Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini kehidupan manusia dengan cepat berubah dari waktu ke waktu.
Demikian juga dengan kehidupan anak/generasi muda, yang bahkan kadang-kadang
perubahan itu sangat kompleks. Di lain pihak dengan kemajuan di bidang
komunikasi (termasuk telekomunikasi ), melalui film, TV, radio, surat kabar,
telepon, komputer, internet, d1l. Anak-anak sekarang sudah lebih banyak
dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar.
Sehingga sekarang ini kehidupan kita senantiasa dibayangi oleh
perkembangan IPTEKS (baca: Ilmu, Teknologi dan Seni) dengan akselerasi laju
yang luar biasa, yang menyebabkan terjadinya ledakan informasi. Akibatnya
pengetahuan dalam bidang tertentu menjadi kadaluwarsa hanya dalam tempo kirakira 2,5 tahun.
Dari gambaran di atas kiranya jelas bahwa dunia yang dihadapi peserta didik
pada saat ini, sangat kompleks. Wajarlah jika secara periodik kurikulum senantiasa
harus selalu ditinjau kembali, dan senantiasa ada pembaharuan di bidang kurikulum.
Karena lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan
tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Sehingga Kurikulum ini dapat
mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan
pembelajaran secara menyeluruh.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk menjelaskan tentang proses
penciptaan alam, dimana tercakup dalam :
1. Untuk mengetahui karekteristik kurikulum 1994
2. Untuk mengetahui karekteristik kurikulum 2006 (KTSP)
3. Mampu membedakan kurikulum1994 dengan kurikulum 2006 (KTSP)

C. Rumusan Masalah
Untuk

mencapai

sasaran

penulisan

yang

lebih

terarah

dan

dapat

dipertanggungjawabkan, maka penulis membatasi permasalahan pada :


1. Menjelaskan karekteristik kurikulum 1994
2. Menjelaskan karekteristik kurikulum 2006 (KTSP)
3. Mengidentifikasi perbedaan kurikulum 1994 dengan kurikulum 2006 (KTSP)
D. Sistematika Penulisan
Sistematika pembahasan ini dibuat agar dapat memberikan gambaran secara
garis besar tentang masalah yang akan dibahas di dalam makalah ini. Untuk itu
makalah ini akan dibagi dalam 3 ( tiga ) bab, dan masing-masing bab akan terbagi lagi
atas beberapa subbab disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga antara bab yang satu
dengan bab yang lainnya tidaklah sama permasalahannya tetapi masih merupakan satu
rangkaian yang erat kaitannya.
Adapun garis besar dari masing-masing bab adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang penulisan, rumusan masalah,
tujuan masalah dan sistematika pembahasan.
BAB II : PEMBAHASAN
Dalam bab ini dijelaskan tentang hal yang akan dibahas berkaitan dengan
judul makalah.
BAB III : PENUTUP
Pada bab ini diuraikan tentang kesimpulan dari isi makalah serta saran.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Karakteristik kurikulum 1994


Ralph Tyler (1949) mengemukakan asas yang digunakan sebagai landasan
untuk pengembangan kurikulum yaitu azas filosofis yakni filsafat suatu bangsa. Bagi
bangsa Indonesia, azas filosofisnya adalah pancasila. Salah satu aliran filsafat adalah
perenialisme yang lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan
keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan
dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan
yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal
yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
Kurikulum 1994 sesuai dengan aliran filsafat perenialisme, karena pada kurikulum
1994 lebih fokus kepada aspek kognitif.
Kurikulum 1994 pada dasarnya dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum
1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu
pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan
sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap
diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi
pelajaran cukup banyak.
Pada kurikulum tahun 1994 model administratif disebut dengan model garis
staff atas ke bawah. Karena inisiatif dan gagasan datang dari pemerintah pusat. Jadi
pemerintah pusat yang menyusun kurikulum yang akan dijalankan oleh setiap satuan
pendidikan. Guru hanya sekedar menjalankan apa yang telah ditetapkan oleh
pemerintah.
Dalam kurikulum tahun 1994, materi pembelajaran mempunyai karakter yang
khas, struktur materi sudah disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak, materi
keahlian seperti komputer semakin mendalam, model-model pembelajaran kehidupan
disajikan dalam berbagai pokok bahasan. Pembelajaran saat itu mengedepankan
tekstual materi namun tidak melupakan hal-hal kontekstual yang berkaitan dengan
materi. Soal-soal menjadi sajian menarik disetiap akhir pokok bahasan, hal ini
diberikan dengan pertimbangan agar siswa mampu menyelesaikan permasalahan
kehidupan yang dihadapi sehari-hari.

Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di


antaranya sebagai berikut :
1. Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan
2. Pembelajaran di sekolah lebih berorientasi kepada materi pelajaran/isi, sehingga
materi pelajaran cukup padat
3. Memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia.
Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat
mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan
kebutuhan masyarakat sekitar.
Dalam pelaksanaan kegiatan, guru dapat memilih dan menggunakan strategi
yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.
Dalam mengaktifkan siswa, guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah
kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu
jawaban), dan penyelidikan.
Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan
kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga
diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada
pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan
soal dan pemecahan masalah. Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak,
dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang
komplek. Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk
pemantapan pemahaman siswa.
Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan,
terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi
(content oriented), di antaranya sebagai berikut :
1.

Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan
banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran

2.

Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat
perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan
aplikasi kehidupan sehari-hari

3.

Kegiatan belajar cenderung didalam kelas

4.

Proses pembelajaran bersifat klasikal dengan tujuan menguasai materi pelajaran,


guru sebagai pusat pembelajaran (sumber ilmu utama) metode menoton
(ceramah)

5.

Target pembelajaran pada penyampaian materi

6.

Evaluasi atau sistem penilaian menekankan pada kemampuan kognitif.


Keberhasilan siswa diukur dan dilaporkan atas dasar perolehan nilai yang dapat
diperbandingkan dengan nilai siswa lain. Ujian hanya menggunakan teknik paper
and pencil test.
B. Karakteristik kurikulum 2006 (KTSP)
Dalam standar nasional pendidikan (SNP pasal 1, ayat 15) dijelaskan bahwa
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masingmasing satuan pendidikan. Beberapa hal yang berhubungan dengan makna kurikulum
operasional:
1.

Dalam pengembangannya, KTSP tidak akan lepas dari ketetapan yang telah
disusun pemerintah secara nasional. Artinya, walaupun daerah diberi kewenangan

2.

itu hanya sebatas pada kewenangan operasional saja.


Sedangkan yang menjadi rujukannya itu sendiri ditentukan oleh pemerintah. Para

3.

pengembang KTSP dituntut harus memperhatikan ciri khas kedaerahan


Sebagai kurikulum operasional, para pengembang kurikulum di daerah memiliki

4.

keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum menjadi unit-unit pelajaran


Dalam menentukan media pembelajaran dalam menentukan evaluasi yang
dilakukan termasuk dalam menentukan beberapa kali pertemuan dan kapan suatu
topik materi harus di pelajari siswa agar kompetensi dasar yang telah ditentukan
dapat tercapai.

KTSP merupakan bentuk operasional pengembangan kurikulum dalam


konteks desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah, yang akan memberikan
wawasan baru terhadap sistem yang sedang berjalan selama ini. Hal ini diharapkan
dapat membawa dampak terhadap peningkatan efisiensi dan efektivitas kinerja
sekolah, khususnya dalam meingkatkan kualitas pembelajaran. Mengingat peserta
didik datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial, ekonomi,
mapun politik. Di sisi lain, sekolah juga harus meningkatkan efisiensi, partisipasi, dan
mutu, serta bertanggung jawab kepada masyarakat.
Karakteristik KTSP bisa diketahui antara lain dari bagaimana sekolah dan
satuan

pendidikan

dapat

mengoptimalkan

kinerja,

profesionalisme

tenaga

kependidikan, serta sistem penilaian. Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan


beberapa karakteristik KTSP antara lain :
1. Pemberian otonomi luas kepada sekolah dan satuan Pendidikan
KTSP memberikan otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan,
disertai seperangkat tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan
kondisi setempat. Sekolah dan satuan pendidikan juga diberi kewenangan dan
kekuasaan yang luas untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan peserta didik serta tuntutan masyarakat. Selain itu, sekolah dan satuan
pendidikan juga diberikan kewenangan untuk menggali dan mengelola sumber daya
sesuai dengan prioritas kebutuhan. Melalui otonomi yang luas, sekolah dapat
meningkatkan kinerja tenaga kependidikan dengan menawarkan partisipasi aktif
mereka dalam pengambilan keputusan dan tanggung jawab bersama dalam
pelaksanaan keputusan yang di ambil secara proporsinal dan profesinal.
2. Partisipasi masyarakat dan orang tua yang tinggi
Dalam KTSP, pelaksaan kurikulum didukung oleh partisipasi masyarakat dan
orang tua peserta didik yang tinggi. Orang tua peserta didik dan masyarakat tidak
hanya mendukung sekolah melalui komite sekolah dan dewan pendidikan
merumuskan seta mengembangkan program-program yang dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran. Masyarakat dan orang tua menjalin kerja sama untuk
membantu sekolah sebagai nara sumber pada berbagai kegiatan sekolah untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran.
3. Kepemimpinan yang demokratis dan profesionalis
6

