Anda di halaman 1dari 24

BAB I

IDENTITAS BUKU

Berikut ini disampaikan identitas buku yang dijadikan sebagai sumber untuk
tugas laporan buku pada matakuliah Konsep Dasar PKn, antara lain:
1. Pengarang buku
: Drs. H. Isjoni, M.Si.
2. Jumlah halaman
: 146 halaman
3. Edisi/Tahun terbit
: Edisi 1/ 2006
4. Penerbit
: Yayasan Obor Indonesia
5. Kota terbit
: Jakarta
6. Riwayat singkat penulis :
Drs. H. Isjoni, M. Si adalah Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(MP) Universitas Riau dan Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
Provinsi Riau. Tokoh yang satu ini tidak asing lagi bagi masyarakat Riau, karena
hampir sebagian besar daerah Riau sudah dikunjunginya, terutama di dalam
mengamati isu dan masalah pendidikan. Kreativitas tulis menulis sudah
digelutinya sejak menjadi mahasiswa di jurusan Sejarah FKIP Universitas Riau.
Setelah berhasil menggondol gelar SI tahun 1983, selanjutnya ia juga berhasil
menyelesaikan S2 pada Bidaang Ilmu Sosiologi-Antropologi Universitas
Padjadjaran Bandung tahun 1997 dengan konsentrasi Antropologi Ekonomi
Tradisional. Dan menyelesaikan program doktor (Ph.D) bidang Falsafah
Pendidikan pada Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Kuala Lumpur.
Sejak tahun 2003 dipercaya menjadi Ketua Lembaga Pengabdian kepada
Masyarakat (LPM) Universitas Riau. Sosok yang hampir 10 tahun pemah menjadi
Kepala SLTP/SMU/SMK Nurul Falah ini sedikitnya 30 buah karya ilmiah di
bidang pendidikan, dan menjadi pemakalah berbagai seminar, baik tingkat lokal,
nasionai, maupun intemasional. Aktif melakukan penelitian tentang sejarah,
biografi Para pejuang, dan komunitas adat terpencil di daerah Riau. Sebagai tokoh
intelektual, Isjoni telah berperan penting dalam berbagai organisasi keilmiahan. Di
antaranya Ketua Forum Intelektual Kampus Peduli.

BAB II
RANGKUMAN BUKU

2.1 Meningkatkan Kualitas Pendidikan


a. Indeks Kepedulian Pemerintah

Pendidikan adalah ujung tombak suatu negara, tertinggal atau majunya


sebuah negara, sangat tergantung kondisi pendidikannya. Semakin berkembang
pendidikan suatu negara, maka semakin besar dan majulah negara tersebut.
Negara makin maju dan berkembang bila sektor pendidikan sebagai kunci
pembangunan menjadi Skala prioritas. Negara besar dan berkembang menyadari
bahwa pembangunan sektor pendidikan amat perlu dinomorsatukan. Pemerintah
mereka tidak segan-segan menargetkan 30-40 persen dari anggaran belanja negara
untuk sektor pendidikan.
Tentunya kita bertanya untuk negeri ini, apakah mungkin pemerintah
memberikan persentase sebesar itu? Akan tetapi undang-undang sudah
memberikan rambu-rambu yang merupakan kesepakatan bersama, bahwa alokasi
untuk sektor pembangunan pendidikan 20 persen dari anggaran pendapatan
belanja, baik. untuk pusat, provinsi maupun kabupaten dan kota. Besar anggaran
pendidikan tersebut sebagai salah satu kebijakan pemerintah untuk meningkatkan
kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan di republik ini memang sedang diuji.
Dari masa ke rasa kebijakan pemerintah selalu mengotak-atik dan menguji coba
sistem pendidikan. Itulah kebijakan turun-temurun dari satu pemerintahan ke
pemerintahan berikutnya.
Angin segar bertiup kencang, yakni diberlakukannya kebijakan pemerintah
melalui sistem desentralisasi. Dampak dari desentralisasi adalah pelimpahan
wewenang dan otoritas pemerintah pusat kepada daerah. Selama ini pemerintahan
pusat dengan sikap arogannya selalu bersikap pilih kasih dan diskriminatif. Hal ini
terlihat dari tidak meratanya semua sektor pembangunan, terutama pembangunan
di kawasan Pulau Jawa dengan luar Jawa. Menjadi tugas kita agar dengan otonomi
daerah berupaya mengejar ketertinggalan di semua sektor, terutama pembangunan

sektor pendidikan, Semangat otonomi daerah berdampak pula kepada otonomi


pendidikan yang merupakan implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah. Hal
ini merupakan kebijakan baru pemerintah di sektor pendidikan yang mesti
didukung semua pihak.
Kondisi riil pendidikan di negeri ini sungguh sangat memprihatinkan, dapat
dirasakan di setiap jenjang dan jenis pendidikan. Apalagi kalau kita melihat
kondisi pendidikan di berbagai daerah terpencil, pedalaman, pesisir, bagaimana
anak-anak usia sekolah yang seharusnya memiliki hak untuk mengecap
pendidikan yang layak, ternyata jauh dari harapan. Banyak anak didik bekerja
membantu orang tuanya untuk memenuhi hidup dan kehidupan keluarga daripada
belajar di sekolah. Sebagian lagi terlihat bermain, seolah-olah itu pengetahuan
bukan menjadi beban bagi mereka, pendidikan bukan menjadi impian yang harus
diraih. Akan tetapi pikiran mereka seolah-olah pendidikan tidak memberikan nilai
tambah dan tidak menjanjikan.
Pembangunan pendidikan hendaknya diarahkan kepada beberapa sektor
yang merupakan kebutuhan mendasar, karena langsung memberikan dampak
terhadap peningkatan mutu pendidikan. Pertama sarana dan prasarana pendidikan,
meliputi pembangunan ruang belaiar, renovasi dan rehabilitasi ruang belajar
beserta perangkat pendukungnya, ruang laboratorium, perpustakaan, komputer,
pusat sumber belajar, dan termasuk rumah guru, kepala sekolah, peniaga sekolah,
WC guru dan murid. Kedua, sarana dan prasarana pembelajaran, berkaitan dengan
pengadaan alat dan media pembelajaran, untuk bidang IPA, IPS, Bahasa, dan
bidang lainnya. Selanjutnya seperangkat alat praktek laboratorium (IPA,
Matematika, IPS, Bahasa), buku-buku pegangan guru dan siswa di semua jenjang
dan jenis pendidikan serta buku-buku untuk perpustakaan. Mungkin perlu pula
seperangkat peralatan IT, penggunaan teknologi pembelajaran berbasis web, dan
sebagainya.
Ketiga, pembangunan SDM. Kondisi SDM kita masih rendah, karena itu
perlu ditingkatkan. Program Wajib Belajar lebih cepat diharapkan tahun 2008
tuntas,

demikian pula

SDM

guru perlu pula

ditingkatkan

kualifikasi

pendidikannya, mulai dari guru SD, SMP, sampai SMA/SMK. Keempat,


pembangunan sektor Pendidikan Luar Sekolah, mengingat jumlah anak-anak

putus sekolah cukup tinggi. Bagi mereka yang tidak ingin melanjutkan pendidikan
untuk Wajib Belajar, diberikan kesempatan untuk mengikuti kursus keterampilan
yang diselenggarakan melalui PLS.
Kelima., pembangunan life skill, mulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA. Hal
ini sebagai modal awal bagi mereka yang karena faktor ekonomi, sosial budaya
tidak dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, maka dengan berbekal life
skill yang dikembangkan di sekolah akan menjadi modal awal bagi mereka untuk
membuka usaha sendiri. Banyak hal sebenarnya yang perlu menjadi perhatian
pemerintah daerah dalam pembangunan sektor pendidikan. Kita tidak ingin
kemelut ini berlarut-larut, perlu gerak cepat sehingga kita mampu dengan
kekuatan bersama untuk membangun SDM melalui pembangunan pendidikan.
b. Pokok-pokok Bahasan

