Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS KINERJA SUPPLIER DENGAN ANALYTIC NETWORK PROCESS (ANP) DAN

TECHNIQUE FOR ORDER PREFERENCE BY SIMILARITY TO IDEAL SOLUTION (TOPSIS)


DI PT. INTI LUHUR FUJA ABADI PASURUAN
Supplier Performance Analysis by Analytic Network Process (ANP) and Technique for Order
Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) in PT. Inti Luhur Fuja Abadi Pasuruan
Ratna Widyawati1)*, Panji Deoranto2), Masud Effendi2)
1) Alumni jurusan TIP2) staff pengajar jurusan TIP
Jurusan Teknologi Industri Pertanian- Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya
Jl. Veteran Malang 65145
*email : ratna.widyawati91@yahoo.com
ABSTRAK
PT Inti Luhur Fuja Abadi (ILUFA) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang
perikanan yang memproduksi ikan beku. Permasalahan yang terjadi di perusahaan terkait
dengan supplier adalah keterlambatan pengiriman bahan baku hingga 12 jam, jenis bahan baku
yang tidak konsisten, tidak terpenuhinya permintaan bahan baku dan kualitas bahan baku
yang sering di bawah standar. Pelaksanaan evaluasi kinerja supplier pada PT ILUFA dilakukan
berdasarkan beberapa kriteria dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Salah
satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur bobot kriteria adalah metode ANP. Bobot
kriteria perlu diketahui untuk dijadikan input dalam mendapatkan skor kinerja supplier dengan
metode TOPSIS. Hasil penelitian didapatkan bobot kriteria penilaian kinerja supplier adalah
price (0,28), quality (0,20), delivery (0,17), responsiveness (0,18), flexibility (0,08), dan sistem
komunikasi (0,08). Skor kinerja supplier dengan metode TOPSIS pada ikan kakap merah dari
yang tertinggi hingga terendah yaitu Supplier H (0,86), Supplier A (0,62), Supplier I (0,56),
Supplier Sa (0,54) dan Supplier Su (0,20). Skor kinerja ikan anggoli dari yang tertinggi hingga
terendah yaitu Supplier H(0,79), Supplier A (0,69), Supplier Sa (0,66), Supplier Su (0,42) dan
Supplier I (0,41). Skor kinerja ikan kerapu dari yang tertinggi hingga terendah yaitu supplier
H(0,66), supplier A (0,59), supplier I (0,54), supplier Sa (0,53) dan Supplier Su (0,27). Skor ratarata kinerja supplier berdasarkan ketiga ikan dari tertinggi hingga terendah adalah Supplier
H(0,77), Supplier A (0,63), Supplier Sa (0,57), Supplier I (0,50) dan Supplier Su (0,28).
Kata Kunci: Analisis Kinerja, ANP, Ikan, TOPSIS, Supplier
ABSTRACT
PT Inti Luhur Fuja Abadi (ILUFA) is a fisheries company that produces frozen fish. Problems
which occurred at the company is a delay in delivery of raw materials up to 12 hours, types of raw
materials that are not consistent, unfulfilled demand for raw materials and quality of raw materials which
are often substandard. Implementation of supplier performance evaluation at PT. ILUFA performed by
several criteria with the standards established by the company. One method which can be used to measure
the weight of the criteria is ANP. Weighting criteria need to know to be input to obtain supplier
performance score by TOPSIS. Results of suppliers performance weighted criteria are price (0.28),
quality (0.20), delivery (0.17), responsiveness (0.18), flexibility (0.08), and communication systems
(0.08). Supplier performance scores with TOPSIS method in the red snapper from the highest to the
lowest are H(0.86), A (0.62), I (0.56), Sa (0.54) and Su (0.20). Anggoli fish supplier performance scores
from highest to lowest are H(0.79), A (0.69), Sa (0.66), Su (0.42) and I (0.41). Grouper fish supplier
performance scores from highest to lowest, are H(0.66), A (0.59), I (0.54), Sa (0.53) and Su (0.27).
Average score of supplier performance based on the three fish from the highest to the lowest are H(0.77),
A (0.63), Sa (0.57), I (0.50) and Su (0,28).
Keywords : ANP, Fish, Performance Analysis, Supplier, TOPSIS

