Anda di halaman 1dari 26

JAKARTA. Bukan main.

Potensi kehilangan (potential lost) penerimaan pajak akibat praktik


transfer pricing yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia selama 2009
lalu mungkin mencapai Rp 1.300 triliun.
Jika perkiraan itu tepat, ini sungguh keterlaluan. "Angka Rp 1.300 triliun itu signifikan karena
setara dengan 60% total transaksi yang mencapai Rp 2.100 triliun," kata Pengamat Perpajakan
Narliswandi Piliang dalam seminar dengan tajuk Reformasi Perpajakan kemarin (29/6).
Narliswandi menyatakan, angka tersebut berasal dari Seksi Transfer Pricing Direktorat Jenderal
(Ditjen) Pajak yang diolah berdasarkan data milik Organization for Economic Co-operation and
Development (OECD). "Transfer pricing biasanya digunakan oleh perusahaan-perusahaan
multinasional kita untuk meminimalkan nilai pajak yang dibayar melalui rekayasa harga," ungkap
dia.
Transfer pricing adalah trik penghindaran pajak yang dilakukan perusahaan lewat cara bertransaksi
dengan perusahaan afiliasi di luar negeri memakai harga yang tak wajar. Akibatnya, perusahaan
tampak rugi atau untung tipis dan akhirnya membayar pajak penghasilan (PPh) nilai lebih kecil dari
seharusnya atau membayar PPH sama sekali.
Narliswandi kecewa pada Ditjen Pajak yang hanya menempatkan 12 orang untuk mengendus
praktik transfer pricing. "Itu pun tak semua paham," ujar dia. Ia menambahkan, Ditjen Pajak baru
membentuk Seksi Transfer Pricing pada 2007 lalu, setelah banyak perusahaan yang mengaku rugi.
Indonesia semestinya bisa meniru Singapura yang lebih tegas menangani transfer pricing. Negeri
Merlion itu mengharuskan penanam modal asing yang tak untung dalam lima tahun untuk angkat
kaki dari bumi Singapura.
Ketua Komite Pengawas Perpajakan (KPP) Anwar Suprijadi menuturkan, transfer pricing memang
berpotensi terhadap kemungkinan penyalahgunaan pajak. Namun, untuk mengendus praktik
tersebut tidak mudah, perlu keahlian khusus. "Sebetulnya, keahliannya sudah ada tinggal
memanfaatkan dan keseriusan untuk menangani saja," ujar dia.
Menurut Anwar, perlu ada langkah nyata dari Ditjen Pajak untuk menangani praktik transfer
pricing, termasuk menjalin kerjasama dengan negara lain. "Seperti yang digagas dalam G-20
(Kelompok 20)," kata Anwar.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pajak Mochamad Tjiptardjo mengatakan direktoratnya sudah


menyiapkan sumber daya di bidang transfer pricing sebanyak 1.015 orang yang tersebar di kantorkantor pajak di seluruh Indonesia. Plus, menempatkan 15 intelijen di luar negeri.

Transfer pricing adalah istilah yang popular dan lazim dalam dunia bisnis, namun dalam dunia
pajak, istilah transfer pricing seperti tuyul, dia diyakini ada, bisa dirasakan kehadiran dan efeknya,
namun tidak mudah untuk menemukan wujudnya dan membuktikannya. Lalu seperti apa
sebenarnya transfer pricing itu? Menurut kamus ensiklopedia Wikipedia, transfer pricing refers to
the pricing of contributions (assets, tangible and intangible, services, and funds) transferred within
an organization. Sehingga dapat diartikan bahwa transfer pricing adalah suatu penetapan harga jual
khusus dalam satu perusahaan atau grup perusahaan yang dipakai dalam pertukaran antar divisi atau
anggota grup perusahaan, dengan tujuan untuk mencatat pendapatan di divisi atau perusahaan
penjual dan biaya di divisi atau perusahaan pembeli. Tujuan utama dari transfer pricing
sesungguhnya adalah untuk mengevaluasi dan mengukur kinerja perusahaan, namun dalam
perkembangan selanjutnya seiring dengan kemajuan perusahaan menjadi perusahaan multinasional,
maka lazimnya suatu perusahaan akan mencari cara untuk meningkatkan laba atau setidaknya
efisiensi dalam pengeluaran, dengan maksud itu banyak perusahaan multinasional yang melakukan
praktek transfer pricing.
Transfer pricing dalam lingkungan perusahaan multinasional dilakukan dengan cara
melakukan transaksi antar anggota grup perusahaan multinasional yang mempunyai hubungan
istimewa. Hubungan istimewa merupakan hubungan kepemilikan antara satu perusahaan dengan
perusahaan lain dan hubungan ini terjadi karena adanya keterkaitan satu pihak dengan pihak lain
yang tidak terdapat pada hubungan biasa. Transaksi dalam praktek transfer pricing ini biasanya
meliputi penjualan barang dan jasa, lisensi harta tak berwujud lainnya, penyediaan pinjaman dan
sebagainya dengan harga khusus yang direkayasa. Melalui transfer pricing tersebut, perusahaan
multinasional yang bersangkutan dapat menggeser kewajiban perpajakannya dari anggota grup
perusahaannya di negara-negara yang menetapkan tarif pajak yang lebih tinggi (high tax country)
ke anggota grup perusahaannya di negara-negara yang menetapkan tarif pajak yang lebih rendah
(low tax country). Dengan praktek transfer pricing ini, suatu perusahaan di negara tertentu akan
melaporkan rugi, sehingga tidak perlu membayar pajak. Hal tersebut tentu akan menghilangkan
potensi penerimaan pajak negara tersebut.
Di Indonesia, untuk mengantisipasi dan mengurangi praktek transfer pricing ini, ketentuan
Pasal 18 ayat (3) Undang-undang Pajak Penghasilan memberikan kewenangan kepada Direktur
Jenderal Pajak untuk menghitung kembali penghasilan atau laba fiskal dan pengurangan serta
menentukan utang sebagai modal, apabila terdapat transaksi antara perusahaan yang merupakan
Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha.
Jika ada Wajib Pajak yang terbukti dengan sengaja menyatakan rugi padahal tidak, maka akan
dikenakan sanksi. Lebih lanjut dalam ketentuan Pasal 18 ayat (3a) Undang-undang tentang Pajak
Penghasilan juga dimungkinkan untuk membuat perjanjian dengan Wajib Pajak dan bekerja sama
dengan pihak otoritas pajak negara lain untuk menentukan harga transaksi antar pihak-pihak yang
mempunyai hubungan istimewa. Perjanjian ini lazim disebut Advance Pricing Agreement (APA)
sebagai kesepakatan di muka atas transfer pricing untuk tujuan penghitungan objek pajak.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah penertiban terhadap tax heaven secara internasional.
Tax heaven pada dasarnya adalah suatu negara yang dengan sengaja memberikan fasilitas pajak
berupa tarif pajak yang rendah kepada Wajib Pajak negara lain agar penghasilan dari Wajib Pajak
negara lain tersebut dialihkan ke negara mereka. Oleh karena itu pemerintah harus menerbitkan
aturan mengenai kategori negara mana saja yang dimaksudkan sebagai negara tax heaven. Apabila
ada Wajib Pajak yang mengalihkan penghasilannya ke negara yang masuk dalam kategori tax
heaven, maka penghasilan yang dialihkan tersebut dapat dikenakan pajak atas dasar tarif yang
berlaku berdasarkan ketentuan pajak di Indonesia . Hal lain lagi tentunya adalah dengan
meningkatkan kecakapan maupun jumlah petugas auditor pajak.
Berbagai kebijakan dan pendekatan yang dilakukan oleh aparat pajak atas dugaan transfer
pricing ini tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan keberatan dari pihak Wajib Pajak yang
kemudian berlanjut ke tingkat banding di Pengadilan Pajak. Apabila sengketa tersebut sampai ke
meja Hakim Pengadilan Pajak, maka merupakan kewenangan Hakim untuk melakukan pemeriksaan
terhadap keterangan dan bukti-bukti dari kedua belah pihak yang bersengketa. Pasal 76 Undangundang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak menegaskan bahwa Hakim menentukan
apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian beserta penilaian pembuktian dan untuk sahnya
pembuktian diperlukan paling sedikit 2 (dua) alat bukti. Adapun alat bukti itu dapat berupa surat
atau tulisan, keterangan ahli, keterangan para saksi, pengakuan para pihak dan pengetahuan Hakim.
Dengan demikian Majelis Hakim yang memeriksa kasus dugaan transfer pricing dapat meminta
kedua belah pihak untuk menunjukkan sedikitnya dua alat bukti otentik yang mendukung alasannya
masing-masing. Wajib Pajak dalam hal ini harus dapat membuktikan bahwa harga yang mereka
tetapkan adalah harga yang wajar, sebaliknya pihak aparat pajak juga harus dapat menunjukkan
bukti bahwa harga yang ditetapkan oleh Wajib Pajak adalah harga yang tidak wajar. Majelis Hakim
dapat meminta kedua belah pihak yang bersengketa atau salah satu dari mereka untuk menunjukkan
data pembanding harga, biaya, dan laba kotor dari perusahaan-perusahaan lain yang usahanya
sejenis dengan Wajib Pajak. Data pembanding diperlukan untuk mengetahui harga, biaya, dan laba
kotor yang wajar. Harga yang ditetapkan oleh Wajib Pajak, biaya dan laba kotornya kemudian
dibandingkan dengan data pembanding harga, biaya, dan laba kotor yang telah sesuai dengan asas
kewajaran (arm's length principle), hingga akhirnya berdasarkan hasil penilaian pembuktian
tersebut, Majelis Hakim dapat bermusyawarah dan membuat putusan.

