Anda di halaman 1dari 2

ASSALAMUALAIKUM WR. WB.

INNA HAMDALILLAH NAH MATUHUU WANASTA INUHU WANAS TAGFIRUH. WANAUDUBILAHI MIN SYURURRI ANFUSINA WAMIN SAYIATI
AK MALINA. MAYAH DZILLAH FALA MUDILALAH. WALA YUDIL FALA HAADIYALAH. ASSHADU ALAA ILAHA ILALLOH WAHDAHU
LASYARIKALAH WA ASHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHUWAROSULUH. ALLAHUMA SOLIALA MUHAMMAD WA ALAALI MUHAMMAD.
AMABADU
Bapak-bapak & Ibu-ibu kaum muslimin yang dirohmati Allah.
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena pada sore ini kita masih tetap istiqomah menjalankan sholat ashar
secara berjamaah di mesjid ini. Sholawat dan salam juga senantiasa kita panjatkan kepada nabi kita Muhammad SAW, juga pada
keluarga maupun sahabatny dan mereka yang meniti jejaknya dengan baik hingga akhir zaman.
Bapak-bapak & Ibu-ibu kaum muslimin yang dirohmati Allah, kali ini kultum mengambil tema Rahasia dibalik Musibah.
dakwatuna.com Tidaklah Allah swt. menciptakan peristiwa, atau kejadian sesuatu yang sia-sia. Manusia dianjurkan untuk
merenung dan mengambil pelajaran dari berbagai macam peristiwa yang terjadi. Islam sangat mendorong umatnya untuk
menggunakan potensi yang Allah swt. berikan kepadanya; penglihatan, pendengaran, hati, panca indra yang lain agar difungsikan
untuk merenung hikmah dibalik peristiwa.

( 11)
11. Katakanlah: Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu. QS.
Al-Anam:11
Ayat yang senada seperti di atas sangatlah banyak dalam Al-Quran. Dengan redaksi yang beragam, tapi kesimpulannya adalah satu,
menggunakan pemberian Allah untuk merenung dan mengambil pelajaran yang sangat berharga dari berbagai peristiwa bencana
yang terjadi silih berganti ini. Ada beberapa rahasia dibalik musibah dan bencana yang selama ini terjadi bahwa:
Pertama, Allah Penentu Kehidupan, Dzat yang Maha Perkasa.
Bahwa dibalik kehidupan ini ada yang punya, ada yang mengatur. Dialah Allah Rabbul Izzah, Tuhan yang memiliki kemuliaan dan
keperkasaan. Di Genggaman-Nya lah semua kehidupan ini dikendalikan. Allah hanya butuh berkata Kun Fayakun, terjadi! maka
terjadilah. Allah memiliki nama-nama, di antaranya; Al-Khaliq Pencipta-, Al-Muhaimin Yang Mengatur-, Al-Muhyi Yang
Menghidupkan-, Al-Mumit Yang Mematikan-, Adh-Dhaar Yang Memberi Madharat-, An-Nafi Yang memberi Manfaat-, dst.
Manusia tidak bisa mengatur-atur. Manusia tidak mungkin bilang hai merapi, berhenti meletus dst, sebagaimana yang kita dengar
dari pusat ahli vulkanologi dan mitigasi bencana. Allah swt. punya kehendak-Nya sendiri, bahkan Kehendak itu sudah ditulis
semenjak zaman azali. Allah swt. berfirman:





( 22)
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul
Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Al-Hadid/57:22
Perhatikan potongan akhir ayat akhir di atas Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah
: :

Al-Hasan ketika menjelang mautnya berkata: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mentaqdirkan ajal, dan mentaqdirkan musibah,
mentaqdirkan kesehatan, mentaqdirkan ketaatan, mentaqdirkan kemaksiatan. Maka barangsiapa yang mengingkari taqdir, ia berarti
mengingkari Al-Quran. Barangsiapa mengingkari Al-Quran, sungguh ia berarti mengingkari kebenaran.
Kedua, Musibah Akibat Perbuatan Manusia
Musibah yang menimpa umat manusia adalah karena perbuatan mereka sendiri yang melanggar peraturan Allah, merusak ekosistem
kehidupan, banyak melakukan kemaksiatan dan dosa, tidak menjalankan perintah dan syariat-Nya.



