Anda di halaman 1dari 34

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang
sangat

penting

dan

harus

diperhatikan

karena

kebersihan

akan

mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri


sangat berpengaruh diantaranya kebudayaan, social,keluarga, pendidikan.
Persepsi seseorang terhadap kesehatan,serta perkembangan.
Praktik Perawatan diri sama dengan peningkatan kesehatan. Jika
seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan.Hal
initerjadi

karena

kita

masalahsepele,padahal

menganggap
jika

hal

masalah

tersebut

kebersihan

dibiarkan

terus

adalah
dapat

mempengaruhi kesehatansecara umum.


Mekanika tubuh meliputi pengetahuan tentang bagaimana dan
mengapa kelompok otot tertentu digunakan untuk menghasilkan dan
mempertahankan gerakan secara aman. Dalam menggunakan mekanika
tubuh yang tepat perawat perlu mengerti pengetahuan tentang pergerakan,
termasuk bagaimana mengoordinasikan gerakan tubuh yang meliputi
fungsi integrasi dari system skeletal, otot skelet, dan system saraf. Selain
itu, ada kelompok otot tertentu yang terutama digunakan unutk pergerakan
dan kelompok otot lain membentuk postur/bentuk tubuh.
Mobilisasi mempunyai banyak tujuan, seperti ekspresikan emosi
dengan gerakan nonverbal, pertahanan diri, pemenuhan kebutuhan dasar,
aktivitas hidup sehari-hari dan kegiatan rekreasi. Dalam mempertahankan
mobilisasi fisik secara optimal maka system saraf, otot, dan skeletal harus
tetap utuh dan berfungsi baik.
Pada makalah ini, membahas tentang pengertian body mekanik,
prinsip-prinsip body mekanik, faktor-faktor yang mempengaruhi body
mekanik, serta pengaturan posisi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud kebutuhan perawatan diri?
2. Apa saja jenis perawatan diri berdasarkan waktu pelaksanaan ?

3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apa saja jenis perawatan diri berdasarkan tempat?


Bagaimana kebutuhan kebersihan lingkungan pasien?
Apa yang dimaksud dengan body mekanik?
Bagaimana prinsip-prinsip body mekanik?
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi body mekanik?
Apa saja pengaturan posisi dalam cakupan mekanisme tubuh (body
mekanik) ?

C. Tujuan Penulisan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Mendeskripsikan kebutuhan perawatan diri


Mendeskripsikan jenis perawatan diri berdasarkan waktu pelaksanaan
Mendeskripsikan jenis perawatan diri berdasarkan tempat
Mendeskripsikan kebutuhan kebersihan lingkungan pasien
Mendeskripsikan tentang pengertian body mekanik
Mendeskripsikan tentang prinsip-prinsip body mekanik
Mendeskripsikan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi body

mekanik
8. Menjelaskan apa saja pengaturan posisi dalam mekanika tubuh.
D. Metode Penulisan
1. Metode Browsing Internet
2. Studi Literatur
BAB II
PEMBAHASAN

A. PRINSIP PEMENUHAN KEBUTUHAN DAN PERAWATAN DIRI


1. Kebutuhan Perawatan Diri
Perawatan diri atau kebersihan diri (personal hygiene) merupakan
perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan
kesehatan baik secara fisik maupun psikologis. Pemenuhan perawatan
diri dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya: budaya, nilai sosial pada
individu atau keluarga,

pengetahuan tentang perawatan diri, serta

persepsi terhadap perawatan diri.


2. Jenis Perawatan Diri Berdasarkan Waktu Pelaksanaan
Perawatan diri berdasarkan waktu pelaksanaan dibagi menjadi 4, yaitu:

a. Perawatan Dini Hari


Perawatan dini hari merupakan perawatan diri yang dilakukan pada
waktu bagun dari tidur, untuk melakukan tindakan seperti
persiapan dalam pengambilan bahan pemeriksaan (urine atau
feses), memberikan pertolongan, mempersiapkan pasien untuk
melakukan makan pagi dengan melakukan tindakan perawatan diri
seperti mencuci muka dan tangan, serta menjaga kebersihan mulut.
b. Perawatan Pagi Hari
Perawatan yang dilakukan setelah melakukan makan pagi dengan
melakukan perawatan diri seperti melakukan pertolongan dalam
pemenuhan kebutuhan eliminasi (buang air besar dan kecil), mandi
atau mencuci rambut, melakukan perawatan kulit, melakukan
pijatan pada punggung, membersihkan mulut, kuku dan rambut,
serta merapikan tempat tidur pasien.
c. Perawatan Siang Hari
Perawatan diri yang dilakuakan setelah melakukan berbagai
tindakan pengobatan atau pemeriksaan dan setelah makan siang.
Berbagai tindakan perawatan diri yang dilakukan antara lain:
mencuci muka dan tangan, membersihkan mulut, merapikan
tempat tidur serta melakukan pemeliharaan kebersihan lingkungan
kesehatan pasien.
d. Perawatan Menjelang Tidur
Perawatan diri yang dilakukan pada saat menjelang tidur agar
pasien dapat tidur atau beristirhat dengan tenang. Berbagai
kegiatan yang dapat dilakukan antara lain: pemenuhan kebutuhan
eliminasi (buang air besar dan kecil), mencuci tangan dan muka,
membersihkan mulut serta memijat daerah punggung.
Tujuan

umum

perawatan

diri

adalah

untuk

mempertahankan perawtan diri baik secara sendiri maupun dengan


bantuan, dapat melatih hidup sehat/bersih dengan memperbaiki
gambaran atau persepsi terhadap kesehatan dan kebersihan, serta
menciptakan penampilan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan.
3. Jenis Perawatan Diri Berdasarkan Tempat
3

a. Perawatan Diri Pada Kulit


Kulit merupakan salah satu bagian penting dari tubuh yang dapat
melindungi tubuh dari berbagai kuman atau trauma sehingga
diperlukan

perawatan

yang

adekuat

(cukup)