Krisis yang terjadi pada beberapa negara Eropa memiliki potensi untuk mempengaruhi penerimaan
pajak tahun 2012. Dampak krisis tersebut sudah mulai terasa dengan adanya penurunan eksporimpor. Penurunan ekspor-impor akan berdampak pada turunnya penerimaan pajak terutama sektor
Pajak Penghasilan (PPh) Impor dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Impor.
Penerimaan pajak semester I-2012 mencapai Rp 387,6 trilyun atau sekitar 45 persen dari target
tahun 2012. Capaian tersebut sudah cukup baik mengingat kondisi perekonomian global yang tidak
menentu. Untuk itu, pada semester II-2012, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak akan menggenjot
semua sektor guna mencapai target penerimaan pajak yang sudah ditentukan dalam APBN-P 2012
sebesar Rp 885,02 trilyun. Selama ini tren penerimaan pajak pada semester II biasanya lebih tinggi
dibandingkan realisasinya pada semester I. Namun demikian untuk tahun 2012, masih harus
mewaspadai keadaan ekonomi yang masih belum pulih dari krisis ekonomi global.

Kemungkinan terjadinya perlambatan perekonomian Indonesia terkait krisis global di semester II2012 harus diwaspadai. Oleh karena itu Ditjen Pajak mengambil beberapa langkah pengamanan
penerimaan pajak seperti perbaikan sistem PPN, perbaikan sistem teknologi informasi untuk
pengawasan terhadap Wajib Pajak serta melakukan sensus pajak untuk menggali potensi
penerimaan pajak yang lebih besar lagi.
Registrasi Ulang PKP
Tahapan awal dari perbaikan sistem PPN adalah Ditjen Pajak melaksanakan registrasi ulang pada
Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang dimulai sejak Februari sampai dengan 31 Agustus 2012. Ditjen
Pajak merencanakan akan mencabut sekitar 300.000 PKP yang berpotensi menyelewengkan faktur
pajak. Selama ini status PKP rawan disalahgunakan oleh pengusaha dengan menerbitkan faktur
pajak fiktif. Dengan langkah ini diharapkan dapat mencegah kebocoran penerimaan PPN. Sejauh
ini, Ditjen Pajak telahmencabut sekitar 21.805 perusahaan yang memiliki status PKP
(Sumber: www.pajak.go.id). Perusahaan-perusahaan tersebut dicabut status PKP-nya karena selama
ini berstatus non-efektif dalam melaporkan pajaknya.
Sensus Pajak Nasional
Sensus Pajak Nasional adalah proses pengumpulan data Wajib Pajak untuk penggalian potensi
perpajakan. SPN dilaksanakan karena sampai saat ini masih sangat banyak orang pribadi dan
perusahaan di Indonesia yang belum melaksanakan kewajiban perpajakannya. Sensus pajak akan
mendata para Wajib Pajak atau objek pajak yang berada di sentra bisnis, high rise building,
perumahan dan ditambah dengan objek pajak potensial. Tahun 2012, SPN dilaksanakan mulai 1
Mei 2012 hingga 31 oktober 2012. Ditjen Pajak menargetkan 2 juta Wajib Pajak bisa terdata dalam
sensus pajak tahun ini atau meningkat dari target 2011 yaitu sebesar 900 ribu Wajib Pajak.
Kebijakan Lainnya
Selain kebijakan-kebijakan perpajakan yang ditujukan untuk mendongkrak penerimaan pajak,
Pemerintah juga membuat kebijakan-kebijakan perpajakan yang memberikan keringanan
perpajakan bagi masyarakat. Kebijakan itu antara lain rencana kenaikan Penghasilan Tidak Kena
Pajak (PTKP), penetapan sumbangan umat Hindu sebagai pengurang pajak, dan pembebasan PPN
untuk rumah murah.
Pemerintah di tahun 2012 merencanakan kenaikan PTKP dari Rp 15,8 juta menjadi Rp 24 juta per
tahun. Dengan kata lain, masyarakat penghasilan hingga Rp 2 juta per bulan tidak akan dipungut

pajak. Kenaikan PTKP ini diharapkan akan membantu meringankan beban masyarakat yang
berpenghasilan rendah. Kenaikan PTKP juga diharapkan dalam jangka panjang akan meningkatkan
penerimaan pajak. Hal ini karena peningkatan PTKP itu akan memberikan insentif bagi masyarakat
kecil, baik untuk pengembangan usaha baru, maupun ke arah konsumsi.
Pada bulan Juni 2012, Pemerintah telah menetapkan sumbangan wajib umat Hindu yang
disumbangkan lewat Badan Dharma Dana Nasional Yayasan Adikara Dharma Parisad (BDDN
YADP) dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Dengan begitu, sumbangan tersebut dapat
menjadi pengurang penghasilan kena pajak. Sebelumnya pada tahun 2011, Pemerintah juga telah
menetapkan 20 Badan/Lembaga penerima zakat dan sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib
yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
Pemerintah juga merencanakan membebaskan pengenaan PPN untuk rumah murah senilai Rp 90
juta sampai Rp 145 juta. Untuk harga rumah Rp 90 juta berlaku untuk rumah di Jabodetabek
termasuk daerah lainnya dan rumah Rp 145 juta khusus di Papua. Dengan kebijakan ini diharapkan
membantu masyarakat kelas bawah yang akan membeli rumah murah.
Dengan berbagai kebijakan di atas, Ditjen Pajak memiliki tekad kuat untuk mengamankan target
penerimaan pajak tahun 2012. Mari kita dukung upaya ini dengan melaksanakan kewajiban
perpajakan dengan benar. Bangga bayar pajak !

