Anda di halaman 1dari 5

ACARA III

REAKSI TANAH

Oleh :
Nama

: Siti Hudaiyah

NIM

: 15/382926/KT/08128

Shift

: Selasa 15:00 WIB

Co Ass

: Anandya Sarviyana Putri

LABORATORIUM FISIOLOGI DAN TANAH HUTAN


BAGIAN SILVIKULTUR
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

ACARA III
REAKSI TANAH
A.

TUJUAN
1

Membandingkan masing-masing metode penentuan pH tanah.

Menyebutkan keuntungan dan kerugian penentuan pH tanah pada


masing-masing metode.

Membandingkan nilai pH masing-masing contoh tanah.

Menentukan faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan nilai pH tanah


pada contoh tanah yang digunakan.

Meramalkan pengaruh yang mungkin terjadi pada nilai pH contoh yang


digunakan.

Mengetahui upaya yang mungkin dilaksanakan untuk mencapai pH


netral dan optimal bagi pertumbuhan tanaman.

B.

TINJAUAN PUSTAKA
Tanah memiliki sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi. Sifat fisik
dan biologi tanah dapat dilihat secara kasat mata dan diteliti dengan warna
tanah, tekstur tanah, kepadatan tanah, dan lain-lain. Sifat kimia tanah
mengacu pada sifat dasar tanah yang memiliki derajad keasaman tanah atau
pH yang berbeda-beda, pemupukan yang dilakukan oleh manusia dan
kandungan organik serta mineral di dalam tanah itu sendiri. Sifat kimia
tanah berperan besar dalam menentukan sifat dasar inilah kemudian dapat
diteliti bagaimana memperlakukan dan pembubidayaan tanah (Anonim,
2015).
Beberapa sifat kimia yang digunakan sebagai parameter dalam
penelitian ini adalah pH tanah, karbon tanah, nitrogen, C/N fosfat tersedia
tanah. Beberapa sifat kimia tanah dapat menilai apakah suatu tanah
merupakan tanah yang potensial atau tidak (Hanafiah, 2005).

Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah


yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya
konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H +
didalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H + dan
ion-ion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya berbanding terbalik
dengan banyaknya H+. pada tanah-tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi
daripada OH-, sedang pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak
daripada H+. Bila kandungan H+ sama dengan OH-, maka tanah bereaksi
netral yaitu mempunyai pH 7. pH tanah atau tepatnya pH larutan tanah
sangat penting karena larutan tanah mengandung unsur hara seperti
Nitrogen (N), potassium/kalium (K), dan Pospor (P) dimana tanaman
membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang, dan
bertahan terhadap penyakit (Hanafiah, 2005).
Sutandi (2012) menyatakan di Indonesia pH tanah umumnya
berkisar dari 3,0- 9,0. Di Indonesia umumnya tanahnya bereaksi masam
dengan pH 4,0- 5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0- 6,5 sering telah
dikatakan cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam. Di daerah
rawa-rawa sering ditemukan tanah-tanah sangat masam dengan pH kurang
dari 3,0 yang disebut tanah sulfat masam (cat clay) karena banyak
mengandung asam sulfat. Di daerah yang sangat kering (arid) atau daerah
dekat pantai kadang-kadang pH sangat tinggi (pH lebih dari 9,0), karena
banyak mengandung garam natrium.
Pentingnya pH tanah untuk diketahui yaitu untuk menentukan
mudah

tidaknya

kemungkinan

unsur-unsur

adanya

hara

unsur-unsur

diserap
beracun,

tanaman,

menunjukkan

dan

mempengaruhi

perkembangan mikro organisme. Pada umumnya unsur hara mudah diserap


akar tanaman pada pH tanah sekitar netral, karena pada pH tersebut
kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air (Sudaryono, 2009).

Pada tanah-tanah masam banyak ditemukan ion-ion Al di dalam


tanah, yang selain memfiksasi unsur P juga merupakan racun bagi tanaman.

Pada tanah-tanah rawa pH yang terlalu rendah (sangat masam)


menunjukkan kandungan sulfat tinggi, yang juga merupakan racun bagi
tanaman. Disamping itu pada reaksi tanah yang masam, unsur-unsur mikro
juga menjadi mudah larut, sehingga ditemukan unsur mikro yang terlalu
banyak. Unsur mikro adalah unsur hara yang diperlukan tanaman dalam
jumlah yang sangat kecil, sehingga menjadi racun kalau terdapat jumlah
yang terlalu besar. Termasuk unsur mikro dalam jenis ini adalah Fe, Mn, Zn,
Cu, Co. Unsur mikro yang lain yaitu Mo dapat menjadi racun kalau pH
terlalu alkalis juga sering mengandung garam yang terlalu tinggi yang juga
dapat menjadi racun bagi tanaman (Sutandi, 2012).
pH tanah juga mempengaruhi perkembangan mikro organisme.
Bakteri berkembang dengan baik pada pH 5,5 atau lebih, sedang pada pH
kurang dari 5,5 perkembangannya sangat terhambat. Jamur dapat
berkembang baik pada segala tingkat kemasaman tanah. Pada pH lebih dari
5,5 jamur harus bersaing dengan bakteri. Bakteri pengikat nitrogen dari
udara dan bakteri nitrifikasi hanya dapat berkembang dengan baik pada pH
lebih dari 5,5 (Sutandi, 2012).

C.

ALAT DAN BAHAN


1

Contoh tanah Grumusol, Regosol, Mediteran, dan Rendzina

pH stick

pH meter

Aquadest (H2O)

KCL 1N

Botol plastik

D.

CARA KERJA
1

Cara pH stick
a. pH-H2O
1. Diambil 4 macam contoh tanah yang tersedia sebanyak 5 gram
dalam botol.
2. Ditambahkan air suling sebanyak 12,5 ml dan diaduk sebaikbaiknya (atau dengan perbandingan tanah : air = 2 : 5)
3. Dibiarkan kira-kira selama 15 menit, kemudian diaduk lagi.
4. Dimasukkan pH stick dalam larutan jernih.
5. Diambil pH stick dan dikibas-kibaskan hingga warna kilat air
hilang.
6. Dibandingkan warna pH stick dengan warna standar pH yang
terdapat pada kotak pH.
b. pH-KCL
1. Diulangi langkah 1 sampai 6 tetapi dengan menggunakan
larutan KCL 1N

Cara pH meter
a. pH-H2O.
1. Diambil 4 macam contoh tanah sebanyak kira-kira 5 gram
dalam botol
2. Ditambahkan air suling sebanyak 12,5 ml dan diaduk sebaikbaiknya (atau dengan perbandingan tanah : air = 2 : 5 ).
3. Dibiarkan selama kira-kira 15 menit, kemudian diaduk lagi.
4. Diukur pH suspensi dengan pengukur pH meter.
b. PH-KCL
1. Diulangi langkah 1 sampai 4 tetapi dengan penambahan KCL
1N.