Berbicara tentang pelaku pendidikan, maka beberapa pihak secara langsung


terlibat dalam suatu kegiatan pendidikan dan pembelajaran, Ada yang langsung
sebagai pelaku dan ada pula yang tidak secara langsung. Namun, semuanya
merupakan titik sentral dalam pelaksanaan proses pendidikan dan pembelajaran.
Pelaku langsung, misalnya para guru, di sernua dan tingkat pendidikan dan bidang
studi, dan kepala sekolah, baik umum maupun agama. Sedangkan pelaku tidak
langsung pendidikan yang tidak kalah pentingnya berkenaan dengan tanggung
jawabnya dalam mewujudkan pendidikan bermutu adalah komite sekolah, orang
tua, maupun masyarakat, atau dengan kata lain disebut dengan stakeholder.
Ada tujuh aspek yang dijadikan pertimbangan dalam pembangunan
pendidikan, yakni: (1) pengadaan guru, (2) pengadaan dan peningkatan sarana dan
prasarana pendidikan, (3) pengembangan kurikulum, (4) peningkatan kualitas
pendidikan, (5) peningkatan profesionalisme dan tanggung jawab terhadap
profesi, (6) peningkatan kesejahteraan guru, dan (7) pemberdayaan masyarakat.
Misalnya, pengadaan tenaga guru, secara logika bagaimana kita dapat
mewujudkan pendidikan bermutu, kalau tenaga guru sangat kurang. Sangat
mustahil pendidikan kita baik, kalau gerbng terdepan dalam pendidikan masih
sedikit dan kualitasnya sangat kurang. Oleh karena itu, upaya untuk mencetak dan
meningkatkan kualitas guru haruslah menjadi program prioritas pemerintah.

Begitu pun dengan maju dan mundurnya pendidikan, bahwa pendidikan


bermutu tidak terlepas dari peran serta masyarakat. Pemberdayaan masyarakat
dalam rnewujudkan pendidikan bermutu perlu didukung, masyarakat diberikan
kesempatan dan peluang dalam penyelenggaraan pendidikan, dan. inilah yang
disebut dengan pendidikan berbasis masyarakat (community based education).
Beberapa pokok persoalan menjadi persoalan pendidikan di negeri kita, dan
ini akan selalu menjadi bahan diskusi yang tidak akan pernah selesai. Ini menjadi
perhatian pengambil keputusan untuk menentukan langkah-langkah strategis
untuk kemajuan pendidikan di masa depan.
c. Menata Perencanaan Strategis

Mengapa diperlukan perencanaan dalam pembangunan pendidikan?


Perencanaan itu sendiri terrnasuk dalam proses suatu organisasi, dan secara hakiki
merupakan proses administrasi pendidikan. Perencanaan merupakan suatu
langkah persiapan dalam pelaksanaan suatu pekerjaan untuk mencapai tujuan
tertentu. Proses penyusunan suatu rencana yang harus diperhatikan ialah
menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam mencapai tujuan, yaitu dengan
mengumpulkan data, rnencatat, dan menganalisis data serta merurnuskan suatu
program kerja. Kalau demikian halnya, maka perencanaan merupakan salah satu
cara hakiki suatu kelembagaan. Tanpa suatu perencanaan, maka pelaksanaan
program, atau suatu kegiatan akan mengalami kesulitan, bahkan tidak mustahil
akan menemui kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan, Selanjutnya,
perencanaan merupakan kegiatan yang harus dilakukan pada permulaan selama
kegiatan administrasi itu berlangsung. Dalam perencanaan pendidikan, ada dua
hal yang perlu menjadi perhatian kita,.yakni tujuan dan sarana.
Setiap organisasi memerlukan suatu perencanaan. Tanpa perencanaan
tentunya apa yang dilakukan akan tidak optimal. Mungkin saja hasil yang
diharapkan tidak sesuai dengan yang diinginkan dan tidak mustahil berakibat
amburadul. Demikian pula dengan perencanaan pendidikan. Kondisi pendidikan
tidak dapat direka-reka dan diterka dengan suatu perkiraan. Pembangunan sektor
pendidikan harus melalui mekanisme yang jelas, karena kondisi pendidikan penuh
dengan carut marut, kusut masai, ibarat benang kusut, buah simalakama, ada lagi

dikatakan pendidikan rusak-rusakan. Sungguh ironi kondisi pendidikan di negeri


kita ini.
Oleh karena itu, tanpa perencanaan strategis, maka mustahil kita akan dapat
meningkatkan mutu pendidikan kita. Kita akan tetap terpuruk dan tertinggal
dengan dunia global, berada pada posisi terendah di berbagai belahan dunia. Hal
ini tidak mungkin kita biarkan, kita harus mencari solusi dan berbagai alternatif
pemecahan dilakukan. Perlu perencanaan strategis dalam pembangunan
pendidikan dilakukan, di mana harus dimulai. Sekurang-kurangnya ada empat hal
yang menjadi perhatian kita.
Pertama, dimulai dari alokasi dana, Mana rnungkin kita mampu
meningkatkan mutu pendidikan dengan baik, bila tidak ditunjang oleh alokasi
dana memadai. Selama ini alokasi dana untuk sektor pendidikan sangat tidak
memadai, yakni tidak 1ebih dari 7 persen dan APBN maupun, APBD. Hanya
beberapa daerah saja yang melebihi target, itu pun bisa dihitung dengan jari.
Bagaimana dengan minimnya alokasi dana kita dapat meningkatkan kualitas guru,
mengangkat

guru,

membangun

sarana

dan

prasarana

pendidikan

dan

pembelajaran, apalagi untuk menaikkan kesejahteraan guru? Oleh sebab itu, solusi
pertama ini adalah meningkatkan alokasi dana untuk sektor pendidikan seperti
diamanatkan UU sebanyak 20 persen, baik APBN maupun APBD.
Kedua, dari manusianya, lebih ditekankan pada SDM-nya, kalau di sekolah
tidak lain guru dan kepala sekolah. Guru adalah orang pertama dan utama dalam
pencerdasan anak bangsa, Di tangan gurulah terletak arah dan tujuan masa depan
anak bangsa. Guru yang berkualitas akan memberikan yang terbaik kepada muridmuridnya, demikian pula sebaliknya. Maju dan mundurnya mutu pendidikan juga
menjadi salah satu tanggung jawab guru.
Selain itu, aparat atau birokrat pendidikan juga ikut memberi warna
terhadap gelapnya nuansa pendidikan kita. Karena masih banyak birokrat
pendidikan yang salah kaprah, lebih mementingkan kepentingan pribadi
dibandingkan untuk masyarakat luas, lebih berorientasi kepada rnateri atau
proyek. Tidak menjadi rahasia umurn lagi bahwa birokrat pendidikan telah ikut
rnenodai mutu pendidikan kita. Solusi yang dilakukan ialah dengan memberikan
stressing kepada guru agar dapat meningkatkan mutu pembelajarannya. Upaya

