Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap wanita dalam usia subur setiap bulannya akan mendapat
menstruasi (haid). Sering haid yang datang disertai dengan rasa nyeri
pada daerah perut atau pinggang. Rasa nyeri saat haid atau yang
disebut dalam istilah medisnya dengan dismenore, banyak dialami
para wanita (Info sehat, 2008)
Nyeri saat haid (dismenore) ada dua bentuk yaitu dismenore
primer dan sekunder. Dismenore primer biasa timbul pada hari
pertama atau kedua dari menstruasi. Nyerinya bersifat kolik atau kram
dan dirasakan pada abdomen bawah. Beberapa faktor yang dikaitkan
dengan dismenore primer yaitu prostaglandin uterine yang tinggi, dan
faktor emosi/psikologis.belum diketahui dengan jelas bagaimana
prostaglandin bisa menyebabkan dismenore tetapi diketahui bahwa
wanita dengan dismenore mempunyai prostaglandin yang 4 kali lebih
tinggi daripada wanita tanpa dismenore. (Siswandi, 2007)
Dismenore sekunder yaitu nyeri haid yang berhubungan dengan
kelainan anatomis yang jelas, kelainan anatomis ini kemungkinan
adalah haid disertai infeksi, endometriosis, mioma uteri, polip
endometrial, polip serviks, pemakai IUD atau AKDR (alat kontrasepsi
dalam

rahim).

Untuk

menegakkan

penyebab

dismenore

perlu

konsultasi dengan dokter ahli kandungan sehingga dapat memberi


pengobatan yang tepat (Manuaba, 2009)
Menurut Journal Occupational and Enviromental, Di Amerika
Serikat, diperkirakan hampir 90% wanita mengalami dismenore, dan
10-15% diantaranya mengalami dismenore berat yang menyebabkan
wanita tidak mampu melakukan kegiatan apapun. Di Indonesia angka
kejadian dismenore terdiri dari 54,89% dismenore primer dan 9,36%
dismenore sekunder. Biasanya gejala dismenore primer terjadi pada

wanita usia produktif 3-5 tahun setelah mengalami haid pertama dan
wanita yang belum pernah hamil (Info sehat, 2008).
Studi

pendahuluan

yang

dilakukan

oleh

peneliti

berupa

wawancara tentang pengetahuan tentang dismenore kepada 10


Mahasiswa tingkat 1 di Asrama STIKES Karya Husada Semarang
didapatkan bahwa 3 diantaranya menyatakan mengetahui tentang
dismenore, 7 diantaranya tidak mengetahui tentang dismenore 4
diantaranya mengalami nyeri pada saat menstruasi.
Berdasarkan studi pendahuluan yang sudah dilakukan,peneliti
tertarik untuk melakukann penelitian tentang Gambaran Tingkat
Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dismenore Pada Tingkat Satu
Asrama STIKES Karya Husada Semarang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan

latar

belakang

diatas

dapat

dirumuskan

permasalahan sebagai berikut Bagaimana Tingkat Pengetahuan


remaja Putri Tentang Dismenorhe Pada Tingkat satu?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran Tingkat pengetahuan Remaja Putri Tentang
Dismenorhe Pada Tingkat Satu Asrama
Tujuan Khusus
Mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan remaja putri tentang
pengertian dismenorhea.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah bahan bacaan atau
referensi dan pemahaman mahasiswa tentang Dismenorhea.
2. Bagi Tenaga Kesehatan

Penelitian

ini

dapat

memberikan

masukan

kepada

tenaga

kesehatan khususnya bidan agar memberikan penyuluhan kepada


mahasiswa tentang dismenorhe.
3. Bagi Responden
Memberikan pengetahuan kepada mahasiswi tingkat satu tentang
dismenorhe.
4. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan mengenai penelitian yang diambil serta
dapat menerapkan teori yang telah didapat dalam penelitian,
sehingga diharapkan dapat memberikan asuhan dan konseling
tentang dismenorhe.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Tinjauan Teori
1. Dismenorhea
a. Pengertian Dismenorhea
Dismenorhea adalah rasa nyeri saat menstruasi yang
mengganggu kehidupan sehari-hari wanita (Manuaba, 2009)
derajat rasa nyerinya bervariasi mencakup Ringan (berlangsung
beberapa saat dan masih dapat meneruskan aktivitas seharihari),

Sedang

(karena

sakitnya

diperlukan

obat

untuk

menghilangkan rasa sakit, tetapi masih dapat meneruskan


pekerjaannya), Berat (rasa nyerinya demikian beratnya sehingga
memerlukan istirahat dan pengobatan untuk menghilangkan
nyerinya) (Manuaba, 2008)
b. Jenis Dismenorhea
Terdapat dua jenis dismenorhea yaitu:
1)

