Anda di halaman 1dari 36

TERAPI EPILEPSI PADA

ANAK
Pembimbing : dr. Fuad, Sp.S
Mentari cipta S (2010730068)

Kepaniteraan Klinik Stase Neuroloy


Rumah Sakit Umum Daerah Banjar

DEFINISI

Epilepsi didefinisikan sebagai suatu keadaan yang ditandai oleh


bangkitan (seizure) berulang sebagai akibat dari adanya gangguan
fungsi otak secara intermiten, yang disebabkan oleh lepas
muatan listrik abnormal dan berlebihan di neuron-neuron secara
paroksismal, dan disebabkan oleh berbagai etiologi

Sindrom epilepsi adalah sekumpulan gejala dan tanda klinik


epilepsi yang terjadi secara bersama-sama yang berhubungan
dengan etiologi, umur, awitan (onset), jenis bangkitan, factor
pencetus, dan kronisitas

KLASIFIKASI

ILAE
BANGKITAN
EPILEPSI
- Bangkitan Parsial
- Bangkitan Umum
- Tak Tergolongkan

SINDROMA
EPILEPSI
- Berdasarkan Letak Kelainan
- Epilepsi Umum Dan Sindroma
Epilepsi Menurut Usia
- Epilepsi Yang Tidak Dapat
Ditentukan Fokal/Umum
- Sindroma Khusus

ETIOLOGI
Kejang Fokal

Kejang Umum

a. Trauma kepala

a. Penyakit metabolic

b. Stroke

b. Reaksi obat

c. Infeksi

c. Idiopatik

d. Malforasi vaskuler

d. Factor genetic

e. Tumor (neoplasma)

e. Kejang fotosensitif

f. Dysplasia
g. Mesial Temporal Sclerosis

EPIDEMIOLOGI

Puncak insidensi epilepsi terdapat pada


kelompok usia 0-1 tahun, kemudian menurun
pada masa kanak-kanak, dan relatif stabil sampai
usia 65 tahun. Menurut data yang ada, insidensi
per tahun epilepsi per 100000 populasi adalah 86
% pada tahun pertama, 62% pada usia 1 5
tahun, 50% pada 5 9 tahun, dan 39% pada 10
14 tahun.

FAKTOR RESIKO
Prenatal

Natal

Postnatal

a. Umur ibu saat hamil

a. Asfiksia

a. Kejang demam

b. Bayi dengan berat

b. Trauma kepala

terlalu muda (35


tahun)
b. Kehamilan dengan
eklamsia dan
hipertensi
c. Kehamilan primipara
atau multipara
d. Pemakaian bahan
toksik

badan lahir rendah

c. Infeksi SSP

(<2500 gram)

d. Gangguan metabolik

c. Kelahiran premature
atau postmatur
d. Partus lama
e. Persalinan dengan
alat

PATOFISIOLOGI
Kejang disebabkan karena ada
ketidakseimbangan antara
pengaruh inhibisi dan
eksitatori pada otak
Ketidakseimbangan bisa terjadi
karena :
Kurangnya transmisi inhibitori
Meningkatnya aksi eksitatori

PATOFISIOLOGI
Gangguan
fungsi
membran

Lepaskan

Muatan
listrik
berlebihan

Mudah dilalui
ion Ca,Na

Ca letupkan
depolarisasi

Epilepsi

Eksraseluler

Intaseluler

GEJALA KLINIS
KEJANG PARSIAL
KEJANG PARSIAL
SEDERHANA

KEJANG UMUM
KEJANG ABSANS
KEJANG ATONIK

Hilangnya kesadaran sesaat (beberapa detik)


dan mendadak disertai amnesia. Serangan
KEJANG
MIOKLONIK
tersebut
tanpa
disertai
peringatan
Hilangnya
tonus
mendadak
danseperti
aura atau halusinasi, sehingga sering tidak
biasanya total pada otot anggota
terdeteksi.
KEJANG TONIK KLONIK

Gejala yang timbul berupa kejang


KEJANG
motorik
fokal,PARSIAL
femnomena
halusinatorik,
psikoilusi, atau
KOMPLEKS
emosional kompleks. Pada kejang
badan,
dankontraksi
badan. Durasi
parsial sederhana, kesadaran penderita
Ditandaileher,
dengan
otot kejang
bias
sangat
singkatyang
ataucepat
lebihdan
lama.
masih baik.
bilateral
simetris
KLONIK
Gejala bervariasi dan hampir sama
singkat. KEJANG
Kejang yang
terjadi dapat
Sering
disebut
dengan
dengan kejang parsial sederhana,
tunggal atau berulang.kejang grand
mal. Kesadaran
hilang
dengan cepat
tetapi yang paling khas terjadi adalah
KEJANG
TONIK
Gejala yang
terjadi
hampir sama
Ditandai
dengan
kaku dan tegang pada
dan total disertai kontraksi menetap
penurunan kesadaran
dan
otomatisme.
dengan kejang mioklonik, tetapi kejang
otot. Penderita sering mengalami jatuh
dan masif di seluruh otot. Mata
yang terjadi berlangsung lebih lama,
akibat hilangnya keseimbangan,
mengalami deviasi ke atas
biasanya sampai 2 menit.

GEJALA KLINIS

Berdasarkan letak kelainannya (simtomatik)

GEJALA KLINIS
Epilepsy umum dan berbagai sindrom epilepsy
berurutan sesuai dengan peningkatan usia
(idiopatik)
Kejang Neonatal Familial Benign.
Sindrom jarang terjadi diturunkan secara
dominan.
Kejang terjadi hari ke 2 - 15.
Tidak ada kriteria EEG
Sebagian kecil mengalami kejang pada masa
anak

GEJALA KLINIS
Epilepsi Mioklonik benign pada bayi
Jarang ditemukan.
Serangan miklonus umum (usia 1-2 thun)
Sering ditemukan riwayat epilepsi keluarga
EEG iktal gelombang paku ombak umum
dengan letupan pada saat awal tidur.
Mudah dikontrol dengan obat.
Serangan singkat mioklonik umum, dapat
sebagai spasme atau kepala mengangguk.

GEJALA KLINIS
Epilepsy mioklonik juvenilis
Nama lainnya adalah impulsive petit-mal, myoclonic epilepsy, JME of Jans.
Bersifat benigna, dan tidak progresif
Mioklonus merupakan gejala utama, berupa kejutan pada ektremitas atas
spontan, tunggal maupun multipel, bilateral simetris tanpa kehilangan
kesadaran
Serangan terjadi pagi hari setelah bangun tidur dari tidur yang terlambat
sebelumnya.
Absens Juvenilis
Merupakan sindrom epilepsi umum idiopatik pada usia pupertas.
Serangan tidak banyak berbeda dangan absens pada anak
Frekuensi serangan jarang tidak muncul setiap hari, sporadis
Dapat disertai kejang tonik-klonik, munculnya biasanya pada saat bangun.
EEG gelombang paku-ombak cepat lebih dari 3 spd
Respon pengobatan biasanya baik

DIAGNOSA

Anamnesis
Pola

/ bentuk serangan
Lama serangan
Gejala sebelum, selama, dan paska serangan
Frekuensi serangan
Faktor pencetus
Ada/tidak penyakit lain yg sedang diderita
Usia saat serangan pertama terjadi
Riwayat kehamilan,persalinan,perkembangan
Riwayat epilepsi dalam keluarga

PEMERIKSAAN FISIK UMUM

Trauma kepala
Infeksi telinga atau sinus
Gangguan neurologik fokal
Ada tidaknya keterlambatan perkembangan,
organomegali
Perbedaan ukuran antara anggota tubuh
dapat menunjukkan awal gangguan
pertumbuhan otak unilateral

PEMERIKSAAN PENUNJANG

EEG
CT-Scan
MRI
Lab

Rekaman EEG dikatakan abnormal :


