Anda di halaman 1dari 116

Pengaruh Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham

Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Nilai Aktiva Bersih
Danareksa Syariah Berimbang Periode Januari 2008 Oktober 2010
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (S.E.Sy)

Oleh :
Layaly Rahmah
NIM : 107046101904

KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH


PROGRAM STUDI MUAMALAH (EKONOMI ISLAM)
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H / 2011 M

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:


1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.

Jakarta, 28 Maret 2011

Layaly Rahmah

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar
Rupiah terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang periode
31 Januari 2008 31 Oktober 2010. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Uji Regresi Linear Berganda, dimana NAB Danareksa Syariah Berimbang
sebagai Variabel Dependen dan SBIS, IHSG, Nilai Tukar Rupiah sebagai Variabel
Independen dengan level signifikan sebesar 5%.
Hasil penelitian ini menunjukkan dari perhitungan dengan menggunakan
angka R Square adalah 0,925, maka hal ini dapat menjelaskan kontribusi SBIS,
IHSG, dan Nilai Tukar Rupiah/USD dalam mempengaruhi NAB Danareksa Syariah
Berimbang sebesar 92,5% dan sisanya sebesar 7,5% dipengaruhi oleh variabel lain
yang tidak diteliti. Selain itu, variabel IHSG menjadi variabel yang paling dominan
dan berpengaruh secara signifikan sedangkan variabel SBIS dan Nilai Tukar Rupiah
tidak memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan NAB Danareksa Syariah Berimbang.

Kata Kunci: NAB Danareksa Syariah Berimbang, Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar
Rupiah/USD.

ii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahiim
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah, taufiq,
serta nikmat-Nya, sehingga Alhmudulillah penulis dapat menyelesaikan skripsi
dengan judul Pengaruh Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Nilai
Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang Periode Januari 2008
Oktober 2010. Shalawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada Nabi
Muhammad saw, kepada keluarganya, sahabat serta umatnya hingga akhir zaman.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini tidak sedikit
hambatan serta kesulitan yang penulis hadapi. Namun berkat kesungguhan hati dan
kerja keras serta dorongan dan bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung
ataupun tidak langsung, sehingga membuat penulis tetap bersemangat dalam
menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, penulis
berterima kasih kepada:
1.

Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM., selaku Dekan Fakultas
Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2.

Ibu Euis Amalia, M.Ag dan Bapak Mumin Roup, S.Ag., M.A. sebagai Ketua
dan Sekretaris Jurusan Muamalat, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Yang tanpa henti memberikan
dorongan dan semangat kepada penulis, serta dengan tulus ikhlas meluangkan
waktunya untuk membantu penulis dalam proses penyelesaian tugas akhir.

iii

3.

Bapak Prof. Dr. H. Fathurrahman Jamil, MA dan Ibu Dwi Nuraini Ihsan, SE,
MM selaku dosen pembimbing skripsi penulis, yang dengan sabar telah
memberikan banyak masukan dan saran-saran sehingga skripsi ini dapat selesai
dengan baik. Semoga apa yang telah Bapak dan Ibu ajarkan dan arahkan
mendapat balasan dari Allah SWT. Aamiin.

4.

Kepada seluruh dosen dan sifitas akademik Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah mentransfer
ilmunya dengan ikhlas kepada penulis, serta para pengurus perpustakaan yang
telah meminjamkan buku-buku yang diperlukan oleh penulis.

5.

Kedua orang tuaku tercinta dan tersayang, Bapak Drs. H. Eddy Djubaedi Adih,
M.Ag dan Ibu Hj. Badriyah, yang dengan tulus selalu mendoakan, memberi
dorongan dan semangat tiada henti kepada penulis, sehingga penulis mampu
menyelesaikan tugas akhir ini yang juga menjadi amanah bagi penulis kepada
orang tua. Semoga Allah selalu memberikan perlindungan untuk Mamah dan
Papah yang paling penulis Sayangi, dibawah payung kasih sayang-Nya. Aamiin.

6.

Kepada kakakku tercinta, Ahmad Ruyat Ismail, S.H.I dan Izzah Ar-rahmani,
S.Farm,. Apt, dan si bungsu adikku Youma Arafah, secara tidak langsung kalian
juga memberikan semangat kepada penulis yang sedang menjalankan tugas akhir
ini agar cepat selesai.

7.

Teman-teman Asrama BEC Boys and Girls, Pak Fatah, Bu Diyah, Miss Mila, ka
Awen, Eni Suhaeni (My best friend), Rohy, disva, galuh, Imah, ka inab, Ovi,
Anahe, pipit, ka maria, lani, ka selly, jumi, ka ola, ka nia dan kawan-kawan
asrama lainnya semua perhatian dan kebaikan kalian tiada pernah terlupakan.

iv

8.

Teman-teman Kosan di Semanggi II, atu, sisi, ira, umun, ka indah, neni, tanti,
fatur, maya, ka iza, azka dan kawan lainnya secara tidak langsung kalian adalah
motivasi dan kebahagiaan. Kenangan bersama kalian tak akan pernah terlupakan
selama kita jadi anak kosan.

9.

Teman-teman Perbankan Syariah Angkatan 2007 khususnya PS C, Fara, afi,


mae, ovi, tika, maya, pewe, acha, dwi, hilwa, za2, nana, amel, nuy, pipin, yuke,
dan teman-teman lain seangkatan dan seperjuangan selama masa kuliah, teman
KKN Sadayana Sae Ciburuy 2010 perhatian dan kebaikan kalian tiada pernah
terlupakan. Miss you all.

10.

Seluruh pihak-pihak terkait yang telah membantu penulis, menyemangati dan


menghibur penulis selama proses penyelesaian tugas akhir ini.
Akhirnya, penulis menghaturkan banyak terima kasih atas semua pihak yang

turut berperan dalam proses penyelesaian tugas akhir penulis. Semoga karya ini
dapat bermanfaat bagi semua kalangan masyarakat dan para akademisi.
Jakarta, 28 Maret 2011

Layaly Rahmah

DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PERNYATAAN......................................................................... ..

ABSTRAK......................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR ....................................................................................

iii

DAFTAR ISI ...................................................................................................

vi

DAFTAR TABEL ..........................................................................................

ix

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

xi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

B. Pembatasan Masalah.

C. Perumusan Masalah...

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian..

E. Kajian Pustaka...

10

F. Kerangka Teori...

12

G. Kerangka Pemikiran Penelitian..

16

H. Sistematika Penulisan.

17

vi

BAB II KAJIAN TEORI


A. Reksadana Syariah

19

1. Pengertian Reksadana Syariah......

21

2. Jenis-jenis Reksadana Syariah..

25

3. Bentuk-bentuk Reksadana Syariah

27

4. Kelebihan Reksadana Syariah...

29

5. Risiko Reksadana Syariah....

32

6. Nilai Aktiva Bersih Reksadana Syariah...

35

7. Pihak-pihak yang terkait dalam Reksadana Syariah

37

B. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS).

39

C. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

41

D. Nilai Tukar Rupiah.

43

E. Sekilas Tentang Danareksa Syariah Berimbang..

47

BAB III METODE PENELITIAN


A. Ruang Lingkup Penelitian.

50

B. Teknik Pengumpulan Data. 51


C. Sumber Data..

51

D. Operasional Variabel Penelitian

53

1. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS).

53

2. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)...

55

3. Nilai Tukar Rupiah....

56

4 Nilai Aktiva Bersih Danareksa Syariah Berimbang 58

vii

E. Teknik Penulisan Skripsi.

60

F. Teknik Analisa Data

60

BAB IV HASIL DAN ANALISA DATA


A. Uji Asumsi Klasik

67

B. Pengujian Secara Statistik

72

C. Intervensi Koefisien Variabel Independent.

79

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan

84

B. Saran..

86

DAFTAR PUSTAKA................................................................................. .... .

87

LAMPIRAN........ .

91

viii

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1

Data Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)

53

31 Januari 2008 31 Oktober 2010


Tabel 3.2

Data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

55

31 Januari 2008 31 Oktober 2010


Tabel 3.3

Data Nilai Tukar Rupiah terhadap USD

57

31 Januari 2008 31 Oktober 2010


Tabel 3.4

Data NAB/Unit bulanan Danareksa Syariah Berimbang

59

31 Januari 2008 31 Okober 2010


Tabel 4.1

Output SPSS Uji Multikolinearitas

70

Tabel 4.2

Output SPSS Model Summary

71

Tabel 4.3

Output SPSS Uji t

72

Tabel 4.4

Output SPSS Anova

75

Tabel 4.5

Output SPSS Model Summary

76

ix

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1

Kerangka Pemikiran penelitian

16

Gambar 4.1

Output SPSS Uji Normalitas Analisis Grafik

67

Gambar 4.2

Output SPSS Uji Heteroskedastisitas Scaterplot

68

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Data NAB/unit bulanan Danareksa Syariah Berimbang

92

31 Januari periode 2008 31 Oktober 2010


Lampiran 2. Data Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)

93

31 Januari periode 2008 31 Oktober 2010


Lampiran 3. Data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

94

31 Januari periode 2008 31 Oktober 2010


Lampiran 4. Data Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD

95

31 Januari periode 2008 31 Oktober 2010


Lampiran 5. Data NAB/unit Danareksa Syariah Berimbang, SBIS, IHSG,

96

dan Nilai Tukar Rupiah


Lampiran 6. Data Output SPSS Penelitian

xi

98

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini, perkembangan pasar modal di Indonesia sangat pesat.
Setiap hari senantiasa kita mendengar pemberitaan situasi bursa efek yang
saling berkaitan dengan kondisi perekonomian, sosial, dan politik negara. Hal
ini menunjukkan bahwa pasar modal dan bursa efek yang dinamis tidak akan
pernah ketinggalan jaman.
Salah satu indikator untuk mengukur tingkat kemajuan pasar modal
satu negara adalah terletak pada tingkat variasi instrument investasi yang
tersedia seperti saham, obligasi, valuta asing, dan sebagainya. Semakin maju
pasar modal, semakin bervariasi instrument yang diperdagangkan di bursa.
Ragam instrument pasar ini akan menentukan tingkat likuiditas pasar dan
akan sangat menentukan pasar modal tersebut diminati investor atau tidak.1
Dengan adanya instrument-instrumen tersebut, maka bagi dunia usaha
pasar modal merupakan salah satu bentuk yang menarik melalui kemungkinan
penggalangan dana dan memberikan berbagai pilihan kepada para pemilik
dana dalam berinvestasi. Jumlah dan pilihan ini semakin banyak mulai dari
yang relative tinggi risikonya sampai pada pilihan yang risikonya rendah.
Salah satu instrument untuk berinvestasi yang akhir-akhir ini populer adalah
1

I Putu Gede Ary Suta, Menuju Pasar Modal Modern (Jakarta: Yayasan SAD Satria
Bhakti, 2000), h.17.

Reksadana yang merupakan wadah untuk menghimpun dana dari pemodal,


yang akan diinvestasikan kembali ke dalam portofolio efek, yang dikelola
oleh manager investasi dan harta bersama milik para pemodal itu akan
disimpan dan diadministrasikan oleh bank kustodian.2
Pada

Reksadana

untuk

mengetahui

seberapa

besar

tingkat

pengambilan investasi reksadana tersebut, investor dapat melihat dan


mengamati data-data historis yang ditampilkan dari masa lalu hingga saat
sekarang. Data historis yang dapat dengan mudah dicermati adalah Net Asset
Value (NAV) atau Nilai Aktiva Bersih (NAB) perunit penyertaan reksadana.3
Jadi, NAB (Nilai Aktiva Bersih) merupakan salah satu tolok ukur
dalam memantau hasil dari suatu Reksadana. NAB per saham/unit penyertaan
adalah harga wajar dari portofolio suatu Reksadana setelah dikurangi biaya
operasional kemudian dibagi jumlah saham/unit penyertaan yang telah
beredar (dimiliki investor) pada saat tersebut.4
Menurut data dari BAPEPAM, pada Januari 1998 jumlah Reksadana
hanya mencapai 77 dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) mencapai Rp. 4,4
Triliun. Namun pada Desember 2008 jumlah reksadana telah mencapai 567

Iwan P. Pontjiwinoto, Kaya dan Bahagia Cara Syariah (Jakarta: PT. Mizan
Publika, 2010), h.191-192
3

Yuni Elvira dan Fiteriyanto, NAB Reksadana Berlomba dengan Tingkat Suku
Bunga, Jurnal Pasar Modal, No. 06/VIII/Juni 1997, h.23.
4

Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, Reksadana, artikel ini diakses


pada 6 Desember 2010 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Reksadana

dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) mencapai Rp.74 Triliun, bahkan pada
akhir 2009 jumlah Reksadana telah mencapai 610 dengan Nilai Aktiva Bersih
(NAB) mencapai Rp. 113 Triliun.5
Sedangkan pada Januari hingga November 2010 total NAB Reksa
dana di Indonesia berkembang sangat pesat, dengan total Nilai Aktiva Bersih
(NAB) Reksadana pada akhir November 2010 sebesar Rp. 134 Trilliun
Lebih.6 Hal ini bisa disimpulkan bahwa Reksadana merupakan instrumen
investasi yang potensial serta memiliki prospek yang baik untuk terus
berkembang.
Di Indonesia mengoptimalkan investasi tidak hanya

melalui

Reksadana Konvensional namun bisa pula melalui Reksadana Syariah,


perkembangan reksa dana syariah sebagai wadah investasi di pasar modal,
mempunyai prospek perkembangan yang cukup menggembirakan.7 Jumlah
umat islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia merupakan ladang
potensial yang belum tergali secara optimal oleh reksa dana syariah. Selain
alasan itu, keanekaragaman industri dan banyaknya jumlah perusahaan yang

Desmon Silitonga, Memilih Investasi Reksadana Tahun 2010, (Jakarta: PT.


Millenium Danatama Indonesia, 2009), h. 8.
6

Bapepam-LK, Laporan Statistik NAB Reksadana Tahun 2010, ini diakses pada
6 Desember 2010 dari http:// www.idx.co.id//
7

I Putu Gede Ary Suta, Menuju Pasar Modal Modern (Jakarta: Yayasan SAD Satria
Bhakti, 2000), h.272.

telah dan potensial go public, adalah alasan kuat untuk optimis bahwa
Reksadana syariah akan berkembang dengan baik.
Berdasarkan data pasar modal Bapepam-LK, dana kelolaan reksadana
syariah sampai akhir Juni 2010 mencapai Rp. 3,7 triliun. Jika dibandingkan
dengan seluruh dana kelolaan reksadana, jumlah ini hanya sekitar 3%. Untuk
produk reksadana syariah, saat ini terdapat 47 (empat puluh tujuh)
reksadana syariah.8 Hal ini menjadikan Reksadana Syariah sebagai alternatif
investasi yang menarik bagi masyarakat, khususnya masyarakat yang
beragama islam agar terbebas dari unsur ribawi dan berbagai praktek
spekulatif yang biasa terjadi di bursa saham konvensional.
Di Indonesia Reksadana Syariah diperkenalkan pertama kali pada
tahun 1998 oleh PT. Danareksa Investment Management, di mana pada saat
itu PT. Danareksa mengeluarkan produk reksadana berdasarkan prinsip islam
yang dinamakan Danareksa Syariah Berimbang.9 Selain itu, Danareksa
Syariah Berimbang merupakan salah satu reksadana yang termasuk ke dalam
jenis reksadana campuran.
Danareksa Syariah Berimbang yang dikelola oleh Fund Manager dari
PT.Danareksa Investment Management. Selain Danareksa syariah Berimbang,
produk lain yang diluncurkan oleh PT. Danareksa Investment Management
8

Rosiana Eko Agustina, Saatnya Beralih ke Reksa Dana Syariah, Majalah


Investor (September 2010): h.11.
9

Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam: Tinjauan Teoritis
dan Praktis (Jakarta: Kencana, 2010), h. 251.

adalah adalah Danareksa Mawar Fokus, Danareksa Mawar Agresif,


Danareksa Mawar, Dana reksa Indeks syariah, Danareksa Anggrek Fleksibel,
Danareksa Anggrek, Danareksa JS Optima, Danareksa Melati Premium Dolar,
Danareksa Melati Dolar AS, Danareksa Gebyar Indonesia, Danareksa Gebyar
Dana Liquid, dan Danareksa Seruni Pasar Uang.10
Danareksa Syariah Berimbang merupakan jenis Reksadana Campuran,
yaitu Reksadana yang melakukan investasi dalam efek bersifat ekuitas
(saham) dan efek bersifat hutang (obligasi) yang perbandingannya tidak
termasuk Reksadana pendapatan tetap dan Reksadana saham. Reksadana ini
mempunyai resiko moderat dengan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi
dibandingkan dengan Reksadana pendapatan tetap.11
Perkembangan reksadana syariah selama ini tidak serta merta
menjadikan posisi reksadana syariah selalu berada dalam kondisi yang aman.
Hal ini dikarenakan kondisi perekonomian, sosial dan politik negara dapat
berubah-ubah, sekecil apapun kebijakan atau perubahan kondisi ekonomi,
sosial dan politik yang terjadi di suatu negara akan memiliki pengaruh
terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksadana Syariah pada saat ini maupun
masa yang akan datang.
10

Audry S Timisela, Pengaruh Indeks Syariah terhadap pertumbuhan NAB


Reksadana Syariah: Study pada Danareksa Syariah Berimbang tahun 2003-2007,
(Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,2010), h.6.
11

Studi Tentang Profil dan Perilaku Investor Indonesia 2010, Mars Research
Spesiallist, edisi Februari 2010, h 423.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka penulis tertarik untuk membahas


tiga faktor yang diduga mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam
mempengaruhi pertumbuhan Nilai Aktiva Bersih (NAB) suatu Reksadana
Syariah, yaitu Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) dan Nilai Tukar Rupiah.
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa SBIS merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi investor dalam berinvestasi. Apabila SBIS naik
maka investor akan beralih pada kegiatan investasi lain yang lebih
menguntungkan dan bebas risiko, sehingga indeks pasar modal akan turun,
sebaliknya apabila SBIS turun maka masyarakat akan beralih ke jenis
investasi lain yang lebih menguntungkan di pasar modal.
Sedangkan IHSG menjadi barometer kesehatan pasar modal yang
dapat menggambarkan kondisi bursa efek. Jika IHSG naik terus, dapatlah
dikatakan bahwa keadaan pasar modal sedang baik, pastilah menunjukkan
kondisi perekonomian, sosial, dan politik yang sedang sehat begitupun
sebaliknya.12 Selain itu, Nilai Tukar Rupiah terhadap U$ Dollar Amerika
sering kali dianggap sebagai salah satu indikator dalam perekonomian bangsa.
Ketidakstabilan nilai tukar rupiah terhadap dollar di Indonesia sering kali
dianggap sebagai indikator ketidakstabilan perekonomian.