Dismenorhea
Primer
Nyeri yang terjadi sesudah 12 bulan atau lebih pasca
menarche (menstruasi pertama). Hal itu karena siklus
menstruasi pada bulan-bulan pertama setelah menarche
biasanya bersifat anovulatoir yang tidak disertai nyeri. Rasa
nyeri timbul sebelum atau bersamaan dengan menstruasi dan
berlangsung untuk beberapa jam, walaupun pada beberapa
kasus dapat berlangsung sampai beberapa hari.
Sifat nyeri pada dismenorhea ini adalah kejang yang
berjangkit-jangkit di perut bagian bawah, dapat merambat ke
daerah pinggang dan paha. Nyeri dapat disertai mual, muntah,
sakit kepala, dan diare. Menstruasi yang menimbulkan rasa
nyeri pada remaja sebagian besar disebabkan oleh dismenore
primer. (Dokter kita, 2007)

2)

Dismenorhea
Sekunder
Nyeri haid yang disebabkan suatu kelainan kongenital atau
kelainan organik di pelvis. Rasa nyeri yang timbul disebabkan
karena adanya kelainan pelvis, misalnya endometriosis,
mioma uteri (Dokter kita, 2007)

c. Penyebab Dismenorhea
Beberapa faktor penyebab dismenore primer, antara lain:
1)

Faktor kejiwaan
Gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka
tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid,
mudah timbul dismenorhea

2)

Faktor konstitusi
Faktor ini erat hubungannya dengan faktor kejiwaan yang
dapat juga menurunkan ketahanan terhadap nyeri. Faktorfaktor ini adalah anemia, penyakit menahun, dan sebagainya.

3)

Faktor obstruksi kanalis servikalis (leher rahim)


Salah satu teori yang paling tua untuk menerangkan
terjadinya dismenore primer adalah stenosis kanalis servikalis.
Sekarang hal tersebut tidak lagi dianggap sebagai faktor
penting sebagai penyebab dismenore primer, karena banyak
perempuan menderita dismenore primer tanpa stenosis
servikalis dan tanpa uterus dalam hiperantefleksi atau
hiperretrofleksi.

4) Faktor endokrin
Umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada
dismenore primer disebabkan oleh kontraksi uterus yang
berlebihan. Endometrium dalam fase sekresi memproduksi
prostaglandin F2 yang menyebabkan kontraksi otot-otot polos.
Jika jumlah prostaglandin yang berlebihan dilepaskan kedalam
peredaran darah, maka selain dismenorhea, dijumpai pula

efek umum, seperti diare, nausea, muntah, flushing (Sarwono,


2007)
Beberapa penyebab Dismenorhea sekunder karena adanya
keluhan sakit sewaktu haid akibat kelainan-kelainan organik,
misalnya:
a)

Endometriosis (endometrium atau selaput dinding rahim


berada di luar tempat yang seharusnya)

b)

Fibroid (tumor rongga panggul yang letaknya dekat


endometrium)

c)

Mioma uteri (adanya tumor dalam rongga rahim)

d)

Peradangan pada tuba falopi

e)

Perlengketan abnormal antara organ di dalam perut

f)

Pemakai IUD atau AKDR


(Astri, 2010)

d. Gejala Dismenorhea
1) Nyeri pada perut bagian bawah
2) Nyeri menjalar pada punggung bagian bawah dan tungkai
3) Kram terasa hilang timbul, terkadang terus menerus ada
4) Nyeri timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi
5) Nyeri mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan 2 hari
akan menghilang
6) Sering disertai sakit kepala
7) Sering disertai sembelit atau diare dan sering berkemih
8) Sering disertai mual kadang sampai terjadi muntah
9) (Medicastore, 2006)
e. Penanganan Dismenorhea
Ada beberapa cara untuk menangani dismenorhea, yaitu:
1) Penerangan dan nasihat
Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dismenorhea adalah
gangguan yang tidak berbahaya untuk kesehatan. Nasihatnasihat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup, dan
olah raga mungkin berguna.

2) Pemberian obat analgesik


Obat analgesik yang sering diberikan adalah preparat
kombinasi aspirin, fanasetin, dan kafein. Obat-obat paten
yang beredar dipasaran antara lain novalgin, ponstan, acetaminophen dan sebagainya
3) Terapi hormonal
Tujuan terapi hormonal ialah menekan ovulasi. Tindakan ini
bersifat sementara dengan mkasud untuk membuktikan
bahwa gangguan benar-benar dismenorhea primer, atau
untuk memungkinkan penderita melaksanakan pekerjaan
penting pada waktu haid tanpa gangguan. Tujuan ini dapat
dicapai dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi
kontrasepsi
4) Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin
Contoh obat ini adalah ibuprofen, dan naproksen. Dalam
kurang lebih 70% penderita dapat disembuhkan atau
mengalami

banyak

perbaikan.

