Anda di halaman 1dari 13

PENCEGAHAN KANKER LEHER RAHIM

dr. Ronald Sidharta


Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa
Puskesmas Kakas Kecamatan Kakas
Abstrak
Kanker leher rahim atau kanker serviks adalah kanker pembunuh perempuan no.1 di
Indonesia. Di dunia kanker serviks adalah kanker pembunuh perempuan no.5. Kanker ini
dapat hadir dengan perdarahan vagina tetapi gejala kanker ini tidak terlihat sampai kanker
memasuki stadium yang lebih jauh. Stadium awal dari kanker serviks dapat saja tanpa gejala.
Perdarahan vagina, perdarahan pada saat kontak atau (jarang) suatu masa di vagina dapat
mengindikasikan adanya keganasan. Prognosis tergantung pada stadium kanker. Hal ini
cenderung ditentukan oleh luasnya kanker serviks pada saat diagnosis. Terapi terdiri atas
operasi (termasuk eksisi lokal) pada stadium awal dan radioterapi dan kemoterapi pada
stadium lanjut dari kanker serviks. Adalah penting untk menemukan stadium awal dari
kanker serviks. Di Negara berkembang, pelaksanaan program penyaringan serviks secara luas
telah menurunkan kejadian dari kanker serviks invasif sampai 50% atau lebih. Inspeksi visual
serviks dengan menggunakan asam asetat, pemeriksaan Pap Smear dapat mengidentifikasi
secara potensial perubahan-perubahan prakanker. Pengobatan pada perubahan-perubahan
tingkat lanjut dapat mencegah berkembangnya kanker. Infeksi virus HPV (Human Papilloma
Virus) adalah faktor yang bertanggung jawab dalam berkembangnya hampir keseluruhan
kasus kanker serviks. Vaksin HPV efektif melawan dua tipe dari HPV yang menyebabkan
kebanyakan kanker serviks telah mendapat ijin di Amerika Serikat dan Eropa. Oleh karena
vaksin hanya mencakup beberapa tipe yang berisiko tinggi, wanita-wanita seharusnya
melakukan pemeriksaan secara rutin baik Inspeksi visual serviks dengan asam asetat atau Pap
Smear, meskipun setelah vaksinasi.
Abstract
Cervical cancer is the first deadly cancer in women in Indonesia. Worldwide, cervical cancer
is the fifth most deadly cancer in women. It may present with vaginal bleeding but symptoms
1

may be absent until the cancer is in its advanced stages. The early stages of cervical cancer
may be completely asymptomatic. Vaginal bleeding, contact bleeding or (rarely) a vaginal
mass may indicate the presence of malignancy. Prognosis depends on the stage of the cancer.
It markedly affected by the extent of disease at the time of diagnosis. Treatment consists of
surgery (including local excision) in early stages dan chemotherapy and radiotherapy in
advanced stages of the disease. It is important to find out early stages of the cervical cancer.
In developed countries, the widespread use of cervical screening programs has reduced the
incidence of invasive cervical cancer by 50% or more. Visual inspection of the cervix using
acetic acid, Pap smear screening can identify potentially precancerous changes. Treatment of
high grade changes can prevent the development of cancer. Human Papilloma Virus (HPV)
infection is a necessary factor in the development of nearly all cases of cervical cancer. HPV
vaccine effective against the two strains of HPV that cause the most cervical cancer has been
licensed in the United States of America and Europe. Since the vaccine only covers some
high risk types, women should seek regular screening either visual inspection of the cervix
using acetic acid or Pap smear, even after vaccination.
PENDAHULUAN
Kanker serviks adalah tumor ganas serviks uteri yang menduduki peringkat pertama tumor
ganas ginekologik di Indonesia.11 11270 kasus kanker serviks diperkirakan akan ditemukan di
Amerika Serikat pada tahun 2009 dan 4070 penderita akan mati. 14 Angka ini telah membaik
dimana terjadi penurunan angka hingga 70% antara tahun 1950 dan 1970, dan 40% antara
1970 dan 1999.15 Di Indonesia, angka kejadian kanker serviks kira-kira mencapai 50 per
100.000 penduduk.23 Mendiagnosis tumor ganas pada serviks uterus tidaklah sulit, apalagi
kalau tingkatannya sudah agak lanjut. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana mendeteksi
sedini mungkin, yakni waktu tumor masih prainvasif telah diketahui dalam tingkatan
pramaligna.11 di Negara maju, masalah penemuan lesi prakanker serviks telah menjadi bagian
dari pelayanan rutin kesehatan masyarakat, sehingga diharapkan kejadian kanker serviks akan
semakin berkurang atau dijumpai dalam keadaan stadium dini. 6 Di Negara berkembang,
penyakit kanker serviks semakin banyak jumlahnya seiring dengan semakin tingginya usia
harapan hidup, tetapi kedatangan penderita dalam stadium lanjut disebabkan rendahnya
pengetahuan dan kemiskinan sosial ekonomi.6
Human Papilloma Virus (HPV) 16 dan 18 merupakan penyebab utama pada 70%
kasus kanker serviks di dunia.1,2,3,4,6,7,8,9,10,12,22 Ada bukti kuat kejadian kanker berhubungan
dengan faktor ekstrinsik yaitu, gadis yang koitus pertama kali dialami pada usia amat muda
2