dalam

mempertahankan fungsinya. Sebagai bagian dari organ pelindung,


kulit secara anatomis terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan
epidermis (kutikula) dan lapisan dermis (korium). Lapisan
Epidermis terdiri atas bagian-bagian seperti stratum korneum,
stratum lusidum, dan stratum granulosum. Lapisan Dermis terdiri
atas ujung saraf sensoris, kelenjar keringat, dan kelenjar sebaseus.
Fungsi Kulit
Kulit secara umum memiliki berbagai fungsi, diantaranya:
1) Melindungi tubuh dari berbagai masuknya kuman atau trauma
jaringan bagian dalam sehingga dapat menjaga keutuhan kulit
2) Mengatur keseimbangan suhu tubuh serta membantu dalam
produksi keringat dan penguapan
3) Sebagai alat peraba yang dapat membantu tubuh untuk
menerima rangsangan dari luar melalui rasa sakit, sentuhan,
tekanan atau suhu
4) Sebagai alat ekskresi keringat melalui pengeluaran air, garam,
dan nitrogen
5) Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit yang bertugas
mencegah pengeluaran cairan tubuh yang berlebihan
6) Memproduksi dan menyerap vitamin D sebagai penghubung
atau pemberi vitamin D dari sinar ultraviolet yang datang dari
sinar matahari
Faktor-faktor yang Dapat Mempengaruhi Kulit
1) Usia
Perubahan kulit dapat ditentukan oleh usia seseorang. Hal ini
dapat terlihat pada bayi yang berusia relatif masih muda dengan
kondisi kulit yang sangat rawan terhadap berbagai trauma atau
masuknya kuman sebaiknya pada orang dewasa keutuhan kulit
sudah memiliki kematangan sehingga fungsinya sebagai
pelindung sudah baik.
4

2) Jaringan Kulit
Perubahan dan keutuhan kulit dapat dipengaruhi oleh struktur
jaringan kulit. Apabila jaringan kulit rusak maka terjadi
perubahan pada struktur kulit.
3) Kondisi/keadaan Lingkungan
Beberapa kondisi atau keadaan lingkungan yang dapat
mempengaruhi keadaan kulit secara utuh, antara lain: keadaan
panas, adanya nyeri akibat sentuhan serta tekanan dan lain-lain.
Tindakan Perawatan Diri Pada Kulit
1) Cara Perawatan Kulit
Merupakan tindakan pada kulit yang mengalami atau beresiko
terjadi kerusakan jaringan lebih lanjut, khususnya pada daerah
yang mengalami tekanan (tonjolan). Tujuannya adalah untuk
mencegah dan mengatasi terjadinya luka dekubitus akibat
tekanan yang lama dan tidak hilang.
Persiapan Alat dan Bahan :

Baskom cuci
Sabun
Air
Agen pembersih
Balutan
Pelindung kulit
Plester
Sarung tangan

Prosedur Kerja :

Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan

dilakukan
Cuci tangan dan gunakan sarung tangan
Tutup pintu ruangan
Atur posisi pasien
Kaji luka/kulit tertekan dengan memperhatikan warna,
kelembaban, penampilan sekitar kulit, ukur diameter kulit,
dan ukur kedalaman.

Cuci sekitar luka dengan air hangat atau sabun cuci secara

menyeluruh dengan air.


Secara menyeluruh dan perlahan-lahan, keringkan kulit

yang disertai pijatan


Secara menyeluruh, bersihkan luka dengan cairan normal
atau larutan pembersih. Gunakan semprit irigasi luka pada

luka yang dalam.


Setelah selesai, berikan obat atau agen tropikal.
Catat hasil
Cuci tangan

2) Cara Memandikan Pasien di Tempat tidur


Memandikan pasien di tempat tidur dilakukan pada pasien
yang tidak mampu mandi secara sendiri. Tujuannya untuk
menjaga kebersihan tubuh, mengurangi infeksiakibat kulit
kotor, memperlancar system peredaran darah, dan menambah
kenyamanan pasien
Persiapan Alat dan Bahan :

Baskom mandi dua buah, masing-masing berisi air dingin

dan air hangat


Pakaian pengganti
Kain penutup
Handuk, sarung tangan pengusap badan
Tempat untuk pakaian kotor
Sampiran
Sabun

Prosedur Kerja :

Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan

dilakukan
Cuci tangan
Atur posisi pasien
Pada pasien, lakukan tindakan memandikan yang diawali
dengan

membentangkan

handuk

di

bawah

kepala.

Kemudian bersihkan muka, telinga, dan leher dengan

sarung tangan pengusap. Keringkan dengan handuk


Kain penutup diturunkan, kedua tangan pasien dinaikkan
keatas, serta handuk diatas dada pasien dipindahkan dan
dibentangkan. Kemudian kembalikan kedua tangan di
posisi awal diatas handuk, lalu basahi kkedua tangan

dengan air bersih. Keringkan dengan handuk


Kedua tangan dinaikkan keatas, handuk dipindahkan di sisi
pasien lalu bersihkan daerah dada dan perut. Keringkan

dengan handuk
Miringkan pasien ke kiri, handuk dibentangkan dibawah
punggung sampai glutea dan basahi punggung sampai
glutea, lalu keringkan dengan handuk. Selanjutnya,
miringkan pasien ke kanan dan lakukan hal yang sama.
Selanjutnya, kembalikan pasien ke posis telentang dan

pasangkan pakaian dengan rapi.


Letakkan handuk dibawah lutut, lalu bersihkan kaki. Kaki
yang paling jauhdidahulukan dan dikeringkan dengan

handuk
Ambil handuk, dan letakkan di bawah glutea. Pakaian
bawah perut dibuka, lalu bersihkan daerah lipatan paha dan
genitalia. Setelah selesai, pasang kembali pakaian dengan

rapi.
Cuci tangan

b. Perawatan Diri pada Kuku dan Kaki


Menjaga kebersihan kuku merupakan salah satu aspek penting
dalam mempertahankan perawatan diri karena berbagai kuman
dapat masuk ke dalam tubuh melalui kuku.
Masalah/Gangguan pada Kuku
1) Ingrown nail

Kuku tangan yang tidak tumbuh-tumbuh dan dirasakan sakit


pada daerah tersebut.
2) Paronychia
Radang di sekitar jaringan kuku
3) Rams Horn Nai
Gangguan kuku yang ditandai dengan pertumbuhan yang
lambat disertai kerusakan dasar kuku atau infeksi
4) Bau Tak Sedap
Reaksi mikroorganisme yang menyebabkan bau tidak sedap.
Tindakan Perawatan Diri pada Kuku
1) Cara Perawatan Kuku
Merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu merawat
kuku sendiri. Tujuannya adalah menjaga kebersihan kuku dan
mencegah timbulnya luka atau infeksi akibat garukan dari
kuku.
Persiapan Alat dan Bahan:

Alat pemotong kuku


Handuk
Baskom berisi air hangat
Bengkok
Sabun
Kapas
Sikat kuku

Prosedur Kerja :

Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan

dilakukan
Cuci tangan
Atur posisi pasien dengan posisi duduk atau tidur
Tentukan kuku yang akan dipotong
Rendamkan kuku dengan air hangat 2 menit. Lakukan

penyikatan dengan beri sabun bila kotor.


Keringkan dengan handuk
Letakkan tangan diatas bengkok dan lakukan pemotongan
kuku.

Cuci tangan.

c. Perawatan Diri pada Rambut


Rambut merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi
proteksi dan pengatur suhu. Indikasi perubahan status kesehatan
diri juga dapat dilihat dari rambut mudah rontok sebagai akibat gizi
kurang.
Masalah/Gangguan pada Perawatan Rambut

Kutu
Ketombe
Alopecia (botak)
Sehorrheic dermatitis (radang pada kulit di rambut)

Tindakan Perawatan Diri pada Rambut


1) Cara Perawatan Rambut
Merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu memenuhi
kebutuhan perawatan diri dengan menyuci dan menyisir
rambut. Tujuannya adalah membersihkan kuman-kuman yang
ada pada kulit kepala, menambah rasa nyaman, membasmi
kutu

atau

ketombe

yang

melekat

pada

kulit,

memperlancar system peredaran darah di bawah kulit.


Persiapan Alat dan Bahan

Handuk secukupnya
Perlak atau pengalas
Baskom berisi air hangat
Shampo atau sabun pada tempatnya
Kasa dan kapas
Sisir
Bengkok
Gayung
Ember kosong

Prosedur Kerja

serta

10

Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan

dilakukan
Cuci tangan
Tutup jendela atau pasang sampiran
Atur posisi pasien dengan posisi duduk atau berbaring
Letakkan baskom dibawah tempat tidur, tepat dibawah

kepala pasien
Pasang perlak atau pengalas di bawah kepala dan
dismbungkan kearah bagian baskom dengan pinggir

digulung
Tutup telinga dengan kapas
Tutup dada sampai leher dengan handuk
Kemudian sisir rambut dan lakukan pencucian dengan air
hangat. Selanjutnya gunakan shampo dan bilas dengan air

hangat sambil dipijat


Setelah selesai, keringkan
Cuci tangan
d. Perawatan Diri pada Mulut dan Gigi
Gigi dan mulut adalah bagian penting yang harus dipertahankan
kebersihannya, sebab berbagai kuman dapat masuk melalui organ
ini.
Masalah/Gangguan pada Gigi dan Mulut

Halitosis, bau napas tidak sedap yang disebabkan adanya

kuman atau lainnya


Ginggivitas, radang pada daerah gusi
Karies, radang pada gigi
Stomatitis, radang pada daerah mukosa atau rongga mulut
Periodontal disease, gusi yang mudah berdarah dan bengkak
Glostitis, radang pada lidah
Chilosis, bibir yang pecah-pecah

Tindakan Perawatan Diri pada Gigi dan Mulut


1) Cara Perawatan Gigi dan Mulut

10

11

Merupakan tindakan pada


mempertahankan

kebersihan

pasien yang
mulut

dan

itdak

mampu

gigi

dengan

membersihkan serta menyikat gigi dan mulut secara teratur.


Tujuannya untuk mencegah infeksi pada mulut akibat
kerusakan pada daerah gigi dan mulut, membantu menambah
nafsu makan, serta menjaga kebersihan gigi dan mulut.
Persiapan Alat dan Bahan

Handuk dan kain pengalas


Gelas kumur berisi
Air masak/NaCl
Obat kumur
Boraks gliserin
Spatel lidah telah dibungkus dengan kain kasa
Kapas lidi
Bengkok
Kain kasa
Pinset atau arteri klem
Sikat gigi dan pasta gigi

Prosedur Kerja

Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan

dilakukan
Cuci tangan
Atur posisi pasien
Pasng handuk di bawah dagu dan pipi pasien
Ambil pinset dan bungkus dengan kain kasa yang berisi

air dan NaCl


Anjurkan pasien untuk membuka. Lakukan mulut dengan

sudip lidah bila pasien tidak sadar.


Lakukan pembersihan dimulai dari dinding rongga mulut,
gusi, gigi, lidah, bibir. Bila sudah kootor, letakkan di

bengkok
Lakukan hingga bersih. Setelah itu, oleskan boraks
gliserin

11

12

Untuk perawatan gigi, lakukan penyikatan dengan geraan

naik turun dan bilas. Lalu keringkan


Cuci tangan

e. Perawatan Diri pada Alat Kelamin Perempuan


Tindakan Perawatan Diri pada Alat Kelamin
1) Cara Vulva Higiene
Vulva higiene merupakan tindakan pada pasien yang tidak
mampu

membersihan

vulva

sendiri.