- Asimetris irama dan voltase gelombang
- Irama gelombangtidak teratur
- Adanya gelombang yang biasanya tidak terdapat
pada anak normal

INDIKASI EEG

Membantu menegakkan diagnosis epilepsi


Menentukan prognosis pada kasus tertentu
Pertimbangan dalam penghentian obat anti
epilepsi
Membantu dalam menentukan letak kelainan
Bila ada perubahan bentuk bangkitan (berbeda
dengan bangkitan sebelumnya)

INDIKASI BRAIN IMAGING

Semua kasus bangkitan pertama yang diduga ada


kelainan struktural
Adanya perubahan bentuk bangkitan
Terdapat defisit neurologik fokal
Epilepsi dengan bangkitan parsial
Bangkitan pertama di atas usia 25 thn
Untuk persiapan pembedahan epilepsi

TERAPI EPILEPSI PADA ANAK

OAE mulai diberikan bila :


Diagnosis epilepsi telah dipastikan (confirmed)
Setelah pasien dan atau keluarganya menerima penjelasan tentang tujuan
pengobatan
Pasien dan atau keluarganya telah diberitahu tentang kemungkinan efek samping
OAE yang akan timbul.

Terapi dimulai dengan monoterapi, menggunakan OAE pilihan sesuai dengan jenis
bangkitan, jenis sindrom epilepsi

Pemberian obat dimulai dari dosis rendah dan dinaikan bertahap sampai dosis efektif
tercapai atau timbul efek samping,

Bila dengan penggunaan dosis maksimum obat pertama tidak dapat mengontrol
bangkitan, maka perlu ditambahkan OAE kedua. Bila OAE telah mencapai kadar terapi,
maka OAE pertama diturunkan bertahap (tapering off), perlahan lahan

Penambahan obat ketiga baru dilakukan setelah terbukti bangkitan tidak dapat diatasi
dengan penggunaan dosis maksimal kedua OAE pertama

TERAPI SINDROMA EPILEPSI


Onset usia

Antara 3 dan 13 tahun (8-9 th)

Berdasarkan dengan lokasi Terlihat


kelainan
dominasi gejala orofaringeal , berupa
salivasi,
tidak dapat bicara
, gerak involunter
Epilepsy anak benigna dengan
gelombang
paku
mulut dan faring, suara tenggorok, kontroksi tonik
di sentrotemporal (rolandikatau
benigna)
klonik lidah, atau dagu atau salah satu sisi

Temuan Klinis

wajah, rasa baal atau parastesi dagu,gusi dan


lidah.

Hasil EEG

Menunjukan amplitudo sentrotemporal meningkat


dengan sebuah dipol horizontal yang teraktivasi
saat tidur

Terapi

Biasanya tidak perlu baik setelah kejang pertama


atau kedua. Carbamazepine sebagai pilihan
pertama

Prognosis

Sangat baik. 25 % hanya satu kali serangan


selama hidupnya, 50% kurang dari 5 serangan dan
8% lebih dari 20 kali serangan

TERAPI SINDROMA EPILEPSI


Onset usia

Onset cepat (4-5 tahun), onset lambat


(8-9 th)

Temuan Klinis

Onset cepat :

Epilepsy anak dengan paroksimal oksipital

Muntah, deviasi mata, biasanya nocturnal.


Onset lambat :
2-3 menit, ilusi visual atau kebutaan,
hemiklonik konvulsif dan sakit kepala
(basilar migraine)

Hasil EEG

Menunjukan paroksismal oksipital dengan


amplitude meningkat, sering terdapat
gelombang tinggi yang pelan dengan mata
terbuka.

Terapi
Prognosis

Sama dengan benigna epilepsy


Baik. Meskipun lebih baik benigna. Tingkat
remisi klinis bervariasi dari 60-90%

TERAPI SINDROMA EPILEPSI


Menunjukkan
hipsarrhytmia
tidak
Epilepsi umum dan berbagai
sindrom
epilepsi
beraturan, amplitude meningkat, latar
yang usia
tidak
beraturan
dengan
berurutan sesuai tingkatan

EEG

gelombang tinggi yang banyak.