( 30)

( 31)
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan
sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak
memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah. Syuro/42:30-31
Bukan karena ada unsur mistik, karena ini, karena itu, seperti karena bulan tertentu, karena hari tertentu dll. yang justeru merusak
aqidah umat. Bencana karena ulah manusia, dan itu atas kuasa Allah swt.
Ketiga, Pahala Tergantung Besarnya Musibah
:






Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya
jika Allah mencintai suatu kaum, Allah mengujinya. Maka barangsiapa ridha dengan ujian Allah, baginya ridha dari Allah-, sebaliknya,
siapa yang murka, maka baginya murka dari Allah-. HR. At-Tirmidzi
Karena itu, tidak perlu putus asa, jangan sampai menggadaikan aqidah dengan
Keempat, Musibah Dalam Rangka Tamhis (Seleksi)
Kehidupan ini bukan statis, tapi berputar. Ada yang baik ada yang buruk, ada yang berhasil ada yang juga gagal. Itu semua adalah
dalam rangka untuk menseleksi secara alamiah kualitas manusia, dan sebagai batu ujian; apakah ia lulus dengan predikat baik, lulus
dengan catatan, atau malah gagal dalam menjalani usjian tersebut.
( 11)
Dan Sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang
munafik. Al-Ankabut/29:11
Ketika menjelaskan ayat ini, Mujahid berkomentar: Manusia itu ada yang iman hanya di lisannya saja, maka ketika dia mendapatkan
ujian, berupa kehilangan harta atau jiwa, sebagian manusia dilanda fitnah goncang yang hebat- (Tafsir Al-Baghawi, Juz 6, Bab 11,
Hal. 235)
Kelima, Istirja atau Mengembalikan Semua kepada Allah
Pertam kali menghadapi musibah, hendaknya iman yang berbicara, bukan hawa nafsu yang protes. Karena seseorang ditentukan
oleh sikap pertama kalinya terhadap kejadian. Rasulullah saw. mengingatkan Sesungguhnya sabar itu ketika merespon kejadian
pertam kali. Selanjutnya berdoa kepada Allah swt. agar diberikan pahala atas musibah itu dan memperoleh ganti yang jauh lebih
baik.



Rasulullah saw. bersabda: Jika salah satu di antara kalian mendapatkan musibah, maka ucapkanlah; Sesungguhnya kami milik Allah
dan kami kembali kepada-Nya, Allahumma indaka ahtasibu mushibatii, fa ajirnii alaihaa waabdilnii bihaa khairan minhaa. Ya Allah

kepada-Mu saya ikhlaskan musibah yang menimpaku, maka berilah pahala kepadaku atas musibah ini, dan berilah saya ganti yang
jauh lebih baik darinya. Imam Muslim
Keenam, Musibah Menghapus Kesalahan dan Mengangkat Derajat
Inilah indahnya kehidupan bagi orang yang beriman. Ujian, bencana dan bala akan menggugurkan dosa-dosa dan sekaligus
mengangkat derajatnya. Tidak sia-sia, tegantung ia meresponnya. Dari Aisyah ra. ia mendengar Rasulullah saw. bersabda:



Tiada seorang mukmin yang tertusuk suatu duri atau bahkan yang jauh lebih sakit, kecuali Allah pasti akan menghapus kesalahan
dan mengangkat derajat. Imam Muslim
:


Rasulullah saw. bersabda: Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapatkan
kebaikan, ia bersyukur. Jika sedangkan memperoleh keburukan, ia bersabar, kedua-duanya baik baginya, itu tidak dimiliki kecuali oleh
orang mukmin. Sahih Ibnu Hibban
Ketujuh, Musibah sebagai Peringatan
Kejadian bencana bisa dimaknai 3 hal; Pertama sebagai siksa, jika itu menimpa orang-orang yang tidak beriman. Kedua sebagai
peringatan, jika menimpa orang-orang yang beriman tapi melakukan banyak dosa. Dan ketiga, sebagai sarana mengangkat derajat,
yaitu bagi orang yang beriman, hamba-hamba Allah swt.
Allah swt. berfirman:




( 46)

( 47)





( 48)


(49)
46. Katakanlah: Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah Tuhan
selain Allah yang Kuasa mengembalikannya kepadamu? perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda
kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).
47. Katakanlah: Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong, atau terang-terangan,
Maka Adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang yang zalim?
48. dan tidaklah Kami mengutus Para Rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa
yang beriman dan Mengadakan perbaikan, Maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.
49. dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik. QS. AlAnam: 46-49
Ketujuh, Musibah Menyempurnakan Iman


:


: :

: :
.
.
Rasulullah saw. bersabda: Tiada dianggap mukmin yang sempurna imannya orang yang tidak menganggap suatu bala sebagai
sebuah kenikmatan, dan suatu kemudahan sebagai musibah. Para sahabat bertanya: Bagaimana itu ya Rasulullah? Rasul menjawab;
Karena tiak menyertai balak itu kecuali adanya kemudahan. Demikian juga dengan kemudian itu akan disertai dengan musibah. AthTabrani.
Allah swt. berfirman:
( 5) ( 6) ( 7) ( 8)
5.Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. QS. Al-Insyirah:5-8.
Dibalik bencana ada hikmah, ada pelajaran, ada kebaikan. Mari kita renungkan, kita temukan rahasia di balik bencana yang selama ini
terjadi. Allahu alam

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2010/11/08/9875/rahasia-di-balik-musibah/#ixzz3qZdIfKQ2
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook