Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Perpindahan massa antar fase hampir dijumpai disetiap proses dalam teknik
kimia, sebagai contoh: ekstraksi cair-cair, leaching, distilasi, absorbsi, pengeringan,
dan pendinginan.
Kontak antar fase gas dan cairan dapat terjadi dalam berbagai cara, misalnya:
peristiwa dimana cairan dilewatkan kedalam bentuk lapisan film yang bergerak
melalui cairan gas dilewatkan melalui tray tower.
Dengan adanya kontak antar gas dan cairan, maka akan terjadi perpindahan
masa antara gas dan cairan. Oleh karena itu diperlukan koefisien perpindahan masa
dari fase gas ke cairan (Kgg) atau sebaliknya (Kgl).

I.2 Perumusan Masalah


Praktikum WWC (Wetted Wall Coloumn) merupakan praktikum yang
membahas tentang perpindahan masa antar fasa, yaitu gas dan cairan. Pada
praktikum ini akan didapatkan besarnya koefisien perpindahan masa (Kgl), kondisi
operasi (temperature, tekanan, laju alir udara dan laju alir air) yang mempengaruhi
besarnya Kgl dan nilai bilangan tak berdimensi yaitu pengaruh bilangan Reynold
terhadap bilangan Sheerwood.

I.3 Tujuan Instruksional Khusus


1. Mengkaji hubungan variabel (laju alir air dan udara) terhadap Kgl
2. Mengkaji hubungan variabel (laju alir air dan udara) terhadap bilangan Reynold
3. Mengkaji hubungan bilangan tak berdimensi NRe terhadap NSh.

I.4 Manfaat Percobaan


1. Mengetahui kondisi operasi yang mempengaruhi Kgl
2. Mengetahui fenomena yang terjadi pada saat praktikum Wetted Wall

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Humidifikasi
Humidifikasi adalah proses perpindahan/penguapan air dari fase cair ke dalam
campuran gas yang terdiri dari udara dan uap air karena adanya kontak antara cairan
yang suhunya lebih tinggi dengan campurannya. Dalam proses humidifikasi,
tergantung pada beberapa parameter, diantaranya:

Temperature Dry bulb


Temperature dry bulb adalah suhu yang terbaca pada termometer terkena
udara bebas namun terlindung dari

radiasi

dan kelembapan.

Temperature dry bulb sering disebut sebagai suhu udara, sehingga tidak
menujukkan adanya jumlah uap air di udara.

Temperature Wet bulb


Temperature wet bulb adalah suhu kesetimbangan yang dicapai apabila
sejumlah kecil cairan diuapkan ke dalam jumlah besar campuran uap
(gas) yang tidak jenuh.
Metode yang dapat digunakan untuk mengukur temperature wet bulb
adalah dengan menggunakan termometer yang diselubungi kapas atau kain
basah kemudian dialirkan gas yang mempunyai properties T dry dan
humidity H. Pada keadaan steady state, air akan menguap ke dalam aliran
gas. Kapas atau kain basah akan mengalami pendinginan hingga suhu
konstan. Suhu inilah yang disebut T wet bulb. Dalam penerapannya, T wet
bulb digunakan untuk menentukan humidity dari campuran air-udara.

Dew point
Dew point adalah suhu udara saat saturasi atau suhu dimana uap air mulai
mengembun ketika campuran udara dan uap air didinginkan.

Enthalpi
Enthalpi adalah banyaknya kalor (energi) yang ada dalam udara setiap satu
satuan masa.

Relative humidity
Relative humidity adalah perbandingan antara fraksi mol uap dengan

fraksi mol udara basah pada suhu dan tekanan yang sama (%).

Persen humidity
Persen humidity adalah besarnya kandungan uap air dalam udara kering.

Humidity dinyatakan dengan y. Nilai y dapat dicari dengan menggunakan


diagram psikrometrik, dengan mengetahui nilai temperature dry bulb dan
temperature wet bulb.

