sikap
permusuhan, iri hati, dendan dan sejenisnya; (3) sosial: (a ) kehidupan keluarga
yang tidak harmonis; (b) faktor pekerjaan; (c) iklim lingkungan.
Penyebab Stres yang bukan bersumber dari pekerjaan: (1) Ttime based
confict, konflik terjadi karena menyeimbangkan tuntutan waktuantara pekerjaan
dengan tugas rumah tangga, misalnya wanita yang berperan ganda; (2) Strain
based conflict, terjadi ketika stres dari sumber meluap melebihi kemampuan
yang dimiliki orang tersebut, misalnya kematian suami atau isteri; (3)Role
behavior conflict, tiap karyawan memiliki peran dalam pekerjaan, Ia juga dituntut
lingkungan yang ada kalanya bertentangan dengan tuntutan pekerjaan; (4) Stres
karena adanya perbedaan individu.
Luthans (1992) menyebutkan bahwa penyebab stres (stressor) terdiri atas
empat hal utama, yakni:
1. Extra organizational stressors, yang terdiri dari perubahan sosial/teknologi,
keluarga, relokasi, keadaan ekonomi dan keuangan, ras dan kelas, dan keadaan
komunitas/tempat tinggal.
2. Organizational stressors, yang terdiri dari kebijakan organisasi, struktur
organisasi, keadaan fisik dalam organisasi, dan proses yang terjadi dalam
organisasi.
3. Group stressors, yang terdiri dari kurangnya kebersamaan dalam grup,
kurangnya dukungan sosial, serta adanya konflik intraindividu, interpersonal, dan
intergrup.
4. Individual stressors, yang terdiri dari terjadinya konflik dan ketidakjelasan
peran, serta disposisi individu seperti pola kepribadian Tipe A, kontrol personal,
learned helplessness, self-efficacy, dan daya tahan psikologis.

Terdapat 4 penyebab stres (stresor) menurut Lazarus dan Cohen (dalam Evans,
1982) serta Evans dan Cohen (dalam Veitch & Arkkelin) :
1. Fenomena catalismic, yaitu hal-hal atau kejadian-kejadian yang tiba-tiba,
khas dan kejadian yang menyangkut banyak orang seperti bencana alam,
perang, banjir dsb.

2. Kejadian-kejadian yang memerlukan penyesuaian atau coping seperti pada


fenomena catalismic, meskipun berhubungan dengan orang yang lebih sedikit
sepeti respon terhadap penyakit atau kematian serta ketika seseorang kena PHK.
3. Daily hassles, masalah yang sering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari
yang menyangkut ketidakpuasan kerja atau masalah-masalah lingkungan seperti
kesesakkan atau kebisingan.
4. Ambient Stresor, yang terdiri dari kondisi-kondisi yang dilatarbelakangi oleh
lingkungan seperti kemiskinan, konflik keluarga.

E.

Reaksi Fisik - Psikologis

1. Reaksi fisik : sakit kepala, sakit lambung, darah tinggi, sakit jantung
(jantung berdebar-debar), mudah lelah, kurang selera makan, sering buang air
kecil, keluar keringat dingin, sulit tidur (insomnia).
Hans Selye (1946,1976) telah melakukan riset terhadap 2 respon fisiologis tubuh
terhadap stress : Local Adaptation Syndrome (LAS) dan General Adaptation
Syndrome (GAS).
a.

Local Adaptation Syndrom (LAS)

Tubuh menghasilkan banyak respons setempat terhadap stress. Respon


setempat ini termasuk pembekuan darah dan penyembuhan luka, akomodasi
mata terhadap cahaya, dll. Responnya berjangka pendek.
Karakteristik dari LAS :
1) respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua system
2) respon bersifat adaptif; diperlukan stressor untuk menstimulasikannya.
3) respon bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus.
4) respon bersifat restorative.
Respon LAS ini banyak kita temui dalam kehidupan kita sehari hari seperti
yang diuraikan dibawah ini :
1) Respon inflamasi
Respon ini distimulasi oleh adanya trauma dan infeksi. Respon ini memusatkan
diri hanya pada area tubuh yang trauma sehingga penyebaran inflamasi dapat
dihambat dan proses penyembuhan dapat berlangsung cepat. Respon inflamasi
dibagi kedalam 3 fase:

Fase pertama : adanya perubahan sel dan system sirkulasi, dimulai dengan
penyempitan pembuluh darah ditempat cedera dan secara bersamaan
teraktifasinya kini,histamin, sel darah putih. Kinin berperan dalam memperbaiki
permeabilitas kapiler sehingga protein, leucosit dan cairan yang lain dapat
masuk ketempat yang cedera tersebut.

Fase kedua : pelepasan eksudat. Eksudat adalah kombinasi cairan dan sel
yang telah mati dan bahan lain yang dihasilkan ditempat cedera.

Fase ketiga : Regenerasi jaringan dan terbentuknya jaringan parut.

2) Respon refleks nyeri


Respon ini merupakan respon adaptif yang bertujuanmelindungi tubuh dari
kerusakan lebih lanjut. Misalnya mengangkat kaki ketika bersentuhan dengan
benda tajam.
b. General Adaptation Syndrom (GAS)
Gas merupakan respon fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stres. Respon yang
terlibat didalamanya adalah sistem saraf otonom dan sistem endokrin. Di
beberapa buku teks GAS sering disamakan dengan Sistem Neuroendokrin. Ada 3
fase GAS yaitu :
1) Fase Alarm ( Waspada)
Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk
menghadapi stressor. Reaksi psikologis fight or flight dan reaksi fisiologis.
Tanda fisik : curah jantung meningkat, peredaran darah cepat, darah di perifer
dan gastrointestinal mengalir ke kepala dan ekstremitas. Banyak organ tubuh
terpengaruh, gejala stress memengaruhi denyut nadi, ketegangan otot dan daya
tahan tubuh menurun
Fase alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh seperti
pengaktifan hormon yang berakibat meningkatnya volume darah dan akhirnya
menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepas untuk
meningkatkan kadar gula darah yang bertujuan untuk menyiapkan energi untuk
keperluan adaptasi, teraktifasinya epineprin dan norepineprin mengakibatkan
denyut jantung meningkat dan peningkatan aliran darah ke otot. Peningkatan
ambilan O2 dan meningkatnya kewaspadaan mental.
Aktifitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan respons
melawan atau menghindar . Respon ini bisa berlangsung dari menit sampai jam.
Bila stresor masih menetap maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi.
2) Fase Resistance (Melawan)
Individu mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan psikologis dan
pemecahan masalah serta mengatur strategi. Tubuh berusaha menyeimbangkan
kondisi fisiologis sebelumnya kepada keadaan normal dan tubuh mencoba
mengatasi faktor-faktor penyebab stress. Bila teratasi gejala stress menurun
tau normal
tubuh kembali stabil, termasuk hormon, denyut jantung, tekanan darah, cardiac
out put. Individu tersebut berupaya beradaptasi terhadap stressor, jika ini
berhasil tubuh akan memperbaiki sel sel yang rusak. Bila gagal maka individu
tersebut akan jatuh pada tahapa terakhir dari GAS yaitu : Fase kehabisan tenaga.
3) Fase Exhaustion (Kelelahan)
Merupakan fase perpanjangan stress yang belum dapat tertanggulangi pada fase
sebelumnya. Energi penyesuaian terkuras. Timbul gejala penyesuaian diri
terhadap lingkungan seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri
koroner, dll. Bila usaha melawan tidak dapat lagi diusahakan, maka kelelahan
dapat mengakibatkan kematian.
Tahap ini cadangan energi telah menipis atau habis, akibatnya tubuh tidak
mampu lagi menghadapi stres. Ketidak mampuan tubuh untuk mepertahankan

diri terhadap stressor inilah yang akan berdampak pada kematian individu
tersbut.

2. Reaksi psikologis : gelisah, cemas, tidak dapat berkonsentrasi dalam


pekejaan atau belajar, sikap pesimis, hilang rasa humor, malas, sikap apatis,
sering melamun, sering marah-marah bersikap agresif baik secara verbal seperti
berkata-kata kasar, suka menghina, mupun non verbal seperti menendangnendang, menempeleng, membanting pintu atau memecahkan barang-barang.
a. Kecemasan
Respon yang paling umum merupakan tanda bahaya yang menyatakan diri
dengan suatu penghayatan yang khas, yang sukar digambarkan adalah emosi
yang tidak menyenangkan istilah kuatir, tegang, prihatin, takutfisik
antung berdebar, keluar keringat dingin, mulut kering, tekanan darah tinggi dan
susah tidur.
b.

Kemarahan dan agresi

Yakni perasaan jengkel sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan


sebagai ancaman. Merupakan reaksi umum lain terhadap situasi stress yang
mungkin dapat menyebabkan agresi, Agresi ialah kemarahan yang meluap-luap,
dan orang melakukan serangan secara kasar dengan jalan yang tidak wajar.
Kadang-kadang disertai perilaku kegilaan, tindak sadis dan usaha membunuh
orang.
c.

Depresi

Yaitu keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangat. Terkadang
disertai rasa sedih

F.

Klasifikasi Stres

1. Stres Akut (Acute Stress) merupakan reaksi terhadap ancaman yang


segera, umunya dikenal dengan respon atas pertengkaran atau penerbangan
(fight or flight). Suatu ancaman dapat terjadi pada situasi apa pun yang
pernah dialami bahkan secara tidak disadari atau salah dianggap sebagai suatu
bahaya. Penyebab-penyebab stres akut antara lain:

kebisingan,

keramaian,

pengasingan,

lapar,

bahaya,

infeksi, dan

bayangan suatu ancaman atau ingatan atas suatu peristiwa berbahaya


(mengerikan).

Pada banyak kejadian, suatu waktu ancaman akut telah dilalui, suatu respon
menjadi tidak aktif dan tingkat-tingkat hormon stres kembali normal, suatu
kondisi yang disebut respon relaksasi (relaxation response).
2. Stres Kronis (Chronic Stress). Kehidupan modern menciptakan situasi stres
berkesinambungan yang tidak berumur pendek. Penyebab-penyebab umum
stres kronis antara lain:

kerja dengan tekanan tinggi yang terus menerus,

problem-problem hubungan jangka panjang,

kesepian, dan

kekhawatiran finansial yang terus-menerus.

G.

Mengelola Stres

1.

Coping

Mengelola stres disebut dengan istilah coping. Menurut R.S.


Lazarus coping adalah proses mengelola tuntutan (internal atau eksternal) yang
diduga sebagai beban karena di luar kemampuan individu. Coping terdiri atas
upaya-upaya yang berorientasi kegiatan dan intrapsikis (seperti menuntaskan,
tabah, mengurangi atau meminimalkan) tuntutan internal dan eksternal. Adapun
menurut Weiten dan Lloyd (dalam Syamyu Yusuf, 2009: 128) coping merupakan
upaya-upya untuk mengatasi, mengurangi atau mentoleransi beban perasaan
yang tercipta karena stres.
Faktor-faktor yang mempengaruhi coping:
a. Dukungan sosial. Dukungan sosial dapat diartikan sebagai bantuan dari
orang lain yang memiliki kedekatan (orang tua, suami/isteri, saudara atau
teman) terhadap seseorang yang mengalami stres. Dukungan sosial memiliki
empat fungsi: (a) sebagai emotional support, meliputi pemberian curahan kasih
sayang, perhatian dan kepedulian; (b) sebagai appraisal support, meliputi
bantuan orang lain untuk menilai dan mengembangkan kesadaran akan masalah
yang dihadapi, termasuk usaha-usaha mengklarifikasi dan memberikan umpan
balik tentang hikmah di balik masalah tersebut; (c) sebagai informational
support, meliputi nasehat/pengarahan dan diskusi tentang bagaimana mengatasi
atau memecahkan masalah; (d) sebagai instrumental support, meliputi bantuan
material, seperti memberikan tempat tinggal, meminjamkan uang dan menyertai
kunjungan ke biro layanan sosial.
b. Kepribadian. Kepribadian seseorang cukup besar pengaruhnya
terhadap coping atau usaha-usaha dalam menghadapi atau mengelola stres.
Adapun tipe-tipe kepribadian yang berpengaruh terhadap coping adalah sebagai
berikut: (1) Hardiness (ketabahan, daya tahan) yaitu tipe kepribadian yang
ditandai dengan sikap komitmen, internal locus controldan kesadaran akan
tantangan (challenge); (2) Optimisme, yaitu kecenderungan umum untuk
mengharapkan hasil-hasil yang baik atau sesuai harapan; (3) Humoris

2.

Selalu Berfikir Positif (Positive Thinking)

