Anda di halaman 1dari 44

KUMPULAN

SOAL UJIAN
NASIONAL
PK-UNAIR

LEPTOSPIROSIS
UJIAN NASIONAL PATOLOGI KLINIK TAHAP 1
Nama

: dr. Trisuna R. Wibowo

Pusat Pendidikan

: Bag. Patologi Klinik FKUNAIR

Tanggal Ujian

Waktu

: 3 jam

Tn. R usia 28 tahun dirujuk oleh dokter bangsal perawatan dengan diagnosis
Leptospirosus untuk pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan laboratorium
yang diminta adalah :
Hb

: 12

g/dl

(13-16 g/dL)

Ht

: 32

(40-48%)

LED

: 78

mm

(<10 mm)

/uL

(5000-1000/uL) Diff : 0/0/2/276/17/5

: 314x103

/uL

(200x103-500x103/uL)

Amilase

: 511

U/L

(35-140 U/L)

Lipase

: 1588

U/L

(<200 U/L)

Uretan

: 281

mg/dL (20-40 mg/dL)

Xip

: 138

UL/dL (5270 UL/dL)

Bilirubin total : 1.5

mg/dL ( 1.0 mg/dL)

Bilirubin direk : 1.0

mg/dL ( 0.3 mg/dL)

Protein total

: 7.8

mg/dL (6-7.8 mg/dL)

Albumin

: 3.1

mg/dL (3.5-5 mg/dL)

SGOT

: 66

U/L

(<37 U/L)

SGPT

: 73

U/L

(<35 U/L)

GT

: 131

U/L

(<61 U/L)

Hitung lekosit : 24700


Trombosit

Pertanyaan :
1. Kesimpulan apa yang dapat saudara sampaikan kepada sejawat yang
merawat pasien ?
2. Apa yang saudara sarankan kepada sejawat yang merujuk ?
3. Jelaskan alasan saudara menyarankan pemeriksaan laboratorium tersebut.

Panduan jawab soal : dr. Trisuna R. Wibowo


1. Gambaran laboratorium menunjukkan gangguan fungsi multi organ yang
dapat menyertai Leptospirosis.
2. Memastikan diagnosis Leptospirosis dengan uji serologis. Seperti uji
antibodi fluoresen direk atau indirek. (Uji serologis dapat dilakukan pada
fase imun saat antibody muncul yaitu pada hari ke 6-12 pasca infeksi). Uji
serologis lain yang dapat dianjurkan adalah : Uji aglutinasi Leptospira, Uji
fiksasi komplemen, atau direks lgM anti Leptospira (ELISA)
Jika memungkinkan dapat dilakukan biakan Leptospira pada media
Ellinghausen-Mecullougt-Johnson-Haris (EMJH), Fletcher atau Korthof,
atau inokulasi pada hewan. Untuk kultur diperlukan darah atau cairan otak
yang diambil pada 10 hari pertama setelah infeksi, atau urin (10-14 hari
setelah infeksi).
Pemeriksaan aktivitas amilase, aktivitas lipase, saat hati dan ginjal untuk
moniter perjalanan penyakit.
- Ginjal
- Pankreas

LEPTOSPIROSIS / MUD FEVER / SLIME FEVER, SWAM FEVER,


AUTUMNAL FEVER, INFECTIUS JAUNDICE, FIELD FEVER,
CANE CUTTER FEVER
-

Peny. Zoonosis

Leptopira : Mikorrgnanisme btk spiral, aktif bergerak (udara lembab 25oC,


PH 7)

Binatang piaraan terinfeksi Leptosis

Manusia : luka / erosi di kulit,

selaput, lendir mulut, konjungtiva, selaput lendir hidung rusak manusia


kontak di gigit binatang yang terinfeksi Leptospira kontak dengan air, tanah,
lumpur, yang terkontaminasi % urine binatang yang terinfeksi Leptospira.
Patogen : Leptospira nterrgans = 16 sub grup
-

2 macam Leptospira

= yang sering menginfeksi manusia =


L. Ikterohemoragi = reservoad tikut L. Pyrogenes
L. Canicola = anjing

L. manilae

L. Pomona = babi
L. Tarassovie & L. Sejroe = kerbau
Non patogen /saprofit : Leptospira
-

Patogenesis
Portedentre sirkulasi : berkembang biak ke organ-organ jaringan tubuh
difagositosis o/ RES
Semua organ di pengaruhi Ab, kecuali :

diginjal, mikroorganisme menca


pai

Convoluted

membentuk

tubulus

koloni-koloni

di

dinding lumen masuk ke urine.


1) Ginjal bisa terjadi nefritis menetap :

8 hari s/d beberapa minggu setelah


infeksi.

2) Mengganggu faal hemostosis, protrombin time karena faktor 5 me

faktor 10 = karena konsumsi koagulopati ggng fungsi hati produksi


-

Masa inkubasi : 10 hari


Fase 1 : Leptopiremia 4-9 hari 6x hilang = demam ; nyeri kepala; nyeri
otot-nyeri tekan/tenderness pada otot gastroknemius, paha
pinggang hari ke 3-4 conjunctival injection mata merah-foto
fobia, faring merah bercak-bercak urtikaria hepatosplenomegali.
- 2 fase imun : 6x diatas yang hilang kemudian muncul lagi, kadang-kadang
meningismu, CCS gbr pleositosis, ensefalitis
Fase 3 : Fase penyembuhan /reconvalesen minggu ke 2 s/d 4

Gbrn Klinis
1) Weil Sindrom: >> Leptospira interohemoragi
: leptospira

berat

dengan

ikterus

kadang-kadang

perdarahan, anemia, azotemia, ggn kesadaran, demam


: karena toksin leptospira
- respon imun thd Ag leptospira
GOT/AST
Bilirubin = karena ada hambatan ekskresi bilirubin
Bun
: Gejala : Protenuria, azotemia
Ginjal berat : Akut tubular nekrosis, oliguria.
Perdarahan - Epistaksis,

hemoptisis,

hematemesis,

melena, perdarahan adfenal, pneumonitis


hemoragik paru.
- Karena : proses vaskulitis difus di kapilerkapiler,hipoprotrobinemia,trombositopeni
a.
2) Meningitis aseptic : pada fase imun terjadi pleositosis hebat
- leukosit di CCS s/d 100/mm3 terbanyak mmN/leukosit netrofil.
- protein di CSS
- CSS xontokromasi :iktrus bilirubin

3) Pretibial Fever (Fort Bragg)


- ruam/rash 3-5 cm, eritema di pretibia, splenomegali.
- karena leptospira autumnalis.
4) Miokarditas & aritmia jantung (fibrilasi atrial, flutter atrial, takikardi
ventikler.
-

Lab : 1. Leukosit , Nataw


2. Hitung jenis leukosit, netrofil me, = netrafilia
3. LED , anemia,
4. Urine : albuminea, cast/torak
5. Ggn fungsi ginjal : BUN
Ggn Hati : Enzim transaminase , bilirubin
6. CPK /kreatin fosfokinase (tidak terjadi pada virus hepatitis)
7. Bakteriologi : kultur leptospira = media pepton air daging 0,2%
Stuart, Fletcher, korthof.
= darah : hari ke 8-110
CSS = hari ke3-11
mikroskopik lap. Gelap
( dark field illumination )
Kultur

Ambil cairan peritoneal & darah jantung

Hati dan ginjalnya


Untuk fluoresen Ab

di bunuh

Pewarnaan perak

Hewan ditimbang tiap hari BB


Atau ainokulasi pada binatang (anak marmot) / anak tupai masih
menyusu, anak ayam 1 hari

8. Serologi = aglutinasi makroskopik skrining / mikro skopik.


kenaikan titer aglutinin leptospira a, 4x serial. DX
leptospira + : aglutinasi pada pengenceran /300
Test sel : sentized eritrosit lisis
If - test, :IMunofluoresens indirek.