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kinerja supplier menjadi salah satu faktor
penting dalam supply chain karena merupakan
salah satu strategi perusahaan untuk dapat
bersaing dengan perusahaan lain dalam hal
kepuasan
konsumen
dan
juga
untuk
meningkatkan atau mempertahankan service level
perusahaan tersebut dalam memenuhi permintaan
konsumen. Penilaian supplier dilakukan sesuai
karakteristik dari masing-masing item yang akan
dipasok. Apabila supplier kurang responsif dalam
memenuhi permintaan maka akibat yang
ditimbulkan adalah terjadi stock out. Selain itu,
apabila lead time dari supplier panjang maka akan
timbul inventory cost yang cukup tinggi (Prabowo,
2013).
PT Inti Luhur Fuja Abadi (ILUFA) merupakan
perusahaan yang bergerak di bidang perikanan.
Jenis ikan yang diproduksi antar lain kakap merah,
anggoli, kerapu, ikan layur, gulama, jaket, bekutak,
tonang dan teri nasi. Jenis ikan yang sering
diproduksi karena jumlah permintaannya tinggi
adalah kakap merah, kerapu serta anggoli. Bahan
baku ini berasal dari Probolinggo, Lamongan,
Situbondo dan Pasuruan. Pengiriman bahan baku
dari supplier dalam satu bulan rata-rata pada
musim panen sebanyak 15 kali dengan lead time 1
hari. Musim panen tiap daerah tersebut berbeda
karena dipengaruhi oleh iklim daerah setempat
yang mempengaruhi waktu tanam dan waktu
panen ikan. Oleh karena itu, pemenuhan bahan
baku ikan pada PT ILUFA dipasok lebih dari satu
supplier.
Permasalahan yang terjadi di perusahaan
terkait dengan supplier
adalah keterlambatan
pengiriman bahan baku hingga 12 jam, jenis bahan
baku yang tidak konsisten, tidak terpenuhinya
permintaan bahan baku karena tidak tersedianya
bahan baku pada supplier dan kualitas bahan baku
yang sering dibawah standar. Keberadaan supplier
di PT ILUFA sangat penting untuk diperhatikan
karena supplier bertanggung jawab langsung
terhadap perusahaan dalam menyuplai bahan
baku. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi
terhadap kinerja supplier.
Pelaksanaan evaluasi kinerja supplier pada
PT ILUFA dilakukan berdasarkan beberapa
kriteria dengan standar yang telah ditetapkan oleh
perusahaan, baik untuk kriteria kualitas,
pengiriman, kemampuan merespon serta harga.
Kriteria - kriteria penilaian perlu dibobotkan
karena tingkat kepentingan tiap kriteria berbeda.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk
mengukur bobot kriteria serta menilai supplier
adalah dengan metode Analytic Network Process
(ANP). Metode ini digunakan karena dalam
penggunaannya terdapat defedency dan feedback
antara kriteria - kriteria yang digunakan.

Selain itu bobot kriteria perlu diketahui


untuk dijadikan input dalam mendapatkan skor
kinerja supplier dengan metode TOPSIS (Technique
for Order Preference by Similarity to Ideal Solution).
Skor tersebut perlu diketahui untuk memudahkan
dalam penentuan perangkingan kinerja supplier.
Menurut Mahmoodzadeh (2007), pendekatan
TOPSIS dipilih karena mampu melakukan
perangkingan
terhadap
alternatif
terpilih.
Alternatif terpilih yang terbaik tidak hanya
memiliki jarak terpendek dari solusi ideal positif,
tapi juga memiliki jarak terpanjang dari solusi
ideal negatif. Solusi ideal positif diartikan dengan
solusi yang memaksimalkan atribut keuntungan
(profit) dan meminimalkan atribut biaya (cost),
sedang solusi ideal negatif diartikan dengan solusi
yang meminimalkan atribut keuntungan (profit)
dan memaksimalkan biaya (cost).
Rumusan masalah
1. Bagaimana hasil tingkat kepentingan tiap
kriteria
penilaian
kinerja
supplier
menggunakan metode ANP (Analytic Network
Process) di PT ILUFA.
2. Bagaimana hasil skor penilaian kinerja untuk
perangkingan kinerja supplier dengan metode
TOPSIS (Technique for Order Preference by
Similarity to Ideal Solution) di PT ILUFA.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mendapatkan tingkat kepentingan tiap
kriteria
penilaian
kinerja
supplier
menggunakan metode ANP (Analytic
Network Process) di PT ILUFA.
2. Mendapatkan skor penilaian kinerja untuk
perangkingan kinerja supplier dengan
metode TOPSIS (Technique for Order
Preference by Similarity to Ideal Solution) di PT
ILUFA.
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah mengetahui
dan mengevaluasi kinerja supplier bahan baku
sehingga dapat membantu pihak perusahaan
khususnya dalam pemilihan supplier serta dapat
memberi masukan berkaitan dengan kinerja
selama ini untuk perbaikan di masa mendatang.
METODOLOGI
Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PT Inti
Luhur Fuja Abadi Pasuruan Jalan Cangkring KM 6
Beji pada bulan Mei 2013 hingga Juli 2013.
Pengolahan data dilakukan di Laboratorium
Komputasi dan Analisis Sistem. Jurusan Teknologi
Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian,
Universitas Brawijaya.

