Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

A; Latar Belakang
kebutuhan fisiologis ini tidak terpenuhi, maka manusia tidak akan bisa
melangsungkan hidupnya, karena pada dasarnya manusia yang hidup didunia ini
memerlukan zat makanan , oksigen, dan elektrolit. Dengan demikian, oksigen
dapat dikatakan sebagai suatu unsur dasar untuk melangsungkan kehidupan.
Dalam ruang lingkup kesehatan, tidak bisa terlepas dari kebutuhan
oksigen (O2), karena banyak masalah dirumah sakit yang berkaitan erat dengan
permasalahan oksigenasi atau sering kita jumpai dengan permasalahan dalam
sistem pernapasan dan dalam berbagai macam masalah yang ada dimasyarakat.
Kami akan mengangkat sebuah tema dengan judul Gangguan dalam Sistem
Pernapasan Menjadi Masalah yang Serius dalam Dunia Kesehatan. Dalam hal ini
akan memberikan informasi yang berkaitan dengan sistem pernapasan dan
masalah yang sering dialami oleh pasien dirumah sakit.
Dengan membaca karya tulis ilmiah ini diharapkan bisa menambah
wawasan pembacaakan sistem pernapasan dan bisa membantu untuk menjaga
sistem pernapasan dengan baik. Dengan kata lain pernapasan merupakan masalah
yang tidak bisa dipandang sebelah mata, karena masalah-masalah yang timbul
dalam sistem pernapasan ini bisa mengakibatkan kematian. Tidak seperti faktor
makanan, didalam tubuh masih ada cadangan , tetapi oksigen tidak bisa diperoleh
tanpa adanya sistem pernapasan.
Berbagai dampak yang ditimbulkan seperti kelumpuhan organ-organ,
ketidaksadaran otak, dan juga dapat menimbulkan kematian. Oleh karena itu,
banyak pula solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasi masalah dalam sistem
pernapasan, khususnya dalam kebutuhan oksigen.
B; Tujuan Masalah
1. Untuk memberikan informasi tentang kebutuhan oksigen (O2).
2. Untuk menunjukan cara-cara merawat pasien dengan masalah kebutuhan
oksigan (O2).
3. Untuk menginterfensikan suatu sitem yang sangat dalam menunjang kehidupan
manusia.
C; Manfaat
1.
2.

Dapat memperbanyak pengetahuan tentang sistem pernapasan.


Dapat mengetahui pertolongan apa saja yang bisa diberikan pada pasien
yang membutuhkan oksigen (O2).

D. Rumusan Masalah
1. Mendefinisikan tentang Kebutuhan Oksigenasi.
2. Mendiadnosakan Permasalahan tentang pasien yang memerlukan Oksigen
(O2).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I;

Pengertian Kebutuhan Oksigenasi

Kebutuhan oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang


digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh mempertahankan hidup dan
aktivitas berbagai organ atau sel. (Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 2)
II;

Sistem tubuh yang berperan dalam kebutuhan Oksigenasi

Sistem tubuh yang berperan dalam kebutuhan Oksigenasi terdiri atas


saluran pernafasan bagian atas, bagian bawah, dan paru. (Pengantar Kebutuhan
Dasar Mnusia 2, hal 2)
a; Saluran pernafasan bagian atas terdiri dari:
1.

Hidung
Hidung terdiri dari nares anterior (saluran dalam lubang hidung) yang
memuat kelenjar sebaseus dengan ditutupi bulu yang kasar dan bermuara ke
rongga hidung dan ronggah hidung yang dilapisi ole selaput lendir yang
mengandung pembuluh darah. (Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 2)
2.

Faring
Faring merupakan pipa yang memiliki otot, memenjang dari dasar
tengkorak sampai esofagus yang terletak dibelakang nasofaring (dibelakang
hidung), orofaring (dibelakang mulut), laringofaring (dibelakang faring).
(Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 2)
3.

Laring (Tenggorokan)
Laring merupakan saluran pernfasan setelah faring yang terdiri atas bagian
dari tulang rawan yang diikat bersama ligamen dan membran, terdiri atas dua
lamina yang bersambung digaris tengah. (Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2,
hal 2)
4.

Epiglotis
Epiglotis merupakan katup tulang rawan yang bertugas membantu
menutup laring pada saat proses menelan. (Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia
2, hal 2)
b; Saluran pernapasan bawah :
1.

Takrea
Takrea atau disebut batang tenggorok, memiliki panjang kurang lebih
sembilan centimeter yang dimulai dari laring sampai kira-kira sampai ketinggian
vetebra torakalis ke-lima. (Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 2)
2.

Bronkus

Bronkus merupakan bentuk percabangan atau kelanjutan dari takrea yang


terdiri dari dua percabangan kanan dan kiri. (Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia
2, hal 3)
3.

Breonkeolus
Bronkeolus merupakan salurabn percabangan setelah bronkus. (Pengantar
Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 3)
c.