(<16 tahun), frekuensi hubungan seks tinggi, perilaku seksual berupa mitra seks multiple,
kehamilan dan persalinan melebihi 3 orang, jarak kehamilan terlalu dekat, pemakaian IUCD (
spiral ) karena iritasi dari IUCD, pemakaian pil oral yang dapat menurunkan asam folat,
sosial ekonomi rendah, malnutrisi, infeksi menahun di sekitar serviks, menurunnya PH
serviks dan menimbulkan perubahan neoplastik sel skuamosa serviks, kebiasaan merokok,
infeksi serviks melalui penyakit menular seksual seperti Trikomonas vaginitis, Kandida
albikan, Infeksi Gonore, Infeksi HPV.6.11,12,22
Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks memakan waktu yang
cukup lama, yaitu sekitar 10 hingga 20 tahun. Namun proses infeksi ini seringkali tidak
disadari oleh para penderita, karena proses HPV kemudian menjadi pra-kanker sebagian
besar berlangsung tanpa gejala.12,22
Fase prakanker mendahului terjadinya kanker serviks, yang berkisar antara 3-20 tahun
(rata-rata 5-10 tahun).

9,11

Lesi prakanker serviks uteri atau CIN, biasanya disebut displasia,

berarti adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada lapisan epitel di serviks. Ada
beberapa stadium dari CIN. Displasia ringan atau CIN I adalah gangguan pertumbuhan 1/3
bawah lapisan epitel. Pematangan abnormal dari 2/3 lapisan epitel disebut displasia sedang
atau CIN II. Dysplasia berat, CIN III, mencakup lebih dari dua pertiga dari tebalnya epitel
dengan karsinoma in situ (CIS), memperlihatkan seluruh lapisan mengalami dismaturitas. 9
Faktor risiko dari CIN sama dengan faktor risiko dari kanker serviks dan termasuk bergantiganti pasangan seksual, pasangan seksual berisiko tinggi (riwayat berganti-ganti pasangan
seksual, infeksi HPV, tumor Alat kelamin bagian bawah, atau pasangan seksual yang telah
terpapar oleh penderita tumor serviks), riwayat penyakit menular seksual, merokok, daya
tahan tubuh rendah misalnya pada penderita HIV, penggunaan pil kontrasepsi jangka
panjang.9 Infeksi virus HPV adalah penyebab utama dalam perkembangan CIN dan kanker
serviks.9 Analisa dari lesi prakanker serviks menunjukkan adanya HPV lebih dari 80% dari
semua lesi CIN dan lebih dari 90% dari semua kanker serviks. 9 Ada lebih dari 70 subtipe
HPV, sebagian menginfeksi epitel anogenital. Berdasarkan potensi menjadi keganasan,
subtipe HPV dikategorikan menjadi risiko rendah, risiko sedang, dan risiko tinggi. Risiko
rendah HPV tipe 6, 11, 42, 43, 44, berhubungan dengan kondiloma dan lesi prakanker serviks
tingkat rendah (CIN I). Risiko sedang HPV tipe 33, 35, 51, dan 52 ditemukan di lesi
prakanker serviks tingkat lebih tinggi (CIN II dan CIN III) yang cenderung tetap tetapi jarang
berlanjut, dimana risiko tinggi HPV tipe 16, 18, 31, 39, 45, 56, 58, 59, dan 68 adalah, sebagai
tambahan pada lesi tingkat tinggi (CIN II dan CIN III), ditemukan pada kanker serviks. 9
Pada pemeriksaan sitologi, displasia dari sel digambarkan dengan anaplasia,
3