Dalam KTSP, pengembangan dan pelaksanaan kurikulum didukung oleh


adanya kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional. Kepala sekolah dan
guru-guru sebagai tenaga pelaksana kurikulum merupakan orang-orang yang memiliki
kemampuan dan integritas profesional. Kepala sekolah adalah manajer pendidikan
profesional direkrut komite sekolah untuk mengelola segala kegiatan sekolah
berdasarkan kebijakan yang ditetapkan. Guru-guru yang direkrut oleh sekolah adalah
pendidik profesional dalam bidangnya masing-masing, sehingga mereka bekerja
berdasarkan pola kinerja profesional yang disepakati bersama untuk memberi
kemudahan dan mendukung bersama untuk memberi kemudahan dan mendukung
keberhasilan pembelajaran peserta didik. Dalam proses pengambilan keputusan,
kepala sekolah mengimplementasikan proses bottom-up secara demokratis,
sehingga semua pihak memiliki tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil
beserta pelaksanaanya.
4. Team-kerja yang kompak dan transparan
Dalam KTSP, keberhasilan menghasilkan pengembangan kurikulum dan
pembelajaran didukung oleh kinerja team yang kompak dan transparan dari berbagai
pihak yang terlibat dalam pendidikan. Dalam dewan pendidikan dan komite sekolah
misalnya, pihak-pihak yang terlibat bekerja sama secara harmonis sesuai dengan
posisinya masing-masing untuk mewujudkan suatu sekolah yang dapat dibanggakan
oleh semua pihak. Mereka tidak saling menunjukkan kuasa atau paling berjasa, tetapi
masing-masing berkontribusi terhadap upaya peningkatan mutu dan kinerja sekolah
secara keseluruhan. Dalam pelaksanaan pembelajaran misalnya, pihak-pihak terkait
bekerja sama secara profesional untuk mencapai tujuan-tujuan atau target yang
disepakati bersama. Dengan demikian, keberhasilan KTSP merupakan hasil sinergi
(sinergetic effect) dari kolaborasi team yang kompak dan transparan. Dalam konsep
KTSP yang utuh kekuasaan yang dimiliki sekolah dan satuan pendidikan, terutama
mencakup

pengambilan

keputusan

tentang

pengembangan

kurikulum

dan

pembelajaran serta penilaian hasil belajar peserta didik.


5. Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan.

6. Mendorong guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk semakin
meningkatkan

kreativitasnya

dalam

penyelenggaraan

program-program

pendidikan.
7. KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan
mengembangkan mata pelajaran tertentu yang aksep tabel bagi kebutuhan siswa.
8. KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat dan memberatkan
kurang lebih 20%.
9.KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk
mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan.
Disamping beberapa karakteristik di atas, terdapat beberapa faktor penting
yang perlu diperhatikan dalam pengembangan KTSP, terutama berkaitan dengan
sistem informasi, serta sistem penghargaan dan hukuman.
1. Sistem informasi yang jelas dan transparan
Sekolah dan satuan pendidikan yang mengembangkan dan melaksanakan
KTSP perlu memiliki informasi yang jelas tentang program yang netral dan transparan
karena dari informasi tersebut seseorang akan mengetahui kondsi dan posisi sekolah.
Informasi ini diperlukan untuk monitoring, evaluasi, dan akuntabilitas pembelajaran.
Informasi yang amat penting utnuk dimiliki sekolah antara lain berkaitan dengan
kemampuan guru, prestasi peserta didik, sumber-sumber belajar, kepuasan orang tua
dan peserta didik, serta visi dan misi sekolah.
2. Sistem penghargaan dan hukuman
Sekolah dan satuan pendidikan yang mengembangkan dan melaksanakan
KTSP perlu menyusun sistem penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) bagi
warganya untuk mendorong kinerjanya. Sistem ini juga diharapkan dapat
meningkatkan motivasi dan produktivitas warga sekolah, khususnya orang yang
berkaitan dengan prestasi belajar peserta didik. Oleh karena itu, sistem penghargaan
dan hukuman yang dikembangkan harus bersifat proporsional, adil dan transparan.
C. Perbedaan Kurikulum 1994 dengan Kurikulum 2006
8

