Anda di halaman 1dari 3

FRAKTUR DENGAN CIDERA VASKULER

Cidera vaskuler, terutama pada arteri dapat berakibat kematian. Pembuluh darah dapat
mengalami cidera di manapun tempatnya.

Pada area tertentu cenderung mengalami cidera

dibandingkan area lain tergantung dari lokasi pembuluh darah tersebut.


Daerah Axilla, medial dan anterior lengan, dan fossa antecubiti adalah daerah-daerah
yang berisiko tinggi karena pembuluh darah terletak di superficial. Pada ekstremitas inferior,
region inguinal, dan fossa poplitea juga merupakan daerah yang berisiko tinggi untuk cidera.
Baik pada ekstremitas superior maupun inferior terdapat pembuluh darah pada proksimal tungkai
yang mana akan bercabang menjadi pembuluh darah yang lebih kecil. Pada ekstremitas superior
berada di sekitar daerah siku, sedang pada ekstremitas inferior tepat di bawah lutut. Pada
ekstremitas superior pembuluh darah bercabang menjadi 2. Pada ekstremitas inferior bercabang
menjadi tiga. Hal ini penting karena jika cidera pada pembuluh darah di atas siku atau lutut,
berarti hilangnya suplay darah pada tungkai di bawahnya sehingga dapat berakibat kematian
jaringan.
Tanda-tanda cidera vaskuler :
A. Hard Sign
1. Aktif / pulsatil hemoragi
2. Pulsatil / ekspanding hemoragi
3. Berkurang / hilangnya pulsasi
4. Pulsasi tidak teraba / deficit
B. Soft Sign
1. Perdarahan hebat saat kecelakaan
2. Pulsasi berkurang
3. Nonpulsatil hematoma
4. Defisit anatomical yang berhubungan dengan persyarafan
Pemeriksaan penunjang untuk mengetahui ada tidaknya cidera vaskuler adalah
pemeriksaan Doppler dan arteriografi.
Penatalaksanaan

Cidera vaskuler adalah suatu emergency yang berisiko tinggi jika tidak segera ditangani.
Penanganan operasi sebaiknya sebelum 6 jam setelah cidera. Tungkai yang cidera sebaiknya
diimobilisasi, dengan tidak meninggikan tungkai. Perdarahan dari luka terbuka harus dikontrol
dengan direct compression.
Setelah diagnose ditegakkan dan terapi ditetapkan, pembuluh darah dan fraktur segera
diperbaiki. Jika waktu cidera belum lama, fraktur dapat diperbaiki terlebih dahulu untuk
stabilisasi tungkai dan mencegah cidera lanjut. Apabila telah lewat waktu lama dari cidera,
pembuluh darah diperbaiki terlebih dahulu, baru fraktur. Keduanya tidak dapat dilakukan
bersamaan.
Setelah kedua operasi dilakukan, fasciotomy tungkai sebaiknya dilakukan untuk
mencegah kompartemen syndrome. Jika kompartemen syndrome telah ada, maka hal yang
pertama dilakukan adalah fasciotomy.
Fraktur tulang panjang dengan rupture arteri vena
A. Look
Deformitas, pucat bagian distal dari fraktur, hematom yang progresif
B. Feel
Krepitasi, akral dingin, pulsasi (-)
C. Movement
False movement (+)
D. Pemeriksaan Penunjang
Rontgen, arteriografi cito
E. Penatalaksanaan
Immobilisasi, resusitasi, eksplorasi segera < 6 jam

Fraktur pelvis berat dengan perdarahan


A. Look
Luka pada panggul, scrotum, perianal, perineum.
Haematom yang progresif di daerah panggul.
B. Feel
Bloody discharge.
Hing ridding prostate.
Pulsative haematome.
C. Movement
Compression- distraction test (+)
D. Penatalaksanaan
Resusitasi cairan
Penghentian perdarahan
- Direct pressure.
- Pemasangan stagen, pelvic sling, PASG.
- Definitif : pemasangan c-clamp