penurunan sitoplasma inti sel rasio, hiperkromatin dengan perubahan kromatin inti, banyak
inti, dan diferensiasi abnormal.9 Biasanya tidak ada gejala atau tanda dari CIN, dan diagnosis
lebih sering berdasarkan penemuan biopsi diikuti dengan sitologi serviks rutin yang
abnormal.9 Pemeriksaan rutin serviks meliputi Inspeksi Visual dengan asam asetat, Schiller
test, Pap Smear, kolposkopi, biopsi langsung, kuretase endoserviks, atau konisasi
diagnostik.6,9 Terapi yang dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan serviks, dapat berupa
krioterapi, laser karbondioksida, konisasi, termokauter, histerektomi bila umur dan paritas
cukup dan sulit dilakukan tindak lanjut.6,9
Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan
endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo-columnar junction (SCJ).
Histologik antara epitel gepeng berlapis (squamos complex) dari porsio dengan epitel
kuboid/silindris pendek selapis bersilia dari endoserviks kanalis serviks. Pada awal
perkembangannya kanker serviks tak memberikan tanda-tanda dan keluhan. Pada
pemeriksaan dengan spekulum, tampak sebagai porsio yang erosif (metaplasia skuamosa)
yang fisiologik atau patologik.9,10,11 Tumor dapat tumbuh : 1) eksofitik, mulai dari SCJ ke arah
lumen vagina sebagai masa proliferatif yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis; 2)
endofitik mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stroma serviks dan cenderung untuk mengadakan
infiltrasi dan menjadi ulkus; 3) ulseratif mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur
jaringan serviks dengan melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas.11
Di Negara berkembang seperti Indonesia, kedatangan penderita telah dalam stadium
lanjut mengakibatkan pengobatan yang dapat diberikan sangat terbatas dan prognosisnya
jelek dengan 5 tahun harapan hidup yang rendah. 6 Kanker serviks sekitar 90% dalam bentuk
epidermoid karsinoma dan 10% adenokarsinoma serviks uteri yang berasal dari kelenjar
endometrium dan sarkoma uteri sangat jarang.6 Gejala klinik secara umum dapat
digambarkan sebagai berikut, stadia dini, didapatkan keputihan yang sulit sembuh, kontak
berdarah, tanpa gejala dijumpai secara kebetulan. Pada stadium menengah didapatkan
perdarahan irregular, keputihan campur darah, urine berdarah, berak berdarah. Pada stadia
lanjut didapatkan keputihan berbau, perdarahan terus, urine/berak berdarah, terjadi fistula
vesiko-vaginal, fitula rekto-vaginal, perdarahan profus, terrible triact berupa pinggang sakit,
kaki bengkak, obstruksi ureter. Penyebab kematian akibat komplikasi berupa perdarahan yang
banyak, uremia, kakeksia, komplikasi metastasis yang jauh.6 Penyebaran kanker serviks dapat
terjadi pada beberapa tempat sekaligus dimana sel-sel tumor meluas ke dalam jaringan ikat
dan akhirnya menembus pembuluh limfe dan vena. Karsinoma serviks dapat meluas ke
dinding vagina, ligamentum kardinale, dan rongga edometrium. Penyebaran ke kelenjar limfe
4