Tujuannya

adalah

mencegah terjadinya infeksi pada vulva dan menjaga


kebersihan vulva.
Persiapan Alat dan Bahan

Kapas sublimate atau desinfektan


Pinset
Bengkok
Pispot
Tempat membersihkan (cebok) yang berisi desinfektan
Desinfektan sesuai dengan kebutuhan
Pengalas
Sarung tangan

Prosedur Kerja

Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan

dilakukan
Cuci tangan
Atur posisi pasien dengan posisi dorsal recumbent
Pasang pengalas dan pispot, kemudian letakkan dibawah

glutea pasien
Gunakan sarung tangan
Lakukan tindakan perawatan kebersihan vulva dengan
tangan kiri membuka vulva memakai kapas sublimate dan

tangan kanan menyiram vulva dengan larutan desinfektan


Kemudian ambil kapas sublimate dengan pinset, lalu
bersihkan vulva dari atas kebawah. Kapas yang telah kotor
dibuang ke bengkok. Hal ini dilakukan hingga bersih.

12

13

Setelah selesai, ambil pispot dan atur posisi pasien.


Cuci tangan

4. Kebutuhan Kebersihan Lingkungan Pasien


Pemenuhan kebutuhan kebersihan lingkungan pasien yang
dimaksud disini adalah kebersihan pada tempat tidur. Melalui
kebersihan tempat tidur, diharapakna pasien dapat tidur dengan
nyaman tanpa gangguan selama tidur, sehingga dapat membantu
proses pemnyembuhan. Pemenuhan ini melalui prosedur penyiapan
tempat tidur tertutup maupun terbuka.
Cara Menyiapkan Tempat Tidur
Persiapan Alat dan Bahan

Tempat tidur, kasur, bantal


Seprai besar
Seprai kecil
Sarung bantal
Perlak
Selimut

Prosedur Kerja

Cuci tangan
Atur tempat tidur, kasur dan bantal
Pasang seprai besar dengn garis tengah lipatannya tepat di

tengah kasur/tempat tidur


Atur kedua sisi samping seprai atau tempat tidur dengan sudut

90, lalu masukkan ke bawah kasur


Pasang perlak di tengah tempat tidur
Pasang seprei kecil di atas perlak
Lipat selimut menjadi empat secara terbalik dan pasang bagian

bawah. Masukkan ujung selimut ke bawah kasur


Pasang sarung bantal
Cuci tangan

13

14

B. PRINSIP PEMENUHAN KEBUTUHAN MEKANIKA TUBUH


POSTUR, POSISI, AMBULANSI, DAN MOBILITAS
1. Kebutuhan Mekanika Tubuh
Mekanika Tubuh merupakan usaha koordinasi dari muskoletal dan
sistem saraf untuk mempertahankan keseimbangan yang tepat. Pada
dasarnya, mekanika tubuh adalah cara menggunakan tubuh secara
efisien, yaitu tidak banyak mengeluarkan tenaga, terkoordinasi, serta
aman dalam menggerakkan dan mempertahankan keseimbangan
selama beraktifitas.
a. Prinsip Mekanika Tubuh
1) Gravitasi
Gravitasi merupakan prinsip yang

pertama yang harus

diperhatikan dalam melakukan mekanika tubuh dengan benar,


yaitu memandang gravitasi sebagai sumbu dalam pergerakan
tubuh. Terdapat tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam
gravitasi :
(a) Pusat gravitasi (center of grafity), titik yang berada
dipertengahan bulan.
(b) Garis gravitasi (line of gravity), merupakan garis imajiner
vertikal melalui pusat gravitasi.
(c) Dasar dari tumpuan (base of support), merupakan dasar
tempat

seseorang

dalam

posisi

istirahat

untuk

menopang/menahan tubuh.
2) Keseimbangan
Keseimbangan dalam penggunaan mekanika tubuh dicapai
dengan cara mempertahankan posisi garis gravitasi di antara
pusat gravitasi dan dasar tumpuan.
3) Berat
Dalam menggunakan mekanika

tubuh,

yang

sangat

diperhatikan adalah berat atau bobot benda yang akan diangkat


karena berat benda tersebut akan mempengaruhi mekanika
tubuh.
b. Pergerakan Dasar dalam Mekanika Tubuh
Sebelum melakukan mekanika tubuh, terdapat beberapa pergerakan
dasar yang harus diperhatikan, diantaranya

14

15

1) Gerakan (Ambulating)
Gerakan yang benar dapat membantu keseimbangan tubuh.
Sebagai contoh, keseimbangan pada saat orang berdiri dan saat
orang berjalan kaki berbeda. Orang berdiri akan lebih mudah
stabil dibanding dengan orang yang berjalan, karena pada
posisi berjalan terjadi perpindahan dasar tumpuan dari sisi satu
ke sisi yang lain dan pusat gravitasi selalu berubah pada posisi
kaki. Pada saat berjalan terdapat dua fase yaitu fase menahan
berat dan fase mengayun, yang akan menghasilkan gerakan
halus dan berirama.
2) Menahan (Squatting)
Dalam menahan sangat diperlukan dasar tumpuan yang tepat
untuk mencegah kelainan tubuh dan memudahkan gerak yang
akan dilakukan. Dalam melakukan pergantian, posisi menahan
selalu berubah. Sebagai contoh, posisi orang yang duduk akan
berbeda dengan orang yang jongkok dan tentunya juga berbeda
dengan posisi membungkuk. Gravitasi adalah hal yang perlu
diperhatikan untuk memberikan posisi yang tepat dalam
menahan. Dalam menahan sangat diperlukan dasar tumpuan
yang tepat untuk mencegah kelainan tubuh dan memudahkan
gerakan yang akan dilakukan.
3) Menarik (Pulling)
Menarik dengan benar akan memudahkan untuk memindahkan
benda. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menarik
benda diantaranya ketinggian, letak benda, posisi kaki, dan
tubuh sewaktu menarik, sodorkan telapak dan tangan dan
lengan atas di bawah pusat gravitasi pasien, lengan atas dan
siku diletakan pada permukaan tempat tidur, pinggul, lutut, dan
pergelangan kaki ditekuk lalu lakukan penarikan.
4) Mengangkat (Lifting)
Merupakan pergerakan gaya tarik. Gunakan otot-otot besar
dari tumit, paha bagian atas dan kaki bagian bawah, perut dan