Batasan Masalah dan Asumsi


Penentuan batasan masalah dilakukan agar
pembahasan lebih fokus dan tidak melebar.
Batasan masalah dari penelitian ini adalah:
1. Supplier yang dievaluasi dibatasi pada
supplier ikan kakap merah, kerapu dan
anggoli yang telah bekerja sama dengan
perusahaan lebih dari 1 tahun.
2. Penilaian didasarkan pada hasil kerja nyata
supplier periode Januari 2012 hingga
Desember 2012
3. Kriteria yang digunakan dalam penilaian
adalah quality, price, delivery, flexibility,
responsiveness dan communication system.
Asumsi digunakan agar hasil penelitian sesuai
dengan sistem nyata. Asumsi yang digunakan
adalah manajemen yang terlibat langsung dalam
penelitian
ini
dianggap
mengetahui
dan
berkompetensi untuk menilai kinerja supplier serta
harga ikan stabil saat penelitian.
Elemen
yang
digunakan
dalam
penelitian adalah kriteria penilaian sedang
atributnya
adalah
subkriteria
penilaian.
Pengumpulan data dilakukan dengan 3 cara yaitu :
wawancara, catatan organisasi dan kuesioner.
Kuesioner diisi oleh responden ahli terdiri dari
kepala pabrik, kepala bagian pengadaan bahan
baku dan kepala Quality Assurance. Skala penilaian
yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Skala Penilaian
Intensitas
Definisi
Kepentingan
1
Sama Penting
3
Sedikit Lebih Penting
5
Lebih Penting
7
Sangat lebih penting
9
Mutlak lebih penting
2,4,6,8
Untuk kompromi antara
nilai diatas
Sumber : Bayazit (2006)

Pembobotan ANP menggunakan metode


perbandingan berpasangan antar dua
elemen dengan 9 (sembilan) skala hingga
semua elemen yang ada tercakup.
Pembobotan dilakukan pada seluruh
keterkaitan antar cluster dan antar node
yang memiliki lebih dari satu keterkaitan.
Untuk mendapatkan suatu nilai tertentu
dari semua nilai respon (multi responden)
dilakukan perhitungan rata-rata geometrik
yang secara sistematis dapat dituliskan
dalam persamaan :
Gij =
Dimana :
Gij = rata-rata geometrix pendapat gabungan
aij = nilai skala perbandingan antara kriteria
ke i dan ke j
m = jumlah responden
3) Penentuan Bobot Keterkaitan Antar Node
dan Cluster
Bobot prioritas keterkaitan didapatkan
dengan menghitung vektor prioritas (VP)
dengan rumus :
VP =
Dimana :
VP = vektor prioritas
aij = nilai skala perbandingan antara kriteria
ke i dan ke j
m = jumlah responden
n = jumlah matriks perbandingan suatu
kriteria
Setelah didapatkan vektor prioritas (VPi)
dilakukan
perhitungan
nilai
eigen
maksimum ( maks) dengan rumus :
max =
Vb =
Va = aij x vp
Dimana :
max = nilai eigen maksimum
vb
= vektor bobot
va
= vektor matriks
vp
= vektor prioritas
Untuk
mengukur
konsistensi
hasil
perbandingan berpasangan dilakukan nilai
CR, yaitu :
Consistecy Ratio (CR) =

Pengolahan Data
Analisis data menggunakan metode
Analytic Network Process (ANP) untuk memperoleh
bobot tiap kriteria. Langkah-langkah pembobotan
dengan metode ANP menurut Marimin (2004)
yaitu :
1) Tahap Pemodelan
Pemodelan dilakukan untuk menentukan
bobot prioritas pada seluruh keterkaitan
yang dibuat berdasarkan responden ahli
sesuai dengan kondisi lapang. Tahap
pemodelan terdiri dari beberapa langkah
yaitu menentukan cluster dan node yang
digunakan,
kemudian
menetukan
keterkaitan node didalam cluster (outer
dependence).
2) Tahap Pembobotan

Consistency Index (CI) =


Dimana :
RI
= random index
max
= nilai eigen maksimum
n
= jumlah matriks perbandingan suatu
kriteria
4) Tahap Cluster Matrix dan unweighted
supermatrix