dan pembuluh darah dapat menyebabkan metastasis ke tempat-tempat yang jauh.4 Adapun
klasifikasi stadium karsinoma serviks (FIGO) adalah Karsinoma pra-invasif, stadium 0,
karsinoma in situ, karsinoma intraepithelial, Karsinoma infasif, stadium I, karsinoma terbatas
pada serviks, stadium II, karsinoma meluas ke bawah serviks tetapi tidak sampai ke dinding
panggul, melibatkan 2/3 atas vagina, stadium III, karsinoma meluas ke dinding panggul,
melibatkan 1/3 bawah vagina, stadium IV, karsinoma meluas ke mukosa kandung kemih dan
rectum.4 Penanganan kanker serviks dapat berupa radioterapi atau histerektomi radikal
dengan mengangkat uterus, tuba, ovarium, sepertiga atas dari vagina, dan kelenjar limfe
panggul. Jika kelenjar limfe aorta terkena, maka juga diperlukan kemoterapi. 4 Keberhasilan
pengobatan karsinoma serviks uteri dan prognosisnya sangat tergantung dari beberapa faktor
yaitu, stadia saat diterima, fasilitas pengobatan yang tersedia, pengalaman senter dalam
memberikan pengobatan karsinoma serviks. Pengalaman dari Surabaya menunjukkan bahwa
kombinasi antara internal radiasi (radium-cobalt) dan eksternal radiasi lebih unggul dari
tindakan operasi atau kemoterapi dan/atau eksternal radiasi karena sensitive terhadap
obatnya. Pemasangan radium sesuai dengan karsinoma serviks uteri, ternyata hasilnya sangat
memuaskan.6 Pengobatan kemoterapi dan/atau radiasi eksternal pada karsinoma serviks uteri,
tidak membawa hasil bahkan mempercepat kematian karena komplikasi. 6 Kemoterapi yang
digunakan adalah Bleomycin 30 mg, Oncovin 1 mg. Metomycin 10 mg, dengan jumlah 4-6
seri, interval 2 hari, evaluasi pemeriksaan laboratorium, Cisplatin tunggal.6 Gambaran
singkat pengobatan kanker serviks pada stadia dini adalah konisasi, thermokauter, krioterapi,
laser terapi, operasi radikal. Pada stadia pertengahan dilakukan operasi radikal disertai
eksternal radiasi, kombinasi internal dan eksternal radiasi. Pada stadia lanjut dilakukan
eksternal radiasi, kemoterapi, dan pan pelvic eksenterasi.6
Tumor ganas di serviks pada ibu hamil tidak menghalangi untuk adanya kehamilan.
Terdapat kira-kira 1 di antara 3000 kehamilan. Tidak ada perbedaan antara karsinoma serviks
dalam dan di luar kehamilan, mengenai perjalanan penyakitnya, dalam risiko kesembuhan
pada tingkat klinik yang sama. Untuk penanganan primer dipilih pembedahan, karena
penyinaran, mempunyai efek samping yang merugikan penderita berusia muda. 11 Prognosis
setelah pengobatan kanker serviks akan makin baik jika lesi ditemukan dan diobati lebih dini.
Tingkat harapan kesembuhan dapat mencapai 85% untuk stadium I, 50-60% untuk stadium
II, 30% untuk stadium III, dan 5-10% untuk stadium IV.4

PENCEGAHAN KANKER SERVIKS


5

Data terkini menunjukkan bahwa infeksi serviks dengan HPV dihubungkan dengan tingginya
persentase dari semua displasia serviks dan kanker.7,9 Ada lebih dari 70 subtipe HPV telah
diketahui, yang mana tipe 6 dan 11 cenderung menyebabkan displasia ringan, sedangkan tipe
16, 18, 31, dan lainnya menyebabkan perubahan sel pada tingkat yang lebih tinggi. 7,9 Kanker
serviks hampir tidak pernah terjadi pada wanita perawan. Secara epidemiologi berhubungan
dengan angka berganti-ganti pasangan seksual. Penggunaan diafragma atau kondom
mempunyai efek perlindungan. Pencegahan kanker serviks meliputi pemeriksaan sitologi
secara teratur untuk mendeteksi perubahan sel, pembatasan pasangan seksual, menggunakan
diafragma atau kondom saat bersenggama, berhenti merokok, penggunaan vaksin HPV.6,7,9
Pendidikan kepada Pria muda dan wanita muda tentang faktor risiko dan pentingnya
melakukan pemeriksaan rutin, informasi tentang infeksi HIV, menunda hubungan seks remaja
atau pendidikan seks yang bersih dapat menurunkan angka kejadian kanker serviks. Selain itu
perlu meningkatkan pendidikan dan melakukan skrining masyarakat yang dianggap sebagai
sumber kemungkinan karsinoma serviks uteri.6,7,9
Rekomendasi dari American College of Obstetricians and Gynecologists, semua
wanita seksual aktif atau mencapai 18 tahun hendaknya melakukan pemeriksaan sitologi
paling tidak setiap satu tahun. Akhir-akhir ini berkembang suatu pemeriksaan serviks,
Inspeksi Visual serviks dengan asam asetat, pemeriksaan ini praktis, murah, aman, efektif.
Kelainan dari gambaran epitel dan pembuluh darah tidak dapat terlihat oleh mata telanjang
tetapi dapat diidentifikasi dengan atau tidak bantuan kolposkopi setelah mendapat olesan
asam asetat 3%-5%.9 Penemuan abnormal mengindikasikan displasia yaitu berupa epitel
berwarna acetowhite, dimana epitel berwarna lebih putih dari jaringan sekitarnya setelah
dioles asam asetat 3-5%.9 Bila luas lesi kurang dari 7 mm, dapat dilakukan terapi krioterapi,
suatu tindakan yang tidak memerlukan obat bius, dimana alat ini menggunakan N2O dan
CO2 sebagai pembeku pada probe.9 Krioterapi merupakan suatu usaha penyembuhan
penyakit dengan cara mendinginkan bagian yang sakit sampai suhu di bawah nol derajat
celcius. Hal ini menyebabkan jaringan mengalami perubahan-perubahan seperti : sel
dehidrasi dan mengkerut, konsentrasi elektrolit dalam sel terganggu, syok termal dan
denaturasi kompleks lipid protein, stasis umum system mikrovaskuler.13
Selain Inspeksi Visual serviks dengan asam asetat, pemeriksaan serviks dapat
dilakukan dengan Pap Smear, dimana mengusap daerah transformasi, harus dikerjakan
dengan skraper dari Ayre atau cytobrush sikat khusus. Pasien dengan hasil sitologi yang
abnormal harus melakukan serial Pap Smear. Pap Smear harus dilakukan dalam jangka waktu
4-6 bulan kemudian sampai didapat 3-4 hasil Pap smear yang normal. Hal ini penting untuk
6

menghindari adanya false negative.9

Pemeriksaan serviks dapat juga dilakukan dengan

menggunakan mikrokolposkopi, pembesaran tinggi, melakukan Schiller test, dimana epitel


serviks dicat dengan Meyer hematoksilin atau toluidide blue, dapat dilanjutkan dengan
biopsi, dimana diambil jaringan pada perbatasan squamosa-kolumner terutama bila dijumpai
lesi serviks.6
Salah satu upaya preventif utama adalah mengembangkan antivirus yang efektif.
Vaksin HPV yang ada saat ini telah menunjukkan daya antivirus sampai 98%. Vaksin HPV
diperuntukkan bagi gadis-gadis dan wanita umur 9-55 tahun karena vaksin hanya bekerja bila
diberikan sebelum infeksi terjadi. Suntikan diberikan sebanyak tiga kali, yaitu pada bulan ke
nol, satu dan enam. Dari penelitian yang dilakukan, terbukti bahwa respon imun bekerja dua
kali lebih tinggi pada remaja putri usia 10-14 tahun dibanding yang berusia 15-25 tahun.
Pekerja sosial menargetkan untuk gadis-gadis sebelum mereka mulai berhubungan seks.
Harga yang mahal dari vaksin ini telah mendapat perhatian. Beberapa Negara telah
mempertimbangkan program yang mendanai vaksin HPV.12,22
Kondom menawarkan beberapa perlindungan terhadap kanker serviks. Kondom dapat
mencegah infeksi HPVdan melindungi terhadap kutil genitalia dan pendukung terjadinya
kanker serviks. Kondom juga dapat melindungi dari penyakit menular seksual, seperti HIV
dan Chlamydia, yang berhubungan dengan risiko besar berkembangnya kanker serviks.
Kondom juga berguna dalam terapi perubahan lesi prakanker serviks. Pemaparan protein
yang terkandung di dalam semen dapat meningkatka risiko perubahan lesi prakanker (CIN
III). Ada suatu penelitian berpendapat bahwa prostaglandin di dalam semen dapat memicu
pertumbuhan dari serviks dan tumor uterus.10
Menghindari merokok dapat mencegah terjadinya kanker serviks. Karsinogen dari
tembakau dapat meningkatkan risiko bagi banyak tipe kanker, termasuk kanker serviks, dan
wanita yang merokok memiliki risiko dua kali lipat berkembangnya kanker serviks.10
Gizi merupakan faktor yang berperan dalam berkembangnya kanker serviks. Buahbuahan dan sayur-sayuran dalam jumlah banyak, berhubungan dengan penurunan hingga
54% risiko infeksi HPV. Asam folat yang rendah dapat meningkatkan risiko berkembangnya
lesi prakanker serviks.6

DISKUSI
7

Meheus berpendapat bahwa pencegahan utama kanker serviks dapat dicapai dengan
pencegahan dan kontrol terhadap infeksi HPV. Strategi promosi kesehatan yang dilengkapi
dengan perubahan perilaku seksual dengan target seluruh penyakit menular seksual di dalam
masyarakat dapat dengan efektif mencegah infeksi HPV.16
Sasieni et al mengemukakan bahwa berdasarkan bukti yang kuat, pemeriksaan yang
teratur pada wanita yang tepat untuk kanker serviks dengan Pap Smear menurunkan kematian
akibat kanker serviks.17
Meheus juga berpendapat bahwa vaksinasi melawan HPV mempunyai nilai yang
besar di Negara berkembang dimana 80% dari keseluruhan kejadian kanker serviks terjadi
tiap tahun dan dimana program pemeriksaan Pap Smear telah menjadi tidak efektif.16
Menurut Laara et al. dan Johannesson et al., hasil dari suatu pengamatan yang
dilakukan terus menerus mendukung efektivitas dalam penurunan kematian akibat kanker
serviks. Baik angka kejadian dan kematian dari kanker serviks telah turun secara tajam dalam
jumlah populasi yang besar mengikuti pengenalan program pemeriksaan kanker serviks. 18,19
Laara et al dan Sigurdsson mengemukakan bahwa di Iceland, angka kematian menurun
hingga 80% selama lebih dari 20 tahun, di Finlandia dan Swedia sebanyak 50% dan 34%.
Penurunan yang serupa telah diawali pada populasi yang besar di Amerika Serikat dan
Kanada. Penurunan kejadian kanker serviks adalah sesuai dengan intensitas dari
pemeriksaan.18,20
Menurut Sankaranarayanan et al., pemeriksaan dengan menggunakan metode Inspeksi
Visual serviks uteri dengan asam asetat (IVA) dan kolposkopi segera, biopsi langsung, dan
krioterapi pada wanita sehat umur 30 sampai 59 tahun dapat menurunkan angka kejadian
kanker serviks 25% dan menurunkan angka kematian kanker serviks hingga 35%.21
Manuaba berpendapat bahwa untuk menurunkan angka kejadian kanker serviks perlu
dilakukan suatu upaya promotif utama yaitu memberikan pendidikan seks remaja untuk
mengurangi kemungkinan infeksi virus papiloma manusia/human papilloma virus (HPV),
menunda hubungan seks remaja atau pendidikan seks yang bersih, mengembangkan vaksin
HPV, dan mengobati infeksi vaginal sehingga pH tetap dipertahankan. Upaya preventif utama
juga perlu dilakukan yaitu mengembangkan obat antivirus yang efektif, meningkatkan
skrining terhadap kemungkinan kanker serviks, meningkatkan pendidikan dan melakukan
skrining masyarakat yang dianggap menjadi sumber kemungkinan kanker serviks.6
Canavan mengemukakan bahwa Pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan
dengan program skrinning dan pemberian vaksinasi. Di negara maju, kasus kanker jenis ini
8

sudah mulai menurun berkat adanya program deteksi dini melalui Pap Smear. Vaksin HPV
akan diberikan pada perempuan usia 10 hingga 55 tahun melalui suntikan sebanyak tiga kali,
yaitu pada bulan ke nol, satu, dan enam. Dari penelitian yang dilakukan, terbukti bahwa
respon imun bekerja dua kali lebih tinggi pada remaja putri berusia 10 hingga 14 tahun
dibanding yang berusia 15 hingga 25 tahun.22

KESIMPULAN
Fenomena kanker serviks (kanker mulut rahim) saat ini di Indonesia cukup
memperihatinkan. Kanker serviks di Indonesia masih menjadi salah satu jenis kanker yang
paling sering ditemui pada wanita, terutama pada genitalia wanita (78%).12 Pencegahan
kanker serviks selalu lebih baik daripada mengobati, yaitu dengan perilaku seks yang sehat
dimana tidak berganti-ganti pasangan, memakai kondom dalam berhubungan seksual,
melakukan pemeriksaan rutin serviks uteri yaitu dengan Inspeksi Visual serviks uteri dengan
asam asetat atau melakukan pemeriksaan Pap Smear setiap tahun, tidak merokok, konsumsi
makanan yang bergizi, dan imunisasi dengan vaksin HPV dapat diberikan bagi wanita umur
9-55 tahun.6
DAFTAR PUSTAKA
1. Disaia Philip ; alih bahasa, THA Chalik, Huriawati Hartanto ; editor, Herni
Koesoemawati. Gangguan Serviks Uteri. Danforth buku saku Obstetri dan Ginekologi,
Jakarta, Widya Medika, 2002 ; 471-82
2. Hacker NF, Moore JG ; alih bahasa, Edi Nugroho ; editor, Yunita Christina. Displasia dan
Kanker Serviks. Essensial Obstetri & Ginekologi, edisi 2. Hipokrates, 2001 ; 637-52
3. Jones DL ; alih bahasa, Hadyanto ; editor, Y. Joko Suyono. Keganasan pada traktus
genitalia wanita. Dasar-dasar Obstetri Ginekologi, edisi 6. Hipokrates, 2002 ; 270-6
4. Price SA,Wilson LM ; alih bahasa, Peter Anugerah ; editor, Carolina Wijaya. Gangguan
Sistem Reproduksi Wanita. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, edisi 4,
buku 2.EGC, 1995 ; 1137-8
5. Manuaba. Masalah nasional keganasan pada wanita. Kapita selekta penatalaksanaan rutin
obstetric ginekologi dan KB, EGC, 2001 ; 626-31
6. Manuaba, Lesi prakanker serviks dan karsinoma serviks uteri. Kapita selekta
penatalaksanaan obstetric ginekologi dan KB, EGC, 2001 ; 632-46
7. MacKay HT. Cervical intraepithelial neoplasia. Current Medical Diagnosis & Treatment
2003, Forty-second edition, McGraw-Hill Companies, Inc, 2003 ; 705-7
9

