Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN
A. Judul Percobaan
Suhu Tubuh Manusia
B. Tujuan
1. Mempraktekkan penggunaan hermometer klinis.
2. Mengetahui suhu tubuh pada beberapa bagian tubuh.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Suhu tubuh adalah keseimbangan antara panas yang diperoleh dengan


panas yang hilang (Berman dkk., 2009). Suhu normal tubuh manusia berkisar

36,5C sampai 37C tapi, dalam kondisi tertentu suhu manusia bisa meningkat
yang tidak seperti biasanya. Tubuh dapat mengalami peningkatan suhu (Heat
Exhaustion) hingga mencapai 40C (Sherwood, 2001).
Daerah rectal seudah sejak dulu ditetapkan sebagai daerah yang reliable
dan mudah digunakan untuk mengukur suhu. Daerah ini memiliki suplai darah
yang baik terinsulasi dengan baik dan berkaitan erat dengan suhu inti. Daerah ini
cukup jauh dari inti suhu tubuh, tetapi responnya terhadap perubahan lebih lambat
daripada daerah lain (Johnson dan Taylor, 2005). Homeostasis merupakan suatu
bentuk mekanisme tubuh untuk menjaga kondisi fisiologis internal yang
konstan dalam waktu yang relatif singkat (Binol dkk., 2010). mekanisme
termoregulasi merupakan mekanisme untuk mempertahankan kondisi suhu
tubuhnya tetap normal (Pramono dkk., 2014).
Cara menurunkan panas tubuh antara lain, dengan melembabkan kulit
dengan air yang kemudian menguap dapat menambah efek pendinginan (James
dkk., 2002). Menurut Johnson dkk (2005), thermometer klinis bekerja dengan
prinsip bahwa air raksa yang berada di dalam kaca akan memuai akibat panas.
Terdapat 3 jenis thermometer raksa yaitu thermometer standar dengan skala 3543,4C, thermometer rectal dan thermometer suhu rendah dengan skala
pengukuran 25C dan 40C.
Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh manusia antara lain,
1. Umur, bayi baru lahir belum memiliki mekanisme pengaturan suhu tubuh
yang sempurna sehingga suhu tubuh bayi dipengaruhi dengan suhu
lingkungan dan harus dilindungi dari perubahan-perubahan suhu yang
ekstrim.
2. Jenis kelamin dapat mempengaruhi suhu tubuh. Contohnya, terdapat
peningkatan suhu tubuh sebesar 0,3C-0,5C pada wanita yang sedang
mengalami ovulasi, karena selama ovulasi terjadi peningkatan hormone
progesterone.
3. Aktivitas fisik dapat meningkatkan suhu tubuh. Olahraga dapat
meningkatkna metabolisme sel sehingga produksi panas pun meningkat
yang pada akhrirnya meningkatkan panas suhu tubuh.

4. Lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh seseorang. Lingkungan yang


suhunya panas dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh.
(Asmadi, 2008)
Faktor yang mempengaruhi pembentukan panas antara lain,
1. Lingkungan
2. Thermogenesis kimia adalah perangsang produksi panas melalui sirkulasi
norepineprin dan epineprin.
3. Aktivitas otot termasuk mengigil dapat memproduksi panas sebanyak 5
kali.
(Asmadi, 2008)

III.

METODE PENELITIAN

A. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain,
thermometer klinis dan stopwatch. Bahan yang digunakan dalam
percobaan ini adalah alkohol 70%, kapas dan air es.
B. Cara Kerja

Probandus diukur suhunya selama 10 menit pada fase axillaries


dengan posisi terlentang selama 10 menit. Suhu probandus diukur kembali
pada mulut tertutup selama 10 menit dengan posisi thermometer di bawa
lidah. Suhu tubuh probandus selanjutnya diukur lagi dengan posisi mulut
terbuka selama 5 dan 10 menit dengan posisi thermometer di atas lidah.
Suhu tubuh probandus diukur kembali dengan perlakuan probandus
berkumur air es selama 10 menit kemudian suhu diukur dengan posisi
thermometer diatas lidah dengan mulut tertutup.

IV.