Soal Ujian Nasional, PIT VII (13 November 2008)


KASUS 10
Seorang wanita berusia 32 tahun, dengan keluhan nyeri pada daerah kemaluan
disertai panas dan sejak satu minggu yang lalu. Tiga bulan sebelumnya terdapat
luka pada genitalia, tidak nyeri dan sembuh tanpa obat.
Pertanyaan :
1. Apa kemungkinan diagnosis pasien tersebut ? Jelaskan !
2. Pemeriksaan apa yang anda usulkan ? Jelaskan !
Kemungkinan jawaban
1. Safilis (Stadium II)
Penderita berusia 32 tahun (seksual aktif). Perlu digali
informasi lebih lanjut tentang riwayat pekerjaan,
pasangan seksual, suami, dll, untuk mencari adanya
faktor resiko. Riwayat transfusi darah juga perlu
mengingat sifilis juga bisa ditularkan lewat transfusi
darah.
Penderita pernah mengalami luka pada kemaluan, tidak
nyeri dan sembuh tanpa obat. Kemungkinan pada sat itu
penderita berada pada stadium I dengan tanda khas ulkus
durum yang dapat sembuh spontan dan tidak nyeri.
Pada saat ini penderita telah masuk ke stadium II yang
biasanya ditandai oleh keluhan seperti panas, nyeri pada
kemaluan (terdapat rash makulopapula) yang sering
disebut kondiloma lata. Pada kulit dibeberapa bagian
tubuh sering disertai rash makulopapula.
2. Pemeriksaan

a. Pemeriksaan sediakan langsung (mikroskopis) dengan mengambil


bahan pemeriksaan pada lesi lues. Untuk pasien ini karena sudah masuk
ke stadium II (skunder), bahan sediakan dapat diambil dari condyloma
lata semu sehingga perlu dilakukan pemeriksaan ini sering memberikan
hasil negatif semua sehingga perlu dilakukan pemeriksaan serologi.
b. Pemeriksaan serologi
Uji VDRL, RPR.
Uji Cardiolipin Wasermann (CWR)
Uji Treponema Pallidum Immobilitation (TPI)
Uji TPHA (Treponema Pollidum Hemagglutination)
Uji Fluresence Treponemal Antibody-absorption (FTA-Abs)
Uji ELISA
Ujian Lisan :
Prihatini/unas/patologi klinik FKUA/2011
JAWAB TAHAP DIAGNOSIS
1.

Di Indonesia penyakit yang masih menjadi problem nasional maupun


internasional adalah ?
TBC terbesar no 3 di dunia.

2.

Bagaimana cara melakukan survei dalam usaha pemberantasan ?


Melakukan pemeriksaan BTA di Puskesmas & RS yang dilaporkan rutin e
Dinkes.

3.

Cara diagnosis yang terutama dalam pemeriksaan apa saja di bidang


laboratorium ?
Pemeriksaan BTA 3x dalam 2 kunjungan
Kultur M.tbe (Lj. Kudoch Mgit = khusus untuk yang sudah resisten) PCR
TBC, RO foto thorax
Pemeriksaan storage antiMtcb!

4.

Faktor kegagalan apa saja yang dihadapi dan saran sdr apa ? (bisa salviva
(bukan dahak) cara & penilaian layak/tidak diperiksa sel epitel + tidak layak
diperiksa.
Penderita tidak kontrol kurang patuh meminum obat.
Resistensi obat and TBC.
Mungkin terjadi mutasi Mtcb.

5.

Pemeriksaan apakah yang digunakan untuk mencegah secara dini ESRD


(End stage Renal Diseases) ?
Rutin pemeriksaan urine lengkap secara periodik.
Apabila ada kecurigaan perlu periksa kultur, faal ginjal.
Penyakit sistematik lain yang melatar belakangi : hipertensi, diabetes
mellitus, auto imun diseases.

6.

Di bidang laboratorium penyakit infeksi apa

yang dilakukan ? Sebut

caranya?
Pemeriksaan kultur urine & TKA.
Bila postuf dilakukan pemantauan hingga sembuh selain memperbaiki
penyakit sistematik.
7.

Sering kali pada pemeriksaan kultur darah hasil tidak sesuai dengan
keinginan klinis, apa saja kira-kira penyebabnya ?
Bukan bakteri yang tumbuh mungkin virus / jamur.

8.

Anjuran sdr dalam hal ini apa saja ?

Retensi urine : ada sisa urine sebagai sbr infeksi


Urine = BPH
= batu sel kemih

Prihatini /unas klinik FKUA/2011


9.

bila pasien akan diperiksa tinjau hal yang tidak di perkenankan apa saja ?
Sebelumnya tidak minum laksana minyak.
Tidak minum antibiotik.

Sebelumnya minum Ba enema (pemeriksaan radiologi).


Sampel diambil dari toilet, popok,/tissue.
Specimen tercampur urine.
Sedang haid.
10. Apabila anak demam dan kejang pemeriksaan apa yang dilakukan, cara
pemeriksaan lab ?
Pemeriksaan LCS.
Cara aseptic dilakukan pungsi lumbal di L4-5.
Ambil maksimal 2-3 ml.
Bagi tiga tabung pemeriksaan kimia klinik hematologi & kultur.
Bahan di kirim segera ke lab, tidak boleh dimasukkan kulkas.
Kultur LSS & IKA media BA aO2/AnO2, cokolat aga, media IM, muller
hinton, ID.
Uji kepekaan antibiotik.
11. Apa saja yang disebut EID (emerging infectious diseases) ? Sebutkan
macamnya ?
Penyakit yang muncul sebelumnya belum ada/sudah ada.
Poliomyelitis hepatitis, HIV, Tbc, Al.
12. Dalam perencanaan laboratorium faktor apa saja yang harus diperhatikan,
jelaskan singkat ?
Tata letak bangunan luas, ventilasi pencahayaan aliran air pembuangan
limbah.
Lingkungan
SDM yang mampu (berijazah sesuai bidangnya, pengawas minimum,
memahami masalah lab manajemen lab).
Sesuai dengan akreditasi nasional & internasional.
Peralatan yang terstandar kalibrasi dst.
13. Bila pasien wanita di poli kandungan mengeluh keputihan dan gatal,
pemeriksaan apa yang diperlukan ?

