Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Peledakan adalah merupakan kegiatan pemecahan suatu material (batuan)
dengan menggunakan bahan peledak atau proses terjadinya ledakan, tujuannya
adalah untuk melepaskan batuan dari batuan induknya agar menjadi fragmenfragmen yang berukuran lebih kecil sehingga memudahkan dalam pendorongan,
pemuatan, pengangkutan, dan konsumsi material pada crusher yang terpasang.
Suatu operasi peledakan batuan akan mencapai hasil optimal apabila perlengkapan
dan peralatan yang dipakai sesuai dengan metode peledakan yang diterapkan.
Dalam membicarakan perlengkapan dan peralatan peledakan perlu hendaknya
terlebih dahulu dibedakan pengertian antara kedua hal tersebut. Peralatan
peledakan (Blasting Equipment) adalah alat-alat yang dapat digunakan berulang
kali,

misalnya

blasting

machine,

crimper

dan

sebagainya.

Sedangkan

perlengkapan peledakan hanya dipergunakan dalam satu kali proses peledakan


atau tidak bisa digunakan berulang kali. Untuk setiap metode peledakan,
perlengkapan dan peralatan yang diperlukan berbeda-beda.
Oleh karena itu agar tidak terjadi kerancuan dalam pengertian, maka dibuat
sistematika

berdasarkan

tiap-tiap

metode

peledakan

dalam arti

bahwa

perlengkapan dan peralatan akan dikelompokan berdasarkan metodenya.


Pekerjaan peledakan adalah pekerjaan yang penuh bahaya. Oleh karena itu, harus
dilakukan dengan penuh perhitungan dan hati-hati agar tidak terjadi kegagalan
atau bahkan kecelakaan. Untuk itu operator yang melakukan pekerjaan peledakan
harus mengerti benar tentang cara kerja, sifat dan fungsi dari peralatan yang
digunakan. Karena persiapan peledakan yang kurang baik akan menghasilkan bisa
menyebabkan hasil yang tidak sempurna serta mengandung resiko bahaya
terhadap keselamatan pekerja maupun peralatan. Dalam hal ini pemilihan metode
peledakan, pemilihan serta penggunaan peralatan dan perlengkapan juga

berpengaruh terhadap hasil yang dicapai. Jadi dalam makalah ini akan dibahas
lebih lanjut mengenai dari salah satu proses dalam peledakan di Tugas Akhir II
yang berjudul Kajian Teknis Peledakan Untuk Memprediksi Arah Lemparan
Batuan Pada Tambang Batugamping di PT. Sinar Asia Fortuna Kabupaten
Rembang Provinsi Jawa Tengah dan juga akan membahas materi mengenai
mekanisme pecahnya batuan akibat proses peledakan.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa latar belakang dari

Tugas Akhir II yang membahas mengenai

kajian teknis untuk memprediksi arah lemparan batuan ?


2. Bagaimana geometri peledakan yang dianjurkan dari Tugas Akhir II
yang membahas mengenai kajian teknis untuk memprediksi arah
lemparan batuan ?
3. Bagaimana bahan peledak yang digunakan pada Tugas Akhir II yang
membahas mengenai kajian teknis untuk memprediksi arah lemparan
batuan ?
4. Bagiamana flyrock yang terjadi pada Tugas Akhir II yang membahas
mengenai kajian teknis untuk memprediksi arah lemparan batuan ?
5. Bagaimana memprediksi arah lemparan batuan yanng di bahas dalam
kajian teknis untuk memprediksi arah lemparan batuan ?
6. Bagaimana mekanisme pecahnya batuan akibat proses peledakan ?
1.3. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui latar belakang dibahasnya mengenai kajian teknis
untuk memprediksi arah lemparan batuan.
2. Untuk mengetahui bagaimana geometri peledakan yang dianjurkan pada
pembahasan mengenai kajian teknis untuk memprediksi arah lemparan
batuan.
3. Untuk mengetahui bagaimana bahan peledak yang digunakan pada
pembahasan mengenai kajian teknis untuk memprediksi arah lemparan
batuan.