KEWAJIBAN PEMBAYARAN PAJAK


Mekanisme Pembayaran Pajak bagi Wajib Pajak dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Membayar sendiri pajak yang terutang:
a. Pembayaran angsuran PPh setiap bulan (PPh Pasal 25)
Pembayaran PPh Pasal 25 yaitu pembayaran Pajak Penghasilan secara angsuran. Hal
ini dimaksudkan untuk meringankan beban Wajib Pajak dalam melunasi pajak yang
terutang dalam satu tahun pajak. Wajib Pajak diwajibkan untuk mengangsur pajak
yang akan terutang pada akhir tahun dengan membayar sendiri angsuran pajak
tersebut setiap bulan.
Khusus untuk Wajib Pajak Orang Pribadi yang sumber penghasilannya dari usaha
dan pekerjaan bebas, pembayaran angsuran PPh Pasal 25 terbagi atas 2 yaitu:

Angsuran PPh Pasal 25 sebagai Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha


Tertentu (OPPT).
Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu adalah wajib pajak orang
pribadi yang melakukan kegiatan usaha penjualan barang baik secara grosir
maupun eceran dan usaha penyerahan jasa, yang mempunyai satu atau lebih
tempat usaha termasuk yang memiliki tempat usaha yang berbeda dengan

tempat tinggal.
Angsuran PPh Pasal 25 Wajib Pajak OPPT : 0,75% x jumlah peredaran usaha
(omset) setiap bulan dari masing-masing tempat usaha

Angsuran PPh Pasal 25 sebagai Wajib Pajak Orang Pribadi Selain Pengusaha
Tertentu (OPSPT).
Wajib Pajak Orang Pribadi Selain Pengusaha Tertentu (OPSPT) adalah Orang
Pribadi yang melakukan kegiatan usaha tanpa melalui tempat usaha misalnya
sebagai pekerja bebas atau sebagai karyawan.
Angsuran PPh Pasal 25 sebagai Wajib Pajak OPSPT : Penghasilan Kena
Pajak x Tarif PPh Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh : 12 bulan.
Tarif Pasal 17 ayat (1) a UU PPh adalah :
Lapisan Penghasilan Kena Pajak
Sampai dengan Rp 50.000.000,di atas Rp 50.000.000,- sampai dengan Rp 250.000.000,di atas Rp 250.000.000,- sampai dengan Rp 500.000.000,di atas Rp 500.000.000,-

b. Untuk Wajib Pajak Badan, besarnya pembayaran Angsuran PPh 25 yang terutang
diperoleh dari penghasilan kena pajak dikalikan dengan tarif PPh yang diatur di
Pasal 17 ayat (1) huruf b Undang Undang Pajak Penghasilan. Tarif Pasal 17 ayat (1)
huruf b dan ayat (2a) UU PPh adalah 25%.
Khusus untuk Wajib Pajak badan yang peredaran bruto setahun sampai dengan Rp
50.000.000.000,- mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif
pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) UU PPh, yang dikenakan atas penghasilan
kena pajak dari peredaran bruto sampai dengan Rp 4.800.000.000,c. Membayar PPh melalui pemotongan dan pemungutan oleh pihak lain (PPh Pasal 4
(2), PPh Pasal 15, PPh Pasal 21, 22, dan 23, serta PPh Pasal 26).
Pihak lain disini adalah:

Pemberi penghasilan;

Pemberi kerja; atau

Pihak lain yang ditunjuk atau ditetapkan oleh pemerintah.


Penjelasan lebih lanjut mengenai pemotongan dan pemungutan pajak
diuraikan lebih lanjut pada bagian Pemotongan/Pemungutan (butir 2).

Membayar PPN kepada pihak penjual atau pemberi jasa ataupun oleh pihak
yang ditunjuk pemerintah.
Tarif PPN adalah 10% dari harga jual atau penggantian atau nilai ekspor atau
nilai lainnya.

Pembayaran Pajak-pajak lainnya:

Pembayaran PBB yaitu pelunasan berdasarkan Surat Pemberitahuan


Pajak Terutang (SPPT).
Untuk daerah Jakarta dan daerah tertentu lainnya, pembayaran PBB

Tarif

sudah dapat dilakukan dengan menggunakan ATM di Bank-bank


tertentu.
Tarif PBB terdiri dari 2 tarif yaitu:
a. 1/1000 dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) khusus untuk yang
NJOP-nya kurang dari Rp1.000.000.000,b. 2/1000, dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) khusus untuk yang
NJOP-nya kurang dari Rp1.000.000.000,

Pembayaran Bea Meterai yaitu pelunasan pajak atas dokumen yang


dapat dilakukan dengan cara menggunakan benda meterai berupa
meterai tempel atau kertas bermeterai atau dengan cara lain seperti
menggunakan mesin teraan.
Meterai tempel yang terutang untuk dokumen yang menyebut jumlah
(kuitansi) di atas Rp 250.000,- sampai dengan Rp1.00.000,- adalah
Rp3.000,-.
Untuk dokumen yang menyebut jumlah di atas Rp1.000.000,- dan
surat-surat perjanjian terutang materai tempel sebesar Rp6.000,-.

2. Pemotongan / Pemungutan Pajak


Selain pembayaran bulanan yang dilakukan sendiri, ada pembayaran bulanan yang
dilakukan dengan mekanisme pemotongan/pemungutan yang dilakukan oleh pihak pemberi
penghasilan. Pihak pemberi penghasilan adalah pihak yang ditunjuk berdasarkan ketentuan
perpajakan untuk memotong/memungut, antara lain yang ditunjuk tersebut adalah badan
Pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap
atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya. Untuk subjek pajak badan dalam negeri,
maka diwajibkan juga sebagai pemotong/pemungutan pajak.
Adapun jenis pemotongan/pemungutan adalah: PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23,
PPh Pasal 26, PPh Pasal 4 ayat 2, PPh Pasal 15 dan PPN dan PPn BM. Penjelasan lebih
lanjut dari masing-masing pajak tersebut adalah sebagai berikut:
a. PPh Pasal 21 adalah pemotongan pajak yang dilakukan oleh pihak pemberi
penghasilan kepada oleh Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri sehubungan
dengan pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan.
Misalnya pembayaran gaji yang diterima oleh pegawai dipotong oleh perusahaan
pemberi kerja. Wajib Pajak berbentuk badan ditunjuk oleh UU Perpajakan sebagai
pemotong PPh Pasal 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada karyawannya
maupun yang bukan karyawannya. Wajib Pajak perseorangan dapat juga ditunjuk
sebagai pemotong PPh Pasal 21 sepanjang ada penunjukannya dari KPP tempat
Wajib Pajak terdaftar. Selain diwajibkan memotong PPh Pasal 21, Wajib Pajak
perseorangan bisa juga dilakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan yang
diterimanya.
b. PPh Pasal 22 adalah pemungutan pajak yang dilakukan oleh pihak tertentu yang
ditunjuk oleh Menteri Keuangan sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan
barang (seperti penyerahan barang oleh rekanan kepada bendaharawan pemerintah),
impor barang dan kegiatan usaha di bidang-bidang tertentu serta penjualan barang
yang tergolong sangat mewah.
Pemungutan PPh Pasal 22 ini antara lain adalah:

Pemungutan PPh atas pembelian barang oleh instansi Pemerintah;

Pemungutan PPh atas kegiatan impor barang;

Pemungutan PPh atas produksi barang-barang tertentu misalnya produksi


baja, kertas, rokok, dan otomotif;

Pemungutan atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau


ekspor oleh badan usaha industri atau eksportir di bidang perhutanan,
perkebunan, pertanian dan perikanan dari pedagang pengumpul;

