Anda di halaman 1dari 20

Bab I

Pendahuluan

A. Kata Pengantar
Kami bersyukur kepada Tuhan Allah kita yang mana telah memberikan anugerah
untuk melakukan tugas kemanusiaan di dunia milikNya ini. Setelah kami diberi
kesempatan oleh Foker LSM berdasarkana permohonanan kami, maka kami tim yang
tergabung dalam Aliansi Inteletual Mahasiswa Suku Wolani dan (AIMSW) berada di
lapangan selama empat (4) hari untuk memantau situasi terakhir penambangan emas
illegal di Degeuwo Kabupaten Paniai.
Kegiatan yang kami lakukan disana adalah memantau hak-hak ekonomi, sosial, dan
budaya masyarakat asli di lokasi penambangan. Pemantauan ini kami lakukan karena
ada keluhan masyarakat bahwa ada tindakan-tindakan ketidakadilan seperti
beroperasinya pengusaha-pengusaha illegal, tindakan prostitusi, pembunuhan,
pencaplokan tanah adat oleh para pengusaha dan intimidasi yang dialami warga
pemilik hak ulayat disana.
Kami yang dipercayakan untuk memantau situasi terakhir jalannya kehidupan
masyarakat dan proses penambangan disana adalah Tobias Bagubau, Lalo Yanengga
dan Naftali Edoway. Tugas ini kami lakukan karena didorong oleh rasa kasih kepada
sesama manusia yang menderita akibat kekerasan struktur-struktur sosial yang penuh
intrik politik dan kepentingan.
Berikut sekilas laporan hasil pemantauan yang sekiranya dapat dikoreksi, dikaji, dan
diberi saran dan usul guna penyempurnaannya. Harapan kami adalah dengan laporan
ini akan ada tindakan selanjutnya oleh semua LSM-LSM yang ada dibawah naungan
Foker bersama lembaga-lembaga agama dan pemerintah untuk menyelamatkan
manusia dan hutan yang ada disana sesuai mekanisme yang berlaku.
B. Latar Belakang
Pulau Papua menyimpan sejuta misteri demikian kata kebanyakan orang. Pernyataan
ini dapat dibenarkan, sebab banyak kekayaan alam dan budaya yang masih belum
terkuak ke permukaan. Bukan hanya itu, pulau yang oleh pemerintah pusat diberikan
Otonomi Khusus sejak 2001 ini juga menyimpan sejumlah misteri kekerasan oleh aparat
negara yang berkerjasama dengan para pemilik modal yang belum banyak
diperkarakan hingga kini.
Kita tahu bahwa Otsus diberikan karena ada tuntutan merdeka oleh rakyat Papua.
Suara merdeka itu mengemuka sebab selama puluhan tahun Papua menjadi bagian dari
Indonesia (NKRI) kesejahteraan hidup dan pembangunan fisik tidak pernah

diperhatikan oleh pemerintah pusat. Ketika masyarakat dalam kesadaran kolektifnya


menuntut hak sosial politik mereka, justru mereka berhadapan dengan kekuatan militer
yang memperlakukanya secara tidak manusiawi. Akhirnya melahirkan pelanggaran
HAM dalam jumlah yang besar karena terjadi diseluruh tanah Papua. Ironisnya lagi,
kekerasan dan ketidakadilan itu masih dialami oleh rakyat Papua walau pun Indonesia
telah mereformasikan dirinya semenjak 1998. Oleh karena itu banyak orang pintar di
Indonesia menilai bahwa proses reformasi adalah proses berkamufulase. Pejabat
pemerintah dan aparat hanya menganti pakai tanpa merubah moralitas hidup.
Terlepas dari kekayaan budaya dan kekerasan aparat diatas, Papua memiliki sumber
daya alam yang luar biasa. Banyak keanekaragaman hayati seperti emas, tembaga,
uranium, gas, minyak, gaharu dll, yang ada di dalam perut bumi bahkan yang di
permukaan belum tereksploitasi semuanya. Dari jutaan kekayaan itu baru beberapa
yang mengemuka, bahkan hasilnya dinikmati oleh berbagai negara yang ada di dunia.
Sehingga Papua telah benar-benar menjadi dapur bagi dunia.
Penambangan yang paling banyak ditemukan di Papua adalah penambangan emas.
Eksploitasi kekayaan alam berupa emas itu ada yang dilakukan secara legal tapi juga
illegal. Entah illegal atau pun legal, konflik di daerah penambangan selalu ada. Dari
kenyataan yang ada, konflik selalu terjadi antara masyarakat pemilik hak ulayat,
pengusaha dan pemerintah. Dalam penyelesaiannya hampir selalu melibatkan aparat
keamanan negara. Hal itu juga nampak di daerah penambangan emas Timika oleh PT.
Freeport dan Degeuwo di Paniai.
Kabupaten Paniai adalah salah satu kabupaten dari dua puluhan lebih kabupaten yang
berada di pengunungan tengah Papua. Kabupaten ini merupakan kabupaten hasil
pemekaran dari Kabupaten Nabire. Hingga kini kabupten ini telah memekarkan lagi
dua kabupaten yang baru yakni Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Deiyai. Di
kabupaten ini terdapat beraneka ragam kekayaan alam yang kemudian menjadi
rebutan para pemburu dollar. Akibat perebutan sumber daya alam itu seringkali terjadi
berbagai pelanggaram HAM di berbagai sisi kehidupan masyarakat.
Pendulangan emas di Degeuwo adalah salah satu bukti melimpahnya sumber daya
alam di Paniai dan Papua umumnya. Daerah ini mulai terbuka untuk dunia luar sejak
2002, sehingga sejak itu banyak pengusaha illegal masuk dan beroperasi di sana.
Awalnya penambangan hanya dilakukan oleh suku Wolani, Moni dan Mee/Ekari
namun dalam perkembangan selanjutnya hadir juga masyarakat dari suku-suku
tetangga seperti lani, damal, serui, biak dan sorong. Beredarnya informasi tentang
adanya kandungan biji emas di daerah ini juga mengudangan hadirnya masyarakat
dari Timor-Timur, Makasar, Manado/Sanger Talaud, dan Jawa.
Kehadiran suku-suku dari luar Papua yang nota bene memiliki modal ini seringkali
menjadi penyebab timbulnya konflik di area ini. Untuk mencaplok tanah-tanah adat
mereka selalu mengggunakan aparat sebagai tameng untuk melindungi mereka.

Akhirnya masyarakat pemilik hak ulayat


mempertahankan hak-hak kesulungan mereka.

sering

kali

tak

berdaya

untuk

C. Ringkasan Kronologis Peristiwa


Pada akhir tahun 2002 menjelang tahun 2003 telah ditemukan biji emas untuk pertama
kalinya di Degeuwo tepatnya di Tagipigepa kampung Nomouwodide Distrik
Bogobaida oleh seorang penduduk bernama Yulianus Tagi saat hendak membuka
kebun dihalaman rumahnya. Pengetahuan bahwa apa yang ditemukannya adalah biji
emas datang dari pengalamannya melihat butiran emas di daerah Kilo Seratus
Kabupaten Nabire.
Awalnya pendulangan emas di daerah ini hanya dilakukan oleh masyarakat asli disana.
Namun dengan menyebarnya berita di tahun 2003 tentang penemuan butiran emas di
Degeuwo, mengundang banyak pengusaha datang kesana. Mereka yang pertama
kesana adalah Adi Tiarman dari etnis Bugis Makasar pemilik tokoh Sinar Jaya di Oyehe
Nabire, Haji Mustakim etnis Makasar pemilik tokoh emas Mutiara Kalibobo Nabire,
Haji Pambang etnis Makasar pemilik toko emas indah di jalan Bougenvile
Timika.`Pengusaha ini masuk ke lokasi Degeuwo dengan cara membarter bahan
makanan dengan emas kepada masyarakat pribumi. Pengusaha yang lainnya adalah
Haji Ary, Haji Marzuki, Haji Doni, Haji Ungke, dan pengusaha lainnya. Berdsarkan
kesaksian masyarakat, penguasaha-pengusaha ini datang kesana dengan aparat
keamanan dan buruh pendulang emas. Kehadiran pengusaha-pengusaha tersebut
membuat mobilitas masyarakat dari luar Papua cukup tinggi.
Operasi illegal mining di wilayah Degeuwo kabupaten Paniai ini mulai berjalan secara
terbuka di tahun 2003. Walaupun daerah ini termasuk dalam wilayah administrasi
kabupaten Paniai, pengurusan surat ijin dan sertifikat tanah oleh para pengusaha
diurus kabupaten Nabire.

D. Tujuan
Tujuan pemantauan ini dilakuka untuk mengetahui perkembangan terakhir kegiatan
penambangan emas di Degeuwo sampai Oktober 2010 ini.

Bab 2
Gambaran Umum Wilayah

A. Letak Geografis
Degeuwo termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Paniai. Area
penambangan ini berada di Distrik Bogobaida arah utara dari ibu kota kabupaten.
Daerah ini berbatasan dengan Kabupaten Yapen Waropen di sebelah utara, Distrik
Wandai Kabupaten Intan Jaya di sebelah selatan, Distrik Agisiga Kabupaten Intan Jaya
di sebelah timur dan Distrik Siriwo di sebelah barat. Peta lokasi terlampir.
B. Keadaan Penduduk
Masyarakat yang beraktivitas di daerah ini tidak hanya penduduk asli tapi juga para
pendatang dari Papua tapi juga dari luar Papua. Suku-suku asli yang mendiami daerah
ini adalah suku Wolani, Moni dan Mee/Ekari. Kolega mereka sesama orang Papua
yang datang kesana adalah dari suku Dani, Biak, Sorong, Serui, dll. Sementara
penduduk pendatang berasal dari Manado, Sangger Talaud, dan Jawa. Jumlah
penduduk secara keseluruhan diperkirakan lebih dari 500 jiwa.
Penduduk asli di daerah ini bermata pencaharian bertani dan penambang. Mata
pencaharian yang terakhir ini mulai digeluti semenjak biji emas ditemukan di daerah
ini. Pekerjaan menambang emas tidak hanya dilakukan oleh laki-laki tapi juga oleh
perempuan dan anak-anak. Dari hasil pantauan kami, sayuran dari hasil pertanian
masyarakat asli perikatnya dijual dengan harga Rp. 20.000, pisang persisir Rp.30.000,
dan betatas Rp. 50.000 pertumpuk. Sementara itu, hasil pendulangan emas untuk sehari
mereka hanya bisa menghasil 1 kaca1, jika beruntung bisa lebih dari itu tapi ada juga
yang pulang dengan tangan hampa. Sementara itu mata pencaharian penduduk
pendatang adalah pengusaha. Mereka membuka kios, bar, bilyard, dan menyediakan
tempat beli emas. Ada juga yang bekerja sebagai karyawan di tempat pengusaha
bermodal yang yang memiliki lokasi penambangan emas.
Fasilitas pendidikan tak terlihat di daerah ini. Oleh karena itu banyak anak usia sekolah
belum bisa menikmati pendidikan. Kegiatan sehari-hari anak-anak ini adalah bermain
dan membantu orang tua di kebun juga ikut mendulang emas. Ada sebagian anak yang
mulai ikut terlibat dalam permainan bilyard. Hal itu membuat anak-anak itu belum bisa
mengeja, membaca dan menulis. Singkatnya mereka masih buta huruf. Penduduk pun
tidak bisa menikmati pelayanan kesehatan, sebab belum ada pukesmas dan petugas
kesehatan di sana. Masyarakat yang sakit biasanya meramu tumbuhan-tumbuhan yang
ada untuk dijadikan penawar. Untunglah mereka bisa tertolong. Walaupun demikian
kebutuhan akan pelayanan kesehatan menjadi pergumulan utama disana.
Kaca adalah istilah yang digunakan untuk mengukur berat emas. Biasanya 12 kaca emas sama dengan 1 gram
emas. harga satu kaca Rp. 30.000; dan 1 gram Rp. 350.000;
1

C. Peta Lokasi

Bab 3
Hasil Temuan
A. Rangkuman Hasil Temuan
Melihat kondisi masyarakat asli di Degeuwo, mengingatkan kami pada kehidupan
komunitas Cordillera yaitu orang-orang tinggian di Abra Luzon Utara Pilipina di tahun
1517 mengalami krisis hidup yang luar biasa dibawah kekuatan-kekuatan kapitalis dan
pemerintahan Spanyol. Saat itu orang-orang Spanyol dalam perburuan emas yang
pertama di wilayah itu, membantai, menjarah dan menghancurkan desa-desa suku asli.
Hak-hak hidup mereka tidak diperhatikan pemerintah saat itu apalagi tekanan dari
pendatang yang memiliki modal yang besar. Dengan uang yang banyak para
pengusaha ini membeli apa saja yang mereka inginkan. Lahan-lahan produksi
masyarakat diambil ahli atas nama pembangunan oleh pemerintah yang bekerja sama
dengan para kapitalis tadi. Mereka juga menjalankan praktek-praktek bisnis yang gelap
seperti pemasokan minuman keras, narkoba, tempat-tempat berjudi dan lokalisasi.
Tujuan dari kebijakan-kebijakan itu adalah membatasi ruang kebebasan rakyat untuk
berkarya dan bersuara. Mereka juga ingin memonopoli semua aset hidup orang asli
disana agar para pengusaha dan penguasa menjadi pengambil kebijakan untuk
selamanya. Hebatnya adalah mereka tetap berusaha eksis dan melawan resim kolonial2.
Situasi yang sama juga telihat saat Indonesia masih dijajah oleh pemerintahan kerajaan
Belanda. Pemerintah Belanda yang bekerja sama dengan para pengusahanya tapi juga
kaum ningrat pribumi yang berkuasa saat itu membuat rakyat tak berdaya. Semua
kekayaan alam diambil dan dibawah ke negeri Belanda. Rakyat pemilik hak ulayat
dikerja paksakan dengan upah yang sangat rendah. Tidak hanya itu, rakyat juga
dikenakan pajak yang cukup besar dan harus dibayar setiap ada penagihan.
Penyiksaan, penjara dan kematian adalah hukuman yang dikenakan bagi rakyat yang
mencoba melawan dua kekuatan tadi. Sehingga bagi beberapa orang Indonesia,
Belanda adalah pencipta neraka di bumi Indonesia.
Sejak daerah ini terbuka bagi masyarakat umum sekitar tahun 2002 menjelang 2003
praktek-praktek ketidakadilan seperti yang tergambar dari pengalaman orang asli dari
kedua negara tersebut diatas tampak nyata. Situasi seperti itu kami temukan di dua
lokasi besar yakni Baya Biru dan lokasi 99.
Menurut kesaksian beberapa warga asli, para pengusaha ini masuk tanpa permisi alias
masuk secara ilegal. Tanpa komunikasi dengan masyarakat asli mereka mencaplok
tanah-tanah adat yang ada dan langsung melaksanakan aktivitas pendulangan.
Masyarakat tak berani melawan sebab aparat keamanan memback up usaha para
penambangan emas illegal itu. Para pendatang yang hadir di sana pun menguasai pasar
ekonomi lokal. Mereka mendirikan kios-kios dengan harga barang diatas kewajaran.
Lim Teck Ghee dan Alberto G. Gomes, Suku Asli dan Pembangunan di Asia Tenggara, Yayasan Obor
Indonesia. Jakarta, 1993. Hal. 4-9
2

Misalnya saja, beras satu kilo dijual dengan harga Rp.50.000; atau silet 1 buah dijual
dengan harga Rp.10.000;. Hal lain yang dibuat para pengusaha ini adalah membuka
tempat-tempat lokalisasi dan tempat-tempat permainan bilyard. Kedua usaha ini
dibuka hanya untuk mengais uang masyarakat asli yang di dapat dari penambang emas
secara sederhana. Akhirnya, yang terjadi adalah uang yang didapat dari pengusaha
melalui penjualan emas itu kembali lagi ke pengusaha itu sendiri. Uang hanya singgah
sesaat di tangan masyarakat asli yang melakukan aktivitas pendulangan secara
sederhana itu. Itu artinya tidak ada keutungan yang diperoleh masyarakat asli pemilik
hak ulayat dari hasil pendulangan mereka. Secara khusus, pembukaan lokalisasi yang
ilegal itu mengundang tersebarnya penyakit HIV/AIDS secara cepat. Sampai hari ini
belum ada data yang jelas tentang kemungkinan masyarakat yang menginap penyakit
mematikan itu, karena memang akses pelayanan kesehatan di sana tak ada. Namun
berdasarkan keterangan beberapa masyarakat ada kira-kira 30-40an masyarakat telah
meninggal akibat penyakit mematikan itu.
Peredaran miras di daerah ini pun cukup tinggi. Menurut tua-tua masyarakat,
pengkonsumsi miras lebih banyak anak-anak muda. Indikasi pengedaran narkoba pun
besar sebab seorang pengusaha pernah ditangkap aparat keamanan Nabire saat dia
hendak membawah sabu-sabu ke Degeuwo pada pertengahan Juni 2010.
Masalah lain yang melilit masyarakat asli di sana adalah belum dibayarnya tututan hak
ulayat dari masyarakat oleh para pengusaha. Terlihat bahwa para pengusaha ini
sengaja mengulur-ulurkan waktu pembayaran dengan alasan yang tidak jelas.
Sementara itu para pengusaha ini mengandeng tokoh-tokoh pemuka adat dengan
memberikan sejumlah kecil uang. Pembayarannya dilakukan diam-diam dan terpisah.
Kami menilai bahwa itu sengaja dilakukan untuk menciptakan konflik di dalam
masyarakat pemilik hak ulayat itu sendiri.
Ketidakadilan lain yang mencolok di daerah ini terjadi ketika para pengusaha ini
mendatangkan alat berat ke sana. Pemandangan yang dapat kita lihat setiap hari di
sana adalah masyarakat asli mendulang emas dengan alat yang sangat sederhana yaitu
hanya dengan kuali, linggis dan sekop. Sementara, para penguasa menggunakan alat
berat seperti eksapator. Dalam waktu yang sama pengusaha menghasilkan bergramgram bahkan berkilo gram emas sementara masyarakat hanya bisa mendapatkan satu
atau dua kaca emas, itu pun jika bernasib baik3. Akibatnya kesejahteraan hidup
penduduk asli tidak berubah, mereka masih berkutat dalam dunia kemiskinan.
Kerusakan lingkungan alam akibat kehadiran alat-alat berat itu pun susah untuk
dielakkan, karena hampir setiap hari kegiatan penambangan itu dilakukan.
Diperkirakan akan banyak biota hidup bahkan tumbuhan yang merupakan kekayaan

Agar diketahui oleh kita semua bahwa tanggal 1 Oktober kemarin tepat jam 1 siang di depan ribuan mata
masyarakat asli para pengusaha penambang emas yang menambang emas dengan alat berat ini mengamankan dua drum
berisi emas dari tempat pendulangan ke gudang penyimpanan di bawah pengawalan ketat aparat keamanan yang berada di
sana. Kasus ini terjadi di area penambangan Baya Biru.

