Anda di halaman 1dari 31

Spektroanalisis yang mengukur jumlah

radiasi elektromagnetik yang diadsorpsi,


diemisikan atau dihamburkan oleh molekulmolekul poliatomik (materi)

Energi yang menyerupai partikel-partikel


diskrit yang disebut foton atau kuantum

Energi yang menyerupai partikel-partikel diskrit yang


disebut foton atau kuantum

Gelombang
Cahaya

Parameter
Gelombang
Amplitudo (A)
Periode (P)

Definisi
Gelombang sinusoidal sebagai
puncak maksimum
Waktu radiasi satu amplitudo
(detik)

Kecepatan (Vi Kecepatan propagasi REM dalam


suatu medium (m/detik)
)
Kecepatan radiasi dalam
medium vakum
C = 3,00 x 108
m/detik
Bilangan
gelombang
()

Kebalikan panjang gelombang (cm1


), berbanding lurus dengan
frekuensi
= 1/,

dan = k.

Parameter gelombang
Amplitudo (A) : Gelombang sinusoidal sebagai puncak maksimum
Periode (P)

: Waktu (detik) radiasi satu amplitudo

Frekuensi ()

: Jumlah osilasi per detik.


= 1/P

Kecepatan (Vi ) : Kecepatan propagasi REM dalam suatu medium (m/detik)


Kecepatan radiasi dalam medium vakum :
C = 3,00 x 108 m/detik

Bilangan gelombang () : Kebalikan panjang gelombang (cm-1),


berbanding
lurus dengan frekuensi
= 1/, dan = k.

(k = konstanta)

Soal : Hitung bilangan gelombang radiasi bila = 5,00


m
1
= 2000 cm-1
= 5,00 m x 10-4 cm/m

Energi foton
(E)

= h

Konstanta
Planks

=
c

Frekuensi
(detik-1)

Kecepatan
cahaya

3x 108 m/detik

Panjang
gelombang
meningkat

Energi dan
frekuensi
menurun

Soal : Hitung E (J) suatu foton bila = 5,00 m

1
5,00 x 10 -4 cm

= 2000 cm-1

E=hC
= 6,63 x 10 -34 J. det (3,00 x 1010 cm/det) x 2000 cm-1
= 3,98 x 10-20 Joule

Hubungan E foton dengan panjang gelombang REM dan refraksi indek medium

E=

hC
n

Soal : Suatu REM dengan panjang gelombang 443 nm merambat dalam


medium metanol (n = 1.329). Hitung kecepatan dalam metanol,
frekuensi radiasi, energi dan periode.
Kecepatan (V) =

Frekuensi

C
n

3,0 x 10 8 m/det

(443 x 10-9 m) =

1,329
C
n
3,0 x 108
1,329

= 2,256 x 108 m/det

( = 443 nm = 443 x 10-9 m)

= 5,09 x 1014 HZ

Energi :

E=h
= 6,63 x 10-34 J. det (5,09 x 1014 det-1) = 3,37 x 10-19 J

Periode :

T=

1
5,09 x 1014 det-1

= 1,96 x 10-15 det

Jenis-jenis
Radiasi
Jenis
Panjang Interaksi
radiasi gelomban
g
Emisi nuklir

UV

< 10 nm
< 10 nm
10 -380 nm

Tampak

380 800 nm

Transisi
elektronik

IR

800 nm 100
m

Interaksi ikatan

Radio

meter

Absorpsi nuklir

Sinar X

Ionisasi atomik
Transisi
elektronik

Cahaya monokromatis mengenai medium transparan, maka


intensitas cahaya yang diteruskan akan berkurang sesuai dengan
ketebalan medium

It = I0 e-kl
It = intensitas cahaya yang diteruskan
I0 = Intensitas cahaya masuk pada medium penyerap
k = tetapan pada panjang gelombang yang digunakan
l = tebal medium

Intensitas cahaya monokromatis yang masuk akan berkurang


secara eksponensial dengan bertambahnya konsentrasi larutan
pengadsorpsi secara linier

