Anda di halaman 1dari 2

Suspensi dapt didefinisikan sebagai preparat yang mengandung partikel obat yang

terbagi secara halus(dikenal sebagai suspensisoid) disebarkan secara merata dalam


pembawa

dimana

obat

menunjukkan

kelarutan

yang

sangat

minimum.

Ada beberapa alasan pembuatan suspensi oral. salah satu adalah karena obat-obat
tertentu tidak stabil secara kimia bila ada dalam larutn tapi stabil dalam disuspensi.
dalam hal seperti ini suspensi oral menjamin stabilitas kimia dan memungkinkan terapi
dengan cairan. untuk banyak pasien, benyuk cair lebih disukai ketimabang bentuk padat
(tablet atau kapsul dari obat yang sama), karena mudahnya menelan cairan dan
keluwesan dalam pemberian dosis, pemberian lebih mudah serta lebih mudah untuk
memberikan dosis yang relatif sangat besar, aman, mudah diberikan untuk anak-anak,
juga mudah diatur penyesuaian dosisnya untuk anak. kerugian dari obat tertentu yang
mempunyai rasa tidak enak bila diberikan sebagai partikel yang tidak larut dalam
suspensi. nyatanya untuk obat-obat yang tidak enak rasanya telah dikembangkan
bentuk-bentuk kimia khusus menjadi bentuk yang tidak larut dalam pemberian yang
diinginkan sehingga didapatkan sediaan cair yang rasanya enak. dengan suspensi dapat
menutupi rasa obat yng tidak enak dan pemilihan zat pemberi rasa dapat lebih
disesuaikan dengan rasa yang diinginkan, bukan untuk menutupi rasa yang tidak enak
dari suatu obat. kebanyakan suspensi oral berupa sediaan air dengan pembawa yang
diharumkan dan dimaniskan untuk memenuhi selera pasien.
Dalam formulasi ini zat aktif yang kami gunakan adalah Magnesium trisilikat,
sedangkan metode yang kami gunakan adalah metode basah. Hal pertama yang
digunakan menyiapkan alat dan bahan yang digunakan, kemudian semua alat yang yang
digunakan dibersihkan menggunakan alkohol 70%. Alkohol 70% berfungsi sebagai anti
bakteri. Sebelum pembuatan larutan suspensi, terlebih dahulu dibuat mucilago akasia
atau bahan pendispersi, Yakni ditimbang akasia sebanyak 16,032 g kemudian diukur air
yang sudah dipanaskan sebanyak 3 kali bobot dari akasia yang sudah ditimbang. Air
yang sudah ditimbang diletakkan pada wadah terpisah. Setelah itu akasia yang sudah
ditimbang ditambahkan dengan cara ditaburkan kedalam mortir yang berisi air panas
dan di diamkan 15-20 menit sampai mengembang, setelah mengembang digerus hingga
terbentuk mucilago.

Selanjutnya untuk mempermudah proses pencampuran, semua bahan berupa serbuk


dilarutkan dengan dengan menggunakan larutan stok yang sudah tersedia, sebelumnya
ditimbang terlebih dahulu bahan-bahan yang akan digunakan kemudian dilarutkan
masing-masing dengan air stock secukupnya.
Setelah semua bahan dilarutkan dengan menggunakan larutan stok, dilakukan
pencampuaran terhadap semua bahan. Pertama-tama dicampurkan larutan dapar yaitu
Na-sitrat dan asam hingga homogen. Kemudian pembasah yaitu tween 80 diteteskan
sedikit demi sedikit kedalam zat aktif sambil digerus, setelah itu larutan dapar
dimasukkan kedalam zat aktif yang sudah di tetesi zat pembasah dan digerus hingga
homogen. Setelah homogen dimasukkan zat pendisperi yaitu mucilago akasia dan
dicampur hingga homogen