Anda di halaman 1dari 3

Asy-Syifa

AIFO

Hidup Sehat

HRM Tauhid-al-Amien, dr., MSc., DipHPEd., AIF,

Obat
Ada sejumlah obat yang dibilang mahal, sementara yang lain dijual
"murah". Kok bisa demikian? Untuk "adil" kita perlu tahu mengapa
menjadi demikian. Untuk sementara kita perlu tahu bahwa membuat obat
tidaklah murah.
Upaya pengobatan.
Mungkin di awal-awal dulu orang yang sakit demikian pasrahnya atau
tidak tahu harus berbuat apa, lalu diam saja menunggu nasib. Kemudian
orang berusaha "berobat" dengan minta tolong kepada orang yang
dianggapnya lebih tahu, lebih berpengalaman, misalnya ke dukun. Sesuai
dengan pengalamannya "penolong" ini ada yang memijit-mijit, memberikan
minuman disertai mantra atau doa, dengan ataupun tanpa memberikan ramuramuan untuk diminum, dioleskan, diasapkan, ataupun lainnya lagi.
Setelah orang lebih tahu tentang penyakit dan penyebabnya, maka
berkembanglah upaya mencari kesembuhan itu dengan jamu, obat, alat,
ataupun tindakan. Semua itu bukan tanpa masalah karena nyatanya si
"penolong" itu ada yang berilmu, tetapi ada pula yang hanya pandai
berpura-pura lalu memberikan pertolongan yang salah ataupun bahkan
mungkin mematikan.
Tahap pencarian obat.
Ketika orang tertarik atau terdorong mencari obat untuk suatu penyakit,
awal-awal perlu diketahui dulu perihal penyakit ini. Banyak ahli yang
terkait yang harus dilibatkan. Dokter mencari apanya yang sakit, apa
mula penyebabnya, apa pokok penyebabnya, apa yang terjadi pada tubuh
penderita, bagaimana prosesnya sampai terjadinya sakit itu. Ahli
kesehatan masyarakat mempelajari sejauh mana penyebarannya dan seberapa
cepatnya, untuk memberi pertimbangan perlu atau tidaknya dicarikan
obatnya. Ahli mikrobiologi menelusuri apa macam penyebab penyakit,
kuman ataukah bukan; kalau kuman, yang macam apa (virus, bakteri,
parasit, dan sebagainya). Jika kuman sebagai penyebabnya, apakah sudah
ada obat yang dapat mengatasi kuman itu ataukah harus dicarikan obat
baru. Ini semua memerlukan banyak kajian dan pemikiran oleh lebih
banyak ahli lagi, termasuk ahli kimia, ahli statistik. Ahli kimia
mempelajari struktur kimia obat-obat yang ada dan khasiatnya. Ahli
statistik ini juga ikut menentukan apakah layak meloloskan obat yang
"menyembuhkan" 100 (seratus) orang penggunanya tetapi gagal menolong
1000 (seribu) penderita lain yang sama-sama menggunakannya.
Setelah disimpulkan perlunya obat baru, maka dicarilah obat baru itu
dari menelusuri catatan sifat-sifat obat yang ada, kalau-kalau ada yang
kerjanya mirip dengan kerja obat yang diharapkan. Misalnya obat kangker
dicari dari obat-obat yang dikenal mengganggu, menghambat pertumbuhan,
ataupun mematikan sel muda lalu mengubah takaran obatnya, mengubah
"sedikit" struktur kimianya sehingga sifat atau cara kerjanya berubah.
Catatan pengobatan tradisional (kuno, jamu) dapat juga ditelusuri
untuk mencari bahan-bahan yang mungkin berkhasiat. Curare (obat untuk
pereda kejang otot penderita tetanus ataupun pada operasi; melumpuhkan)
diperoleh dari kajian atas ramuan racun yang dioleskan pada ujung