Terapi

Adrenocorticotropic hormone
Dimulai 40-80 unit/hari IM
dilanjutan untuk 3-4 minggu.

dan

Dosis tinggi : 160 unit/m2 perhari


Dosis rendah : 20-40 unit/hari

Prognosis

Sindrom west memiliki morbiditas tinggi,


dengan Insidensi 90% dari retardasi
mental. Dibandingkan dengan sindrom
lennox yang hanya 25-50%.

TERAPI SINDROMA EPILEPSI


Etiologi

Sindrom Lennox - gastaut

Onset usia
Temuan klinis

Memiliki riwayat spasme infantile. 10-40%


adalah kasus kriptogenik.
1-8 tahun (3-5 tahun)
Tipe kejang multiple, umumnya tonik, atonik
atau kejang atipikal absence tapi biasa juga
mioklonik dan kejang parsial. Banyak pasien
mengalami gangguan kognitif

EEG

Menunjukkan latar aktivitas yang lambat,


bisynchronous, gelombang tinggi yang lambat
(1-2Hz) teraktivasi saat tidur.

Terapi

Valproic acid kombinasi dengan antiepilepsi


lain
(lamotrigine,
fenitoin,
atau
benzodiazepine)

Lamotrigine dan topiramate

Ketogenik diet
Pasien dengan kejang yang tak diduga

ACTH

Prosedur pembedahan (korpus kallostomi)

Evaluasi

Riwayat klinis:

TERAPI SINDROMA EPILEPSI

Penyakit kehamilan, infeksi, obat dan


penggunaan alcohol selama kehamilan.
Tampilan ruam kulit dan korioretinitis yang
mungkin kea rah toksoplasmosis.

Simtomatik
Pemeriksaan penunjang :
Ensefalopati mioklonik neonatal
CT-Scan atau MRI(sebelum
tanpa kontras dapat
dilakukan bagi neonatus yang tenang.
usia 3 bulan)
EEG lebih banyak digunakan untuk
diagnosis
dari subklinis
kejang.
Epilepsy ensefalopati pada
bayi
(bulan
Terapi
Fenobarbital
pertama
kehidupan)
20 mg/kg IV loading dose, dilanjutkan 5-10

mg/kg bolus
Rumatan : 3-4mg/kg perhari 2x1
-

Fenitoin
Jika fenobarbital mencapai 40mg/mL tidak
efektif. 20 mg/kg IV loading dose
Rumatan : 3-4 mg/kg perhari 2x1

Benzodiazepine
Lini ke-3. Lorazepam 0.05-0.1 mg/kg IV

Pyridoxine
100 mg IV

TERAPI SINDROM EPILEPSI


Insidensi
Onset usia
Temuan klinis

Sindrom khusus
Kejang demam

Kejang demam terjadi pada 2-5% anak.


3 bulan 5 tahun (6 bulan-2 tahun)
Biasanya disebabkan oleh infeksi virus

Kejang demam sederhana


<15 menit, mewakili 80-90% dari semua
kasus kejang demam.

Kejang demam kompleks


>15 menit, terdapat kelaian fokal, lebih dari
satu kali kejang dalam 24 jam.

Manajemen jangka pendek pada kejang

Rectal diazepam gel (diastat 0.2-0.5 mg/kg)

Manajemen jangka panjang pada kejang

Terapi fenobarbital
90% dari kejang demam kambuh dalam
waktu 2 tahun, terapi dilanjutkan untuk 2
tahun terakhir atau untuk 1 tahun setelah
kejang terakhir.

Prognosis

33% anak dengan kejang demam memiliki risiko


kejang berulang dan 9 % mengalami 3x atau lebih
kejang.