Hasil bobot prioritas dari pembobotan


keterkaitan antar cluster disusun pada
cluster matrix. Supermatrix yang diperoleh
merupakan supermatrix yang terbobot
(weighted supermatrix).
5) Tahap Weighted Supermatrix
Nilai cluster matrix digunakan untuk
memberi bobot unweighted supermatrix.
Untuk mendapatkan weighted supermatrix
adalah dengan mengalikan nilai dari sel
cluster matrix dengan nilai disetiap sel
unweighted supermatrix.
6) Tahap limiting matrix
Setelah diperoleh weighted supermatrix,
langkah selanjutnya adalah mencari limiting
matrix untuk mendapatkan nilai prioritas
yang stabil. Limiting matrix diperoleh
dengan
cara
mengalikan
weighted
supermatrix dengan dirinya sendiri.
7) Tahap normalisasi limiting matrix
Nilai prioritas akhir didapatkan dari limiting
matrix, selanjutnya dilakukan normalisasi
berdasarkan kelompok sehingga total nilai
prioritas pada masing-masing kelompok
berjumlah satu.

matriks berdimensi (xij adalah nilai I dengan


alternatif dalam kriteria j)
Rij = xij / (
i = 1, , m ; j = 1,
,n
2. Membuat
matriks
keputusan
yang
ternormalisasi terbobot
Menentukan bobot untuk setiap kriteria wj
for j = 1,.. n.
Mengalikan setiap kolom dari matriks
keputusan yang dinormalisasi dengan
berat yang terkait. Dengan melakukan
perhitungan untuk nilai Vij tertimbang
sebagai berikut :
Vij = wij, i= 1, , m ; j=1, ,n
Dimana wj adalah bobot dari kriteria j
3. Menentukan solusi ideal positif (A+) dan
solusi ideal negatif (A-)
A* = (v1*,., vj*, , vn*)
A* = (v1*,., vj*, , vn*)
Vj +
dan Vj- adalah nilai normalisasi
terbobot terbaik dan terburuk dari semua
alternatif berdasarkan kriteria j. Dari
rumus diatas dapat dijelaskan J adalah set
dari atribut keuntungan dimana J+ adalah
set dari atribut biaya.
4. Menentukan jarak antara nilai setiap
alternatif dengan matriks solusi ideal
positif dan negatif
Melakukan
perhitungan
dengan
menggunakan metode perhitungan jarak
euclidean sebagai berikut :

Penilaian Kinerja Supplier


Penilaian dilakukan oleh penilai terhadap
kinerja supplier dengan skala penilaian. Supplier
ikan kakap merah, anggoli dan kerapu adalah
Hendrik, I, A, Su dan Sa. Kuesioner penilaian akan
diisi oleh atasan langsung dengan menandai
tanggapan yang paling sesuai untuk setiap kriteria.
Tanggapan-tanggapan penilai diberikan dengan
nilai numerik agar memungkinkan skor rata-rata
dihitung dan diperbandingkan dengan supplier
lainnya.

S i+ = (
S i+ = (
, i= 1, , m
5. Mengkalkulasi nilai preferensi setiap
alternatif terdekat dengan solusi ideal C1)
Ci* = Si- / (Si* + Si-) , I = 1,,m
6. Mengurutkan alternatif dari urutan kecil
ke besar Ci+ dan memilih altrnatif dengan
nilai Ci- maksimum

Metode Technique for Order Preference by


Similarity to Ideal Solution (TOPSIS)
TOPSIS yang merupakan alat pengambilan
keputusan teknik yang sesuai antara kualitatif dan
kuantitatif dengan pendekatan software Trptych
pada SDI Tools. SDI Tryptich v 3.10.395 merupakan
perangkat
lunak
yang
digunakan
untuk
melakukan analisa TOPSIS. Penggunaan software
ini terbukti menjadi cara yang efisien yang
memungkinkan berbagai skema pembobotan
untuk diterapkan dengan cepat dan mudah
(Sepehr, 2012).
Berikut langkah dalam metode TOPSIS, Cheng
Shiung Wu dalam Fridian (2012) :
1. Membuat
matriks
keputusan
yang
ternormalisasi.
Konversi
matriks
dengan
keputusan
alternatif m dan n kriteria untuk sebuah

HASIL DAN PEMBAHASAN


Profil Perusahaan
PT. Inti Luhur Fuja Abadi merupakan
perusahaan yang bergerak dalam bidang
pembekuan ikan dan jasa penyimpanan ikan beku.
Perusahaan ini berdiri pada tanggal 14 April 1988
dan mulai beroperasi pada tanggal 1 Januari 1990
dengan nama PT. Bumi Mas Indah yang
merupakan perusahaan Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMDN). Pada tanggal 28 Juli 1995
perusahaan berganti nama menjadi PT. Inti Luhur
Fuja Abadi (ILUFA) karena mengalami beberapa
kendala dalam pengoperasiannya. Perusahaan
tersebut mengganti hasil produksinya dengan
pembekuan ikan. PT ILUFA memiliki orientasi
hampir 100% untuk tujuan ekspor ke negaranegara Uni Eropa dengan nomor register (Approval

