Anda di halaman 1dari 4

Radiasi.No.1.Vol.1.

Marfungatun

Peningkatan Motivasi Belajar Melalui Metode Pendekatan Inquiry


Cooperatif Pada SMP Negeri 2 Karanggayam Kebumen
Marfungatun
Program Studi Pendidikan Fisika
Universitas Muhammadiyah Purworejo
Jalan KHA. Dahlan 3 Purworejo, Jawa Tengah

Intisari - Pembelajaran IPA disekolah dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas. Penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan motivasi belajar Fisika melalui metode pendekatan Inquiry Cooperatif pada pesert didik SMP Negeri 2
Karanggayam Kebumen Tahun Pelajaran 2011/2012. Materi Fisika dalam penelitian ini adalah tentang Massa Jenis.
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan setting SMP Negeri 2 Karanggayam Kebumen
dengan subjek penelitian peserta didik kelas VII-D yang berjumlah 38 peserta didik. Penelitian ini dilakukan dalam dua
siklus dengan indikator penelitian minimal 30 peserta didik memiliki motivasi belajar yang lebih baik. Hasil PTK menunjukan
bahwa melalui pendekatan inquiry cooperatif dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas VII-D SMP Negeri 2
Karanggayam, yang semula terdapat 20 dari 38 peserta didik dengan ketuntasan kelas sebesar 52,63%. Pada siklus I
meningkat menjadi 28 dari 38 peserta didik dengan ketuntasan 73,68% dan pada siklus ke-II meningkat menjadi 31 dari
38 peserta didik dengan ketuntasan 81,58%. Hal ini melebihi indikator penelitian minimal yaitu 30 siswa (75%) memiliki
motivasi yang baik.
Kata Kunci : Peningkatan motivasi belajar, metode inquiry cooperative
PENDAHULUAN
Dalam setiap
mata
pelajaran,
pemahaman konsep
merupakan syarat utama untuk mempelajari, menghafal,
memahami sekaligus menyelesaikan soal-soal pada suatu mata
pelajaran. Apabila pemahaman konsep perdik terhadap mata
pelajaran rendah, akan berakibat tidak
baik pada hasil
belajar dan akan menghambat proses belajar mengajar
pada
kompetensi dasar selanjutnya, karena antar kompetensi dasar
saling berkaitan. Selain pemahaman konsep, motivasi
belajar juga sangat mempengaruhi kelancaran proses
belajar mengajar dan hasil belajar peserta didik. Semakin
tinggi motivasi belajardapat mempermudah proses belajar dan
meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dalam setiap mata
pelajaran, pemahaman konsep merupakan sarat utama untuk
mempelajari, menghafal, memahami sekaligus menyelesaikan
soal-soal pada suatu mata pelajaran. Apabila pemahaman
konsep peserta didik terhadap mata pelajaran rendah, akan
berakibat tidak baik pada hasil belajar peserta didik sekaligus
menghambat proses belajar mengajar pada kompetensi dasar
selanjutnya karena antar kompetensi dasar saling berkaitan.
Selain itu pemahaman konsep, motivasi belajar
pesertadidik juga sangat mempengaruhi kelancaran proses
belajar mengajar dan hasil belajar peserta didik. Semakin
tinggi motivasi belajar peserta didik akan dapat
mempermudah proses belajar mengajar dan meningkatkan
hasil belajar peserta didik.
Peneliti sebagai guru di SMP Negeri 2 Karanggayam.
Selama ini peneliti masih menggunakan metode ceramah
dalam pembelajaran IPA Fisika, hal ini dikarenakan metode
ceramah dianggap satu-satunya metode yang paling ekonomis
akibatnya pemahaman konsep dan motivasi belajar pada
peserta didik masih rendah. Para peserta didik rata-rata hanya
akan melaksanakan tugas yang diberikan guru, selebihnya
kurang adanya aktifitas belajar. Boleh dikatakan inisiatif dan
kreatifitas peserta didik dalam belajar sangat rendah. Sebagai

indikatornya antara lain adalah :