MANAJEMEN PENGOBATAN
UNTUK EPILEPSI
Tipe kejang
Parsial
simple, kompleks, kejang
umum tonik-klonik
sekunder

Obat lini pertama


Carbamazepine,
oxcarbazepine, valproic
acid

Obat lini kedua


Lamotrigine, levetiracetam,
fenobarbital, primidone, fenitoin,
zonisamide, topiramate, tiagabine,
gabapentin, felbamate.

Umum
Absence (tupical,
atypical)

Myoclonic

Tonik-klonik

Atonik

Ethosuximide,

valproic acid

valproic acid, fenitoin

valproic acid

Lamotrigine, clonazepam,
acetazolamide, felbamate
Levetiracetam, zonisamide,
acetazolamide, clonazepam,
clorazepate
Lamotrigine, topiramate,
levetiracetam, fenobarbital,
primidone, felbamate
Lamotrigine, topiramate,
levetiracetam clonazepam,
clorazepate, felbamate.

Fenitoin
-

5-8 mg/kg perhari

DOSIS OBAT EPILEPSI PADA


ANAK
Dilantin

Sediaan : kapsul (30, 100 mg); tablet (50 mg); suspense


(125/5mL, 30 mg/5 mL); parenteral (50 mg/mL)

Carbamazepine
-

5 mg/kg perhari dan dosis dinaikkan 5 mg/kg perhari

Tegretol

setiap 5 7 hari, dosis maks (10-30 mg/kg perhari)

Carbatrol

Sediaan : tablet (200mg); elixir (100mg/5mL); tegretol


(100mg, 200mg, 400mg); carbatrol (200mg, 300 mg)

Lamotrigine
-

Lamictal

Tanpa valproic acid : 0.6 mg/kg perhari untuk 2 minggu,


dinaikkan sampai 1 mg/kg perhari untuk 2 minggu. Dosis
maksimum 5-15 mg/kg perhari 2x1.
Dengan valproic acid : 0.15 mg/kg perhari selama 2
minggu, dinaikkan 0.3 mg/kg perhari selama 2 minggu.
Dosis maksimum 1-5 mg/kg perhari 2x1.
Sediaan : tablet (25 mg, 00 mg, 150 mg, 200 mg)

Topiramate
-

Topamax

0.5-1 mg/kg perhari

dinaikkan perlahan 4-9 mg/kg

perhari dalam 2 dosis.


Sediaan : tablet (25 mg, 100 mg, 200 mg)

Levetiracetam
-

Keppra

10-20 mg/kg/hari, dinaikkan 20mg/kg/hari setiap 2


minggu mencapai dosis maksimum 40-60 mg/kg/hari 2x1.
Sediaan : tablet (250 mg, 500 mg, 750 mg, 1000 mg)

Zonisamide
-

Zonegran

4-8 mg/kg/hari 2x1.


Sediaan : kapsul (25 mg, 100 mg)

OBAT

EFEK SAMPING

EFEK SAMPING OBAT EPILEPSI


YANG MENGANCAM JIWA

EFEK SAMPING MINOR

Carbamazepine

Anemia aplastik, hepatoksisitas, Dizziness, ataksia, diplopia,


sindroma
Steven-Johnson, mual, kelelahan, leukopeni,
lupuslike syndrome
trombositopeni, hiponatremia,
ruam, gangguan perilaku

Phenytoin

Anemia
aplastik,
gangguan
fungsi hati, sindroma Steven
Johnson, lupuslike syndrome,
pseudolymphoma

Valproic acid

Hepatatotoksik,
Mual, muntah, rambut menipis,
hiperamonemia,
leukopeni, tremor, amenore, peningkatan
trombositopeni, pankreatitis
BB, konstipasi

Phenobarbital

Hepatotoksik, gangguan jaringan Mengantuk, ataksia, nistagmus,


ikat dan
sumsum tulang, ruam kulit, depresi, hiperaktiv
sindroma Steven Johnson
(pada anak), gangguan belajar