12

Vonny Dwiyanti, Panduan Praktis Bermain Saham (Jakarta: Atma Media Press,
2010), h. 70.

Ketiga faktor di atas diduga mempunyai pengaruh yang signifikan


terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksadana Syariah, dalam hal ini adalah
Nilai Aktiva Bersih Danareksa Syariah Berimbang dari PT. Danareksa
Investment Management. Sehingga penulis tertarik ingin melakukan penelitian
lebih lanjut untuk mengetahui keeratan faktor-faktor di atas melalui penelitian
ini yang berjudul: Pengaruh Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS),
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah
terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang
Periode Januari 2008 - Oktober 2010.

B. Pembatasan Masalah
Banyak faktor yang diduga dapat mempengaruhi Nilai Aktiva Bersih
Danareksa Syariah Berimbang seperti Inflasi, Gross Domestic Product
(GDP), Return Saham, Suku Bunga Bank Indonesia (SBI), Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS), Nilai Tukar Rupiah/USD., Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG), Jakarta Islamic Indeks (JII), dan lain-lain. Oleh karena itu,
agar permasalahan dalam penelitian ini tidak meluas, maka penelitian ini
hanya akan dibatasi pada:
1. Penelitian ini hanya menggunakan tiga variabel independent, yaitu
Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah terhadap USD.

2. Variabel dependent yang digunakan adalah Nilai Aktiva Bersih (NAB) per
unit Danareksa Syariah Berimbang.
3. Penelitian ini menggunakan data selama tiga tahun untuk variabel
independent dan dependent, yaitu selama 31 Januari 2008 31 Oktober
2010.

C. Perumusan Masalah
Dan agar lebih terarah, maka dilakukan perumusan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana secara parsial dan simultan pengaruh variabel Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan
Nilai Tukar Rupiah terhadap Danareksa Syariah Berimbang?
2. Manakah dari variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah yang paling
dominan dalam mempengaruhi Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa
Syariah Berimbang?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian


1.

Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini
adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh variabel Sertifikat Bank Indonesia


Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Nilai
Tukar Rupiah terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah
Berimbang.
2. Untuk menganalisa variabel yang mempunyai pengaruh paling
dominan terhadap Nilai Aktiva Bersih Danareksa Syariah Berimbang.

2.

Manfaat Penelitian
Manfaat yang penulis harapkan dari penelitian yang dilakukan adalah:
a. Bagi Penulis
Dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama masa
perkuliahan, khususnya mengenai muamalat (ekonomi syariah) dan
pasar modal syariah.
b. Bagi Investor.
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan informasi sebagai bahan
pertimbangan dalam menginvestasikan dananya, agar risiko investasi
dapat dikurangi dan memaksimalkan laba yang diharapkan.
c. Bagi Lingkungan Akademisi
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan bagi
penelitian selanjutnya diprogram studi muamalat (ekonomi syariah),

10

khususnya mengenai pengaruh instrumen-instrumen investasi dalam


reksadana syariah di Indonesia.

E. Kajian Pustaka
Dalam penelitian atau pembuatan skripsi, terkadang ada tema yang
berkaitan dengan penelitian yang kita jalankan sekalipun arah tujuan yang
diteliti berbeda. Dari penelitian ini, penulis menemukan beberapa sumber
kajian lain yang telah lebih dahulu membahas terkait dengan Reksadana
Syariah, diantaranya adalah:
No.

Nama penulis/ Judul skripsi,


jurnal / Tahun.

Substansi

Perbedaan dengan
Penulis

1.

Cahyaningsih, Eko Suwardi,


dkk / Perbandingan Kinerja
Reksa dana Syariah dengan
Reksa dana Konvensional /
Jurnal
Riset
Akuntansi
Indonesia 2009.

Jurnal
Riset
Akuntansi
Indonesia
ini
menjelaskan
tentang
perbandingan kinerja
Reksa dana syariah dan reksa
dana konvensional pada Januari
2004 sampai Desember 2006.

penulis
meneliti
tentang pengaruh SBIS,
IHSG, dan Nilai Tukar
Rupiah terhadap Nilai
Aktiva Bersih (NAB)
Danareksa
Syariah
berimbang.

Dalam
Penelitian
ini
menggunakan sampel reksa dana
syariah untuk tahun z2004 (52
sampel), 2005 (85 sampel), dan
2006 (118 sampel). Dan pada
Reksa dana konvensional untuk
tahun 2004 (411 sampel), 2005
(718 sampel), dan 2006 (909
sampel).
- Metode analisis data yang
digunakan adalah parametric t
statistic (independent sample ttest).
- Hasil penelitian ini memberikan
tambahan bukti empiris bahwa
secara umum pada periode
bullish yaitu tahun 2004 dan
2005
kinerja
Reksadana
konvensional lebih baik dari pada
kinerja reksa dana syariah,
sedangkan tahun 2005 kinerja

- Periode 31 Januari 2008


hingga 31 Oktober 2010.
- Penulis meneliti tentang
seberapa besar pengaruh
variabel SBIS, IHSG,
dan Nilai Tukar Rupiah
terhadap NAB Danareksa
Syariah
Berimbang
secara simultan. Dan
menjelaskan
faktor
manakah yang lebih
dominan yang dapat
mempengaruhi
NAB
Danareksa
Syariah
Berimbang.
- Metode Analisis data
yang digunakan adalah
dengan Regresi Linear
Berganda
dengan
pengujian Hipotesis dan

11

2.

Audry S Timisela /Pengaruh


Indeks
Syariah
terhadap
pertumbuhan Nilai Aktiva
Bersih Reksadana Syariah/
Fakultas Syariah dan Hukum
Muamalat
UIN
Syarif
Hidayatullah Jakarta,
2010.

reksa dana syariah lebih baik dari


pada
kinerja
reksa
dana
konvensional.

asumsi klasik untuk


mengetahui
seberapa
besar pengaruh variabel
independent
terhadap
variabel dependent.

- Skripsi ini menjelaskan tentang


perkembangan Nilai Aktiva
Bersih
Danareksa
Syariah
Berimbang serta indeks JII pada
kurun waktu 2003-2007. Dan
baik buruknya kinerja reksa reksa
dana
syariah
dengan
menganalisis pengaruh indeks JII
sebagai tolak ukur kinerja suatu
reksa dana syariah.

- Penulis meneliti tentang


pengaruh SBIS, IHSG,
dan Nilai Tukar Rupiah
terhadap Nilai Aktiva
Bersih
Danareksa
Syariah
Berimbang
dengan kurun waktu 31
Januari 2008 hingga 31
Oktober 2010.

- Metodologi penelitian adalah


Deskritif-kualitatif yaitu untuk
melihat keterkaitan hubungan
dan
mengkontekstualisasilan
keterangan dari data tersebut.
Dan
menggunakan
analisis
Regresi Linear Sederhana.
- Hasil penelitian terdapat
hubungan linear antara Indeks JII
dengan tingkat pertumbuhan
Nilai Aktiva Bersih Danareksa
Syariah Berimbang. R-Square =
84,7% dipengaruhi oleh indeks
JII, dan 15.3% dipengaruhi oleh
factor lain di luar variabel JII.

- Variabel dependen
adalah Nilai Aktiva
Bersih
Danareksa
Syariah Berimbang
- Variabel Independent
yang digunakan adalah
SBIS, IHSG, dan Nilai
Tukar Rupiah.
-Metodologi penelitian
yang digunakan adalah
Deskritif-Kuantitatif
yaitu data berkaitan
dengan
angka-angka
yang akan dipaparkan.
- Metode Analisis data
yang digunakan adalah
dengan Regresi Linear
Berganda
dengan
pengujian Hipotesis dan
asumsi klasik untuk
mengetahui
seberapa
besar pengaruh variabel
independen
terhadap
variabel dependen.

3.

Zaenab/ Sistem Operasional


Reksadana Syariah pada BNI
SECURITIES dalam Tinjauan
Hukum
Islam/
Fakultas
Syariah
dan
Hukum
Muamalat,
UIN
Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2006.

- Skripsi ini menjelaskan tentang


ciri-ciri
dan
mekanisme
operasional reksadana syariah,
konsep investasi keuangan yang
sistemnya
didasarkan
pada
prinsip-prinsip
dan
kriteria
investasi syariah, serta meneliti
tentang
sistem
operasional
reksadana syariah pada BNI
Securities yang menggunakan
akad wakalah dan mudharabah
serta dalam operasional maupun
administrasi diawasi oleh Dewan

- Penulis meneliti tentang


pengaruh SBIS, IHSG,
dan Nilai Tukar Rupiah
terhadap NAB Danareksa
Syariah
Berimbang
periode 31 Januari 2008
31 Desember 2010.
-Metodologi penelitian
yang digunakan oleh
penulis
adalah
kuantitatif,
dengan
menggunakan
regresi

12

Pengawas Syariah (DPS).


-Metodologi penelitian adalah
kualitatif yang dilakukan dengan
cara
menelaah
litaratur
kepustakaan
dan
penelitian
lapangan.
Penelitian
ini
menggunakan metode deskriptif
kualitatif dalam bentuk desain
deskriptif
dan
metode
pengumpulan data dengan cara
observasi.

linear
berganda,
uji
hipotesis, dan asumsi
klasik.
- Variabel dependen
adalah Nilai Aktiva
Bersih
Danareksa
Syariah Berimbang.
-Variabel
independen
adalah SBIS, IHSG, dan
Nilai Tukar Rupiah.

Sumber: Studi Review Terdahulu


F. Kerangka Teori
1. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)13
Sertifikat Bank Indonesia Syariah yang selanjutnya disebut SBIS adalah
surat berharga berdasarkan prinsip syariah berjangka waktu pendek dalam
mata uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.14 Hal ini sangat
berbeda dengan SBI Konvensional yang diterbitkan melalui lelang dengan
tingkat diskonto yang berbasis bunga (interest). Sedangkan SBIS
diterbitkan menggunakan akad/kontrak dengan akad jualah. Akad jualah
adalah janji atau komitmen (iltijam) untuk memberikan imbalan tertentu
(iwadh) atas pencapaian hasil (natijah) yang ditentukan dari suatu
pekerjaan.

13

Andri Soemintra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah (Jakarta: Kencana,2009),

h.217.
14

PBI No. 10/11/PBI/2008 Tanggal 31 Maret 2008 tentang Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS). SE BI No. 10/17/DPM Tanggal 31 Maret 2008 tentang Tata Cara Transaksi
Repo SBIS dengan Bank Indonesia. SE BI No. 10/40/DPM Tanggal 17 November 2008
Perihal Perubahan Atas SE BI No. 10/16/DPM Tanggal 31 Maret 2008 Perihal Tata Cara
Penerbitan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) melalui Lelang.

13

2. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)15


Indeks Harga Saham menjadi barometer kesehatan pasar modal yang
dapat menggambarkan kondisi bursa efek yang terjadi. Jika Indeks Harga
Saham naik terus, dapatlah dikatakan bahwa keadaan pasar modal sedang
baik, bursa efek sedang maju, dan situasi pasar yang seperti ini pastilah
menunjukkan kondisi perekonomian, sosial, dan politik yang sedang
sehat. Para investor sering menggunakan IHSG sebagai patokan dalam
berinvestasi karena dengan IHSG, investor dapat menentukan saat
investasi sudah tiba, dan saat investasi dihentikan.
3. Nilai Tukar Rupiah terhadap USD
Nilai tukar Rupiah atau disebut juga Kurs Rupiah. Nilai tukar adalah nilai
mata uang suatu negara diukur dari nilai satu unit mata uang terhadap
mata uang negara lain. Besarnya jumlah mata uang tertentu yang
diperlukan untuk memperoleh satu unit valuta asing disebut dengan Kurs
Mata Uang Asing. Apabila kondisi ekonomi suatu negara mengalami
perubahan, maka biasanya diikuti oleh perubahan nilai tukar secara
substansional.16
Melemahnya rupiah berdampak buruk terhadap kegiatan konsumsi dan
investasi karena dua hal. Pertama, memicu kenaikan harga barang impor
15

Vonny Dwiyanti, Panduan Praktis Bermain Saham (Jakarta: Atma Media Press,
2010), h. 70-71.
16

Sadono Sukirno, Pengantar Teori Makro Ekonomi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2002) h178.

14

dan inflasi, apalagi setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)
sehingga memikul daya beli dan konsumsi masyarakat. Kedua, kenaikan
inflasi secara tajam akan memaksa Bank Indonesia (BI) menaikan suku
bunga secara tajam.17 Selain itu juga akan memukul konsumsi masyarakat
dan kegiatan investasi. Melemahnya kegiatan konsumsi dan investasi akan
menghambat pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh.
4. Nilai Aktiva Bersih (NAB)
Nilai Aktiva Bersih (NAB) adalah nilai yang menggambarkan total
kekayaan Reksadana setiap harinya. Nilai ini dipegaruhi oleh pembelian
dan penjualan Reksadana oleh para investor.18 NAB per saham atau unit
penyertaan adalah harga wajar dari portofolio suatu Reksadana setelah
dikurangi biaya operasional kemudian dibagi jumlah saham atau unit
penyertaan yang telah beredar (dimiliki investor) pada saat tersebut.19
5. Danareksa Syariah Berimbang
Danareksa Syariah Berimbang merupakan salah satu reksadana yang
termasuk ke dalam jenis reksadana campuran. Danareksa Syariah
Berimbang yang dikelola oleh Fund Manager dan diperkenalkan pertama

17

Mandala Manurung, Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikroekonomi & Makroekonomi),


(Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia), h.314.
18

Studi Tentang Profil dan Perilaku Investor Indonesia 2010, Mars Research
Spesiallist, edisi Februari 2010, h.424
19

Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, Reksadana, artikel ini diakses


pada 6 Desember 2010 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Resadana.

15

kali pada tahun 1998 yang merupakan salah satu

produk yang

diluncurkan oleh PT. Danareksa Investment Management.20


Reksadana

Danareksa

Syariah

Berimbang

(Danareksa

Syariah

Berimbang) adalah Reksadana terbuka berbentuk Kontrak Investasi


Kolektif (KIK) berdasarkan UU No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal
dan peraturan pelaksanaannya. Kontrak Investasi Kolektif Danareksa
Syariah Berimbang dituangkan dalam Akta No. 31 tanggal 15 November
2000 dan Addendum Kontrak Investasi Kolektif Danareksa Syariah
Berimbang No. 26 Tanggal 23 Juli 2002 yang dibuat dihadapan Notaris
Benny Kristianto, S.H. di Jakarta, antara PT. Danareksa Investment
Management sebagai Manajer Investasi dan ABN Amro Bank sebagai
Bank Kustodian yang kemudian digantikan oleh Citibank, N.A., Cabang
Indonesia sebagai Bank Kustodian.
Danareksa Syariah Berimbang bertujuan untuk mendapatkan pertumbuhan
nilai investasi dalam jangka panjang dan memperoleh pendapatan yang
berkelanjutan kepada pemodal yang hendak mengikuti Syariah Islam.
Kekayaan Danareksa Syariah Berimbang akan diinvestasikan minimum
25% hingga maksimum 75% dalam Efek Ekuitas dan minimum 25%
hingga maksimum 75% dalam Efek Hutang dan Instrumen Pasar Uang
dengan mengikuti syariah Islam.
20

Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam: Tinjauan Teoritis
dan Praktis (Jakarta: Kencana, 2010), h. 251.

16

G. Kerangka Pemikiran Penelitian


Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian, maka secara
skematis dapat dibuat kerangka pemikiran sebagai berikut:
Gambar 1.1
Bursa Efek Jakarta

Bank Indonesia

1.

Indeks Harga Saham Gabungan

1.

Sertifikat Bank Indonesia Syariah

2.

NAB Danareksa Syariah Berimbang

2.