4. Untuk mengetahui bagaimana flyrock yang terjadi pada pembahasan


mengenai kajian teknis untuk memprediksi arah lemparan batuan.
5. Untuk mengetahui bagaimana prediksi arah lemparan batuan yang
terjadi akibat proses peledakan pada pembahasan mengenai kajian teknis
untuk memprediksi arah lemparan batuan.
6. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme pecahnya batuan akibat
proses peledakan.
1.4. Manfaat Penulisan
Untuk memberikan pengetahuan mengenai permasalahan dalam kajian
teknis mengenai memprediksi arah lemparan batuan dan mengetahui mekanisme
pecahnya batuan akibat proses peledakan.

BAB II
DASAR TEORI
2.1. Geometri Peledakan
Geometri peledakan yang ditentukan terlebih dahulu ialah burden (B) jika
burden sudah ditentukan maka besaran lain seperti spacing, stemming, subdrilling,
dsb dapat ditentukan.
a. Burden (B)
Burden yaitu jarak tegak lurus terpendek antara muatan bahan peledak
dengan bidang bebas terdekat atau ke arah mana pelemparan batuan akan
terjadi. Jarak burden yang terlalu kecil akan menghasilkan bongkaran yang
terlalu hancur dan tergeser jauh dari dinding jenjang kemudian
kemungkinan terjadinya batu terbang yang sangat besar. Sedangkan jika
jarak burden terlalu besar akan menghasilkan fragmentasi produk yang
kurang baik, karena gelombang tekan yang mencapai bidang bebas
menghasilkan gelombang tarik yang sangat lemah dibawah kuat tarik
batuan, sehingga batuan dalam area burden tidak hancur. Besarnya burden
tergantung dari karakteristik batuan, karakteristik bahan peledak, tinggi
jenjang dan diameter lubang ledak. Dalam penentuan panjang burden perlu
dipertimbangkan hubungan antar burden dan tinggi jenjang.
b. Spacing (S)
Spacing adalah jarak diantara lubang ledak dalam satu garis sejajar
dengan bidang bebas. Jarak spacing yang terlalu besar akan menghasilkan
fragmentasi yang tidak baik dan dinding akhir yang ditinggalkan relatif
tidak rata, sebaliknya bila spacing terlalu kecil dari jarak burden maka akan
menghasilkan tekanan sekitar stemming yang lebih dan mengakibatkan gas
hasil ledakan dihamburkan ke atmosfer diikuti suara bising (noise).
Menentukan jarak spacing didasarkan pada jenis detonator listrik yang
di gunakan dan berapa besar perbandingan antara tinggi jenjang dan jarak
burden.

c. Stemming (T)
Stemming adalah lubang ledak bagian atas yang tidak di isi bahan
peledak, tetapi biasanya di isi oleh abu hasil pemboran atau material
berukuran kerikil dan di padatkan di atas bahan peledak. Pada stemming
juga dapat mempengaruhi fragmentasi batuan hasil peledakan, dimana
stemming yang terlalu panjang dapat mengakibatkan terbentuknya bongkah
apabila energi ledakan tidak mampu untuk menghancurkan batuan di sekitar
stemming tersebut, dan stemming yang terlalu pendek bisa mengakibatkan
terjadinya batuan terbang dan pecahnya batuan menjadi lebih kecil. Kriteria
stemming yang baik yaitu:
1. Dapat meningkatkan confining pressure dari akumulasi gas hasil
peledakan.
2. Dapat menyeimbangkan tekanan di daerah stemming.
3. Dapat mengurangi gas hasil proses kimia bahan peledak.
4. Dapat mengontrol kemungkinan terjadinya airblast dan flyrock.
d. Subdrilling (J)
Subdrilling adalah lubang ledak yang di bor sampai melebihi batas
lantai jenjang bagian bawah supaya batuan dapat meledak secara full face
dan untuk menghindari kemungkinan adanya tonjolan-tonjolan (toe) pada
lantai jenjang lantai bagian bawah. Tambahan kedalaman dari lubang ledak
di bawah rencana lantai jenjang. Pemboran lubang tembak sampai batas
bawah dari lantai, bertujuan agar seluruh permukaan jenjang bisa terbongkar
secara full face setelah di lakukan peledakan, jadi untuk menghindari agar
pada lantai jenjang tidak terbentuk tonjolan-tonjolan (toe). Tonjolan yang
terjadi akan menyulitkan peledakan berikutnya dan pada pemuatan dan
pengangkutan.
e. Pola Peledakan
Pola peledakan merupakan urutan waktu peledakan antar lubang-lubang
bor dalam satu baris dengan lubang bor pada baris berikutnya ataupun
antara lubang bor yang satu dengan lubang bor lainnya. Pola peledakan ini
di tentukan berdasarkan urutan waktu peledakan serta arah runtuhan