panah untuk berburu binatang buas, untuk melumpuhkannya. Pil kina


ditelusuri dari kesembuhan banyak penderita demam jika diberi minum air
dari suatu kolam, yang ternyata banyak merendam pohon kina yang tumbang
ke dalamnya. Setelah dikaji diketahuilah bahan aktifnya, kemudian kina
dibuat secara sintetis di pabrik kimia.
"Obat baru" tidak boleh langsung digunakan pada orang yang sakit; harus
dicobakan dulu pada hewan coba dan dievaluasi dengan benar secara
paripurna. Ini dilakukan misalnya untuk mengetahui apakah obat itu
memang berkhasiat ataukah tidak, adakah efek sampingnya, sejauh mana
kemungkinan beracun, termasuk pada takaran berapa obat ini dapat
mematikan (Lethal Dose). Pada dasarnya obat adalah racun yang jika
diberikan berlebih dapat mematikan, jika diberikan kurang akan menjadi
tidak ada khasiatnya.
Jika suatu obat sudah diyakini ada khasiatnya dan dianggap cukup
aman, maka barulah "dicobakan" pada manusia. Untuk ini ada tahap-tahap
pengujian yang harus dilalui.
Tahap pertama adalah mencobakan pada 20-80 orang sukarelawan yang sehat
untuk melihat apakah obat itu memunculkan gejala keracunan, ringan
ataupun berat, meskipun pada hewan dianggap aman. Pengujian ini perlu
pengamatan yang dilakukan selama satu tahunan. Jika disimpulkan bahwa
obat aman, maka obat diterapkan pada relawan yang memang menderita
penyakit yang obatnya dicarikan itu; untuk ini diambil 100-300 orang
penderita dan diamati selama dua tahun, dengan memberi takaran (dosis)
yang bervarisi dengan harapan dapat diketahui dosis mana yang paling
tepat (baca: menyembuhkan) untuk pengobatan.
Untuk lebih teliti lagi dalam mengamati kalau-kalau ada efek
sampingnya, tahap berikutnya obat diterapkan pada 1000-3000 relawan
yang memang menderita sakit yang dimaksud; mereka ini harus yang dapat
dipantau oleh rumah sakit ataupun klinik yang diamanahi; pengamatan
dilakukan selama sekitar tiga tahun.
Semua pengamatan dan hasilnya didokumentasikan secara sempurna untuk
digunakan sebagai dasar untuk nantinya menyatakan bahwa obat itu boleh
ataukah tidak digunakan untuk umum. Untuk memperoleh izin ini pejabat
pemerintah ang bersangkutan perlu waktu sekitar enam bulan karena harus
"membaca" sekitar 100.000 halaman laporannya. Kadang-kadang untuk ini
perlu waktu sampai 30 bulan, misalnya karena ada fase yang harus
dicermati lagi dengan dengan keharusan pendataan ulang.
Jika sudah lolos dari tahap ini maka obat dapat dipasarkan dengan
kelengkapannya, yaitu pedoman atau petunjuk untuk para dokter (meliputi
misalnya susunan kimianya, cara kerja, cara pakai, kewaspadaan efek
samping, kewaspadaan jika menggunakannya bersama dengan obat lain)
maupun petunjuk untuk pasen (meliputi misalnya kegunaan obat, aturan
pakai, efek samping). Petunjuk ini yang paling sederhana berupa
keterangan pada bungkus obat, atau lembar sisipan yang ada dalam kotak
obat; yang lebih lengkap lagi berupa buku tentang obat itu. Tahap ini
dimaksudkan untuk memantau apakah ada efek samping yang muncul karena
pemakaian jangka panjang, ataupun efek samping yang baru muncul jauh di
kemudian hari, di samping jaminan kesembuhannya.
Sampai di sini bukan berarti urusan sudah selesai; obat harus dipantau
berkepanjangan dengan kewajiban perusahaan produsen obat untuk
menyampaikan laporannya secara berkala terkait dengan proses kendali
mutu baku produksi obat yang baik, kalau-kalau muncul efek samping
ataupun efek lanjut jauh setelah orang memakaiannya. Dalam kaitan
dengan ini "korban" dapat saja menuntut ganti rugi kepada produsen jika
diyakini bahwa yang dideritanya adalah akibat kesalahan produsen,
misalnya yang kurang memberi informasi tentang obat yang dijualnya;