Nilai Tukar Rupiah

Variabel Independen (X) :

Variabel Dependen (Y) :

SBIS, IHSG dan Nilai Tukar Rupiah

NAB Danareksa Syariah Berimbang

Analisis Regresi Linear Berganda

Normalitas

Uji t secara parsial

Heteroskedastisitas
s

Multikolinieritas

Uji F secara Simultan

Autokorelasi

Koefisien Determinasi

Analisa Hasil Regresi


Hipotesa

Variabel SBIS, IHSG, dan Nilai Tukar Rupiah Tidak terdapat


pengaruh secara parsial ataupun simultan terhadap Nilai
Aktiva Bersih (NAB) perunit Danareksa Syariah Berimbang

Variabel SBIS, IHSG, dan Nilai Tukar Rupiah Terdapat


pengaruh secara parsial ataupun simultan terhadap Nilai
Aktiva Bersih (NAB) perunit Danareksa Syariah Berimbang

Skema: Kerangka Pemikiran Penelitian

17

H. Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
BAB I

Pendahuluan,

yang

meliputi

latar

belakang

masalah,

pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat


penelitian, Kajian Pustaka, kerangka teori, kerangka pemikiran
penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II

Pada bab ini membahas tentang reksa dana syariah yang


meliputi pengertian reksa dana syariah, jenis-jenis reksa dana
syariah, bentuk-bentuk reksa dana syariah, kelebihan reksa
dana syariah, risiko reksa dana syariah, nilai aktiva bersih reksa
dana syariah, dan pihak-pihak yang terkait dalam reksa dana
syariah, sertifikat bank Indonesia syariah, indeks harga saham
gabungan, nilai tukar rupiah, dan sekilas tentang dana reksa
syariah berimbang.

BAB III

Pada bab ini akan dibahas dan dijelaskan mengenai metodologi


penelitian terdiri dari ruang lingkup penelitian, teknik
pengumpulan data, sumber data, operasional variabel penelitian
meliputi variabel dependen dan variabel independent, dan akan
dibahas pula tentang teknik analisa data dan teknik penulisan
skripsi.

18

BAB IV

Pada bab ini akan menjawab semua perumusan masalah yang


ada di bab I dan akan membahas tentang hasil dan analisa data,
Uji Asumsi Klasik, Pengujian secara Statistik, dan Interpensi
Koefisien Variabel Independent.

BAB V

Penutup, pada bab terakhir ini menjelaskan pokok-pokok kajian


dalam penelitian yang memuat kesimpulan dan saran.

19

BAB II
KAJIAN TEORI

A.

Reksadana Syariah
Reksadana Syariah diperkenalkan pertama kali pada tahun 1995 oleh

National Commercial Bank di Saudi Arabia dengan nama Global Trade


Equity dengan kapitalisasi sebesar U$ 150 Juta.21 Di Indonesia Reksadana
Syariah pertama kali diterbitkan pada tahun 1997 oleh PT. Danareksa
Investment Management.22
Menurut data Bapepam, nilai total NAB reksadana juga tercatat turun
18,74%. Jika pada tahun 2007 NAB Reksadana mencapai Rp.91,50 triliun,
maka pada tahun 2008 NAB Reksadana menjadi hanya Rp.74,35 triiun.
Namun untuk unit penyertaan Reksadana selama 2008 tetap tumbuh dari
Rp.53,59 milliar unit menjadi 61,51 miliar unit penyertaan di 2008 atau
berarti tumbuh 14,78%. jumlah Reksadana syariah bertambah dari 26 buah
Reksadana pada tahun 2007 menjadi 36 reksadana syariah selama tahun 2008
yang berarti meningkat 38,64%.23

21

Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam: Tinjauan Teoritis
dan Praktis (Jakarta: Kencana, 2010), h. 251
22

Iwan P. Pontjiwinoto, Kaya dan Bahagia Cara Syariah (Jakarta: PT. Mizan
Publika, 2010), h.191.
23

Nurul Qomariyah,NAB Reksa Dana Syariah Juga Tergerus Krisis Hingga


17,72%, artikel ini di akses pada 28 Februari 2011 dari http://www.detikfinance.com//

20

Pada tahun 2009, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana syariah


sepanjang 2009 tercatat tumbuh 161% menjadi 4,63 triliun dari tahun lalu
1,77 triliun. Bapepam-LK juga mencatat ada 11 reksadana syariah yang
memperoleh pernyataan efektif Bapepam-LK. Melalui penambahan itu, total
Reksadana syariah yang beredar mencapai 46, naik 24,3% dari tahun 2008
sebanyak 36 reksadana syariah. Sedangkan sejak awal 2009 hingga akhir
Agustus 2009, produk Reksadana syariah yang dikelola oleh PT. Danareksa
Invesment Management, seperti produk Danareksa Indeks Syariah kelolaan
memberikan keuntungan 74%. Sedangkan, Danareksa Syariah Berimbang
menghasilkan keuntungan 76,87%.24
Reksadana Syariah merupakan Reksadana yang pengelolaan dan
kebijakan investasinya mengacu pada syariat islam.25 Perbedaan yang paling
menonjol antara Reksadana syariah dengan Reksadana konvensional adalah
dalam Reksadana syariah terdapat proses screening atau filterisasi atas
instrument investasi dan proses cleaning untuk membersihkan pendapatan
yang diperoleh dari kegiatan yang haram,26 seperti dari produsen makanan,
minuman berlkohol, dan perusahaan keuangan yang berbasis bunga yang
tidak sesuai prinsip syariah.
24

Herlina KD, REKSADANA: Investor Makin Rajin Berburu Reksadana Syariah.


artikel ini di akses pada 28 Februari 2011 dari http://investasi.kontan.co.id//
25

Andri Soemintra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah (Jakarta: Kencana,2009),

26

Ibid,. h.173.

h. 168.

21

1. Pengertian Reksadana Syariah


Reksadana Syariah mengacu pada syariat islam baik dari cara
pengelolaan, kebijakan investasi, akad, pelaksanaan investasi, maupun dari
segi pembagian keuntungan sejalan dengan prinsip-prinsip syariah. Selain itu,
masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama islam turut mendorong
perkembangan reksadana syariah, karena memenuhi kebutuhan sekelompok
investor yang ingin memperoleh pendapatan dengan cara yang halalantoyyibah.
Reksadana Syariah adalah reksadana yang beroperasi menurut
ketentuan dan prinsip syariah Islam, baik dalam bentuk akad antara Pemodal
sebagai Pemilik harta (Shahibul Maal atau Rabbul Maal) dengan Manajer
Investasi sebagai wakil Shahibul Maal, maupun antara Manajer Investasi
sebagai wakil Shahibul Maal dengan pengguna investasi.27
Dengan demikian, Reksadana syariah adalah Reksadana yang
pengelolaan dan kebijakan investasinya mengacu kepada syariah islam.
Reksadana syariah tidak akan menginvestasikan dananya pada obligasi dari
perusahaan yang pengelolaan atau produknya bertentangan dengan syariat
misalnya industri peternakan babi, jasa keuangan yang melibatkan riba dalam
operasionalnya dan bisnis yang mengandung maksiat.

27

Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 20/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pedoman


Pelaksanaan Investasi untuk Reksa Dana Syariah, Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional,
(Jakarta: PT Intermasa, 2003), Edisi Kedua, hlm. 121.

22

Fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) MUI No. 20/DSNMUI/IX/2000 ini memuat antara lain: 28
1. Dalam Reksadana konvensional masih terdapat unsur-unsur yang
bertentangan dengan syariah baik dari segi akad, pelaksanaan investasi
maupun dari segi pembagian keuntungan.
2. Investasi hanya dapat dilakukan pada instrument keuangan yang sesuai
dengan syariah, yang meliputi saham yang sudah sudah melalui
penawaran umum dan pembagian deviden didasarkan pada tingkat laba
usaha, penempatan pada deposito dalam bank umum syariah dan surat
utang yang sesuai dengan syariah.
3.

Jenis usaha emiten harus sesuai dengan syariah antara lain tidak boleh
melakukan usaha perjudian dan sejenisnya, usaha pada lembaga keuangan
ribawi, usaha memproduksi, mendistribusi serta memperdagangkan
makanan dan minuman haram serta barang-barang atau jasa yang merusak
moral dan membawa mudharat. Pemilihan dan pelaksanaan investasi
harus dilaksanakan dengan prinsip kehati-hatian dan tidak boleh ada
unsure yang tidak jelas (gharar). Diantaranya tidak boleh melakukan
penawaran palsu, penjualan barang yang belum dimiliki, insider trading
atau menyebarkan informasi yang salah dan menggunakan informasi

28

Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam: Tinjauan Teoritis
dan Praktis (Jakarta: Kencana, 2010), h. 251-253.

23

untuk keuntungan transaksi yang dilarang, serta melakukan investasi pada


perusahaan yang tingkat utangnya lebih dominan dari modalnya.
4. Emiten dinyatakan tidak layak berinvestasi dalam Reksadana syariah jika
struktur utang terhadap modal sangat tergantung pada pembiayaan dari
utang, yang pada intinya merupakan pembiayaaan yang mengandung
unsur riba, emiten memiliki nisbah utang terhadap modal lebih dari 82%
(utang 45%, modal 55%), manajemen emiten diketahui bertindak
melanggar prinsip usaha yang islami.
5. Mekanisme operasional Reksadana syariah terdiri dari: wakalah, antara
manager investasi dan pemodal, serta mudharabah antara manager
investasi dengan pengguna investasi.
6. Karakteristik mudharabah adalah sebagai berikut:
(1) Pembagian keuntungan antara pemodal (yang diwakili oleh manager
investasi) dan pengguna invests berdasarkan pada proporsi yang
ditentukan dalam akad yang telah ditentukan bersama dan tidak ada
jaminan atas hasil investasi tertentu kepada si pemodal;
(2) Pemodal menanggung risiko sebesar dana yang telah diberikan; dan
(3) Manajer investasi sebagai wakil pemodal tidak menanggung risiko
kerugian atas investasi yang dilakukan sepanjang bukan karena
kelalaian.

24

7. Penghasilan investasi yang dapat diterima dalam Reksadana syariah


adalah:
(a) Dari saham dapat berupa:
a) Deviden yang merupkan bagi hasil atas keuntungan yang dibagi
dari laba baik yang dibayar dalam bentuk tunai maupun dalam
bentuk saham;
b) Right yang merupakan hak untuk memesan efek lebih dulu yang
diberikan oleh emiten; dan
c) Capital gain yang merupakan keuntungan yang diperoleh dari jual
beli saham di pasar modal.
(b) Dari obligasi yang sesuai dengan syariah: bagi hasil yang diterima
secara periodik dari laba emiten.
(c) Dari surat berharga pasar uang yang sesuai dengan syariah: bagi hasil
yang diterima oleh issuer.
Peraturan Bapepam mengenai pengelolaan reksdana jelas menjamin
terhindarnya kondisi gharar dan maysir. Jadi, cara perolehannya sudah jelas
halal. Kemudian, portofolio Reksadana syariah hanya boleh berisi efek
syariah, sehingga zat-nya juga sudah halal. Kebersamaan pemodal dalam
Reksadana dan juga memberi manfaat dalam mencapai diversifikasi
portofolio yang optimal dan dapat membawa kemaslahatan bersama.29
29

Iwan P. Pontjiwinoto, Kaya dan Bahagia Cara Syariah (Jakarta: PT. Mizan
Publika, 2010), h.194.

25

Sehingga melalui Reksadana syariah diharapkan pemodal mendapat hasil


yang optimal dan halal.

2. Jenis-jenis Reksadana Syariah


Dalam memilih konsetrasi portofolio Reksadana yang dikelola oleh
manager investasi, maka investor dapat memilihnya berdasarkan jenis
Reksadana yang ditawarkan. Konsentrasi portofolio Reksadana, antara lain:30
1. Reksadana pasar uang
Reksadana yang hanya melakukan investasi pada efek yang jatuh tempo
kurang dari satu tahun, disini Reksadana syariah dapat berinvestasi pada
Sertifikat Bank Indonesia Syariah, deposito syariah dan sertifikat deposito
syariah, Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank, dan surat berharga
ain yang berjangka kurang dari 1 tahun yang sesuai dengan prinsip
syariah.
2. Reksadana pendapatan tetap
Reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari
aktivitasnya dalam bentuk efek berbentuk obligasi syariah, yaitu obligasi
syariah yang tercatat di Jakarta Islamic Index BEI.

30

h. 194-195.

Andri Soemintra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah (Jakarta: Kencana,2009),

26

3. Reksadana saham.
Reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dalam
efek bersifat ekuitas (saham) syariah, yaitu saham yang tercatat di Jakarta
Islamic Index BEI.
4. Reksadana Campuran
Reksadana yang melakukan investasi dalam efek yang bersifat ekuitas
(saham) syariah dan efek yang bersifat obligasi syariah yang
prbandingannya tidak termasuk dalam kategori yang disebut di atas.
5. Reksadana Index,
Reksadana yang dikelola secara pasif, dengan tujuan utama menghasilkan
kinerja yang mengikuti kinerja Indeks tertentu (misalnya, S&D 500, Dow
Jones 30, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), atau Jakarta Islamic
Indeks (JII) dengan biaya minimal. Nama-nama saham maupun bobot
masing-masing saham investasinya akan mirip dengan indeks. Selain
biaya rendah, reksadana ini reltif lebih transparan karena komposisi
portofolionya jelas, mirip indeks, dan hanya berubah sedikit, terutama jika
ada perubahan komposisi indeks yang diikuti.
6. Reksadana Terproteksi
Reksadana yang memberikan proteksi sebesar 100% dari nilai investasi
awal dengan syarat dan ketentuan khusus yang berlaku. Kerena
memberikan jaminan proteksi, Reksadana ini cenderung diinvestasikan

27

pada instrument pasar modal dan pasar uang yang lebih aman, misalnya
dalam obligasi yang termasuk dalam kategori layak investasi.

3. Bentuk-bentuk Reksa Dana Syariah


Berdasarkan ketentuan pasal 18 Undang Undang Pasar Modal No. 8
Tahun 1995, ada dua bentuk Reksadana, yaitu berbentuk perseroan dan
berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK). 31
1. Badan Hukum Perseroan (PT)32
Reksadana perseroan (PT) merupakan badan hukum tersendiri yang
didirikan untuk melakukan kegiatan Reksadana. Sebagaimana halnya
suatu badan hokum PT, maka Reksadana yang berbentuk perseroan
memiliki suatu anggaran dasar, pemegang saham, pengurus atau direksi,
kekayaan sendiri dan kewajiban. Ciri-ciri Reksadana PT antara lain:
1) Bentuk hukumnya adalah Perseroan Terbatas (PT)
2) Pengelola kekayaan Reksadana didasarkan pada kontrak antara Direksi
Perusahaan dengan Manajer Investasi yang ditunjuk.
3) Penyimpanan kekayaan Reksadana didasarkan pada kontrak antara
manajer investasi dengan kustodian.

31

M Paulus Situmorang, Pengantar Pasar Modal (Jakarta: Mitra Wacana Media,


2008), h. 62.
32

Soemintra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, h.183-185.

28

2. Kontrak Investasi Kolektif


Resadana KIK pada prinsipnya bukanlah badan hokum tersendiri.
Reksadana melakukan kegiatannya berdasarkan kontrak yang dibuat oleh
manajer investasi dan bank kustodian. Investor secara kolektif
mempercayakan dananya kepada manajer investasi untuk dikelola. Dana
yang terhimpun tersebut disimpan dan diadministrasikan pada bank
kustodian. Selanjutnya secara bersama-sama dikelola oleh manajer
investasi dalam bentuk portofolio adalah milik investor secara bersamasama dan proporsional.
Hal ini sangat berbeda dengan pembentukan Reksadana perseroan,
dimana pendiri harus terlebih dahulu mendirikan PT kemudian menunjuk
manajer investasi dan bank kustodian, Reksadana KIK pembentukannya
lebih sederhana. Perusahaan efek atau pihak lain yang telah memperoleh
izin investasi mengajukan pernyataan pendaftaran dalam rangka
penawaran

umum

Reksadana

KIK

kepada

Bapepam

dengan

menyampaikan dokumen sebagai berikut, kontrak investasi kolektif yang


dibuat oleh manajer investasi dengan bank Kustodian secara notarial,
prospektus, pendapat konsultan hokum dan laporan keuangan awal.
Ciri-ciri Reksadana KIK, antara lain:
1. Bentuk hukumnya adalah Kontrak Investasi Kolektif (KIK)

29

2. Pengelolaan Reksadana dilakukan oleh manajer investasi berdasarkan


kontrak.
3. Penyimpanan kekayaan kolektif dilaksanakan oleh bank kustodian
berdasarkan kontrak.
4. Menjual unit penyertaan secara terus menerus sepanjang ada investor
yang membeli.
5. Unit penyertaan tidak dicatat di bursa.
6. Investor dapat menjual kembali (redemption) unit penyertaan yang
dimilikinya kepada manajer investasi yang mengelola.
7. Hasil penjualan atau pembayaran kembali unit penyertaan akan
dibebankan kepada Reksadana.
8. Harga jual atau beli unit penyertaan didasarkan atas Nilai Aktiva
Bersih (NAB) per unit dihitung oleh Bank Kustodian secara harian.

4. Kelebihan Reksa Dana Syariah


Pada dasarnya setiap kegiatan investasi mengandung dua unsur, yaitu
return (keuntungan) dan risiko. Berikut ini terdapat beberapa keuntungan
dalam berinvestasi melalui Reksadana, yaitu:33

33

Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution, Investasi pada Pasar Modal Syariah,
(Jakarta: Kencana), h.12.

30

1. Diversifikasi Investasi
Diversifikasi yang berwujud dalam bentuk portofolio akan menurunkan
tingkat risiko. Reksadana melakukan diversifikasi dalam berbagai
instrument efek, sehingga dapat menyebarkan risiko atau memperkecil
risiko. Investor walaupun tidak memiliki dana yang cukup besar dapat
melakukan diversifikasi investasi dalam efek sehingga dapat memperkecil
risiko. Hal ini berbeda dengan pemodal individual yang misalnya hanya
dapat membeli satu atau dua jenis efek saja.
2. Kemudahan Investasi
Reksadana mempermudah investor untuk melakukan investasi di pasar
modal. Kemudahan investasi tercermin dari kemudahan pelayanan
administrasi dalam pembelian maupun penjualan kembali unit penyertaan.
Kemudahan juga diperoleh investor dalam melakukan reinvestasi
pendapatan yang diperolehnya sehingga unit penyertaannya dapat terus
bertambah.
3. Efisiensi biaya dan waktu
Reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak investor, maka biaya
investasinya akan lebih murah bila dibandingkan dengan investor
melakukan transaksi secara individual di bursa. Pengelolaan yang
dilakukan manajer investasi secara professional, tidak perlu bagi investor
untuk memantau sendiri kinerja investasinya tersebut.

31

4. Tingkat likuiditas yang baik34


Artinya kemampuan untuk mengelola uang masuk dan keluar dari
Reksadana. Dalam hal ini yang paling sesuai adalah Reksadana untuk
saham-sahamyang telah dicatatkan dibursa di mana transaksi terjadi setiap
hari, tidak seperti deposto berjangka atau sertifikat deposito berjangka
periode tertentu. Selain itu, pemodal dapat mencairkan kembali saham
atau unit penyertaan setiap saat sesuai dengan ketetapan yang di buat
masing-masing

Reksadana

sehingga

memudahkan

investor

untuk

mengelola kasnya.
5. Manajer Profesional
Reksadana dikelola oleh manajer investasi yang andal, ia mencari peluang
investasi yang paling baik untuk Reksadana tersebut. Pada prinsipnya,
manajer investasi bekerja keras untuk meneliti ribuan peluang investasi
bagi pemegang saham atau unit Reksadana. Adapun pilihan investasi itu
sendiri dipengaruhi oleh tujuan investasi dari Reksadana tersebut.
6. Pelayanan bagi pemegang saham35
Reksadana biasanya menawarkan daya tarik kepada pemegang sahamnya
misalnya dengan menjanjikan untuk melakukan reinvestasi terhadap

34

Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam: Tinjauan Teoritis
dan Praktis (Jakarta: Kencana, 2010), h.257.
35

Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan Edisi Keempat, (Jakarta: FEUI


2004), h. 261.

32

deviden dan capital again secara otomatis yang seharusnya diterima oleh
nasabah.

5. Risiko Reksa Dana Syariah


Di samping keuntungan-keuntungn yang akan mereka dapatkan,
terdapat juga beberapa risiko dalam melakukan investasi melalui Reksadana,
antara lain:36
1. Risiko Perubahan Kondisi Ekonomi dan Politik.
Sistem ekonomi terbuka yang dianut oleh Indonesia sangat rentan
terhadap

perubahan

ekonomi

internasional.

Perubahan

kondisi

perekonomian dan politik di dalam maupun di luar negeri atau peraturan


khususnya di bidang Pasar Uang dan Pasar Modal merupakan factor yang
dapat mempengaruhi kinerja perusahaan-perusahaan yang tercatat di
Bursa Efek di Indonesia, yang secara tidak langsung akan mempengaruhi
kinerja portofolio Reksadana.

36

Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam: Tinjauan Teoritis
dan Praktis (Jakarta: Kencana, 2010), h258-259

33

2. Risiko berkurangnya Nilai Unit Penyertaan.


Nilai Unit Penyertaan Reksadana data berfluktuasi akibat kenaikan atau
penurunan Nilai Aktiva Bersih Reksadana. Penurunan dapat disebabkan
oleh, antara lain:
a. Perubahan harga efek ekuitas dan efek lainnya.
b. Biaya-biaya yang dikenakan setiap hari pemodal melakukan
pembelian dan penjualan.
3. Risiko Wanprestasi oleh Pihak-pihak Terkait.
Risiko ini dapat terjadi apabila rekan usaha manajer investasi gagal
memenuhi kewajibannya. Rean usaha dapat termasuk tetapi tidak terbatas
pada emiten, pialang, bank custodian dan agen penjualan.
4. Risiko Likuiditas.
Penjualan kembali (pelunasan) tergantung kepada likuiditas dari
portofolio atau kemampuan dari manajer investasi untuk membeli kembali
(melunasi) dengan menyediakan uang tunai.
5. Risiko Kehilangan Kesempatan Transaksi Investasi pada saat Pengajuan
Klaim Asuransi.
Dalam hal terjadinya kerusakan atau kehilangan atas surat-surat berharga
dan asset Reksadana yang disimpan di bank kustodian, Bank Kustodian
dilindungi oleh asuransi yang akan menanggung biaya penggantian suratsurat berharga tersebut. Selama tenggang waktu penggantian tersebut,

34

manajer investasi tidak dapat melakukan transaksi investasi atas suratsurat berharga tersebut, kehilangan kesempatan melakukan transaksi
investasi ini dapat berpengaruhi terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB) per
Unit penyertaan.
6. Risiko Pasar
Hal ini terjadi karena nilai sekuritas di pasar efek memang berfluktuatif
sesuai dengan kondisi ekonomi secara umum. Terjadinya fluktuasi di
pasar efek akan berpengaruh langsung pada nilai bersih portofolio,
terutama jika terjadi korelasi atau pergerakan negative.
7. Risiko Inflasi.
Terjadinya inflasi akan menyebabkan menurunnya total real return
investasi pendapatan yang diterima dari investasi dalam Reksadana bias
jadi tidak dapat menutup kehilangan karena menurunnya daya beli (loss of
purchasing power).
8. Risiko Nilai Tukar
Risiko ini dapat terjadi jika terdapat sekuritas luar negeri daam portofolio
yang dimiliki. Pergerakan nilai tukar akan mempengaruhi nilai sekuritas
yang termasu Foreign Invesment setelah dilakukan konversi dalam mata
uang domestik.
9. Risiko Spesifik.

35

Risiko ini adalah risiko dari setiap sekuritas yang dimiliki. Di samping
dipengaruhi pasar secara keseluruhan, setiap sekuritas mempunyai risiko
sendiri-sendiri. Setiap sekuritas dapat menurun nilainya jika kinerja
perusahaannya sedang tidak bagus atau juga adanya kemungkinan
mengalami default, tidak dapat membayar kewajibannya.
6. Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana Syariah
Pada

Reksadana

untuk

mengetahui

seberapa

besar

tingkat

pengambilan investasi reksadana tersebut, investor dapat melihat dan


mengamati data-data historis yang ditampilkan dari masa lalu hingga saat
sekarang. Data historis yang dapat dengan mudah dicermati adalah Net Asset
Value (NAV) atau Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit penyertaan
Reksadana.37
Jadi, NAB (Nilai Aktiva Bersih) merupakan salah satu tolok ukur
dalam memantau hasil dari suatu Reksadana. NAB per saham/unit penyertaan
adalah harga wajar dari portofolio suatu Reksadana setelah dikurangi biaya
operasional kemudian dibagi jumlah saham/unit penyertaan yang telah
beredar (dimiliki investor) pada saat tersebut.38
Baik tidaknya kinerja investasi portofolio yang dikelola oleh manajer
investasi dipengaruhi oleh kebijakan dan strategi investasi yang dijalankan
37

Yuni Elvira dan Fiteriyanto, NAB Reksadana Berlomba dengan Tingkat Suku
Bunga, Jurnal Pasar Modal, No. 06/VIII/Juni 1997, h.23.
38

Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, Reksadana, artikel ini


diakses pada 6 Desember 2010 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Reksadana

36

oleh manajer investasi yang bersangkutan. Oleh karena itu, untuk mengetahui
perkembangan nilai investasi suatu Reksadana dapat dilihat dari peningkatan
nilai aktiva bersihnya yang sekaligus merupakan nilai investasi yang dimiliki
oleh investor.
Menghitung Nilai Aktiva Bersih Reksadana per saham atau per unit
penyertaan pada dasarnya merupakan tugas bank kustodian. Dalam
perhitungan NAB Reksadana telah dimasukkan semua biaya seperti biaya
pengelolaan investasi oleh manajer investasi (investment management fee),
biaya bank kustodian, biaya akuntan publik dan biaya-biaya lainnya.
Pembebanan biaya-biaya tersebut selalu dikurangkan dari Reksadana setiap
hari sehinga Nilai Aktiva Bersih yang diumumkan oleh ban custodian
merupakan nilai investasi yang dimiliki investor.39
Nilai Aktiva Bersih Reksadana pada suatu periode dapat dihitung
dengan menggunakan formula sebagai berikut:
Total Nilai Aktiva Bersih pada periode tertentu:
Total NAB = Nilai Aktiva Total Kewajiban
Nilai Aktiva Bersih per Unit:
Total per Unit =

Total Nilai Aktiva Bersih


Total Unit Penyertaan Saham yang diterbitkan

39

Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan Edisi Keempat, (Jakarta: FEUI


2004), h. 260.

37

Di mana:
Total NAB

= Jumlah Nilai Aktiva Bersih padaperiode tertentu

NAB per Unit = NAB Per saham atau unit penyertaan pada periode tertentu
7. Pihak-pihak yang terkait dalam Reksa Dana Syariah40
1. Bapepam-LK
Bapepam-LK berada di bawah Departemen Keuangan Republik
Indonesia yang bertugas membina, mengatur, dan mengawasi sehari-hari
kegiatan pasar modal serta merumuskan dan melaksanakan kebijakan
dan standarisasi teknis di bidang lembaga keuangan.
2. Pengelola Investasi (Manajer Investasi)
Pengelolaan Reksadana dilakukan oleh perusahaan

yang telah

mendapatkan izin dari Bapepam-LK sebagai manajer investasi.


Perusahaan pengelola Reksadana dapat berbentuk:
1) Perusahaan efek yang secara umum berbentuk divisi tersendiri atau
PT yang khusus menangani Reksadana, selain dua divisiyang lain
yakni perantara pedagang efek (broker dealer) dan penjaminan
emisi (underwriter).
2) Perusahaan secara khusus yang bergerak sebagai perusahaan
Manajemen Investasi (PMI) atau Manajer Investasi (MI).
40

Andri Soemintra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah (Jakarta: Kencana,2009),


h. 182-183.

38

3. Bank Kustodian
Bank Kustodian berwenang dan bertanggung jawab dalam menyimpan,
menjaga, dan mengadministrasikan kekayaan, baik dalam pencatatan serta
pembayaran atau penjualan kembali suatu Reksadana berdasarkan kontrak
yang telah dibuat dengan manajer investasi.
4. Notaris
Notaris berwenang mengeluarkan akta badan hukumpengelola investasi
baik pendirian maupun pembubaran, menyaksikan pengesahan dokumen
kontrak investasi pada tahap persiapan dan perikatan lainnya.
5. Konsultan Hukum
Konsultan Hukum bertugas meneliti aspek-aspek hokum emiten dan
memberikan pendapata segi hokum (legal opinion) tentang keadaan dan
keabsahan usaha emiten.
6. Akuntan Publik.
Akuntan Publik yang disahkan oleh BPKP, bertugas antara lain
melakukan

pemeriksaan

atas

laporan

keuangan

perusahaan

dan

memberikan pendapatnya, memeriksa pembukuan, apakah sudah sesuai


dengan prinsip akuntansi Indonesia dan ketentuan Bapepam-LK serta
member petunjuk pelaksanaan cara-cara pembukuan yang baik (apabila
diperlukan).
7. Agen Penjual.

39

Agen penjual adalah pihak yang menjualkan produk-produk yang dikelola


oleh manajer investasi kepada nasabah baik perorangan maupunbadan
hukum.

B.

Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)


Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) merupakan perubahan nama

dari Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) sesuai dengan PBI Nomor
10/11/PBI/2008 tanggal 31 Maret 2008 tentang Sertifikat Bank Indonesia
Syariah.41 SBIS adalah surat berharga berdasarkan prinsip syariah berjangka
waktu pendek dalam bentuk mata uang rupiah yang diterbitkan oleh Bank
Indonesia.42
Adapun karakteristik Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
adalah:43
1) Menggunakan akad Jualah;
2) Satuan unit sebesar Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah);
3) Berjangka jangka waktu paling kurang 1 bulan dan paling lama 12
bulan;
41

Bank Indonesia, Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Tahun 2009 h.13

42

PBI No. 10/11/PBI/2008 Tanggal 31 Maret 2008 tentang Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS). SE BI No. 10/17/DPM Tanggal 31 Maret 2008 tentang Tata Cara Transaksi
Repo SBIS dengan Bank Indonesia. SE BI No. 10/40/DPM Tanggal 17 November 2008
Perihal Perubahan Atas SE BI No. 10/16/DPM Tanggal 31 Maret 2008 Perihal Tata Cara
Penerbitan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) melalui Lelang.
43

Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam: Tinjauan Teoritis
dan Praktis (Jakarta: Kencana, 2010), h.127.

40

4) Diterbitkan tanpa warkat (scripless);


5) Dapat diagunkan kepada Bank Indonesia; dan
6) Tidak dapat diperdagangkan dipasar sekunder.
Mekanisme penerbitan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
melalui lelang yang melibatkan:
1. Bank Umum Syariah (BUS) atau Unit Usaha Syariah (UUS) atau
pialang yang bertindak untuk dan atas nama BUS atau UUS, dan
2. BUS atau UUS, baik sebagai peserta langsung maupun peserta
tidak langsung, wajib memenuhi persyaratan Financing to Deposit
Ratio (FDR) yang ditetapkan Bank Indonesia.
Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) data direpokan kepada Bank
Indonesia. Repo SBIS berdasarkan qard yang diikuti dengan rahn. BUS atau
UUS terlebih dulu wajib menandatangani perjanjian pengagunan SBIS dalam
Rangka Repo SBIS. Terhadap Repo SBIS dikenakan biaya Repo. Dengan
dikeluarkan instrument SBIS ini, maka:
1. Sertifikat Wadiah Bank Indonesia yang telah diterbitkan sebelum
Peraturan Bank Indonesia ini diberlakukan, tetap berlaku dan tunduk pada
ketentuan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/7/PBI/2004 tanggal
16 Februari 2004 tentang SWBI sampai SWBI tersebut jatuh tempo.

41

2. Dengan dikeluarkannya Peraturan Bank Indonesia ini,peraturan Bank


Indonesia Nomor 6/7/PBI/2004 tanggal 16 Februari 2004 tentang SWBI
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.44

C.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)


Peningkatan atau penurunan harga saham yang direflesikan oleh

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bukan hanya mencerminkan


pekembangan perusahaan atau industry suatu negara.45 Perubahan IHSG
bahkan bisa dianggap sebagai perubahan yang lebih fundamental dari suatu
negara. Artinya maju mundurnya suatu negara bias dilihat dari Indeks Harga
Saham Gabungan suatu negara tersebut.
Investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sangat berkepentingan
dengan naik-turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena nilai
portofolio sahamnya secara umum tergantung pada naik turunnya indeks ini.
Secara intuitif, sebagian besar saham atau portofolio saham bergerak searah
dengan pergerakan indeks. Indeks harga saham sangat dipengaruhi variabelvaiabel makro seperti suku bunga bebas risiko, kurs mata uang,surplus neraca
perdagangan, cadangan devisa dan inflasi. 46
44

Ibid,. h. 127

45

Bahtiar Usman, Pengaruh Suku Bunga Deposito, PDB, dan Volume Perdagangan
Saham terhadap IHSG di Indonesia, Media Riset Bisnis dan Manajemen (april 2007), h.99
46

Budi Frensidy, Analisis Pengaruh Aksi Beli-Jual Asig, Kurs, dan Indeks Hang
Seng terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di BEI dengan Model GARCH, Media Riset
Bisnis & Manajemen (vol. 8. No.3, Desember 2008), h. 213.

42

Jika kondisi surplus neraca membaik, modal asing akan lebih banyak
masuk atau terjadi capital inflow. Capital inflow ini pada akhirnya akan
menyebabkan mata uang rupiah menguat atau kurs USD dalam rupiah
menurun. Sebagian modal asing itu akan ditanamkan dalam portofolio saham
sehingga memberikan efek positif untuk pasar saham dan indeksnya.
Indeks Harga Saham sebenarnya merupakan angka Indeks Harga
Saham yang telah disusun dan dihitung sedemikian rupa sehingga dapat
dipergunakan untuk membandingkan kegiatan atau peristiwa, bisanya berupa
perubahan harga saham, dari waktu ke waktu.47
IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan menunjukkan pasar efek
secara umum karena G adalah gabungan dari seluruh saham.
Rata-rata IHSG = Jumlah IHSG periode harian selama 1 bulan
Jumlah periode waktu selama 1 bulan
IHSG dihitung setiap hari sesudah penutupan perdagangan. Angka
positif yang menyertai perubahan IHSG mnunjukkan kenaikan dari IHSG
sebelumnya. Angka negative menunjukkan IHSG turun dibanding IHSG
sebelumnya. Jika Indeks Harga Saham tidak berubah menunjukkan bahwa
kondisi stabil. Indeks menggambarkan trend pergerakan pasar dan menjadi

47

Vonny Dwiyanti, Panduan Praktis Bermain Saham (Jakarta: Atma Media Press,
2010), h. 71-72.

43

indicator yang sangat penting bagi pelaku di pasar modal khususnya pasar
saham.48

D.

Nilai Tukar Rupiah49


Kurs valuta asing atau kurs mata uang asing menunjukkan harga atau

nilai mata uang suatu negara dinyatakan dalam nilai mata uang negara lain.
Kurs valuta asing dapat didefinisikan sebagai jumlah uang domestik yang
dibutuhkan untuk memperoleh satu unit mata uang asing.
Kurs mata uang Indonesia saat ini biasanya dinyatakan terhadap USD.
Sehingga ketika USD menguat terhadap Rupiah maka nilai tukar mata uang
rupiah menurun (depreciated) ataupun sebaliknya.50 Perubahan ini besarnya
tidak proporsional untuk setiap mata uang asing sebab banyak faktor yang
bepengaruh terhadap kuat lemahnya mata uang suatu negara.
Turunnya nilai rupiah terhadap USD membuat para investor ragu akan
kinerja emiten dapat berkembang dengan baik. Selain itu, sulitnya untuk
mengantisipasi gerak fluktuasi rupiah membuat para investor bimbang. Hal
tersebut dapat menyebabkan indeks-indeks di bursa efek Jakarta yang terus
menerus berfuktuasi tersebut cenderung turun dengan tajam.
48

Ibid,. h.73

49

Sukirno, Sadono, Pengantar Teori Makro Ekonomi. Edisi Kedua, (Jakarta: PT


Raja Grafindo Persada, 2002).h.358.
50

Anonim, Laporan Tahunan Bank Indonesia (Bank Indonesia Jawa Timur,


Surabaya 1996), h.46.

44

Nilai tukar adalah nilai mata uang suatu negara diukur dari nilai satu
unit mata uang terhadap mata uang negara lain. besarnya jumlah mata uang
tertentu yang diperlukan untuk memperoleh satu unit valuta asing disebut
dengan Kurs Mata Uang Asing. Apabila kondisi ekonomi suatu negara
mengalami perubahan, maka biasanya diikuti oleh perubahan nilai tukar
secara substansional.51
Resiko nilai kurs merupakan resiko yang timbul akibat pengaruh
perubahan nilai tukar mata uang domestik dengan nilai tukar mata uang
negara lain (asing). Perusahaan yang menggunakan mata uang asing dalam
menjalankan aktivitas operasional dan investasinya akan menghadapi resiko
nilai tukar (kurs). Perubahan nilai tukar yang tidak diantisipasi oleh
perusahaan akan berpengaruh terhadap nilai perusahaan tersebut.
Sistem Nilai Tukar
Pada dasarnya terdapat 3 (tiga) sistem nilai tukar, yaitu: pertama,
sistem nilai tukar tetap (Fixed Exchanged Rate), kedua, sistem nilai tukar
mengambang (Floating Exchanged Rate), ketiga, sistem nilai tukar
mengambang terkendali (Managed Floatig Exchanged Rate).52

51

Sadono Sukirno, Pengantar Teori Makro Ekonomi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2002) h178.
52

h.109-111.

Mugi Rahardjo, Ekonomi Moneter, (Surakarta: UNS Press, 2009).

45

a.

Sistem Nilai Tukar Tetap (Fixed Exchanged Rate)


Merupakan nilai tukar (kurs) suatu mata uang terhadap mata uang lain
ditetapkan pada nilai tertentu, misalkan: nilai tukar mata uang rupiah
terhadap mata uang dollar Amerika adalah Rp. 8.000, per dollar. Pada
sistem nilai tukar ini bank sentral akan siap menjual atau membeli
kebutuhan devisa untuk mempertahankan nilai tukar yang ditetapkan
pemerintah, sebab sebetulnya nilai tukar mata uang dengan mata uang
lain bergantung atas permintaan dan penawaran mata uang itu sendiri.
Apabila nilai tukar tersebut tidak lagi dapat dipertahankan, maka bank
sentral dapat melakukan devaluasi atau revaluasi atas nilai tukar yang
ditetapkan.
Devaluasi adalah kebijakan yang diambil oleh pemerintah pada suatu
negara untuk secara sepihak menurunkan nilai tukar mata uang negara
tersebut terhadap mata uang lainnya; misal nilai tukar rupiah yang
semula ditetapkan sebesar Rp. 9.000,. per dollar AS diturunkan
menjadi Rp. 10.000,. per dollar AS. Sebaliknya, Revaluasi adalah
kebijakan menaikkan nilai tukar negara terhadap mata uang lain.

b.

Sistem Nilai Tukar Mengambang (Floating Exchanged Rate).


Merupakan nilai tukar dibiarkan bergerak sesuai dengan kekuatan
permintaan yang terjadi di pasar. Dengan demikian, nilai tukar akan

46

menguat apabila terjadi kelebihan permintaan di atas penawaran, dan


sebaliknya nilai tukar akan melemah apabila terjadi kelebihan
penawaran di atas permintaan yang terjadi di pasar valuta asing.
Nilai tukar dikatakan melemah, apabila diperlukan nilai uang yang
lebih banyak untuk membeli valuta asing dalam jumlah yang sama,
misalnya nilai tukar rupiah melemah dari semula per dollar dapat
dibeli dengan Rp. 9.000,. menjadi Rp. 10.000,. per dollar. Bank sentral
dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing, yaitu dengan
menjual devisa dalam hal terjadi kekurangan pasokan atau membeli
devisa apabila terjadi kelebihan penawaran untuk menghindari gejolak
nilai tukar yang berlebihan di pasar, akan tetapi intervensi dimaksud
tidak diarahkan untuk mencapai target tingkat nilai tukar tertentu atau
dalam kisaran tertentu.
c.

Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali (Managed Floatig


Exchanged Rate).
Merupakan sistem yang berada diantara kedua sistem nilai tukar di
atas. Dalam sistem nilai tukar ini, bank sentral menetapkan batasan
suatu kisaran tertentu dari pergerakan nilai tukar yang disebut
intervention band (batas pita intervensi). Nilai tukar akan ditentukan
sesuai mekanisme pasar sepanjang berada di dalam batas kisaran pita

47

intervensi tersebut. Apabila nilai tukar menembus batas atas atau batas
bawah dari kisaran tersebut, bank sentral akan secara otomatis
melakukan intervensi di pasar valuta asing, sehingga nilai tukar
bergerak kembali ke dalam pita intervensi.
Apabila nilai tukar rupiah menembus batas atas atau batas bawah dari
pita intervensi secara otomatis bank sentral akan menjual atau
membeli devisa yang diperlukan oleh pasar sehingga nilai tukar
bergerak kembali ke dalam batas kisaran pita intervensi. Penetapan
lebarnya kisaran intervensi tergantung pada besarnya cadangan devisa
yang dimiliki bank sentral serta kemungkinan kebutuhan yag terjadi di
pasar. Umumnya hal ini akan disesuaikan dari waktu ke waktu sesuai
dengan perkembangan cadangan devisa dan volume transaksi di pasar
valuta asing.

E.

Sekilas Tentang Dana Reksa Syariah Berimbang53


Reksadana Danareksa Syariah Berimbang (Danareksa Syariah

Berimbang) adalah Reksadana terbuka berbentuk Kontrak Investasi Kolektif


(KIK) berdasarkan UU No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal dan
peraturan pelaksanaannya. Kontrak Investasi Kolektif Danareksa Syariah
Berimbang dituangkan dalam Akta No. 31 tanggal 15 November 2000 dan
53

Danareksa Invesment Management, Prospektus Pembaharuan Reksa Dana


Danareksa Syariah Berimbang 2010,(Jakarta: Danareksa Invesment Management.2010) h.2-8.

48

Addendum Kontrak Investasi Kolektif Danareksa Syariah Berimbang No. 26


Tanggal 23 Juli 2002 yang dibuat dihadapan Notaris Benny Kristianto, S.H. di
Jakarta, antara PT. Danareksa Investment Management sebagai Manajer
Investasi dan ABN Amro Bank sebagai Bank Kustodian yang kemudian
digantikan oleh Citibank, N.A., Cabang Indonesia sebagai Bank Kustodian.
Danareksa

Syariah

Berimbang

bertujuan

untuk

mendapatkan

pertumbuhan nilai investasi dalam jangka panjang dan memperoleh


pendapatan yang berkelanjutan kepada pemodal yang hendak mengikuti
Syariah Islam. Kekayaan Danareksa Syariah Berimbang akan diinvestasikan
minimum 25% hingga maksimum 75% dalam Efek Ekuitas dan minimum
25% hingga maksimum 75% dalam Efek Hutang dan Instrumen Pasar Uang
dengan mengikuti syariah Islam.
PT. Danareksa Investment Management selaku Manager Investasi
melakukan Penawaran Umum atas unit Penyertaan danareksa syariah
berimbang secara terus menerus sampai dengan 1.000.000.000 (satu milyar)
Unit Penyertaan. Setiap unit penyertaan danareksa syariah berimbang
ditawarkan dengan harga sama dengan NAB awal yaitu Rp 1.000,- (seribu
rupiah) per Unit Penyertaan pada hari pertama penawaran. Selanjutnya harga
pembelian setiap Unit Penyertaan danareksa syariah berimbang ditetapkan
berdasarkan NAB danareksa syariah berimbang pada hari bursa yang
bersangkutan. Jumlah Unit Penyertaan minimum yang dapat dibeli oleh setiap

49

pihak pada pembelian pertama adalah sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta


rupiah), dan pada setiap pembelian berikutnya adalah sebesar Rp 500.000,(lima ratus ribu rupiah).
Karakteristik Syariah Berimbang54
a. Batasan Investasi; Danareksa Syariah Berimbang tidak akan membeli
saham yang diterbitkan oleh perusahaan yang jenis dan ruang lingkup
kegiatan usahanya tidak sesuai dengan prinsip Syariah Islam.
b. Keberadaan Dewan Pengawas Syariah; bertugas memberikan arahan
kegiatan Manajer Investasi agar senantiasa sesuai dengan Syariah Islam.
c. Tata Cara Investasi; Investasi dalam Danareksa Syariah Berimbang
dilakukan dengan menghindari gharar (resiko yang tidak wajar) dan
maysir (bersifat judi).
d. Penyisihan Pendapatan; Pendapatan yang tidak sesuai dengan Syariah
Islam harus disisihkan dan akan dikeluarkan dari hasil investasi syariah
berimbang dalam bentuk shadaqah. Penyaluran shadaqah ini akan diaudit
dalam laporan keuangan.
e. Penyaluran Zakat Maal; Manajer Investasi menawarkan jasa untuk
memotong dan menyalurkan Zakat Maal para Pemegang Unit Penyertaan.

54

Ibid., h.8-9

50

BAB III
METODE PENELITIAN
A.

Ruang Lingkup Penelitian


Dalam penulisan skripsi ini, data yang didapat, diolah, dan
dikembangkan dengan berbagai macam cara dapat digunakan, misalnya tahun
penelitian, teknik analisis, dan lain sebagainya. Akan tetapi mengingat
keterbatasan waktu, biaya dan kemampuan penulis, maka penelitian ini hanya
terbatas pada 1 (satu) jenis Reksadana syariah saja, yaitu Danareksa Syariah
Berimbang yang merupakan jenis Reksadana campuran yang diterbitkan oleh
PT. Danareksa Invesment Management. Ruang lingkup penelitian ini adalah
melihat pengaruh 3 (tiga) variabel Independent yaitu Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan Nilai
Tukar Rupiah terhadap Variabel dependent dalam penelitian ini adalah Nilai
Aktiva Bersih Danareksa Syariah Berimbang pada periode 31 Januari 2008
sampai dengan 31 Oktober 2010.
Penelitian ini bersifat deskriptif, dimana penulis melihat keterkaitan
hubungan dan mengkontekstualisasikan keterangan dari data lapangan..
Penulis juga langsung melakukan penelitian di dua lokasi, yaitu pada Pusat
Layanan Informasi pada Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) di BEJ dan
Perpustakaan Bank Indonesia (BI). Penelitian ini juga bersifat kuantitatif

51

artinya berkaitan dengan angka-angka dan dapat diukur yang digunakan untuk
melihat pengaruh variabel independent terhadap variabel dependent.

B.

Teknik Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini, obyek penelitian adalah Nilai Aktiva Bersih
(NAB) Reksadana Syariah dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa
Syariah Berimbang yang merupakan sebuah produk reksadana campuran yang
dikeluarkan oleh PT. Danareksa Invesment Management dan obyek penelitian
lain seperti Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah pada periode 31 Januari 2008
hingga 31 Oktober 2010. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
pengaruh Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Nilai Aktiva Bersih
(NAB) Danareksa Syariah Berimbang periode 31 Januari 2008 hingga pada
31 Oktober 2010.

C.

Sumber Data
Data yang digunakan dan dianalisis dalam penelitian ini adalah data
sekunder. Data sekunder merupakan data yang telah tersedia dan tidak perlu
dikumpulkan lagi. Data sekunder ini dalam bentuk Laporan Bulanan antara
lain Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang, Sertifikat

52

Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan
Nilai Tukar Rupiah yang penulis peroleh dari publikasi Bursa Efek Jakarta
serta Laporan bulanan Bank Indonesia dan data lainnya melalui internet
(internet research) seperti www.bi.go.id, www.idx.co.id dan lain-lain.
Selain itu, Penelitian ini dilakukan juga dengan cara library research
atau mempelajari dan memahami data atau bahan yang diperoleh dari
berbagai literature, serta mencatat teori-teori yang didapat dari buku-buku,
majalah, jurnal, artkel, atau karya ilmiah yang berkaitan dengan pembahasan
penelitian ini.
Data-data sekunder yang dipergunakan oleh penulis dalam rangka
menjawab penelitian pada bab IV adalah sebagai berikut:
1. Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang dan Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada Pusat
Referensi Pasar Modal (PRPM) setiap bulannya selama periode 31 Januari
2008 sampai dengan 31 Oktober 2010.
2. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) dan Nilai Tukar Rupiah pada
Laporan Bulanan Bank Indonesia selama periode 31 Januari 2008 sampai
dengan 31 Oktober 2010.

53

D.

Operasional Variabel Penelitian


1. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
Adapun data SBIS selama periode 31 Januari 2008 31 Oktober 2010
sebagai berikut:
Tabel 3.1
Data Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
31 Januari periode 2008 31 Oktober 2010
SERTIFIKAT BANK INDONESIA SYARIAH (SBIS)
BULAN

2008
3189

2009

2010

3488

3373

3717

3192

2972

2135

2135

2425

2829

2361

3027

2110

2539

1656

2042

1819

2734

1175

1253

2576

438

2321

1882

413

2635

2310

453

2835

2783

1063

2142

2545

3076

JANUARI
FEBRUARI
MARET
APRIL
MEI
JUNI
JULI
AGUSTUS
SEPTEMBER
OKTOBER
NOVEMBER
DESEMBER

54

SBIS merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi investor dalam


berinvestasi. Apabila SBIS naik maka investor akan beralih pada kegiatan
investasi lain yang lebih menguntungkan dan bebas risiko, sehingga indeks
pasar modal akan turun, sebaliknya apabila SBIS turun maka masyarakat akan
beralih ke jenis investasi lain yang lebih menguntungkan di pasar modal
seperti reksadana syariah.
Tabel 3.1 menunjukkan bahwa SBIS Mengalami penurunan dan
kenaikan, yakni : untuk tahun 2008 dimana nilai SBIS tertinggi terjadi pada
bulan bulan Februari yaitu dengan nilai 3717, sedangkan nilai SBIS terendah
terjadi di bulan September yaitu dengan nilai 413. Selanjutnya untuk tahun
2009 dimana nilai SBIS tertinggi terjadi pada bulan Januari dengan nilai 3488,
sedangkan nilai SBIS terendah terjadi di bulan Juli dengan nilai 1253.
Selanjutnya untuk tahun 2010 dimana nilai SBIS tertinggi terjadi pada bulan
Januari dengan nilai 3373, sedangkan nilai SBIS terendah terjadi di bulan Mei
yaitu dengan nilai 1656. Jadi selama periode 31 Januari 2008 31 Oktober
2010 menunjukkan nilai SBIS tertinggi terjadi pada bulan Februari 2008
dengan nilai 3717 dan nilai SBIS terendah terjadi pada bulan September 2008
yaitu dengan nilai 413.

55

2. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).


