Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN GIZI KLINIK

ASUHAN GIZI PADA PASIEN DENGUE HEMORAGHIC FEVER (DHF)


DI RUANG KANTIL RSUD BANYUMAS

Oleh:
Kartika Cahyaningrum

G1H012021

PROGRAM STUDI ILMU GIZI


JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
2015

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN


Laporan Praktik Kerja Lapangan di RSUD Banyumas
Jenis Kasus

: Dengue Hemoraghic Fever

Nama/NIM Mahasiswa

: Kartika Cahyaningrum

Kota dan Tanggal disetujui

: Banyumas,

Oktober 2015

Menyetujui,

Dosen Pembimbing Lapangan

Dosen Pembimbing Akademik

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR LAMPIRAN

BAB I. Screening Gizi

BAB II. Panduan Asuhan Gizi Terstandart


A. Anamnesis
1. Anamnesis
a.

b.

Identitas Pasien
Nama
Umur

: An. I
: 13 tahun 3

No RM
Alamat

: 26-65-12
: Wlahar Kulon Rt 03 Rw

Sex
Pekerjaan
Pendidikan

bulan
: Perempuan
:: Sekolah

Tanggal masuk
Tanggal kasus
Diagnosis

01, Patikraja
: 1 November 2015
: 2 November 2015
: Demam dengue

Agama

Dasar
: Islam

Medis
Ruang

: Kanthil

Berkaitan dengan Riwayat Penyakit


Keluhan Utama
Riwayat Penyakit

Demam tinggi, nyeri kepala, nyeri perut


Demam tinggi, nyeri perut, mual, muntah, hepar

Sekarang (RPS)
Riwayat Penyakit

teraba 1-2 cm
-

Dahulu (RPD)
Riwayat Penyakit

Keluarga (RPK)
c.

Berkaitan dengan Riwayat Gizi


Data Sosio

Penghasilan orang tua : Rp450.000,00 Rp600.000,00

Ekonomi

Pekerjaan orang tua : Buruh dan Penjual Pecel

Alergi makanan

Jumlah anggota keluarga : 4 orang


Makanan : -

dan diet khusus

Penyebab : Jenis diet khusus : Alasan : -

Masalah

Yang menganjurkan : Nyeri perut (iya)

Gastrointestinal

mual (iya)

konstipasi (tidak)
anoreksia (tidak)
perubahan pengecapan/penciuman (tidak)
muntah (iya)
Kesehatan mulut
Pengobatan

diare (iya)
Sulit menelan (tidak), stomatitis (tidak), gigi lengkap (ya)
Vitamin/mineral/suplemen gizi lain : -

Perubahan berat

Frekuensi dan jumlah : -

badan
Riwayat/pola

Nasi 2x/hari 1 centong

makan

Mie 1x/hari 1 mangkok


Roti 1-2x/minggu 1 potong
Telur ayamn 4-6x/minggu 1 butir
Daging ayam 4-6x/minggu 1 potong
Ikan mujair 3x/minggu 1 ekor
Tahu >1 x/ hari 2-3 minggu
Kacang ijo <3x/minggu 1 mangkuk
Sayuran 4-6x/minggu 1 porsi
Buah paling sering jeruk dan semangka 1-2x
Susu dancow 1 sachet 1 hari
Bakso pentol, minuman, gorengan setiap hari 1-2x
Minum air putih 3-4 gelas/hari

Kesimpulan :

Pasien mengalami masalah gastrointestinal seperti nyeri perut, mual,


muntah, diare

Pasien mengalami pusing dan demam tinggi

Pasien didiagnosis mengalami dengue hematoblass fever (DHF)

Hasil FFQ didapatkan asupan pasien sudah cukup bervariasi namun


jumlah konsumsinya masih sedikit
2. Antropometri
TB

= 150 cm

BB

= 33 kg

Kesimpulan :
IMT

33
1,5 1,5

= 14,67
Berdasarkan hasil IMT/U nilai z-score adalah -3<z<-2 dengan
kategori kurus.
3. Biokimia
Pemeriksaan