Pemeriksaan sekkrel vagina pemeriksaan direk/sedian basah pz Gram


KOH 10%.
Bila perlu kultur jamur Gonorrhoe.
14. Termasuk pasien STD apa saja ?
Virus
Hepatitis HIV, CMV, HPV, H. Simplex
Feto, parasite Scabies

N. gonorrhea Syphilis Chlamydia


G. inguinate
Triclananas vaginalis E. histolytiea.
G. Lamblia

Prihatini / unas / patologi klinik FKUA / 2011


15. Apa yang disebut BV ? Kapan dilakukan pemeriksaan dan akibat yang di
timbulkan ?
BV infeksi timbul akibat perubahan pH di liang vagina, Lactobacillus
menurun,
Sehingga terjadi infeksi lebih mudah. STD, parasit, jamur.
Akibat : infeksi daerah panggul kematian & penurunan BB janin.
16. Kapan dilakukan kultur tinja ? Bagaimana caranya ?
Kultur bila terjadi infeksi saluran Gi : diare, perdarahan, mikroskopik
dijumpai lekositosis.
Pengambilan specimen dari wadah bersih / swab rectal, letakkan dalam
media transport, tanam media McConkey , CLED, media ID.
TKA
17. Sebutkan macam media transport dan kegunaannya ?
Macam media transport

kegunaan :

StuartAmies

AO2 & AnO2 (Pus, secret)

Carry & Blait

gram negative (Stool)

VTM (virus transport media)

Virus

Infusion broth

Darah

18. Apa yang disebut HaI atau Infeksi nosokimial ? Sebutkan penyebabnya ?
Bagaimana cara pencegahannya ?
Infeksi yang didapat di rumah sakit (umumnya stl 48 jam).
Penyebab : antar manusia : pasien lain, paramedic, & medic.
Dari air makanan alkes.
19. Apa yang disebut MRSA dan ESBL bagaimana cara mencegah ? Faktor yang
memicu ?
MRSA (methycillin resistant Stap aureus) akibat resisten terhadap
antibiotik yang kebal terhadap S. aureus sehingga hal ini dapat menular
ke pasien lain/dari petugas ke pasien dan sebaliknya.
ESBL (Extended Spectrum beta-Lactamases) : resisten terhadap golongan
beta laktamase pada Gram negative mikroorganisme.
Faktor pemicu :
a. Penggunaan antibiotic kurang rasional.
b. Lama rawat inap di rumah sakit.
c. Lama rawat di ICU.
d. Penggunaan alat kesehatan kateter intubasi dsb.
e. Pemakaian cephaloprn extended spectrum beta lactomase.

Prihatini / unas / patologi klinik FKUA / 2011


2.0 Bagaimana cara memeriksa luka yang benar agar hasil dapat dipercaya ?
Lakukan secara aseptic waktu memeriksa.
Dekontaminasi sekitar luka.
Bersihkan luka dengan saline steril.
Untuk luka terbuka : jaringan nekrotik dibuang, ambil dengan swab daerah
luka bagian sentral (bukan di tepi dekat kulit), masukkan tabung steril,
media transport.

Luka tertutup (abses) secara aspirasi diambil dengan semprit steril,


specimen masukkan wadah steril mengandung media/dengan semprit
tersebut dikirim kelaboratorium.
21. Ada beberapa cara menentukan ESBL ?
Uji dahulu dengan indikator cephalosporin baru dilakukan kombinasi
dengan antibiotic yang lain.
Cara double disk = DDST
Cara kombinasi disk
Dengan E-test

SOAL UJIAN BOARD PPDS PK


PADANG TAHUN 2008
PPDS : I Nyoman Wande
KASUS 4.
Seorang laki-laki, 45 tahun datang dengan keluhan sering haus, dan sering lapar
sejak 3 bulan terakhir ini. Selain itu juga mengeluh sering kencing pada malam
hari (8x).
Penderita merupakan pekerja kantoran, sering duduk dan sering mengkonsumsi
makanan siap saji. Penderita juga mengeluh luka pada kaki yang tidak sembuhsembuh-sembuh sejak 1 bulan terakhir.
Pemeriksaan fisik :
Compos mentis (CM), T-150/100, N = 87x/menit, PR = 24x/menit, T = 36,7oC.
Mata

: dbn

Jantung

: dbn

Abdomen

: dbn

Photo thorax

: dbn

Pertanyaan :
1. Apa usul / saran pemeriksaan laboratorium saudara ? (setelah menjawab
soal ini, ditandatangani oleh pengawas dan diberi data lagi).
DATA LAB YANG DIBERIKAN :
Hb

: 14 g/dl

WBC

: 9500/l

GDP

: 210 mg/dl

2JPP

: 412 mg/dl

T. Chol

: 295 mg/dl

LDL

: 180 mg/dl

HDL

: 23 mg/dl

TG

: 360 mg/dl

Fungsi hati

: dbn

Fungsi ginjal : dbn


2. Apa diagnosis kerja pada pasien ini ?
3. Jelaskan patfsiologi masing-masing kelainan ini .
4. Komplikasi apa yang terjadi jika tidak mendapat penanganan yang
adekuat?
JAWABAN :
1. Saran / usul pemeriksaan laboratorium
Gula darah puasa.
Gula darah 2 jam setelah makan (2JPP).
Total kholesterol.
Trigliserida
HDL-C.
LDL-C.
DL rutin.
Fungsi Ginjal (BUN,SC).
Kultur jaringan luka.
2. Diagnosis kerja : diabetes melitus tipe II + Dislipidemia + Diabetic
foot.
3. Fatofisiologi masing-masing kelainan.
a. peningkatan GDP dan 2 JPP :
Pada obesitas sentral didapatkan lebih banyak asam lemak bebas
yang akan mengakibatkan terjadinya resistensi. Apabila terjadi
peningkatan asam lemak bebas di dalam plasma akan meningkatkan
diasilgliserol di sitoplasma yang akan mengaktifkan protein kinase C

(PKC). PKC akan mengganggu sinyal kaskade insulin melalui


peningkatan fosforilasi pada serin/treonin maka terjadi penurunan
posforilasi tirosin. Penurunan posforilasi tirosin akan mengganggu kerja
IRS

1 dan untuk berikatan dengan phosphatidylipositol 3 kinase

(P13K), sehingga terjadi, hambatan pengambilan glukosa ke dalam sel


oleh GLUT4. Semua pengaruh asam lemak bebas tersebut pada
gilirannya akan menyebabkan terjadinya resistensi insulin, dengan
berbagai kosekuensi lanjutannya, seperti peningkatan kadar glukosa
dalam darah baik saat puasa maupun 2 jam setelah puasa.
b. Dislipidemia
Obesitas sentral juga berhubungan dengan profil lipid yang
atherogenik, yaitu peningkatan kolesterol LDL, kolesterol total,
VLDL dan trigliserida, serta penurunan kolesterol HDL. Hal
tersebut

disebabkan

mengakibatkan

karena

terjadinya

adanya

peningkatan

resistensi
aktivitas

insulin
lipolisis

yang
dan

menyebabkan meningkatnya kadar asam lemak bebas di sirkulasi.


Asam lemak bebas di sirkulasi. Asam lemak bebas yang meningkat
akan menyebabkan peningkatan trigliserida sehingga pembentukan
VLDL juga meningkat. VLDL akan dipecah menjadi LDL yang kaya
trigliserida. Pada resistensi insulin dengan keadaan hiperinsulinemua,
aktivitas enzim hepatic lipase juga meningkat. VLDL akan dipecah
menjadi LDL yang kaya trigliserida. Pada resistensi insulin dengan
keadaan hiperinsulinemia, aktivitas enzim hepatic lipase juga
meningkat dan akan menghidrololisis trigliserida yang dikandung oleh
LDL sehingga menghasilkan LDL yang kecil tetapi padat yang disebut
small dense LDL yang sangat atherogenik. Selain itu VLDL dengan
bantuan Cholesterol Ester Transfer Protein (CETP) akan memberikan
trigliserida pada HDL sehingga HDL akan mengandung banyak
trigliserida dan akan mengalami lipolisis oleh enzim hepatic lipase
menjadi bentuk yang

lebih kecil. Selanjutnya HDL yang telah

mengalami liposis akan masuk ke sirkulasi dan menjadi lebih mudah


dikeluarkan oleh ginjal, akibatnya akan terjadi penurunan HDL.
c. Hipertensi
Adanya small dense LDL bersifat proatherogenik karena
menurunkan LDL receptor mediated clearance, meningkatkan tahanan
dinding pembuluh darah arteri, serta meningkatkan kemungkinan untuk
oksidasi. Small dense LDL juga akan mudah ditangkapkan oleh
makrofag yang ada pada dinding pembuluh darah akibat disfungsi
endotel dan adanya monocyte cemotractant protenin (MCP-1) dan
membentuk sel busa yang memudahkan terjadinya aterogenesis.
4. Komplikasi yang terjadi jika tidak mendapat penanganan yang
adekuat :
a. Komplikasi / penyulit akut :
Diabetes ketoasidosis (DKA)
Non Ketotik Hiperosmolar dan asidosis laktat
b. Komplikasi / penyulit menahun :
Makroangiopati diabetatik :
Penyakit jantung koroner (PJK)
Gangguan pembuluh darah di otak
Mikroangiopati diabetik :
Nefropati diabetik
Retinopati diabetik
Neuropati diabetik

Kasus 7
Tempat / Tanggal Ujian Board : Padang, 13 November 2008
Peserta ujian : dr. Liana
Penderita laki-laki datang ke UGD dengan keluhan sesak nafas. Sebelumnya
didapatkan riwayat COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease). Dari hasil
pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil sbb :
WBC

13.600l

Hb

11,6 g/dl

Trombosit

505.000/l

Diff Count

Netrofil 75/Lym 10/Ba 0/Eo 10/ Monosit 5

LED

45 mm/jam

Pemeriksaan Urine
Glukosa +++

serum, kreatinin, BUN

Protein ++
Keton +

1. BGA
2. pro BNP

Eritrosit 1-2/lp

3. Gula dh sewaktu HBAIC

Lekosit 2-3/lp

4. Serum kreatinin BUN

Epitel

1-2/lp

Pertanyaan :
1. Hasil pemeriksaan

tersebut belum lengkap. Data apa yang perlu

ditambahkan dari segi laboratories ?


2. Untuk memantau pengobatan penderita, pemeriksaan apa yang diperlukan?
3. Penderita akhirnya dimasukkan ke ruang ICU. Apa perkiraan diagnosis
untuk penderita ? Pemeriksaan apa yang akan diminta untuk penderita ?

PPOM
Soal-Soal Kasus
Seorang laki-laki usia 70 tahun dengan penyakit paru obstruktif menahun, diantar
ke rumah sakit karena serangan akut penyakitnya. Pemeriksaan laboratorium yang
dikerjakan pada saat datang adalah analisis gas darah (data A). Pemberian obatobatan dan fisioterapi yang dilakukan pada saat itu tidak memberikan hasil dan
bankan keadaan makin jelek (data B). Penderita akhirnya dimasukkan ruang
resusitasi dan dilakukan pernafasan artificial (respirator). Enam jam kemudian
dilakukan analisis gas darah (data C). Dua belas jam kemudian penderita merasa
segar (fit) hasil AGD tertera pada data D.
pH darah
pCO2 (mmHg)
HCO3 (mmol/L)

7,30
71,3
35

7,24
82,5
35

7,40
58,5
34

7,54
42,8
35

Soal :
1.

Bagaimana status asam basa pada saat penderita baru datang (A) ?

2.

Pada keadaan C, mengapa pH normal, padahal pCO2 masih diatas normal ?

3.

Bagaimana status asam basa penderita pada keadaan D ?

4.

Apakah penyebab peningkatan bikarbonat pada keempat kali pemeriksaan ?

TRANSFUSI
UJIAN NASIONAL PATOLOGI KLINIK TAHAP
Nama

: dr. Arifoel Hajat

Pusat Pendidikan : Bag Patologi Klinik FKUNAIR


Tanggal Ujian

Waktu

: 3 jam

Seorang wanita usia 30 tahun yang mengalami kecelakaan dirawat perdarahan


masif.nKeadaan umum tampak pucat, nadi cepat, kulit pada perabaan terasa
dingin. Hasil pemeriksaan laboratorium sebagai berikut : Kadar Hb 6g/dl, jumlah
leukosit 10.500/l, Laju endap darah (Westergren) 30 mm/jam pertama.
Gambaran sediakan apus darah tepi memberi kesan eritrosit normositik
normokrom dengan peningkatan ringan jumlah leukosit dan jumlah trombosit,
tidak terlihat kelainan morfologi, Hitung jenis leukosit : 0/1/3/62/33/1.
Soal :
1. Apa diagnosa perkiraan pada penderita ini ?
2. Apakah perlu diberi transfusi darah ?
3. Bila diperlukan tranfusi darah, pemeriksaan laboratorium apa yang perlu
dilakukan baik pada penderita maupun pada darah donor ?
4. Komponen darah mana sebaiknya diberi ?
5. Bila setelah transfusi, penderita mengalami demam, menggigil, berkeringat
dingin dan pucat disertai turunnya tekanan darah, apa yang saudara kira
terjadi pada penderita ini ? Pemeriksaan laboratorium apa yang saudara
anjurkan pada keadaan ini ?

Panduan jawa soal : dr. Arifoel Hajat


1. Anemia pasca perdarahan akut (acute post hemorrbagic anaemia).
2. Perlu diberi darah lengkap atau plasma beku segar (whole blood or fresh
frozen plasma).
3. Pada sample donor diperiksa : VDRL, HbsAg. Dan test HIV. Pada
penderita dan sample darah donor. Penetapan golongan darah ABO,
forward & reverse grouping. Penetapan faktor Rhesus. Cross match major
& minor dalam tiga tahap.
Tahap 1. dalam larutan saline pada suhu kamar.
Tahap 2. pada suhu 370C, dalam larutan albumin.
Tahap 3. dengan menggunakan serum anti globulin (Coombs serum).
4. Sebaiknya darah lengkap, pilihan kedua plasma beku segar (mengatasi
renjatan hipovolemik)
5. Reaksi trasnfusi. Pemeriksaan lab yang dianjurkan pada reaksi transfusi
adalah

menilai

adanya

hemoglobinemia,

hemoglobinuria,

hemosiderinuria, methomalbumin, haptoglobin, hemopeksin, bilirubin


serum, urobilinogen orin/feses. Perhatikan adanya tanda DIC seperti :
perpanjangan masa APTT, PPT dan TT. Trombositopeni dan penurunan
kadar fibrinogen, serta ditemukan D dimer.
Perhatikan kemungkinan terjadinya gagal ginjal : oliguria, anuria serta
peningkatan kadar ureum / creatinin serum.
Periksa

kemungkinan

kontaminasi

mikroorganisme darah donor.

bacterial

melalui

kultur

Wanita 30 tahun, kecelakaan perdarahan massive :


-

A (+), Nadi , acral dingin

Lat : Hb 6 g/dl, Leuko : 10.500/l


LED : 30 mm/jam
HDT : E : Normokrom / Normositik

Diff Count : 0/1/3/62/33/1

Soal :
1.

Dx perkiraan ?
Jawab : Anemia karena perdarahan + kondisi pre syok

2.

Apa perlu transfusi darah ?


