Anda di halaman 1dari 19
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
          DISUSUN     OLEH     KELOMPOK X    
 
   
 
   
 

DISUSUN

 
 

OLEH

 
 
KELOMPOK X
KELOMPOK X
 
   
   

Anggota :

   
 

SANTI HUMAIRA

 
 

IBNU MUBARAK

 
   
 

ZUFRAN ALWI

 
 

UNIT

:

IV (EMPAT)

 
 

DOSEN PEMBIMBING ABDUL KAHAR, M.Pd.I

 
   
   
 
   
 
   
   
   
   
   
   
 

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA

 
   
   
 

2015

 
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MUHAMMADIYAH ACEH BARAT DAYA             2015  

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberi

hidayah dan inayahNya, sehingga kita dapat menyelesaikan makalah ini dengan

baik dan lancar, dengan judul “Memahami Tentang I’Jaz Al-Qur’an”.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada

makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran

serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat

kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua

pembaca.

Padang Meurante, 10 November 2015

i

Kelompok X

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR

r

i

DAFTAR ISI

 

r

ii

BAB I

:

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

r

1

B.

Rumusan Masalah

r

2

BAB II :

PEMBAHASAN

A. Pengertian I’Jaz

 

3

B. Macam-Macam Mukjizat

5

C. Segi-Segi Kemukjizatan

6

 

1. Gaya Bahasa

6

2. Susunan Kalimat

6

3. Hukum Ilahi Sempurna

8

4. Berita Tentang Hal-Hal Gaib

8

5. Isyarat-Isyarat Ilmiah

9

6. Ketelitian Redaksinya

11

D. Faedah I’Jaz

 

12

BAB III:

PENUTUP

A. Kesimpulan

r

14

B. Saran

 

15

DAFTAR PUSTAKA

 

16

ii

A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Salah satu objek penting lainnya dalam kajian ulumul Al Qura’an adalah perbincangan mengenai mukjizat, terutama mukjizat Al Qura’an. Karena dengan perantara mukjizat Allah mengingatkan manusia, bahwa para rasul itu merupakan utusan yang mendapat dukungan dan bantuan dari langit. Mukjizat yang telah di berikan kepada para Nabi mempunyai fungsi sama yaitu untuk memainkan peranannya dan mengatasi kepandaian kaum disamping membuktikan bahwa kekuasaan Allah itu berada di atas segala-galanya.

Al-Qur’an adalah mukjizat Islam yang kekal dan mukjizatnya diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk mengeluarkan manusia dari suasana yang gelap menuju yang teran, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus. Rasulullah SAW menyampaikan al- Quran itu kepada para sahabatnya dan orang-orang Arab asli sehingga mereka dapat memahaminya berdasarkan naluri mereka yang kemudian untuk disampaikan kembali kepada seluruh umat manusia. Apabila mereka mengalami ketidakjelasan dalam memahami suatu ayat, mereka menanyakan kepada Rasulullah SAW terkait dengan mukjizat yang relevansinya menunjukkan kehebatan mukjizat al-Quran. Sebab mengemukakan sesuatu makna dalam berbagai bentuk susunan kalimat di mana salah satu bentuk pun tidak dapat ditandingi oleh sastrawan Arab. Merupakan tantangan dahsyat dan bukti bahwa al- Quran itu datang dari Allah.

Kesadaran akan historisitas dan kontekstualitas pemahaman manusia pada gilirannya akan bersinggungan dengan ranah al-Quran dan pemaknaannya. Sebenarnya secara umum disepakati oleh umat Islam bahwa al-Quran adalah sakral, karena ia adalah Kalamullah yang diturunkan melalui Rasulullah. Namun ketika melihat fakta bahwa al-Quran memakai bahasa Arab, berbagai informasi yang

1

2

disajikan di dalamnya banyak yang memakai logika budaya Arab, kemudian berbagai istilah yang dipakai di dalamnya juga menggunakan terminologi yang akrab di kalangan orang Arab saat itu, maka muncullah berbagai kajian dan pembahasan tentang status original al-Quran, sejauh manakah al-Quran itu berdimensi ilahiah dan sejauh mana ia berdimensi manusiawi. Telah banyak kajian bahkan perdebatan terhadap persoalan ini, bukan hanya para orientalis barat yang ‘berpihak’ yang menyatakan bahwa al-Quran itu tidak memiliki sisi ilahiah sama sekali karena ia ciptaan Muhammad SAW. Tetapi juga dari kalangan Islamolog kontemporer yang berasal dari kalangan umat Islam sendiri.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas maka didapat beberapa hal yang menjadi rumusan masalah pada makalah ini yaitu:

1. Apakah pengertian dari I’Jaz?

2. Apakah macam-macam mukjizat?

3. Apakah segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an?

4. Apakah faedah kemukjizatan Al-Qur’an?

A. Pengertian I’Jaz

BAB II PEMBAHASAN

Dari segi bahasa kata I jaz berasal dari kata a’jaz, yujizu I jaz yang berarti melemahkan atau memperlemah, juga dapat berarti menetapkan kelemahan atau memperlemah 1 . Secara normative I’jaz adalah ketidakmampuan seseorang melakukan sesuatu yang merupakan lawan dari ketidak berdayaan 2 . Oleh karena itu apabila kemukjizatan itu telah terbukti, maka nampaklah kemampuan mukjizat. Sedang yang di maksud dengan Ijaz secara terminology ilmu Al-Qur’an adalah sebagaimana yang di kemukakan oleh beberpa ahli sebagai berikut,

a. Menurut Manna Khalil Al Qaththan Ijaz adalah menempakkan kebenaran Nabi saw dalam pengakuaan orang lain sebagai rosul utusan Allah SWT dang an menampak kelemahan orang-orang arab untuk menandinginya atau menghadapi makjizat yang abadi, yaitu Al-Qur’an dan kelemahan-kelemahan generasi sesudah mereka 3 .

b. Menutur Ali al shabuniy I’jaz ialah menetapkan kelemahan manusia baik secara kelompok maupun bersama-sama untuk menandingi hal yang serupa dengannya, maka mukjizat merupakan bukti yang datangnya dari Allah SWT yang diberikan kepada hamba-Nya untuk memperkuat kebenaran misi kerasullan dan kenabiaanya. Sedangkan mukjizat adalah perkara yang luar biasa yang disertai dengan tantangan yang tidak mungkin dapat tandingi oleh siapapun dan kapanpun.

1 Usman, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Teras, 2009), hal 285

hal 205

3 Manna Khalil Al Qattan, Study Ilmu-ilmu Al Qur’an (terjemahan dari Mubahits fi Ulumul

2

Usman,

Qur’an), (Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa, 2004), hal. 371

3

4

c. Menurut Muhamad Bakar Ismail Mukjizat adalah perkara luar biasa yang di sertai dan di ikuti tantangan yang diberikan oleh Allah swt kepada Nabi-nabinya sebagai hujjah dan bukti yang kuat atas misi dan kenbenaran terhadap apa yang di embannya yang bersumber dari Allah SWT.

Dari definisi diatas dapat dipahami antara I’jaz dan mukjizat itu adalah dapat dikatakan searti yakni melemahkan. Hanya saja pengertian I’jaz di atas mengesankan batasan yang lebih sepesifik, yang hanya Al-Qur’an. Sedangkan pengertian mukjizat, menegaskan batasan yang lebih luas, yakni bukan hanya berupa Al-Qur’an, tetapi juga perkara-perkara lain yang tidak mampu di jangkau manusia secara keseluruhan. Dengan demikian dalam konteks ini antara pengertian I’jaz dan mukjizat itu saling melengkapi, sehingga nampak jelas keistimewaan dari ketetapan-ketetapan Allah yang khusus diberikan kepada Rasul-rasul pilihan-Nya sebagai salah satu bukti. Kebenaran misi kerasulan yang dibawahnya. 4

Kemukjizatan al-Quran antara lain terletak pada segi fashahah dan balaghahnya, susunan dan gaya bahasanya, serta isinya yang tiada tandingannya. Al-Quran dibeberapa ayat menentang seluruh manusia dan jin untuk membuat yang serupa dengan al-Quran, salah satu firman Allah SWT:

ْ

ﻮْ و ﮫِ ِﻠ ﺜﻤِِ ﺑ نﻮَ

َ

َ

ُ

ْ

ﺄَﯾ

ﻻَ

نآﺮْ ُ ﻘ ْ

ﻟا

ِ

ا

ٰ

ْ

َ

ﺬ َھ ﻞ ﺜﻤِِ

ِ

ْ

ﺑ اﻮ

ُ

ﺗ ﺄَﯾ نْ

َ

أ ﻰٰ

َ

ﻠﻋَ

ْ

ﻟا

ﻦﱡ

ِ

ْ

و ﺲُ

َ

ْ

ﻹا ﺖِ

ِ

ﻌَ

َ

ﻤَﺘﺟاْ

ُ

ﻦِﺌ

ِ

َ

ﻟ ﻞْ ﻗ

َ

اﺮﯿً

ﮭ ظ ﺾﻌْ َﺒِﻟ ﻢُْﮭﻀُ

ِ

ٍ

ﻌْ َ نﺎَ ﻛَ

Artinya: Katakanlah, "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur'ân ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (Al-Isrâ’/17:88)

4 Usman,

hal 287

5

B. Macam-Macam Mukjizat

Mukjizat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu,

1. Mujizat “hissi” (material dan indrawi) Adalah yang dapat dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dicium oleh hidung, diraba oleh tangan, dirasa oleh lidah, tegasnya dapat dicapai oleh panca indra. Mukjizat ini sengaja ditunjukan atau diperlihatkan kepada manusia biasa, yakni mereka yang tidak biasa menggunakan kecerdasan pikirannya, yang tidak cakap pandangan mata hatinya dan yang rendah budi dan perasannya. Mukjizat nabi-nabi terdahulu semuanya tergolong dalam jenis mukjizat yang pertama ini. Mukjizat mereka bersifat material dan indrawi, dalam artian mukjizat tersebut dapat disaksikan atau dijangkau langsung oleh indrawi oleh masyarakat ditempat seorang nabi menyampaikan risalahnya, sebagai contoh perahu nabi Nuh yang dibuat atas petunjuk Allah sehingga mampu bertahan dalam situasi ombak dan gelombang yang demikian dahsyat; tidak terbakarnya nabi Ibrahim dalam kobaran api; tongkat nabi Musa yang berubah menjadi ular; penyembuhan yang dilakukan nabi Isa atas izin Allah dan lain-lain. Semuanya bersifat material indrawi, terbatas pada lokasi tempat nabi tersebut berada dan berakhir dengan wafatnya masing-masing nabi.

2. Mukjzat “ma’nawi” (rasional) Ialah mukjizat yang tidak mungkin dapat dicapai dengan kekuatan panca indra, tetapi harus dicapai dengan kekuatan “aqli” atau dengan kecerdasan pikiran. Karena orang tidak akan mungkin mengenal mukjizat ini, melainkan orang yang berpikir sehat, bermata hati, berbudi luhur dan yang suka mempergunakan kecerdasan pikirannya dengan jernih serta jujur. Sebagai contoh mukjizat nabi Muhammad SAW, sifatnya bukan material indrawi, tetapi ‘aqliyah (dapat dipahami oleh akal). Karena sifatnya yang demikian, maka ia tidak terbatas pada suatu tempat atau masa tertentu.

6

Mukjizat al-Quran dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya, kapan dan dimanapun berada. 5

C. Segi-Segi Kemukjizatan Al-Qur’an

1. Gaya Bahasa

Al-Quran mempunyai gaya bahasa yang khas yang tidak dapat ditiru para sastrawan Arab sekalipun, karena susunan yang indah yang berlainan dengan setiap susunan dalam bahasa Arab. Mereka melihat al-Quran memakai bahasa dan lafazh mereka, tetapi ia bukan puisi, prosa atau syair dan mereka tidak mampu membuat yang seperti itu (meniru al-Quran). Mereka putus asa lalu merenungkannya, kemudian merasa kagum dan menerimanya, lalu sebagian masuk Islam. 6

Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya, sehingga membuat kagum bukan saja orang-orang mukmin,tetapi juga orang-orang kafir. Berbagai riwayat menyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum musyrik sering secara sembunyi-sembunyi berupaya mendengarkan ayat-ayat al-Quran yang dibaca oleh kaum muslimin. Kaum muslimin disamping mengagumi keindahan bahasa al-Quran, juga mengagumi kandungannya serta meyakini bahwa ayat-ayat al-Quran adalah petunjuk kebahagiaan dunia dan akhirat. 7

2. Susunan Kalimat

Keindahan Uslub atau susunan bahasa al-Quran benar-benar membuat orang-orang Arab dan atau luar Arab kagum dan terpesona. Kehalusan bahasa, keanehan yang menakjubkan dalam ekspresi, ciri-ciri khas balaghah dan fashahah baik yang abstrak maupun yang konkrit, dapat mengungkapkan rahasia keindahan dan kekudusan al-Quran. Barang siapa mampu menggali rahasia balaghah al-Quran

5 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al Qur’an, (Bandung: Mizan, 1997), hal. 35

6 Said Agil Husin Al Munawar, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki,( Jakarta:

Ciputat Press, 2004), h. 33.

7 Rosihan Anwar, Ulum Al-Quran, Bandung: CV Pustaka Setia, 2010, hal. 193.

7

itu, dia akan bisa mengeluarkan khazanah kandungannya. Di dalam al-Quran terkandung nilai-nilai istimewa dimana tidak akan terdapat dalam ucapan manusia menyamai isi yang terkandung didalamnya. 8

Al-Quran

al-Karim

dalam

uslubnya

beberapa keistimewaan, diantaranya 9 :

yang

menakjubkan

mempunyai

a. Kelembutan al-Quran secara lafzhiah yang terdapat dalam susunan suara dan keindahan bahasanya.

b. Keserasian al-Quran baik untuk awam maupun kaum cendekiawan dalam arti bahwa semua orang dapat merasakan keagungan dan keindahan al-Quran.

c. Sesuai dengan akal dan perasaan, di mana al-Quran memberikan doktrin pada akal dan hati, serta merangkum kebenaran dan keindahan sekaligus.

d. Keindahan sajian al-Quran serta susunan bahasanya, seolah-olah merupakan suatu bingkai yang dapat memukau akal dan memusatkan tanggapan serta perhatian.

e. Keindahan dalam liku-liku ucapan atau kalimat serta beraneka ragam dalam bentuknya, dalam arti bahwa satu makna diungkapkan dalam beberapa lafazh dan susunan yang bermacam-macam yang semuanya indah dan halus.

f. Al-Quran mencakup dan memenuhi persyaratan antara bentuk global (ijmal) dan bentuk yang terperinci (tafshil).

g. Dapat dimengerti sekaligus dengan melihat segi yang tersurat (yang dikemukakan).

Kendatipun al-Quran, hadis qudsi, dan hadis nabawi sama-sama keluar dari mulut nabi, uslub (style) atau susunan bahasanya sangat jauh berbeda. Uslub bahasa al-Quran jauh lebih tinggi kualitasnya bila dibandingkan dengan dua yang lainnya.

8 Said Agil Husin Al Munawar,

hal.

34.

9 Said Agil Husin Al Munawar,

hal.

35.

8

Al-Quran muncul dengan uslub yang begitu indah. Di dalam uslub tersebut terkandung nilai-nilai istimewa dan tidak akan pernah ada pada ucapan manusia. 10

3. Hukum Ilahi yang Sempurna

Al-Quran menjelaskan pokok-pokok akidah, norma-norma keutamaan, sopan santun, undang-undang ekonomi politik, sosial dan kemasyarakatan, serta hukum-hukum ibadah. Kalau pokok-pokok ibadah wajib diperhatikan, akan diperoleh kenyataan bahwa Islam telah memperluasnya serta meramunya menjadi ibadah amaliyah, seperti zakat dan sedekah. Ada juga yang berupa ibadah amaliyah sekaligus ibadah badaniyah seperti berjuang dijalan Allah. 11

Al-Quran menggunakan dua cara tatkala menetapkan sebuah ketentuan hukum, yakni 12 :

a. Secara global Persoalan ibadah umumnya diterangkan secara global, sedangkan perinciannya diserahkan kepada para ulama melalui ijtihad.

b. Secara terperinci Hukum yang dijelaskan secara terperinci adalah yang berkaitan dengan utang-piutang, makanan yang halal dan yang haram, memelihara kehormatan wanita, dan masalah perkawinan.

4. Berita tentang hal-hal yang gaib

Sebagian ulama mengatakan bahwa mukjizat Al Qur’an itu adalah berita- berita gaib. Firaun, yang mengejar-ngejar Musa, diceritakan dalam surat Yunus (10) ayat 92 Allah berfirman:

10

Rosihan Anwar, Rosihan Anwar, 12 Rosihan Anwar,

11

,

,

,

hal. 193-194.

hal. 195.

hal. 195

9

نﻮَ

ُ ﻠِﻓﺎﻐَ َ ﻟ

ﺎَﻨِﺗﺎَﯾآ ﻦْ ﻋَ

سﺎ

ِ

ﻨﻟا ﻦَ ﻣِ اﺮﯿً َِ نﱠ

ِ إ َ

و

ً

ﺔَﯾآ ﻚَ َﻔ ﻠﺧَ

ْ

ﻦْ

ﻤِﻟ نﻮَ

َ

ﻜَﺘِﻟ ﻚَ ِﻧﺪََﺒ

ُ

ﺑ ﻚﯿَ

ِ

ﺠﱢ َﻨ ﻧ مﻮْ َﯿ ﻟﺎَﻓ

َ

ُ

ْ

Artinya : “Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahny dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.”

Cerita peperangan Romawi dengan Persia yang dijelaskan dalam surat Ar-rum (30) ayat 1-5 merupakan satu berita gaib lainnya yang disampaikan Al Qur’an, Allah berfirman:

ُ ِﻠ ﻐَﯿﺳَ

ْ

ﻲِﻓ (٣)

ﺮُ ﺼُ

نﻮَ

َ

ﮭ ﻠﻏَ

ﻢْ

ِ ِ

ﺪِﻌْ َ ﻦْ ﻣِ

ُ

ﻢُْھ

ْ

ﻰَﻧدْ

َ

أ

ُ

و

َ

ضرﻷاْ

ِ

ﻲِﻓ (٢) موﱡﺮﻟا ﺖِ

ِ ِ

ُ

َﺒِﻠ ﻏ (١) ﻢﻟا

ﻊﻀْ ﺑ

ِ

ِ

ﺰﯾ ﺰﻌَ ﻟا ﻮُھ و ءﺎُ ﺸَ َ ﻦْ ﻣ

ُ

ْ

َﻨ ﺑ (٤) نﻮَ

ِ

ُ ﻨﻣِ ﺆْ

ﻟا حُ ﺮَ

ْ

ﻨَﯾ ِ ﷲ ﺮﺼْ

ِ

ﻔَﯾ ﺬٍِﺌ

َ

ﻣﻮْ َ

و

َ

ﺪُﻌْ َ ﻦْ ﻣِ و ﻞُ ﺒَْﻗ ﻦْ ﻣِ ﺮُ ﻣﻷاْ

َ

(٥)

ﻢﯿﺣِ ﺮﻟاﱠ

ُ

ِ

ْ

َ

ﻦﯿَ ِﻨﺳِ

َ

َ

Artinya : “Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allahlah urusan sebelum dan sesudah mereka menang. Dan dihari kemenangan bangsa Romawi itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah yang maha perkasa lagi maha penyayang.

5. Isyarat-Isyarat Ilmiah

Banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al Qur’an misalnya:

a. Cahaya matahari bersumber dari dirinya dan cahaya bulan merupakan pantulan sebagaimana yang dujelaskan firman Allah berikut:

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya munzilah-munzilah 9tempat-tempat) bagi perjalan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu, melainkan dengan hak. Dia

10

menjelaskan tanda-tanda (kebesaran Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (Q.S. Yunus (10): 5).

b. Perbedaan sidik jari manusia, sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah berikut:

“Bukan demikian, sebenarnya kami kuasa menyusun kembali jari- jemarinya dengan sempurna.”

c. Aroma/bau manusia berbeda-beda, sebagaimana diisyaratkan firman Allah berikut:

“Tatkala kafiah itu keluar (Dari negeri Mesir), ayah mereka berkata “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).” (Q.S. Al- Baqarah (2): 23)

d. Adanya nurai (super ego) dan bawah sadar manusia, sebagaimana diisyaratkan firman Allah berikut:

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. (Q.S. Al-Qiyamah (75): 14)

e. Masa penyusuan yang tepat dan masa kehamilan minimal sebagai wara diisyaratkan firman Allah berikut:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makanan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf.” (Q.S. Al-Baqarah (2): 233)

f. Kurangnya oksigen pada ketinggian dapat menyesakkan napas, hal ini diisyaratkan oleh firman Allah berikut:

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama Islam) dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendekati langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang- orang yang beriman. (Q.S. Al-An’am (6): 25)

11

6. Ketelitian Redaksinya

a. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Beberapa contoh, di antaranya:

1)

Al-hayah”(hidup) dan “al-maut” (mati), masing-masing sebanyak

2)

145 kali; “An-naf” (manfaat) dan “al-madharah” (mudarat), masing-masing

3)

sebanyak 50 kali; “Al-har” (panas) dan “al-bard” (dingin), masing-masing 4 kali.

b. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya.

1)

Al-harts” dan “az-zira’ah” (membajak/bertani), masing-masing 14

2)

kali; “Al-‘aql” dan “an-nur” (akal dan cahaya), masing-masing 49 kali;

3)

Al-jahr” dan “al-‘alaniyah” (nyata), masing-masing 16 kali.

c. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang

menunjukkan kepada akibatnya.

Al-infaq” (infaq) dengan “ar-ridha” (kerelaan), masing-masing 73

kali; 2) “Al-bukhl” (kekikiran) dengan “al-hasarah” (penyelesaian), masing-masing 12 kali; 3) “Al-fahisyah” (kekejian) dengan “al-ghadhb” (murka), masing- masing 26 kali.

1)

d. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.

1)

Al-israf” (pemborosan) dengan “as-sur’ah” (ketergesaan), masing- masing 23 kali;

2)

Al-maq’izhah” (nasihat) dengan “al-ihsan” (lidah), masing-masing 25 kali.

3) “Al-asra” (tawanan) dengan “al-harb” (perang), masing-masing 6 kali.

e. Disamping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus.

12

1) Kata “Yawm” (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun, sedangkan kata hari yang menunjuk pada bentuk plural (“ayyam”) atau dua (“yawmayni”), jumlah keseluruhannya hanya 30, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain,kata yag berarti “bulan” (“syahr”) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun. 2) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada “tujuh”. Penjelasan ini

diulanginya sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 29, surat Al-Isra’ [17] ayat 44, surat Al-Mu’minun [23] ayat 86, surat Fushilat [41] ayat 12, surat Al-Thalaq [65] ayat 12, surat Al-Mulk [67] ayat 3, dan surat Nuh [71] ayat 15. Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul atau nabi atau “basyir” (pembawa berita gembira) atau “nadzir” (pemberi peringatan), kesemuanya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul, dan pembawa berita, yakni 518 kali.

3)

D. Faedah I’Jaz Al-Qur’an

I’jaz al-Quran dapat memberikan manfaat bagi orang yang mempelajari dan mengkaji. Baik itu orang awam ataupun para ilmuan, cendikiawan, dan semua kalangan manusia yang senantiasa mempergunakan akal sehatnya. Adapun manfaat yang dapat dipetik dari I’jaz al-Quran akan disebutkan dibawah ini.

1)

Kelembutan, keindahan, keserasian kalimat dan redaksial-Quran dapat

2)

memberikan kesegaran kepada akal dan hati, baik orang awam ataupun kaum cendikiawan. Gaya bahasa yang indah dapat dijadikan sebagai media dakwah untuk menarik hati orang.

13

3) Dengan adanya berita-berita ghaib, itu dapat dijadikan ibrah guna memperkokoh iman kepada Allah dan membimbing perbuatan ke arah yang benar.

4)

Dapat dijadikan hujjah dalam menyampaikan kebenaran al-Qur’an bagi

5)

orang-orang yang ragu. Dapat mengokohkan keyakinan akan kebenaran Risalah Muhammad

6)

SAW. Dapat mengetahui keagungan Allah dengan mengenal isyarat ilmiah

7)

yang ada di alam dunia. Dapat menjadi motivasi untuk selalu bereksperimen, berinovasi, dan

8)

berkarya dalam ilmu pengetahuan. Mengetahui kelemahan dan kekurangan manusia.

9) Aturan-aturan hukumnya dapat dijadikan sebagai landasan dalam beribadah, baik ibadah secara vertikal ataupun horizontal. 10) Dapat menjaga kehormatan, harta, jiwa, akal, dan keturunan dengan menganut dan mengindahkan tasyri-Nya.

A.

Kesimpulan

BAB III

PENUTUP

Dari uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa:

1. Dari segi bahasa I’jaz berasal dari kata a’jaza, I’jaz yang berarti

melemahkan atau memperlemah, adapun pengertian I’jaz itu sendiri ialah ketidak mampuan seorang melakukan sesuatu.

2. Macam-macam mukjizat di bagi menjadi dua yaitu :

a. Mukjizat material yang bisa di jangkau lewat masyarakat tempat

mereka menyampaikan risalah.

b. Mukjizat indrawi, mukjizat yang bisa di jangkau oleh akal dan tidak di batasi waktu atau masa tertentu.

3. Segi-segi kemukjizatan Al Qura’an ada 4 yaitu :

a. Gaya bahasa

b. Susunan kalimat

c. Hukum Ilahi

d. Berita tentang hal gaib

e. Isyarat ilmiah

f. Ketelitian redaksinya

4. Adapun faedah Ijaz Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

a. Kelembutan, keindahan, keserasian kalimat dan redaksial-Quran dapat memberikan kesegaran kepada akal dan hati, baik orang awam ataupun kaum cendikiawan.

b. Gaya bahasa yang indah dapat dijadikan sebagai media dakwah untuk menarik hati orang.

c. Dengan adanya berita-berita ghaib, itu dapat dijadikan ibrah guna memperkokoh iman kepada Allah dan membimbing perbuatan ke arah yang benar.

14

15

 

d.

Dapat dijadikan hujjah dalam menyampaikan kebenaran al-Qur’an bagi orang-orang yang ragu.

e.

Dapat mengokohkan keyakinan akan kebenaran Risalah Muhammad SAW.

f.

Dapat mengetahui keagungan Allah dengan mengenal isyarat ilmiah yang ada di alam dunia.

g.

Dapat menjadi motivasi untuk selalu bereksperimen, berinovasi, dan berkarya dalam ilmu pengetahuan.

h.

Mengetahui kelemahan dan kekurangan manusia.

i.

Aturan-aturan hukumnya dapat dijadikan sebagai landasan dalam beribadah, baik ibadah secara vertikal ataupun horizontal.

j.

Dapat menjaga kehormatan, harta, jiwa, akal, dan keturunan dengan menganut dan mengindahkan tasyri-Nya.

B.

Saran

Diharapkan makalah ini mampu memberikan pencerahan serta wawasan tentang I’jaz Al-Qur’an sehingga mampu meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

Usman. 2009. Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Teras

Al Qattan, Manna Khalil. 2004. Study Ilmu-ilmu Al Qur’an (terjemahan dari Mubahits fi Ulumul Qur’an). Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa.

Shihab, M. Quraish. 1997. Mukjizat Al Qur’an. Bandung: Mizan

Al Munawar, Said Agil Husin. 2004. Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki. Jakarta: Ciputat Press.

Rosihan Anwar. 2010. Ulum Al-Quran. Bandung: CV Pustaka Setia.

16