Pemungutan PPh atas penjualan atas barang yang tergolong mewah

Wajib Pajak dapat ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22 atau dapat juga sebagai
pihak yang dipungut PPh Pasal 22.
c. PPh Pasal 23 adalah pemotongan pajak yang dilakukan oleh pihak pemberi
penghasilan sehubungan dengan pembayaran berupa deviden, bunga, royalty, sewa,
dan jasa kepada WP badan dalam negeri, dan BUT.
Wajib Pajak berbentuk badan ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 23, sedangkan
Wajib Pajak perseorangan tidak ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 23. Demikian
sebaliknya, apabila Wajib Pajak menerima penghasilan yang merupakan objek
pemotongan PPh Pasal 23 dan pemberi penghasilan (pemberi kerja) juga merupakan
pemotong PPh Pasal 23, maka atas penghasilan yang diterima Wajib Pajak akan
dipotong PPh Pasal 23 oleh si pihak pemotong tersebut.
Contohnya adalah pemotongan dan penghitungan PPh Pasal 23 atas jasa tertentu
(jasa service mesin atau komputer) yang pemotongannya dilakukan oleh Wajib Pajak
berbentuk badan.
d. PPh Pasal 26 adalah pemotongan pajak yang dilakukan oleh pihak pemberi
penghasilan sehubungan dengan pembayaran berupa deviden, bunga, royalty, hadiah
dan penghasilan lainnya kepada WP luar negeri.
Wajib Pajak baik yang berbentuk perseoranan maupun badan ditunjuk untuk
memotong PPh Pasal 26.
Contohnya adalah pemotongan dan penghitungan PPh Pasal 26 atas penghasilan
tertentu (royalty) yang dilakukan oleh Wajib Pajak berbentuk badan.
e. PPh Final (Pasal 4 ayat (2))
Pemotongan pajak yang dilakukan oleh pihak pemberi penghasilan sehubungan
dengan pembayaran untuk objek tertentu seperti sewa tanah dan/atau bangunan, jasa
konstruksi, pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dan lainnya.
Yang dimaksud final disini bahwa pajak yang dipotong, dipungut oleh pihak pemberi
penghasilan atau dibayar sendiri oleh pihak penerima penghasilan, penghitungan
pajaknya sudah selesai dan tidak dapat dikreditkan lagi dalam penghitungan Pajak
Penghasilan pada SPT Tahunan.
Wajib Pajak berbentuk badan ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 4 ayat (2),
sedangkan Wajib Pajak perseorangan tidak ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 4
ayat (2). Demikian sebaliknya, apabila Wajib Pajak meneriman penghasilan yang
merupakan objek pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) dan pemberi penghasilan
(pemberi kerja) juga merupakan pemotong PPh Pasal 4 ayat (2), maka atas
penghasilan yang diterima Wajib Pajak akan dipotong PPh Pasal 4 ayat (2) oleh si
pihak pemotong tersebut. Namun, apabila Wajib Pajak menerima penghasilan yang
merupakan objek PPh Pasal 4 ayat (2) dan pihak pemberi penghasilan adalah orang
pribadi (bukan pemotong), maka Wajib Pajak tersebut wajib menyetor sendiri PPh
Pasal 4 ayat (2) tersebut.

f. PPh Pasal 15 adalah pemotongan Pajak penghasilan yang dilakukan oleh pihak
pemberi penghasilan kepada Wajib Pajak tertentu yang menggunakan norma
penghitungan khusus.
Wajib Pajak tertentu tersebut adalah perusahaan pelayaran atau penerbangan
international, perusahaan asuransi luar negeri, perusahaan pengeboran minyak, gas
dan panas bumi, perusahaan dagang asing, perusahaan yang melakukan investasi
dalam bentuk bangun guna serah.
Wajib Pajak berbentuk badan ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 15, sedangkan
Wajib Pajak perseorangan tidak ditunjuk untuk memotong PPh Pasal 15. Demikian
sebaliknya, apabila Wajib Pajak meneriman penghasilan yang merupakan objek
pemotongan PPh Pasal 15 dan pemberi penghasilan (pemberi kerja) juga merupakan
pemotong PPh Pasal 15, maka atas penghasilan yang diterima Wajib Pajak akan
dipotong PPh Pasal 15 oleh si pihak pemotong tersebut. Namun, apabila Wajib Pajak
menerima penghasilan yang merupakan objek PPh Pasal 15 dan pihak pemberi
penghasilan adalah orang pribadi (bukan pemotong), maka Wajib Pajak tersebut
wajib menyetor sendiri PPh Pasal 15 tersebut.
g. PPN dan PPnBM adalah pemungutan PPN dan PPnBM oleh Pengusaha Kena Pajak
(PKP) atau Pemungutan yang ditunjuk (misalnya Bendahara Pemerintah) atas
pengkonsumsian barang dan/atau jasa kena pajak.
Pengusaha Kena Pajak yang ditunjuk untuk memungut PPN dan PPnBM adalah
pengusaha yang memiliki peredaran bruto (omzet) melebih Rp 600.000.000,setahun atau pengusaha yang memilih sendiri untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha
Kena Pajak.
Wajib Pajak baik berbentuk perseorangan maupun badan yang telah dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak, wajib memungut PPN dan juga PPnBM (bila
barangnya yang diserahkan tergolong mewah) dari pembeli atau pemakai jasanya.
Wajib Pajak juga wajib membayar PPN dan PPnBM bila mengkonsumsi barang atau
jasa dari Pengusaha Kena Pajak.
Apabila pihak-pihak yang diberi kewajiban oleh Undang-Undang Perpajakan untuk
melakukan pemotongan/pemungutan tidak melakukan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku, maka dapat dikenakan sanksi administrasi berupa bunga 2% dan kenaikan
100%.

PENAGIHAN PAJAK
Wajib Pajak yang tidak melaksanakan kewajiban membayar pajaknya, Direktorat Jenderal Pajak
akan melakukan penagihan pajak. Tindakan ini dilakukan Apabila Wajib Pajak tidak membayar
pajak terutang sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan dalam Surat Tagihan Pajak(STP),
atau Surat Ketetapan Pajak (skp), Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan,
Putusan Banding, maka DJP dapat melakukan tindakan penagihan. Proses penagihan dimulai
dengan Surat Teguran dan dilanjutkan dengan Surat Paksa. Dalam hal WP tetap tidak membayar
tagihan pajaknya maka dapat dilakukan penyitaan dan pelelangan atas harta WP yang disita tersebut
untuk melunasi pajak yang tidak/belum dibayar.
Adapun jangka waktu proses penagihan sebagai berikut:
1. Surat Teguran diterbitkan apabila dalam jangka 7 (tujuh) hari dari jatuh tempo pembayaran
Wajib Pajak tidak membayar hutang pajaknya.

2. Surat Paksa diterbitkan dalam jangka 21 (dua puluh satu) hari setelah Surat Teguran apabila
Wajib Pajak tetap belum melunasi hutang pajaknya.
3. Sita dilakukan dalam jangka waktu 2 x 24 jam sejak Surat Paksa disampaikan.
4. Lelang dilakukan paling singkat 14 (empat belas) hari setelah pengumuman lelang.
Sedangkan pengumuman lelang dilakukan paling singkat 14 (empat belas) hari setelah
penyitaan.
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dapat melakukan pencegahan dan penyanderaan terhadap Wajib
Pajak/penanggung pajak yang tidak kooperatifdalam membayar hutang pajaknya.

Salah satu unsur yang menentukan rasa keadilan dalam pemungutan pajak bagi wajib pajak adalah
tarif pajak yang besarnya harus dicantumkan dalam undang-undang pajak. Besarnya tarif dalam
undang-undang pajak tidak selalu ditentukan secara nilai persentase tetapi bisa dengan nilai
nominal, seperti diuraikan di bawah ini.