Hendaknya

pengobatan

diberikan 1-3 hari sebelum haid, dan pada hari pertama haid
5) Dilatasi kanalis servikalis
Dapat meringankan karena memudahkan pengeluaran darah
haid dan prostaglandin didalamnya
(Sarwono, 2007)
Selain cara di atas, ada beberapa cara lain yang biasa dilakukan
untuk menghilangkan atau membantu mengurangi nyeri haid
yaitu:
a) Memberikan obat anti peradangan non-steroid (misalnya
ibuprofen, naproxen dan asam mefenamat). Obat ini akan
sangat efektif jika mulai diminum 2 hari sebelum menstruasi
dan dilanjutkan sampai hari 1-2 menstruasi.

b) Selain dengan obat-obatan rasa nyeri juga bisa dikurangi


dengan:

istirahat

yang

cukup,

olahraga

yang

teratur,

pemijatan, yoga, orgasme pada aktivitas seksual, dan


kompres hangat di daerah perut.
c) Untuk mengatasi mual dan muntah diberikan obat anti mual,
tetapi mual dan muntah biasanya menghilang jika kramnya
telah teratasi.
d) Jika nyeri terus dirasakan dan mengganggu kegiatan seharihari, maka diberikan pil KB dosis rendah yang mengandung
estrogen

dan

progesteron

atau

diberikan

Medroksi

progesteron. Pemberian kedua obat tersebut untuk mencegah


ovulasi (pelepasan sel telur) dan mengurangi pembentukan
prostaglandin, yang selanjutnya akan mengurangi beratnya
dismenorhea. Jika masih tidak efektif juga maka dilakukan
pemeriksaan tambahan (Laparoskopi).
e) Jika dismenorhea dirasakan sangat berat dilakukan ablasio
endometrium, yaitu prosedur dimana lapisan rahim dibakar
atau diuapkan dengan alat pemanas.
f) Pengobatan untuk dismenorhea sekunder tergantung kepada
penyebabnya.
(Medicastore, 2006).
2. Pengetahuan (Knowledge)
a. Pengetian
Pengatahuan (knowledge) adalah hasil tahu dan ini terjadi
setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek
tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa, dan raba yang sebagian besar di
pengaruhi oleh mata dan telinga, dan terdiri dari 6 tingkatan yaitu
tahu (know), memahami (comprehension), aplikasi (application),
analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation)
(Notoatmodjo, 2007)

b. Tingkatan Pengetahuan
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6
tingkatan, meliputi :
1) Tahu (know)
Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari
seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah
diterima. Dapat diukur dengan menggunakan kata kerja
menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan,
dan sebagainya
2) Memahami (comprehension)
Diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara
benar

tentang

obyek

yang

diketahui

dan

dapat

menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang


yang telah paham terhadap materi atau objek harus dapat
menjelaskan,

menyebutkan

contoh,

menyimpulkan,

meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari


3) Aplikasi (application)
Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang

telah

dipelajari

pada

kondisi

atau

situasi

real

(sebenarnya)
4) Analisis (analysis)
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih
dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu
sama lain.

Kemampuan analisis ini dapat dilihat melalui

penggunaan

kata

(membuat

kerja,

bagan),

seperti

dapat

menggambarkan

membedakan,

memisahkan,

mengelompokkan, dan sebagainya.

5) Sintesis (synthesis)
Menunjukkan kepada sesuatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru. Dengan

kata lain sintesis adalah

suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari


formulasi-formulasi yang ada
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi

ini

berkaitan

dengan

kemampuan

untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau


objek. Penilaian-penilaian itu didasari pada suatu kriteriakriteria yang telah ada.
Pengukuran

pengetahuan

dapat

dilakukan

dengan

wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi


yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.
Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur
dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas.
(Notoatmodjo, 2007)
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu:
1) Umur
Bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada
pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi
pada

umur-umur

tertentu

atau

menjelang

usia

lanjut

kemampuan penerimaan atau mengingat suatu pengetahuan


akan berkurang.
2) Intelegensi
Intelegensi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
belajar dan berfikir abstrak guna menyesuaikan diri secara
mental dalam situasi baru. Intelegensi merupakan salah satu
faktor

yang

mempengaruhi

hasil

dari

proses

belajar.