15

16

pinggul untuk mengurangi rasa sakit pada tubuh bagian


belakang
5) Memutar (Pivoting)
Memutar merupakan gerakan untuk memutar anggota tubuh
dan bertumpu pada tulang belakang. Gerakan memutar yang
baik memperhatikan ketiga unsur gravitasi dalam pergerakan
agar tidak memberi pengaruh buruk pada postur tubuh.
c. Faktor-Faktor yang Mempemgaruhi Mekanika Tubuh
1) Status kesehatan
Perubahan status kesehatan dapat mempengaruhi sistem
moskuskeletal dan sistem saraf berupa penurunan koordinasi.
Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh banyak penyakit,
berkurangnya kemampuan untuk melakukan aktifitas seharihari, dan lain-lain.
2) Nutrisi
Salah satu fungsi nutrisi bagi tubug adalah membantu
prosespertumbuhan tulang dan perbaikan sel. Kekurangan
nutrisi bagi tubuh dapat menyebabkan kelemahan otot dan
memudahkan terjadinya penyakit. Sebagai contoh, tubuh yang
kekurangan kalsium akan lebih mudah mengalami fraktur.

3) Emosi
Kondisi psikologis mempengaruhi perubahan dalam perilaku
individu sehingga dapat menjadi penyebab menurunnya
kemampuan mekanika tubuh dan ambulasi yang baik.
4) Situasi dan kebiasaan
Situasi dan kebiasaan yang dilakukan seseorang , misalnya
sering mengangkat benda-benda berat, akan menyebabkan
5) Gaya hidup
Perubahan pola hidup seseorang dapat menyebabkan stres dan
kemungkinan besar akan meninggalkan kecerobohan dalam
beraktifitas, sehingga dapat mengganggu kordinasi antara
sistem muskoskeletal dan saraf.

16

17

6) Pengetahuan
Pengetahuan yang baik terhadap mekanika tubuh akan
mendorong seseorang untuk menggunakannya secara benar,
sehingga mengurangi energi yang dikeluarkan.
d. Dampak Mekanika Tubuh
1) Terjadi ketegangan sehingga memudahkan timbulnya elelahan
dan gangguan dalam sistem muskoloskeletal.
2) Risiko terjadinya kecelakaan pada sistem muskoloskeletal.
2. Postur (Body Alignment)
Postur tubuh merupakan geometris dari bagian-bagian tubuh yang
berhubungan dengan bagian tubuh lain. Bagian yang dipelajari dari
postur tubuh adalah persendian, tendon, ligamen, dan otot. Postur
tubuh yang baik dapat meningkatkan fungsi tangan dengan baik,
mengurangi

jumlah

energi

yang

digunkan,

mempertahankan

keseimbangan, mengurangi kecelakaan, memperluas ekspansi paruparu, meningkatkan sirkulasi renal dan gastrointestinal. Berikut
beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, diantaranya:
Keseimbangan dapat dipertahankan jika garis gravitasi (line of
gravity-garis imajiner vertikal) melewati pusat gravitasi (center
of gravity-titik yang berada dipertengahan garis tubuh) dan
dasar tumpuan (base of support-posisi menyangga atau

menopang tubuh)
Jika dasar tumpuan lebih luas dan pusat gravitasi lebih rendah,

kestabilan dan keseimbangan akan lebih besar.


Jika gravitasi berada diluar pusat dasar tumpuan, energi akan

lebih banyak digunakan untuk mempertahankan keseimbangan.


Dasar tumpuan yang luas dan bagian-bagian dari postur tubuh
yang baik akan menghemat energi dan mencegah kelelahan

otot.
Perubahan

ketidaknyamanan otot
Memperkuat otot yang lemah dapat membantu mencegah

dalam

posisi

kekakuan otot dan ligamen

17

tubuh

membantu

mencegah

18

Pergantian antara masa aktivitas dan istirahat dapat mencegah

kelelahan
Membagi keseimbangan antara aktivitas pada lengan dan kaki

untuk mencegah beban belakang


Postur yang buruk dalam waktu yang lama dapat menimbulkan
rasa nyeri, kelelahan otot, dan kontraktur

a. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Postur Tubuh


1) Status Kesehatan
Perubahan status kesehatan dapat menimbulkan keadaan yang
tidak optimal pada organ atau bagian tubuh yang mengalami
kelelahan

atau

kelemahan

sehingga

mempengaruhi

pembentukan postur tubuh.


2) Nutrisi
Nutrisi merupakan bahan untuk menghasilkan energi yang
digunakan dalam membantu proses pengaturan keseimbangan
organ otot, tendon, ligamen, dan persendian. Nutrisi sangat
berpengaruh pada proses keseimbangan.
3) Emosi
Emosi dapat menyebabkan kurangnya kendali dalam menjaga
keseimbangan tubuh. Dapat mempengaruhi proses koordinasi
pada otot, ligamen, persendian dan tulang.
4) Gaya hidup
Gaya hidup dapat membuat seseorang menjadi lebih baik atau
buruk.
5) Perilaku dan nilai
Perubahan perilaku dan nilai seseorang dapat mempengaruhi
pembentukan postur tubuh.
3. Pengaturan Posisi
a. Posisi Fowler
Posisi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk, di mana
bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan. Posisi ini
dilakukan untuk mempertahankan kenyamanan dan memfasilitasi
fungsi pernapasan pasien.
18

19

Cara Pelaksanaan:
1) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
2) Dudukan pasien
3) Berikan sandaran pada tempat tidur pasien atau atur tempat
tidur . posisi fowler(90) dan semifowler (30-45)
4) Anjurkan pasien untuk tetap berbaring setengah duduk

Cara posisi fowler


Sumber. Belland dan Wells 1986

b. Posisi Sim
Posisi sim adalah posisi miring ke kanan atau kiri. Posisi ini
dilakukan untuk memberi kenyamanan dan memberikan obat
(Supositoria) melalui anus.
Cara Pelaksanaan:
1) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
2) Pasien dalam keadaan berbaring. Kemudian apabila
dimiringkan kekiri dengan posisi badan yang setengah
telungkup, maka lutut kaki diluruskan serta paha kanan ditekuk
kearah dada. Tangan kiri dibelakang punggung dan tangan
kanan di depan kepala
3) Bila pasien miring kedepan, posisi badan setengah telungkup
dan kaki kanan lurus, sedangkan lutut dan paha kiri ditekuk dan
diarahkan ke dada. Tangan kanan di belakang punggung dan
tangan kiri di depan kepala.