Kneclitle dalam bukunya Basic Problems in International Fiscal Law (1979) membagi pengertian
pajak berganda secara luas dan sempit.
Pengertian secara luas :
pajak berganda meliputi setiap bentuk pembebanan pajak dan pungutan lainnya lebih dari satu kali,
yang dapat benganda (double taxation) atau lebih (multiple taxation) atas suatu fakta fiscal (subyek
dan / atau obyek pajak).
Pengertian secara sempit :
pajak berganda dianggap dapat terjadi pada semua kasus pemajakan beberapa kali terhadap suatu
subyek dan/atau obyek pajak dalam satu administrasi pajak yang sama.
Pajak berganda dalam arti luas, sesuai dengan Negara (yuridiksi) pemungut pajaknya, dapat
dikelompokkan menjadi pajak berganda :
1. Internal (domestic)
2. Internasional
Pajak berganda yuridis terjadi apabila atas penghasilan yang sama yang diterima oleh orang yang
sama dikenakan pajak oleh lebih dari satu Negara, sedangkan pajak berganda ekonomis terjadi
apabila dua orang yang berbeda (secara hukum) dikenakan pajak atas suatu penghasilan yang sama
(atau identik)

Beberapa Unsur Pajak Berganda Internasional


Apabila pemajakan berganda (double atau multiple taxation) dilakukan oleh beberapa administrasi
pajak (berdasarkan ketentuan pemajakan domestic dari tiap Negara) maka terdapat pajakberganda
internasional.
Secara teoritis dan normative, istilah pajak berganda internasional (PBI) meliputi beberapa unsur :
1. Pengenaan pajak oleh beberapa otoritas pemajakan atas beberapa criteria identitas
2. Identitas subyek pajak (wajib pajak yang sama)
3. Identitas obyek pajak (obyek yang sama )
4. Identitas masa pajak
5. Identitas (atau kesamaan ) pajak
Selaras dengan unsure-unsur tersebut, maka pajakberganda internasional dapat terjadi apabila
beberapa Negara mengenakan pajak yang sama (sejens atau setara) terhadap satu wajib pajak atas
obyek pajak yang saa untuk masa pajak yang sama pula.
Beberapa Tipe Pajak Berganda Internasional
Menurut Knechtle, ada beberapa tipe PBI :
1. Faktual dan potensial
2. Yurisis dan ekonomis
3. Langsung dan tak langsung
Sebagaimana diketahui bahwa PBI timbul karena adanya benturan (over lapping) klaim pemajakan
oleh beberapa administrasi pajaksesuai dengan yurisdiksi pemajakan yang mereka miliki. Apabila
klaim pemajakan tersebut benar-benar dilaksanakan oleh beberapa Negara pemegang yurisdiksi
maka akan terjadi PBI factual. PBI tersebut menyebabkan membesarnya beban pajak yang
ditanggung oleh WP apabila dibandingkan dengan beban yang harus ditanggung seandainya
pemajakan hanya dilaksanakan oleh satu Negara saja. Namun apabila dari kedua atau lebih Negara
pemegang klaim pajak, hanya satu Negara saja yang melaksanakan klaim pemajakan tersebut maka
akan terjadi apa yang disebut PBI potensial. Berbeda dengan PBI factual, PBI ini tidak akan
menimbulkan membesarnya beban pajak karena pemajakan hanya dilaksanakan oleh satu Negara
saja.

Sementara PBI yuridis terjadi apabila suatu penghasilan/modal yang sama dikenakan pajak di
tangan orang (subyek) yang sama olehlebih dari satu negara, PBI ekonomis timbul apabila dua
orang yang (secara yuridis) berbeda dikanakan pajak atas suatu penghasilan (atau modal maupun
obyek) yang sama (oleh lebih dari satu Negara).
Apabila dua tau lebih ketentuan pajak dengan struktur yang sama atau berbeda atas satu fenomena
pajak yang sama pada satu wajib pajak yang sama menimbulkan PBI langsung. Sedangkan PBI
langsung terjadi dari pemajakan atas satu hal yang sama (setara dengan PBI ekonomis)
Dampak Pajak Berganda
Secara ekonomis pajak merupakan pengorbanan sumberdaya (kemampuan ekonomis) yang harus
ditanggung oleh pengusaha (dan masyarakat). Pajak berganda sebagai akibat dari pemajakan oleh
dua ketentuan pemajakan (dari dua Negara) memberikan tambahan beban ekonomi terhadap
pengusaha. Oleh karena itu tampak bahwa sudah merupakan kebutuhan internasional antanegara
untuk mengupayakan agar kebijakan perpajakannya bersifat netral terhadap kompetisi internasional.
Netralitas tersebut dicapai dengan penyediaan keringanan atau eliminasi atas PBI.

PENYEBAB PAJAK BERGANDA INTERNASIONAL


PBI muncul apabila terdapat benturan yusdiksi pemajakan, baik yang melekat pada pemerintah
pusat (Negara) maupun pemerintah daerah (propinsi, kota, kabupaten). Degan demikian, benturan
yuridiksi pamajakan dalam format internasional (overlaaping of tax jurisdiction in the international
sphere) menyebabkan PBI.
Beberapa Bentuk Pajak Berganda Internasional
a. Pajak Penjualan
Eliminasi PBI dalam prinsip Negara tujuan dilakukan dengan penerapan tariff pajak 0% (dengan
pengembalian) pada Negara pengekspor dan pengenaan pajak dengan tariff normal oleh Negara

pengimpor. Dengan demikian tampak seolah-olah Negara pengekspor mengeliminasi hak


pemajakannya (dengan memberlakukan tariff o% dan restitusi atas pajak yang telah dibayar) dan
mempersilahkan Negara pengimpor untuk mengenakan pajaksesuai dengan ketentuan domestiknya.
Mekanisme ini sering disebut pendekatan penyesuaian lintas batas.
b. Pajak Penghasilan
Sehubungan dengan pajak penghasilan, PBI dapat terjadi karena benturan antarklaim :
1. Sesama pemajakan tak terbatas
2. Pemajakan tak terbatas dengan pemajakan terbatas
3. Sesame pemajakan terbatas.
PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA INTERNASIONAL
a. Beberapa Pendekatan
Menyadari bahwa tambahan beban pajak yang dapat menjurus ke over taxation berpotensi
menghambat mobilitas dan laju bisnis, perdagangan, investasi, sumberdaya, barang dan jasa serta
ekonomi global, maka dunia perpajakan internasional mencoba melakukan beberapa pendekatan
untuk memperingan atau mengeliminasi PIB. Beberapa pendekatan, al. :
1. Unilateral (sepihak)
2. Bilateral (anta dua Negara)
3. Multilateral (beberapa Negara secara serempak)
Unilateral : setiap Negara yang mengenakan pajak atas penghasilan luar negeri yang diperoleh atau
diterima WPDNnya ialah dengan mencantumkan ketentuan penghindaran PBI dalam undangundang domestiknya. Contoh : dengan memberlakukan pemajakan territorial (membebaskan
pemajakan atas penghasilan luar negeri), atau memajaki penghasilan luar negeri dari WPDN pada
umumnya memberikan keringanan atas pajak dimaksud.
Bilateral : kedua Negara terkait memberikan keringanan PBI berdasarkan kesepakatan (persetujuan)
antara kedua Negara pemegang yurisdiksi pemajakan. Kesepakatan tersebut pada umumnya
dirumuskan dalam bentuk perjanjian penghindaran pajak berganda (P3B) yang ditandatangani oleh
pemerintah kedua Negara.

Multilateral : melibatkan lebih dari dua Negara.