8. MacKay HT. Carcinoma of the cervix. Current Medical Diagnosis & Treatment 2003,
Forty-second edition, McGraw-Hill Companies, Inc, 2003 ; 707-8
9. Holschneider CH. Premalignant & malignant disorders of the uterine cervix. Current
Obstetric & Gynecology Diagnosis & Treatment, Ninth edition, McGraw-Hill
Companies, Inc, 2003 ; 894-915
10. Krivak TC, McBroom JW, Elkas JC. Cervical Cancer. Novaks Gynecology, 13 th ed.,
Lippincott Williams & Wilkins, 2002 ; 1199-232
11. Mardjikoen P ; editor, Hanifa Wiknjosastro, Abdul Bari Saifuddin, Trijatmo Rachimhadhi.
Tumor ganas alat genital. Ilmu Kandungan, edisi 2, cetakan 6, Jakarta. Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2008 ; 380-90
12. Agosti JM, Goldie SJ. Introducing HPV vaccine in Developing Countries-Key Challenges
and Issues. New England Journal of Medicine, volume 356, number 19, 2007; 1908-10
13. Suhatno, H. See and Treat Sebagai Salah Satu Pilihan Cara Skrining Dengan Fasilitas
Terbatas Dalam Upaya Menurunkan Angka Kejadian Kanker Serviks. Pidato pengukuhan
Guru Besar Universitas Airlangga yang ke 342, Surabaya,2009.
14. American Cancer Society.: Cancer Facts and Figures 2009. Atlanta, Ga: American Cancer
Society, 2009.
15. Ries LA, Eisner MP, Kosary CL, et al.: SEER Cancer Statistics Review, 1973-1999.
Bethesda, Md: National Cancer Institute, 2002.
16. Meheus A ; Franco EL, Monsonego J, editors. Prevention of sexually transmitted
infections through health education and counselling: a general framework. New
developments in cervical cancer screening and prevention. Oxford (UK): Blackwell
Science; 1997; 84-90.
17. Sasieni P, Castanon A, Cuzick J: Effectiveness of cervical screening with age: population
based case-control study of prospectively recorded data. BMJ 339: 2968, 2009.
18. Lr E, Day NE, Hakama M: Trends in mortality from cervical cancer in the Nordic
countries: association with organised screening programmes. Lancet 1 (8544): 1247-9,
1987
19. Johannesson G, Geirsson G, Day N: The effect of mass screening in Iceland, 1965-74, on
the incidence and mortality of cervical carcinoma. Int J Cancer 21 (4): 418-25, 1978.
20. Sigurdsson K: Effect of organized screening on the risk of cervical cancer. Evaluation of
screening activity in Iceland, 1964-1991. Int J Cancer 54 (4): 563-70, 1993.
21. Sankaranarayanan R, Nene BM, Shastri SS, et al.: HPV screening for cervical cancer in
rural India. N Engl J Med 360 (14): 1385-94, 2009.
22. Canavan TP, Doshi NR. Cervical cancer. Am Fam Physician 2000;61:1369-76.
23. Narhasanah C. Pengaruh karakteristik dan perilaku pasangan usia subur (PUS) terhadap
pemeriksaaan Pap Smear di RSUZA Banda Aceh tahun 2008. Master thesis Administrasi
dan Kebijakan Kesehatan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara, 2008.

10

11

12

13