alam yang ada disekitarnya akan hancur punah. Wilayah tersebut akan menjadi tandus
akibat penebangan hutan secara liar guna mendukung proses penambangan. Hal itu
akan semakin parah jika dikemudian hari ada perusahan besar menduduki wilayah itu.
Kerusakan lingkungan akan lebih parah dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh
PT. Freeport Macmoran di Timika, sebab hanya ada satu tempat pembuangan limbah
yaitu kali Degeuwo.
Konflik antara para pengusaha dan masyarakat asli di daerah ini pun seringkali terjadi.
Peristiwa yang paling terakhir terjadi adalah adanya penikaman oleh seorang
pengusaha karoke terhadap Luther Bagubau di lokasi 99 pada bulan Juni 2010 kemarin.
Penikaman itu terjadi tanpa alasan yang mendasar. Korban dirawat di Rumah Sakit
Umum Nabire dan sekarang sudah baik keadaannya. Konflik-konflik yang sama pun
pernah terjadi sebelumnya. beberapa tahun yang lalu aparat tembak dua orang Papua,
yang satu asal suku Dani terjadi di Baya Biru dan satu lagi dari suku Ekari/Mee yang
terjadi di area penambangan avansa, demikian tutur beberapa orang bapak. Dari cerita
mereka ini ada indikasi munculnya konflik yang lebih besar di kemudian hari. Dan itu
disebabkan oleh rasa ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat pemilik hak ulayat
dari tiga suku yaitu Wolani, Moni dan Ekari/Mee ditambah dengan suku Dani.
Masalah terakhir yang membuat para pemilik hak ulayat tidak senang dengan para
pengusaha adalah tindakan pengusaha yang tidak mematuhi Instruksi Pemerintah
Paniai bernomor 53 Tahun 2009 Tanggal 27 Agustus 2009 tentang Penutupan Sementara
Lokasi Penambangan Emas di Sepanjang Sungai Degeuwo Distrik Bogobaida
Kabupaten Paniai dan Surat Bupati Kabupaten Paniai kepada para pengusaha
bernomor 543/207/PAN/2009 Tanggal 26 Agustus 2009 tentang Pemberitahuan
Penutupan Sementara Lokasi Pendulangan Emas. Surat lain yang dikeluarkan Bupati
Paniai yakni surat dengan nomor 017/87/SET tertanggal 16 Oktober 2009 tentang
Perintah Pengosongan dan Pengeluaran Alat-Alat Berat Dari Lokasi Pendulangan.
Tidak cuma itu, sikap tidak taat dari pengusaha pun nampak dari tidak diindahkannya
surat dari Kapolres Paniai bernomor B/114/X/2009/Res Pan tanggal 22 Oktober 2009
yang isinya meminta kepada seluruh pengusaha pemilik alat berat supaya mematuhi
Instruksi Bupati Paniai. Sampai bulan Oktober ini masyarakat masih mempertanyakan
keseriusan Pemerintah Paniai serta Kapolres Paniai dalam mengawal dan
mengamankan keputusannya. Pikiran seperti itu lahir karena penambangan emas oleh
para pengusaha masih terus dilakukan. Pertanyaannya adalah mungkinkah ada
koorporasi/kerja sama antara para kapitalis dan pemerintah?
Dalam pemantauan ini, kami juga telah menemukan beberapa kasus yang ujungnya
merugikan masyarakat pemilik hak ulayat disana, yakni:
1. Pada tahun 2004, para pengusaha memasukan ribuan karyawan/buruh dilokasi
yang mereka beli. Jumlah aparat keamanan pun diperbanyak untuk mengamankan
para pengusaha.
2. Tahun 2006 dalam waktu yang sama di daerah baya biru dan lokasi 99 telah terjadi
kasus peracunan lewat minuman keras. Akibatnya 6 (enam) orang masyarakat

masing-masing Yosia Wagepa, Obaja Kegepe, Markus Topaa, Stefanus Kegepe, Sem
Abaa dan Derek Kegepe meninggal dunia.
3. Tahun 2008, Haji Ary mengusir Ibu Selfi Romsumbre dan kelompok kerjanya dari
Degeuwo dengan kekuatan aparat. Dalam tahun yang sama seorang mayarakat
bernama Damianus Topaa menjalankan tagihan di pantongan-pantongan
(terowongan pendulangan emas). Lantas seorang aparat polisi yang menjaga
pantongan dari salah satu pengusaha memukulnya, kemudian perkelahian antara
keduanya pun terjadi yang akhirnya senjata milik aparat tadi dipatahkan oleh
Demianus Topaa. Hingga kini Demianus Topaa masih menjadi buronan polisi.
4. Pada tanggal 16 Juli 2009 terjadi lagi kasus penembakan oleh aparat kepolisian dari
kesatuan Brimob terhadap Sepanya Anoka di lokasi Baya Biru. Kasus ini terjadi
bermula dari tuntutan masyarakat terhadap hak ulayat kepada Haji Ary. Dari
peristiwa ini Sepanya Anoka terkena peluruh di bagian paha dan bersarang di
dalamnya. Penegakan dan proses hukum terhadap pelaku sampai hari ini belum
berjalan.
5. Di tahun 2010 terjadi beberapa kasus, diantaranya 1) di awal Juni 2010 PT. Martha
Mining mulai beroperasi dengan alat berat di lokasi Baya Biru. Acara pemberian
hak pakai atas tanah adat kepada perusahan diatas telah disepakati akan dilakukan
pada tanggal 1-5 September 2010 yang rencananya akan dihadiri juga oleh semua
pihak yang terkait. Namun demikian acara tertunda dan baru dilaksanakan pada
tanggal 9 Oktober 2010 kemarin. Dalam acara ini direncanakan pemilik perusahaan
akan membayar hak ulayat kepada masyarakat sebesar 3 milyar. 2) pertengahan
bulan Juni 2010 seorang pengusaha emas bernama Azis ditangkap aparat KP3
Udara dan ditahan di Polres Nabire karena kedapatan membawa obat terlarang
(sabu-sabu) dalam bentuk kemasan. Diperkirakan perdagangan obat terlarang
tersebut sudah lama dilakukan. Dalam waktu yang sama PT. Martha Mining yang
bekerja sama dengan perusahan penerbangan Susi Air membuka jalur penerbangan
Nabire-Degeuwo. Lapangan berada pada tingakat kemiringan yang curam.
Menurut masyarakat pembukaan lapangan terbang ini terjadi sepihak, tidak melalui
komunikasi yang baik dengan para pemilik hak ulayat. 3) pada akhir bulan Juni
2010 seorang pengusaha karaoke menikam Luther Bagubau tanpa alasan yang jelas
di lokasi 99. Korban dirawat di Nabire dan saat ini sudah membaik.
Kehadiran illegal mining ini berdampak pada pengerusakan lingkungan hidup,
pengerusakan moral dan nilai-nilai budaya setempat. Kehadiran aparat keamanan di
daerah ini pun berdampak pada munculnya keresahan dalam masyarakat. Selain itu
pembagian hasil yang tidak merata dan pencaplokan tanah adat oleh pengusaha
menyebabkan timbulnya gugatan dari berbagai pihak.
B. Penjelasan Hasil Temuan Dalam Kata dan Gambar
Dalam bagian ini kami menyajikan gambar-gambar yang sempat kami ambil dengan
memberikan keterangan berdasarkan penjelasan dari masyarakat setempat.