2.2 Wetted wall column

Gambar 2.1. Wetted wall column


Ketika dinding kolom dibasahi dan terisolasi dari lingkungannya sehingga
sistem operasi merupakan sistem adiabatik dan cairan diresirkulasi dari bagian dasar
kolom melalui reservoir ke puncak kolom, sistem operasi digambarkan sebagai
humidifikasi adiabatik. Dalam keadaan ini, hubungan antara komposisi gas dan suhu
gas dan cairan dapat dihitung dari termodinamika properti dan neraca masa dan
energi. Berdasarkan pertimbangan, dinding kolom yang dibasahi sebagai humidifier

adiabatik dengan ketentuan untuk kontrol suhu cairan di reservoir dan penambahan
"make up" cairan ke reservoir pada suhu terkontrol. Asumsikan bahwa gas dan
cairan seluruh sistem pada awalnya pada suhu yang sama. Masa dari cairan
ditransfer sebagai proses penguapan, penurunan suhu yang diperlukan sebagai panas
laten penguapan. Suhu cairan yang jatuh di bawah suhu gas, panas ditransfer dari
gas ke cairan. Dengan cara ini gas didinginkan dan dilembabkan.
Jika cairan masuk ke puncak kolom, harus dipertahankan pada suhu cairan
keluar, tingkat suhu menurun cair, dan gradien suhu cairan melalui kolom menurun
sedangkan suhu dan kelembaban gas yang masuk tetap konstan. Suhu gas yang
keluar akan menurun karena suhu cairan berkurang karena kecepatan transfer panas
yang lebih besar diperoleh dengan perbedaan besar dalam suhu antara gas dan
cairan. Suhu gas buang akan selalu lebih tinggi dari cairan masuk. Proses
pendinginan ini akan berlanjut sampai laju transfer panas dari gas ke cairan hanya
setara dengan panas laten yang dibutuhkan untuk menguapkan cairan.

2.3 Bilangan Tak Berdimensi


Terdapat beberapa faktor bilangan yang mempengaruhi koefisien perpindahan masa
(Kgl) diantaranya meliputi:

Bilangan Reynold (NRe)


Dalam mekanika fluida, bilangan Reynolds adalah rasio antara gaya inersia
(vs) terhadap gaya viskos (/L) yang mengkuantifikasikan hubungan kedua
gaya tersebut dengan suatu kondisi aliran tertentu. Bilangan ini digunakan
untuk mengidentifikasikan jenis aliran yang berbeda, misalnya laminar dan
turbulen. Dengan perumusan nilai bilangan sebagai berikut.

Dimana:
vs = kecepatan fluida,
L = panjang karakteristik,
= viskositas absolut fluida dinamis,
= viskositas kinematik fluida: = / ,
= kerapatan (densitas) fluida.

Bilangan Schmidt
Bilangan Schmidt merupakan rasio dari momentum dan difusivitas masa.
Bilangan ini digunakan untuk menentukan sifat aliran-aliran fluida dimana
pada aliran tersebut proses konveksi-difusi momentum dan masa
berlangsung secara simultan. Dengan perumusan sebagai berikut.

Dimana

V = viskositas kinematis ( ) dalam satuan unit (m2/s)


D = difusivitas masa (m2/s)
= viskositas dinamis dari aliran fluida (N.s/m2)
= densitas dari fluida (Kg/m3)

Bilangan Sheerwood
Bilangan Sheerwood (Nusselt) merupakan bilangan tak berdimensi yang
digunakan untuk mengetahui besarnya koefisien transfer masa (Kgl) dimana
merupakan rasio dari koefisien konveksi transfer masa dengan difusivitas
transfer masa.

Dimana

L = panjang kolom perpindahan masa (m)


D = difusivitas masa (m2.s-1)
K = Koefisien transfer masa (m.s-1)

2.4. Pengertian tentang Koefisien Perpindahan Masa


Koefisien perpindahan masa adalah besaran empiris yang diciptakan untuk
memudahkan persoalan-persoalan perpindahan masa antar fase, yang akan dibahas
disini adalah koefisien perpindahan masa dari fase gas ke fase cair atau sebaliknya
dari sifat-sifat zat untuk menekan. Hal ini dapat diperhatikan pada gambar di dasar
ini :