Paru

Paru merupakan organ utama dalam sistem pernafasan. Paru terletak dalam
cavum torak setinggi tulang selangka sampai dengan diafragma. Paru terdiri atas
beberapa lobus yang diselaputi oleh pleura perietalis dan pleura viseralis, serta
dilingungi oleh cairan leura yang berisi cairan surfaktan. Paru sebagai alatb
pernapasan utama terdiri atas dua bagian yaitu: paru kanan dan kiri.
Pada bagian tengah organ ini terdapat organ jantung beserta pembulu
darah yang terbentuk kerucut, dengan bagian puncak disebut apeks. Paru memiliki
jaringan yang bersifat elastis, berpori, serta berfungsi sebagai tempat pertukaran
gas O2 dan CO2. (Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 4)
III;

Tujuan pernafasan

Tujuan pernafasan adalah untuk menyediakan O2 bagi sel dan


mengeluarkan CO2 dari sel tubuh.
IV;
1.
2.
3.
V;

Fungsi Pernafasan
Pendistribusi dan penukar gas
Menyaring, menghangatkan dan melembabkan udara
Menjaga Hemeostatis pH tubuh
Pengaturan Pernapasan

Tujuan utama pengaturan pernapasan ialah mensuplai kebutuhan oksigen


yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, misalnya kebutuhan saat
melakukan latihan fisik, infeksi, atau masa kehamilan. Pengaturan pernapasan
meningkatkan pengeluaran CO2, hasil proses metabolisme tubuh. Proses ini
menentukan status asam-basa tubuh.
Pernapasan dikendalikan oleh pengaturan saraf dan kimiawi. Pengaturan
saraf melibatkan sistem saraf pusat (SSP), pengontrolan frekuensi kedalaman, dan
irama pernapasan. Pengaturan kimiawi melibatkan kerja zat-zat kimia, seperti ion
CO2, dan ion H dengan kecepatan dan kedalaman pernapasan.

VI;

Proses Oksigenasi
Proses pemenuhan kebutuhan oksigenasi tubuh terdiri dari tiga tahap, yaitu
ventilasi, difusi gas, dan transportasi gas.
1.

Ventilasi ventilasi

Ventilasi ventilasi merupakan proses keluar dan masuknya oksigen dari


atmosfir kedalam alveoli atau dari alveoli kedalam atmosfir. Proses ventilasi
dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

adanya perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru.


adanya kemampuan torak dan paru pada alveoli dalam melaksanakan
ekspansi atau kembang kempis.
adanya jalan napas yang dimulai dari hidung hingga alveoli yang terdiri atas
berbagai otot polos yang kerjaya sangat dipengaruhi oleh sistem saraf
otonom.
Reflek batuk dan muntah.
Adanya peran mukus siliaris sebagai barier atau pengkal benda asing yang
mengandung interveron dan dapat mengikat virus.

Pengaruh proses ventilasi selanjutnya adalah complience dan recoil.


Complience merupakan kemampuan paru untuk mengembang, kemampuan ini
dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu :
a.
b.

Adanya surfaktan yang terdapat pada lapisan alveoli yang berfungsi


menurunkan tegangan permukaan.
Adanya sisa udara yang menyebabkan tidak terjadinya kolaps serta gangguan
torak.

Sedangkan recoil adalah kemampuan mengeluarkan CO2 atau kontraksi


penyempitan paru. Puat pernapasan yaitu medulla oblongata dan pons, dapat
mempengaruhi proses ventilasi karena CO2 memiliki kemampuan pusat
pernapasan. (Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 5)
2.

Difusi Gas

Difusi gas merupakan pertukaran antara oksigen dialveoli dengan kapiler


paru dan CO2 dikapiler dengan alveoli. Proses pertukaran ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.

Luasnya permukaan paru.


Tebal membran respirasi/permiabilitas yang terdiri atas epitel alveoli dan
interstisial.
Perbedaan tekanan dan kosentrasi O2.
pCO2 dalam arteri pulmonalis akan berdifusi kedalam alveoli
afinitas gas (kemampuan menembus dan saling mengikat hemoglobin).
(Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 6)

3.

Transportasi Gas

Transportasi gas merupakan proses pendistribusian oksigen kapiler ke


jaringan tubuh dan CO2 pada jaringan tubuh ke kepiler. Pada proses transportasi,
oksigen akan berikatan dengan Hb membentuk Oksihemoglobin (97%) dan
larutan dalam plasma (3%), sedangakn CO2 akan berikatan dengan Hb
membentuk karbominohemoglobin (30%), larutan dalam plasma (5%), dan
sebagian menjadi HCO3 yang berada dalam darah (65%).
Tansportasi gas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.
VII;
a.

Curah jantung (kardiak out put).


Kondisi pembuluh darah.
Latihan (exercise).
Perbandingan sel darah dengan darah secara keseluruhan (hematokrit).
Eritrosit dan kadar Hb.
(Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 6)
Faktor Yang Mempengaruhi Pernapasan Dalam Proses Oksigenasi
Saraf Otonomik

Rangsangan simpatis dan parasimpatis dari saraf otonomik dapat


memengaruhi kemampuan untuk dilatasi dan kontriksi, hal ini dapat terlihat
simpatis maupun parasimpatis. (Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 7)
b.

Hormon dan Obat

Semua hormon termasuk derivat catecholamine dapat melebarkan saluran


pernapasan. Obat yang tergolong parasimpatis, seprti sulfas atropin dan ekstrak
belladona, dapat melebarkan saluran napas, sedangkan obat yang menghambat
adrenergik tipe beta (khususnys beta-2), seperti obat yang tergolong penyakat beta
nonselektif, dapat mempersempit saluran napas (bronkhokontriksi). (Pengantar
Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 7)
c.

Alergi pada Saluran Napas

Banyak faktor yang dapat menimbulkan alergi, antara lain debu yang
terdapat dalam hawa pernapasan, bulu binatang, serbuk benang sari bunga, kapuk,
makanan, dan lain-lain. Faktor-faktor ini menyababkan bersin bila terdapat
rangsangan didaerah nasal; batuk bila disaluran pernapasan bagian atas;
bronkhokontriksi pada asma bronkiale; dan rhinitis bila terdapat disaluran
pernapasan bagian bawah. (Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 8)

d.

Perkembangan

Tahap perkembangan anak dapat memengaruhi jumlah kebutuhan


oksigenasi, karena usia organ dalam tubuh berkembang seiring usia
perkembangan. Hal ini dapat terlihat pada bayi usia prematur, yaitu adanya
kecenderungan kekurangan pembentukan sukfaktan. Setelah anak tumbuh dewasa,
kemampuan kematangan organ juga berkembang seiring dengan bertambahnya
usia. (Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 8)
e.

Lingkungan

Kondisi lingkungan dapat memengaruhi kebutuhan oksigenasi, seperti


faktor alergi, ketinggian tanah, dan suhu. Kondisi tersebut memengaruhi
kemampuan adatasi. (Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 8)
f.

Perilaku

Faktor perilaku yang dapat memengaruhi kebutuhan oksigenasi adalah


perilaku dalam mengonsumsi makanan (status nutrisi). Sebagai contoh,
obesitasdapat memengaruhiproses perkembangan paru, aktivitas dapat
memengaruhi proses peningkatan kebutuhan oksigenasi, merokok dapat
menyebabkan proses penyempitan pada pembuluh darah, dan lain-lain.
(Pengantar Kebutuhan Dasar Mnusia 2, hal 8)

BAB III
PEMBAHASAN
Dari berbagai sumber yang kami dapatkan ini merupakan pentunjuk akan
penerapan Asuhan Keperawatan, sebagai paramedis dalam memenuhi Kebutuhan
Oksigenasi Pasien yang Gawat Darurat karena berbagai masalah yang
diakhibatkan kekurangan pemenuhan O2 pasien. Dalam hal ini kami menjabarkan
tema ini, agar bisa memberikan informasi yang dapat dijadikan pedoman,yang
dapat dipercaya sehingga bisa digunakan untuk menambah wawasan tentang
Kebutuhan Oksigenasi.
A; Pengkajian Keperawataan
Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang :
1.
Biodata pasien (umur, sex, pekerjaan, pendidikan).
Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien baik secara
fisik maupun psikologis, jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk
mengetahui hubungan dan pengaruhnya terhadap terjadinya masalah/penyakit,
dan tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien tentang
masalahnya/penyakitnya.
2.
Keluhan utama dan riwayat keluhan utama (PQRST)
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu oleh
klien pada saat perawat mengkaji, dan pengkajian tentang riwayat keluhan utama
seharusnya mengandung unsur PQRST (Paliatif/Provokatif, Quality, Regio, Skala,
dan Time).
3.
a.
b.
c.
d.
e.

Riwayat perkembangan
Neonatus : 30 - 60 x/mnt.
Bayi : 44 x/mnt.
Anak : 20 - 25 x/mnt.
Dewasa : 15 - 20 x/mnt.
Dewasa tua : volume residu meningkat, kapasitas vital menurun.

4.

Riwayat kesehatan keluarga


Dalam hal ini perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang mengalami
masalah / penyakit yang sama.
5.
Riwayat social
Perlu dikaji kebiasaan-kebiasaan klien dan keluarganya, misalnya :
merokok, pekerjaan, rekreasi, keadaan lingkungan, faktor-faktor alergen dan lainlain.
6.
Riwayat psikologis
Disini perawat perlu mengetahui tentang :
a. Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya.
b. Pengaruh sakit terhadap cara hidup.
c. Perasaan klien terhadap sakit dan therapy.
d. Perilaku / tanggapan keluarga terhadap masalah/penyakit dan therapy.
7.

Riwayat spiritual

Menjelaskan tentang Agama (kepercayaan yang dianut oleh pasien)


8.
a.

Pemeriksaan fisik
Hidung dan sinus
Inspeksi
: cuping hidung, deviasi septum, perforasi, mukosa (warna,
bengkak, eksudat, darah), kesimetrisan hidung.
Palpasi
: sinus frontalis, sinus maksilaris

b. Faring
Inspeksi

: Warna, simetris, eksudat ulserasi, bengkak

c. Trakhea
Palpasi
: Dengan cara berdiri disamping kanan pasien, letakkan jari
tengah pada bagian bawah trakhea dan raba trakhea ke atas, ke bawah dan ke
samping sehingga kedudukan trakhea dapat diketahui.
d.