Jawab : perlu transfusi darah (km Hb : 9 g/dl atau kurang dari 8 g/dl) selain
pemberian cairan IV untuk memperbaiki hemodinamik penderita
(pre syok).

3.

Bila transfusi, pemeriksaan apa yang dilakukan pada donor maupun


penderita?
Jawab : 1. Pada penderita maupun donor perlu diperiksa :
- gol darah ABO maupun Rhesus.
- reaksi silang mayor
2. Pada donor perlu diperiksa :
- HBSag, anti HBc

- tes serologi untuk sifilis

- anti HCV

- tes faal hati : SGPT

- HIVI, HIV2
4.

Komponen darah apa yang diberikan ?


Jawab :
Karena penderita tampak pucat, nadi cepat, dan kulit / acral untuk dingin
maka kemungkinan besar penderita mengalami syok hipovolumik (+ anemi),
oleh karena itu komponen darah untuk transfusi yang diperlukan adalah
Whole blood. (meskipun untuk whole blood, blood loss penderita mestinya

ditentukan dulu yaitu bila melebihi 25-30% EBU (estimated blood volume)
dari blood volume penderita. Untuk menentukan perkiraan blood loss tersebut
diperlukan data-data antara lain :
Trauma status (Giesecre)
a. tanda sesak nafas
b. tekanan darah
c. nadi
d. urine
e. kesadaran
f. analisis gas darah
g. CVP

TS (~ 10% EBU)
N
Cepat
N
N
N
N

TS II (~ 30% EBU)
ringan
turun
sangat cepat
oliguria
dissorintasi
pO2 / pCO2
rendah

TS II (>30% EBU)
berat
tak terdeteksi
tak berada
anuria
/ koma
pO2 / pCO2
sangat rendah

- Alternatif lain untuk penentuan perkiraan Blood loss yaitu :


N
Tensi systole
Nadi
Perfusi

120
80
Warm

15% EBU
100
100
Pucat

30% EBU
< 90
> 120
Dingin

50%
60-70 mmHg
> 140-170x/menit
Basah

Pada penderita ini : pucat, nadi cepat, kulit dingin, kemungkinan blood
loss nya mendekati 30% EBU, sehingga transfusi whole blood.
Pengelolaan utama penderita ini adalah : replacement (terapi cairan)
- bila setelah replacement, Hb > 8 g/dl tak perlu tranfusi
- bila setelah replacement, Hb < 8 g/dl perlu tranfusi
5.

Stelah tranfusi pasien : Demam, menggigil, keringat dingin, pucat dan


tekanan darah turun.
- Apa biru-biru yang terjadi ?
- tes laboratorium yang dianjurkan ?
Jawab : Kemungkinan penderita mengalami :
1. Acute Hemolytic Reartid
- intravascular hemolisis (karena anti A, anti B, anti-Kell, anti Kidd)
- Extravascular hemolysis (karena RH system)
Pemeriksaan yang dianjurkan :
a. Cek ulang golongan darah / Rh donor dan penderita.
b. Cek ulang reaksi silang.

c. Tes

antiglobin direk/indirek (untuk mengetahui adanya antibodi

inkomplit yang menempel pada sel darah merah yang tidak terdeteksi
oleh reaksi silang).
d. Warna serum / plasma pre dan post transfusi dibandingkan untuk
mengetahui adanya hemolisis (pink/reddish).
e. Darah diperiksa : Hb plasma, Haptoglobin serum, bilirubin D/T.
f. Urine : Hemoglobin urine, Bilirubin dan urobilinogen urine.
2. Kemungkinan lain penderita mengalami : Septic transfusion pemeriksaan
yang diperlukan :
a. sisa komponen darah yang ditransfusikan dilakukan kultur kuman dan
pengecatan Gram
3. Kemungkinan lain penderita mengalami : Anphylactic transfusi reaction.
- perlu diperiksa, kadar lg A dan adanya antibody terhadap lg A, karena
reaksi ini terjadi karena adanya reaksi lgA dan anti-lgA.

Kasus Mikrobiologi (1)


Seorang anak perempuan umur 5 tahun di bawa ke RSUD DR Soetomo dengan
keluhan sejak 5 hari yang lalu menderita flour albus warna kkuning kehijauan dan
keluhan gatal. Ibu anak tersebut tidak menderita fluor albus, hanya kadang-kadang
saja kalau kepayahan atau setelah haid. Ayah penderita menyangkal pernah
menderita kencing nanah atau nen waktu kencing (dysuria).
Pada pemeriksaan fisik :
Kompos mentis, gizi cukup ; kepala, kulit dan ekstremitas tak ditemukan kelainan
jantung dan paru normal.
Status lokalis :
Tampak fluor purulen, vulva daerah inguinal tak tampak bekas garukan. Orificium
uretra tampak erytematous dan bentuk mulut ikan, lubang vagina tertutup oleh
fluor warna putih kuning Hymen intak (utuh).
Hasil pemeriksaan laboratorium :
Hb H g/dl ; SDM 4 juta/CMM, sdp 10 000/CMM, led 20-30;
Tinja tak ditemukan kelainan.
Urine : Albumin (-), Reduksi (-), Nitrat (+), sedimen lekosit penuh, SDM 2-3 plp,
sel epitel penuh plp.
Pertanyaan Kasus I :
1.

Apa diagnosis perkiraannya ? -60, BV Scan

2.

Untuk pengambilan spesimen (bahan pemeriksaan) anak ini sebaiknya dari


bagian mana ?

3.

Bila dicurigai anak tersebut tertular dari ibunya, untuk konfirmasi diagnosis,
spesimen harus diambil dari bagian mana ?

4.

Alat yang dipakai untuk mengambil spesimen :


Untuk ibu : dan ..
Untuk anak : . dan ..

5.

Dalam hal ini sediakan langsung harus dicatat dengan cat apa ?
Bagaimana caranya menaruh spesimen tersebut di gelas objek ?

KASUS III
Seorang laki-laki datang ke IRD malam dengan keluhan kolik, kencing sedikit,
kadang-kadang suhu badan meningkat, tidak pernah kencing batu atau darah.
Pemeriksaan fisik.
Kompos mentis, anemis (-), T 150/90.
C/P tak ada kelainan : Abdomen : H/L tak membesar, nyeri ketok pinggang.
Laboratorium : DL/Hb 10,2 g/dl : LED 87/mm; SDP 12 300/cmm, PCV 39%
Hitung jenis : -/23/52/23/2.
Ul : Albumin (++), reduksi (+) ; Sedimen L 15-20/plp ; eri 8-10/plp ; epitel 25/plp.
GDA : 200 mg/dl, GOT = 45 iu/ml, GPT : 30 iu/ml.
Pertanyaan :
1.

Pemeriksaan mikrobiologi yang diusulkan (2 jawaban)

2.

Sarana mikrobiologi yang digunakan . (3 jawaban)

3.

Guna identifikasi mikrobiologi yang digunakan . (4 jawaban)

4.

Apabila ditemukan mikroorganisme cfu/ml, kemungkinan


mikroorganisme adalah (4 jawaban)

5.

Uji TKA pada media MH diperlukan lempeng antibiotika (4 jawaban)

6.

Kemungkinan diagnosis kasus di atas sesuai dengan pemeriksaan adalah ..

7.