Gambar 2.2. Pengaruh koefisien perpindahan masa dari fase gas ke fase cair atau
dari fase cair ke fase gas
Koefisien perpindahan masa dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya:
1. Kondisi Operasi
Kondisi operasi dapat berupa laju alir, temperatur dan tekanan.
2. Kondisi Alat
Kondisi alat meliputi diameter dan tinggi/panjang alat.
3. Sifat Bahan
Sifat bahan dapat berupa densitas, viskositas, diffusivitas.
Bila terjadi perpindahan masa dari fase cair ke fase gas pada bidang selang
film, gas cair dalam hal ini adalah penguapan dari permukaan cairan ke
permukaan atau aliran udara.
(1)
Dimana :
Nay = fluks masa komponen A (dalam hal ini air) dalam arah y karena terbawa
aliran fluida (gr mole / cm2 det)
NBy = fluks masa komponen B (dalam hal ini udara) dalam arah y karena dimana
aliran fluida (gr mole / cm2 det)
XA

= fraksi mol uap air difase gas yang merupakan fungsi dari y dan z

Jay

= fluks masa komponen A dalam arah y karena difusi molekuler


(gr mol / cm2 det)

Maka persamaan (1) dapat ditulis kembali sebagai berikut :


NAy XA ( HAy + NBy ) = Jay ..... (2)
Menurut Hukum Fid pertama, maka
JAy = CDAB XA / y ........(3)

Pemecahan persamaan (3) untuk menentukan besarnya JAy memerlukan


persyaratan bahwa XA/y diketahui lebih dulu. Untuk memecahkan persoalan yang
rumit pada aliran, maka penggunaan persamaan (3) akan sangat menyulitkan. Oleh
karena itu, didefinisikan koefisien perpindahan masa.
JAy = Kg. LoC ( XAo XA ) ....(4)
Dimana ( XAo XA) adalah beda konsentrasi dan dinyatakan dengan fraksi
mol dalam arah perpindahan masa y. Pendefinisian ( XAo XA) ini menentukan
definisi yang tepat dari Kg, LoC (tanda LoC dari fase gas diganti huruf g).
pernyataan lokal disini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Kg dapat berbedabeda dari satu posisi lain pada permukaan bidang selang perpindahan terjadi.
Agar lebih memudahkan pemakaian, maka didefinisikan Kg rata-rata yang
dinyatakan dengan KgL sebagai berikut :

......(5)

Menurut definisi dipuncakmaka kgL = harga rata-rata kg . LoC untuk seluruh


permukaan perpindahan masa J. Tentang ( XAo XA) pada umumnya dilakukan
pendefinisian sebagai berikut :
XAo

= fraksi mol kompenan A pada fase gas tepat dipergunakan bidang selang

XA

= fraksi mol rata-rata komponen A, difase gas atau dengan rumus :

....(6)
A

= luas penampang aliran gas yang tegak lurus terhadap permukaan perpindahan
masa

XA = seperti didefinisikan dipuncakjuga sehingga cap-muxing arrage dari XA.


LoC.

2.5. Perpindahan Masa pada Wetted wall column


Guna menelaah perpindahan masa dalam wetted wall column, perhatikan
gambar berikut ini:

Gambar 2.3. Penampang membujur dari watted wall column untuk bagian dimana
perpindahan masa fasa diukur/ditelaah.
Kita tinjau sistem setinggi dz. Neraca material komponen A yang
dilakukan terhadap segmen tersebut menghasilkan persamaan differensial sebagai
berikut :
d(W . XA) / dz = JAy D ........(7)
dimana, W = laju alir masa gas dalam arah z (gr mole/det)
Dengan menggunakan kenyataan bahwa penambahan laju alir masa dalam
arah z hanyalah karena adanya fluks masa JAy maka dapat dituliskan hubungan
sebagai berikut:

.....(8)
Persamaan (7) dan (8) akan menghasilkan hubungan :

....(9)
Dengan menggunakan (4) maka persamaan (9) dapat diubah menjadi :

....(10)
Dalam menyelesaikan persamaan (10) maka perlu penganggapan bahwa XA
rata-rata (lihat persamaan (6)), maka anggapan tersebut dapat digunakan.
Selanjutnya dengan mengabaikan perubahan total dari W sepanjang kolom, mka
integrasi persamaan (10) untuk Z = 0 sampai Z = L menghasilkan :

....(11)
Ruas kiri adalah definisi kg,l sedang ekspansi parsiil, ruas kanan dapat dengan
mudah diintegrasikan.