Number) 242.13B dan telah mendapat pengesahan


terhadap penerapan HACCP untuk produk produk Frozen Fillet Fish dan Frozen Whole Fish
dengan Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP)
memperoleh nilai A atau excelent dari Direktorat
Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Perikanan, Departemen Perikanan dan Kelautan.

perusahaan meliputi respon dalam menanggapi


keluhan dan perubahan permintaan bahan baku,
jangka waktu pembayaran yang ditawarkan
supplier, prosedur yang harus dilalui perusahaan
dalam mengajukan komplain kepada supplier serta
kemampuan memberikan informasi dengan jelas
terkait pemesanan dan pembelian bahan baku.
Kriteria fleksibilitas terdiri dari subkriteria
fleksibilitas terhadap fluktuasi harga, pemenuhan
perubahan volume pemesanan dan pemenuhan
perubahan kualitas pemesanan. Kriteria yang
sebelumnya belum digunakan oleh perusahaan
adalah kriteria sistem komunikasi, kriteria ini
menilai ketersediaan sistem komunikasi

Profil Supplier Ikan


Bahan baku yang dinilai dalam penelitian
meliputi ikan kakap merah, anggoli dan kerapu
yang diperoleh dari lima supplier yang berasal dari
daerah Probolinggo, Lamongan dan Situbondo.
Pemilihan ketiga ikan ini dikarenakan ketiga ikan
tersebut memiliki jumlah permintaan dari
konsumen yang tinggi, dimana jumlah permintaan
tertinggi hingga terendah dari 3 tahun terakhir
adalah kakap merah, kerapu, anggoli, layur,
gulama, lencam, jaket, teri nike dan bekhutak.
Pemilihan supplier dari Probolinggo, Lamongan
dan Situbondo dengan pertimbangan kedekatan
jarak dan dikarenakan daerah tersebut dikenal
sebagai salah satu daerah penghasil ikan kakap
merah, kerapu dan anggoli yang cukup besar di
Jawa Timur. Selain itu, pemilihan supplier dari
daerah yang sama diperlukan agar harga bahan
baku dapat lebih terkendali.

Pembobotan Kriteria dan Subkriteria


Penilaian kinerja supplier dilakukan
dengan melakukan pembobotan pada kriteria dan
subkriteria penilaian serta skor kinerja supplier
berdasarkan kriteria dan subkriteria tersebut. Hasil
bobot tiap kriteria dan subkriteria dapat dilihat
pada Tabel 2.
Tabel 2. Bobot Kriteria dan Subkriteria Penilaian

Kinerja Supplier
Kriteria dan Subkriteria Penilaian Supplier
Kriteria yang digunakan dalam penilaian
kinerja supplier di PT ILUFA pada penelitian ini
adalah quality, price, delivery, responsiveness,
flexibility dan sistem komunikasi. Selama ini pada
penelitian kinerja supplier di perusahaan hanya
menggunakan kriteria quality, price, delivery dan
responsiveness. Pada kriteria penilaian kualitas
meliputi kesesuaian kualitas bahan baku dan
kemampuan memberikan pasokan ikan dengan
kualitas yang konsisten. Kriteria price yang dinilai
perusahaan meliputi kriteria kesesuaian harga dari
supplier dengan standar harga yang ditetapkan
perusahaan serta kenaikan dan penurunan harga
ikan yang ditetapkan supplier. Menurut Nobar
(2011), harga bahan baku dan komponen
merupakan kriteria yang penting dalam memilih
supplier karena mempengaruhi biaya produk.
Kriteria delivery yang digunakan meliputi
beberapa subkriteria yaitu ketepatan waktu
kedatangan bahan baku terhadap jadwal yang
sudah
disepakati
dan
ketepatan
jumlah
pengiriman
bahan
baku
sesuai
pesanan
perusahaan. Menurut Vaniman dalam Azril (2009),
pengiriman yang baik oleh supplier sangat penting
karena dapat menurunkan persediaan dan
memudahkan
implementasi
just
in
time.
Keterlambatan
pengiriman
menyebabkan
penundaan jadwal produksi dan menyebabkan
biaya tinggi. Kriteria responsiveness yang dinilai