Di degeuwo ada
beberapa
cara
orang
menambang
untuk
mendapatkan butiran-butiran emas, yakni 1)
Pantongan. Membuat lobang kedalam tanah dan
itu bisa mencapai 100 meter. 2) Gusuran, model ini dilakukan oleh anak buah dari ibu
Antoh. Mereka mengambil material dari kali lalu dibawa ke darat untuk didulang. 3)
Paritan. Mereka membuat semacam parit dari kali sampai ke darat lalu mencari
material. 4) Jet Molo. Mereka menggunakan alat selam lalu mengambil material dari
dalam air. 5) Jet darat/kering. Model penambangan dengan
menggunakan alkon dan itu dilakukan dipinggir sungai. 6)
Bendungan. Mereka membendung air sungai sehingga terbentuk
daratan yang cukup panjang. Di daratan itu mereka lakukan
penambangan emas. 7) Leles. Mencari emas dengan menggunakan
kuali. Cara ini dilakukan oleh masyarakat yang terbatas
modalnya.
Orang-orang yang ada dalam foto ini adalah beberapa tokoh adat yang sempat kami
kumpulkan untuk meminta keterangan tentang lika-liku kehidupan mereka bersama
para pengusaha illegal yang menambang di daerah mereka.
Gambar di samping adalah lokasi penambangan emas Baya Biru. Daerah ini
merupakan lokasi pendulangan terbesar pertama di Degeuwo. Daerah ini juga
merupakan cikal bakal tersebarnya beberapa area penambangan emas disepanjang kali
Degeuwo.
Di lokasi ini para pengusaha penambangan dan pengusaha kios, karoke dan bilyard
meraup keuntungan yang sangat besar jumlahnya. Ada sekitar 30-an lebih pengusaha
yang beroperasi disini. Kios yang beroperasi disini sebanyak 32 buah, tempat karaoke
13 buah, dan tempat bilyard 6 buah serta 3 buah wartel. Pengusaha besar yang
beroperasi disini adalah ibu Antoh. Ibu ini adalah istri dari salah satu pejabat di
kabupaten Paniai.
Gambar di samping adalah lokasi penambangan emas 99/lokasi 99. Menurut beberapa
masyarakat, Lokasi ini telah dilepaskan kepada PT. Madinah Qurrataain berdasarkan
kesepakatan dengan beberapa orang Wolani atas nama masyarakat suku Wolani.
Walaupun ada kesepakatan seperti itu sebagian besar masyarakat tidak menerima
kesepatakan itu karena belum mewakili mayoritas suara mereka.
Pemilik PT. Madinah adalah Haji Dasril (pengusaha dari Makasar). Kegiatan
penambangannnya ini telah mendapat ijin dari Bupati Kabupaten Paniai melalui Surat
Izin Kuasa Penambangan Skala Kecil Eksploitasi Bupati Kabupaten Paniai Nomor
543/67a/Bup-Pan tanggal 28 Oktober 2008 dengan luas area 40 hektar.

Gambar disamping adalah alat berat yang di


datangkan oleh Haji Dasril untuk mendukung
penambangan di wilayahnya. Alat berat itu
didatangkan setalah pihak PT. Madinnah
Qurrataain melakukan kerja sama dengan
Mercator Gold Plc yang bermarkas di London
Inggris. Namun alat-alat berat itu sampai
pantauan terakhir belum beroperasi karena
pihak PT. Madinnah belum membayar
tuntutan ganti rugi oleh masyarakat asli
sebesar tiga milyard.
Dalam sebuah surat yang dinamakan Sale of Interest in Indonesia Gold Project tertanggal
30 Juli 2009 oleh Mercator Gold di sebutkan bahwa PT. Madinnah Qurrataain dan
Mercator Gold dapat jaminan ijin penambangan pada lahan 40 ha dari masyarakat.
Sedekar untuk diketahui bahwa gambar diambil pada malam hari karena pada siang
hari kami dilarang oleh karyawan dan aparat yang mengamankan lokasi tersebut.
Wanita-wanita yang terlihat digambar ini
adalah para pekerja seks komersial yang di
datang oleh para pengusaha dari Nabire dan
luar Papua. Mereka ini di tempatkan
pengusaha di bar atau istilah yang dikenal
masyarakat adalah tempat karoke.
Tarif yang dikenakan untuk sekali bersetubuh
adalah Rp.500.000; jika ditemani sepanjang
malam tarifnya satu juta itu tidak terhitung
dengan ongkos minuman keras yang mereka
nikmati
bersama
sebelum
melakukan
persetubuhan. Mereka ini di kontrak selama 1
tahun,walaupun demikian ada dari mereka yang tidak pulang setelah masa kontraknya
habis karena mereka menjadi istri dari para pendulang di sana. Oleh masyarakat disana
perempuan-perempuan ini mereka sebut mangker. Pendapatan yang mereka peroleh
dari majikan mereka perbulannnya Rp. 2.000.000; nilai ini bersih diluar makan-minum
dan kebutuhan lainnya.
Ini adalah salah satu tempat bilyard yang juga
merupakan tempat hiburan tapi juga tempat
berjudi di Baya biru.
Biasanya masyarakat yang mendapatkan uang
dari hasil pendulangan, mereka gunakan untuk
mencari hiburan seperti itu. Yang lebih para
lagi adalah keterlibatan anak-anak kecil. Anak-anak ini tidak dilarang oleh orang-orang
dewasa yang ada disana. Mereka justru diikutkan dalam permainan-permainan seperti
itu. Akibatnya, masa depan yang baik dari anak-anak ini menjadi kabur.

Kios-kios yang didirikan oleh para


pengusaha ini menjual barang dengan harga
yang cukup tinggi. Harga barang di hampir
semua kios yang ada di baya biru maupun
lokasi 99 tidak beda. Berikut ini daftar harga
barang yang di jual di kios ini: beras Rp. 50.
000-/kg , supermie Rp. 5000-/bungkus, silet
cukur Rp. 10.000-/ buah, gula Rp. 60.000/kg, sabun mandi Rp. 10.000-/buah,
minuman teh Rp. 10.000-/gelas/kaleng, kopi
susu Rp. 20.000-/gelas, makanan di warung Rp. 50.000-/porsi, ayam potong es
Rp.100.000-/ekor, ikan laut es Rp. 100.000-/kg, saories/sardines besar Rp.35.000 dan
kecil Rp.30.000-/kaleng, susu Rp. 20.000-/kaleng, rokok Rp.20.000-/bungkus, biskuit
gabin
Rp.35.000-/bungkus/pak,
celana
panjang
Rp.400.000/potong,
baju
Rp.300.000/potong, sandal swallow Rp. 50.000-/pasang, sandal sepatu Rp. 300.000/pasang. Jadi barang di kios-kios baik yang di baya biru dan lokasi 99 harganya dua
kali lipat tingginya dari harga barang di kota.
Di tempat-tempat seperti ini masyarakat juga menjual emasnya kepada para
pengusaha. Harga emas untuk 1 kaca Rp. 30.000, 1 gram Rp. 350.000, 1 ons Rp.
50.000.000, 1 kilo gram Rp. 50.000.000;. nilai jual emas seperti ini diberlakukan di dua
tempat pendulangan emas terbesar,
yakni lokasi baya biru dan lokasi 99.
Eksepator yang terlihat di gambar ini
didatangkan sejak tahun 2009 oleh ibu
Antoh
guna mendukung usaha
pengerukan emas di area ini.
Melihat hal itu Pemerintah Paniai dan
Kapolres Paniai telah mengeluarkan
beberapa keputusan (lihat dilampiran)
yang meminta supaya para kapitalis
lokal menghentikan penambangan
emas yang sifatnya ilegal ini.
Walaupun keputusan itu sudah
dikeluarkan, namun sampai pantauan
terakhir usaha penambangan emas terutama oleh alat berat terus dilakukan oleh para
pengusaha.
Kasus yang terjadi di depan mata kami dan masyarakat tepatnya Tanggal 1 Oktober
2010 kemarin adalah hasil pengerukan emas selama tiga hari dari alat berat itu
menghasilkan 2 buah drum yang berisi emas. Dua drum itu langsung diamankan di
gudang oleh pengusaha dibawah pengawalan ketat anggota Brimob dan Kopasus yang
ditugaskan disana. Saat itu seorang bapak yang berdiri dekat kami, dengan nada
jengkel dan kecewa berkata para pengusaha ini telah mengambil kami punya wilayah. Dulu