Satuan/nilai

Awal

urin/darah

normal

masuk RS

Awal kasus

keterangan

Albumin

4,0 5,8 gr/dl

3,68 g/dl

3,40 g/dl

Rendah

Hb

12,0 gr/dl

11,6 g/dl

11,2 g/dl

Rendah

HCT

40 50 %

32,8

33,9

Rendah

RBC

4,0 5,0 %

4,09

4,08

Lim

20,0 40,0% 40,8

23,6

WBC

3,55

Neu

1,84

Lym

1,35

Mono

0,320

Eos

0,007

Baso

0,036

RGB

3,94

MCV

82,9

MCHC

29,1

RDW

35,1

PLT

11,3

MPV

15,2

Kesimpulan :
Data biokimia menunjukkan pasien mengalami anemia dilihat dari
Hb dan Hct. Selain itu pasien juga mengalami penurunan albumin
yang menandakan terjadinya hiperkatabolisme protein. Akibat
peradangan yang diderita peningkatan kadar leukosit dalam darah
meningkat sebesar 19000.
4. Pemeriksaan Fisik dan Klinik
1. Kesan umum : lemah, CM
2. Vital Sign :
Tekanan darah : 100/ 80 mmHg
Respirasi : 21 x/ menit
Suhu : 38,4 0C
Kesimpulan :

Pasien dengan tingkat kesadaran compos mentis/ kesadaran penuh

Tekanan darah normal

Respirasi dan suhu tinggi.


5. Recall 24 jam (dengan diet TKTP)
Jam

Jenis

Pemberian
Sore

makanan
Nasi tim

Jumlah

Energi

Protein

Lemak

KH

(Kcal)

(g)

(g)

(g)

KERANGKA ANALISIS

BAGIAN II DIAGNOSIS GIZI


Domain
NI- 1.1

Problem
Peningatan

Etiologi
Berkaitan dengan

Sign/ Symptomp
Ditandai dengan kadar

kebutuhan

hiperkatabolisme

albumin yang rendah

protein
Inadekuat

Berkaitan dengan

Ditandai dengan jumlah air

asupan cairan

luka bakar

yang diminum kurang dari 2

energi dan
NI- 1.1

NI- 1.2

Intake inadekuat

Beraitan dengan

liter/hari
Ditandai dengan % asupan

NC-2.2

Perubahan nilai

nyeri luka bakar


Berkaitan dengan

yang rendah
Ditandai dengan kadar leukosit

biokimia

infeksi luka bakar

yang meningkat

BAGIAN III INTERVENSI GIZI


1

Planning
1

Terapi diet
Jenis diet

: Tinggi Kalori Tinggi Protein

Cara pemberian

: oral

Bentuk makanan

: makanan lunak (nasi tim)

Frekuensi pemberian : 3x makan utama, 2x selingan


2

Tujuan diet
a

Meningkatkan asupan makanan secara peroral untuk mempertahankan


dan menaikkan berat badan pasien.

Memberikan

makanan tinggi kalori dan tinggi protein untuk

mengurangi seminimal mungkin pemecahan protein tubuh


c

Memenuhi kebutuhan gizi yang cukup dan seimbang untuk membantu


proses pemulihan.

1.3 Prinsip dasar diet


a

Karbohidrat tinggi yaitu 60 % dari kebutuhan energi total.

Lemak sedang yaitu 25% dari energi kebutuhan total.

Protein tinggi yaitu 15% dari energi kebutuhan total.

Cairan diberikan sebanyak 2 liter per hari untuk mencegah timbulnya


gangguan ginjal karena berkurangnya volume cairan, plasma, kardiac
output dan dehidrasi.

Makanan tidak merangsang, pedas dan asam untuk mengurangi nyeri


akibat hepatomegali.

Kebutuhan zat gizi

Kebutuhan Energi (CDC)

= BBI x AKG sesuai usia tinggi

= 40 x 55,6 kal
= 2224 kal
Kebutuhan Protein

= 45 + 90
= 135 gram/hari
BBI = (TB - 100) 10 % (TB -100)
= (150 100) 10 % (150 -100)
= 50 - 5 = 45 kg
Protein dalam kalori135 gram x 4 kkal/ gram = 540 Kalori
Presentase protein dalam energi total :
540
x 100
2575

= 21 %

Lemak = 25% x 2575 kkal = 643,75 kkal


Jumlah lemak yang dibutuhkan = 643,75 : 9 = 71,5 gram

Karbohidrat = 100% - (21% + 25%) = 58 %


= 54 % x 2575 Kalori
= 1.390,5 kalori
Jumlah karbohidrat yang diperlukan =1.390,5 : 4 = 348 gram

Implementasi
1

Rekomendasi diet
Makan pagi

: 25% x 2575 = 643,75 Kalori

Selingan

: 10% x 2575 = 257,5Kalori

Makan siang : 25% x 2575 = 643,75 Kalori


Selingan

: 10% x 2575 = 257,5 Kalori

Makan malam : 20% x 2575 = 515 Kalori


Selingan

: 10% x 2575 = 257,5Kalori

Asupan Cairan
Air minum

: 6 x 200 ml = 1200 ml

Menu
Bubur ayam

: 150 ml

Susu

: 100 ml

Bubur kacang hijau

: 150 ml

Sup tahu bening

: 150 ml

Sup cream lengkap

: 150 ml

Makanan lain

: 100 ml

Kajian terapi diet rumah sakit


Implementasi

Rekomendas
i diet
%
pemenuhan
% Asupan

Energy

Protein

Lemak

KH

(kkal)

(gram)

(gram)

(gram)

2575

135

71,5

348

2150

57

60

323

120 %

237 %

119%

108 %

Menu yang diberikan adalah sebagai berikut :

2.2 Konseling Gizi


Tema

: Tatalaksana diet combustio grade II 30%, ledakan gas

Media

: Leaflet tentang diet luka bakar dan Bahan Makanan Penukar

Sasaran

: Pasien dan keluarga

Tempat

: Ruang rawat pasien

Waktu

: 20 menit

Metode

: Penyuluhan, motivasidan tanya jawab

Isi Materi :

Penjelasan tentang tujuan pemberian diet.

Penjelasan tentang prinsip dan syarat pemberian diet sesuai kondisi


pasien.

Penjelasan tentang pengaturan dan pemilihan bahan makanan yang boleh


dan tidak boleh dikonsumsi pasien serta memberikan contoh bahan
makanannya.

Penjelasan tentang pola makan yang seharusnya dijalankan pasien.

Penjelasan tentang diet makanan tinggi protrein untuk membantu


mempercepat penyembuhan pasien.

Motivasi makan.

Tanya jawab

BAGIAN IV MONITORING DAN EVALUASI


1

Indikator yang dimonitor untuk melihat perkembangan pasien meliputi :


a
b
c

Memonitor asupan makan pasien


Memonitor kondisi biokimia pasien
Memonitor kondisi fisik & klinis pasien

Yang diukur
Antropometr

Pengukuran

IMT

1/ 2 minggu

i
Biokimia

Evaluasi
IMT tetap berada pada rentang
normal
BB naik secara bertahap

Hemoglobin,

2 minggu

Hemoglobin berangsur naik

hematokrit, albumin,

sekali

mencapai rentang normal (12-14)


Kadar albumim dalam darah naik

dan leukosit

mencapai rentang (3,8-5,00)


Kadar leukosit berangsur turun
mencapai rentang normal (5000
10.000)
Fisik-klinis

Luas area luka bakar

Setiap hari

Luka bakar berangsur mengering


dan pulih.

Setiap hari
Nyeri

Rasa nyeri berkurang

Setiap hari

Denyut nadi &


tekanan darah
Dietery

Sisa makanan

Mencapai kadar normal


Setiap hari

Mampu menghabiskan setiap


pemberian asupan

DAFTAR PUSTAKA

Moenadjat Y. 2003. Luka bakar. Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2003.
James M Becker.2000. Essentials of Surgery. Edisi 1. Saunders Elsevier.
Philadelphia.
Anggraini, Adisty. C. 2012. Nutritional Care Process. Graha Ilmu. Jakarta.
Supariasa, dkk. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta : Penerbit Kedokteran EGC.
Wahyuningsih, Retno. 2013. Penatalaksaan Diet pada Pasien. Graha Ilmu.
Yogyakarta
Salter RB .1994. Musculoskeletal Injuries. In:Salter RB, Textbook of Disoerders
Injuries The Musculoskeletal System, 3 rd, Edition Pensylvania William and
Wilkins : 417-430
Majestic Mountain Sage Co. Ltd. 2012. Sodium Lactate. Diakses dari
http://www.thesage.com/catalog/products/Sodium-Lactate.html pada tanggal
2 Desember 2014
Hospira Inc. 2004. Lactated Ringer's (Sodium Chloride, Sodium Lactate,
Potassium Chloride And Calcium Chloride) Irrigant. Diakses dari
http://www.hospira.com pada tanggal 2 Desember 2014.
Sibuea H. W, Panggabean M. M, Gultom P. S. 2005. Ilmu Penyakit Dalam,
Cetakan Ke 2. Jakarta.Rineka Cipta
Efendi, F. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktek
dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Effendy, N. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat.EGC.
Jakarta
Soewoto et al.(2003).Konsensus FKUI-PPHI Pemberian Albumin
pada Sirrosis Hati. PPKB Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Makhmudi, A. (2010). Status Gizi Pasien Bedah Mayor Preoperasi
berpengaruh terhadap Penyembuhan Luka dan Lama Rawat Inap
Pascaoperasi di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Jurnal Gizi Klinik
Indonesia. Vol. 7, No. 1
Sweetman, S.C. (2009). Martindale 36 The Complete Drug Reference. London:
The Pharmaceutical Press.

HARGA BAHAN PANGAN

SARAPAN PAGI

Nama bahan
Nasi tim ayam kecap
Beras
Mentega
Daging ayam
Kecap

Berat (g )

Harga (Rp)

30
10
50
10

500
500
1500
1000

30
55
50

500
500
500

100
15

3.000
250
8. 250

berat

Harga

35
40
15

2.500
1000
250
3.750

Berat (

Harga

150
30
50

1500
250
500

Gadon daging ayam


Daging ayam
Telur ayam
Santan

75
50
30

2.250
1500
1000

Cah labu siam


Labu siam mentah
Tempe

75
50

500
1000

Tim tahu hijau


Makaroni
Tahu
Kentang
Susu
Susu skim
Gula pasir
Total
2

SELINGAN PAGI

Nama bahan
Bubur kacang hijau
Kacang hijau
Santan
Gula pasir
Total
3

MAKAN SIANG

Nama bahan
Puree kentang
Kentang
Wortel
Tahu

Jamur
Minyak
Total
4

Berat (g)

Harga (Rp)

75
50
50
25

500
1000
200
1.700

Berat (g)

Harga (Rp)

10
50
150
50
25
25
50
15
50

200
500
1.200
1.500
300
200
1500
500
5.900

Berat (g)

Harga (Rp)

50
50
25
25
10

1500
500
200
750
500
3.450

MAKAN MALAM

Bahan makanan
Sup cream lengkap
Tepung maizena
Kentang
Jagung kuning
Susu skim
Kacang kapri
Wortel
Telur ayam
Mentega
Kaldu ayam
Total
6

600
100
9.200

SELINGAN SORE

Bahan makanan
Sup tahu bening
Kaldu ayam
Tahu
Bihun
Wortel
Total
5

50
5

SELINGAN MALAM

Bahan makanan
Omelete sayur tahu
Telur ayam
Tahu
Wortel
Daging ayam
Mentega
Total

REKAP BAHAN

Nama Bahan

Berat

Perkiraan Harga
Beli (Rp)

Perkiraan Harga
Dipasar (Rp)

Berat putih giling


Daging ayam
Telur ayam
Mentega
Kecap
Tahu putih

500
6000
4500
1500
1000
2500

8500/kg
30.000/kg
1500/butir
7500/200 g
2000/sachet kecil
500/ potong

Kacang hijau
Makaroni
Bihun
Kentang
Wortel
Jagung manis
Gula pasir
Susu skim cair
Santan
Labu siam
Tempe
Jamur putih
Minyak kelapa
sawit
Tepung maizena
Kacang kapri
Bawang putih
Buah pala
Garam

30 gram
200 gram
3 butir
35 gram
10 gram
205 gram/ 5
potong
35 gram
30 gram
50 gram
250 gram
95 gram
150 gram
30 gram
150 ml
70 gram
75 gram
50 gram
50 gram
10 gram

2500
500
1000
2500
800
1200
500
4500
2.000
500
1000
600
300

16.000/kg
12.000/kg
5000/bungkus (250)
10.000/kg
8000/ kg
8000/ kg
12.000/kg
4500/kotak
2.000/bungkus
3000/kg
500/buah kecil
12.000/kg
4.500/bungkus

10 gram
10 gram
40 gram
1 biji
Secukupnya

200
300
1000
500
500

3500/200 g
22.000/kg
14.000/kg
500/ biji
1300/250 g

Bawang merah

40 g

1500

30.000/kg

TOTAL HARGA
Pembahasan :
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan adanya kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan
kimia, listrik dan radiasi. Kerusakan jaringan yang disebabkan api dan koloid
(misalnya bubur panas) lebih berat dibandingkan air panas. Ledakan dapat
menimbulkan luka bakar dan menyebabkan kerusakan organ. Bahan kimia
terutama asam menyebabkan kerusakan yang hebat akibat reaksi jaringan
sehingga terjadi diskonfigurasi jaringan yang menyebabkan gangguan proses
penyembuhan. Lama kontak jaringan dengan sumber panas menentukan luas dan

kedalaman kerusakan jaringan. Semakin lama waktu kontak, semakin luas dan
dalam kerusakan jaringan yang terjadi (Moenadjat, 2003).

Gambar luka bakar

Luka bakar (Combustio) dapat disebabkan oleh paparan api, baik secara
langsung maupun tidak langsung, misal akibat tersiram air panas yang banyak
terjadi pada kecelakaan rumah tangga. Selain itu, pajanan suhu tinggi dari
matahari, listrik maupun bahan kimia juga dapat menyebabkan luka bakar. Secara
garis

besar,

penyebab

terjadinya

luka

bakar

dapat

dibagi

menjadi

(Moenandjat,2003) :
1

Paparan api

Flame: Akibat kontak langsung antara jaringan dengan api terbuka, dan
menyebabkan cedera langsung ke jaringan tersebut. Api dapat membakar
pakaian terlebih dahulu baru mengenai tubuh. Serat alami memiliki
kecenderungan untuk terbakar, sedangkan serat sintetik cenderung meleleh
atau menyala dan menimbulkan cedera tambahan berupa cedera kontak.

Benda panas (kontak): Terjadi akibat kontak langsung dengan benda


panas. Luka bakar yang dihasilkan terbatas pada area tubuh yang
mengalami kontak. Contohnya antara lain adalah luka bakar akibat rokok
dan alat-alat seperti solder besi atau peralatan masak.

Scalds (air panas)


Terjadi akibat kontak dengan air panas. Semakin kental cairan dan
semakin lama waktu kontaknya, semakin besar kerusakan yang akan
ditimbulkan. Luka yang disengaja atau akibat kecelakaan dapat dibedakan
berdasarkan pola luka bakarnya. Pada kasus kecelakaan, luka umumnya

menunjukkan pola percikan, yang satu sama lain dipisahkan oleh kulit sehat.
Sedangkan pada kasus yang disengaja, luka umumnya melibatkan
keseluruhan ekstremitas dalam pola sirkumferensial dengan garis yang
menandai permukaan cairan.
3

Uap panas
Terutama ditemukan di daerah industri atau akibat kecelakaan radiator
mobil. Uap panas menimbulkan cedera luas akibat kapasitas panas yang
tinggi dari uap serta dispersi oleh uap bertekanan tinggi. Apabila terjadi
inhalasi, uap panas dapat menyebabkan cedera hingga ke saluran napas distal
di paru.

Gas panas
Inhalasi menyebabkan cedera termal pada saluran nafas bagian atas
dan oklusi jalan nafas akibat edema.

Aliran listrik
Cedera timbul akibat aliran listrik yang lewat menembus jaringan
tubuh. Umumnya luka bakar mencapai kulit bagian dalam.