Kriteria
Quality

Bobot
0,20

Price

0,28

Delivery

0,17

Responsive

0,19

Flexibility

0,08

Sistem
Komunikasi
TOTAL

0,08
1,00

Subkriteria
Kesesuaian kualitas
Konsistensi kualitas
Kesesuaian Harga
Fluktuasi Harga
Ketepatan Waktu
Ketepatan Jumlah
Kemampuan Merespon
Periode Pembayaran
Prosedur Komplain
Kemampuan Memberi
Informasi
Fleksibilitas Harga
Pemenuhan Perubahan
Volume
Pemenuhan Perubahan
Kualitas
Ketersediaan
Sistem
Komunikasi
TOTAL

Bobot
0,11
0,09
0,13
0,15
0,07
0,10
0,06
0,02
0,04
0,07
0,03
0,02
0,03
0,08
1,00

Sumber : Data Primer diolah (2013)


Perbandingan Bobot Kriteria Penilaian dan Bobot
Kriteria Dicksons
Berdasarkan bobot yang dihasilkan
Dicksons, urutan kriteria yang lebih penting
adalah quality, delivery, price, procedure compliance
dan communication system. Sedang pada penelitian
di PT ILUFA, urutan kriteria yang terpenting
adalah price, quality, delivery, communication system
dan procedure compliance. Perbedaan ini disebabkan
oleh beberapa hal antara lain perusahaan memiliki
standar pemilihan supplier yang berbeda
tergantung tingkat kebutuhan perusahaan serta
pandangan subjektif responden dalam memilih
tingkat kepentingan kriteria. Hal ini sesuai yang
dipaparkan Dicksons dalam Cheraghi (2004).

konsistensi kualitas, kesesuaian harga dan


ketepatan waktu supplier ini memiliki penilaian
kinerja yang kecil. Hal ini lah yang menyebabkan
skor kinerja supplier ini menjadi paling kecil.

Analisis Kinerja Supplier


Analisis kinerja supplier pada PT Inti
Luhur Fuja Abadi dilakukan pada lima supplier
bahan baku ikan kakap merah, anggoli dan
kerapu. Kinerja supplier dianalisa melalui
pembobotan setiap kriteria dan subkriteria yang
didapatkan dari hasil kuesioner yang telah disebar
kepada tiga responden selanjutnya diolah dengan
software Super Decision. Kuesioner kedua
merupakan kuesioner yang menilai kinerja supplier
berdasarkan masing-masing kriteria yang telah
dibobotkan. Penilaian supplier untuk setiap kriteria
serta total skor untuk masing-masing supplier
dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Skor Kinerja Supplier
Skor Tiap Ikan
Supplier
Kakap Kerapu Anggoli
Merah
Su
0.20
0.27
0.42
Hendrik
0.86
0.66
0.79
A
0.62
0.59
0.69
I
0.56
0.54
0.41
Sa
0.54
0.53
0.66
Sumber : Data Primer Diolah (2013)

Supplier Ikan Kerapu


Pada ikan kerapu, supplier yang memiliki
kinerja tertinggi adalah H(0,66). Nilai tertinggi
selanjutnya adalah A (0,59) kemudian I (0,54), Sa
(0,53) dan Su (0,27). Hmemiliki nilai skor tertinggi
(0,66) karena hampir pada semua subkriteria
supplier ini mendapatkan penilaian tertinggi,
kecuali pada subkriteria fluktuasi harga,
kemampuan memberikan informasi, fleksibilitas
harga dan ketersediaan sistem komunikasi. Skor
tertinggi kedua adalah A. Supplier ini memiliki
skor tertinggi kedua karena pada subkriteria
prosedur komplain dan fleksibilitas harga supplier
memiliki hasil penilaian tertinggi daripada supplier
lainnya.
Skor tertinggi ketiga pada penilaian kinerja supplier
adalah I. Supplier ini memiliki penilaian terbaik
pada fluktuasi harga dan prosedur komplain dan
memiliki hasil penilaian subkriteria terbaik kedua
pada kesesuaian kualitas, konsistensi kualitas,
ketepatan waktu, kemampuan merespon, prosedur
komplain,
fleksibilitas
harga,
pemenuhan
perubahan kualitas dan ketersediaan sistem
komunikasi.
Skor tertinggi keempat pada penilaian
kinerja supplier adalah Sa. Supplier ini memiliki
penilaian terbesar pada fluktuasi harga dan
kemampuan
memberikan
informasi,
serta
memiliki hasil penilaian terkecil pada ketepatan
jumlah, pemenuhan perubahan kualitas dan
pemenuhan perubahan volume. Hasil skor
penilaian kinerja terkecil adalah Su. Supplier ini
tidak pernah memiliki penilaian tertinggi pada
subkriteria apapun. Pada hampir semua
subkriteria supplier ini memiliki penilaian
terendah, kecuali pada subkriteria ketepatan
waktu, pemenuhan perubahan waktu dan
pemenuhan perubahan kualitas.