Cara pengambilan sampel urin untuk perbenihan . (3 jawaban)

Kasus 1
Wanita, 82 tahun, MRS dengan keluhan utama : ikterus dan kelelahan.
Dari hasil pemeriksaan lab. Didapatkan hasil :
Hb

: 7.4 g/dl

PCV

: 27%

MCV

: 106 fl

MCH

: 32 g/dl

MCHC

: 37 g/dl

LED

: 37 mm/jam -1

Retik

: 24%

Platelet

: 70.000/mm3

WBC

2.400/mm3

Hit. Jenis : Eos-2% Baso 1% Netro 51% Limfo 42%


HDT : Eritrosit makrositosis, poikilositosis, beberapa fragmentasi (+)
Jumlah lekosit menurun, sel-2 mudaJumlah trombosit menurun, giant thrombocyte-

Pertanyaan :
1.

Apa dengan diagnosis yang paling mungkin menurut Saudara ; atau diagnosis
bandingnya ? Jelaskan jawaban Saudara secara singkat.

2.

Bagaimana Saudara dapat menerangkan timbulnya ikterus pada penderita


kasus ini.

3.

Untuk konfirmasi diagnosis dugaan Saudara, pemeriksaan lanjutan apa yang


akan Saudara usulkan ? Jelaskan alasan Saudara dan pa yang Saudara
harapkan dari hasil pemeriksaan lanjutan usulan Saudara tersebut.

USULAN CONTOH JENIS SOAL UNTUK UJIAN BOARD PATOLOGI


KLINIK.
Seorang anak laki-laki usia 15 tahun mengeluh sering sakit tenggorok, disertai
demam dan sembab kelopak mata. Pada pemeriksaan fisik terlihat oedema
palpebra dan tekanan darahnya 170/90 mmHg. Hasil pemeriksaan laboratorium
sebagai berikut, Hb H g/dl jumlah leukosit 9000/uL, LED 55 mm/jam, eritrosit
normositik normokhrom.
Hitung jenis : 0/2/4/54/35/5, urinalysis : BJ 1015, glukose (-), albumin (+), darah
(+++), leukosit 10-15 /LPB, eritrosit tak terhitung / LPB, silider eritrosit 01/LPK, epitel (+) kristal amorph (+) Kadar ereum serum 48 mg/dl (N : 20-40
mg/dl), creatinin serum 18 mg/dl (N : 0.5 1.5 mg/dl).
Pertanyaan :
1. Diagnosa perkiraan pada penderita ini adalah ? Atas dasar apa ?
2. Jelaskan pathogenesis penyakit ini ?
3. Bila

diperlukan

pemeriksaan

tambahan,

pemeriksaan

parameter

laboratorium mana yang saudara anjurkan ?


4. Jelaskan tujuan dari masing-masing pemeriksaan dan hasil yang diduga.
Jawab :
1. Glomerulonefritis

akut.

Berdasarkan

anamnesa

sering

infeksi

kerongkongan dan sembab kelopak mata. Pemeriksaan fisik oedema


palpapebra dan hipertensi. Hasil laboratorium yang mendukung adalah
adanya hematuria dan silider eritrosit.
2. Glomerulonefritis akut adalah reaksi autoimmune Streptococcus beta
hemolyticus Lancefield group A. presipitasi kompleks antigen angibodi
pada membran glomeruli mengaktifkan reaksi komplemen yang merusak
glomeruli ginjal.
3. a. Kultur kuman dari apusan kerongkongan, b. ASTO, c. C3, dan d. ANA

4. a. Kultur kuman diperlukan untuk memastikan infeksi oleh kuman S. beta


hemolyticus.
a. Untuk menilai titer antibodi terhadap Streptococcus.
b. Untuk menguji adanya konsumsi complemen.
c. Untuk menguji adanya reaksi autoimmun.
Seorang wanita usia 45 tahun dikirim dokter ruang rawat inap tanpa diagnosa
untuk pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan yang diminta adalah : GT, ALP, bilirubin total, bilirubin direk, total
protein dan albumin.
Hasil pemeriksaan :
GT

: 656 U/L (N : 4-28 U/L)

ALP

: 1421 U/L (N : 42-148 U/L)

Total bilirubin : 44,4 mg/dl (N : 0,3-1,0 mg/dl)


Biliruban direk : 44,0 mg/dl (N : < 0,4 mg/dl)
Total protein

: 6,9 g/dl (N : 6-7,8 g/dl)

Albimun

: 2,1 g/dl (N : 4-5 g/dl)

Pertanyaan :
Kesimpulan apa yang dapat diambil dari hasil pemeriksaan laboratorium diatas ?
Jawab :
Adanya kholestasis dengan hipoalbuminemia
Dari status pasien di ruang rawat inap didapat informasi : penderita mengeluh
benjolan dikwadran atas perut sebelah kanan sejak 6 bulan yang lalu.
Sejak dua minggu terakhir buang air besar berwarna hitam dan cair, disertai mual.
Riwayat sakit kuning transfusi darah disingkal.
Hasil pemeriksaan fisik :
Tampak lemah, tekanan darah 120/80 mmHg, suhu 37oC, Pernafasan 18x/menit,
conjunctiva ikterik. Cor & pulmo normal, di daerah abdomen teraba masa padat di

quadran kanan atas 6 cm dibawah procesus xyphoideus, nyeri tekan, permukaan


rata, batas tajam.
Limpa Shufner II, shifting dullness +.
Hasil pemeriksaan lab saat awal dirawat :
Hb

: 8,5 g/dl (N : 12-14 g/dl)

Ht

: 23,4% (N : 37-43%)

Leukosit

: 10.500 / L (N : 5000-10.000/L)

Trombosit

: 414.000/L (N : 200.000-400.000/L)

ALT

: 103 U/L (N : < 40 U/L)

AST

: 232 U/L (N : < 37 U/L)

Ureum

: 27 mg/dl (N : 20-40 mg/dl)

Creatinin

: 1,0 mg/dl (N : 0,5-1,5 mg/dl)

Pertanyaan :
1. Apakah diagnosa dan diagnosa banding penderita ini ?
2. Jelaskan hasil pemeriksaan sehubungan dengan diagnosa/diagnosa banding
saudara ?
3. Jelaskan patofisiologi penyakit yang diderita wanita ini ?
4. Pemeriksaan laboratorium apa yang saudara anjurkan, dan hasil apa yang
saudara perkiraan dari pemeriksaan tersebut.
Jawab :
1. Sirosis hati dengan diagnosis banding heptoma.
2. Kadar Hb dan nilai Ht yang rendah menandakan anemia yang disebabkan
oleh kehilangan darah lewat saluran cerna (melena) umumnya disebabkan
oleh varices oesephagus pada bendungan portal oleh sirosis hati. ALT dan
AST dengan aktivitas yang tinggi mendandakan kerusakan hepatosit.
Kadar ureum yang sedikit meningkat dengan kadar creatinine yang normal
menandakan perdarahan saluran cerna bagian atas, peningkatan ureum
yang sedikit dapat disebabkan oleh faal detoksikasi hati yang berkurang.