Zat kimia (asam atau basa)

Radiasi

Sunburn sinar matahari, terapi radiasi.

Kriteria luka bakar berdasarkan luasnya


Wallace membagi tubuh atas bagian bagian 9 % atau kelipatan dari 9
terkenal dengan nama Rule of Nine atau Rule of Wallace.
-Kepala dan leher 9 %
-Lengan 18 %
-Badan Depan 18 %
-Badan Belakang 18 %
-Tungkai 36 %
-Genitalia/perineum 1 %
-Total 100 %

Dalam perhitungan agar lebih mempermudah dapat dipakai luas telapak tangan
penderita adalah 1 % dari luas permukaan tubuhnya. Pada anak anak dipakai
modifikasi Rule of Nine menurut Lund and Brower, yaitu ditekankan pada umur
15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun.

Kriteria berat ringannya luka bakar adalah sebagai berikut (American Burn
Association) :
1. Luka Bakar Ringan.

Luka bakar derajat II <15 %

Luka bakar derajat II < 10 % pada anak anak

Luka bakar derajat III < 2 %

2. Luka bakar sedang

Luka bakar derajat II 15-25 % pada orang dewasa

Luka bakar II 10 20 5 pada anak anak

Luka bakar derajat III < 10 %

3. Luka bakar berat

Luka bakar derajat II 25 % atau lebih pada orang dewasa

Luka bakar derajat II 20 % atau lebih pada anak anak.

Luka bakar derajat III 10 % atau lebih

Luka

bakar mengenai

tangan,

wajah, telinga,

mata,

kaki dan

genitalia/perineum.

Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain.

Dalam wahyuningsih (2013) klasifikasi luka bakar berdasarkan kedalamannya


adalah sebagai berikut :
1

Combustio grade I
Karakteristik kedalaman ketebalan partial superficial. Sumber penyebab :
jilatan api, sinar UV (terbakar ole matahari). Penampilan : kering tidak ada
gelembung, Oedema minimal atau tidak ada, pucat bila ditekan dengan
ujung jari, berisi kembali bila tekanan dilepas. Warna : bertambah merah,
dan luka terasa nyeri

Combustio grade II
Karakteristik : lebih dalam dari keteblan partial, superficial, dalam.
Penyebab : kontak dengan bahan air atau padat, jilatan api pada pakaian,
jilatan langsung kimiawi, sinar ultraviolet. Penampilan : bliser besar dan
lembab yang ukurannya bertambah besar, pucat bila ditekan dengan ujung
jari, bila tekanan dilepas berisi kembali. Warna : berbintik- bintik yang
kurang jelas, putih, cokelat, pink, daerah merah coklat. Luka terasa sangat
nyeri.

Combustio grade III


Karakteristik : ketebalan sepenuhnya. Penyebab : kontak dengan bahan
cair atau padat, nyala api, kimia, kontak dengan arus listrik. Penampilan :
kering disertai kulit mengelupas, pembuluh darah seperti arang terlihat
dibawah kulit yang mengelupas, gelembung jarang, dindingnya sangat
tipis, tidak membesar, tidak pucat bila ditekan. Warna : putih, kering,

hitam, coklat tua, merah. Luka terasa tidak sakit, sedikit sakit, rambut
mudah dilepas.

Luka adalah rusak atau hilangnya jaringan tubuh yang terjadi karena
adanya suatu faktor yang mengganggu sistem perlindungan tubuh.. Dalam
penanganan luka, ditujukan untuk membantu proses penyembuhan normal agar
berjalan efektif dengan waktu masing masing fase seminimal mungkin.
Prosedur penanganan luka berbeda- beda tergantung jenis luka namun secara garis
besar terdiri dari pembersihan luka baik dengan irigasi maupun debridement dan
penutupan luka. Debridement adalah pengangkatan jaringan yang rusak dan mati
sehingga luka menjadi bersih. Untuk melakukan debridement yang adekuat,
berbentuk elips , untuk mengangkat kulit, fasia serta tendon ataupun jaringan yang
sudah mati. Debridement yang adekuat merupakan tahapan yang penting untuk
pengelolaan (Salter, 1994).