RataRata
Skor
0.28
0.77
0.63
0.50
0.57

Supplier Ikan Kakap Merah


Pada Tabel 3 didapatkan bahwa pada ikan
kakap merah, supplier yang memiliki kinerja
tertinggi adalah Hendrik. Nilai
tertinggi
selanjutnya adalah A (0,62) kemudian I (0,56), Sa
(0,54) dan Su (0,20). Hmemiliki nilai skor tertinggi
(0,86) karena hampir pada semua subkriteria
supplier ini mendapatkan penilaian tertinggi,
kecuali pada subkriteria fluktuasi harga, ketepatan
jumlah, fleksibilitas harga dan ketersediaan sistem
komunikasi. Skor tertinggi kedua adalah A.
Supplier ini memiliki skor tertinggi kedua karena
pada subkriteria fluktuasi harga, ketepatan waktu,
fleksibilitas harga, pemenuhan perubahan kualitas
dan ketersediaan sistem komunikasi perusahaan
memiliki hasil penilaian tertinggi daripada supplier
lainnya. Namun supplier ini memiliki penilaian
terburuk dalam prosedur komplain.
Skor tertinggi ketiga pada penilaian kinerja
supplier adalah I. Supplier ini memiliki penilaian
terbaik pada kesesuaian kualitas, ketepatan
jumlah, serta pemenuhan perubahan volume.
Namun supplier ini memiliki hasil penilaian tekecil
pada kemampuan memberikan informasi. Supplier
terbaik keempat adalah Sa. Pada subkriteria
kemampuan merespon yang memiliki tingkat
kepentingan cukup tinggi (0,06) supplier ini
mendapatkan penilaian terkecil, sehingga hal ini
juga menyebabkan supplier ini mendapat skor
tertinggi keempat. Hasil skor penilaian kinerja
terkecil adalah Su. Pada kriteria yang memiliki
bobot penilaian besar seperti kesesuaian kualitas,

Supplier Ikan Anggoli


Pada ikan kakap merah, supplier yang
memiliki kinerja tertinggi adalah H(0,79). Nilai
tertinggi selanjutnya adalah A (0,69) kemudian Sa
(0,66), Su (0,42) dan I (0,41). Hmemiliki nilai skor
tertinggi (0,86) karena hampir pada semua
subkriteria supplier ini mendapatkan penilaian
tertinggi, kecuali pada subkriteria fluktuasi harga,
prosedur komplain, kemampuan memberikan
informasi, fleksibilitas harga dan ketersediaan
sistem komunikasi. Skor tertinggi kedua adalah A.
Supplier ini memiliki skor tertinggi pada
kemampuan memberikan informasi yang memiliki
bobot lumayan tinggi (0,07). Selain itu supplier

memiliki penilaian tinggi yang sama dengan


supplier lain dalam hal fluktuasi harga, dan
ketepatan waktu. Namun supplier ini memiliki
penilaian terburuk dalam prosedur komplain dan
fleksibilitas
harga
yang
memiliki
bobot
kepentingan yang cukup kecil sehingga tidak
berpengaruh signifikan pada hasil skor penilaian
kinerja.
Skor tertinggi ketiga pada penilaian kinerja
supplier adalah Sa. Supplier ini memiliki penilaian
terbaik pada ketersediaan sistem komunikasi.
Namun supplier ini memiliki hasil penilaian
terkecil pada periode pembayaran. Pada supplier
Su, tidak seperti pada kinerja pasokan ikan kakap
merah dan kerapu, dimana supplier ini memiliki
skor kinerja terburuk, pada kinerja pasokan ikan
anggoli supplier ini memiliki skor tertinggi
keempat. Hasil skor penilaian ini tidak jauh beda
dengan hasil skor supplier I (0,41) dan Su (0,42). Su
memiliki penilaian subkriteria yang tidak terlalu
tinggi namun I memiliki penilaian subkriteria yang
lebih rendah dari Su, hal ini disebabkan setiap
supplier memiliki kinerja yang berbeda pada setiap
ikan yang dipasok.