Secara regional, Negara yang berada dalam satu kawasan dapat menutup P3B secara bersama-sama.
Metode Penghitungan Penghindaan Pajak Berganda
Secara tradisional terdapat beberapa metode penghindaran PBI :
1. Pembebasan/pengecualian (exemtion)
2. Kredit (tax credit)
3. Metode lainnya
Contoh Ad.1.
Wajib pajak A yang berkedudukan di Negara P yang mengenakan pajak penghasilan dengan tarif
25% mendapat penghasilan dari Negara Q sebesar 100 yang telah dikenakan pajak sebesar 30%,
sedangkan penghasilan domestic adalah 200, berapakah pajak terutangnya ?
Penghasilan domestic 200
Penghasilan 100
Penghasilan global 300
Pajak terutang (300x25%) 75
Eksemsi pajak
100 x 75 = 25
300
Pajak kurang bayar 50
Kalau, misalnya, dari operasi di Negara Q tersebut diperoleh kerugian sebesar %), maka
penghitungan pajaknya adalah sbb. :
Penghasilan domestic 200
Kerugian luar negeri ( 50)
Penghasilan global 150
Pajak terutang/kurang bayar :
25% x 150 = 37,50
Dengan demikian, apabila kegiatan diluar negeri mendapat kerugian sebagai konsekuansi dari
system pemajakan global, kerugian tersebut sepertinya dapat mengurangi penghasilan kena pajak
domestic. Namun secara berkesinambungan pengurangan tersebt harus dipulihkan/diganti kembali
(recaptured) pada periode berikutnya apabila memperoleh laba. Kalau misalnya, dalam contoh

tersebut, pada tahun berikutnya dari operasi di Negara Q didapat laba 150, di samping laba
domestic 250, maka penghitungan pajak terutangnya, sbb :
Penghasilan domestic 250
Penghasilan 150
Penghasilan global 400
Pajak terutang (400x25%) 100
Eksemsi pajak
Penghasilan luar negeri 150
Perhitungan rugi laba th lalu 50
Basis penghitungan eksemsi 100
Eksemsi pajak
100 x 100 = 25
400
Pajak harus dibayar 75
Macam-macam Tarif:
a. Progresif (meningkat)
b. Degresif (menurun)
c. Proporsional (sebanding)
d. Tetap
e. Advalorem
f. Spesifik
1. TARIF PROGRESIF
Adalah tarif pemungutan pajak yang persentasenya semakin besar bila jumlah yang dijadikan dasar
pengenaan pajak juga semakin besar.
Contoh:
Untuk penghasilan s/d Rp. 25.000.000 5%
Di atas Rp. 25.000.000 s/d Rp. 50.000.000 10%
Di atas Rp. 50.000.000 s/d Rp. 100.000.000 15%
Di atas Rp. 100.000.000 s/d Rp. 200.000.000 25%
Di atas Rp. 200.000.000 35%
2. TARIF DEGRESIF
Adalah tarif pemungutan pajak yang persentasenya semakin kecil bila jumlah yang dijadikan dasar

pengenaan pajak semakin besar. Sekalipun persentasenya semakin kecil, tidak berarti jumlah pajak
yang terutang menjadi kecil, tetapi bisa menjadi besar karena jumlah yang dijadikan dasar
pengenaan pajaknya juga semakin besar. Tarif ini tidak pernah dipergunakan dalam praktik
perundang-undangan perpajakan.
Contoh:
Untuk penghasilan s/d Rp. 10.000.000 30%
Di atas Rp. 10.000.000 s/d Rp. 50.000.000 25%
Di atas Rp. 50.000.000 15%

3. TARIF PROPORSIONAL
Adalah tarif pemungutan pajak yang menggunakan persentase tetap tanpa memperhatikan jumlah
yang dijadikan dasar pengenaan pajak. Dengan demikian semakin besar jumlah yang dijadikan
dasar pengenaan pajak, akan semakin besar pula jumlah pajak terutang (yang harus dibayar).
Contoh:
a. Untuk PPN terhadap barang kena pajak dikenakan tarif 10%
Jumlah Penjualan Tarif
Rp. 500.000,- 10%
Rp. 1.000.000,- 10%
Rp. 5.000.000,- 10%
Rp. 10.000.000,- 10%
b. Untuk PBB mengunakan tarif 0.5%
c. Untuk BPHTB menggunakan tarif 5%
4. TARIF TETAP
Adalah tarif pemungutan pajak yang besar nominalnya tetap tanpa memperhatikan jumlah yang
dijadikan dasar pengenaan pajak.
Contoh:
Tarif Bea Meterai
5. TARIF ADVALOREM
Adalah suatu tarif dengan persentase tertentu yang dikenakan/ditetapkan pada harga atau nilai suatu
barang.
Contoh:
Tarif Bea Masuk atas Impor Barang dengan besaran tarif menggunakan prosentase

6. TARIF SPESIFIK
Adalah tarif dengan suatu jumlah tertentu atas suatu jenis barang tertentu atau suatu satuan jenis
barang tertentu.
Contoh:
Tarif Bea Masuk atas Impor Barang dengan besaran tarif menggunakan suatu jumlah tertentu atas
suatu jenis barang tertentu atau suatu satuan jenis barang tertentu.

UTANG PAJAK
Terdapat dua pendapat mengenai timbulnya utang pajak, yaitu:
1. Ajaran Material: menyatakan bahwa utang pajak timbul pada saat diundangkannya undangundang pajak.
2. Ajaran Formal: menyatakan bahwa utang pajak timbul pada saat dikeluarkannya SKP oleh
pemerintah cq. Direktorat Jenderal Pajak (fiskus), bahwa seseorang baru diketahui mempepunyai
utang pajak saat fiskus menerbitkan surat ketetapan pajak atas namanya serta besarnya pajak yang
terutang.

baca selengkapnya

HAPUSNYA HUTANG PAJAK


1. Pembayaran
Hanya dilakukan dengan uang dan bukan dengan bentuk lain
2. Kompensasi
Suatu cara menghapus utang pajak yang dilakukan melalui cara pemindahan kelebihan pajak pada
suatu jenis pajak (pada tahun yang sama atau tahun yang berbeda) dengan menutup kekurangan
utang pajak atas jenis pajak yang sama atau jenis pajak lainnya (juga pada tahun yang sama atau
tahun yang berbeda).
3. Daluwarsa
Merupakan suatu cara untuk menghapus utang pajak karena lampaunya waktu yaitu setelah 10
tahun.
4. Penghapusan
a. WP meninggal dunia dengan tidak meninggalkan harta warisan dan tidak mempunyai ahli waris

atau ahli waris tidak ditemukan


b. Wajib pajak tidak mempunyai harta kekayaan lagi yang dibuktikan berdasarkan surat keterangan
dari PEMDA setempat.
c. Sebab lain, misalnya WP tidak dapat ditemukan lagi atau dokumen tidak dapat ditemukan lagi
disebabkan keadaan yang tidak dapat dihindarkan seperti kebakaran, bencana alam dan sebagainya.