Indeks Harga Saham menjadi barometer kesehatan pasar modal yang
dapat menggambarkan kondisi bursa efek yang terjadi. Jika Indeks Harga
Saham naik terus, dapatlah dikatakan bahwa keadaan pasar modal sedang
baik. Para investor sering menggunakan IHSG sebagai patokan dalam
berinvestasi karena dengan IHSG, investor dapat menentukan saat investasi
sudah tiba. Melalui indeks diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan
investor untuk mengembangkan investasi. Adapun data Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) periode 31 Januari 2008 31 Februari 2010 :
Tabel 3.2
Data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
31 Januari periode 2008 31 Oktober 2010
INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG)
BULAN

2008

2009

2010

JANUARI
FEBRUARI
MARET
APRIL
MEI
JUNI
JULI
AGUSTUS
SEPTEMBER
OKTOBER
NOVEMBER
DESEMBER

2627.251
2721.944
2447.299
2304.516
2444.349
2349.105
2304.508
2165.943
1832.507
1256.704
1241.541
1355.408

1332.667
1285.476
1434.074
1722.766
1916.831
2026.780
2323.236
2341.537
2467.591
2367.701
2415.837
2534.356

2610.796
2554.674
2777.301
2971.252
2796.957
2913.684
3069.280
3081.884
3501.296
3635.324

56

Tabel 3.2 menunjukkan bahwa data IHSG mengalami penurunan dan


kenaikan, yakni untuk tahun 2008 dimana nilai IHSG tertinggi terjadi pada
bulan Februari yaitu dengan nilai 2721.944, sedangkan nilai IHSG terendah
terjadi di bulan November yaitu dengan nilai 1241.541. Selanjutnya untuk
tahun 2009 dimana nilai IHSG tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu
dengan nilai 2534.356, sedangkan nilai IHSG terendah terjadi pada bulan
Februari yaitu dengan nilai 1285.476. Selanjutnya untuk tahun 2010 dimana
nilai IHSG tertinggi terjadi pada bulan Oktober yaitu dengan nilai 3635.324,
sedangkan nilai IHSG terendah terjadi di bulan Februari yaitu dengan nilai
2554.674. Jadi Selama periode 31 Januari 2008 31 Oktober 2010
menunjukkan nilai IHSG tertinggi terjadi di bulan Oktober 2010 yaitu dengan
nilai 3635.324 dan nilai IHSG terendh terjadi pada bulan November 2008
yaitu dengan nilai 1241.541.

3. Nilai Tukar Rupiah.


Nilai Tukar dapat dipresentasikan sebagai sejumlah mata uang lokal
yang dibutuhkan untuk membeli satu unit mata uang asing. Risiko nilai kurs
merupakan risiko yang timbul akibat perubahan nilai tukar mata uang
domestik dengan nilai tukar mata uang negara lain (asing). Perusahaan yang
menggunakan mata uang dalam menjalankan aktivitas operasional dan
investasinya akan menghadap risiko nilai tukar (kurs). Perubahan nilai tukar

57

yang tidak diantisipasi oleh perusahaan akan berpengaruh terhadap nilai


perusahaan. Adapun data nilai tukar rupiah terhadap 1 USDollar menurut
Bank Indonesia (kurs BI) pada setiap akhir bulan selama periode Januari 2008
hingga Oktober 2010 adalah:
Tabel 3.3
Data Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD
31 Januari periode 2008 31 Oktober 2010
NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP USD
BULAN

2008
9291

2009
11355

9365

9051

11980

9335

9217

11575

9115

9234

10713

9012

9318

10340

9180

9225

10225

9083

9118

9920

8952

9153

10060

9041

9378

9681

8924

10995

9545

8928

12151

9480

10950

9400

JANUARI
FEBRUARI
MARET
APRIL
MEI
JUNI
JULI
AGUSTUS
SEPTEMBER
OKTOBER
NOVEMBER
DESEMBER

2010

58

Pada Tabel 3.3 Menunjukkan adanya fluktuatif nilai tukar rupiah


terhadap dollar, yakni untuk tahun 2008 dimana nilai tukar rupiah sangat
melemah terhadap dollar terjadi pada bulan November 2008 yaitu dengan
nilai Rp. 12.151, sedangkan nilai tukar rupiah paling kuat terhadap dollar
terjadi di bulan Februari 2008 yaitu dengan nilai Rp. 9.051. Selanjutnya untuk
tahun 2009 dimana nilai tukar rupiah sangat melemah terhadap dollar terjadi
pada bulan Februari 2009 yaitu dengan nilai Rp. 11.980, sedangkan nilai
tukar rupiah paling kuat terhadap dollar terjadi di bulan Desember 2009 yaitu
dengan nilai Rp. 9.400. Selanjutnya untuk tahun 2010 dimana nilai tukar
rupiah sangat melemah terhadap dollar terjadi pada bulan Januari 2010 yaitu
dengan nilai Rp. 9.365, sedangkan nilai tukar rupiah paling kuat terhadap
dollar terjadi di bulan Juli 2010 yaitu dengan nilai Rp. 8.952. Jadi Selama
periode 31 Januari 2008 hingga 31 Oktober 2010 menunjukkan nilai tukar
rupiah paling lemah terhadap dollar terjadi pada bulan November 2008 yaitu
dengan nilai Rp. 12.151 dan nilai tukar rupiah yang paling kuat terjadi pada
bulan Juli 2010 sebesar Rp. 8.952.
4 . Nilai Aktiva Bersih Danareksa Syariah Berimbang
NAB merupakan salah satu tolak ukur untuk memantau hasil dari
Reksadana syariah. Besarnya NAB bisa berfluktuasi setiap hari, tergantung
pada

perubahan

nilai

efek

dari

portofolio.

Meningkatnya

NAB

mengindikasikan naiknya nilai investasi pemegang saham atau Unit

59

Penyertaan. Begitu juga sebaliknya, menurunnya NAB berarti berkurangnya


nilai investasi pemegang saham atau unit penyertaan. Adapun data NAB
Perunit Danareksa Syariah periode 31 Januari 2008 hingga 31 Oktober 2010
adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4
Data NAB/unit bulanan Danareksa Syariah Berimbang
31 Januari periode 2008 31 Oktober 2010
NAB/Unit BULANAN DANAREKSA SYARIAH BERIMBANG
BULAN
2008
2009
2010
JANUARI
FEBRUARI
MARET
APRIL
MEI
JUNI
JULI
AGUSTUS
SEPTEMBER
OKTOBER
NOVEMBER
DESEMBER

3359.98
3493.89
3225.54
3097.65
3188.87
3133.53
2906.19
2757.45
2449.59
1822.45
1911.07
1960.21

1930.98
1998.82
2095.75
2361.28
2,752,23
2905.76
3269.4
3436.95
3541.87
3486.96
3527.12
3742.71

3757.27
3777.74
3946.89
4195.3
3654.46
4009.63
3269.4
4157.24
4436.35
4626.12

Tabel 3.4 menunjukkan bahwa data NAB mengalami penurunan dan


kenaikan, yakni untuk tahun 2008 dimana nilai NAB tertinggi terjadi bulan
Februari yaitu dengan nilai 3493.89 sedangkan nilai NAB terendah terjadi di
bulan Oktober dengan nilai 1822.45. Selanjutnya untuk tahun 2009 di mana
nilai NAB tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu dengan nilai 3742.71,

60

sedangkan Nilai NAB terendah terjadi di bulan Januari dengan nilai NAB
1930.98. Selanjutnya pada tahun 2010 dimana nilai NAB tertinggi terjadi
pada bulan Oktober yaitu dengan nilai 4626.12, sedangkan nilai NAB
terendah terjadi pada bulan Juli yaitu dengan nilai 3269.4. Jadi selama
periode 31 Januari 2008 hingga 31 Oktober 2010 menunjukkan nilai NAB
tertinggi terjadi di bulan Oktober 2010 yaitu dengan nilai NAB 4626.12 dan
nilai NAB terendah terjadi pada bulan Oktober 2008 yaitu dengan nilai NAB
1822.45

E. Teknik Penulisan Skripsi


Adapun teknik penulisan skripsi ini, penulis menggunakan Pedoman
Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta Tahun 2007.

F. Teknik Analisa Data


Langkah-langkah dalam menganalisis data adalah sebagai berikut:
1. Mendata Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang
selama periode 31 Januari 2008 sampai dengan 31 Oktober 2010.
2. Mendata Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah terhadap USD periode 31
Januari sampai dengan 31 Oktober 2010.

61

3. Melakukan pengukuran dan pengujian untuk mengetahui signifikan


pengaruh SBIS, IHSG, dan Nilai Tukar Rupiah terhadap NAB Danareksa
Syariah Berimbang sebagai reksadana Campuran. Selanjutnya data-data
tersebut akan diolah dengan menggunakan software SPSS Release 16.0
for windows. Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dengan menggunakan analisis statistic melalui pendekatan Regresi
Linear Berganda dan uji asumsi klasik, uji F, uji t, dan koefisien
determinasi dan selanjutnya akan dianalisis hasil regresi tersebut.
a. Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Digunakan untuk menguji apakah data tersebut normal atau
tidak. Data penelitian harus berdistribusi normal, salah satu cara untuk
mendeteksi asumsi normalitas adalah dengan melihat normal P. Plot.
Jika titik-titik mendekati garis diagonal, maka dapat dikatakan data
penelitian tersebut berdistribusi normal. Sebaiknya, jika titik-titiknya
menjauhi garis diagonal maka data tersebut tidak berdistribusi normal.
2. Uji Heteroskedastisitas
Ketidaksamaan
Heteroskedasitas

varians

adalah

dalam

fungsi

Homoskedastisitas

regresi.
yang

Lawan

merupakan

kesamaan varians dalam fungsi regresi. Data yang baik adalah data
yang tidak ada masalah Heteroskedastisitas (harus Homoskedastisitas).

62

Salah satu cara untuk mendeteksi Heteroskedastisitas adalah dengan


melihat Scatter Plot. Jika titik-titiknya menyebar di daerah + dan serta tidak membentuk pola, maka data tersebut tidak ada masalah
Heteroskedastisitas. Jika titik-titiknya menyebar di daerah + dan serta membentuk pola, maka dapat dikatakan data tersebut ada
masalah Heteroskedastisitas.
3. Uji Multikolinearitas
Terjadi jika variabel bebasnya saling berkorelasi satu sama
lain. Data yang baik tidak boleh ada masalah Multikolinearitas. Salah
satu cara untuk mendeteksi Multikolinearitas adalah dengan melihat
nilai VIF dan tolerance.
Jika nilai VIF < 10 dan tollerance > 0,1 maka dapat dikatakan tidak
ada masalah Multikolinearitas
Jika nilai VIF > 10 dan tolerance < 0,1 maka dapat dikatakan ada
masalah Multikolinearitas.
4. Uji AutoKorelasi
Terjadi jika kesalahan pengganggu saling berkorelasi satu
sama lain. Salah satu cara untuk mendeteksi masalah autokorelasi
adalah dengan melihat nilai Durbin-Watsson.

Jika nilai Durbin

Watson pada print out berada di antara -2 dan 2, berarti, tidak ada

63

masalah autokorelasi. Data yang baik adalah yang tidak ada masalah
autokorelasi.

-2
Ada Autokorelasi

0
Tidak ada Autokorelasi

+2
Ada Autokorelasi

b. Uji Statistik t (t - test)


Uji t digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh
masing-masing variabel independen secara individual terhadap variabel
dependen yang diuji pada tingkat signifikan 0,05.55 Uji t bertujuan untuk
mengetahui apakah variabel-variabel bebas yang digunakan dalam model
persamaan regresi, kriteria keputusannya adalah sebagai berikut:
Apabila t hitung > t tabel atau t statistik < 0.05, maka Ho ditolak dan
Ha diterima, berarti terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel
bebas terhadap variabel terikat.
Apabiila t hitung < t tabel atau t statistic > 0,05, maka Ha ditolak dan
Ho diterima, berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari
variabel bebas terhadap variabel terikat.

55

Imam Ghozali, Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS,


(Semarang: Balai Penerbit Unversitas Diponogoro, 2005),h.85.

64

c. Uji F
Uji F bertujuan untuk mengetahui apakah variabel bebas yang
digunakan dalam model regresi secara bersama-sama yang mampu
menjelaskan variabel terikatnya. Kriteria keputusannya sebagai
berikut:
Apabila F hitung > F tabel atau F statistic < 0.05 maka Ho ditolak dan
Ha diterima, berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel
bebas terhadap variabel terikat.
Apabila F hitung < F tabel atau F statistic > 0.05 maka Ha ditolak dan
Ho diterima, berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara
varibel bebas terhadap variabel terikat.
d. Koefisien Determinasi (R)
Bertujuan

untuk

mengetahui

kekuatan

variabel

bebas

(independent variable) menjelaskan variabel terikat (dependent


variable). Dengan kata lain, koefisien determinasi dilakukan untuk
melihat seberapa besar kemampuan variabel independen secara
bersama mampu memberi penjelasan terhadap variabel dependen.
Adapun rumus koefisien determinasi adalah sebagai berikut:
KD= r2 X 100%
Keterangan:
KD = Koefisien Determinasi

r = Koefisien Korelasi

65

e. Regresi Linear Berganda (multiple linear regresion)


Yaitu apabila dalam persamaan garis regresi tercakup lebih
dari dua variabel (termasuk variabel tidak bebas Y). dalam regresi
linear berganda, variabel tidak bebas Y tergantung bisa dua atau lebih
dari itu.56
Ada cara untuk menuliskan persamaan regresi linear berganda yang
mencakup dua atau lebih variabel, yaitu sebagai berikut:
Yi = A + B1 X1i + B2 X2i + +Bk Xki + i

f. Hipotesa
Hipotesa merupakan pernyataan yang didefinisikan dengan
baik mengenai karakteristik populasi. Ada dua macam hipotesis yang
dibuat dalam suatu percobaan penelitian, yaitu hipotesis nol dan
hipotesis alternative. Hipotesis nol adalah hipotesis yang akan diterima
kecuali bahwa data yang dikumpulkan salah. Hipotesis alternative
akan diterima hanya data yang dikumpulkan mendukung.57 Dalam hal
ini, pengujian dilakukan dengan menggunakan hipotesa sebagai
berikut:

56

57

J. Supranto, Ekonometrik Buku Satu, (Jakarta: Ghalia Indonesia),h.148.

Ety Rochaety, Metodologi Penelitian Bisnis dengan Aplikasi SPSS (Jakarta: Mitra
Wacana Media, 2007).h.104.

66

H01= tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari SBIS terhadap


NAB Danareksa Syariah Berimbang.
Ha1= terdapat pengaruh yang signifikan dari SBIS terhadap NAB
Danareksa Syariah Berimbang.
H02= tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari IHSG terhadap
NAB Danareksa Syariah Berimbang.
Ha2= terdapat pengaruh yang signifikan dari IHSG terhadap NAB
Danareksa Syariah Berimbang.
H03= tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap Nilai Tukar
Rupiah terhadap NAB Danareksa Syariah Berimbang.
Ha3= terdapat pengaruh yang signifikan terhadap Nilai Tukar Rupiah
terhadap NAB Danareksa Syariah Berimbang.
H04= tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan dari
SBIS, IHSG dan Nilai Tukar Rupiah terhadap NAB Danareksa
Syariah Berimbang.
Ha4= terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan dari SBIS,
IHSG dan Nilai Tukar Rupiah terhadap NAB Danareksa
Syariah Berimbang.

67

BAB IV
HASIL DAN ANALISA DATA

A. Uji Asumsi Klasik


1. Asumsi Normalitas
Digunakan untuk menguji data penelitian normal atau tidak. Data
penelitian harus berdistribusi normal, salah satu cara untuk mendeteksi
asumsi normalitas adalah dengan melihat Normal Probability Plot.. Dan
setelah melakukan pengolahan data menggunakan SPSS Release 16.0 for
windows dengan menggunakan analisis grafik, maka diperoleh hasil
seperti pada gambar berikut.
Gambar 4.1
Uji Normalitas Analisis Grafik

Sumber : Output SPSS

68

Pada prinsipnya Normalitas dapat dideteksi dengan melihat


penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Jika titik-titik
mendekati garis diagonal, maka dapat dikatakan data penelitian
tersebut berdistribusi normal. Sebaiknya, jika titik-titiknya menjauhi
garis diagonal maka data tersebut tidak berdistribusi normal. Dari
Gambar 4.1 dapat terihat bahwa data menyebar disekitar garis
diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi
memenuhi

Asumsi

Normalitas

karena

berdistribusi normal.
2. Uji Heteroskedastisitas
Gambar 4.2

Uji Heteroskedastisitas

Sumber : Output SPSS

model

penelitian

ini

69

Dari grafik scatterplot tersebut terlihat bahwa titik-titik


menyebar secara acak dan tersebar baik di atas maupun di bawah
angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi
heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak
dipakai untuk melihat pengaruhnya terhadap NAB Danareksa Syariah
Berimbang berdasarkan masukan variabel Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Nilai
Tukar Rupiah/USD.

3.

Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model
regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara
variabel independen. Model regresi yang tidak ada multikolonearitas
adalah yang mempunyai nilai besaran korelasi antar variabel bebas
kurang dari 95% VIF (Variance Inflation Factor) kurang dari angka
10 dan mempunyai nilai TOLERANCE lebih dari 0,1 atau 10%
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara
variabel independen, seperti terlihat pada tabel berikut:

70

Tabel 4.1
Uji Multikolinieraitas
Coefficients

Standardize

Model
1

Unstandardized

95% Confidence

Collinearity

Coefficients

Coefficients

Interval for B

Statistics

B
(Constant)

Bound

Bound

.957 -2237.245

VIF

.065

.049

.072

1.319

.197

-.035

.164

.832

1.202

1.184

.137

.963

8.653

.000

.905

1.464

.201

4.978

.022

.089

.027

.251

.804

-.159

.204

.215

4.643

Nilai Tukar Rupiah

.054

Sig.