material yang di harapkan. Berdasarkan arah runtuhan batuan, peledakan di


klasifikasikan sebagai berikut :
1. Box cut, yaitu pola pedakan yang arah runtuhan batuannya kedepan
dan membentuk kotak.
2. V cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya
kedepan dan membentuk huruh V.
3. Corner cut dan echelont, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan
batuannya ke salah satu sudut dari bidang bebasnya atau mempunyai
dua bidang bebas.
Berdasarkan urutan waktu peledakan maka pola peledakan di klasifikasikan
sebagai berikut :
1. Pola peledakan serentak, yaitu suatu pola yang menerapkan
peledakan secara serentak untuk semua lubang tembak.
2. Pola peledakan beruntun yaitu suatu pola yang menyebabkan
peledakan dengan waktu tunda antara baris yang satu dengan baris
lainnya.
2.2. Flyrock
Flyrock yaitu batu yang terlempar secara liar pada saat terjadinya peledakan.
Batu terbang terjadi di sebabkan (Koesnaryo,2006) :
1. Penempatan lubang bor tidak tepat.
2. Kesalahan pola penyalaan.
3. Lantai jenjang kotor.
4. Elevasi pemboran tidak tepat.
5. Kesalahan penyambungan.
6. Jumlah isian terlalu banyak.
7. Karena ada struktur retakan, kekar dll.

2.3. Lemparan Batuan


Merupakan

orientasi

lemparan

batuan,

biasanya

lemparan

batuan

berorientasi menuju bidang bebas (free face) yang telah di tentukan. Lemparan
batuan dapat di prediksi dengan pola peledakan yang digunakan.
2.4. Rock Quality Designation (RQD)
RQD adalah modifikasi dari presentasi perolehan inti yang utuh dengan
panjang 10 cm atau lebih.
Tabel 2.1. Nilai Kualitas Batuan Berdasarkan RQD
RQD (%)
<25
25-50
50-75
75-90
90-100

Kualitas Batuan
Sangat Jelek (very poor)
Jelek (poor)
Sedang (fair)
Baik (good)
Sangat Bik (excllent)

BAB III

PEMBAHASAN
3.1. Kajian Teknis Untuk Memprediksi Arah Lemparan Batuan
3.1.1. Latar Belakang
PT. Sinar Asia Fortuna meruapakan salah satu perusahaan
pertambangan di Kabupaten Rembang Jawa Tengah yang melakukan
penambangan batugamping. PT. Sinar Asia Fortuna adalah anak perusahaan
dari PT. Tjiwi Kimia yang merupakan perusahaan kertas, sebagai anak
perusahaan PT. Sinar Asia Fortuna memasok bahan buku pemutih kertas ke
PT. Tjiwi Kimia.
Kegiatan pembongkaran menggunakan metode single deck karena
kedalaman lubang ledak 6 meter. Terkadang terjadi ketidaksempurnaan
ukuran fragmentasi berupa bongkahan batuan (boulder), sehingga harus
diperkecil dengan rock breaker serta kegiatan peledakan menimbulkan fly
rock yang dapat membahayakan pekerja, oleh karena itu perlu dikaji lebih
lanjut mengenai geometri dan tahapan dari proses kegiatan peledakan.
Faktor keamanan kegiatan proses peledakan sangatlah penting yang harus
diterapkan dan dijalankan oleh perusahaan mengingat menyangkut nyawa
pekerja dan kelangsungan izin operasi perusahaan.
Penentuan arah lemparan batuan merupakan bagian dari proses
kegiatan peledakan, pada penelitian ini penentuan arah lemparan batuan
bertujuan untuk pengevaluasian arah lemparan sebelumnya. Penentuan arah
lemparan batuan selain dapat meningkatkan kinerja alat gali muat juga dapat
meminimalkan terjadinya fly rock serta meningkatkan keamanan bagi
pekerja.
3.1.2. Geometri Peledakan
Penentuan geometri peledakan yang tepat sangat berpengaruh
terhadap ukuran fragmen yang dihasilkan dan arah lemparan batuan.
Rekomendasi yang di berikan merubah menyeluruh geometri pada saat
penelitian, hal ini untuk mengoptimalkan bahan peledakan yaitu dengan
menambah panjang spasi, burden dan kedalaman lubang ledak.