Hipoalbuminemia

pada

penderita

ini

mungkin

disebabkan

oleh

berkurangnya sintesis di hati, hal ini perlu dikonfirmasi dengan


pemeriksaan ChE. Tanda tanda kholestasis mendukung adanya kelainan di
hati saluran empedu.
3. Sirosis berasal dari kata Yunani yang artinya kuning. Tetapi lebih
diartikan sebagai proses pembentukan jaringan di hati dimana hepatosit
diubah menjadi jaringan abnormal yang noduler (makro noduler, mikro
noduler, atau campuran). Hipertensi portal adalah akibat yang terjadi bila
aliran darah portal terhambat oleh jaringan sirotik hati, hal ini dapat
mengakibatkan splenmegali, varises oesofagus. Kedua keadaan tersebut
dapat mengakibatkan anemia, bahkan perdarahan varises oesofagus dapat
berakibat fatal. Kemampuan sintesa hati berkurang hingga terjadi
hipoalbunnimia

dan

defisiensi,

faktor

pembekuan.

Kemampuan

detoksikasi hati juga berkurang hingga dapat terjadi azotemia.


Hepatoma (Hepatcellular carcituma) banyak ditemukan di Asia di daerah
dengan insidens infeksi virus hepatitis B yang tinggi. Sedangkan di Eropa
dan Jepang lebih banyak dikaitkan dengan infeksi virus hepatitis C. gejala
umumnya berupa nyeri abdomen dengan masa di kwadran kanan atas
abdomen. Jarang disertai ikterus, kecuali terjadi sumbatan saluran empedu.
Peningkatan serum ALP dan AFP sering ditemukan Alfatoprotein > 500
dg/L ditentukan pada 70-80% kasus.
4. Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan adalah :
CHE, untuk memastikan hipoalbuminemia sebab produksi berkurang
Urinalisis, untuk melihat adanya albuminuria dan bilirubinuria
Darah samar tinja, untuk menguji adanya perdarahan saluran cerna
AFP untuk memastikan adanya keganasan
Pemeriksaan darah tepi lengkap untuk memantau anemia

Penilaian :
Skala nilai minimal 40 maksimal 100
A = baik sekali = 85 100
B = baik

= 75 84

C = cukup

= 65 74

D = kurang

= 40 64

SOAL UJIAN BOARD PPDS PK


BALIKPAPAN, 29 Oktober 2009
PPDS : T. Elfin Widijatmoko
KASUS 5.
Seorang wanita, 45 tahun datang dengan keluhan demam, kesadaran menurun,
dibawa ke UGD. Penderita juga mengeluh luka pada jari kaki tidak sembuhsembuh, penderita hanya konsumsi panadol. Riwayat berobat tak teratur :
Pemeriksaan fisik :
Compos mentis (CM), 1-110/70, N-87x/menit, RR = 24/menit, T = 39,2oC.
Mata

: dbn

Jantung

: dbn

Abdomen

: dbn

Photo thorax

: dbn

Pertanyaan :
1. Apa usul / saran pemeriksaan laboratorium saudara ? (setelah menjawab
soal ini, ditandatangani oleh pengawas dan diberi data lagi).
DATA LAB YANG DIBERIKAN
Hb

: 10,2 g/dl

WBC : 14/l
GDP : 385 mg/dl
2. apa diagnosis kerja pada pasien ini ?
3. komplikasi apa yang terjadi jika tidak mendapat penanganan yang
adekuat?

JAWABAN :
1. Saran / usul pemeriksaan laboratorium :
Gula darah puasa
Gula darah 2 jam setelah makan (2 JPP)
Total kholesterol
Trigliseri
HDI-C
LDL-C
DL-rutin

Kasus IV
Seorang gadis umur 3 tahun dibawa ke RSU Dr Soetomo dengan keluhan
anoreksia dan nyeri telan. Anak tersebut tampak apathis dan agak sesak.
Pemerikasaan fisis didapatkan adanya beslag (membran) yang membranous di
atas tonsil dan dinding taring. Bila digeser mudah berdarah. Suhu tubuh 38.6 0C.
pemerikasaan laboratorium rutin mendapatkan hasil :
SDM 4 juta / cmm : SDP 9400/cmm : Hb 11.4 g% LED 60/80
Hitung jenis : 1/15/53/30/1
Urine dan tinja : tidak ditemukan kelainan
Pertanyaan kasus IV
1. Apa diagnosa dugaan yang paling besar kemungkinannya pada kasus ini ? apa
diagnosis bandingnya?
2. Untuk memastikan diagnosis maka :
Perlu diisolasi jeasad renik penyebabya

a. Bagaimana bentuk jasad renik tersebut dan apa pengecatannya untuk


pembenihannya harus ditanam dalam media apa ?
b. Bila seandainya terdapat pertumbuhan koloni, maka utuk identifikasi apa
yang perlu dilakukan ?
c. Apa yang harus dilakukan untuk memastikan diagnosis bagaimanan prinsip
dasarnya ?
- Pengecatan gram, nesser, ELEK test
- Bahaya : Myocarditis, Pro BNP, CRP / IED turunnya lambat Hs CRP : Busa
untuk penanda kerusakan endotel, MAU , Hipertensi

Kasus I
Wanita 82 tahun MRS dengan keluhan utama : Ikterus dan kelelahan. Dari hasil
pemeriksaan lab. Didapatkan hasil :
Hb

: 7.4g/Dl

PCV

: 27%

MCV

: 106

MCH

: 32 pg

MCHC

: 37 g/dl

LED

: 37mm/jam-1

Retik

: 2.4%

Platclet

: 70.000/mm3

WBC

: 2.400/mm3

Hit. Jenis

: Eos 2% Besar 1% Netro 51% Limfo 42% Mono 4%

Pertanyaan :

1. Apa dugaan diagnosis yang paling mungkin menurut saudara atau diagnosis
bandingnya ? jelaskan jawaban saudara se3cara singkat
2. Bagaimana saudara bisa dapat menerangkan timbulnya ikterus pada penderita
kasus ini ?
3. Untuk konfirmasi diagnosis dugaan saudara pemeriksaan lanjutan apa yang
akan saudara usulkan ? jelaskan alasan saudara dan apa yang saudara harapkan
dari hasil pemeriksaan lanjutan usulan saudara tersebut ?

Fungsi ginjal (BUN, SC)


Kultur jaringan luka, darah , urine
2.Diagnosis kerja : Diabetes melitus tipe II + Dislipidema + diabetes foot
3. Komplikasi yang terjadi jika tidak mendapatkan penanganan uang adekuat :
a. Komplikasi / penyulit akut :
diabetes ketoasidosis (DKA)
Non ketotik hiperosmolar dan asidosis laktat
b. Komplikasi / penyulit menahan :
Makroangiopati diabetic :
Penyakit jantung koroner (PJK)
Gangguan pembuluh darah di otak
Makroangiopati diabetic :
Nefropati diabetic
Retinopati diabetic
Neuropati diabetic
Lanjutan soal kasus 5

2 jam kemudian penderita shock dengan lalu dipasang sonde dan kateter. Cairan
sonde dan urine berwarna kemerahan.
Lab analisa gas darah
pH 7.32
pCO2 23
pO2 110
HCO3 9.7
BE -17
Sat, O2 98
Urine rutin glukosa ++
Protein ++
Lekosit+
Bld ++
Sedimen : lekosit 5-7
SDM 10-15
Hasil pemeriksaan hemotasis
PT 24 detik (11 14 detik)
APT 1 58 detrik (25 -35 detik)
Fibrinogen 100 (>60 mg/L)
D dimer 586 (<250 mg/ml)
Hapuskan darh tepi : kesan poikolisitosi (makrosit, burr cell fragmentosit)

Pertanyaan :
4. Diagnosis sdr apa L asidosis metabolik + DIC
5. Jelaskan patofisiologinya

UJIAN NASIONAL PATOLOGI KLINIK TAHAP I

Nama

: dr. Wiranto Basuki

Pusat pendidikan

: bag. Patologi Klinik FKUNAIR

Tanggal ujian

Waktu

: 3 jam

Seorang pria usia 23 tahun di rawat karena demam tinggi dengan keluhan nyeri
otot dan sendi sakit kepala dan lemas. Penderita berobat karena sehari sebelumnya
tinjanya berwarna hitam. Pada pemeriksaan fisik terlihat petihiea pada kedua
tungkai bawah. Test furmiquate positif.