..(12)
Dengan persamaan ini maka kgl dapat ditentukan dari data percobaan.
Korelasi empiris dimensi dapat diketahui bahwa kg,l dipengaruhi oleh NRe,
NSc, dan factor geometris kolom (L/D). Pengaruh faktor-faktor tersebut dapat
dinyatakan sebagai berikut :

...(13)
NRe = bilangan Reynold untuk aliran gas
NSc = bilangan Schmidt untuk fasa gas
L/D = perbandingan panjang kolom terhadap diameter kolom
Suatu proses dimana terjadi suatu perpindahan suatu unsur pokok dari daerah
yang berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah dinamakan perpindahan masa,
Perpindahan masa yang terjadi dari suatu unsur yang berkonsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah dipengaruhi oleh ciri aliran liquid, seperti pada kasus heat
transfer, mekanisme perpindahan masa terjadi dengan cepat. Jika sejumlah
campuran gas yang terdiri dari dua jenis molekul atau lebih, dimana konsentrasi
masing-masing berbeda, maka masing-masing molekul ini cenderung menuju ke
komposisi yang sama seragam. Proses ini terjadi secara alami. Perpindahan masa
makroskopis ini tidak tergantung pada konveksi dalam sistem. Proses ini
didefinisikan sebagai difusi molekul.
Pada persamaan perpindahan masa ditunjukkan hubungan antara flux dari
substan yang terdifusi dengan gradient konsentrasi.

....(14)

Dimana JA,Z merupakan molar flux pada Z, merupakan perubahan konsentrasi


serta DAB adalah diffusivitas masa atau koefisien diffusivitas komponen A yang
terdifusi melalui komponen B. Karena perpindahan masssa atau diffui hanya terjadi
dalam campuran, maka pengaruh dari tiap komponen harus diperhitungkan.
Misalnya, untuk mengetahui laju diffusi dari setiap komponen relative terhadap
kecapatan campuran. Kecepatan campuran harus dihitung dari kecepatan rata-rata
tiap komponen.
Persamaan diatas dikenal dengan persamaan Freks law, dimana DAB adalah
koefisien diffusivitas. Koefisien diffusivitas tergantung pada:
1. Tekanan
2. Temperatur
3. Komposisi Sistem
Koefisien diffusivitas masing-masing fase berbeda-beda. Koefien diffusivitas
untuk gas lebih tinggi, yaitu antara 5.10-6 10-5 m2/s , untuk liquid 10-10 10-9 m2/s
dan untuk solid 10-14 -10-10 m2/s.
Perpindahan masa konvektif termasuk perpindahan antara fluida yang
bergerak atau dua fluida yang bergerak yang tidak tercampur. Model ini tergantung
pada mekanisme perpindahan dan karakteristik gerakan fluida. Persamaan laju
perpindahan masa konvektif sebagai berikut:
NA = k . A
Dimana,

......(15)

NA

= perpindahan masa molar zat A

= perbedaan konsentrasi antara permukaan dengan konsentrasi

rata-rata fluida
k = koefien perpindahan masa konvektif
Mekanisme perpindahan masa antar permukaan dan fluida termasuk
perpindahan masa molekul melalui lapisan tipis fluida stagnan dan aliran laminar.
Beberapa operasi perpindahan masa yang termasuk difusi suatu komponen gas
ke suatu komponen yang tidak berdifusi anatara lain adalah absorbsi dan
humidifikasi. Persamaan yang digunakan untuk menggambarkan koefisien
perpindahan masa konvektif adalah:

....(16)

Dimana:
NAZ = laju perpindahan molar
DAB = diffusivitas
P

= tekanan

= konstanta gas

= temperature

= jarak

Persamaan ini diperoleh dari teori lapisan atau film theory, dimana gas
melewati permukaan liquid. Teori lapisan ini didasarkan pada model dimana
tahanan untuk berdifusi dari permukaan liquid ke aliran gas diasumsikan terjadi
dalam suatu stagnan film atau laminar film tebal. Dengan kata lain, menunjukkan
tebal lapisan liquid.
1. Transfer masa dari gas ke film falling liquid
2. Transfer masa dalam wetted wall column
Kebanyakan data dari transfer masa antara diameter pipa dan aliran fluida
telah ditentukan dengan menggunakan wetted wall columns. Alasan mendasar untuk
menggunakan kolom-kolom ini untuk penyelidikan transfer masa adalah untuk
mengontakkan luas area antara 2 fase sehingga dapat dihitung dengan tepat.
Koefisien transfer masa konvektif untuk jatuhnya liquid film dikorelasikan
oleh Vivian dan Pecamenet dengan korelasi:
[