kami terima mereka baik-baik tapi setelah mereka dapat hasil yang banyak mereka lupa dengan
kami. Mereka pake aparat untuk singkirkan kami dari tempat dulang kami yang awal.
Salah satu aparat dari kesatuan Brimob
yang dibayar pengusaha (ibu Antoh)
untuk
mengamankan
proyek
penambangan emas di lokasi baya biru.
Saat lokasi penambangan ini hendak
diambil, kami dilarang oleh aparat ini. Ia
bahkan mengajukan beberapa pertanyaan
lalu meminta supaya kami menunjukan
KTP,
namun
kami
tidak
menunjukkannya. Situasi seperti ini kami temukan juga di lokasi 99.
Foto salah satu masyarakat asli yang sedang
mendulang emas dari sisa-sisa bajakan alat berat
diatas. Alat yang dia gunakan sangat
sederhana yakni hanya dengan sebuah kuali.
Menurut bapa ini, untuk sehari ia hanya bisa
mendapatkan butiran emas dengan ukuran
berat 1-2 kaca, itu pun kalau nasibnya baik.
Satu kaca jika di uangkan hanya Rp. 30.000;.
Menurutnya jumlah uang sebesar itu tidak cukup
untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Hal itu dapat dibenarkan karena dari hasil
pantauan kami harga barang dan makanan di kios-kios yang ada sangat mahal. Cara
mendulang seperti ini ibarat orang miskin yang makan dari rema-rema orang kaya.
Warga masyarakat pendatang yang ikut dulang
dilokasi 99. Alat yang ia gunakan ini terbuat
dari kayu. Biji emas yang terlihat di gambar ini
menurutnya bisa mencapai 1 ons.
Masyarakat asli Papua dilarang masuk ke lokasi
ini, karena menurut para pendatang ini, lokasi
tersebut telah mereka bayar sehingga sudah
menjadi hak mereka. Jika ada orang Papua yang
masuk kesana akan berurusan dengan pihak
keamanan yang memback up mereka.
Aparat dari kesatuan brimob yang
mengawal para pendulang emas pendatang.
Lokasi yang berada diarea 99 ini pemiliknya
adalah Haji Ari asal Maksar.
Ada sekitar 4 orang aparat yang dibayar pak
Ari untuk mengamankan area penambangan
emasnya ini. saat foto ini diambil, kami
sempat ditanyai oleh mereka. Mereka
menanyakan alasan kami mengambil foto

itu, kami
mahasiswa
penelitian.

menjawab bahwa kami


yang sedang melakukan

Gambar di samping ini adalah lapangan


terbang yang dibangun oleh PT. Martha
Mining milik ibu Antoh yang bekerja
sama dengan Perusahan penerbangan Susi Air di Nabire.
Menurut kesaksian masyarakat lapangan terbang ini dibangun secara sepihak. Artinya
tidak pernah ada negosiasi sama sekali dengan masyarakat pemilik tanah adat. Oleh
karena itu masyarakat menuntut ganti rugi sebesar 3 milyard kepada pihak kapitalis.
Ada kesepakatan tentang ganti rugi ini, namun sampai pantauan terakhir ini belum ada
realisasinya. Menurut informasi, lapangan ini akan diresmikan oleh Bupati Paniai pada
tanggal 9 Oktober 2010 dalam upacara adat dengan semua masyarakat yang ada disana,
disitu pula tuntutan ulayat oleh masyarakat akan diselesaikan. Hal lain tentang
lapangan terbang ini bahwa ia dibangun di kemiringan yang curam sehingga
dikawatirkan kemudian akan mengalami longsor yang besar dan menutupi sebagian
aliran kali Degeuwo.
Masyarakat dan pengusaha yang hendak pergi dari Nabire ke Degeuwo bahkan
sebaliknya dilakukan melalui Heli dan pesawat Caravan. Perusahan penerbangan heli
dinamakan PT. Cheysia Aurelia milik Nasri. Perusahaan ini memiliki dua buah
helicopter. Penerbangan dalam sehari bisa dilakukan sampai delapan kali flight.
Sementara pesawat caravan yang melayani disana adalah dari perusahaan Susi Air.
Susi Air juga telah menghadirkan sebuah helicopter untuk melayani pengusaha dan
masyarakat. Biaya penerbangan dari Nabire ke Degeuwo mencapai Rp.3.000.000; per
orang belum termasuk barang bawaan.
Gedung yang ada dalam gambar ini didirikan
oleh ibu Antoh. Dua gedung itu rencananya
akan difungsikan sebagai gedung sekolah
dan puskesmas swasta milik perusahan.
Gedung yang dibangun di atas tanah adat ini
pun tidak didahului dengan kesepakatan
dengan para pemilik hak ulayat. Masyarakat
menilai bahwa kehadiran gedung ini hanya
untuk menyenangkan mereka, karena para
pengusaha ini mempunyai kepentingan yang
besar kedepannya di daerah ini. Ibu Antoh
bangun gedung itu hanya untuk bujuk kami, dia
mau mencoba ambil kami punya hati supaya kedepan dia bisa kuasai semua daerah ini dan bikin
perusahan besar, demikian kata seorang tokoh adat Wolani. Mereka akan sedikit
respons dan tidak mencurigai jika fasilitas umum seperti itu dibangun oleh pemerintah
kabupaten Paniai.

Ini adalah pantongan. Dalamnya sumur


penambangan
seperti
ini
biasanya
disesuaikan dari ketinggian bidang tanah.
Melalui sumur seperti ini semua material
yang menyertai emas dibawah keluar.
Pemilik
sumur
tambang
seperti
ini
kebanyakan orang-orang non-pribumi.
Pengusaha yang memiliki sumur seperti ini
meraup keutungan yang cukup besar. Setiap
harinya mereka bisa menghasilkan bergramgram emas bahkan bisa dalam ukuran kilo
gram.
Lokasi-lokasi penambangan seperti ini dijaga ketat oleh aparat sehingga sangat susah
untuk masyarakat masuk kedalamnya. satu waktu kami dua orang mau masuk ambil
material dalam pantongan, saat kami mau ambil dan bawah pulang pemilik pentongan datang
dengan aparat lalu mereka marah dan hampir tembak kami, demikian tutur seorang pemuda
Wolani. Saat kami menanyakan alasan tindakan kedua masyarakat itu, mereka jawab;
mereka (pengusaha) datang dan ambil kami punya tanah tanpa permisi lalu ambil emas banyakbanyak sementara kami tidak dapat apa-apa, itulah sebabnya kami hendak ambil material itu.
Kami dibilang pencuri tapi kami membantah itu dan bilang merekalah yang pencuri.
Pengusaha yang memiliki area penambangan
yang terlihat di gambar ini adalah Boy Sanggal
asal Manado. Pengusaha ini memiliki beberapa
tempat penambangan yang berada di beberapa
lokasi. Penambangan di lokasi ini dilakukan
dengan cara membendung air.
Menurut kesaksian dua orang Moni yang
pernah bekerja di tempat ini, setiap harinya
mereka menghasilkan emas sampai 10 kilo
gram. Jika diuangkan pendapatan perharinya
mencapai 5 milyar sebab 1 kilo gram emas disana dijual dengan harga Rp. 500.000.000;
(lima ratus juta).
Model pendulangan seperti ini dinamakan
pendulangan
Jet
darat/kering.
Mereka
menggunakan alkon untuk menyedot material.
Keuntungannya pun besar.
Model penambangan seperti itu memiliki
potensi yang besar dalam merusak lingkungan
alam disepanjang kali Degeuwo. Akibat
pendulangan seperti ini membuat tanah dan
bebatuan yang ada di darat masuk kedalam kali
yang mengakibatkan kali menyempit dan dangkal juga air kali ikut kabur.