Toleranc

1125.329

Indonesia Syariah

Saham Gabungan

Beta

Upper

60.984

Sertifikat Bank

Indeks Harga

Std. Error

Lower

2359.213

a. Dependent Variable: Nilai Aktiva Bersih Danareksa Syariah


Berimbang

Sumber : Output SPSS


Pada tabel di atas memiliki nilai tolerance lebih dari 0,1. Untuk
variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) memiliki tolerance
sebesar 0.832, kemudian nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
sebesar 0.201, dan nilai Nilai Tukar Rupiah sebesar 0.215. Sedangkan
hasil dari perhitungan nilai Variance Inflation Factor (VIF) juga
menunjukan hal yang sama yaitu terdapat nilai VIF kurang dari 10 untuk
variabel independen. Nilai VIF Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
adalah sebesar 1.202, nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah
sebesar 4.978, dan Nilai Tukar Rupiah sebesar 4.643. Dengan demikian

71

dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas karena nilai


besaran korelasi antar variabel bebas kurang dari 95% VIF (Variance
Inflation Factor) kurang dari angka 10 dan mempunyai nilai
TOLERANCE lebih dari 0,1 atau 10% antar variabel independen dalam
model regresi penelitian ini.

4.

Uji Autokorelasi
Terjadi jika kesalahan pengganggu saling berkorelasi satu sama lain.
Salah satu cara untuk mendeteksi masalah autokorelasi adalah dengan
melihat nilai Durbin-Watsson. Jika nilai Durbin Watson pada print out
berada di antara -2 dan 2, berarti, tidak ada masalah autokorelasi. Hasil
pengujian Autokorelasi data dapat dilihat pada table berikut ini:
Tabel 4.2
b

Model Summary

Model
1

R
.962

R Square
a

.925

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate
.918

Durbin-Watson

220.37060

1.366

a. Predictors: (Constant), Nilai Tukar Rupiah, Sertifikat Bank Indonesia Syariah,


Indeks Harga Saham Gabungan
b. Dependent Variable: Nilai Aktiva Bersih Danareksa Syariah Berimbang

Sumber : Output SPSS

72

Tabel hasil uji autokorelasi diatas menunjukkan bahwa nilai


Durbin Watson pada tabel summary adalah 1.366 dan nilai ini berada
diantara -2 dan +2 atau -21,3662 berarti model regresi yang
digunakan dalam penelitian ini tidak tedapat masalah autokorelasi
karena nilai Durbin Watson pada print out berada di antara -2 dan 2.
B. Pengujian Secara Statistik
a. Pengaruh variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah terhadap
Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang (Uji t)
Tabel 4.3
Coefficients

t tabel

Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients
Model
1 (Constant)
Sertifikat Bank Indonesia
Syariah
Indeks Harga Saham
Gabungan
Nilai Tukar Rupiah

Std. Error

Beta

Sumber : Output SPSS

Sig.

60.984

1125.329

.065

.049

.072

1.319

1,6972

.197

1.184

.137

.963

8.653

1,6972

.000

.022

.089

.027

.251

1,6972

.804

a. Dependent Variable: Nilai Aktiva Bersih Danareksa Syariah


Berimbang

T
.054

.957

73

Untuk melihat besarnya pengaruh variabel Sertifikat Bank


Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),
dan Nilai Tukar Rupiah secara sendiri sendiri atau parsial terhadap
Nilai Aktiva Bersih Danareksa Syariah Berimbang secara parsial,
digunakan Uji t. Hasil pengujian Uji t data dapat dilihat pada table 4.3.

(1) Pengaruh Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) terhadap


Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang.
Berdasarkan tabel koefisien di atas dapat terihat bahwa
variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) berdasarkan pada
daerah penerimaan H0 dan Ha, t

hitung

berada di dalam daerah

penerimaan H0, hal ini dikarenakan t hitung = 1,319 < (lebih kecil dari)
t

tabel

= 1,6972, sehingga H01 diterima Ha1 ditolak atau dapat

disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara


Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) terhadap Nilai Aktiva Bersih
(NAB) Danareksa Syariah Berimbang. Sedangkan nilai sebesar 0,197
pada kolom Sig/significance mengartikan bahwa tingkat kesalahan
variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) untuk memprediksi
Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang di atas 0,05.

74

(2) Pengaruh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhadap Nilai


Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang.
Berdasarkan tabel koefisien di atas dapat terihat bahwa
variabel Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berdasarkan pada
daerah penerimaan H0 dan Ha, t

hitung

berada di dalam daerah

penolakan H0, hal ini dikarenakan t hitung = 8,653 > (lebih besar dari)
t

tabel

= 1,6972, sehingga H02 ditolak Ha2 diterima atau dapat

disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Indeks


Harga Saham Gabungan (IHSG) terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB)
Danareksa Syariah Berimbang. Sedangkan nilai sebesar 0,000 pada
kolom Sig/significance mengartikan bahwa tingkat kesalahan variabel
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk memprediksi Nilai
Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang di bawah 0,05.

(3) Pengaruh Nilai Tukar Rupiah terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB)
Danareksa Syariah Berimbang.
Berdasarkan tabel koefisien di atas dapat terihat bahwa
variabel Nilai Tukar Rupiah berdasarkan pada daerah penerimaan H0
dan Ha, t hitung berada di dalam daerah penerimaan H0, hal ini
dikarenakan t hitung = 0,251 < (lebih kecil dari) t tabel = 1,6972,
sehingga H03 diterima Ha3 ditolak atau dapat disimpulkan bahwa tidak

75

terdapat pengaruh yang signifikan antara Nilai Tukar Rupiah terhadap


Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang. Sedangkan
nilai sebesar 0,804 pada kolom Sig/significance mengartikan bahwa
tingkat kesalahan variabel Nilai Tukar Rupiah untuk memprediksi
Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang di atas 0,05.

b. Pengaruh variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks


Harga Saham Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah terhadap
Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang (Uji F)
Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan semua variabel bebas
yang digunakan dalam model persamaan regresi berganda yang digunakan
mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen.
Hasil pengujian Significance Simultan atau F (ANOVA) data dapat dilihat
pada table berikut ini:
Tabel 4.4
ANOVAb
Model
1

Sum of Squares
Regression
Residual
Total

Df

Mean Square

1.806E7

6021410.355

1456896.093

30

48563.203

1.952E7

33

F
123.991

F tabel
2.92

Sig.
.000

a. Predictors: (Constant), Nilai Tukar Rupiah, Sertifikat Bank Indonesia Syariah, Indeks Harga
Saham Gabungan; b. Dependent Variable: Nilai Aktiva Bersih Danareksa Syariah Berimbang

Sumber : Output SPSS

76

Dengan membandingkan besarnya angka uji F penelitian


dengan F tabel, dimana F penelitian 123,991 > F tabel 2,92. Sedangkan
berdasarkan secara simultan (Uji F) diperoleh Fsign sebesar 0,000 lebih
kecil dari 0,05 atau 0,000 < 0,05. Sehingga H0 ditolak dan Ha diterima.
Hal ini berarti bahwa secara simultan (bersama-sama) terdapat pengaruh
variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Nilai Aktiva Bersih
(NAB) Danareksa Syariah Berimbang.

c. Pengujian Koefisien Determinasi (R-Square)


Untuk menentukan besarnya pengaruh SBIS, IHSG, dan Nilai Tukar
Rupiah terhadap NAB Danareksa Syariah Berimbang, maka digunakan
RSquare atau Koefisien Determinasi yang dapat dilihat dari tabel ini:
Tabel 4.5
b

Model Summary

Model
1

R Square
.962

.925

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate
.918

220.37060

Durbin-Watson
1.366

a. Predictors: (Constant), Nilai Tukar Rupiah, Sertifikat Bank Indonesia Syariah, Indeks Harga
Saham Gabungan
b. Dependent Variable: Nilai Aktiva Bersih Danareksa Syariah Berimbang

Sumber : Output SPSS

77

Berdasarkan tabel 4.5 di atas besarnya angka R Square (r) adalah


0,925.

Angka tersebut digunakan untuk melihat besarnya pengaruh

Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan


(IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB)
Danareksa Syariah Berimbang dengan cara menghitung Koefisien
Determinasi (KD) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
KD = r X 100%
KD = 0,925 X 100%
KD = 92,5%
Hal ini menjelaskan bahwa variabel Nilai Aktiva Bersih (NAB)
Danareksa Syariah Berimbang dipengaruhi oleh Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar
Rupiah sebesar 92,5%. Sedangkan sisanya 7,5% lainnya dipengaruhi
faktor lain di luar variabel SBIS, IHSG, dan Nilai Tukar Rupiah.

d. Pengujian Koefisien Regresi


Berdasarkan hasil output SPSS di atas, maka dapat diperoleh
sebuah persamaan, yaitu dengan persamaan regresi yang menunjukkan
hubungan yang dihipotesiskan. Persamaan dari hubungan antara Sertifikat
Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),

78

dan Nilai Tukar Rupiah dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa
Syariah Berimbang adalah sebagai berikut:
Y = 60,984 + 0,065 X1 + 1,184 X2 + 0,022 X3

Dari Persamaan di atas maka dapat dijelaskan bahwa:


1. Konstanta sebesar 60,984 yang menyatakan bahwa jika
variabel independen dianggap nol, maka rata-rata NAB per unit
Danareksa Syariah Berimbang adalah sebesar 60,984.
2. Koefisien Regresi 0,065 menyatakan bahwa setiap peningkatan
1 point X1 (Sertifkat Bank Indonesia Syariah/SBIS) akan
menaikkan NAB Danareksa Syariah Berimbang sebesar 0,065
point.
3. Koefisien Regresi 1,184 menyatakan bahwa setiap peningkatan
1 point X2 (Indeks Harga Saham Gabungan/IHSG) akan
menaikkan NAB Danareksa Syariah Berimbang sebesar 1,184
point.
4. Koefisien Regresi 0,022 menyatakan bahwa setiap peningkatan
1 point X3 (Nilai Tukar Rupiah) akan menaikkan NAB
Danareksa Syariah Berimbang sebesar 0,022 point.
5. Variabel IHSG adalah variabel yang memiliki pengaruh yang
signifikan

bagi

pertumbuhan

NAB

Danareksa

Syariah

Berimbang. Artinya variabel ini memiliki pengaruh yang

79

signifikan terhadap baik atau buruknya pertumbuhan NAB


Danareksa Syariah Berimbang. Selain itu, hal ini menunjukkan
bahwa secara agregatif naik atau turunnya IHSG akan
menaikkan

atau

menurunkan

NAB

Danareksa

Syariah

Berimbang.

C. Intervensi Koefisien Variabel Independent


Berdasarkan analisis yang penulis lakukan menunjukkan bahwa nilai
Fpenelitian lebih besar dari F tabel (123,991 > 2,92) dan nilai signifikansi
sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 atau 0,000 < 0,05. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa secara bersama-sama Sertifikat Bank Indonesia Syariah
atau SBIS ( X1), Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG (X2) dan Nilai
Tukar Rupiah/USD (X3) secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang
sangat signifikan terhadap NAB Danareksa Syariah Berimbang (Y) di Bursa
Efek Indonesia pada periode 31 Januari 2008 31 Oktober 2010. Keadaan ini
menunjukkan bahwa penggabungan variabel Sertifikat Bank Indonesia
Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Nilai Tukar
Rupiah/USD relevan digunakan untuk memprediksi NAB Danareksa Syariah
Berimbang di masa yang akan datang.
Dengan melihat hasil uji F dimana variabel independen mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen, hal ini bisa terlihat dari

80

data-data history masing-masing variabel independen yaitu variabel SBIS,


IHSG, dan Nilai Tukar Rupiah sejak periode 31 Januari 2008 31 Oktober
2010. Untuk variabel SBIS pada tabel 3.1 selama periode 31 Januari 2008
31 Oktober 2010 menunjukkan nilai SBIS tertinggi terjadi pada bulan
Februari 2008 dengan nilai 3717 dan nilai SBIS terendah terjadi pada bulan
September 2008 yaitu dengan nilai 413. Selanjutnya untuk variabel IHSG
pada tabel 3.2 Selama periode 31 Januari 2008 31 Oktober 2010
menunjukkan nilai IHSG tertinggi terjadi di bulan Oktober 2010 yaitu dengan
nilai 3635.324 dan nilai IHSG terendah terjadi pada bulan November 2008
yaitu dengan nilai 1241.541. Sedangkan untuk variabel Nilai Tukar Rupiah
pada tabel 3.3 Selama periode 31 Januari 2008 hingga 31 Oktober 2010
menunjukkan nilai tukar rupiah paling lemah terhadap dollar terjadi pada
bulan November 2008 yaitu dengan nilai Rp. 12.151 dan nilai tukar rupiah
yang paling kuat terjadi pada bulan Juli 2010 sebesar Rp. 8.952. Data-data
tersebutlah yang akan melengkapi masing-masing variabel independen ketika
adanya kenaikan dan penurunan pada setiap tahunnya.
Setelah diuji secara parsial, variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap NAB Danareksa
Syariah Berimbang karena nilai t hitung < t tabel = 1,319 < 1,6972, Nilai
signifikansinya juga menunjukkan lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,197
sehingga H01 diterima Ha1 ditolak atau dapat disimpulkan bahwa Hal ini

81

berarti bahwa variasi variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) secara
parsial tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Sertifikat Bank
Indonesia Syariah (SBIS) terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa
Syariah Berimbang.
Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui hasilnya bahwa variabel
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berdasarkan pada daerah penerimaan
H0 dan Ha, t hitung berada di dalam daerah penolakan H0, hal ini dikarenakan
t hitung = 8,653 > (lebih besar dari) t tabel = 1,6972, sehingga H02 ditolak Ha2
diterima dan nilai signifikansinya juga menunjukkan lebih kecil dari 0,05
yaitu sebesar 0,000 pada kolom Sig/significance, sehingga hal ini dapat
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa
Syariah Berimbang.
Sedangkan variabel Nilai Tukar Rupiah berdasarkan pada daerah
penerimaan H0 dan Ha, t hitung berada di dalam daerah penerimaan H0, hal
ini dikarenakan t hitung = 0,251 < (lebih kecil dari) t tabel = 1,6972, sehingga
H03 diterima Ha3 ditolak dan signifikansinya juga menunjukkan lebih besar
dari 0,05 yaitu sebesar 0,804 dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat
pengaruh yang signifikan antara Nilai Tukar Rupiah terhadap Nilai Aktiva
Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang.

82

Nilai koefisien determinasi (R Square/r) sebesar 92,5%. menunjukkan


bahwa kontribusi Sertifikat Bank Indonesia Syariah (X1), Indeks Harga
Saham Gabungan (X2) dan Nilai Tukar Rupiah terhadap USD (X3) dalam
menjelaskan variansi NAB Danareksa Syariah Berimbang sebesar 92,5% dan
sisanya sebesar 7,5% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti seperti
Inflasi, Gross Domestic Product (GDP), Return Saham, Suku Bunga Bank
Indonesia (SBI), Jakarta Islamic Indeks (JII), dan variabel lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas dapat dianalisa, bahwa
variabel IHSG merupakan patokan bagi para investor untuk berinvestasi,
dengan IHSG para investor dapat menentukan waktu yang tepat untuk
menanamkan modalnya dan saat investasinya dihentikan. Jika IHSG naik
terus, dapatlah dikatakan bahwa keadaan pasar modal sedang baik, bursa efek
sedang maju, dan situasi pasar yang seperti ini pastilah menunjukkan kondisi
perekonomian, sosial, politik yang sedang sehat, Sehingga return untuk
investor yang dihasilkan dalam kondisi yang meningkat dan begitupun
sebaliknya.
Pada variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) merupakan
kebijakan moneter yang bertujuan untuk mengatasi likuiditas pada bank yang
beroperasi dengan prinsip syariah. SBIS bagi bank syariah difungsikan
sebagai alat instrument investasi, sebagaimana Sertifikat Bank Indonesia
(SBIS) pada bank konvensional. Jika SBIS naik maka investor akan beralih

83

pada kegiatan investasi lain yang lebih menguntungkan dan bebas risiko,
sehingga indeks pasar modal akan turun, sebaliknya apabila SBIS turun maka
masyarakat akan beralih ke jenis investasi lain yang lebih menguntungkan di
pasar modal.
Sedangkan variabel Nilai Tukar Rupiah merupakan variabel makro
yang dapat mempengaruhi perekonomian suatu negara yang membaik yang
ditandai dengan meningkatnya Nilai Tukar mata uang domestik terhadap mata
uang asing, sehingga daya beli masyarakat akan meningkat dan kemampuan
masyarakat juga dalam berinvestasipun akan meningkat pula, hal ini akan
berdampak positif terhadap perkembangan pasar modal seperti adanya
kenaikan NAB Danareksa Syariah Berimbang.
Dari ketiga variabel yaitu variabel Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah
terhadap USD. Setelah dilakukan penelitian terhadap Nilai Aktiva Bersih
Danareksa Syariah Berimbang menunjukkan bahwa variabel IHSG menjadi
variabel yang paling dominan dan memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap NAB Danareksa Syariah, hal ini dikarenakan banyaknya para
pemodal yang portofolio investasinya juga menghasilkan keuntungan yang
cukup tinggi dengan ditunjukkan oleh meningkatnya IHSG, sedangkan
variabel SBIS dan Nilai Tukar Rupiah tidak memiliki pengaruh terhadap
pertumbuhan NAB Danareksa Syariah Berimbang.