Tebel 3.1. Perbandingan Geometri Peledakan


Geometri
Diameter Lubang

Saat Penelitian
2.5

Rekomendasi
2.5

C.J. Konya
2.02

(D)
Buden (B)
Spasi (S)
Tinggi Jenjang

1.4 m
1.8 m
6m

1.73 m
2.15 m
6m

2m
2.25 m
4m

(L)
Kedalaman (H)
Kemiringan

4.1 m
0

4.88 m
0

4.6 m
0

2.68 m
1.1 m
2.2 m

1.4 m
0.6 m
3.2 m

Lubang ()
Stemming (T)
Subdriling (J)
Panjang Kolom

2.2.
m
1.98 m
1.9-2.1 m

(PC)
Hasil penelitian diketahui geometri sangat berpengaruh dalam menghasilkan
fragmen batuan dan penentuan arah lemparan batuan. Pada saat penelitian
semakin besar spasi antara lubang ledak maka akan menghasilkan
fragmentasi yang semakin besar sesuai dengan ketetapan perusahaan dan
meminimalkan terjadinya flyrock. Tabel dibawah ini akan membahas hasil
analisa geometri terjadinya flyrock dan tidak terjadinya flyrock.
Tabel 3.2. Perbandingan Geometri Flyrock
Geometri
Diameter Lubang

Flyrock
2.5

Tidak Flyrock
2.5

Rekomendasi
2.5

(D)
Burden (B)
Spasi (S)
Kedalaman (H)
Kemiringan

1.1 m
1.75 m
4.21 m
0

1.50 m
1.84 m
4.06 m
0

1.73 m
2.15 m
4.88 n
0

Lubang ()
Stemming (T)
Panjang Kolom

2.2 m
2.01 m

2.68 m
2.2 m

2.68 m
2.2 m

(PC)
Bahan Peledak

5.6 kg/m3

4.8 kg/m3

5.6 kg/m3

Berdasarkn tabel dapat di ketahui bahwa perbedaan pada geometri


dapat berpengaruh pada terjadinya flyrock, spasi dan penggunaan bahan
peledak merupakan salah satu indikator untuk menentukan arah lemparan
batuan dan terjadinya flyrock, semakin pendek jarak antara spasi lubang
ledak dan semakin banyaknya bahan peledakan dengan delay antar lubang
ledak sama maka untuk menentukan arah lemparan batuan semakin sulit
untuk diprediksi dan proses terjadinya flyrock semakin besar.
Rekomendasi geometri juga menunjukan perbedaan pada geometri,
hal ini pada saat dilaksanakan rekomendasi tidak terjadi flyrock dan hasil
peledakan jauh lebih maksimal dibandingan dengan geometri yang ada
sebelumnya. Geometri yang lebih besar menghasilkan fragmentasi lebih
baik dibandingkan geometri saat terjadinya flyrock. Oleh karena itu
perubahan geometri sangat disarankan untuk meningkatkan kualitas dan
kuantitas dari hasil peledakan dan meminimalkan terjadinya flyrock.
3.1.3. Pemakaian Bahan Peledak
Pemakaian bahan peledak juga merupakan salah satu parameter yang
mempengaruhi arah lemparan batuan dan terjadinya flyrock. Bahan peledak
yang di gunakan pada saat terjadinya fly rock jauh lebih banyak di
bandingkan pada saat tidak terjadinya flyrock.
Powder factor yang di rekomendasi lebih efisien dibandingkan
dengan menggunakan bahan peledak pada saat terjadinya flyrock, ini
meunjukan bahwa semakin besar bahan peledak yang di gunakan maka akan
semakin besar terjadinya flyrock. Dan untuk arah lemparan batuannya akan
semakin sulit untuk di prediksi
Pemakaian bahan peledak yang sesuai dengan geometri dan kondisi
lapangan selain akan meningkatkan hasil peledakan dan meminimalkan
terjadinya flyrock juga memudahkan untuk memprediksi arah lemparan
batuan. Maka disarankan harus sesuai dengan kebutuhan yang ada.
3.1.4. Flyrock
Flyrock dapat diperkirakan seberapa jauh lemparannya berdasarkan
hasil penelitian lemparan maksimal flyrock di PT. Sinar Asia Fortuna adalah