1. Rasa ingin tahu peserta didik kurang.
2. Peserta didik enggan bertanya saat diberi waktu
untuk bertanya.
3. Pemahaman peserta didik kurang, hal ini ditunjukkan
dengan
peserta
didik
kurang mampu
mengerjakan soal-soal yang diberikan guru.
4. Peserta
didik kurang percaya diri, ini
ditunjukkan peserta didik enggan jika disuruh
mengerjakan atau maju di depan kelas.
5. Kejujuran peserta didik kurang, maka sewaktu
ditanya oleh guru Siapa diantara kalian yang belum
paham tentang materi yang baru diberikan?, peserta
didik tidak ada yang mau mengakuinya.
Akibatnya adalah peserta didik cenderung malas
dalam belajar dan megerjakan tugas-tugas yang
diberikan. Hal ini dibuktikan dengan hasil Ulangan
Harian dan Ulangan Nasional dari beberapa tahun
terakhir masih cukup memperihatinkan.
Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah
untuk peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, antara
lain dengan pelatihan dan peningkatan kompetensi
guru, perbaikan kurikulum, pengadaan buku dan alat
pembelajaran, perbaikan sarana dan prasarana
pendidikan. Akan tetapi indicator keberhasilan
peningkatan mutu pendidikan masih belum cukup
menggembirakan,
bahkan
masih
ada
yang
memperihatinkan (Nur Muhammad, 2000).
Berkaitan dengan hal tersebut, guru
sebagai
ujung tombak dalam pencapaian misi pendidikan
dituntut untuk lebih profesional, inovatif
dan
prespektif dalam melaksanakan tugas pembelajarannya.
Guru hendaknya mampu mengatasi masalah belajar
peserta
didik
secara terus menerus melalui
97

Radiasi.No.1.Vol.1.Marfungatun
pendekatan, metode dan tehnik atau strategi pembelajaran
yang menarik sehingga mampu mengembangkan potensi
peserta didik secara optimal. Salah satu metode pembelajaran
untuk mengembangkan potensi dan motivasi peserta didik
adalah dengan metode pendekatan inquiry cooperatif.
Pemilihan metode pembelajaran untuk
peningkatan
motivasi pembelajaran sangat berpengaruh pada proses
pembelajaran, yang akhirnya akan membawa dampak
keberhasilan pembelajaran dalam mencapai tujuan
pembelajaran (Wartono, 2003: 6).
Kenyataan inilah yang mendorong peneliti untuk
mengangkatnya sebagai bahan penelitian. Adapun judul
yang peneliti ajukan adalah Peningkatan Motivasi
Belajar IPA Fisika melalui Metode Pendekatan Inquiry
Cooperatif Pada SMP Negeri 2 Karanggayam Kebumen.
Berdasarkan latar belakang uraian di atas, maka penulis
mengidentifikasi masalah sebagai berikut.
1. Kurangnya minat
peserta didik terhadap pelajaran
IPA Fisika.
2. Metode mengajar yang monoton (teacher centered)
dapat menimbulkan kejenuhan bagi peserta didik.
3. Tidak terjadi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan
menyenangkan (PAKEM).
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penelitian
ini dibatasi.
1. Peningkatkan motivasi dengan metode
pendekatan
Inquiry Cooperatif.
2. Proses pembelajaran dibatasi pada pokok bahasan
massa jenis.
3. Penelitian
dilakukan
di
SMP
Negeri
2
Karanggayam Kebumen kelas VII-D tahun ajaran 2012
semester 2.
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan
masalah pada penelitian ini adalah Bagaimana
meningkatkan motivasi belajar IPA Fisika melalui metode
pendekatan inquiry cooperative pada pokok bahasan massa
jenis pada peserta didik kelas VII-D SMP Negeri 2
Karanggayam Kebumen?.
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian
ini adalah untuk meningkatkan motivasi
belajar
IPA
Fisika melalui metode pendekatan inquiry cooperative
pada pokok bahasan massa jenis pada peserta didik kelas
VII- D SMP Negeri 2 Karanggayam Kebumen. Melalui
metode pendekatan inquiry cooperative yang dilakukan
peneliti diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut.
1. Manfaat praktis bagi
a. Guru
Meningkatkan profesionalisme dalam melaksanakan tugas
pokoknya sebagai seorang pengajar dan pendidik.
b. Peserta didik
Meningkatkan motivasi belajar peserta didik dan
memunculkan ketrampilan cooperatif.
c. Guru lain
Transfer metode untuk memperkaya perbendaharaan metode
mengajar.
2. Manfaat teoritis
Sumbangan pengembangan metode pembelajaran bagi dunia
pendidikan.

LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
Telah dilakukan penelitian oleh Marfungatun
mengenai Peningkatan Motivasi Belajar dengan
menggunakan metode Inquiry Cooperatif terhadap
siswa SMP Negeri 2 Karanggayam, Kebumen
tahun ajaran 2011/2012. Penggunaan metode
pendekatan
Inquiry
Cooperatif
dapat
meningkatkan motivasi belajar sekaligus meningkatkan
hasil belajar peserta didik. Hal ini dapat dilihat dari
hasil analisis data yang diperoleh dengan mengadakan
evaluasi setelah pembelajaran selesai pada materi pokok
bahasan Massa Jenis. Penelitian ini merupakan PTK
yang dilaksanakan dalam dua siklus. Ada 4 tahap
penting dalam PTK, yaitu:
1. Perencanaan (Planning)
2. Pelaksanaan (Acting)
3. Pengamatan (Observing)
4. Refleksi (Reflecting)
Keempat tahap dalam PTK tersebut adalah unsur
untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran
kegiatan beruntun, yang kembali ke langkah semula.
Setelah dilakukan dua siklus ternyata berhasil untuk
meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Hal ini
dapat dilihat dari hasil belajar peserta didik yang
semula pada pra siklus di peroleh rata-rata nilai sebesar
59, 50 di mana peserta didik yang memperoleh nilai
63 ke atas 20 dari 38 peserta didik.
Pada siklus I rata-rata peserta didik ,meningkat
dengan ketuntasan kelas sebesar 73, 68% di mana
peserta didik yang mencapai KKM (63) sebanyak 28
dari 38 peserta dengan rata-rata nilai 67, 32. Pada
siklus II rata-rata prestasi belajar peserta didik
meningkat dengan ketuntasan kelas sebesar 81, 58% di
mana peserta didik yang telah mencapai KKM (63)
sebanyak 31 dari 38 peserta didik dengan rata-rata
nilai sebesar 71, 32.
B. Kajian Teori
1. Pengertian Motivasi Belajar
Menurut Mc. Donald yang dikutip oleh Susiati
(2005: 15) pengertian motivasi adalah perubahan energi
pada diri seseorang ditandai dengan munculnya feeling
dan didahului dengan tanggapan adanya tujuan. Bahwa
motivasi mengawali
terjadinya perubahan energi
pada setiap individu. Perkembangan motivasi akan
membawa beberapa perubahan energi di dalam system
neurophysiological yang penampilannya akan
meyangkut kegiatan fisik manusia.
Motivasi ditandai dengan munculnya rasa
atau
feeling efeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan
dengan persoalan-persoalan kejiwaan, efeksi dan emosi
yang dapat menentukan tingkah laku manusia. Motivasi
akan dirangsang adanya tujuan. Jadi merupakan respon
dari suatu aksi yaitu tujuan. Sedangkan
menurut
Sardiman AM yang dikutip oleh Susiati (2005: 17)
motivasi berasal dari kata motif diartikan sabagai daya
upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan
98