Dimana:
Z

= panjang

DAB = diffuisivitas masa antara komponen A dan B

= densitas liquid B

= viskositas liquid B

= percepatan gravitasi

Sc

= schimdt number (dievaluasikan pada tempeartur film liquid)

Re

= Bilangan Reynold

2.6 Teori Penetrasi


Teori penetrasi yang dinyatakan oleh Trey Ball menyatakan kontak 2 fluida.
Pada gambar (a) gelembung gas membesar melalui liquid yang mengabsorbsi gas.
Partikel liquid mula-mula berada di puncak gelembung dimana partikel liquid siap
sepanjang permukaan gelembung. Pada gambar (b) terlihat dimana liquid dengan
gerakan turbulen memperlihatkan arus eddy konstan.

Gambar 2.4 Teori Penetrasi


Mula-mula partikel gas terlarut tidak seragam dan mula-mula arus eddy
dianggap diam, jika arus eddy dibiarkan berkontak dengan gas pada permukaannya,
konsentrasi liquid permukaan gas Ca yang berada pada kelarutan keseimbangan gas
dari liquid selama partikel liquid menjadi penentu difusi unsteady state atau
penetrasi solute pada arah Z.
Untuk waktu yang pendek dan difusinya berlangsung pelan di dalam molekul
solute yang larut tidak pernah mencapai kedalaman Zp sesuai dengan ketebalan arus
eddy. Keadaan puncak yang ada pada fenomena transfer masa dalam dinding kolom
yang dibasahi adalah :
CA0 pada 9 = 0 , untuk semua Z
CA pada Z = 0 , 9 > 0
CA0 pada Z = , untuk semua 9

2.7 Teori Film


Gambar di bawah ini memperlihatkan cairan yang sedang jatuh pada lapisan
(film) dengan aliran laminer ke dasar pada permukaan rotameter yang vertikal
berkontak dengan gas A yang larut ke dalam cairan dengan konsentrasi A yang
seragam CA0 dari pada A pada puncaknya.

Gambar 2.5 Teori Film


Pada permukaan cairan, konsentrasi gas terlarut CA, yang berada dalam
keseimbangan dengan tekanan A pada fase gas karena CA > CA0 gas terlarut ke
dalam cairan. Koefisien perpindahan masa Kgl dengan sejumlah gas terlarut setelah
liquid terjenuh sejauh L dan dihitung.
Masalah ini dapat dipecahkan dengan penyelesaian simultan persamaan
kontinuitas. Untuk komponen A dengan persamaan yang menggambarkan liquid
yaitu persamaan laminer.
Persamaan simultan dan jumlah persamaan diferensial partikel menjadi lebih
mudah dengan beberapa asumsi :
1. Tidak ada reaksi kimia
2. Pada arah A kondisinya tidak berubah
3. Kondisinya steady state
4. Kecepatan adsorbsi gas sangat kecil.
5. Difusi A pada arah yang diabaikan dibandingkan dengan gerakan ke dasar.
6. Sifat-sifat fisiknya constan

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Rancangan Percobaan


3.1.1 Rancangan Praktikum
Praktikum ini dimulai dengan kalibrasi rotameter udara dan rotameter air
untuk mendapatkan laju alir pada setiap variabel yang ada. Kemudian
dilanjutkan dengan tahap operasi, operasi dilakukan dengan menyalakan alat
sesuai dengan variabel laju alir rotameter udara atau laju alir rotameter air.
Kemudian suhu wet bulb dan suhu dry bulb pada puncak dan dasar kolom
diukur dengan menggunakan thermometer. Setelah data-data yang dibutuhkan
terkumpul kemudian data diolah untuk mengetahui humiditas di puncak dan
dasar kolom.
Menyalakan Blower