Ketika pemerintah akan melaksanakan pembangunan tentu dibutuhkan dana yang salah satunya
berasal dari pajak. Pajak merupakan kontribusi wajib yang harus dibayar oleh seluruh Wajib Pajak
tanpa mendapat imbalan secara langsung yang akan digunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran masyarakat. Setiap tahun, Wajib Pajak wajib menghitung dan melaporkan
besarnya pajak yang harus dibayar melalui sarana atau formulir yang disebut Surat Pemberitahuan
Tahunan (SPT Tahunan). Sedangkan sarana untuk menyetor pajak ke bank atau kantor pos
digunakan formulir yang disebut Surat Setoran Pajak (SSP).
Saat ini diketahui sedikit sekali Wajib Pajak yang telah menyampaikan SPT Tahunan ke Kantor
Pelayanan Pajak. Dari puluhan juta orang Indonesia yang berpenghasilan di atas Penghasilan Tidak
Kena Pajak (PTKP), hanya 8,5 juta yang melaporkan SPT-nya untuk tahun pajak 2010. Begitu pun
dengan badan usaha. Dari belasan juta yang terdaftar, hanya 466 ribu yang baru melaporkan SPT
atau membayar pajaknya. Menyadari masih sedikitnya jumlah pembayar pajak, maka
pemerintah akan melaksanakan kegiatan yang dinamakan Sensus Pajak Nasional. Dengan kegiatan
ini diharapkan semua orang atau badan yang belum melaksanakan kewajiban membayar pajak
dengan benar, dapat melaksanakannya sesuai kondisi atau potensi yang sebenarnya.
Sensus Pajak pada hakikatnya untuk menegakkan keadilan. Sungguh tidak adil apabila ada sebagian
masyarakat yang telah membayar pajak tapi masih banyak lagi yang belum membayar pajak.
Masyarakat haruslah memiliki rasa bangga ketika telah memenuhi kewajibannya membayar
pajak. Melalui Sensus Pajak Nasional yang dilaksanakan pemerintah, diharapkan seluruh
masyarakat bisa mewujudkan rasa bangga bayar pajak. Mari kita sukseskan Sensus Pajak Nasional.
Ayo Peduli Pajak !

Sekilas Sensus Pajak Nasional (SPN)


SPN adalah kegiatan pengumpulan data mengenai kewajiban perpajakan dalam rangka memperluas
basis pajak dengan mendatangi subjek pajak (orang pribadi atau badan) di seluruh wilayah
Indonesia yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
SPN dilaksanakan dengan tujuan untuk :

Perluasan basis pajak

Peningkatan penerimaan pajak

Peningkatan jumlah penerimaan SPT Tahunan PPh

Pemutakhiran data WP

Dalam SPN dilakukan :

Pendataan Pemilikan NPWP

Konsultasi Perpajakan

Sosialisasi Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

Pengawasan Kepatuhan Kewajiban Wajib Pajak

Oleh karena itu diharapkan masyarakat dapat mendukung program SPN ini, dengan berpartisipasi
menyampaikan data dan informasi melalui pengisian Formulir Isian Sensus (FIS). Setiap orang
pribadi dan badan usaha yang disensus wajib memberikan keterangan yang benar.

Dasar Hukum SPN


Dasar hukum pelaksanaan SPN adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (KUP) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16
Tahun 2009;
2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana
telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994;
3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 149/PMK.03/2011 tanggal 12 September 2011
tentang Sensus Pajak Nasional.

Latar Belakang SPN


Roda pembangunan nasional dapat terus bergerak dan perekonomian negara dapat terus tumbuh
karena adanya penerimaan negara. Semakin besar penerimaan negara tentu akan semakin banyak
fasilitas publik yang dapat disediakan pemerintah. Penerimaan negara dapat ditingkatkan jika ada
perluasan basis pajak. Perluasan basis pajak tersebut dapat diwujudkan jika terdapat data yang
akurat mengenai potensi pajak. Itulah mengapa SPN sangat diperlukan agar keadilan dan
kesejahteraan rakyat terwujud melalui pengunaan uang pajak.

Manfaat SPN
Manfaat SPN adalah :
1. Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pembiayaan pembangunan nasional
2. Mewujudkan keadilan peran serta subyek pajak dalam pembiayaan pembangunan nasional
3. Mengurangi ketergantungan pembiayaan dari pinjaman asing

4. Mewujudkan pembangunan nasional yang lebih baik


5. Kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia

Sasaran SPN
Sasaran SPN adalah bagi mereka yang :
1. Belum ber-NPWP, diberikan NPWP
2. Belum bayar pajak, agar membayar pajak
3. Belum menyampaikan SPT, agar menyampaikan SPT
4. Memiliki utang pajak, agar melunasinya
5. Belum optimal membayar pajak, agar membayar pajak sesuai dengan ketentuan
SPN akan dilakukan kepada orang pribadi dan badan usaha yang berada di sentra bisnis, high rise
building dan kawasan pemukiman.

Pelaksanaan SPN

Berikut tahapan pelaksanaan SPN :


1. Petugas berdasarkan Surat Pemberitahuan Pelaksanaan Sensus Pajak Nasional (SPN)
melakukan koordinasi lapangan dengan pihak ketiga (Pemerintah Daerah, Ketua RW, Ketua

RT, pengelola/manajemen gedung perkantoran, perumahan/apartemen, perhimpunan, dan


tokoh masyarakat).
2. Selanjutnya petugas SPN menemui responden dengan didampingi oleh petugas yang berasal
dari lingkungan lokasi sensus.
3. Petugas SPN kemudian menunjukkan surat tugas dan identitas.
4. Petugas SPN memberikan penjelasan kepada responden terkait dengan SPN.
5. Untuk pengisian FIS, Petugas SPN melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Meminta kesediaan responden untuk membantu memberikan data dalam pengisian FIS
oleh petugas SPN.
b. Menyampaikan surat himbauan umum pelaksanaan kewajiban perpajakan (dalam amplop
tertutup).
6. Setelah selesai mengisi FIS berdasarkan data yang disampaikan oleh responden, petugas
SPN mengecek kelengkapan pengisian FIS dan responden diminta untuk menandatangani
FIS.
7. Selanjutnya Petugas SPN akan menempelkan stiker sensus di tempat yang mudah dilihat.

Dokumen yang Digunakan Untuk Melakukan SPN


Dokumen untuk keperluan pelaksanaan SPN adalah sebagai berikut :
1. Surat Pemberitahuan Sensus.
2. Formulir Isian Sensus (FIS), yakni formulir yang memuat data-data detil tentang Subyek
Sensus, Lokasi Sensus, dan Kondisi Subyek Sensus. Dokumen FIS dibedakan antara FIS
Orang Pribadi dan FIS Badan.

Mengenali Petugas SPN


Berikut cara mengidentifikasi petugas SPN :
1. Dapat menunjukkan Surat Tugas
2. Mengenakan Tanda Pengenal (Name Tag) petugas SPN
Jika terdapat keraguan silakan menghubungi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama dimana Anda
terdaftar.

Objek Pertanyaan Petugas SPN


Untuk subyek sensus Orang Pribadi, yang ditanyakan antara lain :

1. Status
2. Tanggungan
3. Sumber penghasilan dan jumlahnya
4. Tenaga kerja
5. Identitas Obyek Pajak

Untuk subyek sensus Badan, yang ditanyakan antara lain :


1. Identitas Badan
2. Penanggung jawab
3. Kepemilikan Badan
4. Jenis
5. Jumlah Karyawan
6. Kedudukan Badan
7. Identitas Obyek Pajak

Kerahasiaan Data
Data yang diberikan oleh subyek sensus kepada petugas SPN bersifat rahasia dan merupakan
rahasia jabatan bagi seluruh pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Karena jabatannya, seluruh
pegawai DJP tidak diperkenankan mengungkap data-data Wajib Pajak untuk umum. Hal tersebut
sesuai dengan ketentuan Pasal 34 UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 16 tahun 2009 (UU KUP).
Seluruh data hasil kegiatan SPN akan dimasukkan ke dalam Bank Data DJP sebagai database untuk
diolah lebih lanjut. Selanjutnya database perpajakan dilindungi dengan sistem pengaman firewall
dan pengaman lainnya. Akses ke dalam database perpajakan selalu dipantau oleh pegawai yang
telah terlatih dan berpengalaman untuk melakukan tugas tersebut. Tidak semua pegawai dapat
mengakses database perpajakan. Akses hanya diberikan kepada pegawai yang telah mendapatkan
otorisasi melalui standard operating procedure (SOP) sesuai dengan kewenangannya.