Thoraks
Inspeksi :
1) Postur, bervariasi misalnya pasien dengan masalah pernapasan kronis
klavikulanya menjadi elevasi ke atas.
2)

Bentuk dada, pada bayi berbeda dengan orang dewasa. Dada bayi berbentuk
bulat/melingkar dengan diameter antero-posterior sama dengan diameter
tranversal (1 : 1). Pada orang dewasa perbandingan diameter antero-posterior
dan tranversal adalah 1 : 2 Beberapa kelainan bentuk dada diantaranya :
Pigeon chest yaitu bentuk dada yang ditandai dengan diameter tranversal
sempit, diameter antero-posterior membesar dan sternum sangat menonjol ke
depan. Funnel chest merupakan kelainan bawaan dengan ciri-ciri berlawanan
dengan pigeon chest, yaitu sternum menyempit ke dalam dan diameter anteroposterior mengecil. Barrel chest ditandai dengan diameter antero-posterior
dan tranversal sama atau perbandingannya 1 : 1. Kelainan tulang belakang
diantaranya : Kiposis atau bungkuk dimana punggung melengkung/cembung
ke belakang. Lordosis yaitu dada membusung ke depan atau punggung
berbentuk cekung. Skoliosis yaitu tergeliatnya tulang belakang ke salah satu
sisi.

3)

Pola napas, dalam hal ini perlu dikaji kecepatan/frekuensi pernapasan


apakah pernapasan klien eupnea yaitu pernapasan normal dimana kecepatan
16 - 24 x/mnt, klien tenang, diam dan tidak butuh tenaga untuk
melakukannya, atau tachipnea yaitu pernapasan yang cepat, frekuensinya
lebih dari 24 x/mnt, atau bradipnea yaitu pernapasan yang lambat,
frekuensinya kurang dari 16 x/mnt, ataukah apnea yaitu keadaan terhentinya
pernapasan.
Perlu juga dikaji volume pernapasan apakah hiperventilasi yaitu
bertambahnya jumlah udara dalam paru-paru yang ditandai dengan
pernapasan yang dalam dan panjang ataukah hipoventilasi yaitu
berkurangnya udara dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan yang

lambat. Perlu juga dikaji sifat pernapasan apakah klien menggunakan


pernapasan dada yaitu pernapasan yang ditandai dengan pengembangan
dada, ataukah pernapasan perut yaitu pernapasan yang ditandai dengan
pengembangan perut. Perlu juga dikaji ritme/irama pernapasan yang secara
normal adalah reguler atau irreguler, ataukah klien mengalami pernapasan
cheyne stokes yaitu pernapasan yang cepat kemudian menjadi lambat dan
kadang diselingi apnea, atau pernapasan kusmaul yaitu pernapasan yang
cepat dan dalam, atau pernapasan biot yaitu pernapasan yang ritme maupun
amplitodunya tidak teratur dan diselingi periode apnea. Perlu juga dikaji
kesulitan bernapas klien, apakah dispnea yaitu sesak napas yang menetap
dan kebutuhan oksigen tidak terpenuhi, ataukah ortopnea yaitu kemampuan
bernapas hanya bila dalam posisi duduk atau berdiri. Perlu juga dikaji bunyi
napas, dalam hal ini perlu dikaji adanya stertor/mendengkur yang terjadi
karena adanya obstruksi jalan napas bagian atas, atau stidor yaitu bunyi
yang kering dan nyaring dan didengar saat inspirasi, atau wheezing yaitu
bunyi napas seperti orang bersiul, atau rales yaitu bunyi yang mendesak atau
bergelembung dan didengar saat inspirasi, ataukah ronchi yaitu bunyi napas
yang kasar dan kering serta di dengar saat ekspirasi.
Perlu juga dikaji batuk dan sekresinya, apakah klien mengalami batuk produktif
yaitu batuk yang diikuti oleh sekresi, atau batuk non produktif yaitu batuk kering
dan keras tanpa sekresi, ataukah hemoptue yaitu batuk yang mengeluarkan darah.
4) Status sirkulasi, dalam hal ini perlu dikaji heart rate/denyut nadi apakah
takhikardi yaitu denyut nadi lebih dari 100 x/mnt, ataukah bradikhardi yaitu
denyut nadi kurang dari 60 x/mnt.
Juga perlu dikaji tekanan darah apakah hipertensi yaitu tekanan darah arteri
yang tinggi, ataukah hipotensi yaitu tekanan darah arteri yang rendah. Juga
perlu dikaji tentang oksigenasi pasien apakah terjadi anoxia yaitu suatu
keadaan dengan jumlah oksigen dalam jaringan kurang, atau hipoxemia yaitu
suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam darah kurang, atau hipoxia yaitu
berkurangnya persediaan oksigen dalam jaringan akibat kelainan internal atau
eksternal, atau cianosis yaitu warna kebiru-biruan pada mukosa membran,
kuku atau kulit akibat deoksigenasi yang berlebihan dari Hb, ataukah
clubbing finger yaitu membesarnya jari-jari tangan akibat kekurangan
oksigen dalam waktu yang lama.
Palpasi
: Untuk mengkaji keadaan kulit pada dinding dada, nyeri tekan,
massa, peradangan, kesimetrisan ekspansi dan taktil vremitus.
Taktil vremitus adalah vibrasi yang dapat dihantarkan melalui sistem
bronkhopulmonal selama seseorang berbicara. Normalnya getaran lebih terasa
pada apeks paru dan dinding dada kanan karena bronkhus kanan lebih besar. Pada
pria lebih mudah terasa karena suara pria besar.
B; Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada pasien dengan gangguan
pemenuhan kebutuhan oksigenasi diantaranya adalah :
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif.
2. Pola napas tidak efektif.
3. Gangguan pertukaran gas.
4. Penurunan kardiak output.