It = I0 e-kc

I0
Log I
t

C = konsentrasi

I0 = Intensitas radiasi yang masuk

= a b c

It = Intensitas yang diteruskan


A = absorptivitas molar
B = tebal sel
C = konsentrasi

Pendekatan Hukum Lambert-Beer


Radiasi sinar datang
monokromatis

Intensitas radiasi
sinar datang tidak
terlalu besar

Tidak terjadi reaksi diantara


komponen-komponen sampel
Radiasi sinar melintasi medium
dengan panjang yang sama
Konsentrasi analit tidak terlalu
besar

Radiasi sinar datang


harus tegak lurus dengan
permukaan sampel

Pengukuran dilakukan
pada panjang gelombang
serapan maksimum

Spektroanalisis
Analisis Kolorimetri
Metode Kolorimetri Visual :
Metode Deret Standar
1

Sampel
Cermin
Deret larutan standar
Panjang jalan sinar harus sama

[sampel] = [standar 3]

Sumber
cahaya

Monokromator

Sel
cuplikan

Pencatat
Detektor

Transmitan (T atau %T)


Absorbansi (A)

Susunan monokromator

2
1

Sumbe Celah
r sinar masuk

Prisma

Lensa
kolimator

Celah
keluar

Sel
cuplikan

Lensa
pemusat

Monokromator ditempatkan dalam kotak yang tidak


tembus cahaya
Merubah sinar polikromatis dari sumber sinar menjadi
sinar monokromatis untuk pengukuran absorbansi

Analisis
Kualitatif
Spektrum absorpsi
molekuler
Spektrum
analit
dibandingkan
dengan
spektrum
material
standar
Vibrasi
Transisi
elektronik

Interaksi ikatan

Rotasi

Analisis Kuantitatif
Hukum Lambert & Beer

P
Po
Po

b
- Log (T) = A

A=abc

= Transmitan (T)

Cahaya setelah
melewati larutan
dengan konsentrasi
C, dan tebal larutan
b

Absorbansi Vs Transmitan

Hitung absorbansi larutan yang diukur pada


panjang gelombang 400 nm, dan diketahui %T
adalah 89

Contoh 1
Hitung absorbansi larutan yang diukur pada panjang
gelombang 400 nm, dan diketahui mempunyai nilai % T = 89
%T = 89 = 89/100 = 0,89
A = - log T = - log 0,89 = 0,051

Penentuan absorptivitas
Setiap instrumen mempunyai sensitivitas yang berbeda

Penentuan absortivitas
mengunakan larutan standar
(konsentrasi M, N, ppm,)
Bila digunakan konsentrasi M

= absortivitas molar

Suatu larutan berwarna dengan konsentrasi 4,50 ppm,


diketahui mempunyai absorbansi 0,3 pada panjang
gelombang 530 nm, yang diukur pada sel 2,00 cm. Hitung
nilai absortivitas

Contoh 2

Contoh 3
Suatu lartan Co(H2O)2- mempunyai absorbansi 0,2, panjang
sel 1 cm diukur pada serapan 530 nm, bila diketahui = 10
L N-1 cm-1 hitung konsentrasi larutan

A = 0,2; a = 10; b = 1 cm

C = 0,02 M

Perhitungan absorbansi sederhana dapat dilakukan melalui dua


pendekatan:
1. Penggunaan standar
2. Metode perbandingan : pengukuran sampel
yang diketahui dan tidak diketahui

Contoh 4

Larutan sampel yang mengandung MnO4- diukur serapannya


pada panjang gelombang 525 nm, dan diketahui absorbansi =
0,50. Pada kondisi yang sama dilakukan pengukuran larutan
MnO4- dengan konsentrasi 1,0 x 10-4 M, absorbansi
0,2. Htung konsentrasi sampel

diketahui

Contoh 4 :
Ekstingsi dan tebal sel cuplikan tidak diketahui, karena pengukuran
dilakukan pada kondisi yang sama maka nilai dan b akan sama
A Sampel

. b. c Sampel

A Standar

= . b. c
Standar

A Sampel
A Standar

Csampel

Csampel

= (0,500/0,200) x (1,0 x 10-4 M)

C Sampel
C Standar
A Sampel
A Standar

= 2,6 x 10-4 M

x CStandar

Asumsi pengukuran
dilakukan pada
daerah linier

Anda mungkin juga menyukai