yang dilakukan ialah dengan memberikan berbagai diklat/workshop secara terusrnenerus dan memberikan kesempatan kepadanya untuk melanjutkan pendidikan
guna meningkatkan kualifikasi pendidikan. Bagi birokrat pendidikan, kiranya
perlu ditingkat kan kepengawasan atau pengendalian secara bertanggung jawab,
baik bersifat eksternal rnaupun internal.
Ketiga, sarana dan prasarana. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kondisi
sarana dan prasarana pendidikan dan pembelaiaran di negeri kita sungguh sangat
memprihatinkan. Banyak ruang belajar yang sudah rentan tidak layak untuk
digunakan dalam proses pendidikan dan pembelajaran, Banyak ruang belajar yang
tidak memenuhi persyaratan, sehingga bila kita melihat di berbagai desa, maka
terlihat oleh kita kondisi bangunan sekolah yang amat rnemilukan hati kita. Belum
lagi kondisi sarana dan prasarana pernbelajaran seperti laboratoriurn dan
perpustakaan sekolah. Solusi yang dilakukan adalah membangun ruang belajar
baru atau merenovasi ruang belajar lama, dan pengadaan sarana laboratorium dan
perpustakaan, karena dua hal ini mendukung peningkatan mutu hasil belajar
murid.
Keempat, adalah manajerial. Hal ini lebih fokus menjadi tanggung jawab
sernua komponen persekolahan. Orang pertama yang bertanggung jawab adalah
kepala sekolah, karena kepala sekolah adalah pimpinan tertinggi. Bila kepala
sekolah mampu memainkan posisinya sebagaimana mestinya, maka jalannya
organisasi sekolah akan lancar dan tidak akan terjadi ketidakpuasan di antara
komponen sekolah. Manajerial dalam konteks ini dapat pula diidentikan dengan
manajernen pendidikan dan manajemen sekolah. Mengapa terjadi unjukrasa,
ketidaksenangan komponen sekolah dengan kepala sekolah, salah satu disebabkan
tersendatnya pilarisasi manajerial tersebut. Oleh sebab itu, solusi yang dapat
dilakukan adalah melakukan sosialisasi apa yang disebut dengan Manajemen
Mutu Terpadu (Total Quality Management) yang diikuti oleh semua komponen
sekolah, mereka harus tabu peran dan fungsi mereka masing, agar administrasi
dan manajemen sekolah dapat lebih efektif. Hal-hal tersebut kiranya menjadi
perhatian dalarn perencanaan strategis pendidikan, di samping faktor lainnya
seperti controlling, coordinating, dan lain sebagainva.

d. Standarisasi Pendidikan Kita

Negeri kita baru saja rnelaksanakan Ujian Akhir Nasional (UNAS) bagi
pendidikan SLTP dan SLTA dan Ujian Akhir Sekolah (UAS) bagi SD. Hampir di
semua daerah dan lingkup nasional hasil UAN dan UAS menjadi pembicaraan
hangat karena rendahnya prestasi yang diraih. Akibatnya, Menteri Pendidikan
Nasional di tingkat pusat dan Dinas Pendidikan di tingkat kabupaten/kota,
dituding sebagal pihak yang bertanggung jawah atas hasil UAN dan UAS yang
melorot, Hasil UAN dan UAS pun menjadi penilaian terhadap mutu pendidikan
yang disebut terperosok mendekati jurang kehancuran.
Guru merupakan komponen pertama yang dituding sebagai pihak yang
bertanggung jawab secara moral terhadap basil UAN dan UAS yang merosot
tersebut. Banyaknya siswa yang tidak lulus disebabkan oleh ketidakrnampuan dan
etos kerja guru yang rendah. Guru dianggap lebih mementingkan tugas sampingan
daripada togas pokoknya. Di sisi lain, nilai UAN seperti sudah menjadi standar
nasional. Semua sekolah di Indonesia ditetapkan dengan standar yang sama, yakni
4,26. Bila hasil capaian siswa melebih dari standar tersebut, maka siswa
dinyatakan lulus, dan berhak mendapatkan ijazah. Bagi mereka yang belurn
mencapainya diharuskan untuk mengulang, jadi masih ada kesempatan bagi
mereka.
Hakiki dari fungsi dan tujuan pendidikan nasional ini sebenarnya, setidaktidaknya menurut Benyarnin Bloom apa yang disebut dengan domain kognitif,
domain afektif, dan domain psikomotor. Ketiga domain inilah sebenarnya kunci
dari keberhasilan pendidikan seperti apa yang tersirat dan tersurat dalam sistem
pendidikan nasional. Domain "kognitif" identik dengan fungsi pendidikan dalam
kerangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan tujuan pendidikan seperti berilmu
dan cakap. Karena kognitif itu diartikan sebagai "pengetahuan", maka bila siswa
telah rnenyelesaikan suatu proses permbelajaran, ia akan memiliki kemampuan,
murid pandai cerdas. dan memiliki wawasan intelektual.
Domain, "afektif" seperti tersirat dalam fungsi pendidikan nasional,
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dan tujuan

pendidikan nasional menjadikan peserta didik manusia yang beriman dan


bertakwa kepada Tuhan Yang Mahn Esa, berakhlak mulia, demokratis dan
bertanggung jawab. Bila si murid telah menyelesaikan suatu proses pembelajaran,
maka ada perubahan perilaku si murid. Murid akan melakukan sesuatu didasarkan
atas pikiran dan perilaku mulia, sehingga ia memiliki kepribadian luhur, etika
moral, dan rasa tanggung jawab.
Domain "psikomotor" seperti tersirat rnelalui fungsi dan tujuan pendidikan,
ialah mampu mengernbangkan kemampuan, kreatif dan mandiri. Ini berarti bahwa
bilamana murid sudah menyelesaikan suatu proses pembelajaran, maka ia mampu
melakukan sesuatu, menunjukan sesuatu atas prestasinya dan unjuk kemampuan.
Psikomotor itu sendiri diartikan "keterampilan", dan mernbentuk murid-murid
yang memiliki jiwa mandiri, kreatif, sehingga tercipta jiwa kemandirian dan tidak
tergantung semata-mata kepada orang lain. Dari penjelasan di atas dapat
disimpulkan. bahwa dengan berakhirnya suatu proses pembelajaran yang
dilakukan guru, maka murid mampu memahami dan rnengetahui, apa yang
sebelumnya tidak dipahami dan diketahui. Selanjutnya akan terjadi perubahan
perilaku, kemudian penuh kreatif dan inovatif serta mampu melakukan sesuatu,
dan hasil inilah sebenarnya hakiki dari keberhasilan pendidikan. Jadi, bukan
hanya domain kognitif saja sebagai (dasar untuk menentukan indikator
keberhasilan pendidikan, sebagai yang kita pahami selama ini.
Kita ingin agar hasil UAN dan UAS meningkat, dan sebagai guru tentu
mereka sudah melakukan yang terbaik kepada murid-muridnya. Sekolah juga
memiliki strategi bagaimana hasil UAN dan UAS meningkat, demikian pula
orang tua juga tak kalah sengitnya melakukan hal yang sama. Namun, sebenarnya
banyak faktor penentu dalam keberhasilan UAN dan UAS tersebut. Faktor-faktor
tersebut meliputi pernahaman tentang kurikulurn, kualitas dan kuantitas guru,
kesejahteraan guru, sarana media pembelajaran, laboratorium, perpustakaan, buku
paket, orang tua, masyarakat, lingkungan sekolah, dana, ruang belajar, rumah
guru, dan lain sebagainya

10

2.2 Saatnya Meninggalkan Pola Lama


a. Kemitraan Dengan Pihak Luar

Sekolah merupakan tempat menuntut ilmu pengetahuan dan wadah untuk


mengernbangkan keterampilan dan insitusi cialarn proses perubahan sikap dan
perilaku Para peserta didik. Sekolah juga merupakan lembaga pembudayaan
menuju inanusia berbudaya, berkarya dan karsa, sehingga output lembaga sekolah
adalah SDI yang berkualitas, dengan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah.
Pengembangan sekolah tidak dapat dilakukan secara sendiri, rnustahil suatu
sekolah akan berkembang bila tidak didukung lembaga atau pihak-pihak lain.
Pihak lain yang dimaksud itu adalah mitra sekolah berupa dunia usaha, persatuan
orang tua murid, LSM, bahkan sekarang lebih dikenal apa yang disebut komite
sekolah. Kemitraan antara sekolah dengan pihak-pihak yang disebutkan di atas,
sangat perlu dilakukan, karena mengembangkan sekolah tidak hanya cukup atas
kekuatan sendiri. Tidak mungkin pengembangan sekolah hanya didasarkan dari
dana yang diperoleh melalui masyarakat, berdasarkan uang sekolah dari anak
murid mereka saja, karena hal ini tidak akan bertahan lama. Selagi muridmuridnya banyak dan proses pembelajaran efektif, dan masyarakat masih percaya
akan kualitas sekolah yang bersangkutan, tentunya umur sekolah bisa langgeng.

b. Peran Pengawas Sekolah

Peningkatan mutu pendidikan tidak akan terlepas dan efektif atau tanpa
peran pengawas. Tugas pengawas adalah melakukan supervisi, yakni suatu cara
untuk

menstimulasi,

mengkoordinasi,

dan

membimbing

secara

kontinu

pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun kolektif agar


lebih mengerti dalam rnewujudkan seluruh fungsi pengajarana. Supervisi juga
dapat diartikan suatu bantuan yang diberikan untuk memperbaiki situasi belajar
mengajar di sekolah akan lebih baik. Kondisi belajar rnengaiar akan sangat
tergantung pada keterampilan dan pembinaan yang dilakukan kepada guru-guru
dan seorang pengawas. Siapa yang disupervisi, tidak lain adalah guru-guru di
sekolah, termasuk di dalamnva semua komponen yang ada di sekolah. Siapa
pengawas, tidak lain adalah petugas yang melakukan supervisi di sekolah, Apa
yang perlu dilakukannya? Memberikan pembinaan, bimbingan serta solusi iika

11

ada kelemahan dan kejanggalan yang terdapat pada guru di kala melakukan proses
pembelajaran, kelengkapan perencanaan pengajaran misalnya Program Semester,
Program Satuan Pelajaran, Rencana Pelajaran, dan evaluasi, dan lain sebagainya.
Tidak hanyaa terhadap guru, para pengawas iuga memiliki tanggung jawab moral
memberikan masukan untuk evaluasi saja, padahal ada hal-hal yang tidak sesuai
dengan kaedah yang berlaku. Dampaknya, semua pengawas dianggap tidak
mampu, dan karena itu dengan sendirinya mengurangi wibawa dan karisma sang
pengawas secara makro, walaupun dilakukan oleh oknum pengawas.
Apa yang menjadi kewajiban pengawas tidak lain adalah tugas vang harus
diembannya. Pengawas menjadi salah satu penentu dalam mewujudkan
pendidikan bermutu. Keria sama antar pengawas dengan sekolah sangat
diharapkan. Kedua belah pihak diharapkan memiliki semangat kerja yang tinggi
dan

menjadi

suatu

tim

yang

solid,

saling

bekerja

sama

dalam

menumbuhkembangkan nuansa sekolah. Banyak tuntutan yang dibebankan


kepada pengawas, akan tetapi perlu diingat, bahwa secara struktur keberadaan
pengawas tidak jelas. Alur dan garis lininya dengan Dimas Pendidikan Kabupaten
dan Kota setakat koordinasi. Tugas pokok dan fungsi perlu didudukkan. Perlu
dikaji ulang tentang Strktur Organisasi Tatalaksana Dinas Pendidikan. sehingga
jelas tanggung jawab .pengawas tersebut. Pada tingkat provinsi jabatan pengawas
setara Kasubdin/kabag, lingkup kegiatan sebagai koordinasi dengan pegawas yang
ada di tingkat kabupaten dan kota. Otonomi daerah lebih ditekan pada kabupaten
dan kota, maka tentunya struktur pengawas sejalan dengan jabatan struktural yang
berlaku di tingkat kabupaten dan kota. Pemerintah juga rnemberlakukan sama
akan hak yang mesti diterima oleh pengawas dengan guru, misalnya biaya untuk
transportasi, baju seragam, tunjangan hari raya, dan insentif lainnya. Karena tugas
pengawas cukup berat dan beban moral yang diembannva, maka wajar kiranya
secara bertahap mereka disediakan transportasi berupa sepeda motor. Apalagi para
pengawas yang melakukan pembinaan terhadap sekolah-sekolah di desa-desa
terpencil, maka kendaraan dinas ini diperlukan untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya sebagai pengawas

12

c. Penelitian Tindakan Kelas

Melakukan penelitian atau pengkajian sebagai salah satu syarat untuk


kenaikan pangkat, maka tidak mustahil lembaga ini ada di setiap sekolah. Kalau di
Departemen Pendidikan Nasional kita mendengar Badan Penelitian dan
Pengembangan P'endidikan (Balitbang), maka tentunya di tingkat sekolah
mestinya ada. Untuk mendukung pelaksanaan paradigma baru dalam sistem
pendidikan dan pengembangan SDM, perlu dilakukan kegiatan-kegiatan
penelitian dan pengembangan terutama dalam hal model-model kurikulurn dan
pembelajaran yang mendukung pendidikan akademik dan keterampilan,
penggunaan media elektronik dan komunikasi dalam pendidikan, sistem penilaian
dan pengendalian mutu pendidikan, sistem pelatihan dan pengembangan staf
(SDM), manajemen pendidikan berbasis sekolah, sistem pembiayaan pendidikan,
dan inovasi lain yang relevan. Program rekapitulisasi mencakup penyediaan dana
penunjang kegiatan penelitian dan pengembangan termasuk penyelenggaraan
program rintisan (pilot project) tentang inovasi pendidikan, atau pengembangan
sekolah model unggulan, dan sebagainya. Program ini untuk dilaksanakun oleh
lembaga pendidikan (sekolah) maupun perguruan tinggi (LPTK). Program
rekapitulisasi

untuk

menunjang

kegiatan

penelitian

dan

pengembangan

pendidikan mencakup:
a. Penyediaan dana bagi LPTK untuk memberikan bantuan konsultasi dalam
pengembangan program pendidikan yang inovatif bagi sekolah-sekolah dan
madrasah terutarna dalam melaksanakan desentralisasi pendidikan: menyusun
kurikulum, evaluasi hasil belajar, dan manajemen berbasis sekolah (school
based management).
b. Menyediakan dana penelitian tindakan (action research) dalam bidang
pembelajaran (KBM) bagi guru dan dosen
Tindakan pada umumnya sangat cocok untuk meningkatkan kualitas subjek
yang diteliti. Subjek penelitian tindakan ini dapat dilakukan di kelas, sehingga
dikenal dengan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan
penelitian terpakai (applied research), artinya penelitian yang dilakukan guru
dapat rnemberikan nilai tambah. dan rnasukan untuk perbaikan. Perbaikan
menyangkut proses pembelajaran, kurikulum yang berlaku, pendekatan dan sistem

13

penilaian, dan sebagainya. Beberapa kern tau penelitian ini anima lain: (1) peneliti
atau guru tidak perlu meninggalkan tugas atau ternpat mengajar; (2) dapat
dilakukan kapan saja dan tidak memerlukan biaya tinggi; (3) dapat dirasakan hasil
penelitian yang telah direncanakan; dan (4) bila treatment (perlakuan) dilakukan
pada responden, maka responden dapat merasakan hasil treatment dari penelitian
tersebut.
Penelitian tindakan kelas sebenarnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dari tugas dan kewajiban seorang guru. Melalui pengarnatan atas beberapa
fenomena di lapangan, baik menyangkut tentang diri anak didik, guru, kepala
sekolah, sarana dan prasarana pembelajaran, strategi belajar mengajar, evaluasi,
perencanaan pembelajaran, kondisi laboratorium dan perpustakaan sekolah, minat
membaca siswa, disiplin sekolah, dan sebagainya. Guru sebagai peneliti dalam
tindakan kelas dapat memberikan kontribusi langsung kepada subjek didik dan
perbaikan dunia pendidikan. Karena melalui perlakuan yang berupa tindakan
langsung dan terencana untuk memecahkan persoalan dunia pendidikan dan
pembelajaran, maka akan berdampak terhadap anak didik itu sendiri dan dunia
pendidikan umumnya. Penelitian tindakan kelas secara hakiki adalah mewujudkan
proses penelitian yang memiliki daya guna dan bermanfaat untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran di sekolah.

d. Mendongkrak Kualitas Guru

Dalam pengamatan saya, salah satu fenomena rendahnya pendidikan kita


dengan rendahnya SDM para guru. Kondisi tersebut ditambah pula dengan
terbatasnya sarana dan letak geografis yang sangat tidak mendukung. Jujur saia
kita melihat kebanyakan mahasiswa yang masuk ke Fakultas Keguruan dan ilmu
Pendidikan (FKIP) misalnya, bukanlah menempatkan itu pada pilihan pertama.
Rata-rata mahasiswa masih memilih FKIP pada pilihan kedua sebagai jawaban
"daripada-daripada", Bahkan, bagi yang mengambil pilihan ilmu Pengetahuan
Campuran (IPC) pada saat Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dengan
tiga pilihan, maka FKIP pasti meniadi. pilihan ketiga.
Sedikit .sekali yang menyebut FKIP sebagai pilihan pertama. ini bisa
dibayangkan, bahwa menjadi guru bukanlah pilihan pertarna mereka. Oleh

14

karenanya, tidak aneh dalam belajar pun tampak efek dominonya. Mungkin saja
dalam pandangan rnereka, guru bukanlah profesi yang menjanjikan masa depan.
Sehingga tidak jarang, pada akhirnya kuliah menjadi ajang mendapatkan prestise
saja. Pengaruh negatif itu pun akhirnya berlanjut. Setelah tamat dan memasuki era
baru, yakni menghadapi lapangan pekeriaan sangat sulit, akhirnya dengan sangat
terpaksa mereka pun melamar menjadi guru, walaupun itu hanya guru honor.
Realita ini sungguh luar biasa dampaknya pada dunia pendidikan kita, apalagi
kalau kita bicara masalah mutu. Sebab, logika dasarnya saja, untuk mendapatkan
output yang bagus, tentunya harus diawali dengan input yang bagus pula. Ke
depan menjadi tugas kita semua melakukan upaya maksimal agar hal ini tidak lagi
terjadi. Pemerintah sudah harus punya kebijakan yang jelas dalam hal ini.

e. Pembentukan Karakter Anak

Sistem pendidikan nasional menyisakan keterpurukan di sektor pendidikan,


membentuk SDM yang sarat dengan ilmu pengetahuan; kaya ilmu, intelektual,
bernas, berwawasan, dan menciptakan manusia superior. Dengan kata sistem
pendidikan kita selama ini lebih menitikberatkan dan menjejalkan pada
penguasaan kognitif akademis. Sementara afektif dan psikomotorik seolah-olah
dinomorduakan. Apa yang terjadi? Terbentuknya pribadi yang miskin tata krama,
sopan santun, dan etika moral. Sekolah adalah salah satu lembaga yang
bertanggung jawab terhadap pernbentukan karakter pribadi anak (karakter
building), karenanya di sini peran dan kontribusi guru sangat dominan. Sebagai
suatu lembaga, sekolah memiliki tanggung jawab moral bagaimana anak didik itu
menjadi pintar dan cerdas sebagaimana diharapkan oleh orang tuanya. Guru
berperan sebagai pemberi ilmu pengetahuan (resource knowledge), tentunva
semua kemampuan yang dimiliki disarnpaikan kepada anak didiknya. Bila anak
didik memiliki nilai bagus dan berhasil memperoleh prestasi, hal itu merupakan
suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang guru.
Hal ini menunjukkan metodologi dan keterampilan mengajar guru patut
dihargai, karena telah mampu membawa anak menginginkan keluaran sumber
daya manusia bermutu. Pendidikan budi pekerti lebih menitikberatkan kepada
watak, perangai, perilaku atau dengan kata lain tata krama dan etika. Jadi,

15

pendidikan budi pekerti secara sederhana diartikan penanaman nilai-nilai akhlak,


tata krama, bagaimana berperilaku yang baik kepada seseorang. Masih segar
dalam ingatan kita pada tahun 1960-an diajarkan mata pelajaran akhlak.
Pendidikan akhlak pada waktu itu merupakan bagian dan tidak terpisahkan dan
bidang studi agama, tapi diajarkan secara terpisah. Selain itu diajarkan pula
pelajaran tauhid, dan sebagainya. Secara hakiki mata pelajaran akhlak identik
dengan pendidikan budi pekerti. Pendidikan budi pekerti lebih menitikberatkan
kepada implementasi dan aplikasi huhungan dan relasi sosial anak didik dalam
hidup dan kehidupan sehari-hari. Bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan
Yang Maha Esa, hubungan manusia dengan manusia dan makhluk lainnya,
bagaimana bersikap dan berperilaku dengan orang tua, guru, dan dengan teman di
sekolah maupun dengan tetangga, serta bagairnana hubungan sesama keluarga.
Demikian pula bagaimana fungsi orang tua dalam keluarga, peran dan tugas
anak dalam keluarga, bagaimana cara berbicara dengan orang tua, guru, dengan
kawan, demikian juga cara bergaul, dan lainnya sebagainya. Yang jelas
pendidikan budi pekerti lebih memfokuskan bagaimana anak didik memiliki sikap
dan tata krama yang baik, dan memiliki nilai positif di dalam hidup dan kehidupan
sehari-hari. Kita menginginkan pendidikan budi pekerti mutlak diberikan kepada
anak dan akan lebih baik jika dijadikan sebagai salah satu bidang studi atau mata
pelajaran vang diajarkan kepada anak
2.3 Menjadi Pendidik di Era Global
Di Zaman serba global saat ini, dapat dikatakan hampir tidak ada batas yang
jelas antara bangsa satu dengan bangsa lain, peradaban satu dengan peradaban
lainnya. Budaya suatu bangsa dengan budaya bangsa lainnya. Manusia bisa
dengan mudah berbaur dengan manusia lain di berbagai belahan bumi ini.
Aktivitas manusia yang dilakukan di benua Amerika pada detik ini, bisa diketahui
bahkan diikuti oleh manusia lain yang ada di benua Asia, Eropa, Afrika maupun
Australlia Kenyataan ini tentu menuntut sumber daya manusia yang mampu
dengan mudah beradaptasi terhadap perubahan zaman.Sumber daya manusiasumber daya manusia ini merupakan produk dari pendidikan di suatu bangsa.