5.
6.
7.
8.
9.
10.

Rasa berduka.
Koping tidak efektif.
Perubahan rasa nyaman.
Potensial/Resiko infeksi.
Interaksi sosial terganggu.
Intoleransi aktifitas, dll sesuai respon klien

1.

Bersihan jalan napas tidak efektif

Yaitu tertumpuknya sekresi atau adanya obstruksi pada saluran napas.


Tanda-tandanya:
a.
b.
c.
d.
e.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
2.

Bunyi napas yang abnormal.


Batuk produktif atau non produktif.
Cianosis.
Dispnea.
Perubahan kecepatan dan kedalaman pernapasan.
Kemungkinan faktor penyebab :
Sekresi yang kental atau benda asing yang menyebabkan obstruksi.
Kecelakaan atau trauma (trakheostomi).
Nyeri abdomen atau nyeri dada yang mengurangi pergerakan dada.
Obat-obat yang menekan refleks batuk dan pusat pernapasan.
Hilangnya kesadaran akibat anasthesi.
Hidrasi yang tidak adekuat, pembentukan sekresi yang kental dan sulit untuk
di expektoran.
Immobilisasi.
Penyakit paru menahun yang memudahkan penumpukan sekresi.
Pola napas tidak efektif

Yaitu respon pasien terhadap respirasi dengan jumlah suplay O2 kejaringan


tidak adekatu.
Tanda-tandanya :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
a.
b.

Dispnea.
Peningkatan kecepatan pernapasan.
Napas dangkal atau lambat.
Retraksi dada.
Pembesaran jari (clubbing finger).
Pernapasan melalui mulut.
Penambahan diameter antero-posterior.
Cianosis, flail chest, ortopnea.
Vomitus.
Ekspansi paru tidak simetris.
Kemungkinan faktor penyebab :
Tidak adekuatnya pengembangan paru akibat immobilisasi, obesitas, nyeri.
Gangguan neuromuskuler seperti : tetraplegia, trauma kepala, keracunan obat
anasthesi.

c.
d.
e.
f.
g.
3.

Gangguan muskuloskeletal seperti : fraktur dada, trauma yang menyebabkan


kolaps paru.
CPPO seperti : empisema, obstruksi bronchial, distensi alveoli.
Hipoventilasi akibat kecemasan yang tinggi.
Obstruksi jalan napas seperti : infeksi akut atau alergi yang menyebabkan
spasme bronchial atau oedema.
Penimbunan CO2 akibat penyakit paru.
Gangguan pertukaran gas

Yaitu perubahan asam basa darah sehingga terjadi asidosis respiratori dan
alkalosis respiratori.
4.

Penurunan kardiak output

Tanda-tandanya :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
a.
b.
c.
d.

Kardiak aritmia.
Tekanan darah bervariasi.
Takikhardia atau bradikhardia.
Cianosis atau pucat.
Kelemahan, vatigue.
Distensi vena jugularis.
Output urine berkurang.
Oedema.
Masalah pernapasan (ortopnea, dispnea, napas pendek, rales dan batuk)
Kemungkinan penyebab :
Disfungsi kardiak output akibat penyakit arteri koroner, penyakit jantung.
Berkurangnya volume darah akibat perdarahan, dehidrasi, reaksi alergi dan
reaksi kegagalan jantung.
Cardiak arrest akibat gangguan elektrolit.
Ketidakseimbangan elektrolit seperti kelebihan potassiom dalam darah.
C; Intervensi Keperawatan

1.

Mempertahankan terbukanya jalan napas

a.
Pemasangan jalan napas buatan Jalan napas buatan (artificial
airway) adalah suatu alat pipa (tube) yang dimasukkan ke dalam mulut atau
hidung sampai pada tingkat ke-2 dan ke-3 dari lingkaran trakhea untuk
memfasilitasi ventilasi dan atau pembuangan sekresi.
Rute pemasangan :
1)
2)
3)

Orotrakheal : mulut dan trachea.


Nasotrakheal : hidung dan trachea.
Trakheostomi : tube dimasukkan ke dalam trakhea melalui suatu insisi yang
diciptakan pada lingkaran kartilago ke-2 atau ke-3.
4) Intubasi endotrakheal

b.
Latihan napas dalam dan batuk efektif
Biasanya dilakukan pada pasien yang bedrest atau post operasi
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Cara kerja :
Pasien dalam posisi duduk atau baring.
Letakkan tangan di atas dada.
Tarik napas perlahan melalui hidung sampai dada mengembang.
Tahan napas untuk beberapa detik.
Keluarkan napas secara perlahan melalui mulut dampai dada berkontraksi.
Ulangi langkah ke-3 sampai ke-5 sebanyak 2-3 kali.
Tarik napas dalam melalui hidung kemudian tahan untuk beberapa detik lalu
keluarkan secara cepat disertai batuk yang bersuara.
Ulangi sesuai kemampuan pasien.
Pada pasien pot op. Perawat meletakkan telapak tangan atau bantal pada
daerah bekas operasi dan menekannya secara perlahan ketika pasien batuk,
untuk menghindari terbukanya luka insisi dan mengurangi nyeri.