Mengalirkan Air

Kalibrasi Rotameter
Udara

Kalibrasi Rotameter
Air

Operasi Sesuai Variabel


Rotameter Udara

Operasi Sesuai Variabel


Rotameter Air

Pengolahan Data

Gambar 3.1. Diagram Alir Rancangan Praktikum Wetted wall column

3.1.2. Penetapan Variabel


A. Variabel Tetap
Waktu Kalibrasi Air

= 10 detik

Volume Wet gas meter = 10 L


Laju Alir Udara Tetap

Laju Alir Air Tetap

B. Variabel Berubah
Laju Alir Rotameter Udara =
Laju Alir Rotameter Air

3.1.3. Respons
1. Kalibrasi Rotameter Air
Volume air yang ditampung dalam waktu 10 detik pada setiap laju alir.
2. Kalibrasi Rotameter Udara
Waktu yang dibutuhkan (detik) untuk 1 kali putaran dengan volume wet
gas meter 10 L.
3. Tahap Operasi
Suhu (0C) Wet bulb dan Dry bulb di dasar dan puncak kolom pada
variabel laju alir air dan variabel laju alir udara pada waktu 10 menit.
4. Analisa Data Hasil Percobaan
Mahasiswa diharapakan dapat:
a. Membuat kurva hubungan koefisien transfer masa (Kgl) dengan laju
alir dan dapat menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi
b. Mengetahui pengaruh NRe terhadap NSh
c. Mencari konstanta a dan b dari persamaan bilangan tak berdimensi
yang telah disusun
3.2 Bahan dan Alat yang Digunakan
A. Bahan:
-

Udara

Air

B. Alat:
-

Stopwatch

Thermometer

3.3 Gambar Rangkaian Alat

Gambar 3.2. Alat Praktikum Wetted wall column


Keterangan :
1. Blower
2. Rotameter udara
3. Rotameter air
4. Kolom perpindahan masa

3.6 Prosedur Percobaan


Pelaksanaan pekerjaan dapat dibagi dalam dua tahap yaitu tahap persiapan dan
tahap operasi.
A. Tahap Persiapan
1. Kalibrasi Rotameter Udara

Menghubungkan wet gas meter dengan pipa keluaran udara

Mengatur skala rotameter udara

Menghitung waktu yang diperlukan untuk jarum pada wet gas meter
melakukan satu putaran

Mengulangi sampai 3x

Ulangi langkah di atas untuk skala rotameter udara yang lain

2. Kalibrasi Rotameter Air

Mengalirkan air dengan membuka kran pada jarak tertentu

Mengatur skala rotameter air

Mengalirkan air selama 10 detik dan menampung airnya untuk mengetahui


volumenya.

Mengukur volume air

Mengulangi sampai 3x

Mengulangi langkah diatas untuk skala rotameter yang lain

B. Tahap Operasi
1. Mengalirkan air dari kran air pada penunjukkan skala rotameter tertentu
2. Mengalirkan udara pada penunjukkan skala rotameter udara tertentu
3. Mengukur suhu wet bulb (ujung termometer diselubungi kapas basah) dan dry
bulb pada puncak dan dasar kolom
4. Membaca dan mencatat suhu pada termometer
5. Ulangi langkah 1-4 sebanyak 4 skala lainnya.

C. Analisa Hasil
Hasil percobaan yang diinginkan adalah nilai humiditas pada puncak dan dasar
alat. Humiditas dapat dicari dengan mengolah Td dan Tw pada input dan Td dan
Tw pada output menggunakan bantuan diagram Psychometric.

DAFTAR PUSTAKA
Bird ,RB. Stewart, Wt and Light Foote, E.N. Transport Phenomena. John Willey and
Jason. 1968.
Brown, GG. Unit Operations. John Wiley & Sons, Inc. New York. 1950.
Mc Cabe, WL and J Smith. Unit Operation. Mc Graw Hill. New York.1956.
Treybal, RE. .Mass Transfer Operation. 3rd ec. Mc Graw Hill Book Co. Book of
Japan.1980.

LAMPIRAN

Analisa Hasil Percobaan dengan Diagram Psychometric


1. Dari percobaan didapatkan data Td dan Tw pada input serta Td dan Tw pada output
2. Dengan menggunakan diagram Psychrometric didapatkan nilai Y (humidity)
3. Perhitungan Kgl

Dimana X*A1 plot Twin , XA1 = Ym dan X*A2 plot Twout , XA2 = Yk
4. Perhitungan Nsh

; a dan b dicari dengan metode Least Square


5. Perhitungan persentase kesalahan
|