16

Apa yang dituntut dari out put pendidikan di era global ini adalah lulusanlulusan yang mampu berpikir kritis, memiliki kompetensi dalam pemecahan
masalah, kreatif inovatif, kompeten dalam ICT, komunikatif dan menguasai
berbagai bahasa / multi lingual. Untuk menghasilkan sumber daya manusia
dengan kompetensi tersebut, lembaga pendidikan terutama guru sebagai
"sutradara lapangan" dituntut untuk mengubah cara menyelenggarakan
pendidikan dengan cara yang berbeda dengan cara-cara yang selama ini telah
dijalankan.
Pembelajaran di era global menuntut peserta didik mampu berkompetisi
dengan menunjukkan kompetensinya agar mereka hidup sejahtera di era global
ini. Peserta didik harus lebih banyak belajar dengan cara yang berbeda baik
teknik, metoda, sarana prasarana, IT bahkan semangat dan daya juang.
Pembelajaran di era global yang diharapkan adalah pembelajaran yang lebih
berfokus pada peserta didik ( student center ), peserta didik dikondisikan untuk
mampu secara aktif mencari informasi. Pendidikan lebih memberikan rangsangan
agar peserta didik menjadi pembelajar yang aktif. bukan pembelajar yang pasif.
Jadi pembelajaran di era global saat ini sebaiknya dikelola sedemikian rupa
sehingga merangsang, mendorong dan membiasakan peserta didik bisa secara
aktif menggali informasi dari berbagai sumber yang tersedia dan disediakan oleh
guru.
Tuntutan pendidikan di era global ini tak pelak tentu menjadi tuntutan
sekaligus tantangan besar bagi para guru dalam menyelenggarakan pembelajaran.
Guru mau tidak mau, suka tidak suka, setuju tidak setuju harus mengimbangi
tuntutan ini. Guru dituntut untuk benar-benar profesional dalam dalam
mengemban tugas dan fungsinya sebagai sosok pengajar dan pendidik dengan
berbekal kompetensi paedagogik, kepribadian, sosial dan profesional secara utuh.
Pertanyaannya adalah? Sudah siapkah Guru-guru Indonesia ini menyelenggarakan
pendidikan dan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan abad 21? Mengingat,
perhatian pemerintah terhadap profesionalisme guru belum lama berjalan tentu hal
ini membutuhkan perjuangan yang sangat luar biasa agar guru-guru yang aktif
saat ini bersegera menjadi sosok pendidik dan pengajar yang profesional
mengikuti tuntutan abad 21.

17

Dan tuntutan terbesar terhadap pemerintah Indonesia adalah bagaimana


pemerintah bisa merekrut guru-guru baru ( baik untuk : menggantikan guruguru lama yang sudah mencapai usia pensiun atau menambah kekurangan guru )
dengan strategi baru yang tentunya mengikuti perkembangan dan tuntutan abad
21. Pemerintah dituntut tidak asal-asalan dalam rekrutmen guru-guru baru ini.
Pilihan tentu harus jatuh kepada calon-calon guru yang mampu berpikir kritis ,
kompeten dalam memecahkan masalah, kreatif-inovatif, komunikatif, menguasai
ilmu pengetahuan, menguasai multi bahasa dan menguasai ICT. Didukung dengan
kompetensi kepribadian, emosional dan spiritual yang stabil.

a. Memenuhi Panggilan Tugas

Sebagai seorang pendidik yang memahami fungsi dan tugasnya, guru


khususnya ia dibekali dengan berbagai ilmu keguruan sebagai dasar, disertai pula
dengan seperangkat latihan keterampilan keguruan dan pada kondisi itu pula ia
belajar memersosialisasikan sikap keguruan yang diperlukannya. Seorang yang
berpribadi khusus yakni ramuan dari pengetahuan sikap danm keterampilan
keguruan yang akan ditransformasikan kepada anak didik atau siswanya. Guru
yang memahami fungsi dan tugasnya tidak hanya sebatas dinding sekolah saja,
tetapi juga sebagai penghubung sekolah dengan masyarakat yang juga memiliki
beberapa tugas, fungsi, dan tugas guru profesional adalah : Menyerahkan
kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan dan pengalamanpengalaman Membentuk kepribadian anak yang harmonis sesuai cita-cita dan
dasar negara kita Pancasila Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik
sesuai dengan Undang-Undang Pendidikan yang merupakan keputusan MPR No.
2 Tahun 1983 Sebagai prantara dalam belajar Guru adalah sebagai pembimbing
untuk membawa anak didik ke arah kedewasaan.
Guru memiliki tugas yang beragam yang berimplementasi dalam bentuk
pengabdian. Tugas tersebut meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan dan
bidang kemasyarakatan. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar
dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup
dan kehidupan. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan

18

keterampilan-keterampilan pada siswa. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan


adalah memposisikan dirinya sebagai orang tua ke dua. Dimana ia harus menarik
simpati dan menjadi idola para siswanya. Adapun yang diberikan atau
disampaikan guru hendaklah dapat memotivasi hidupnya terutama dalam belajar.
Bila seorang guru berlaku kurang menarik, maka kegagalan awal akan tertanam
dalam diri siswa.

b. Dari Mengajar ke Membantu

Peran guru sangatlah dibutuhkan untuk mendukung terciptanya suasana


belajar mengajar yang menyenangkan aktif dan memungkinkan anak berprestasi
secara maksimal. Sedangkan tingkat partisipasi yang dimaksud adalah keterlibatan
siswa dalam menyikapi,memahami,mencerna materi yang disajikan dalam proses
belajar. Bagaimanpun baiknya sarana pendidikan apabila guru tidak melaksanakan
tugasnya dengan baik maka hasil pembelajaran tidak akan memberikan hasil yang
memuaskan. Peranan dan tugas guru seharusnya dipilih dan ditetapkan sebelum
pelaksanaan proses belajar mengajar. Oleh karena itu guru harus memahami betul
peranannya dalam proses belajar mengajar yang bersifat majemuk, artinya peran
guru tidak hanya satu tetapi lebih dari satu.
Guru sebagai pemimpin akan tampak nyata dalam proses belajar mengajar.
Agar perilaku guru ini berpengaruh baik terhadap proses belajar siswa-siswanya
maka guru dituntut untuk memahamidan mengayati gaya-gaya atau teori-teori
dasar kepemimpinan karena dengan hal demikian melalui cara, metode, gaya
dalam memimpin tipe kepribadiannya akan nampak. Ada bermacam-macam gaya
kepemimpinan yaitu gaya otoriter, demokratis, gaya yang menekankanpemenuhan
kebutuhan pribadi. Keberadaan guru di depan sebagai pemimpin bukan saja
penting secara ideal tetapi juga secara fisik amat menentukan

c. Tantangan Calon Guru

Dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru, terjadinya revolusi


teknologi informasi merupakan sebuah tantangan yang harus mampu dipecahkan
secara mendesak. Adanya perkembangan teknologi informasi yang demikian akan
mengubah pola hubungan guru-murid, teknologi instruksional dan sistem
pendidikan secara keseluruhan. Kemampuan guru dituntut untuk menyesuaikan