PT. Salomo Mining Company (PT.SMC) ini


pemilik sahamnya adalah ibu Antoh dan
seorang warga negara Australia. Gambar ini
diambil saat acara peresmian landasan dan
rencana pembangunan sekolah dasar dan
klinik umum yang didirikan oleh ibu Antoh
yang
katanya
untuk
memperbaiki
kehidupan masyarakat asli disana.
Seperti kebiasaan para kapitalis, ibu antoh

dan rekannya ini mengunakan ayat-ayat Alkitab


sebagai jembatan untuk mengambil hati warga
disana. Semboyan para kapitalis barat Gospel,
Glory, dan Gold nyata juga disana.
Orang asing di foto ini adalah salah satu pemilik
saham dari PT. Salomo Mining Company yang
telah disinggung diatas. Saat kegiatan ini
dilakukan orang ini mendapat pengawalan
ketat oleh pihak aparat. Hal itu menyebabkan
tim susah untuk mengorek informasi langsung
dari dia.
Masyarakat diajak waita (bersuka ria) saat
acara peresmian lapangan terbang dan
peresmian kehadiran PT. Salomo Mining
Company. Dalam acara ini juga pihak
perusahan membayar satu milyard
delapan ratus juta yang katanya untuk
pembayaran hak ulayat bagi masyarakat
asli.
Uang yang diberikan itu sekaligus biaya
pengucapan syukur antara lain pembelian
babi sebanyak 20 ekor dan bama.
Pembayaran hak ulayat kepada masyarakat asli
dilakukan pihak perusahan melalui kepala
desa (Yahya Kegepe dan Yan Kegepe) dan itu
dilakukan tidak di depan semua masyarakat.
Dalam pembagiannya tidak semua masyarakat
dapat, akibatnya, masyarakat yang tidak
mendapat uang hak ulayat itu melakukan
pemalangan di jalan menuju ke tempat
pengerukan material emas oleh PT. Salomo
Mining Company. Gambar diatas adalah foto pemalangan yang dilakukan masyarakat

yang tidak menikmati uang hak ulayat itu. Pemalangan yang dilakukan masyarakat itu
mendapat reaksi dari aparat. Mereka melakukan penembakan ke udara, lalu
masyarakat yang tidak terima tindakan aparat itu pun menembak panah ke udara.
Masyarakat suku Mee yang ikut kegiatan ini menyampaikan sikap mereka dengan
meminta supaya perusahan tersebut tidak masuk beroperasi di wilayah mereka. Sikap
protes mereka nyatakan dengan memotong jembatan penyeberangan yang selama ini
mereka gunakan untuk dari dan ke lokasi kios Baya Biru dari area Avansa dan Tayaga.
C. Masalah Baru Yang Dihadapi dan Tuntutan Masyarakat Asli
Masalah utama yang sekiranya sudah, sedang dan akan dihadapi masyarakat yang ada
disana, yaitu kehadiran alat-alat berat di lokasi baya biru dan lokasi 99. Untuk alat berat
di lokasi baya biru sudah beroperasi. Kegiatan penambangan untuk sehari dilakukan
dari jam 6:00-21.00. Dampak yang terlihat adalah: a) kerusakan lingkungan akan
semakin parah, b) munculnya kecemburuan sosial dari masyarakat ke para pengusaha
karena pendapatan emas masyarakat berkurang, c) perampasan terhadap area
pendulangan emas masyarakat. masyarakat pemiliki lokasi disuruh dulang dengan
ampas-ampas material yang ditinggalkan alat berat.
Melihat situasi hidup mereka kemarin, hari ini dan esok, masyarakat menuntut 2 hal,
yakni:
1. Tutup untuk selamanya, karena sampai pemantauan terakhir dilakukan masyarakat
tidak dihargai sebagai pemilik hak ulayat. lebih baik tutup saja, karena dari dulu
sampai sekarang kami terus menderita. Bukan hanya kami, mama kami pun terus
ditelanjangi dan terluka. Kami takut jangan sampai mama kami marah dan kami habis
semuanya, demikian tutur beberapa masyarakat.
2. Operasi penambangan ditutup sementara. Dengan ini masyarakat mau supaya para
pengusaha ilegal yang ada ditarik keluar dan pemerintah bersama masyarakat asli
duduk dan mencari sebuah perusahaan resmi yang nantinya akan ada MoU yang
jelas tentang jaminan hidup masyarakat kedepannya.
Dari kedua tuntutan masyarakat itu, kami berpikir bahwa jika perusahaan ditutup
maka luka yang ada dalam diri masyarakat akan terobati dan keseimbangan dan
kelestarian alam di sepanjang kali degeuwo akan terjaga. Kedua, jika opini kedua
diterima kemungkinan kesejahteraan masyarakat asli akan terjamin walaupun mereka
akan tergusur dari tempat hidup mereka kini. Namun demikian lingkungan alam akan
rusak baik oleh penebangan hutan bahkan limbah perusahaan, karena satu-satunya
tempat pembuangan limbah yang terlihat adalah kali Degeuwo itu sendiri. Kami
bayangkan bahwa kerusakan lingkungan akan lebih parah dari kerusakan lingkungan
yang dibuat PT. Freeport di Timika.