Setelah mengetahui karekteristik dari masing-masing kurikulum, maka kita dapat


membedakan aspek-aspek yang terdapat dari kedua kurikulum tersebut. Aspek-aspek
tersebut adalah :
ASPEK
1. Landasan Hukum

KURIKULUM 1994
Undang-Undang no. 2
tahun 1989 tentang

KURIKULUM 2006

Sisdiknas

Sistem Pendidikan
Nasional

UU No. 20/2003

PP No. 19/2005
SPN

Permendiknas No.
22/2006 Standar
Isi

Permendiknas No.
23/2006 Standar
Kompetensi
Lulusan

2. Implementasi/
Pelaksanaan Kurikulum

Semua aspek

Secara disentralisasi,

kurikulum ditentukan

sehingga pemerintah

oleh Departemen

dan masyarakat

(Pusat)

bersama-sama
menentukan standar

Perenialisme, karena

pendidikan
Liberalisme

3. Ideologi Pendidikan

pada kurikulum 1994

Pendidikan :

yang dianut

lebih fokus kepada

terciptanya SDM

aspek kognitif.

yang cerdas,
kompeten, profesional
dan kompetitif

4.Pendekatan

Berbasis konten

Berbasis
Kompetensi

Penguasaan ilmu
pengetahuan, yang
menekankan pada

Sehingga peserta
didik berada dalam
9

isi atau materi,

perkembangan yang

berupa

berkelanjutan dan

pengetahuan,

potensi-potensi

pemahaman,

berkembang

aplikasi, analisis,
sintesis, dan
evaluasi yang
diambil dari bidangbidang ilmu
pengetahuan
5. Struktur

Nama SMP diganti

mejadi SLTP (Sekolah

pelajaran untuk

Lanjutan Tingkat

Mulok dan Pengem-

Pertama) dan SMA

bangan diri untuk

diganti SMU

semua jenjang

(Sekolah Menengah

sekolah

Umum)

Mata pelajaran PSPB

(Misal TIK di SD)

program pengajaran
SD dan SLTP disusun

pelajaran

Ada perubahan
nama mata pelajaran

dalam 13 mata

Ada pengurangan
mata pelajaran

dihapus

Penambahan mata

KN dan IPS di SD
dipisah lagi

Program pengajaran
SMU disusun dalam
10 mata pelajaran

Ada perubahan
jumlah jam

Penjurusan SMA

pelajaran setiap

dilakukan di kelas II

mata pelajaran

yang dari program


IPA, program IPS,

10

6. Objektif

dan program Bahasa


Keutuhan Ilmu

Keutuhan Ilmu
pengetahuan,
pengalaman, serta
keaktifan siswa dalam

7. Struktur

Tatanan pohon ilmu

belajar
Competent

Tidak terici secara

Keutuhan

pengelompokkan
8. Kemampuan Berkarya

jelas

kompetensi

Guru merupakan

berkarya

kurikulum yang
menentukan segala

Guru sebagai

sesuatu yang terjadi di

fasilitator yang

dalam kelas

bertugas
mengkondisikan
lingkungan belajar

9. Hasil Pembelajaran

Menekankan pada
kemampuan kognitif

Dengan paper and


pencil test

Ditentukan pada
beberapa kali
pertemuan dan
kapan suatu topik
materi harus di

Acuan norma dan tes

pelajari siswa agar

obyektif

kompetensi dasar
yang telah
ditentukan dapat
tercapai

11

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perbedaan kurikulum 1994 dengan kurikulum 2006 yaitu, pada kurikulum
1994 tahapan pembagian pelajaran dengan sistem caturwulan sedangkan pada
kurikulum 2006 dengan sistem semester setahun dibagi menjadi dua tahapan.
Metode pembelajaran pada kurikulum 1994 lebih berorientasi pada penyampaian isi
materi dengan perantara guru sebagai sumber ilmu, dibandingkan dengan kurikulum
2006 yang lebih mementingkan ketercapaian tujuan belajar dan siswa disini
sangatlah berperan aktif dalam proses belajar mengajar.
B. Saran
Setelah kita mengetahui karekteristik dan perbedaan kedua
kurikulum

tersebut,

sebaiknya

kita

sebagai

calon

pendidik

dianjurkan untuk menerapkan kurikulum dengan baik dan benar


serta menjadikan kurikulum ini sebagai acuan proses belajar dan

12

mengajar dengan tepat. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi


semua orang khususnya untuk pemakalah dan pembaca.

13