19

hal demikian itu. Adanya revolusi informasi harus dapat dimanfaatkan oleh
bidang pendidikan sebagai alat mencapai tujuannya dan bukan sebaliknya justru
menjadi penghambat. Untuk itu, perlu didukung oleh suatu kehendak dan etika
yang dilandasi oleh ilmu pendidikan dengan dukungan berbagai pengalaman para
praktisi pendidikan di lapangan.
Perkembangan teknologi (terutama teknologi informasi) menyebabkan
peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan akan mulai bergeser. Sekolah tidak
lagi akan menjadi satu-satunya pusat pembelajaran karena aktivitas belajar tidak
lagi terbatasi oleh ruang dan waktu. Peran guru juga tidak akan menjadi satusatunya sumber belajar karena banyak sumber belajar dan sumber informasi yang
mampu memfasilitasi seseorang untuk belajar.Teknologi mempunyai gagasan
mereformasi sistem pendidikan masa depan. Apabila anak diajarkan untuk mampu
belajar sendiri, mencipta, dan menjalani kehidupannya dengan berani dan percaya
diri atas fasilitasi lingkungannya (keluarga dan masyarakat) serta peran sekolah
tidak hanya menekankan untuk mendapatkan nilai-nilai ujian yang baik saja, maka
akan jauh lebih baik dapat menghasilkan generasi masa depan.
Orientasi pendidikan yang terlupakan adalah bagaimana agar lulusan suatu
sekolah dapat cukup pengetahuannya dan kompeten dalam bidangnya, tapi juga
matang dan sehat kepribadiannya. Bahkan konsep tentang sekolah di masa yang
akan datang, menurutnya akan berubah secara drastis.Secara fisik, sekolah tidak
perlu lagi menyediakan sumber-sumber daya yang secara tradisional berisi
bangunan-bangunan besar, tenaga yang banyak dan perangkat lainnya. Sekolah
harus bekerja sama secara komplementer dengan sumber belajar lain terutama
fasilitas internet yang telah menjadi sekolah maya. Bagaimanapun kemajuan
teknologi informasi di masa yang akan datang, keberadaan sekolah tetap akan
diperlukan oleh masyarakat. Kita tidak dapat menghapus sekolah, karena dengan
alasan telah ada teknologi informasi yang maju.
Ada sisi-sisi tertentu dari fungsi dan peranan sekolah yang tidak dapat
tergantikan, misalnya hubungan guru-murid dalam fungsi mengembangkan
kepribadian atau membina hubungan sosial, rasa kebersamaan, kohesi sosial, dan
lain-lain. Teknologi informasi hanya mungkin menjadi pengganti fungsi
penyebaran informasi dan sumber belajar atau sumber bahan ajar. Bahan ajar yang

20

semula disampaikan di sekolah secara klasikal, lalu dapat diubah menjadi


pembelajaran yang diindividualisasikan melalui jaringan internet yang dapat
diakses oleh siapapun dari manapun secara individu. Inilah tantangan profesi
guru. Apakah perannya akan digantikan oleh teknologi informasi, atau guru yang
memanfaatkan teknologi informasi untuk menunjang peran profesinya.
Dunia pendidikan harus menyiapkan seluruh unsur dalam sistim pendidikan
agar tidak tertinggal atau ditinggalkan oleh perkembangan teknologi informasi
tersebut. Melalui penerapan dan pemilihan teknologi informasi yang tepat
(sebagai bagian dari teknologi pendidikan), maka perbaikan mutu yang
berkelanjutan dapat diharapkan. Perbaikan yang berlangsung terus menerus secara
konsisten/konstan akan mendorong orientasi pada perubahan untuk memperbaiki
secara terus menerus dunia pendidikan. Adanya revolusi informasi dapat menjadi
tantangan bagi lembaga pendidikan karena mungkin kita belum siap
menyesuaikan. Sebaliknya, hal ini akan menjadi peluang yang baik bila lembaga
pendidikan mampu menyikapi dengan penuh keterbukaan dan berusaha memilih
jenis teknologi informasi yang tepat, sebagai penunjang pencapaian mutu
pendidikan. Pemilihan jenis media sebagai bentuk aplikasi teknologi dalam
pendidikan harus dipilih secara tepat, cermat dan sesuai kebutuhan, serta
bermakna bagi peningkatan mutu pendidikan kita.

d. Menjunjung Kehormatan Guru

Mengapa peringatan HGI dilakukan tanggal 25 November, bukannya 5


Oktober? Seorang tot oh PB PGRI menjelaskan, hal ini semata-rata karena alasan
praktis. Tanggal 5 Oktober adalah HUT ABRI, dan dalam benak bangsa
Indonesia, 5 Oktober praktis identik dengan hari ABRI. HUT ABRI biasa
diperingati dengan khidmat oleh para prajurit ABRI dan bangsa Indonesia. Jadi,
dianggap kurang tepat jika kedua peristiwa ini diperingati bersama, apalagi Hari
ABRI telah lebih dulu memasyarakat.
Tetapi tidak berarti Indonesia mengelak dari keharusannya untuk
memperingati HGI hanya karena urusan tanggal. Maka tanpa kehilangan nilai
dasarnya, diputuskan bahwa peringatan HGI dilakukan bersarna dengan Hari
Guru/HUT PGRI yang jatuh pada tanggal 25 November.

21

Esensi dari penerimaan Indonesia terhadap HGI adalah karena memang


semangatnya sesuai dengan pandangan bangsa dan masyarakat kita terhadap guru
sebagai suatu jabatan yang terhomat dan sangat penting. Penggabungan
peringatan ini juga baik, demi penghematan. Memang setiap tahun banyak
peristiwa dan upacara yang berkaitan dengan guru yang dilaksanakan secara
nasional. Pengamatan selama ini memang memberikan kesan, belum semua orang
mengetahui, menyadari, dan mempunyai kornitmen untuk ikut meningkatkan
kehormatan dan mutu guru. Misalnya peranan guru masih dipandang dengan
sebelah mata, kesempatannya untuk baik pangkat dan mengernbangkan karir
dipersulit dengan tuntutan yang ada-kalanya seperti diada-adakan. Semua
kesalahan pendidikan ditimpakan kepada mereka. Guru tidak diperlakukan
sebagai profesional dalarn bidangnya, melainkan ibarat pegawai biasa.

e. Merenda Nasib Guru

Meskipun bukan satu-satunya penentu kehormatan dan martabat guru,


kesejahteraan lahir dan batin, merupakan tema sentral dalam banyak pembicaraan
mengenai profesi keguruan selama ini. Para guru sendiri amat peduli dengan soal
ini. Dalam hal ini, ada yang selalu memberikan kesan mendalam setiap kali
memberikan cerarnah, seminar, kunjungan lapangan, atau apa pun dihadapkan
para guru. Betapapun kita habis-habisan berbicara tentang kebijaksanaan
pendidikan nasional, peningkatan mutu, atau yang lainnya, pertanyaan sebagian
besar guru seringkali tidak mengarah pada substansi, rnelainkan kepada apa yang
mereka sebut dengan "nasib guru". Kalau bukan soal gaji dan kesejahteraan, maka
yang muncul adalah soal kenaikan pangkat, kesempatan melanjutkan pondidikan,
bermacam-macam beban yang harus diembannya di sekolah dan di masyarakat
dan sejenisnya. Hal ini menunjukkan bahwa hal-hal tersebut menguasai benak
para guru kita.
Berkenaan dengan kesejahteraan, secara jujur kita akui bahwa guru
umumnya menggantungkan diri pada gaji dan tunjangan yang jumlahnya tidak
begitu besara. Sementara itu, tidak banyak peran serta masyarakat dan swasta
yang secara langsung ikut rneningkatkan kesejahteraan guru. Sebagian di antara
kita malah sering tergoda untuk "memanfaatkan" posisi lemah guru untuk