Intelegensi bagi seseorang merupakan salah satu modal untuk


berfikir dan mengolah berbagai informasi secara terarah
sehingga ia mampu menguasai lingkungan . Dengan demikian
dapat

disimpulkan

seseorang

akan

bahwa

perbedaan

berpengaruh

pula

intelegensi
terhadap

dari

tingkat

pengetahuan.
3) Lingkungan
Lingkungan
mempengaruhi

merupakan

salah

pengetahuan

satu

seseorang.

faktor

yang

Lingkungan

memberikan pengaruh pertama bagi seseorang, dimana


seseorang dapat mempelajari hal-hal yang baik dan juga halhal yang buruk tergantung pada sifat kelompoknya. Dalam
lingkungan seseorang akan memperoleh pengalaman yang
akan berpengaruh pada pada cara berfikir seseorang.
4) Sosial Budaya
Sosial budaya mempunyai pengaruh pada pengetahuan
seseorang. Seseorang memperoleh suatu kebudayaan dalam
hubunganya

dengan

orang

lain,

karena

hubungan

ini

seseorang mengalami suatu proses belajar dan memperoleh


suatu pengetahuan.
5) Pendidikan
Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang
semakin baik pula pengetahuannya.
6) Informasi
Informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan
seseorang. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang
rendah tetapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari
berbagai media misalnya TV, radio atau surat kabar maka hal
itu akan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang.
7) Pengalaman
Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Pepatah
tersebut dapat diartikan bahwa pengalaman merupakan

sumber pengetahuan, atau pengalaman itu suatu cara untuk


memperoleh

kebenaran

pengetahuan.

Oleh

sebab

itu

pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk


memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara
mengulang

kembali

pengalaman

yang

diperoleh

dalam

memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu


(Notoatmodjo, 2010)
d. Tingkat Pengetahuan
Tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang dapat
dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu :
(1)

Baik, bila 76-100%

(2)

Cukup, bila 56-75%

(3)

Kurang, bila < 56%

(Nursalam, 2008)
e. Cara Memperoleh pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2010) cara memperoleh pengetahuan
dibagi menjadi dua cara, yaitu cara tradisional atau non ilmiah dan
cara modern atau ilmiah
1) Cara tradisional atau non ilmiah
Ada 10 cara tradisional yang digunakan yaitu :
a) Cara coba salah (trial and error)
Cara ini dilakukan dengan mencoba-coba beberapa
kemungkinan. Bila kemungkinan tersebut tidak berhasil,
dicoba kemungkinan yang lain sampai berhasil.
b) Secara kebetulan
Terjadi karena tidak disengaja oleh orang yang
bersangkutan.
c) Cara kekuasaan atau otoritas

Pengetahuan dari hasil menerima pendapat yang


dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa
terlebih dulu menguji atau membuktikan kebenarannya
d) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman seseorang dapat digunakan sebagai
upaya memperoleh pengetahuan
e) Cara akal sehat
Cara akal sehat atau common sense kadang-kadang
dapat menemukan teori atau kebenaran.
f) Kebenaran melalui wahyu
Pengetahuan dari ajaran agama yang di yakini oleh
pengikut

agama

yang

bersangkutan,

terlepas

dari

pengetahuan tersebut rasional atau tidak.


g) Kebenaran secara intuitif
Pengetahuan

yang

diperoleh

seseorang

hanya

berdasarkan intuisi atau suara hati atau bisikan hati saja.


h) Melalui jalan pikiran
Menggunakan

penalaran

untuk

memperoleh

pengetahuan. Dengan berkembangnya jaman, cara berpikir


manusia juga berkembang.
i) Induksi
Proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari
pernyataan khusus ke pernyataan yang bersifat umum.
j) deduksi
Proses

penarikan

kesimpulan

dari

pernyataan-

pernyataan umum ke khusus.


2) Cara modern atau ilmiah
Cara
mengadakan
pengamatan

untuk

memperoleh

pengamatan
tersebut

pengetahuan

langsung,

dikumpulkan

dan

dengan

kemudian

hasil

diklasifikasikan

kemudian diambil kesimpulan umum. Dalam memperoleh


kesimpulan

dilakukan

dengan

mengadakan

observasi

langsung, dan membuat pencatatan terhadap semua fakta


sehubungan dengan objek yang diamatinya (Notoatmodjo,
2010)

3. Remaja dan batasannya


Remaja didefinisikan sebagai periode transisi perkembangan
dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, yang mencakup aspek
biologi, kognitif, dan perubahan social yang berlangsung antara 1019 tahun.
Menurut WHO (1995), yang dikatakan usia remaja adalah
antara 10-18 tahun. Tetapi berdasarkan penggolongan umur, masa
remaja terbagi atas:
a. Masa remaja awal (10-13 tahun)
b. Masa remaja tengah (14-16 tahun)
c. Masa remaja akhir (17-19 tahun)
Yang dimaksud dengan remaja awal (early adolescense)
adalah masa yang ditandai dengan berbagi perubahan tubuh yang
cepat, sering mengakibatkan kesulitan dalam menyesuaikan diri, dan
pada saat ini remaja mulai mencari identitas diri. Remaja menengah
(middle adolescense) ditandai dengan bentuk tubuh yang sudah
menyerupai orang dewasa. Remaja akhir (late adolescense) ditandai
dengan pertumbuhan biologis yang sudah melambat tetapi masih
berlangsung di tempat-tempat lain. Emosi, minat, kosentrasi, dan
cara berpikir remaja akhir mulai stabil. Kemampuan dalam
menyelesaikan masalah sudah mulai meningkat (Poltekkes depkes,
2010)
4. Haid dan siklusnya
Haid adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus,
disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium.

Panjang siklus haid adalah jarak antara tanggal mulainya haid


yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Panjang siklus haid yang
normal atau dianggap silkus haid yang klasik ialah 28 hari, tetapi
variasinya cukup luas, bukan saja antara beberapa wanita tetapi juga
pada wanita yang sama. Siklusnya tidak terlalu sama. Lama haid
biasanya 3-5 hari, ada yang 1-2 hari diikuti darah sedikit-sedikit
kemudian, dan ada yang 7-8 hari. Usia gadis remaja pada waktu
pertama kalinya mendapat haid pertama (menarche) bervariasi, yaitu
10-16 tahun, tetapi rata-ratanya 12,5 tahun. Statistik menunjukkan
bahwa usia menarche dipengaruhi faktor keturunan, keadaan gizi
dan kesehatan umum (Sarwono, 2007)

B. Kerangka Teori :
Disminorhe :

Pengertian

Jenis Desminorhe

Penyebab Desminorhe

Gejala Desminorhe

Penanganan Desminorhe
Remaja Putri

Pengetahuan :

Pengertian

Tingkat Pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi


tingkat pengetahuan dan cara
memperoleh

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain penelitian


1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini
mengungkapkan,

adalah

membahas

penelitian

masalah

kuantitatif

dengan

yang

memaparkan,

menafsirkan dan menggambarkan keadaan serta peristiwa yang

terjadi pada saat penelitian berlangsung untuk kemudian dianalisa


dan dibuat kesimpulan (Sugiyono:2009:14).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat
pengetahuan remaja putrri tentang disminorhe pada tingkat satu di
Asrama STIKES KARYA HUSADA Semarang.
2. Desain Penelitian
Desain penelitian ini dengan cross sectional, dimana peneliti
melakukan observasi atau pengumpulan data pada satu saat,
artinya tiap subjek penelitianya hanya diobservasi sekali saja dan
pengukuran dilakukan terhadap suatu karakter atau variabel
subyek pada saat pemeriksaan (Notoatmodjo,2010:26). Pada
penelitian ini subyek yang diobservasi adalah tingkat pengetahuan
dan perilaku yang dilakukan sekali sajapada ibu di Desa Sumberejo
Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak.
B. Populasi, Sampel dan Teknik Pengumpulan Data
1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan subyek penelitian yang akan
diteliti. Populasi secara spesifik tentang siapa atau golongan mana
yang

menjadi

sasaran

penelitian(Notoatmodjo,2010:86). Pada

penelitian ini, populasinya adalah ibu menyusui di Desa Sumberejo


Kecamatan Mranggen Kabupaten Demak sebanyak 46 ibu.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian subyek yang diambil

dari

keseluruhan subjek penelitian dan dianggap mewakili populasi.


Besarnya

sampel

dalam

penelitian

ini

dihitung

dengan

menggunakan rumus solvin sebagai berikut (Suyanto,2009:45).


Untuk menentukan besarnya sample menggunakan rumus sebagai
berikut:
n=

N
1+ N ( d2 )

Keterangan :
n= jumlah sampel
N= jumlah populasi

D= tingkat signifikan
Dari perolehan diatas diperkirakan perolehan besar sampel:
70
n = 1+70( 0,05)
n=

70
1+70 ( 0,0025 )

n=

70
1+0,175

n=

70
1,175

n=59
Jadi sampel penelitian ini adalah 59 pengetahuan remaja putri
tentang dismenorhe pada tingkat satu di Asrama STIKES Karya
Husada Semarang.
Agar karakteristik sampel tidak menyimapang dari populasinya,
maka sebelum dilakukan pengambilan sampel perlu ditentukan
kriteria inklusi dan eksklusi
a. Kriteria Inklusi
1) Mahasiswa tingkat satu Asrama STIKES Karya Husada
Semarang
2) Mahasiswa tingkat satu Asrama STIKES Karya Husada
Semarang yang bersedia menjadi responden
b. Kriteria Eksklusi
1) Mahasiswa tingkat satu Asrama STIKES KARYA HUSADA
Semarang yang tidak nyeri saat menstruasi
2) Mahasiswa tingkat satu Asrama STIKES Karya Husada
Semarang yang nyeri saat menstruasi
3. Teknik Sampling
Teknik sampling adalah cara menentukan sampel yang
jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan
sumber

data

sebenarnya

dengan

memperhatikan

sifat-sifat

penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif


(Arikunto,2010:176).
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple
Random Sampling adalah suatu sample yang terdiri atas sejumlah

elemen yang dipilih secara acak, dimana setiap elemen atau


anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih
menjadi sampel (Arikunto, 2010).
C. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2014
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Asrama STIKES KARYA HUSADA
Semarang.
D. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah batasan yang digunakan untuk
membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel diamati
atau diteliti (Notoatmodjo,2010:85).
Definisi operasional dapat ditentukan berdasarkan parameter
yang

dijadikan

ukuran

dalam

penelitian.

Sedangkan

cara

pengukuranya merupakan cara dimana variabel dapat diukur dan


ditentukan karakteristiknya (Suyanto,2009:25).
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Definisi
Operasional
Variabel:
Kemampuan
Tingkat
responden
Pengetahuan dalam
remaja putri
memahami
tentang
dan menjawab
disminorhe
dengan benar
tentang
pengertian,
tentang
disminorhe
Variebel

Alat Ukur

Kuesioner

E. Alat Pengumpulan Data


1. Kuesioner
Kuesioner untuk

tingkat

Peremeter dan
Kategori
1. Kurang :<56% Jika
responden
menjawab benar
<10
2. Cukup :56-75% Jika
responden
menjawab benar 10
sampai 15
pernyataan
3. Baik :76-100% Jika
responden
menjawab benar
>15 sampai 20
pernyataan

pengetahuan

Skala
Penukuran

Ordinal

sebanyak

20

pernyataan dengan pilihan jawaban benar atau salah. Pertanyaan

favourable 10 dan unfavourable 10 pertanyaan. Kuesioner untuk 1


pertanyaan

dengan

pilihan

jawaban

melakukan

atau

tidak

melakukan.
a. Pengetahuan
Koesioner pertama berisi tentang pengetahuan remaja
putri tentang desminorhe pada tingkat satu. yang terdiri dari 20
pertanyaan.

Dalam

kuisioner

pengetahuan

terdapat

13

pertanyaan favourable dan 7 pertanyaan unfavourable. Jika Jika


pertanyaan favourable untuk jawaban benar maka skornya
adalah 1, jika jawaban salah maka skornya 0. Dan untuk
pertanyaan unfavourable untuk jawaban benar maka skornya
adalah 0, jika jawaban salah maka skornya 1.

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Pertanyaan Pengetahuan

1,3

Unfavorabl
e
2

Jumlah
soal
3

5,6

8,9

7,10

12,13,15,16,18,1
9,20
Total

11,14,17

10

No

Pertanyaan

Favourable

Pengertian
tentang
DESMINORHE
Kandungan
tentang
DESMINORHE
Tujuan tentang
DESMINORHE
Manfaat tentang
DESMINORHE

2
3
4

20

2. Uji Validitas dan Reliabilitas


a. Uji Validitas
Sebelum digunakan untuk mengumpulkan dat penelitian
maka dilakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap instrument
penelitian. Uji validitas dalam penelitian ini dilakukan di Validitas
adalah

suatu

ukuran

yang

menunjukkan

tingkat-tingkat

kevalidan atau keaslian suatu instrumen. Suatu instrumen yang


valid mempunyai validitas tinggi, sebaliknya instrumen yang

kurang valid berarti memiliki validitas rendah (Arikunto,2006 :


168).
Uji validitas menggunakan rumus person product mement
yang rumusnya sebagai berikut :
x

n . y 2
n . x 2 ( 2 ] .

n ( xy )( x ) .(y)

R =

Keterangan :
r
: Koefisien korelasi
x
: Skor pertanyaan
y
: Skor total
n : Jumlah Sampel
xy : Skor pertanyaan dikalikan skor total
Menurut Sugiyono (2007) keputusan ujinya adalah : Bila r
hitung lebih besar dari r tabel artinya variabel tersebut valid. Bila
r hitung lebih kecil dari r tabel artinya variabel tersebut tidak
valid .
Hasil uji validitas :
1) Nilai

r tabel pada 15 responden adalah 0,514. Hasil uji

validitas variabel pengetahuan, nilai r hitung

pada 15

responden dalam rentang 0,515-0,815 artinya kuesioner


pengetahuan tersebut valid karena nilai tersebut lebih besar
dari r tabel (0,514)
2) Hasil uji validitas perilaku, terdapat 1 item pernyataan yang
tidak valid atau (r hitung

<0,514) yaitu item nomor 2.

Pertanyaan nomor 2 sudah terwakili oleh pertanyaan nomor


3.

b. Uji reliabilitas
Uji reliabilitas adalah yang menunjukan sejauh mana suatu
alur ukur pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan.
(Arikunto, 2010 :221). Untuk menguji reliabilitas instrumen
dengan menggunakan teknik alpha cronbach dengan rumus
koefisiansi alpha cronbach sebagai berikut:
2
k
si
r
=
1
i
2
b.
k 1
st

{ }

Keterangan :
ri = koefisienreliabilitas yang dicari
k = banyaknyabutir pernyataan (soal)
si2 = Variansbutir-butir pernyataan (soal)
st2 = Variansskor total
Menurut

Riwidikdo

(2007)

untuk

mengetahui

reliabilitas

instrumen dengan membandingkan nilai r tabel dengan alpha.