Radiasi.No.1.Vol.1.Marfungatun
sesuatu, maka motivasi diartikan sebagai daya penggerak
yang telah aktif.
Belajar adalah proses yang dirancang dan diarahkan
untuk mencapai tujuan dengan
berbuat melalui berbagai
pengalaman.
Skinner mengemukakan Belajar adalah
suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka aktifitas
yang baik menjadi meningkat, sebaliknya bila orang tersebut
tidak belajar , maka aktifitasnya menurun (Dimyati,
2002:34).
Dalam belajar diperoleh beberapa hal yaitu kesempatan
terjadinya peristiwa yang menimbulkan aktifitas belajar serta
konsekuensi yang bersifat menguatkan aktifitas
belajar
tersebut. Sedagkan
Gagne
(Dimyati,
2002:
40)
mengemukakan Belajar merupakan
kegiatan
yang
kompleks Hasil belajar merupakan kapabilitas Orang setelah
belajar memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.
Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari simulasi yang
berasal dari lingkungan serta
proses
kognitif
yang
dilakukan oleh orang yag belajar.
Sementara itu Wikel (Darsono, 2001: 4) mengemukakan
Belajar adalah suatu aktifitas mental psikis yang berlangsung
dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan dalam pengetahuan-pengetahuan, keterampila dan
nilai sikap. Dengan demikian belajar merupakan hasil
interaksi antara individu dengan lingkungan yang
menghasilkan perubahan kemampuan tingkah laku dan
keterampilan ke arah yang lebih baik. Selanjutnya secara
lebih rinci Ausubel (Muryati, 2003: 12) mengemukakan
belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi, yaitu.
Menyangkut cara bagaimana peserta didik dapat mengaitkan
informasi itu pada struktur kognitif yang merupakan faktafakta, konsep-konsep dan generalisasi
yang
telah
dipelajari dan diingat oleh peserta didik yang telah ada.
Pada tingkat pertama dalam belajar, informasi
dapat
dikomunikasikan pada peserta didik akan materi yang akan
diajarkan.
Pada
tingkat
kedua,
peserta didik
menghubungkan atau mengaitkan informasi
pada
pengetahuan
(berupa konsep-kosep atau yang lain) yang
telah dimilikinya, dalam hal ini terjadi belajar bermakna.
Akan tetapi, peserta didik itu dapat juga hanya mencobacoba
menghafalkan
informasi
baru
itu
tanpa
menghubungkannya pada konsep-kosep yang
telah
ada
dalam struktur kognitifnya, dalam hal ini terjadi
belajar hafalan. Jadi pengertian motivasi belajar adalah
dorongan
yang berupa
energy penggerak, pengarah,
keinginan dan usaha yang
timbul
dari
dalam
diri
seseorang dalam usaha untuk menghasilkan perubahan
kemampuan tingkah laku dan keterampilan ke arah yang
lebih baik.
C. Hipotesis
Hipotesis peelitian ini adalah Melalui penerapan model
pembelajaran IPA Fisika yang
dilaksanakan
melalui
metode pendekatan
inquiry cooperative
dapat
meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas VII-D
SMP Negeri 2 Karanggayam Kebumen.
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini jenis PTK dengan menggunakan metode
Inquiry Cooperatif. Proses penelitian ini yang dilakukan
meliputi kegiatan perencanaan
(planning),
pelaksanaan/

tindakan (acting), observasi (observating), dan refleksi


(reflecting).
B. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2
Karanggayam, Kebumen yang berada di Desa
Gunungsari. Waktu penelitian berlangsung 3 bulan
s
(April /d Juli 2012).
C. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah peserta didik kelas VII
D yang jumlah peserta didiknya 38 terdiri dari 23 lakilaki dan 15 perempuan.
D. Instrument Penelitian
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
sebagai barikut: observasi, tes dan angket.
E. Teknik Analisis Data
Data hasil belajar kognitif yang dianalisis adalah
hasil
ulangan harian yang dilaksanakan pada setiap
siklus dan tes akhir berdasarkan
tercapai atau
tidaknya ketuntasan belajar minimal dari SKBM/
KKM yang telah ditetapkan yaitu 75% untuk kedua
siklus.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Data Penelitian
Data penelitian mengenai peningkatan motivasi
belajar peserta didik pada pokok bahasan Massa Jenis
dapat di buktikan dari hasil belajar peserta didik seperti
yang disajikan dalam tabel 4.8.
Tabel 4.8 Prestasi Belajar Peserta didik dalam
Proses Pembelajaran