HASIL dan PEMBAHASAN

Berdasarkan praktikum yang dilakukan diperoleh data suhu tubuh


sebagai berikut
Tabel 1. Hasil Pengukuran Suhu Tubuh

Fasa
Jenis

Mulut

axiallarie

kelamin

10 menit
36,8 C
36,8 C

tertutup

Mulut terbuka
5 menit

10 menit

Berkumu
r air es

10 menit
10 menit
37 C
37,3 C

36,6 C
36,7 C

36,7C
36,7 C

36,7 C
37,1C

Daerah rectal seudah sejak dulu ditetapkan sebagai daerah yang reliable
dan mudah digunakan untuk mengukur suhu. Daerah ini memiliki suplai darah
yang baik terinsulasi dengan baik dan berkaitan erat dengan suhu inti. Daerah ini
cukup jauh dari inti suhu tubuh, tetapi responnya terhadap perubahan lebih lambat
daripada daerah lain (Johnson dan Taylor, 2005). Homeostasis merupakan suatu
bentuk mekanisme tubuh untuk menjaga kondisi fisiologis internal yang
konstan dalam waktu yang relatif singkat (Binol dkk., 2010). mekanisme
termoregulasi merupakan mekanisme untuk mempertahankan kondisi suhu
tubuhnya tetap normal (Pramono dkk., 2014).
Probandus diukur suhunya selama 10 menit pada fasa axillaries dengan
posisi terlentang selama 10 menit. Suhu probandus diukur kembali pada mulut
tertutup selama 10 menit dengan posisi thermometer di bawa lidah. pengukuran
suhu dengan mulut tertutup bertujuan untuk mengetahui suhu probandus saat
dalam keadaan konstan, tidak dipengaruhi oleh suhu dari lingkungan. Suhu tubuh
probandus selanjutnya diukur lagi dengan posisi mulut terbuka selama 5 dan 10
menit dengan posisi thermometer di atas lidah.
Pengukuran suhu dengan mulut terbuka bertujuan untuk mengetahui
pengaruh lingkungan terhadap pengukuran suhu. Suhu tubuh probandus diukur
kembali dengan perlakuan probandus berkumur air es selama 10 menit kemudian
suhu diukur dengan posisi thermometer diatas lidah dengan mulut tertutup.
Perlakuan

ini

bertujuan

untuk

mengetahui

mekanisme

tubuh

dalam

mengembalikan suhu ke keadaan semula setelah keadaan tubuh menjadi dingin


karena berkumur air es.

Pada percobaan ini mendapatkan hasil (tabel 1) sebagai berikut,


pengukuran suhu pada bagian fasa axillaries probandus wanita memiliki suhu
badan sebesar 36,8 C dan pada probandus pria memiliki suhu tubuh sebesar
36,8C. Pada perlakuan mulut tertutup suhu probandus wanita sebesar 37C dan
suhu probadus pria sebesar 37,3C. Pada perlakuan mulut terbuka selama 5 menit
suhu probandus wanita sebesar 36,6C dan probandus pria sebesar 36,7C. Pada
perlakuan mulut terbuka selama 10 menit suhu probandus wanita sebesar 36,7C
dan probandus pria sebesar 36,7C. Pada perlakuan berkumur air es, suhu pada
probandus wanita sebesar 36,7C dan suhu pada probandus pria sebesar 37,1C.
Menurut Sherwood (2001) suhu normal seseorang sekitar 36,5C sampai
37C. Berdasarkan teori tersebut suhu tubuh baik probandus pria maupun wanita
berada dalam rentang suhu normal. Pada perlakuan berkumur air es probandus
pria mengalami kenaikan suhu, hal ini dapat disebabkan beberapa faktor antara
lain, mekanisme termoregulasi probandus pria yang sangat cepat, adanya
thermogenesis kimia yang memicu produksi panas sehingga suhu tubuh
probandus pria dengan cepatnya naik dan kesalahan dalam pembacaan skala
thermometer.
Suhu pada perlakuan mulut terbukan lebih rendah daripada pada mulut
tertutup karena adanya pengaruh dari lingkungan sehingga suhu tubuh dapat
berubah menjadi lebih rendah. Sedangkan saat pengukuran mulut tertutup terjadi
mekanisme vakum yang menyebabkan suhu tubuh di daerah mulut dapat
dipertahankan normal dan konstan sehingga tidak terpengaruh suhu lingkungan.

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan pengukuran suhu tubuh manusia yang dilakukan praktikan,


dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Cara penggunaan thermometer klinis dengan cara sterilisasi terlebih
dahulu kemudian diletakkan pada bagian yang ingin ditera suhunya.
2. Suhu probandus wanita pada fasa axillaries sebesar 36,8C; pada
mulut tertutup sebesar 37C; pada mulut terbuka selama 5 menit
sebesar 36,6C dan pada mulut terbuka selama 10 menit sebesar
36,7C; pada saat setelah berkumur air es sebesar 36,7C.
Suhu probandus pria pada fasa axillaries sebesar 36,8C; pada mulut
tertutup sebesar 37,3C; pada mulut terbuka selama 5 menit sebesar
36,7C dan pada mulut terbuka selama 10 menit sebesar 36,7C; pada
saat setelah berkumur air es sebesar 37,1C.

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan


Dasar Klien. Salemba Mediaka, Jakarta.
Berman, A., Snyder, S., Kozier, B., dan Erb G. 2009. Buku Ajar Praktik
Keperawatan Klinis Edisi 5. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Bino, R. M. F., Suprayogi, A. dan Darusman, H. S. 2010. Dinamika Profil
Hematologi dan Risio Netrofil: Limfosit Monyet Ekor Panjang (Macaca
facicularis) pada Pengaturan Mikroklimat Ruangan. Jurnal Ilmu
Pertanian Indonesia 15(2): 110-116.
James, J., Baker, C. dan Swain, H. 2002. Prinsip-Prinsip Sains untuk
Keperawatan. Erlangga, Jakarta.
Johnson, R dan Taylor, W. 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Pramono, H., Suharyati, S. dan Santosa, P. E. 2014. Respon Fisiologi Kambing
Boerawa Jantan Fase Pascasapih di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi.
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu 2(2): 11-15.
Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 5. Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.