84

BAB V
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Berdasarkan analisis pengaruh Sertifikat Bank Indonesia Syariah
(SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah
terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa Syariah Berimbang
periode 31 Januari 2008 sampai dengan 31 Oktober 2010 dengan
menggunakan regresi berganda dan pengujian statistik dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:

1. Secara bersama-sama ada pengaruh yang signifikan antara Sertifikat


Bank Indonesia Syariah (SBIS), Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG), dan Nilai Tukar Rupiah/USD terhadap Nilai Aktiva Bersih
(NAB) Danareksa Syariah Berimbang Periode 31 Januari 31
Oktober 2010. Hal ini ditunjukkan dari besarnya F hitung lebih
besar dari F tabel (123,991 > 2,92) dan nilai signifikan sebesar
0,000.
2. Secara parsial tidak ada pengaruh yang signifikan antara Sertifikat
Bank Indonesia Syariah (SBIS), nilai t hitung < t tabel (1,319 <
1,6972) dan nilai signifikansinya juga menunjukkan lebih besar
dari 0,05 yaitu sebesar 0,197.
3. Secara parsial ada pengaruh yang signifikan antara Indeks Harga
Saham Gaabungan (IHSG) terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB)

85

Danareksa Syariah Berimbang periode 31 Januari 2008 31


Oktober 2010, nilai t hitung > t tabel ( 8,653 > 1,6972) dan nilai
signifikansinya lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,000.
4. Secara parsial tidak ada pengaruh yang signifikan antara Nilai Tukar
Rupiah/USD terhadap Nilai Aktiva Bersih (NAB) Danareksa
Syariah Berimbang periode 31 Januari 2008 31 Oktober 2010.
Karena nilai t hitung < t tabel (0,251 < 1,6972) dan nilai
signifikansinya juga lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,804
5. Nilai koefisien determinasi (Adjusted R) sebesar 92,5%.
menunjukkan bahwa kontribusi SBIS, IHSG, dan Nilai Tukar
Rupiah/USD dalam menjelaskan variansi NAB Danareksa Syariah
Berimbang sebesar 92,5% dan sisanya sebesar 7,5% dipengaruhi
oleh variabel lain yang penulis tidak diteliti.
6. Variabel yang paling dominan mempengaruhi Nilai Aktiva Bersih
(NAB) Danareksa Syariah Berimbang adalah IHSG. Artinya
variabel ini mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap
baik buruknya perkembangan NAB Danareksa Syariah Berimbang
Periode 31 Januari 2008 31 Oktober 2010.

86

B.

Saran

Berkaitan dengan penelitian ini, Agar dapat diperoleh


gambaran yang lebih baik dan komprehensif, maka penulis
menyarankan beberapa hal sebagai berikut:
1.

Bagi Investor dapat menggunakan variabel IHSG sebagai


parameter dalam berinvestasi dengan memperhatikan informasi
kondisi perekonomian yang dapat dilihat dari variabel tersebut,
karena dalam penelitian ini variabel IHSG mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap NAB Danareksa Syariah
Berimbang.

2.

Bagi

Manager

Investasi,

sebaiknya

mempertimbangkan

variabel dalam penelitian ini dalam pengambilan keputusan


penempatan dana dari masyarakat pemodal supaya bisa
mempertahankan atau meningkatkan hasil dari Danareksa
Syariah Berimbang.
3.

Bagi Akademisi perlu diadakan penelitian selanjutnya, yakni


menyempurnakan penelitian ini dengan membandingkan NAB
dari semua manager investasi syariah yang ada di Indonesia,
menggunakan rentang waktu yang lebih lama agar diperoleh
hasil yang lebih akurat, selain itu hendaknya menambah
variabel-variabel baru dan pengembangan teori sehingga
penelitian selanjutnya lebih baik dan komprehenshif.

87

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Laporan Tahunan Bank Indonesia. Bank Indonesia Jawa Timur, Surabaya
1996.
Bank Indonesia. Catatan atas Laporan Keuangan Tahunan Tahun 2009
Bank Indonesia. Peraturan Moneter tentang SBIS, artikel ini diakses pada 7
Desember 2010 dari http://www.bi.go.id//
Bahtiar Usman, Pengaruh Suku Bunga Deposito, PDB, dan Volume Perdagangan
Saham terhadap IHSG di Indonesia, Media Riset Bisnis dan Manajemen
april 2007.
Bapepam-LK, Laporan Statistik NAB Reksadana Tahun 2010, ini diakses pada 6
Desember 2010 dari http:// www.idx.co.id//
Budi Frensidy, Analisis Pengaruh Aksi Beli-Jual Asig, Kurs, dan Indeks Hang Seng
terhadap Indeks Harga Saham Gabungan di BEI dengan Model GARCH,
Media Riset Bisnis & Manajemen. vol. 8. No.3, Desember 2008.
Danareksa Invesment Management, Prospektus Pembaharuan Reksa Dana Danareksa
Syariah Berimbang 2010. Jakarta: Danareksa Invesment Management.2010.
Dwiyanti, Vonny. Panduan Praktis Bermain Saham. Jakarta: Atma Media
Press.2010.
Eko, Rosiana Agustina. Saatnya Beralih ke Reksa Dana Syariah. Majalah Investor
edisi September 2010.

88

Elvira, Yuni dan Fiteriyanto. NAB Reksadana Berlomba dengan Tingkat Suku
Bunga. Jurnal Pasar Modal, No. 06/VIII/Juni 1997.
Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 20/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pedoman
Pelaksanaan Investasi untuk Reksa Dana Syariah, Himpunan Fatwa Dewan
Syariah Nasional Edisi Kedua, Jakarta: PT Intermasa,. 2003.
Ghozali, Imam. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS, Semarang:
Balai Penerbit Unversitas Diponogoro, 2005.
Huda, Nurul dan Mohamad Heykal. Lembaga Keuangan Islam: Tinjauan Teoritis
dan Praktis. Jakarta: Kencana. 2010.
Huda, Nurul dan Mustafa Edwin Nasution, Investasi pada Pasar Modal Syariah,
Jakarta: Kencana. 2008.
Manurung, Mandala. Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikroekonomi & Makroekonomi),
Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 2008.
Nur, Indriantoro dan Bambang Supomo, Metodologi Penelitian Bisnis Untuk
Akuntansi dan Managemen. Yogyakarta: BPFE. 2OO2.
Nurul Qomariyah, NAB Reksa Dana Syariah Juga Tergerus Krisis Hingga 17,72%,
artikel ini di akses pada 28 Februari 2011 dari http://www.detikfinance.com//
Pontjiwinoto, P

Iwan..

Publika. 2010.

Kaya dan Bahagia Cara Syariah. Jakarta: PT. Mizan

89

Putu. I Gede Ary Suta, Menuju Pasar Modal Modern. Jakarta: Yayasan SAD Satria
Bhakti.2000.
Rahardjo, Mugi, Ekonomi Moneter, Surakarta: UNS Press, 2009.
Rochaety, Ety, dkk. Metodologi Penelitian Bisnis Dengan Aplikasi SPSS.
Jakarta:Penerbit Mitra Wacana Media, 2009.
Siamat, Dahlan. Manajemen Lembaga Keuangan Edisi Keempat, Jakarta: FEUI
2004.
Silitonga, Desmon. Memilih Investasi Reksadana Tahun 2010. Jakarta: PT.
Millenium Danatama Indonesia, 2009.
Situmorang, M Paulus.

Pengantar Pasar Modal. Jakarta: Mitra Wacana Media.

2008.
Soemintra, Andri, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta: Kencana. 2009
Sukirno, Sadono. Pengantar Teori Makro Ekonomi, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2002.
Supranto. J. Ekonometrik Buku Satu, Jakarta: Ghalia Indonesia
Studi Tentang Profil dan Perilaku Investor Indonesia 2010, Mars Research
Spesiallist, edisi Februari 2010.

90

Timisela, S Audry, Pengaruh Indeks Syariah terhadap pertumbuhan NAB


Reksadana Syariah: Study pada Danareksa Syariah Berimbang tahun 20032007, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,2010.
Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas. Reksadana. artikel ini diakses
pada 6 Desember 2010 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Reksadana

91

LAMPIRAN

92

Tabel 1
Data NAB/unit bulanan Danareksa Syariah Berimbang
31 Januari periode 2008 31 Oktober 2010
NAB/Unit BULANAN DANAREKSA SYARIAH BERIMBANG
BULAN
2008
2009
2010
JANUARI
FEBRUARI
MARET
APRIL
MEI
JUNI
JULI
AGUSTUS
SEPTEMBER
OKTOBER
NOVEMBER
DESEMBER

3359.98
3493.89
3225.54
3097.65
3188.87
3133.53
2906.19
2757.45
2449.59
1.822,45
1911.07
1960.21

1930.98
1998.82
2095.75
2361.28
2,752,23
2905.76
3269.4
3436.95
3541.87
3486.96
3527.12
3742.71

3757.27
3777.74
3946.89
4195.3
3654.46
4009.63
3269.4
4157.24
4436.35
4626.12

93

Tabel 2
Data Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)
31 Januari periode 2008 31 Oktober 2010
SERTIFIKAT BANK INDONESIA SYARIAH (SBIS)
BULAN

2008
3189

2009

2010

3488

3373

3717

3192

2972

2135

2135

2425

2829

2361

3027

2110

2539

1656

2042

1819

2734

1175

1253

2576

438

2321

1882

413

2635

2310

453

2835

2783

1063

2142

2545

3076

JANUARI
FEBRUARI
MARET
APRIL
MEI
JUNI
JULI
AGUSTUS
SEPTEMBER
OKTOBER
NOVEMBER
DESEMBER

94

Tabel 3
Data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
31 Januari periode 2008 31 Oktober 2010
INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG)
BULAN

2008

2009

2010

JANUARI
FEBRUARI
MARET
APRIL
MEI
JUNI
JULI
AGUSTUS
SEPTEMBER
OKTOBER
NOVEMBER
DESEMBER

2627.251
2721.944
2447.299
2304.516
2444.349
2349.105
2304.508
2165.943
1832.507
1256.704
1241.541
1355.408

1332.667
1285.476
1434.074
1722.766
1916.831
2026.780
2323.236
2341.537
2467.591
2367.701
2415.837
2534.356

2610.796
2554.674
2777.301
2971.252
2796.957
2913.684
3069.280
3081.884
3501.296
3635.324

95

Tabel 4
Data Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD
31 Januari periode 2008 31 Oktober 2010
NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP USD
BULAN

2008
9291

2009
11355

9365

9051

11980

9335

9217

11575

9115

9234

10713

9012

9318

10340

9180

9225

10225

9083

9118

9920

8952

9153

10060

9041

9378

9681

8924

10995

9545

8928

12151

9480

10950

9400

JANUARI
FEBRUARI
MARET
APRIL
MEI
JUNI
JULI
AGUSTUS
SEPTEMBER
OKTOBER
NOVEMBER
DESEMBER

2010

96

Tabel 5
Data NAB/unit Danareksa Syariah Berimbang, SBIS, IHSG, dan Nilai Tukar
NAB/unit Danareksa Syariah Berimbang, SBIS, IHSG, dan Nilai Tukar Rupiah
Periode 31 Januari 2008 31 Oktober 2010
Nilai Tukar
NAB/unit
SBIS
IHSG
BULAN
Rupiah
2008
2008
2008
2008
3189
2627.251
9291
3359.98
JANUARI
3717
2721.944
9051
3493.89
FEBRUARI
2135
2447.299
9217
3225.54
MARET
2829
2304.516
9234
3097.65
APRIL
2110
2444.349
9318
3188.87
MEI
2042
2349.105
9225
3133.53
JUNI
1175
2304.508
9118
2906.19
JULI
438
2165.943
9153
2757.45
AGUSTUS
413
1832.507
9378
2449.59
SEPTEMBER
453
1256.704
10995
1.822,45
OKTOBER
1063
1241.541
12151
1911.07
NOVEMBER
2545
1355.408
10950
1960.21
DESEMBER
NAB/unit Danareksa Syariah Berimbang, SBIS, IHSG, dan Nilai Tukar Rupiah
Periode 31 Januari 2008 31 Oktober 2010
Nilai Tukar
NAB/unit
SBIS
IHSG
BULAN
Rupiah
2009
2009
2009
2009
1332.667
3488
11355
1930.98
JANUARI
1285.476
3192
11980
1998.82
FEBRUARI
1434.074
2135
11575
2095.75
MARET

97

APRIL

2361.28

MEI

2752,23

JUNI

2905.76

JULI

3269.4

AGUSTUS

3436.95

SEPTEMBER

3541.87

OKTOBER

3486.96

NOVEMBER

3527.12

DESEMBER

3742.71

2361

1722.766

10713

2539

1916.831

10340

1819

2026.780

10225

1253

2323.236

9920

2321

2341.537

10060

2635

2467.591

9681

2835

2367.701

9545

2,142

2415.837

9480

3,076

2534.356

9400

NAB/unit Danareksa Syariah Berimbang, SBIS, IHSG, dan Nilai Tukar Rupiah
Periode 31 Januari 2008 31 Oktober 2010
Nilai Tukar
NAB/unit
SBIS
IHSG
BULAN
Rupiah
2010
2010
2010
2010
JANUARI

3757.27

FEBRUARI

3777.74

MARET

3946.89

APRIL

4195.3

MEI

3654.46

JUNI

4009.63

JULI

3269.4

AGUSTUS

4157.24

SEPTEMBER

4436.35

OKTOBER

4626.12

3373

2610.796

2972

2554.674

9335

2425

2777.301

9115

3027

2971.252

9012

1656

2796.957

2734

2913.684

9083

2576

3069.280

8952

1882

3081.884

9041

2310

3501.296

2783

3635.324

9365

9180

8924
8928

98

DATA OUTPUT SPSS PENELITIAN

99

Coefficients

100

Standardize

Model
1

Unstandardized

95% Confidence Interval

Collinearity

Coefficients

Coefficients

for B

Statistics

B
(Constant)
Sertifikat Bank
Indonesia Syariah
Indeks Harga Saham
Gabungan
Nilai Tukar Rupiah

Std. Error

60.984

1125.329

.065

.049

1.184
.022

Beta

Sig.

Lower

Upper

Bound

Bound

.957

-2237.245

2359.213

.072

1.319

.197

-.035

.164

.832 1.202

.137

.963

8.653

.000

.905

1.464

.201 4.978

.089

.027

.251

.804

-.159

.204

.215 4.643

Berimbang

ANOVA

Sum of Squares
Regression
Residual

df

Mean Square

1.806E7

6021410.355

1456896.093

30

48563.203

1.952E7

33

Total

Sig.

123.991

.000

a. Predictors: (Constant), Nilai Tukar Rupiah, Sertifikat Bank Indonesia Syariah, Indeks Harga
Saham Gabungan
b. Dependent Variable: Nilai Aktiva Bersih Danareksa Syariah Berimbang

Model Summary

Model
1

R
.962

R Square
a

.925

VIF

.054

a. Dependent Variable: Nilai Aktiva Bersih Danareksa Syariah

Model

Tolerance

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate
.918

Durbin-Watson

220.37060

1.366

a. Predictors: (Constant), Nilai Tukar Rupiah, Sertifikat Bank Indonesia Syariah, Indeks
Harga Saham Gabungan
b. Dependent Variable: Nilai Aktiva Bersih Danareksa Syariah Berimbang

Correlations
Nilai Aktiva

Pearson Correlation

Sertifikat Bank

Indeks Harga

Syariah

Indonesia

Saham

Nilai Tukar

Berimbang

Syariah

Gabungan

Rupiah

Nilai Aktiva Bersih Danareksa


Syariah Berimbang
Sertifikat Bank Indonesia
Syariah
Indeks Harga Saham
Gabungan
Nilai Tukar Rupiah

Sig. (1-tailed)

Nilai Aktiva Bersih Danareksa


Syariah Berimbang
Sertifikat Bank Indonesia
Syariah
Indeks Harga Saham
Gabungan
Nilai Tukar Rupiah

101

Bersih Danareksa

Nilai Aktiva Bersih Danareksa


Syariah Berimbang
Sertifikat Bank Indonesia
Syariah
Indeks Harga Saham
Gabungan
Nilai Tukar Rupiah

1.000

.333

.959

-.819

.333

1.000

.273

-.088

.959

.273

1.000

-.872

-.819

-.088

-.872

1.000

.027

.000

.000

.027

.059

.310

.000

.059

.000

.000

.310

.000

34

34

34

34

34

34

34

34

34

34

34

34

34

34

34

34

Collinearity Diagnostics

Variance Proportions

Dimensi
Eigenvalue

Condition Index

(Constant)

Sertifikat Bank

Indeks Harga

Indonesia

Saham

Nilai Tukar

Syariah

Gabungan

Rupiah

Model

on

3.852

1.000

.00

.01

.00

.00

.086

6.680

.00

.81

.00

.00

.061

7.934

.00

.10

.15

.01

.001

75.394

1.00

.08

.85

.99

102

Collinearity Diagnostics

Variance Proportions

Dimensi
Condition Index

(Constant)

Indeks Harga

Indonesia

Saham

Nilai Tukar

Syariah

Gabungan

Rupiah

Model

on

3.852

1.000

.00

.01

.00

.00

.086

6.680

.00

.81

.00

.00

.061

7.934

.00

.10

.15

.01

.001

75.394

1.00

.08

.85

.99

a. Dependen

Eigenvalue

Sertifikat Bank