Keterangan
Jumlah nilai
keseluruhan
Banyaknya
peserta didik
yang tuntas
belajar

Pra
Siklus
2244

Siklus
I

Siklus
II

2558

2710

20

28

31

Rata-rata

59,05

67,32

71,32

Persentase
peserta didik
yang tuntas
belajar

52,63

73,68

81,58

B. Pembahasan Hasil Penelitian


Pembahasan hasil penelitian ini bardasarkan
instrument berupa angket motivasi peserta didik
dalam pembelajaran IPA Fisika
yang menggunakan
metode Inquiry Cooperatif dalam proses pembelajaran
dan untuk hasil prestasi menggunakan tes. Ketuntasan
belajar secara klasikal yang ditetapkan peneliti adalah
75%. Meskipun pada siklus I belum tercapai, tapi telah
mengalami peningkatan. Ketuntasan belajar secara
klasikal akhirnya tercapai pada siklus II, yaitu 81, 58%.
99

Radiasi.No.1.Vol.1.Marfungatun
Hal ini berarti penelitian tindakan kelas yang dilakukan untuk
mengukur kenaikan motivasi peserta didik sudah berhasil
sesuai indikator, sehingga menghentikan siklus berikutnya.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian tindakan kelas ini diperoleh
simpulan bahwa dengan metode pendekatan
iquiry
kooperatif dapat meningkatkan motivasi belajar peserta
didik kelas VII-D SMP Negeri 2 Karanggayam dari
50,13% pada pra siklus menjadi 63,29% pada siklus I dan
72,50% pada siklus II. Peningkatan motivasi belajar
peserta didik juga diikuti dengan peningkatan prestasi
belajar peserta didik dari 59,05 dengan tingkat ketuntasan
52,63% pada pra siklus menjadi 67,32 dengan ketuntasan
73,68% pada siklus I dan pada siklus II meningkat lagi
menjadi 71,32 dengan ketuntasan 81,58%.

[10]
[11]
[12]

Inquiry Cooperatif terhadap Hasil Belajar Fisika


Siswa. Pascasarjana UNP.
BSNP. 2006. Petunjuk Teknis Pengembangan
Silabus dan Contoh Model Silabus.
Panduan PTK: (Suyadi). Penerbit: Diva Press,
Yogyakarta (2010).
Suharsimi,,Arikunto.
1986.
Dasar-dasar
Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bima Angkasa.

UCAPAN TERIMAKASIH
1. Drs. H. Hartono, M.M, selaku dekan FKIP UMP
beserta staf yang telah memberikan izin dan rekomendasi
kepada
penulis
dalam
mengadakan penelitian
pengumpulan data.
2. Eko Setyadi Kurniawan, M. Pd. Si., selaku ketua
Program Studi Pendidikan Fisika.
3. Drs. R. Wahid Akhdinirwanto, M.Si., dosen
Pembimbing I.
4. H. Arif Maftukhin, M. Pd., dosen pemnimbing II.
5. Widhiyanto, S. Pd. Ing., Kepala SMP Negeri 2
Karanggayam, Kebumen.
6. Orang tuaku tercinta sebagai sumber inspirasi yang
juga selalu mendoakan.
7. Semua anak-anakku dan teman yang selalu
memotivasi, membantu dan mendoakan.
PUSTAKA
[1]
Arikuntoro,
Suharsimi.
1997.
Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka
Cipta.
[2]
Abdurrahman, Muyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak
Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
[3]
Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning: Mempraktikan
Cooperative Learning di Ruang- ruang Kelas. Jakarta:
Grasindo.
[4]
Suherli.
2009.
Model
Pembelajaran
Kontekstual(Contextual Teachi ng and Learning).
Diunduh dari http://irfarazak.blogspot.com tanggal
23 November pukul 09.34.
[5]
Ibrahim, Muslimin. 2007. Pembelajaran Inquiry.
Diunduh dari http://herfis.blogspot.com tanggal 12
November 2009 pukul 13.02.
[6]
Ramadhan, Tarmizi.
2008. Pembelajaran
Cooperative
Make
a
Match.
www.Scribd.com/doc/BB46497.
[7]
Usman, Uzer. 2002. Menjadi Guru Profesional.
Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
[8]
Saan, Ida Murni. 2005. Peran Media dalam
Meningkatkan Efektifitas
Pembelajaran.
Makalah. Universitas Negeri Padang.
[9]
Syarifuddin. 2006. Pengembangan Pembelajaran
100