19

20

Cara posisi sim (dengan posisi pasien miring ke kiri)


Sumber. Belland dan Wells 1986

c. Posisi Trendelenburg
Posisi trandelenburg adalah posisi berbaring di tempat tidur dengan
bagian kepala lebih rendah dari bagian kaki. Posisi ini dilakukan
untuk melancarkan peredaran odarah ke otak.
Cara pelaksanaan:
1) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
2) Pasien dalam keadaan berbaring terlentang. Letakkan bantal di
antara kepala dan ujung tempat tidur pasien, berikan balok
penopang atau atur tempat.
3) Pada bagian kaki tempat tidur, berikan balok penopang atau
atur tempat tidur secara khusus dengan meninggikan bagian
kaki pasien.

Cara posisi trendelenburg


Sumber. Belland dan Wells 1986

d. Posisi Dorsal Recumbent


Posisi dorsal recumbent adalah posisi berbaring terlentang dengan
kedua lutut fleksi (ditarik atau direnggangkan) di atas tempat tidur.
Posisi ini dilakukan untuk merawat dan memeriksa genetalia serta
proses persalinan.
Cara pelaksanaan:
1) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
2) Pasien dalam keadaan berbaring terlentang, pakaian bawah di
buka
3) Tekuk lutut, renggangkan paha, telapak kaki menghadap ke
tempat tidur dan renggangkan kedua kaki
4) Pasang selimut

20

21

Cara posisi dorsal recumben


Sumber. Belland dan Wells 1986

e. Posisi Litotomi
Posisi litotomi adalah posisi berbaring terlentang dengan
mengangkat kedua kaki dan menariknya ke atas bagian perut.
Posisi ini dilakukan untuk memeriksa genetalia pada proses
persalinan.
Cara pelaksanaan:
1) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
2) Pasien dalam keadaan berbaring terlentang, kemudian angkat
kedua paha dan tarik ke arah perut
3) Tungkai bawah membentuk sudut 90 terhadap paha
4) Letakkan bagian lutut/kaki pada tempat tidur khusus untuk
posisi litotomi
5) Pasang selimut

Cara posisi litotomi


Sumber. Belland dan Wells 1986

f. Posisi Genu Pektoral


Posisi genu pektoral adalah posisi menungging dengan kedua kaki
ditekuk dan dada menempel pada bagian alas tempat tidur. Posisi
ini dilakukan untuk memeriksa daerah rektum dan sigmoid.
Cara pelaksanaan:
1) Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan

21

22

2) Anjurkan pasien untuk berada dalam posisi menungging


dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada kasur
tempat tidur
3) Pasang selimut pada pasien

Cara posisi genu pektoral


Sumber. Belland dan Wells 1986

g. Posisi terlentang (supinasi)


Posisi terlentang adalah posisi dimana klien berbaring terlentang
dengan kepala dan bahu sedikit elevasi menggunakan bantal.
Tujuan :

1) Untuk klien post operasi dengan menggunakan anastesi spinal.


2) Untuk mengatasi masalah yang timbul akibat pemberian posisi
pronasi yang tidak tepat.
Peralatan :

1) Tempat tidur
2) Bantal angin
3) Gulungan handuk
4) Footboard
5) Sarung tangan (bila diperlukan)
Prosedur kerja:

1) Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila


diperlukan. Menurunkan transmisi mikroorganisme.

2) Baringkan klien terlentang mendatar ditengah tempat tidur.


Menyiapkan klien untuk posisi yang tepat.

3)

Letakkan bantal dibawah kepala, leher dan bahu klien.


Mempertahankan body alignment yang benar dan mencegah
kontraktur fleksi pada vertebra cervical.

22

23

4) Letakkan bantal kecil dibawah punggung pada kurva lumbal,


jika ada celah disana. Bantal akan menyangga kurva lumbal
dan mencegah terjadinya fleksi lumbal.

5) Letakkan bantal dibawah kaki mulai dari lutut sampai tumit.


Memberikan landasan

yang lebar, lembut dan fleksibel,

mencegah ketidaknyamanan dari adanya hiperektensi lutut dan


tekanan pada tumit.

6)

Topang

telapak

kaki

footboard. Mempertahankan

klien

dengan

telapak

kaki

menggunakan
dorsofleksi,

mengurangi resiko foot-droop.

7)

Jika klien tidak sadar atau mengalami paralise pada


ekstremitas atas, maka elevasikan tangan dan lengan bawah
(bukan lengan atas) dengan menggunakan bantal. Posisi ini
mencegah terjadinya edema dan memberikan kenyamanan.
Bantal tidak diberikan pada lengan atas karena dapat
menyebabkan fleksi bahu.

8) Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan


9) Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan

h. Posisi Orthopneu
Posisi orthopneu merupakan adaptasi dari posisi fowler tinggi
dimana klien duduk di bed atau pada tepi bed dengan meja yang
menyilang diatas bed.
Tujuan :

23

24

1) Untuk membantu mengatasi masalah pernafasan dengan


memberikan ekspansi dada yang maksimal

2) Membantu klien yang mengalami masalah ekhalasi


Peralatan :

1) Tempat tidur
2) Bantal angin
3) Gulungan handuk
4) Footboard
5) Sarung tangan (bila diperlukan)
Prosedur kerja :

1) Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila


diperlukan. Menurunkan transmisi mikroorganisme.

2) Minta klien untuk memfleksikan lutut sebelum kepala


dinaikkan. Mencegah klien merosot kebawah saat kepala
dinaikkan.

3) Naikkan kepala bed 90


4) Letakkan bantal kecil diatas meja yang menyilang diatas bed.
5)

Letakkan dibawah kaki mulai dari lutut sampai tumit.