2.

kesesuaian harga (0,13), fluktuasi harga (0,15),


kesesuaian kualitas (0,11), konsistensi kualitas
(0,09), kemampuan merespon (0,06), periode
pembayaran (0,02), prosedur komplain (0,03),
kemampuan memberi informasi (0,07) dan
ketersediaan sistem komunikasi (0,08).
Skor kinerja supplier dengan metode TOPSIS
pada ikan kakap merah dari yang tertinggi
hingga terendah yaitu H(0,86), A (0,62), I
(0,56), Sa (0,54) dan Su (0,20). Skor kinerja ikan
anggoli dari yang tertinggi hingga terendah
yaitu H(0,79), A (0,69), Sa (0,66), Su (0,42) dan I
(0,41). Skor kinerja ikan kerapu dari yang
tertinggi hingga terendah yaitu H(0,66), A
(0,59), I (0,54), Sa (0,53) dan Su (0,27). Skor ratarata kinerja supplier berdasarkan ketiga ikan
dari tertinggi hingga terendah adalah H(0,77),
A (0,63), Sa (0,57), I (0,50) dan Su (0,28).

Saran
Diharapkan
penelitian
selanjutnya
melakukan penilaian terhadap berbagai jenis
pasokan ikan komoditi ekspor perusahaan yang
lain seperti ikan teri nike, ikan layur, gulama, jaket,
bekutak dan lencam agar bisa diketahui kinerja
supplier ikan yang lain. Selain itu diharapkan agar
kriteria penilaian yang diusung bisa ditambahkan
seperti Packaging Ability karena dari hasil
penelitian kualitas ikan dipengaruhi oleh tempat
penyimpanan saat pengiriman. Bagi perusahaan
disarankan
agar
lebih
mempertimbangkan
hubungan pengaruh antar subkriteria saat
melakukan penilaian.

Kinerja Supplier Berdasarkan Seluruh Pasokan


Ikan
Dari pembahasan kinerja tiap supplier
berdasarkan ikan kakap merah, anggoli dan
kerapu dapat disimpulkan kinerja supplier secara
keseluruhan. Dasar digunakannya rata-rata pada
ketiga jenis ikan ini adalah mengacu pada
penelitian yang berfokus pada ketiga ikan tersebut
serta trend ikan pada saat penelitian adalah ketiga
ikan ini. Berdasarkan ikan yang dipasok melalui
rata-rata hasil skor penilaian kinerja yang terdapat
pada Tabel 3 dapat diketahui skor rata-rata
tertinggi pada seluruh ikan adalah H(0,77), A
(0,63), Sa (0,57), I (0,50) dan Su (0,28). Hal ini
disebabkan berdasarkan bobot kriteria yang
didapat dapat mempengaruhi hasil skor penilaian
kinerja supplier. Bobot kriteria yang besar akan
berpengaruh secara signifikan pada hasil skor
penilaian.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Analisis kinerja supplier dengan metode ANP
dan TOPSIS di PT ILUFA menunjukkan hasil
bobot kriteria dan subkriteria yang berbeda
sesuai dengan tingkat kepentingan. Hasil
bobot kriteria penilaian kinerja supplier adalah
price (0,28), quality (0,20), delivery (0,17),
responsiveness (0,18), flexibility (0,08), dan sistem
komunikasi (0,08). Hasil bobot tiap subkriteria
adalah ketepatan waktu (0,07), ketepatan
jumlah (0,10), fleksibilitas harga (0,03),
pemenuhan
perubahan
volume
(0,02),
pemenuhan
perubahan
kualitas
(0,03),

DAFTAR PUSTAKA
Azril, M. 2009. Supplier Assesment Tool in
Automotive Industry Using Multivariate
Analysis. Undergraduate Thesis. Faculty of
Mechanical
Engineering.
University
Technology Malaysia.
Cheraghi, H. 2004. Critical Success Factors for
Supplier Selection ; An Update. Journal of
Applied Business Research 20 (2) : 92-93.
Fridian T.R. 2012. Pengambilan Keputusan
Strategi
Pemasaran
Terbaik
Menggunakan Metode ANP (Analytic
Network Process) dan TOPSIS (Technique
for Order Performance by Similarity to
Ideal Solution). Skripsi. ITS. Surabaya
Mahmoodzadeh, S. 2007. Project Selection by
using fuzzy AHP and TOPSIS Technique.
International Journal of Human and Social
Science 1(3) : 135-140.
Marimin. 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan
Keputusan Kriteria Majemuk. Grasindo.
Jakarta. pp 88-92.
Nobar, M. N, Steak, M., dan Tafti, A.F. 2011.
Selecting Suppliers of 2nd Layer Supplier
by Utilizing FANP Procedure. International
Journal of Business and Management 6(2) : 112.
Prabowo, R. 2013. Analisa Pemilihan Supplier
Polyurethan dengan Vendor Performance
Indicator
Berbasis
Quality,
Cost,
Delivery, Flexibility dan Responsiveness
di PT. Sinar Foam Jaya Surabaya. Skripsi.
ITS. Surabaya.