c.
Posisi yang baik
1) Posisi semi fowler atau high fowler memungkinkan pengembangan paru
maksimal karena isi abdomen tidak menekan diafragma
2) Normalnya ventilasi yang adekuat dapat dipertahankan melalui perubahan
posisi, ambulasi dan latihan.
d.
Pengisapan lendir (suctioning)
Adalah suatu metode untuk melepaskan sekresi yang berlebihan pada jalan
napas, suction dapat dilakukan pada oral, nasopharingeal, trakheal, endotrakheal
atau trakheostomi tube.
e.
Pemberian obat bronchodilator
Adalah obat untuk melebarkan jalan napas dengan melawan oedema
mukosa bronkhus dan spasme otot dan mengurangi obstruksi dan meningkatkan
pertukaran udara. Obat ini dapat diberikan peroral, sub kutan, intra vena, rektal
dan nebulisasi atau menghisap atau menyemprotkan obat ke dalam saluran napas.
2.

Mobilisasi sekresi paru

a.
Hidrasi
Cairan diberikan 2secara oral dengan cara menganjurkan pasien
mengkonsumsi cairan yang banyak - 2,5 liter perhari, tetapi dalam batas
kemampuan/cadangan jantung.
b.
Humidifikasi
Pengisapan uap panas untuk membantu mengencerkan atau melarutkan lendir.
c.
Postural drainage
Adalah posisi khuus yang digunakan agar kekuatan gravitasi dapat
membantu di dalam pelepasan sekresi bronkhial dari bronkhiolus yang bersarang

di dalam bronkhus dan trakhea, dengan maksud supaya dapat membatukkan atau
dihisap sekresinya.
Biasanya dilakukan 2 - 4 kali sebelum makan dan sebelum tidur / istirahat.
Tekniknya :
1) Sebelum postural drainage, lakukan :
a)
Nebulisasi untuk mengalirkan secret.
b)
Perkusi sekitar 1 - 2 menit.
c)
Vibrasi 4 - 5 kali dalam satu periode.
2)
3.

Lakukan postural drainage, tergantung letak sekret dalam paru.


Mempertahankan dan meningkatkan pengembangan paru

a.
Latihan napas
Adalah teknik yang digunakan untuk menggantikan defisit pernapasan
melalui peningkatan efisiensi pernapasan yang bertujuan penghematan energi
melalui pengontrolan pernapasan
Jenis latihan napas :
1)
2)
3)
4)
5)

Pernapasan diafragma.
Pursed lips breathing.
Pernapasan sisi iga bawah.
Pernapasan iga dan lower back.
Pernapasan segmental.

b.
Pemasangan ventilasi mekanik
Adalah alat yang berfungsi sebagai pengganti tindakan pengaliran /
penghembusan udara ke ruang thoraks dan diafragma. Alat ini dapat
mempertahankan ventilasi secara otomatis dalam periode yang lama. Ada dua tipe
yaitu ventilasi tekanan negatif dan ventilasi tekanan positif.

c.
Pemasangan chest tube dan chest drainage
Chest tube drainage / intra pleural drainage digunakan setelah prosedur
thorakik, satu atau lebih chest kateter dibuat di rongga pleura melalui pembedahan
dinding dada dan dihubungkan ke sistem drainage.
Indikasinya pada trauma paru seperti : hemothoraks, pneumothoraks, open
pneumothoraks, flail chest.
Tujuannya :
a. Untuk melepaskan larutan, benda padat, udara dari rongga pleura atau rongga
thoraks dan rongga mediastinum.
b. Untuk mengembalikan ekspansi paru dan menata kembali fungsi normal
kardiorespirasi pada pasien pasca operasi, trauma dan kondisi medis dengan
membuat tekanan negatif dalam rongga pleura.
Tipenya :
a. The single bottle water seal system.
b. The two bottle water.

c.
4.

The three bottle water.


Mengurangi / mengoreksi hipoksia dan kompensasi tubuh akibat hipoksia

a.
b.
c.
d.
e.

Dengan pemberian O2 dapat melalui :


Nasal canule.
Bronkhopharingeal khateter.
Simple mask.
Aerosol mask / trakheostomy collars.
ETT (endo trakheal tube).

5.

Meningkatkan transportasi gas dan Cardiak Output

Dengan resusitasi jantung paru (RJP), yang mencakup tindakan ABC, yaitu :
A : Air way adalah mempertahankan kebersihan atau membebaskan jalan napas.
B : Breathing adalah pemberian napas buatan melalui mulut ke mulut atau mulut
ke hidung.
C : Circulation adalah memulai kompresi jantung atau memberikan sirkulasi
buatan.
a.
1)
2)
3)
4)

Jadi secara umum intervensi keperawatan mencakup di dalamnya :


Health promotion.
Ventilasi yang memadai.
Hindari rokok.
Pelindung / masker saat bekerja.
Hindari inhaler, tetes hidung, spray (yang dapat menekan nervus 1)

5)

Pakaian yang nyaman.

b.
1)
2)
3)
4)

Health restoration and maintenance


Mempertahankan jalan napas dengan upaya mengencerkan secret.
Teknik batuk dan postural drainage.
Suctioning.
Menghilangkan rasa takut dengan penjelasan, posisi fowler/semi fowler,
significant other.
Mengatur istirahat dan aktifitas dengan memberikan HE yang bermanfaat,
fasilitasi lingkungan, tingkatkan rasa nyaman, terapi yang sesuai, ROM.
Mengurangi usaha bernapas dengan ventilasi yang memeadai, pakaian tipis
dan hangat, hindari makan berlebih dan banyak mengandung gas, atur posisi.
Mempertahankan nutrisi dan hidrasi juga dengan oral hygiene dan makanan
yang mudah dikunyah dan dicerna.
Mempertahankan eliminasi dengan memberikan makanan berserat dan
ajarkan latihan.
Mencegah dan mengawasi potensial infeksi dengan menekankan prinsip
medikal asepsisi.
Terapi O2.
Terapi ventilasi.
Drainage dada.