Memberikan landasan yang lebar, lembut dan fleksibel,
mencegah ketidaknyamanan akibat dari adanya hiperekstensi
lulut dan tekanan pada tumit.

6) Pastikan tidak ada tekanan pada area popliteal dan lulut dalam
keadaan

fleksi. Mencegah

terjadinya

kerusakan

pada

persyarafan dan dinding vena. Fleksi lutut membantu klien


supaya tidak melorot kebawah.

7)

Letakkan gulungan handuk dibawah masing-masing paha.


Mencegah eksternal rotasi pada pinggul.

8) Topang telapak kaki klien dengan menggunakan footboard.


Mencegah plantar fleksi.

9) Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan


10)

Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan

24

25

i. Posisi Pronasi (telungkup)


Posisi pronasi adalah posisi dimana klien berbaring diatas abdomen
dengan kepala menoleh kesamping.
Tujuan :

1) Memberikan ekstensi penuh pada persendian pinggul dan lutut.


2) Mencegah fleksi kontraktur dari persendian pinggul dan lutut.
3) Memberikan drainase pada mulut sehingga berguna bagi klien
post operasi mulut atau tenggorokan.
Peralatan :

1) Tempat tidur
2) Bantal angin
3) Gulungan handuk
4) Sarung tangan (bila diperlukan)
Prosedur kerja :

1) Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila


diperlukan. Menurunkan transmisi mikroorganisme.

2) Baringkan klien terlentang mendatar di tempat tidur.


Menyiapkan klien untuk posisi yang tepat.

3) Gulingkan klien dengan lengan diposisikan dekat dengan


tubuhnya dengan siku lurus dan tangan diatas pahanya.
Posisikan tengkurap ditengah tempat tidur yang datar.

25

26

Memberikan posisi pada klien sehingga kelurusan tubuh dapat


dipertahankan.

4) Putar kepala klien ke salah satu sisi dan sokong dengan bantal.
Bila banyak drainase dari mulut, mungkin pemberian bantal
dikontra indikasikan. Menurunkan fleksi atau hiperektensi
vertebra cervical.

5) Letakkan bantal kecil dibawah abdomen pada area antara


diafragma (atau payudara pada wanita) dan illiac crest. Hal ini
mengurangi tekanan pada payudara pada beberapa klien
wanita, menurunkan hiperekstensi vertebra lumbal, dan
memperbaiki

pernafasan

dengan

menurunkan

tekanan

diafragma karena kasur.

6) Letakkan bantal dibawah kaki, mulai lutut sampai dengan


tumit. Mengurangi plantar fleksi, memberikan fleksi lutut
sehinggamemberikan kenyamanan dan mencegah tekanan
yang berlebihan pada patella.

7) Jika klien tidak sadar atau mengalami paralisa pada ekstremitas


atas, maka elevasikan tangan dan lengan bawah (bukan lengan
atas) dengan menggunakan bantal. Posisi ini akan mencegah
terjadinya

edema dan

memberikan

kenyamanan

serta

mencegah tekanan yang berlebihan pada patella.

8) Jika klien tidak sadar atau mengalami paralisa pada ekstremitas


atas, maka elevasikan tangan dan lengan bawah (bukan lengan
atas) dengan menggunakan bantal. Posisi ini akan mencegah
terjadinya edema dan memberikan kenyamanan. Bantal tidak
diletakkan dibawah lengan atas karena dapat menyebabkan
terjadinya fleksi bahu.

9) Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan


10)

Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan

26

27

j. Posisi Lateral (Side Lying)


Posisi lateral adalah posisi dimana klien berbaring diatas salah satu
sisi bagian tubuh dengan kepala menoleh kesamping.
Tujuan :

1) Mengurangi lordosis dan meningkatkan aligment punggung


yang baik

2) Baik untuk posisi tidur dan istirahat


3) Membantu menghilangkan tekanan pada sakrum dan tumit.
Peralatan :

1) Tempat tidur
2) Bantal angin
3) Gulungan handuk
4) Sarung tangan (bila diperlukan)
Prosedur kerja :

1) Cuci tangan dengan menggunakan sarung tangan bila


diperlukan.Menurunkan transmisi mikroorganisme.

2) Baringkan klien terlentang ditengah tempat tidur. Memberikan


kemudahan akses bagi klien dan menghilangkan pengubahan
posisi klien tanpa melawan gaya gravitasi.

3) Gulingkan klien hingga pada posisi miring. Menyiapkan klien


untuk posisi yang tepat

4) Letakkan

bantal

dibawah

kepala

dan

leher

klien.

Mempertahankan body aligment, mencegah fleksi lateral dan


ketidaknyamanan pada otot-otot leher.

27

28

5) Fleksikan bahu bawah dan posisikan ke depan sehingga tubuh


tidak menopang pada bahu tersebut. Mencegah berat badan
klien tertahan langsung pada sendi bahu.

6) Letakkan bantal dibawah lengan atas. Mencegah internal rotasi


dan adduksi dari bahu serta penekanan pada dada.

7) Letakkan bantal dibawah paha dan kaki atas sehingga


ekstremitas berfungsi secara paralel dengan permukaan bed.
Mencegah internal rotasi dari paha dan adduksi kaki.
Mencegah penekanan secara langsung dari kaki atas terhadap
kaki bawah.

8) Letakkan bantal, guling dibelakang punggung klien untuk


menstabilkan posisi. Memperlancar kesejajaran vertebra. Juga
menjaga klien dari terguling ke belakang dan mencegah rotasi
tulang belakang.

9) Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan


10)

Dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan

4. Ambulasi Dan Mobilitas


Ambulasi merupakan upaya seseorang untuk melakukan latihan jalan
atau berpindah tempat. Mobilitas merupakan suatu kemampuan
individu untuk bergerak secara bebas, mudah, teratur dengan tujuan
untuk

memenuhi

kebutuhan

kesehatannya.
a. Jenis-jenis Mobilitas
1) Mobilitas penuh

28

aktifitas

guna

mempertahankan

29

Mobilitas penuh merupakan kemampuan seseorang untuk


bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan
interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari. Mobilitas
penuh ini merupakan fungsi saraf motoris volunter dan
sensoris untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.
2) Mobilitas sebagian
Mobilitas sebagian merupakan kemampuan kemampuan
seseorang untuk bergerak dengan batasan yang jelas sehingga
tidak mampu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh
gangguan saraf motoris dan sensoris pada area tubuhnya.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas
1) Gaya hidup
Gaya hidup berdampak pada perilaku atau kebiasaan seharihari.
2) Proses penyakit/injury
Proses penyakit dapat mempengaruhi karena mempengaruhi
fungsi sistem tubuh.
3) Kebudayaan
4) Tingkat energi seseorang
Energi adalah sumber melakukan mobilitas.
5) Usia dan status perkembangan
Usia memiliki kemampuan atau kematangan fungsi alat gerak
sejalan dengan perjalanan usia.
c. Tindakan yang Berhubungan dengan Ambulasi dan Mobilitas
Latihan Ambulasi
1) Duduk diatas tempat tidur
Cara pelaksanaan:
Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan

dilakukan
Anjurkan pasien untuk meletakkan tangan disamping

badannya, dengan telapak tangan menghadap kebawah


Berdiri disamping tempat tidur, kemudian letakkan

tangan pada bahu pasien


Bantu pasien untuk duduk dan beri penopang/bantal

29

30

Posisi duduk diatas tempat tidur


Sumber. Belland dan Wells 1986

2) Turun dan berdiri


Cara pelaksanaan:
Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan

dilakukan
Atur kursi roda dalam posisi terkunci
Berdirilah menghadap pasien dengan kedua kaki

merenggang
Fleksikan lutut dan pinggang anda
Anjurkan pasien untuk meletakkan kedua tangannya
dibahu anda dan letakkan kedua tangan anda disamping

kanan kiri pinggang pasien


Ketika pasien melangkah kelantai, tahan lutut anda pada

lutut pasien
bantu berdiri tegak dan jalan sampai ke kursi
Bantu pasien duduk dikursi dan atur posisi secara
nyaman

30

31

Cara membantu pasien ke kursi roda


Sumber. Belland dan Wells 1986

3) Membantu berjalan
Cara pelaksanaan:
Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan

dilakukan
Anjurkan pasien untuk meletakkan tangan disamping

badan atau memegang telapak tangan anda


Berdiri disamping pasien untuk meletakkan telapak

tangan dan lengan tangan


Bantu pasien untuk jalan

Cara membantu pasien berjalan


Sumber: Belland dan Wells 1986

Membantu Ambulansi dengan Memanfaatkan Pasien

31

32

Tindakan ini dilakukan dengan memindahkan pasien yang tidak


dapat atau tidak boleh berjalan dari tempat tidur ke branchard.
Cara pelaksanaan:
Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan

dilakukan
Atur branchad pada posisi terkunci
Bantu pasien dengan 2-3 orang
Berdiri menghadap pasien
Silangkan tangan psien di depan dada
Tekuk lutut anda , kemudian masukkan tangan ke bawah

tubuh pasien
Orang pertama meletakkan tangan dibawah leher/ bahu
dan bawah pinggang, orang kedua di bawah pinggang
dan panggul pasien, dan orang ketiga di bawah pinggul

dan kaki
Angkat bersama-sama dan pindahkan ke branchad
Atur posisi pasien di branchad

Cara membantu pasien ke branchard dengan dua orang


Sumber. Belland dan Wells 1986

32

33

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Perawatan diri sangat diperlukan untuk mempertahankan kesehatan
baik secara fisik maupun psikologis. Perawatan diri dapat dilakukan
berdasarkan waktu pelaksanaan dan pelaksanaan tempat.
Mekanika tubuh adalah koordinasi dari muskuloskeletal dan sistem
saraf untuk mempertahankan keseimbangan yang tepat. Mekanisme tubuh
dan ambulasi merupakan cara menggunakan tubuh secara efisien yaitu
tidak banyak mengeluarkan tenaga, terkoordinasi serta aman dalam
menggerakkan dan mempertahankan keseimbangan selama aktivitas.
Prinsip yang digunakan dalam mekanik tubuh adalah sebagai berikut :
1. Gravitasi
2. Keseimbangan
3. Berat
Mekanika tubuh dan ambulasi merupakan bagian dari kebutuhan
aktivitas manusia. Sebelum melakukan mekanika tubuh, terdapat beberapa
pergerakan

dasar

yang

harus

diperhatikan,

di

antaranya

Gerakan

(ambulating), Menahan (squating), Menarik (pulling), Mengangkat (lifting),


dan Memutar (pivoting).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Body Mekanik dan Ambulasi
diantaranya

adalah Status

kesehatan,

Kebiasaan, Gaya Hidup, dan Pengetahuan.

33

Nutrisi,

Emosi,

Situasi

dan

34

B. Saran
Demikian makalah yang telah kami susun, semoga dengan makalah ini
dapat menambah pengetahuan serta lebih bisa memahami tentang pokok
bahasan makalah ini bagi para pembacanya dan khususnya bagi mahasiswa
yang telah menyusun makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
semua.
DAFTAR PUSTAKA
Alimul, Aziz. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba
Medika.
Dionangger. 2009. Materi Ajar Ketrampilan Dasar Praktek Klinik. [online].
Tersedia: http://dionangger.wordpress.com/2009/09/ . [25 November
2014].

Novita, Ekki. 2013. Prinsip Pemenuhan Kebutuhan Mekanika Tubuh, Postur,


Posisi, Ambulasi, Dan Mobilitas. [online]. Tersedia:
http://ekkinovitadewi.blogspot.com/2013/04/prinsip-pemenuhankebutuhan-mekanika.html . [ 25 November 2014].

Uliyah, Musrifatul dan A. Azis Alimul Hidayat. 2006. Keterampilan Dasar


Praktik Klinik untuk Kebidanan, Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

34