Soal :
1. Diagnosa penderita adalah ?
Pada pemeriksaan laboratorium ternyata : kadar Hb 15.2 g/dl ,Ht 46%, hitung
leukosit 47000. Jumlah trombosit 86.000/ul.

Pemeriksaan sediakan apu,

eritrosit normositik normakrom kesan leukosit ringan, jumlah trombosit


kurang, hitung jenis leukosit 040/23/37/60/1 ditemukan limfosit plasma biru.

2. Pemeriksaan laboratorium tambahan apa yang perlu di lakukan?


3. Hasil seperti apa yang saudara harapkan ? jelaskan mengapa perlu ?

4. Apa yang saudara anjurkan kepada dokter yang merawat ?

Panduan jawaban soal dr, Winarno Basuki

1. Demam berdarah dengue dengan kemungkinan masuk kedalam fase sindroma


shock dengue
2. Pemeriksaan tambahan yang perlu di lakukan :
a. Test darah samar feses aau test mikroskopik feses mencari eritrosit dalam
feses
b. Pemeriksaan HgM dan lgM terhadap dengue
c. Test HI
d. Uji koagulasi. PPT APTT TT
e. Kadar fibrinogen dan D Dimer
f. Albumin serum, ureum, creatinin dan elektrolit (Na,K Cl)
3. Test darah samar untuk memastikan melena, lgG dan lgM anti dengue positif
test HI dengan hasil uiter > 1280, pemanjangan waktu pada uji koagulasi
penurunan kadar fibrinogen dan peningkatan kadar D dimer . pemeriksaan
perlu di lakukan untuk memastikan diagnosa dan untuk menilai fase penyakit
dengue. Pemeriksaan albumin, urcum, creatinin dan elektrosit diperlukan untuk
menilai adanya sindrom syok dengue.
4. Anjurkan agar memantau darah seminggu hitung trombosit tiap 12 jam sampai
jumlah trombosit normal mengirim darah seminggu setelah perawatan dan dua
minggu setelah perawatan ke laboratorium.

Soal ujian Board Balikpapan (29 Oktober 2009)


Dr Betty Agustina.

Amplop 1
Seorang anak (11 tahun) dibawa ke rumah sakit oleh orang tuanya karena deman
dan tidak sadar. Orang tua penderita mengatakan bahwa anaknya menderita
demam sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit. Anaknya sudah di bawa ke
dokter sejak panas 5 hari dan sudah diberi obat panas dan antibiotika. Pada pasien
dijumpai BAB berwarna hitam dan trombisitopenia dengan panas dan antibiotika
dengan lgM anti dengue (+) lgG anti dengue (+) penurunan kesadaran (+) tandatanda syok (+).
1. Jelaskan kemungkinan diagnosis penderita dan apa alasannya
2. Jelaskan pemeriksaan lab apa lagi yang diperlukan untuk pasien
3. Jelaskan kemungkinan hasilnya
4. Jelaskan pathogenesis penyakit dan hubungannya dengan hasil lab.

Jawaban :
1. Kemungkinan diagnosis penderita : demam berdarah Degue derajat III atau IV.
Ada penderita dijumpai demam (5 hari) manifestasi perdarahan (melena),
penurunan kesadaran (+) deisertai syok. Pemeriksaan lab yang mendukung
trombisitopenia dan lgM anti dengue (+) seta lgG anti dengue (+)
2. Pemeriksaan lab yang dibutuhkan yaitu :
- Darah lengkap untuk melihat Hb, Het,Trombosit
- Tes fungsi hati (SGOT,SGPT)
- Albumin
- Test fungsi (BUN kreatinini)
- Elektrolit
- Faal koagulasi
3. Kemungkinan hasil lab :
- Darah langkap Hb dan het akan meningkat kaena terjadi hemokonsentrasi.
Trombosit akan turun karena terjadi autoantibody terhadap trombosit

- SGOT dan SGPT akan meningkat karena terjadi inflamasi pada sel hepatosit
- Albumin akan menurun karena terjadi kebocoran plasma (plasma leakage)
- BUN dan kreatinin akan meningkat bila pasien mengalami gagal ginjal akut
karena dehidrasi
- Elektrplit terutama kalium akan meningkat bila fungsi ginjal terganggu
- APTT dan PT akan menunjang karena terjadi koagulopati
4. Pathogenesis DBD dikenal dengan teori antibody Dependent Enhacement
(ADE) yaitu penderita yang terinfeksi virus dengue pertama akan membentuk
antibody terhadap virus dengue. Bila penderita terinfeksi virus dengue dengan
serotype yang berbeda dengan infeksi virus kedua sehingga virus dapat
bereplikasi dengan cepat. Antibodi yang terbentuk juga dapat menjadi antibodi
yang memiliki terhadap antibodi terhadap endotet dan plaketet sehingga
menyebabkan kerusakan endoset dan penghancuran platelet. Sehingga terjadi
kebocoran plasma dan trombositopenia.

Amplop 2.
Hasil lab
WBC 12.5 x 10/pls
% Gr 54.3 %
% Mo 4.2%
% Lymph 41.5 %
RBC 3.5 % x 106
Hb 6.7 g/dl
Het 22%
MVC 6511
MCH 26 ph

MCHC 30 g/dl
RDW 19%
PLT 50x103
TT 16 detik
PT 27.5 detik
APTT 43.6 detik
Fibrinogen 200 mg/dl
D-Dimer 2000 /dl
AT III 20%
SGPT 67
SGOT 40 u
Alb 3.5 U/L

5. Jelaskan ekspertis saudara


6. Kemungkinan diagnosis penderita
7. Pemeriksaan lab apa yang saudara sarankan untuk memonitoring pasien ini.
Jelaskan
8. Kalau penderita perlu mendapatkan transfusi, sebaiknna diberi komponen
darah apa. Berikan alasannya.

Jawaban :
5. Hasil lab menunjukkan penderita mengalami :

- Anemia hipokremik mikrositer yang kemungkinannua dapat disebabkan


oleh talasemia (umur penderita 11 tahun)
DD : anemia fefisiensi besi
Anemia penyakit kronis

- Trombositopenia karena demam berdarah dengue


- Faal koagulasi memanjang disebabkan adanya koagulasi sebagai komplikasi
demam berdarah dengue
- Fibrinogen menurun. AT III fungsional menurun dan D-Dimer meningkat
menunjukkan penderita mengalami dessiminated intraseluler coagulation
(DIC) sebagai komplikasi DBD.
- SGPT meningkat karena inflamasi sel hepatosit.
6. Diagnosis penderita DHF + DIC
7. Penderita lab yang diperlukan untuk memonitoring penderita
- Darah lengkap
- Faal koagulasi dan D-Dimer
8. Jika penderita perlu ditransfusi maka diberikan :
PRC untuk mengatasi anemia penderita karea Hb dibawah 8/ g/dl
TC untuk mengurangi komplikasi DIC dan mengatasi perdarahan.