Anda di halaman 1dari 2

Model Farmakokinetik Pertukaran Obat Maternofetal

Laju dan distribusi dari transfer obat ke embrio dan janin ditentukan oleh beberapa variabel yang
ditunjukkan tabel di bawah ini. Beberapa tipe umum kurva farmakokinetik konsentrasi waktu
dapat diobservasi pada unit maternofetal. Selain itu, laju transfer akan berubah seiring dengan
penatalaksanaan. Model A terjadi pada obat yang melewati plasenta dan didistribusikan secara
cepat dalam kompartemen janin tunggal, yang akan mempertahankan equilibrium dengan
kompartemen maternal dengan cepat. Konsentrasi pada janin akan dengan cepat mencapai kadar
plasma maternal; sehingga dalam kurva didapatkan kadar janin dan maternal saling tumpang
tindih. Saat pertukaran maternofetal terjadi dengan cepat, akan terjadi dua model lain; yaitu :
setelah equilibrium antara kompartemen maternal dan janin tercapai, konsentrasi pada janin
mungkin akan melebihi kadar plasma maternal (model C), atau bahkan lebih rendah
dibandingkan dengan kadar plasma maternal (model E). Perbedaan ikatan protein atau gradien
pH pada unit maternofetal akan memengaruhi tingkat pajanan obat terhadap janin; baik besar
(model C) maupun kecil (model E); setelah terjadi equilibrium antara kompartemen maternal dan
janin.
Saat laju transfer plasenta rendah, biasanya terjadi model D pada unit maternofetal. Peningkatan
pada konsentrasi obat di janin terjadi dengan lambat. Namun, karena transport obat dari janin ke
ibu juga lambat, sehingga konsentrasi janin melebihi kadar plasma maternal setelah melewati
persimpangan dua kurva. Oleh karena itu, janin dianggap sebagai kompartemen yang dalam dan
lambat. Pada model F, konsentrasi janin tidak pernah mencapai kadar plasenta maternal karena
ikatan protein plasma atau gradien pH akan menyebabkan lebih tingginya konsentrasi maternal
dibandingkan dengan konsentrasi janin. Metabolisme yang efektif oleh ekskresi dari janin,
seperti menuju ke cairan amnion) juga akan menyebabkan rendahnya konsentrasi obat pada
janin. Pada model B, yang jarang diobservasi, transport obat dari ibu ke janin berjalan dengan
lambat, sementara cepat pada janin ke maternal. Hal ini dikarenakan adanya sisntem transpor
aktif atau terfasilitasi, yang bukan merupakan ciri-ciri dari agen terapeutik.
Such considerations in defining models may appear on first
glance to be of theoretical interest only. These models are of extreme importance, however, in
interpreting results from experimental
and clinical studies. When kinetic curves are inadequately
defined, results may be completely misinterpreted. Owing to ethical
and practical limitations, often only one or a few fetomaternal
sample pairs are available for analysis in clinical studies. If
these samples were taken before crossover (see model C in Figure
22-1), for example, the wrong conclusion (i.e., relatively low
fetal exposure) could be reached. For an adequate description
of fetal exposure, both the maternal and the fetal concentrationtime
curves must be defined. Although such complete data on
placental transfer are rare, attempts have been made to assign
the kinetics of some drugs, on a tentative basis, to the models
defined in Figure 22-1; the results of various studies are compiled
in Box 22-1.
The foregoing discussion makes clear why it is difficult to identify
parameters that determine the placental transfer of drugs. The
selection of the correct model is a prerequisite for rational interpretation
of the relative importance of such parameters, such as

physicochemical properties of drugs.32 Drugs have the greatest


chance of crossing the placenta if they (1) are lipid-soluble, (2)
are weak acids, and (3) are of a low molecular weight (less than
500). Another important factor is protein binding