22

berbagai macarn kepentingan melalui berbagai macarn pungutan dengan beragam


dalih, kadang kadang disertai ancaman jika guru menolaknya. Apabila karena
keterbatasan anggaran kita mentok dengan urusan gaji guru, maka pilihannya
adalah meningkatkan martabat dan kehormatan guru dengan cara-cara lain.
Cara-cara dimaksud antara lain melalui pemberian kesempatan untuk
pengembangan

karir,

kemudahan

dalam

pengurusan

kenaikan

pangkat,

kesempatan untuk mengikuti pendidikan lanjutan, perbaikan kondisi kerja di


sekolah, mengurangi beban-beban tambahan di luar hal-hal yang ada kaitannya
dengan tugas mengajar dan mendidik, siswa, dan apresiasi terhadap apa yang
dilakukan oleh guru bagi peserta didiknya. Dengan kata lain ialah.
"Memperlakukan guru sebagai guru" lebih dari sekadar aparat birokrasi biasa.
Terhadap pandangan di atas, mungkin sebagian guru Akan mengatakan
bahwa apa pun yang dikatakan orang tentang dirinya dan profesinya, tidak akan
mengubah status dan nasib mereka. Bagi guru yang berpikiran demikian, yang
penting adalah kesejahteraan mereka mengangkat, dan dengan itu status profesi
mereka pun akan ikut terangkat.
Dengan demikian kebanggaan mereka terhadap profesinya akan meningkat
pula. Pikiran demikian sah-sah saja, karena meskipun tidak sepenuhnya benar,
buruknya tingkat kesejahteraan merupakan ukuran penting martabat suatu profesi.
Apabila ada orang yang mengatakan bahwa pekerjaan profesional adalah "Sell
educated well trained well paid", maka dalam profesi keguruan kita dihadapkan
pada kenyataan yang sangat beragam kondisinya. Sebagian guru kita mungkin
tergolong berpendidikan baik, terlatih dengan baik, dan digaji dengan baik pula.
Sebagian lainnya tergolong guru bermutu

23

BAB III
ANALISIS ISI BUKU

Buku ini merupakan salah satu buku referensi yang perlu dibaca untuk
menambah wawasan kita tentang pendidikan. Topik yang dibahas dalam buku ini
sangat menarik dan sesuai dengan konteks permasalahan pendidikan bangsa saat
ini. Dari judulnya Pendidikan Sebagai Investasi Masa Depan menggambarkan
bahwa ide penulis ingin menekankan bahwa pendidikan adalah jalan utama yang
harus dilalui untuk kemajuan suatu bangsa. Menjadi bangsa yang maju harus
diawali dengan memajukan dunia pendidikan. Bangsa apa dan di mana pun akan
menjadi besar diukur dari SDM-nya. Semakin tinggi peradaban suatu bangsa
maka akan berdampak pula terhadap kualitas SDM-nya. Pembangunan sektor
pendidikan mutlak dilakukan karena secara langsung akan berpengaruh terhadap
hidup dan kehidupan umat manusia. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang,
semakin luas dan pola pikir berisi, pola tindak, dan pola lakunya. Pembangunan
pendidikan secara hakiki merupakan investasi masa depan. Artinya, hasil yang
diharapkan melalui proses panjang, memerlukan dimensi waktu dan perencanaan
yang matang. Selanjutnya untuk menuju pendidikan bermutu sangat diperlukan
persiapan yang terencana dan terarah.
Investasi tidak hanya menyangkut dengan uang sebagai modal utama untuk
menghasilkan keuntungan di masa depan, tetapi juga mencakup kualitas manusia
yang berupa pengetahuan, keterampilan dan kecakapan yang dimiliki seseorang.
Makna investasi ini memiliki arti yang relevan dengan pendidikan, karena dengan
adanya pendidikan, pengetahuan, keterampilan dan kecakapan serta sikap
seseorang akan semakin positif dan bertambah. Siapa saja yang berinvestasi
melalui pendidikan akan merasakan atau memetik manfaatnya dikemudian hari
atau di masa depan dan seseorang itu harus rela berkorban serta menunda
kesenangannya atau keinginannya untuk beberapa saat sesuai dengan kondisi
yang ditempuhnya. Manusia yang berpendidikan akan menjadi modal utama
pembangunan nasional, terutama untuk perkembangan ekonomi. Semakin banyak

24

orang yang berpendidikan maka semakin mudah bagi suatu negara untuk
membangun bangsanya. Hal ini dikarenakan telah dikuasainya ilmu pengetahuan,
teknologi dan keterampilan oleh manusianya sehingga pemerintah lebih mudah
dalam menggerakkan pembangunan nasional.
Buku ini mengupas beberapa masalah pendidikan yang perlu menjadi
perhatian bangsa ini. Mulai dari level atas yakni kaitannya dengan perhatian
pemerintah yang semakin baik terhadap pendidikan ditandai dengan 20%
anggaran bagi pendidikan, hingga ke level terbawah tentang kondisi sekolahsekolah di daerah terpencil yang sangat tidak layak. Namun hal itu, saaat ini
berangsur-angsur mulai mengalami perubahan. Begitu pun tentang nasib guru
yang sangat diprihatinkan oleh penulis. Memang sebelumnya profesi guru belum
mendapat perhatian yang baik dari pemerintah. Tapi, sepuluh tahun terakhir telah
menunjukkan peningkatan yang sangat baik. Pemerintah sangat peduli dengan
nasib guru ditandai dengan pemberian tunjangan fungsional bagi guru. Hal ini
tentu menjadi angin segar bagi profesi guru.
Yang tidak kalah penting dalam pembahasan buku ini, yakni tentang
peningkatan kualitas dan tantangan bagi guru ke depan. Tuntutan pendidikan di
era global ini tak pelak tentu menjadi tuntutan sekaligus tantangan besar bagi para
guru dalam menyelenggarakan pembelajaran. Guru mau tidak mau, suka tidak
suka, setuju tidak setuju harus mengimbangi tuntutan ini. Guru dituntut untuk
benar-benar profesional dalam dalam mengemban tugas dan fungsinya sebagai
sosok pengajar dan pendidik dengan berbekal kompetensi pedagogik, kepribadian,
sosial dan profesional secara utuh.
Ada satu hal yang tidak disetujui dengan ide penulis buku ini, yakni tentang
pendidikan karakter yang dijadikan sebagai salah satu bidang studi yang diajarkan
di sekolah. Pendidikan karakter seharusnya tidak perlu dijadikan sebagai salah
satu bidang studi di sekolah. Karakter tidak perlu diajarkan dengan buku kepada
para siswa. Tetapi pendidikan karakter diajarkan melalui suri tauladan yang baik
dari para guru kepada siswanya. Pendidikan karakter dapat dimasukan secara
terintegrasi menjadi muatan di semua bidang studi. Dalam pembelajaran berbagai
bidang studi, karakter selalu menjadi muatan, semangat, dan mewarnai proses
pembelajaran bagi siswa.