Levetiracetam

Belum diketahui

Hipertrofi
gusi,
hirsutisme,
ataksia, nistagmus, diplopia,
ruam,
anoreksia,
mual,
makrositosis, neuropati perifer

Mual, nyeri kepala, dizzines,


kelemahan,
mengantuk,
gangguan perilaku

EFEK SAMPING OBAT EPILEPSI


Gabapentin

Belum diketahui

Lemotrigin

Sindrom
Steven-Johnson,
gangguan
hepar
akut,
kegagalan multi organ

Okskarbazepin

Ruam kulit

Topiramat

Batu ginjal, hipohidrosis,


gangguan fungsi hati

Zonisamid

Batu ginjal, hipohidrosis,


anemia aplastik

Somnolen,
kelelahan,
ataksia,
dizziness,
peningkatan BB, gangguan
perilaku (pada anak)
Ruam, dizziness, tremor,
atakia, diplopia, pandangan
kabur, nyeri kepala, mual,
muntah, insomnia
Dizziness, ataksia, nyeri
kepala, mual, kelelahan,
hiponatremia
Gangguan kognitif, kesulitan
menemukan kata, dizziness,
ataksia,
nyeri
kepala,
kelelahan, mual, penurunan
BB, parestesia, glukoma
Mual,
nyeri
kepala,
dizziness,
kelelahan,
parestesia, ruam, gangguan
berbahasa

PENGHENTIAN OAE
Dalam hal penghentian OAE maka ada dua
hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu
syarat umum untuk menghentikan OAE dan
kemungkinan kambuhnya bangkitan setelah
OAE dihentikan.

STATUS EPILEPTIKUS

Bangkitan yang berlangsung lebih dari 30


menit atau adanya 2 bangkitan/ lebih tanpa
pemulihan kesadaran diantaranya.

KLASIFIKASI

SE konvulsif (tonik-klonik)
SE non-konvulsif, terjadi pada 1/3 kasus SE
Absans
Parsial

kompleks
Non-konvulsivus (pada pasien koma)
Pada pasien dengan gangguan belajar

TATA LAKSANA
Stadium

Penatalaksanaan

0 menit

Memperbaiki fungsi kardio-respirasi


Memperbaiki jalan nafas,O2, resusitasi

5 menit

Normal saline solution. 50% glukosa dalam 2 mL/kg

10-30 menit

Lorazepam IV 0.05-0.1 mg/kg, 1-2 mg per menit sampai


dosis maks 5 mg (bisa diulang jika perlu)
Mulai dengan fenitoin 20 mg PE/kg IV kecepatan 3 mg
PE/kg/menit
Monitoring tekanan darah , EKG
Tambahkan 10 mg/kg jika kejang berlanjut (fenitoin)

TATA LAKSANA
Stadium

Penatalaksanaan

31-60 menit

Jika kejang menetap,


Fenobarbital IV 20 mg/kg kecepatan 1 mg/kg/menit
Tambahkan 10-20 mg/kg jika kejang berlanjut

>60 menit

Pilihan terapi
Diazepam IV lanjut, 50 mg dalam 250 mL normal saline
atau D5W kecepatan 1 ml/kg/jam (2 mg/kg/jam)
Fenobarbital IV loading dose 5 mg/kg diikuti rumatan
1-3 mg/kg/jam (dengan monitoring EEG)
turunkan kecepatan infus 4-6 jam kemudian. Jika
kejang masih berulang, ulangi prosedur atau tapering
12-24 jam

DAFTAR PUSTAKA

Biller, jose. Practical neurology. 3rd editions.


New york : Lippincott Williams&Wilkins,
2009.
Bazil CW, Morrell MJ, Pedley TA. Epilepsy. In :
Rowland LP, editor. Merritts neurology. 11th
ed. New York : Lippincott Williams&Wilkins,
2005.
http://eprints.undip.ac.id/44421/3/ADRIAN_
SETIAJI_22010110130154_Bab2KTI.pdf