5)
6)
7)
8)
9)
10)
11)
12)

D; Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi dan evaluasi
dilakukan sesuai tujuan dan kriteria termasuk di dalamnya evaluasi proses.
1.

Latihan Napas
Latihan napas merupakan cara bernapas untuk memperbaiki ventilasi
alveoli atau memelihara pertukaran gas, mencegah atelektaksis, meningkatkan
efisiensi batuk, dan mengurangi stres.
Prosedur Kerja :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Cuci tangan.
Jelaskan prosedur yang akan dilkukan.
Atur posisi (duduk atau tidur terlentang),
Anjurkan untuk mulai latihan dengan cara menarik napas melalui hidung
dengan mulut tertutup.
Anjurkan untuk menahan napas selama 1-1,5 detik,kemudian disusul dengan
menghembuskan napas melalui bibir dengan bentuk mulut mencucu atau
seperti orang meniup.
Cata respons yang terjadi.
Cuci tangan.

2.

Latihan Batuk Efektif


Latihan batuk efektif merupakan cara untuk melatih pasien yang tidak
memiliki kemampuan batuk secara efektif dengan tujuan untuk membersihkan
laring, trakea, dan bronkhus dari sekret atau benda asing dijalan napas.
Prosedur Kerja :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
3.

Cuci tangan.
Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
Atur posisi pasien dengan duduk ditepi tempat tidur membungkuk ke
depan.
Anjurkan untuk menarik napas secara pelan dan dalam dengan menggunakan
pernapasan diafragma.
Setelah itu tahan napas kurang lebih 2 detik.
Batukkan dua kali dengan mulut terbuka.
Istirahat.
Cacat respons yang terjadi.
Cuci tangan.

Pemberian Oksigen (O2)


Pemberian oksigen merupakan tidakan keperawatan dengan cara
memberikan oksigen ke dalam paru melalui saluran pernapasan dengan
menggunakan alat bantu oksigen. Pemberian oksigen pada pasien dapat dilakukan

dengan tiga cara, yaitu melalui kanula, nasal, dan masker dengan tujuan
memenuhi kebutuhan oksigen dan mencegah terjadinya hipoksia.
Alat dan Bahan :
1.
2.
3.

Tabung oksigen lengkapdengan flowmeter dan humidifier.


Nasal kateter, kanula, atau masker.
Vaselin atau jeli.
Prosedur Kerja :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Cuci tangan.
Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
Cek flowmeter dan humidifier.
Hidupkan tabung oksigen.
Atur pasien pada posisi semiflowler atau sesuai dengan kondisi pasien.
Berikan oksigen melalui kanula atau kateter.
Apabila menggunakan kateter, terlebih dulu ukur jarak hidung dengan
telinga, setelah itu beri jeli dan masukan.
Catat pemberian dan lakukan obsevasi.
Cuci tangan.

4.

Fisioterapi Dada
Fisioterapi dada merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan dengan
cara postural drainase, clapping, dan vibrating pada pasien dengan gangguan
sistem pernapasan. Tidakan ini lakukan dengan tujuan meningkatkan efisiensi
pada pernapasan dan membersihkan jalan napas.
Alat dan Bahan :
1.
2.
3.
4.

Pot sputum berisi desinfektan.


Kertas tisu.
Dua balok tempat tidur (untuk postural drainase).
Satu bantal (untuk postural drainase)
Prosedur Kerja :

1.
a.
b.
c.

Postural Drainase
Cuci tangan
Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
Miringkan tubuh pasien ke arah kiri (untuk membersihkan paru bagian
kanan).
Miringkan tubuh pasien ke arah kanan (untuk membersihkan paru bagian
kiri).
Miringkan tubuh pasien ke kiri dan tubuh bagian belakang kanan disokong
dengan satu bantal (untuk membersihkan bagian lobus tengah)
Lakukan postural drainase kurang lebih 10-15 menit.
Observasi tanda vital selama prosedur.
Setelah pelaksanaan postural drainase, lakukan clapping, vibrating, dan
suction.
Lakukan hingga lendir bersih.

d.
e.
f.
g.
h.
i.

j.
k.

Catat respons yang terjadi.


Cuci tangan.

2.
a.
b.
c.
d.

Clapping
Cuci tangan.
Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
Atur posisi pasien sesuai dengan kondisinya.
Lakukan clapping dengan cara kedua tangan perawat menepuk punggung
pasien secara bergantian untuk merangsang terjadinya batuk.
Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk menapung
pada pot sputum.
Lakukan hingga lendir bersih.
Catat respons yang terjadi.
Cuci tangan.

e.
f.
g.
h.
3.
a.
b.
c.
d.

e.
f.
g.
h.