tuntutan serupa dapat juga dilakukan ke dokter ataupun rumah sakit


yaitu jika ada dugaan malpraktek.
Beaya menemukan obat baru.
Dari uraian di atas dapat diperkirakan bahwa untuk munculnya obat baru
diperlukan waktu lama; rata-rata perlu waktu sekitar 12 tahun. Lamanya
ini tergantung pada permasalahan yang terkait dan "nasib"; ada yang
untuk menghasilkan suatu obat perlu waktu pendek ada pula yang perlu
waktu jauh lebih panjang (baca: gagal, tak berhasil). Kegagalan itu
dapat karena proses kajian sudah harus dihentikan di awal-awal oleh
sudah tampaknya tanda-tanda "membahayakan" (clinical hold), semisal
jika manfaatnya sangat diragukan, ada efek samping yang sangat
membahayakan, keamanan yang diragukan. Kadang-kadang pencarian obat
harus berhenti karena kehabisan beaya, terputusnya pembeyaan karena
sponsor tak ada lagi.
Seperti yang dapat dibayangkan bahwa sudah banyaknya penelitian sejak
awal, dan banyaknya fihak yang harus dilibatkan ketika obat dicobakan
pada manusia; cukup jelas bahwa itu semua memerlukan banyak beaya. Di
Amerika Serikat untuk dihasilkannya satu obat dapat menghabiskan dana
modal sekitar US$ 359 juta ( sekitar 4,5 millyard rupiah); modal itu
harus dapat "ditarik kembali" (ditambah keuntungannya!) dari hasil
penjualan obat nantinya. Padahal dari 5000 usulan kajian obat yang
"disiapkan" itu mungkin hanya 5 saja yang berhasil tuntas, yang
akhirnya boleh diproduksi untuk digunakan umum. Oleh karena itu saja
dapat kita fahami bahwa kemudian obat ada yang terpaksa dijual dengan
harga yang "sangat" mahal, yang tak tertebus lagi jika tidak dibayari
oleh asuransi.
Tantangan beaya yang besar itu (baca juga: keuntungan yang dapat
ditarik) maka pada setiap tahap keberhasilan selalu dimintakan hak
patent (HKI). Adapun obat-obat yang murah adalah obat yang dapat
bebas diproduksi oleh siapa saja karena obat itu telah habis masa hak
patentnya, ataupun yang oleh penemunya dilepaskan hak patentnya dengan
berbagai macam alasannya; obat inilah yang menjadi murah harganya.
Penutup.
Tahap-tahap "pengujian" untuk obat itu juga berlaku untuk alat, sarana,
dan cara yang digunakan untuk pengobatan. Semua tahapan itu pada
dasarnya adalah untuk melindungi penderita; menjaga agar obat, alat,
maupun cara pengobatan yang digunakan penderita benar-benar bermanfaat.
Walaupun pada dasarnya tahap-tahapnya sama, tata cara memunculkan obat
baru di berbagai negara dapat saja berbeda. Di negara maju institusi
yang menangani hal ini (misalnya FDA di Amerika Serikat) cukup kuat,
bekerja sama dengan sejumlah laboratorium besar. Perannya sangat
menentukan karena terkait dengan pengobatan ini hukum ditegakkan dengan
ketat. Di Indonesia pengawasan atas obat, cara, dan alat kesehatan
masih jauh dari melindungi masyarakat pemakai.
Semoga uraian di atas bermanfaat.