10

sebesar 214.5 m dengan demikian dapat di tentukan jarak aman bagi pekerja
dan alat-alat mekanis. Peningkatan kewaspadaan dan keselamatan para
pekerja dan alat mekanis dapat di lindungi berdasarkan prediksi jarak
flyrock yang ada.
3.1.5. Arah Lemparan Batuan
Nilai RQD batugamping PT. Sinar Asia Fortuna adalah 30,16%
berdasarkan nilai tersebut kualitas batugamping termasuk dalam kualitas
batu yang memiliki kekuatan yang jelek, dalam memprediksi arah lemparan
batuan akan semakin sulit diprediksi karena secara kualitas kekuatan rendah,
pada saat melakukan peledakan, arah lemparan batuan tidak akan selalu
100% sesuai dengan rencana awal akan tetapi dengan mengetahui nilai RQD
batugamping dapat membantu memprediksi arah lemparan batuan dengan di
dukung faktor-faktor pendukung lainnya.
Faktor pendukung dalam memprediksi arah lemparan batuan antara
lain adalah jumlah bahan peledak, inisiasi awal, bidang discontinue,
rangkaian peledakan, waktu tunda antara lubang ledak dan kondisi bahanbahan peledak.
Jumlah bahan peledak sangat berpengaruh, semakin banyak bahan
peledak yang di gunakan dengan spasi antar lubang ledak yang kecil akan
mengakibatkan terjadinya flyrock dan dalam memprediksi arah lemparan
batuan akan semakin sulit di lakukan.
Inisiasi awal merupakan acuan dalam penentuan titik awal yang akan
di ledakan. Pada saat penelitian penentuan titik awal inisiasi tidak
diperhatikan, seringkali penentuan titik awal inisiasi berada di jenjang yang
tidak di ledakan sehingga memiliki kekuatan untuk menahan kekuatan
peledakan.
Bidang discontinue adalah berupa kekar dan sesar semakin
banyaknya kekar dan sesar maka akan menyebabkan sulitnya untuk
memprediksi arah lemparan batuan, hal ini disebabkan energi yang terjadi
pada saat peledakan akan menjadi hilang, ini membuat peledakan
menghasilkan fragmentasi yang tidak optimal dan juga mengakibatkan

11

terjadinya flyrock karena berkurang tekanan yang diberikan oleh batuan


akibat adanya sesar dan kekar.
Rangkaian peledakan akan berhubungan dengan pola peledakan
yang di gunakan, rangkaian disini berkaitan dengan penyambungan antara
rangkaian pertama dengan yang lainnya. Dalam penentuan plus minus di
arus listrik dari kabel rangkaian detonator pada saat peledakan sering
diabaikan dan tidak di laksanakan akibatnya banyaknya lubang ledak yang
tidak meledak, apabila rangkaian tidak sesuai dengan aturan maka pada saat
peledakan proses penghantaran arus listrik dari detonator mnenjadi lambat
bahkan terhambat dan ini yang membuat arah lemparan batuan menjadi sulit
di prediksi dan meningkatkan proses terjadinya flyrock.
Waktu tunda antara lubang ledak jika waktu semakin kecil maka
proses terjadinya peledakan akan menjadi semakin cepat. Proses peledakan
yang cepat tidak tentu akan menghasilkan hasil yang lebih baik akan tetapi
hasil akan menjadi tidak optimal karena proses peledakan tidak dapat
dilakukan dengan cepat, ini membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk
menyediakan bidang bebas dalam melepaskan energi dan pergeseran
material dari batuan induknya. Sebaliknya jika waktu tunda semakin besar
maka proses menyediakan biadang bebas dapat di lakukan dan benturan
antara batuan dapat di hindarkan, dampak flyrock dapat di hindarkan dan
arah peledakan dapat di prediksi arahnya
Kondisi bahan peledakan apbila bahan peledak dalam kondisi yang
baik akan terjadi pembakaran yang maksimal pada saat inisiasi awal,
sebaliknya apabila kondisi bahan peledak dalam kondisi yang tidak baik
akan menimbulkan gas beracun akibat dari proses pembakaran bahan
peledak yang tidak optimal sehingga berpengaruh terhadap kecepatan dan
kekuatan bahan peledak, tidak stabilnya kekuatan dan kecepatan bahan
peledak mengakibatkan hasil peledakan tidak optimal berupa fragmentasi
yang tidak seragam dan menimbulkan arah lemparan yang sulit di prediksi,
juga menyebabkan terjadinya flyrock.

12

3.2. Mekanisme Pecahnya Batuan


3.2.1. Energi Kejut Pada Pecahnya Batuan
Pada penempatan dalam kondisi tak terkurung (unconfined) dalam
suatu bongkah (boulder) batuan, gelombang kejut ini memberikan energi
yang tersalurkan kedalam bongkah batuan pada titik antara bahan peledak
dengan bongkah batuan ketika suatu bahan peledak yang tidak menyentuh
bongkah batuan, diamana kebanyakan terjadi energi yang bergerak hanya
terbuang keudara. Hal ini diperlihatkan dengan suara dentuman sebagai air
blast. Bahan peledak sama sekali tidak akan terkurang apabila tekanan gas
tidak terbentuk.
Ketika dalam suatu kondisi dimana bahan peledak diletakan pada
suatu lubang ledak yang bersentuhan dengan bongkah dimana lubang ledak
ditutup dibagian atasnya (stemming), proses ini tidak membutuhkan bahan
peledak yang banyak karena bahan peledak ditempatkan pada kondisi
terkurung didalam lubang ledak. Ketika bahan peledak ditempatkan pada
lubang ledak yang tidak ditutup bagian atasnya akan memerlukan lebih
banyak jumlah bahan peledak yang digunakan.
3.2.2. Bahan Peledak Terkurung di Lubang Ledak
Mekanisme pecahnya batuan disebabkan oleh gelombang kejut.
Gelombang kejut ini menyebabkan terjadinya pecah kecil (microfacture)
disekeliling dinding lubang ledak dan disini terjadi pecah kecil secara
menerus pada burden.
Hasil tekan gas yang berkelanjutan dilubang ledak yang terjadi
ketika bahan peladak padat dirubah menjadi gas selama proses detonasi.
Lubang ledak bekerja mirip dengan suatu tabung bertekanan.
Ketika suatu lubang ledak diberikan tekanan besar secara mendadak
kemudian akan pecah pada titik lemah sepanjang dindnig lubang ledak, ini
akan menghasilkan pecahan serentak pada berbagai lokasi. Retakan akan
mempunyai arah sejajar dengan sumbu ledak. Pecah akibat mekanisme ini
dikenal dengan nama radial cracking. Selama pembentukan pecahnya radial
gelombang tekanan (kejut) menyebabkan terjadinya perkembangan pecahan

13

kecil (microfacture), tingginya tekanan gas menyebabkan pecahan menuju


arah burden.
3.2.3. Kekuatan Jenjang (Bench Stiffness)
Dalam kegiatan pertambangan, pergerakan pertama yang terlihat
ketika biadang terhempas maju mendekati pusat bidang disini bagian dari
pusat bidang akan terjadi pergerakan semakin cepat dibandingkan daerah
bawah atau atas burden. Kejadian diatas terjadi dikarenakan perbadaan
pergerakan dari burden yang memecah dalam bentuk tiga dimensi.
Mekanisme pecah ini dinamakan pecah lengkung.
Mekanisme lengkungan (fluxure failure) dikontrol oleh pemlihan
spasi antar lubang dan waktu penyalaan. Jika teradi penundaan waktu
peledakan dan spasi antar lubang diperdekat ini akan lebih baik
dibandingkan dengan peledakan serentak.
3.2.4. Proses Pemecahan
Gelombang kejut ini akan menjalar pada batuan sehingga pecahan
radial akan bergerak menuju bidang bebas setelah pecah radial berakhir, gas
bertekanan tinggi akan membuat pecahan radial akan mendekati 2/3 dari
lubang ledak menuju ke bidang bebas.

3.2.5. Mekanisme Pecahan Batuan Akibat Peledakan


Suatu batuan yang pecah akibat dari bahan peledak akan mengalami
beberapa tingkat dalam prosesnya. Dimana proses tersebut dibagi menjadi 3
tingkat, yaitu :
1. Proses Pemecahan Tingkat I
Ketka bahan peledak yang berada dalam lubang ledak meledak,
maka akan menimbulkan tekanan yang tinggi di sekitar lubang
ledak. Gelombang kejut yang dihasilkan dari peledakan tersebut
akan merambat dengan