Seseorang yang mengalami stres perlu kita berikan bantuan agar mereka
terhindar dari persaan tersebut, dengan selalu berpikir positif (positive thinking).
Menurut Al-Faqi (2009) ada tujuh prinsip dasar berpikir positif, yaitu:
a. Problematika hanya ada di dalam persepsi. Realitas tak lain hanyalah apa
yang ada dalam persepsi Anda. Kalau Anda ingin merubah realitas hidup Anda,
mulailah dengan merubah persepsi Anda.
b. Jangan biarkan masalah tetap berada di tempat yang Anda temui. Yang
terpenting bukan apa yang terjadi pada Anda, tetapi pada apa yang akan Anda
lakukan karena apa yang terjadi pada Anda (Robert Schuer)
c. Jangan jadi masalah pisahkan Anda dengan masalah. Tidak ada masalah
yang akal manusia tidak bisa menemukan jalan keluarnya (Polter).
d. Belajar dari masa lalu, hidup masa sekarang, tentukan target masa depan.
Masa lalu hanya kenangan dan masa depan tak lain hanyalah perkiraan.
Penuhlilah hidup Anda saat ini dengan cinta Allah, maka masa lalu Anda akan
menjadi kenangan indah dan masa depan Anda menjadi perkiraan penuh
harapan.
e. Selalu ada nila spiritual dalam setiap problematika hidup. Siapa yang
bertaqwa kepada Allah akan diberi jalan keluar dan akan diberi rejeki dari arah
yang tidak disangka-sangka (QS. At-Thalaq: 4).
f.
Perubahan pikiran dengan berbagai alternatif akan merubah realitas dan
pikiran yang akan memunculkan realitas baru pula.
g. Allah tidak menutup satu pintu kecuali membukakan pintu yang lain yang
lebih baik. Terkadang Allah menutup suatu pintu dihadapan kita untuk membuka
pintu lain yang lebih baik. Akan tetapi kebanyakan orang hanya memusatkan
perhatiannya pada pintu yang tertutup itu tanpa mau melirik pintu penuh
harapan yang telah terbuka di sisi lain hidupnya.
Strategi berpikir positif. Pemikir adalah orang yang membuat pikiran dan
pikiran menyebabkan tindakan berpikir. Berpikir menjadikan konsentrasi,
konsentrasi menimbulkan perasaan, perasaan menyebabkan perilaku, perilaku
menimbulkan hasil, dan hasil menentukan realitas hidup. Bila Anda ingin hidup
Anda benar-benar berubah, rubahlah realitas Anda sebagai pemikir.
Strategi keteladanan. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri
tauladan yang baik bagimu (QS. Al-Ahzab: 21).
Strategi berkaca pada orang lain. Kita tidak melihat sesuatu sebagaimana
adanya Ia. Kita melihat sebagaimana yang kita pahami tentangnya (Socrates).
Strategi merubah konsentrasi dan fokus. Semua orang besar akan tetap
menjadi orang besar. Setiap orang sukses pun akan selalu menjadi orang sukses,
yaitu orang yang selalu mengerahkan perhatian dan kemampuannya untuk
target positif dan pasti (Mordel).
Strategi pasang surut. Setiap hari berbuatlah untuk menurunkan porsi apa
yang tidak Anda inginkan dan menaikkan porsi apa yang Anda inginkan. Lakukan

terus sampai apa yang tidak Anda inginkan hilang dari hidup Anda dan yang
tertinggal hanya apa yang ingin Anda dapatkan dalam hidup. Pikiran negatif
diperkecil dan pikiran positif diperbesar/diperluas.
3.

Tersenyum

Senyum yang terlihat sederhana akan mampu menciptakan kekuatan (power).


Senyuman yang kadang dianggap sebagian orang merupakan hal yang tidak
penting dan sangat sepele, namun tanpa kita sadari mampu memunculkan
sesuatu yang luar biasa. Senyum merupakan ekspresi wajah yang terjadi akibat
bergeraknya atau timbulnya suatu gerakan di bibir atau kedua ujungnya atau
pula di sekitar mata.
Kebanyakan orang tersenyum untuk menampilkan rasa bahagia dan senang.
Apabila seseorang tersenyum, maka wajahnya akan kelihatan lebih menarik,
menyenangkan dan nyaman untuk dipandang, daripada ketika Ia sedang dalam
kondisi biasa atau bahkan ketika sedang marah. Senyum juga merupakan simbul
perdamaian dan persahabatan (Thobrani, 2010).
Dalam ajaran Islam memberi senyuman kepada orang lain bernialai ibadah,
karena tersenyum kepada orang lain sama dengan bersedekah, tentu saja
senyum yang tulus. Suatu saat ketika Anda tidak tahu harus berbuat apa ? atau
memberi apa kepada orang lain, Anda masih punya senyuman, maka
tersenyumlah. Yakinlah bahwa setiap senyuman membawa manfaat. Senyum
membuat pikiran lebih jernih, segar dan terhindar dari stres.

4. Relaksasi, yaitu upaya pengurangan ketegangan: (1) relaksasi ketegangan


otot; (2) relaksasi kesadaran indera; (3) melalui yoga, meditasi,
transendensi/relegius.

DAFTAR RUJUKAN

Chomariah, N. 2009. Tips Jitu & Praktis Mengusir Stres. Jogjakarta: DIVA Press.
Yusuf, M. 2008. Kesehatan Mental. Bandung: RIZQI PRESS.
Al-Haqi, Ibrahim. 2009. Positive Thinking. Jogjakarta: Hikmah Pustaka.
Prabowo, Hendro. 1998. Arsitektur, Psikologi dan Masyarakat. Depok:
Gunadarma.
http://rudy-halim77.blogspot.com/2009/04/klasifikasi-dan-penyebab-stress.html
http://andaners.wordpress.com/2009/04/21/konsep-cemas-stress-dan-adaptasi/
http://kasturi82.blogspot.com/2009/04/jenis-jenis-stres.html