Informasi Terkait SPN


Untuk mengolah data hasil SPN, DJP memiliki infrastruktur teknologi Informasi yang memadai
baik dari sisi perangkat keras maupun perangkat lunak. Dari sisi perangkat keras, DJP telah
memiliki Data Center (DC) yang berada di Kantor Pusat DJP dan Disaster Recovery Center (DRC)

di tempat lain yang saling terintegrasi sehingga ketersediaan sistem informasi dapat terjaga. Setiap
Kantor Pelayanan Pajak (KPP) memiliki minimal tiga server untuk aplikasi lokal, maupun sebagai
klien untuk aplikasi terpusat. Untuk menghubungkan antar unit kerja (KPP, Kanwil dan Kantor
Pusat), DJP menyewa jaringan dari penyedia jasa jaringan dengan bandwidth berkisar antara 512
Mbps sampai dengan 10 Gbps.
Dari sisi perangkat lunak, DJP memiliki tiga sistem utama yaitu Sistem Informasi Direktorat
Jenderal Pajak (SI DJP), Sistem Perpajakan Modifikasi (SIPMOD) dan Sistem Informasi dan
Manajemen Obyek Pajak (SISMIOP). SI DJP merupakan sistem terpusat, yang digunakan untuk
melayani KPP di wilayah Jawa dan KPP Madya. Sedangkan untuk melayani KPP diluar wilayah
tersebut, DJP menggunakan SIPMOD yang dipasang secara lokal di KPP bersangkutan. Khusus
untuk administrasi PBB, DJP menggunakan SISMIOP dan Sistem Informasi Geografis PBB (SIG
PBB). Keseluruhan sistem tersebut dibangun dengan menggunakan teknologi perangkat lunak yang
biasa digunakan oleh perusahaan atau organisasi yang berskala enterprise.

Fasilitas Yang Selama Ini Diberikan kepada Wajib Pajak


Saat ini, DJP sedang mengkaji peraturan perundang-undangan perpajakan yang lebih
sederhana, adil, dan memberikan kepastian hukum, sehingga Wajib Pajak dapat melaksanakan hak
dan kewajiban perpajakan. Di samping itu, selama ini kepada Wajib Pajak telah diberikan fasilitasfasilitas antara lain berupa :
Pajak Penghasilan :
1. Pengurangan tarif PPh Badan sebesar 50 persen dari tarif umum bagi Wajib Pajak Badan
yang mempunyai peredaran bruto sampai dengan Rp 50 milyar.
2. Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu (WP OPPT) yakni Wajib Pajak Orang Prbadi
yang melakukan kegiatan usaha sebagai pedagang pengecer melalui tempat kegiatan usaha.
Terhadap WP OPPT ditetapkan angsuran PPh Pasal 25 sebesar 0,75 persen dari peredaran
bruto setiap bulan.
3. Fasilitas Pajak Penghasilan untuk penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu
dan/atau di daerah-daerah tertentu sebagaimana diatur dalam PP Nomor 1 Tahun 2007
sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 62 Tahun 2008.

Pajak Pertambahan Nilai :


1. Penggunaan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan :
2. 90 persen dari Pajak Keluaran, bagi Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan
kendaraan bermotor bekas secara eceran.
3. 80 persen dari Pajak Keluaran, bagi Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan
emas perhiasan secara eceran.
4. Bagi Pengusaha Kena Pajak yang mempunyai peredaran usaha dalam satu tahun buku tidak
melebihi Rp 1,8 milyar :

5. 60 persen dari Pajak Keluaran untuk penyerahan Jasa Kena Pajak; atau
6. 70 persen dari Pajak Keluaran untuk penyerahan Barang Kena Pajak.

Kemudahan yang Dapat Dinikmati Wajib Pajak


DJP melakukan pengembangan prosedur penerimaan SPT melalui beberapa cara yaitu melalui:
(i) Drop Box (sudah dilaksanakan saat ini); (ii) Media internet/e-Filing (dalam tahap
pengembangan); (iii) Media telepon/telefiling (dalam tahap pengkajian).
Prosedur penyampaian SPT melalui e-Filing (menyampaikan SPT melalui media internet) saat ini
sudah ada, namun masih sangat sedikit Wajib Pajak yang menggunakannya dikarenakan prosedur
yang ada agak rumit. Untuk itu akan dilakukan perbaikan prosedur yang lebih mudah, lebih murah
dan lebih cepat agar jumlah Wajib Pajak yang dapat memanfaatkannya meningkat. Secara mendasar
perubahan penyampaian SPT secara e-Filing adalah sebagai berikut :

Kelebihan penyampaian SPT melalui e-filing tersebut diharapkan akan menarik Wajib Pajak untuk
menyampaikan SPT dengan praktis, dapat dilakukan di rumah atau di tempat bekerja dan tidak
perlu mengantre. Dengan berbagai alternatif cara untuk penyampaian SPT, Wajib Pajak akan
semakin mudah dalam melakukan kewajiban perpajakan sehingga kepatuhan Wajib Pajak akan
semakin meningkat pula.
Di samping kemudahan-kemudahan di dalam penyampaian Surat Pemberitahuan, kemudahankemudahan lain yang telah dan akan terus ditingkatkan untuk memberi kenyamanan Wajib Pajak
dalam melaksanakan kewajiban dan hak perpajakannya adalah Modul Penerimaan Negara (MPN),
yaitu memberikan kemudahan bagi Wajib Pajak untuk dapat langsung membayar kewajiban
perpajakannya ke bank persepsi, dan khusus untuk masa PPh Pasal 25, Wajib Pajak tidak perlu
melaporkan ke Kantor Pelayanan Pajak .
Kemudian ada pula e-Registration, yaitu Sistem Pendaftaran Wajib Pajak secara online adalah
sistem aplikasi sebagai bagian dari Sistem Informasi Perpajakan di lingkungan kantor DJP dengan
berbasis perangkat keras dan perangkat lunak yang dihubungkan oleh perangkat komunikasi data
yang digunakan untuk mengelola proses pendaftaran Wajib Pajak. Sistem ini terbagi dua bagian,
yaitu sistem yang dipergunakan oleh Wajib Pajak yang berfungsi sebagai sarana pendaftaran Wajib
Pajak secara online dan sistem yang dipergunakan oleh petugas pajak yang berfungsi untuk
memproses pendaftaran Wajib Pajak.

Selain itu adanya Call Center (Kring Pajak 500200), yaitu pusat layanan untuk memudahkan
komunikasi dan interaksi antara Wajib Pajak yang ingin menanyakan hak dan kewajibannya dapat
dengan mudah terlayani.
Dokumen yang Harus Dipersiapkan untuk Keperluan SPN
Untuk subyek sensus Badan, antara lain :
1. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
2. Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP), jika subyek sensus Badan adalah PKP
3. Akte Pendirian
4. Nomor Pelanggan PLN
5. SPPT PBB
6. KTP/Paspor/KITAS Penanggung jawab/Pengurus
Untuk subyek sensus Orang Pribadi, antara lain :
1. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
2. Surat Pengukuhan PKP, jika subyek sensus Orang Pribadi adalah PKP
3. KTP/Paspor/KITAS
4. Nomor Pelanggan PLN
5. SPPT PBB

Penutup
Dengan adanya program SPN kiranya seluruh masyarakat dapat memberikan dukungan
agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik dan lancar. AYO PEDULI PAJAK!

Informasi Lebih Lanjut


Apabila Wajib Pajak masih ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang pelaksanaan SPN,
dapat mendatangi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau menghubungi Kring Pajak 500200. Informasi

perpajakan juga dapat diperoleh dengan mengunjungi situs Direktorat Jenderal Pajak dengan alamat
www.pajak.go.id.
Harap diingat : Semua Kegiatan Sensus Pajak Nasional (SPN) tidak dipungut biaya.