kecepatan 3000-5000 m/s sehingga

akan mengakibatkan tegangan yang memiliki arah tegak lurus


dengan dinding lubang ledak. Dari tegangan tersebut maka akan

14

menimbulkan rekahan radial yang merambat di sekitar lubang


tembak. Rekah menjari pertama terjadi dalam waktu 1-2 m/s.
2. Proses Pemecahan Tingkat II
Tekanan yang dihasilkan dari proses pemecahan tingkat I akan
menimbulkan gelombang kejut dan akan bernilai positif. Bila
gelombang kejut tersebut akan mencapai bidang bebas maka
akan dipantulkan kembali sehingga tekanan akan turun dan
bernilai negatif kemudian akan merambat kembali ke dalam
batuan. Suatu batuan akan memiliki ketahanan lebih tinggi
terhadap tekanan daripada tarikan, sehingga dari gelombang
tarik tersebut akan menimbulkan suatu rekahan-rekahan di
dalam batuan.
3. Proses Pemecahan Tingkat III
Akibat tekanan yang sangat tinggi dari gas-gas hasil peledakan
tersebut maka rekahan-rekahan yang telah terbentuk pada
tingkat I dan II akan semakin cepat melebar. Apabila suatu
masaa

batuan

didepan

lubang

ledak

gagal

dalam

mempertahankan posisinya bergerak ke depan maka tegangan


tekan tinggi yang berada di dalam batuan akan dilepas. Efek dari
terlepasnya batuan tersebut akan menimbulkan tegangan tarik
tinggi sebagai kelanjutan dari proses tingkat II. Rekahan yang
terbentuk akibat dari proses tingkat II akan menyebabkan
bidang-bidang lemah untuk memulai reaksi-reaksi fragmentasi
utama ada proses peledakan.

15

Gambar 3.1. Mekanisme Pecahnya Batuan


Sumber : http://rudniachri.blogspot.co.id/2014/03/mekanisme- pecahnyabatuan-akibat.html

BAB IV
PENUTUP
1.1.

Kesimpulan
Dari hasil diskusi kelompok maka didapatkan kesimpulan berupa :

16

1. Kegiatan peledakan menimbulkan flyrock yang dapat membahayakan


pekerja, oleh karena itu perlu dikaji mengenai geometri dan tahapan dari
proses kegiatan peledakan. (Jefri Mulyani)
2. Geometri sangat berpengaruh dalam menghasilkan fragmentasi batuan.
Semakin besar spasi antara lubang ledak maka akan menghasilkan
fragmentasi yang semakin besar sehingga meminimalkan terjadinya
flyrock. (Joan Norris AM Teweng)
3. Semakin banyak bahan peledak yang di gunakan maka resiko untuk
terjadinya flyrock jauh lebih besar. (Muhammad Hidayat)
4. Jarak maksimal flyrock di PT. Sinar Asia Fortuna sebesar 214,5 m.
(Sadam Husein Unawekla)
5. Arah lemparan batuan tidak dapat diprediksi arahnya secara 100% akan
tetapi dapat diprediksi dengan nilai RQD, geometri peledakan, jumlah
bahan peledak, pola peledakan, atau rancangan peledakan, insisasi awal,
bidang diskontinu, waktu tunda antara lubang ledak dan kondisi bahan
peledak. (Pemikiran Bersama)
6. Mekanisme pecahnya batuan akibat peledakan di bagi menjadi tiga
tahap peledakan yaitu proses pemecahan tingkat 1, proses pemecahan
tingkat 2, dan proses pemecahan tingkat 3. (Supriyadin)

DAFTAR PUSTAKA
Achri Rudani. 2014. Mekanisme Pecahnya Batuan Akibat Peledakan.
http://rudniachri.blogspot.co.id/2014/03/mekanisme-pecahnya-batuanakibat.html. Diakses 14 Oktober 2015

17

Herlina Erwin. 2015. Makalah Teknik Peledakan.


http://dokumen.tips/documents/makalah-teknik-peledakan55a9317aa7c33.html. Diakses 14 Oktober 2015
Jauhari. 2013. Kajian Teknis Peledakan Untuk Memprediksi Arah Lemparan
Batuan Pada Tambang Batugamping di PT. Sinar Asia Fortuna Kabupaten
Rembang Provinsi Jawa Tengah. Tugas Akhir 2. Yogyakarta : Jurusan Teknik
Pertambangan, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional
Singgih Saptono. 2006. Teknik Peledakan

18