Bab 4
Analisa
1. Pelanggaran HAM
Pelanggaran HAM di daerah ini terlihat dengan adanya pencaplokan tanah-tanah adat
secara sepihak oleh para pengusaha dengan backingan aparat keamanan. Masyarakat
yang berniat menuntut hak ulayat seringkali dipatahkan oleh aparat dengan ancaman
dan intimidasi. Hal itu membuat masyarakat tak berdaya diatas tanah milik mereka.
Para pengusaha berjanji untuk membayar ganti rugi kepada masyarakat adat namun
tak pernah terealisasi.
Hal lainnya adalah kematian warga akibat menghidap virus HIV/AIDS. Hal itu bisa
menghabiskan penduduk asli disana dalam beberapa waktu kedepan. Sebab menurut
beberapa masyarakat yang mengetahui ciri-ciri orang yang meninggal akibat AIDS
bahwa dalam dua tahun terakhir kira-kira ada 30-40an orang telah meninggal dunia.
Penembakan oleh aparat keamanan terhadap masyarakat pun seringkali terjadi.
Penembakan itu dilakukan tanpa alasan yang jelas. Disitu kami berkesimpulan bahwa
ada permainan dari para pengusaha ini untuk kedepannya mereka menguasai dan
mengambil ahli kehidupan di daerah ini guna membangun perusahan besar yang
pemodalnya mereka dan perusahan asing kolega mereka. Indikasi ke arah itu terlihat
dengan jadirnya alat berat yang dikemudiakan oleh dua orang asing.
Kehadiran aparat keamanan disana juga membatasi ruang gerak masyarakat untuk
berkarya mempertahankan hidup. Semua kegiatan masyarakat selalu diawasi aparat
keamanan.
2. Kerusakan Lingkungan Hidup
Kerusakan lingkungan hidup di daerah ini pun sangat besar kedepannya. Penyebabnya
adalah banyak pohon-pohon dipinggiran kali Degeuwo ditebang untuk kepentingan
penambangan. Masalah lainnya adalah keberadaan alat berat seperti eksapator yang
mengeruk material tanpa pertimbangan penyelamatan lingkungan. Jika ini dibiarkan
maka kerusakan lingkungan disepanjang kali Degeuwo mulai dari lokasi 99 sampai
muara di daerah napan akan rusak parah.
Selain itu air kali Degeuwo pun sudah tercemar. Hal itu terbukti dengan masyarakat
yang mendapat penyakit cacar air di kaki dan tangan mereka. Jika mereka dulang
dengan air kali penyakit itu terus melekat pada diri mereka tapi jika mereka dulang
dengan air dari anak kali yang bersih keadaan mereka aman.
Masalah lainnya yang akan merusak lingkungan hidup di sana adalah dibuatnya
terowongan secara vertikal sepanjang 50-100 meter dibawah tanah. Suatu saat tanah
disana akan ambruk dan tempat hidup manusia Wolani akan hancur.

3. Perubahan Pola Perilaku


Kehadiran puluhan usaha kios, warung, bilyard dan karaoke di sana telah membawa
dampak negatif bagi pola perilaku masyarakat terutama dari sisi moral. Masyarakat
yang tadinya tidak biasa makan di warung, tidak bisa main bilyard, tidak kenal seks
bebas akhirnya bisa melakukan hal-hal seperti itu.
Dahulu masyarakat hidup dengan kegiatan berkebun namun kini kebiasan itu telah
berubah, masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di lokasi-lokasi kios di baya
biru dan 99 serta mendulang emas di daerah-daerah bekas kerukan material emas oleh
alat berat.
Hal lain yang memprihatikan adalah kebiasaan buruk itu terpengaruh juga ke anakanak muda dan anak-anak usia sekolah. Terutama dalam hal pengkonsumsian
minuman keras. Minuman keras itu di pasok oleh konspirasi antara anggota polsek
nabire, petugas KP3 udara dan para pengusaha. Konspirasi mereka jelas dengan bukti
bahwa pada tanggal 29 Juli 2008 pada jam 08.25 ditemukan di Helicopter IAT
(Indonesia Air Transportation) yang di carter haji Anas berupa 10 karton minuman
keras jenis vodka dengan jumlah 480 botol. Saat ditemukan petugas KP3 udara Nabire
meminta supaya tidak dimusnahkan, namun pihak Kodim dan Bandara Nabire
memusnahkan itu semuanya. Keesokan harinya petugas KP3 udara dan anggota polisi
yang terlibat datang melakukan protes di Kodim. Kegiatan kerja sama itu sampai
pemantauan terakhir ini masih dilakukan.
Jika hal itu dibiarkan maka masa depan generasi muda Degeuwo akan semakin suram,
kematian akan datang didahului dengan kematian semangat dan kekuatan untuk hidup
dan berkarya akibat alkohol yang menguasai tubuh mereka.
4. Konflik
Konflik yang sudah bahkan kemungkinan akan terjadi di lokasi-lokasi penambangan
emas di sepanjang kali Degeuwo antara masyarakat dan para pengusaha, diakibatkan
oleh: a) Penghasilan emas yang jauh beda antara masyarakat asli dengan para
pengusaha. b) Pencaplokan tanah adat oleh para pengusaha. c) Tidak pernah
dibayarnya tuntan hak ulayat oleh pengusaha kepada masyarakat. d) sikap tidak
simpati yang ditunjukan oleh para pengusaha jika ada warga asli yang meninggal. e)
Lamban bahkan tidak dibayarnya pajak oleh pengusaha kepada masyarakat yang telah
ditetapkan bersama. f) Sikap aparat keamanan yang arogan terhadap masyarakat
setempat. Ada kasus menyangkut masalah yang terakhir ini, yakni: pada tanggal 24
Agustus 2008 di pantongan milik Rizal Kibas (Anggota Polres Nabire) terjadi perang
mulut antara seorang masayarakat Papua asal suku Lani dan anggota brimobda polda
lantaran masyarakat lewat disekitar lokasi itu. Lantas Brimob itu memukul masyarakat
tadi karena mendapat perlawanan brimob tadi mengeluarkan beberapa tembakan.
Kemudian masyarakat memintah denda, lalu aparat dan pengusaha memberikan uang
sebesar Rp. 8.100.000 kepada pihak korban sesuai permintaan mereka.

5. Sikap Bupati dan Kapolres Paniai


Walaupaun kedua lembaga diatas telah mengeluarkan beberapa keputusan yang isinya
meminta para pengusaha menghentikan usaha penambangan emas mereka, namun
operasi penambangan terus dilakukan. Ada dua penyebab, 1) tidak ada ketegasan dari
kedua lembaga itu dalam mengawal keputusan mereka, 2) kemungkinan adanya
konspirasi antara para pengusaha itu dengan kedua lembaga tersebut.

Rekomendasi:
1. Meminta kepada semua LSM dan gereja-gereja yang ada di Papua supaya mengambil
komitmen bersama untuk bertindak menyelamatkan manusia dan hutan yang ada di
sepanjang kali Degeuwo
2. Meminta kepada semua LSM dan gereja-gereja di tanah Papua mendesak Gubernur,
DPRP, Kapolda Papua dan Pangdam supaya mendesak Bupati dan Kapolres Paniai
agar tegas dalam menjalankan keputusannya.
3. Mendesak Kapolda Papua, Kapolres Paniai dan Kapolres Nabire agar pada kesempatan
pertama memanggil dan meminta keterangan para pelaku pendulangan emas secara
illegal yang merusak lingkungan dan moral masyarakat yang ada di Degeuwo untuk
mempertanggung jawabkan perbuatan mereka berdasarkan hukum yang berlaku di
NKRI