Anda di halaman 1dari 2

Masalah modal perusahaan (bentuk PT) sudah diatur di UU PT no.40.

2007 yang mens


yaratkan bahwa modal disetor di awal pembentukan PT minimal 25% (seperti disebut
oleh rekan Wening di atas) dari modal dasar perusahaan.
Selanjutnya perlu kita lihat dan baca teliti Akta Notaris pembentukan PT oleh pa
ra pemegang. Disana akan disebut berapa Modal Dasar Perusahaan (dalam nilai Rupi
ah dan Jumlah lembar saham).
Pada ayat yg lain akan disebutkan berapa jumlah modal yang Disetor Tunai oleh pa
ra pemegang saham. Disetor Tunai adalah bahasa standar pada semua akta notaris p
endirian perusahaan. Hal ini mempunyai implikasi hukum bahwa setoran modal harus
berbentuk TUNAI -- tidak boleh utang. Bila setoran modal berbentuk barang atau
aset tetap (istilahnya : INBRENG) maka akan disebutkan dalam akta notaris berapa
nilai aset atau barang tersebut yang diakui atau yang disepakati pada saat itu.
Apabila seorang Auditor ketika memeriksa permodalan perusahaan menemukan bahwa y
ang seharusnya Modal disetor 20 M tetapi yang benar-2 disetor TUNAI maupun Baran
g baru berjumlah 10M maka pertanyaannya adalah apa yang harus dilakukan oleh san
g Auditor? Untuk modal Dasar Yg belum disetor bukanlah masalah karena dalam Lapo
ran Posisi Keuangan (d/h neraca) boleh disajikan secara terpisah Berapa Jumlah M
odal Dasar (Authorized Capital) dan Berapa Jumlah Modal Disetor (Paid up Capital
). Yang masuk perhitungan Jumlah Modal cuma Modal disetor saja, sementara Modal
Dasar hanya berfungsi sebagai Informasi tambahan.
Kembali ke soal Modal Disetor versi Akta Notaris versus Modal Disetor versi Cata
tan Akuntansi yang diperiksa Auditor. Apabila hingga pada tanggal pemeriksaan se
lesai terdapat pemegang saham yang belum menyetorkan modal (dalam bentuk TUNAI a
tau Barang), maka dalam Catatan Atas Laporan Keuangan sub seksi penyajian strukt
ur pemegang saham perusahaan hanya Nama Pemegang Saham yang boleh dicantumkan se
mentara Jumlah saham dan presentase kepemilikannya bernilai nol (dikosongkan). H
al ini juga merupakan penerapan IFRS based PSAK, khususnya azas Substance Over T
he Form. Artinya, walaupun secara legal (akta notaris) disebut modal disetor 20
M tetapi yang baru benar-benar disetor cuma 10 M, maka secara Akuntansi hanya 10
M yang dicatat dan diakui dalam Laporan Kuangan perusahaan.
Jadi, Intinya adalah Modal Disetor harus Tunai dan Tidak Boleh Utang.
Istilah Piutang Pemegang Saham itu tidak berlaku dalam konteks struktur modal pe
rusahaan ketika didirikan. Itu hanya berlaku ketika perusahaan sudah beroperasi
lalu terdapat transaksi dimana Pemegang Saham meminjam uang kepada perusahaan (b
ukan menarik modal atau penyertaannya). Piutang Pemegang Saham (P/S) ini biasany
a terjadi di perusahaan tertutup dimana P/S sering merangkap menjadi Direktur at
au Komisaris Perusahaan.

Komentar terakhir saya kira baik. Memperhatikan aspek historis dan transaksional
, maka yang diakui sebagai modal adalah yang sudah disetor (10 m). Informasi mod
al ini juga akan berakibat pada berbagai analisis keuangan lainnya. Jika dimasuk
kan modal sebagai 20 m padahal tidak beroperasional, maka mengakibatkan analisis
menjadi keliru. Sementara piutang lebih banyak terjadi karena transaksi (bukan
janji atau aspek hukum saja). Hal lain yang terkait sebagai pertimbangan misalny
a aspek konservatisme dalam akuntansi.sebagai tambahan jika piutang pemegang sah
am dicatat dan dilaporkan dalam neraca, akan terjadi penggelembungan aset, so pe
megang saham akan semena-mena menyatakan setor saham tapi utang. buat akuntan, r
asanya aneh dan gag make sense yaaah, menaikkan posisi liabilitas+ equitas juga
aset. selama ini saya sering menemui hal-hal tsb dilapangan, dan perusahaan haru

s melakukan koreksi atas penjurnalan yang bias tersebut. semoga dapat membantu y
aaaa...
dan mungkin sebagai akuntan yuuk mulai mencatat any detailed of the transaction
by substance not only because owner interest :)