Pertanyaan dikatakan reliabel dengan ketentuan bila alpha lebih
besar dari 0,7.
Hasil uji Reliabilitas :
1) Hasil uji reliabilitas pengetahuan dengan = 0,927 artinya
kuesioner pengetahuan tersebut reliabel tinggi karena nilai
alpha cronbach lebih besar dari 0,7.
2) Hasil uji reliabilitas perilaku dengan = 0,919 artinya
kuesioner perilaku tersebut reliabel tinggi karena nilai alpha
cronbach lebih besar dari 0,7.
F. Prosedur Pengumpulan Data
1. Jenis Data
a. Data Primer
Data primer adalah data yang diambil langsung dari lapangan
atau lokasi penelitian oleh peneliti sendiri (Arikunto, 2010:265).
Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui kuesioner.
Data ini dilakukan sekaligus dalam satu kali pengumpulan

sehingga didapatkan data tingkat pengetahuan remaja putri


tentang disminorhe
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang didapatkan secara tidak
langsung. (Notoatmodjo, 2010:135). Data sekunder yang
dipakai pada penelitian ini yaitu data jumlah remaja putri tingkat
satu di Asrama STIKES Karya Husada Semarang
2. Cara Pengumpulan Data
a. Tahap Persiapan
1) Mengurus perijinan di STIKES Karya Husada Semarang.
2) Mencari sumber-sumber pustaka dan data-data penunjang
di lapangan.
3) Melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing.
b. Tahap Pelaksanaan
1) Peneliti menentukan responden yang akan dijadikan sampel
penelitian, kemudian memperkenalkan diri dan menjelaskan
tujuan penelitian kepada responden dengan memberikan
lembar kuesioner.
2) Setelah responden setuju untuk dijadikan responden dalam
penelitian, maka responden disarankan untuk mengisi
lembar informed concent untuk dijadikan responden bahwa
diadakan pengambilan data untuk penelitian.
3) Pelaksanaan penelitian terhadap responden atau yang
menjadi sapel dalam penelitian.
4) Memberikan kuesioner dan menjelaskan cara pengisian
kuesioner

kepada

responden

yang

menjadi

sampel

penelitian dengan mengedarkan daftar pertanyaan maupun


pernyataan diajukan secara tertulis untuk mendapatkan
jawaban.
5) Mengumpulkan lembar kuesioner yang sudah diisi oleh
responden, kemudian dilakukan pengecekan.
6) Data yang telah dicek tersebut kemudian diolah.
G. Pengolahan Data dan Analisis Data

1. Pengolahan Data
a. Editing
Editing adalah memeriksa data yang telah diperoleh, bertujuan
untuk memastikan bahwa lembar kuesioner sudah lengkap, baik
jumlah maupun isinya (Notoatmodjo,2010:174).
b. Scoring
1) Kategori tiingkat pengetahuan
a)Kurang
:
<56% Jika
menjawab benar <10
b)Cukup :
56-75%

Jika

responden
responden

menjawab benar 10 sampai 15 pertanyaan


c)Baik :
76-100%
Jika
responden
menjawab benar

>15samapai 20

pertanyaan.

2) Kategori tingkat pengetahuan:


a) Kurang : < Mean
b) Baik
: Mean
c. Coding
Mengklasifikasikan jawaban-jawaban daripara responden ke
dalam kategori-kategori Tingkat Pengetahuan
a) Kode 1

: Kurang

b) Kode 2

: Cukup

c) Kode 3

: Baik

d. Entry Data
Memasukan data yang telah dikumpulkan ke dalam database
komputer (Notoatmodjo,2010:176).
e. Tabulating
Kegiatan memasukan data ke dalam bentuk tabel-tabel,sesuai
dengan tujuan penelitian atau yang diinginkan oleh peneliti
(Notoatmodjo,2010:176).
2. Analisis Data
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Analisa Univariat
Analisa univariat yaitu analisa yang dilakukan terhadap tiap
variabel dari hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisa ini

hanya menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel


(Notoatmodjo, 2010:hal 182).Analisa univariat dalam penelitian
ini terdiri dari variabel tingkat pengetahuan disminorhe. Dihitung
dengan rumus sebagai berikut :

f
x= x 100
n

Keterangan :
x = hasil persen
f = frekuensi hasil penelitian

n = total seluruh populasi

b. Analisa Bivariat
Analisis bivariat ialah analisis yang dilakukan terhadap
dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi.Dalam
penelitian ini analisis bivariat digunakan untuk mengetahui
gambaran

tingkat

pengetahuan

remaja

putrid

tentang

disminorhe. Uji statistik yang digunakan adalah dengan uji


analisis Chi - square dengan derajat kemaknaan 5% atau 0,05.
Analisa data Chi-Square mempunyai syarat yaitu :
1)
Skala ukur ordinal atau nominal bentuk data kategorik
2)
Tidak boleh ada sel yang mempunyai nilai harapan /
3)

nilai ekspektasi (nilai E kurang dari 1)