Vibrating
Cuci tangan.
Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
Atur posisinya sesuai dengan kondisi pasien.
Lakukan vibrating denga cara anjurkan pasien untuk menarik naps dalam dan
mengeluarkannya dengan perlahan. Kedua tangan perawat diletakkan
dibagian atas samping depan cekungan iga, kemudian getarkan secara
perlahan, dan lakukan berkali-kali hingga pasien terbatuk.
Bila pasien sudah terbatuk, berhenti sebentar dan anjurkan untuk
menampungnya pada pot sputum.
Lakukan hingga lendir bersih.
Catat respons yang terjadi.
Cuci tangan.

4.

Penghisapan Lendir
Penghisapan lendir (suction) merupakan keperawatan yang dilakukan
pada pasien yang tidak mampu mengeluarkan sekret atau lendir sendiri.
Tindakan ini bertujuan membersihkan jalan napas dan memenuhi kebutuhan
oksigenasi.
Alat dan Bahan :

a.
b.
c.
d.
e.

Alat penghisap lendir dengan botol berisi larutan desinfektan.


Kateter penghisap lendir.
Pinset steril.
Sarung tangan steril.
Dua buah kom berisi larutan aquades atau NaCL 0,9% dan larutan
desinfektan.
Kasa steril.
Kertas tisu.
Prosedur kerja :

f.
g.
a.
b.

Cuci tangan.
Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.

c.
d.
e.
f.
g.

Atur pasien pada posisi terlentang dengan kepala miring kearah perawat.
Gunakan sarung tangan.
Hubungkan kateter penghisap dengan selang penghisap.
Hidupkan mesin penghisap.
Lakukan penghisapan lendir dengan memasukan kateter penghisap ke dalam
kom berisi aquades atau NaCL 0,9% untuk mencegah trauma mukosa.
h. Masukan kateter penghisap dalam keadaan tidak menghisap.
i.
Tarik dengan memutar kateter penghisap kurang dari 3-5 detik.
j.
Bilas kateter dengan aquades atau NaCL 0,9%.
k. Lakukan hingga lendir bersih.
l.
Cacat respons yang terjadi.
m. Cuci tangan.
E; Evaluasi keperawatan
Evaluasi terhadap masalah kebutuhan oksigen secara umum dapat di nilai
dari adanya kemampuan dalam :
1.

2.

3.

4.

Mempertahankan jalan nafas secara efektif yang di tunjukkan dengan


adanya kemampuan untuk bernafas, jalan nafas bersih , tidak ada
sumbatan, frekwensi, irama, dan kedalaman nafas normal, serta tidak di
temukan adanya tanda hipoksia.
Mempertahankan pola nafas secara efektif yang di tunjukkan dengan
adanya kemampuan untuk bernafas, frekwensi, irama, dan kedalaman
nafas normal, tidak di temukan adanya tanda hipoksia, serta kemampuan
paru berkembang dengan baik.
Mempertahankan pertukaran gas secara efektif yang di tunjukkan dengan
adanya kemampuan untuk bernafas, tidak di temukan dispnea pada usaha
nafas, inspirasi dan ekspirasi dalam batas normal, serta saturasi oksigen
dan pCO2 dalam keadaan normal.
Meningkatkan perfusi jaringan yang di tunjukkan dengan adanya
kemampuan pengisian kapiler, frekwensi, irama, kekuatan nadi dalam
batas normal, dan status hidrasi normal.

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
A; Simpulan
1.

Setiap kehidupan makhluk hidup termasuk manusia memerlukan oksigen.


kebutuhan oksigen ini tidak terpenuhi, maka manusia tidak akan bisa
melangsungkan hidupnya, karena pada dasarnya manusia yang hidup
didunia ini memerlukan zat makanan , oksigen, dan elektrolit. Dengan
demikian, oksigen dapat dikatakan sebagai suatu unsur dasar untuk
melangsungkan kehidupan.

2.

Berbagai dampak yang ditimbulkan kekurangan oksigen seperti


kelumpuhan organ-organ, ketidaksadaran otak, dan juga dapat
menimbulkan kematian. Oleh karena itu, banyak pula solusi yang bisa
diterapkan untuk mengatasi masalah dalam sistem pernapasan, khususnya
dalam kebutuhan oksigen.
B; Saran

1.
2.
3.

Semoga karya tulis ilmiah ini bermanfaat baagi pembaca dan bisa
menambah pengetahuan tentang masalah kebutuhan oksigenasi yang
banyak menjadi permasalahan didunia kesehatan.
Semoga karya tulis ilmiah kami ini, dapat dijadikan referensi bagi penulis
selanjutnya.
Diharapkan para pembaca bisa memberikan kami kritik dan saran untuk
dapat menjadikan kami lebih baik lagi dalam penulisan karya-karya kami
selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2009. Pengantar kebutuhan dasar manusia 2.


Jakarta: Salemba Medika.
Reeves, charlene J dkk. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
Salemba Medika.
Somantri, Irman. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Gangguan sistem Perpanasan. Jakarta: Salemba Medika.
Potter, Patricia A. 2005. Buku Ajar Fudamental Keperawatan: konsep,
proses, dan praktik. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Mutaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan
Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Somantri, Irman. 2008. Keperawatan medikal bedah Asuhan Keperawatan
pada Pasien dengan Gangguan sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba
Medika.