Tidak boleh ada sel yang

mempunyai

nilai

harapan/nilai ekspektasi kurang dari 5, lebih 20% dari


keseluruhan sel.
Jika Syarat uji Chi-Square tidak terpenuhi, maka dipakai
uji alternatifnya (Dahlan, 2012:19):
1) Alternatif uji Chi-Square untuk tabel 2 x 2 adalah uji Fisher.
2) Alternatif uji Chi-Square untuk tabel 2 x K adalah uji
Kolmogorov-Smirnov.
3) Alternatif uji Chi-Square untuk tabel selain 2 x 2 dan 2 x K
adalah penggabungan sel. Setelah dilakukan penggabungan
sel akan terbentuk suatu tabel B x K yang baru. Uji hipotesis
yang dipilih sesuai dengan tabel B x K yang baru tersebut.
Rumus :

x =
2

( f o f h )
fh

Keterangan :
x2
= chi-square
f0
=frekuensi observasi
fh
=frekuensi harapan

= jumlah sampel
Perhitungan
rumus di

atas

dilakukan

dengan

menggunakan komputerisasi, kemudian dalam program akan


ditampilkan signifikan p value. Dengan nilai p ini kita dapat
menggunakan

untuk

keputusan

statistik

dengan

cara

membandingkan nilai p dengan nilai () 0,05.


Hasil analisa diambil dengan kesimpulan :
Bila p value 0,05 Ha diterima, berarti ada hubungan Bila p
value> 0,05 Ha ditolak, berarti tidak ada hubungan.
H. Etika Penelitian
1. Informed Consent (Persetujuan)
Lembar persetujuan diberikan kepada responden yang diteliti. Jika
responden tersebut menolak untuk diteliti maka peneliti tidak boleh
memaksakan kehendaknya. Jika responden bersedia, maka
mereka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika responden
tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak responden.
2. Anonimity (Tanpa nama)
Masalah etika kebidanan merupakan masalah yang memberikan
jaminan dalam penggunaan subyek penelitian dengan cara tidak
memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar
alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan
data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
3. Confidentiality (Kerahasiaan)
Memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi
maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah

dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti, hanya kelompok


data

tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset. (Hidayat,

2009:93)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:


Rineka Cipta. Hal 170, 191, 281
Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta. Hal 3, 183
Astri,

2010.
Nyeri
Menstruasi
(Dismenorhea).
http://astriaje.blogspot.com/2010/07/nyeri-menstruasidismenore.html Diposkan tanggal 14 Februari 2012

Dokter kita, 2007. Waspada Nyeri Pada Haid http://egosumquesum.


wordpress.com/2008/03/01/waspada-nyeri-pada-haid/
Diposkan
tanggal 14 Februari 2012
Hidayat, A. 2007. Metode Penelitian Kebidanan Dan Analisis Data.
Jakarta: Salemba Medika. Hal 50
Info sehat, 2008. Nyeri Haid. http://infosehat.com/inside_level2.asp?
artid=829&secid=&intid=4 Diposkan tanggal 11 Februari 2012
Manuaba, I.B.G. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.
Jakarta: EGC. Hal 59
Manuaba, I.B.G. 2009. Buku Ajar Ginekologi
Kebidanan. Jakarta: EGC. Hal 40

Untuk

Mahasiswa

Manuaba, I.B.G. 2008. Gawa- Darurat Obstetri-Ginekologi & ObstetriGinekologi Sosial Untuk Profesi Bidan . Jakarta: EGC. Hal 289-290
Notoatmodjo, 2010. Metodologi Penelitian Keshatan. Jakarta: Rineka
Cipta. Hal 10-18, 87, 103, 112, 130, 159, 168, 174-176
Notoadmojo, S. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu Dan Seni. Jakarta :
Rineka Cipta. Hal 143-146

Notoadmojo, S. 2005. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka


Cipta. Hal 92
Prawirohardjo, S. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo. Hal 103-104, 229-231
Poltekkes Depkes Jakarta 1. 2010. Kesehatan Remaja Problem Dan
Solusinya. Jakarta: Salemba Medika. Hal 1, 66
Siswandi, Y. 2007. Klien Gangguan Sistem Reproduksi Dan Seksualitas .
Jakarta : EGC. Hal 9
Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung ALFABETA. Hal
297